Wednesday, June 26, 2019

Serasa Liburan ke Jepang di Taman Bunga Pagoda

Berkendaraan naik ke kaki gunung Sumbing, gunung yang penampakannya tinggi gagah menjulang terlihat jelas dengan indahnya dari sebelah utara pusat kota dan alun - alun kota Magelang ..., di suatu pagi hari itu, aku dan Celyn dalam rangka mengisi liburan panjang kenaikan kelasnya, plesiran lagi berdua dan kali ini ke Taman Bunga Pagoda. 

Taman Bunga Pagoda berada di Dusun Candirejo, Desa Ketangi, Kecamatan Kaliangkrik, Bandongan, Kabupaten Magelang. 


Trip Of Mine


Beberapa malam sebelumnya, sebelum hari keberangkatan dari jadwal yang telah kami berdua tentukan, setiapkali setibaku di rumah setelah kepulanganku dari bekerja, Celyn selalu heboh menyambutku dengan menyibukkan diri menyampaikan keinginannya untuk segera tiba hari yang dinantikan, acara liburan bersama. 

Dalam celotehnya, gadis cilik cantik berhidung mancung mbangir, berkulit putih dan luwes bergaya di depan kamera kayak omnya ini terlihat tak sabar untuk segera liburan dan foto - foto di Taman Bunga Pagoda. 

Hari dan jam yang telah kami tentukan berdua pun akhirnyaaaa ..., tiba.
Si Celynlah yang pastinya terlihat sangat senang menyambut hari datangnya liburan ke lokasi Taman Bunga Pagoda yang konsep penataan tamannya ala bangunan ikonik negara matahari terbit Jepang itu ..., eh, omnya ini senang juga ding liburan kesana ..., ha ha ha.

Trip Of Mine


Pada dasarnya tuh, kesamaan Celyn paling mendekati kesamaan dengan kesukaanku, penyuka liburan. 
Bahkan pernah tercetus keinginannya untuk jadi seorang penulis travel blogger juga dan seperti keinginan apa yang dia sampaikan dengan bicara gaya masih khas bocah cilik, hasil foto - foto dirinya di Taman Bunga Pagoda untuk banyak disertakan di artikel kali ini.

Ohh, wokeylaaah ..., kali ini omnya kamu mengalaaah ..., foto narsis om kamu di post kali ini dikiiiit, kok, cuma dua malah ..., biasanya kan bejibun fotonya !, wwwwwkkk 😂 . 


Trip Of Mine


Hampir memerlukan waktu satu jam lebih beberapa menit untuk tiba di Taman Bunga Pagoda dari pusat kota Magelang. 

Karena letak lokasi Taman Bunga Pagoda berada di salah satu dusun di kaki gunung, di sepanjang perjalanan banyak melewati rute dengan kondisi jalan naik turun dan berkelok, dibarengi pula saat di pagi hari itu terpaan dinginnya udara pagi terasa membuat badan kami terasa sedikit mengigigil. 

Tapi kami berdua tak perlu merasa khawatir menghadapi dinginnya udara yang memang sedang terjadi di beberapa kota beberapa hari ini, sebagai persiapan fisik antisipasi terserang flu, sebutir tablet 'ajaib' vitamin C larut dalam air telah kami minum seusai kami menyantap bekal menu sarapan pagi, setangkup potongan tebal roti tawar mentega dengan selembar tipis keju dipenuhi taburan meses cokelat. 

Trip Of Mine


Patokan rute termudah untuk menuju ke lokasi Taman Bunga Pagoda dari pusat kota Magelang dimulai dari titik lokasi Tugu Bandongan yang berada ditengah pertigaan jalan, kemudian mengambil arah ke belokan petunjuk jalan ke desa Kalegen.
Dari belokan tersebut mulai terlihat adanya beberapa spanduk terpasang di tepi jalan dilengkapi berapa kilometer jarak tempuh untuk tiba berada di lokasi Taman Bunga Pagoda. 

Jika arah kedatangan dari arah Tugu Bandongan, berbelok ke arah kiri di persimpangan jalan yang terdapat tiang papan penunjuk arah ke arah desa Kalegen di tepian jalan, maka tujuan liburan akan mengarah ke lokasi Taman Bunga Pagoda.

Dan, jika lurus terus tanpa berbelok ke arah desa Kalegen maka akan tiba di lokasi wisata alam Delimas, spot menara gardu pandang dengan pemandangan alam memikat.
Jarak antar kedua lokasi wisata ini terpisah sejauh belasan kilometer.


Baca juga :
https://www.tripofmine.com/2018/04/delimas-view-apik-di-gunung-sumbing.html



Dengan membayar tiket 10K perorangnya, kami memasuki gerbang besar Taman Bunga Pagoda berbentuk gerbang kuil berwarna merah mentereng. 

Cantik penataan tamannya


Trip Of Mine


Dari pintu gerbang yang berfungsi sebagai penjualan tiket ini, terlihat beberapa bangunan spot selfie. Kesemuanya tampak instagramble.
Spot selfie diantaranya : spot jeruji setengah lingkaran besi dan didalamnya terdapat property pelengkap foto, spot gubug Jawa lengkap dengan property pernak - pernik caping dan beberapa koleksi sepeda onthel jadoelnya.

Menara berbentuk pagoda Jepang yang menjadi ikoniknya Taman Bunga Pagoda berada di urutan spot pertama.


Trip Of Mine


Dikelilingi hamparan tanaman bunga Celosia berwarna kuning dan merah menyala, spot pagoda 2 lantai yang dapat dinaiki melalui undakan anak tangga kayu untuk melihat keseluruhan taman dari ketinggian dan melihat sekitar perbukitan hutan pinus juga perkebunan ini jadi spot pembeda dengan taman bunga serupa yang banyak sekali bermunculan di sejumlah daerah. 

Di samping loket penjualan tiket, terdapat bangunan beratap jerami terlihat tergantung beberapa penyewaan property berfoto terdiri dari beberapa pilihan pakaian traditional khas Jepang kimono dan juga pakaian traditional Jawa ..., daaan ..., itulah yang jadi obyek pandangan pertama Celyn. 

Dengan mata berbinar dan menggandeng tanganku, Celyn mengajakku segera mendatangi bangunan yang ternyata juga merangkap sebagai warung makan bergaya lesehan. 
Sudah kutebak dalam pikiran, jika Celyn pasti berkeinginan menyewa dan memakai kimono untuk berfoto - foto di kesemua spot Taman Bunga Pagoda.
Ternyata, tebakanku benar 😆. 

Semula Celyn menginginkan memakai kimono berwarna merah cetar membahana, tapi karena ukuran kimono warna merah hanya tersedia untuk ukuran badan orang dewasa saja, pilihan akhirnya jatuh ke kimono warna biru yang juga tak kalah menawan. 


Trip Of Mine


Mengenakan kimono lengkap dengan obi, bakiak kayu, payung kain bermotif cantik yang seringkali dipergunakan para geisha sebagai pelengkap keindahan penampilannya, dan juga hiasan kepala berupa lingkaran rangkaian bunga ..., membuat  karakter wajah oriental yang dimiliki Celyn makin terlihat kuat ..., nyaris mirip betulan dengan wajah gadis kecil berasal dari negara sang mantanku, eh# ..., sang matahari terbit maksudku, ha ha ha ..., Ooppss buka kartu 😅 .  

Melihat Celyn dibantu dikenakan kimono oleh salah seorang staff Taman Bunga Pagoda, aku juga tertarik untuk ikut menyewa dan mengenakan satu set kostum kain traditional Jawa. 
Tak ada penyewaan kimono untuk pria.

Yo wis ra po po, malah terlihat unik juga, kok ..., antara om dan ponakan terlihat jalan beriringan berduaan mengelilingi area taman sambil fefotoan dan jadi tontonan beberapa pengunjung karena kami masing - masing mengenakan traditional berbeda, satu berkimono Jepang dan satunya lagi berkostum traditional Jawa. 
Jadi, berasanya kami berdua saat itu seperti sedang melakukan parade pawai di Taman Bunga Pagoda begitu ..., wwwkkkk 😂. 


Trip Of Mine


Tapi, aku tak lama mencoba mengenakan kain traditional Jawa untuk berfoto di spot selfie, bukannya karena aku tak suka ..., tapi takut jatuh kesrimpet mengelilingi area taman yang mulai terasa panas dan silau seiiring berjalannya waktu setelah beberapa jam kami berlibur disana. 
Bukan hal mudah juga ternyata, loh ..., bisa bebas bergerak saat mengenakan kain panjang melilit kaki, he he he.


Lokasi :
Taman Bunga Pagoda
Dusun Candirejo, Desa Ketangi, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Tiket :
10K perorang
20K sewa kimono dan kelengkapannya
15K sewa set kostum traditional Jawa
10K permainan balon bola air
[Info dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah]

Jam Operasional ;
08.00 - 17.00




Thursday, June 13, 2019

Melihat Beberapa Bangunan Ikonik di Sekitar Alun - alun Magelang

Di suatu pagi, ketika melewati pusat kota Magelang untuk kesekiankalinya, tercetus ide ajakan dari mulut kecil si keponakanku, Celyn untuk singgah melipir menepikan kendaraanku kembali di pusat keramaian alun - alun Magelang. 

Ajakan gadis kecil cantik berwajah oriental itu tanpa pikir ulang dua kali, langsung kuiyakan. 

Sebelumnya, kira - kira tiga bulan lalu, aku juga pernah menemani dua keponakanku, Fanny dan Celyn jalan - jalan sore di alun - alun yang terletak di Kelurahan Kemirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang ini untuk kegiatan mewarnai lukisan styreofoam yang digelar oleh beberapa pedagang disana. 

Saat itu mereka begitu antusias duduk anteng di bangku kayu kecil mewarnai pola gambar yang mereka pilih masing - masing, tak mempedulikan saat hujan gerimis rintik - rintik mulai turun ..., sementara omnya mereka ini mulai panik dan koar - koar meminta mereka  untuk segera meninggalkan area alun - alun ..., ha ha ha ..., tetap saja mereka berdua tak bergeming dan terus berkonsentrasi maksimal menyelesaikan polesan warna pola gambarnya dan setelah hasil mewarnai styreofoam selesai dikerjakan, mereka bawa pulang kerumah dengan perasaan senangnya. 

Di kesempatan ini, bertepatan dengan libur panjang sekolahnya, Celyn kembali mengajakku jalan - jalan di alun - alun Magelang. 


Trip Of Mine


Kedatangan kami kali ini bukan di sore hari seperti waktu itu, tapi di pagi hari saat area alun - alun tidak begitu ramai dikunjungi oleh banyak orang seperti mulai menjelang sore hari hingga tengah malam hari.
Hanya tampak beberapa orang hilir mudik mengelililingi trotoar alun - alun melakukan jogging, duduk - duduk santai di tembok pembatas tanaman beringin di tengah alun - alun dan beberapa orang tampak menikmati sarapan pagi sambil berselancar wi- fi gratisan di area kuliner yang ditempatkan berkelompok di sebelah utara. 

Dan kali ini, kami berdua datang kesana untuk melihat apa saja yang ada di alun - alun Magelang. 
Tepatnya melihat bangunan - bangunan ikonik peninggalan berusia ratusan tahun yang berada di sekelilingnya.

Letak alun - alun Magelang sangat strategis, mudah dijangkau dan posisinya berada di tengah empat arus jalur lalu - lintas utama. 

Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan alun - alun Selatan, sebelah Utara berbatasan dengan Jalan alun - alun Utara, sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Tentara Pelajar dan sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Ahmad Yani.


Trip Of Mine


Alun - alun Magelang memiliki pemandangan menawan dikelilingi oleh tiga pegunungan yang tampak dari kejauhan ..., gunung Sumbing, gunung Tidar, dan gunung Merbabu. 

Ruang terbuka alun - alun Magelang penataannya digarap apik dilengkapi sarana beberapa taman bunga berkelompok rapi dengan tiang - tiang lampu cantik beragam bentuk juga dilengkapi fasilitas pertunjukan hiburan dancing fountain atau air mancur menari dengan permainan tata warna cahaya memikat. 


Trip Of Mine


Pertunjukan atraksi air mancur menari atau dancing fountain dibedakan jadwal dan jam harinya.

  •  Sabtu atau malam minggu :  20. 00 - 20. 30 dan 21. 30 - 22. 00
  • Malam libur nasional :  20. 00 - 20. 30 dan 21. 30 - 22. 00
  • Minggu libur nasional : 11. 00 - 11. 30 dan 16. 00 - 16. 30


Alun - alun Magelang mulai dibuat pengerjaannya pada tahun 1812 setelah Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles mengangkat Mas Ngabehi Danuningrat yang bergelar Adipati Danuningat I sebagai Bupati pertama Magelang. 

Selain membuat alun - alun, Adipati Danuningrat I juga membangun rumah dinas Bupati dan sarana mushola [dalam bahasa Jawa diartikan Langgar, semacam surau] yang kelak menjadi masjid besar yang tampak seperti sekarang setelah melewati beberapakali proses pemugaran. 

Pada tahun 1813 Magelang kembali lagi menjadi daerah kolonial Belanda dan mulai mengembangkan tata kota yang maju dengan mendirikan sejumlah gedung bangunan di sekitaran alun - alun Magelang yang keberadaannya tetap berdiri anggun dengan indahnya hingga sekarang ini. 
Diantaranya mendirikan bangunan :

  • Gereja Protestan Indonesia Baru atau GPIB ~ 1817
  • Kelenteng Liong Hok Bio ~ 1864
  • Gereja Santo Ignatius ~ 1865
  • Middlebare Opleiding Schol voor Indasche Ambtenaren ~ 1878
  • Water Toren ~ 1916
  • Kantor Pos ~ 1920

Setelah kami berdua menyelesaikan menghabiskan sarapan 'amunisi' sepotong roti soes krim vanilla dan segelas susu cokelat pilihanku, dan Celyn memilih camilan sosis sebagai suntikan tambahan energi, kami memulai mengitari alun - alun Magelang dan melihat dari dekat keberadaan gedung - gedung historikal. 


Dimulai lokasi terdekat dari area kuliner, yaitu Water Toren, kemudian berlanjut mengelilingi keempat penjuru.


* Water Toren

Merupakan bangunan menara air [Bahasa Belanda : Water Toren, Bahasa Inggris : Water Tower]. 

Bangunan yang terkenal sebagai Land Mark nya kota Magelang ini dibangun pada tahun 1916 oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitektur kenamaan berkebangsaan Belanda.

Resmi mulai dipergunakan untuk menampung sumber mata air dari desa Kalegen dan Wulung pada tanggal 2 Mei 1920. 

Karena bentuknya, menara air yang memiliki tinggi 21, 2 meter dan memiliki 32 pilar ini seringkali disebut oleh masyarakat Magelang dengan kompor.


Trip Of Mine


Bentuk bangunannya memanglah mirip dengan bentuk kompor minyak tanah bersumbu yang mungkin saat ini keberadaan kompor berbentuk seperti itu telah sulit diketemukan lagi di pasar atau pusat perbelanjaan. 

Memiliki dua bangunan melingkar di bawah dan di atas. 

Bagian bawah terdiri dari 16 ruangan dahulunya difungsikan diantaranya  sebagai ruang laboratorium, ruang administrasi dan ruang pengontrol air, kini bagian bawah difungsikan sebagai gudang penyimpanan.

Bagian bangunan diatas berfungsi menampung air sebanyak 1, 750 juta liter air untuk memenuhi kebutuhan air warga kota Magelang.

Menara air di alun - alun Magelang yang dicat berwarna biru dan putih ini masih berfungsi dan dipergunakan oleh PDAM kota Magelang.


* Kelenteng Liong Hok Bio

Lokasi kelenteng Liong Hok Bio berada di sudut perempatan jalan, di sebelah selatan alun - alun Magelang.
Tepatnya di Jalan Alun - alun selatan nomor 2, Kecamatan Magelang Tengah. 


Trip Of Mine


Kelenteng megah sangat indah dengan dominasi warna merah mentereng dan memiliki ciri khas kuat bangunan Tiongkok ini adalah bangunan kelenteng baru, menggantikan kelenteng lama Liong Hok Bio yang ludes terbakar pada tanggal 16 Juni 2014 lalu. 


Trip Of Mine


Bangunan baru kelenteng Liong Hok Bio diresmikan pada tanggal 25 Maret 2018, bertepatan dengan perayaan hari TAO. 

Kelenteng lama Liong Hok Bio didirikan pada tahun 1864 oleh warga etnis Tionghoa yang dipercaya oleh kolonial Belanda, bernama Be Koen Wie atau Tjok Bok. 

Be Koen Wie merupakan saudagar kaya raya berasal dari kota Surakarta atau Solo. 
Kedekatannya dengan pemerintah kolonial Belanda, membuat Be Koen Wie diangkat menjadi Letnan dan dipindahtugaskan di kota Magelang.
Tak lama kemudian, diangkat menjadi Kapten. 

Kekayaannya yang melimpah ruah, Kapten Be Koen Wie tergerak menghadiahkan sebidang tanah untuk dibangun sebuah tempat peribadatan Tri Dharma. 


Trip Of Mine


Kelenteng lama Liong Hok Bio sarat menyimpan sejarah, saksi bisu sejarah perjuangan masyarakat Tionghoa turut berperan serta melawan penjajah Belanda dalam Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.


* Monumen Electrificatie

Monumen Electrificatie letaknya tepat berada di depan seberang jalan masuk pintu kelenteng Liong Hok Bio.

 Dibangun kolonial Belanda pada tahun 1924 untuk menandai sumber penerangan tenaga listrik pertamakali dialirkan masuk ke kota Magelang. 


Trip Of Mine


Tulisan dalam bahasa Belanda 'Mart 1924 Electrificatie Magelang' terukir rapi di monumen dengan bentuk tinggi meruncing dan dipoles dengan cat warna kuning keemasan ini.


* Masjid Agung



Lokasi Masjid Agung berseberangan dengan lokasi dancing fountain atau air mancur menari alun - alun Magelang. 

Awalnya bernama masjid Jami'. Didirikan tahun 1650 oleh KH. Mudakir, seorang tokoh ulama dari Jawa - Timur. 

Masjid Agung yang juga terkenal dengan nama masjid Kauman ini semula hanyalah berbentuk mushola kecil [Masyarakat Jawa mengistilahkan dengan langgar, semacam surau].

Pertamakali dipugar dipugar pada tahun 1797. 
Catatan tahun pemugaran tersebut tercatat dalam sebuah prasasti yang tertulis dalam dua bahasa, bahasa Belanda dan bahasa Arab. 
Kini prasasti tersebut tersimpan rapi berada di dalam masjid Agung Magelang. 


Trip Of Mine


Pemugaran masjid dilakukan sampai beberapakali dan pada tahun 1934 oleh Bupati Magelang V, RAA Danoe Soegondo dilakukan pemugaran besar - besaran hingga bentuk masjid terlihat seperti sekarang.



* GPIB Jemaat 'Magelang'


Gereja berdesain arsitektur Gothic dengan ciri khas memiliki menara tinggi dan runcing ini merupakan gereja tertua di kota Magelang.

Dibangun pada tahun 1817 dan lebih tua usianya dari masa Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825 - 1830. 

Di tahun 2019 ini usianya telah mencapai 202 tahun. 

Memiliki tinggi menara sekitar 15 meter, keseluruhan dinding jendela berhiaskan kaca patri indah berwarna - warni menggambarkan kisah Yesus Kristus, dan memiliki bentuk pintu dan jendela berbentuk melengkung meruncing ke atas.

Pada tahun 2014 nama asli gereja diubah dan diresmikan oleh Walikota Magelang, dari semula bernama GPIB Jemaat 'Magelang' Magelang berganti nama menjadi GPIB Jemaat 'Beth - El' Magelang.


Trip Of Mine


Lokasi bangunan Heritage Magelang ini berada di sebelah utara alun - alun Magelang, bersedekatan dengan bangunan Water Toren. 



Setelah melihat dari dekat bangunan Water Toren yang menjadi Land Marknya kota Magelang, juga melihat bangunan - bangunan ikonik bersejarah di sebelah selatan, barat dan utara, aku dan Celyn berjalan bergandengan tangan mengarah menuju ke arah timur alun - alun Magelang yang memiliki slogan kota sebagai 'Kota Sejuta Bunga'.

Trip Of Mine


Disana terdapat patung pahlawan nasional Pangeran Diponegoro menunggangi kuda putih dengan ekspresi gagah beraninya. 
Tak jauh dari situ, hanya bersebelahan jarak terpampang tulisan besar kota Magelang. 

Trip Of Mine


Saat kami melangkah meninggalkan sebelah timur alun - alun Magelang yang berseberangan jalan dengan keberadaan lokasi gedung Kantor Pos peninggalan kolonial Belanda, eks gedung bioskop Magelang Theatre dan department store ternama ..., tampak sekumpulan pemuda tanggung usia asyik bergantian berlatih keseimbangan tubuh berdiri melajukan papan skateboard di sudut trotoar taman alun - alun Magelang diiringi musik berdentam - dentam yang dikeluarkan suaranya melalui tape recorder milik mereka.
Seru !. 


Lokasi :
Alun - alun Magelang
Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa - Tengah




Saturday, June 1, 2019

Taman Naura, Spot Selfie Kekinian Diapit Perkebunan

Pengalaman meniti membal - membalnya jembatan panjang rangkaian bambu yang sengaja dibuat lebih tinggi dari daratan dibawahnya, jadi sensasi pertama yang kami berdua rasakan saat mulai memasuki taman Naura, taman wisata kekinian yang berada di Kalipeh, Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang ini.



Trip Of Mine


Titian panjang jembatan bambu itu memang dibuat dengan sengaja karena dibawahnya terhampar perkebunan warga membelah kiri dan kanan pemandangan menghijau dan suburnya beragam jenis palawija. 

Saat kami berdua, aku dan keponakanku Fanny, si hitam manis eksotik berambut kriwil bak tampilan dara berasal dari pulau Maluku Ambon manise itu, melewati titian panjang jembatan bambu diselingi terus dengan ketawa ketiwi ngga jelas ..., masalahnya payung sewaan gratis dari pengelola di ruang loket tiket yang juga diposisikan lebih tinggi dari dataran sekitarnya, ... bentangan payung  beberapakali mengalami kejadian nyantol di tiang - tiang tinggi tonggak jembatan bambu ..., membuat kami berdua reflek ketawa ngakak cuwawakan tanpa kenal dosa, telah mengganggu orang sekitaran. 

Kejadian payung nyantol membuat badan kami kompak serempak maju mundur syantik tanpa sadar itu untuk berusaha memposisikan payung terangkat kembali dan payung 'bersedia' diajak melangkah jalan kembali, memayungi kami dari terpaan panasnya sengatan sinar matahari di siang hari itu.
*lol*


Trip Of Mine


Jembatan bambu yang hanya sanggup memuat 2 orang berjalan secara bersamaan itu selain melintasi perkebunan warga dibawahnya juga melewati tepi kubangan yang difungsikan sebagai wahana permainan becak air.
Kemudian ujung jembatan berakhir di batas area tepi kubangan, selanjutnya memasuki area spot selfie. 

Sebetulnya area taman wisata kekinian taman Naura yang keberadaannya melengkapi beberapa pilihan destinasi wisata taman kekinian serupa yang telah ada sebelumnya di sekitaran Ngluwar ini, areanya tidaklah berukuran besar. 


Trip Of Mine


Areanya hanya berbentuk memanjang.

Baca juga :
https://www.tripofmine.com/2018/12/taman-bunga-dewari-taman-bunga-berganti-rupa-ribuan-kincir-angin.html


Yups, lokasi taman Naura ini berada dalam satu kecamatan Ngluwar dengan beberapa lokasi wisata taman instagramble lainnya. 



Trip Of Mine


Jaraknya cukup berdekatan antara lokasi wisata taman kekinian yang satu dan dengan lokasi wisata taman kekinian lainnya, diantaranya : taman Dewari yang foto - foto spot area tamannya beberapa  waktu lalu sempat ramai bersiliweran di aplikasi ajang pamer diri narsis, instagram.

Tapi, ya jarak antar kesemua lokasi tamannya ngga deket - deket amat juga, sih ..., apalagi kalo ditempuh dengan cara berjalan kaki, terlebih memang tak ada sarana angkutan umum tersedia di jalur sana.
Bisa - bisa setelahnya kaki jadi terlihat kekar bengkak berotot alias ..., kram ..., wwwkkk.
Oopss !.

Dasar anak beranjak remaja lagi senang - senangnya fefotoan, ya ..., diajak berlibur ke spot foto kekinian seperti taman Naura ini mungkin yang ada dipikirannya tuh bawaannya senang banget.
Fanny pun juga begitu.

Saking kegirangan Fanny diajak liburan ke taman Naura, setelah kepulangan kami berlibur di Balkondes Tumpangsari ..., Fanny penuh semangat empat lima bernarsis ria di kesemua spot selfie.



Trip Of Mine


Ya berfoto di Merlion spot ikonik negara Singapore berbadan ikan dan berkepala singa, jejeran rumah ranting yang nyaris sama persis bentuknya seperti yang terdapat di salah satu taman kekinian di Gunung Kidul, Yogyakarta yang pernah kudatangi beberapa bulan yang lalu, juga berfoto di spot terapi ikan dan kolam renang anak.



Trip Of Mine



Bahkan rangkaian lorong besi tanaman menjuntai yang dibentuk model lope - lopean tak luput jadi sasaran aksi gegayaannya.

Asiknya, dengan harga tiket dibanderol 10K di taman Naura itu kita dibebaskan untuk merasakan kaki kita digigitin manja puluhan mulut ikan di kolam terapi dan anak kecil bebas berenang atau sekedar bermain - main di kolam renang berbentuk bulat, tanpa dikenai beaya tambahan.

Yang merasa bukan bocah tua, sih ..., ya jangan kepingin ikutan nyebur main air di kolam renang segala. 
Malu - maluin namanya.


Trip Of Mine


Karena memang, kolam renang di pinggir sawah itu hanya khusus dipergunakan untuk anak kecil.

Lihat Fanny pasang aksi kebanyakan gaya berfoto dengan pede dahsyat begitu , terhitung sampai lima puluh kali lebih bidikan kamera ..., mulai dari gegayaan monyongin bibir yang katanyaaaa ..., pose andalannya kids jaman now, ha ha ha ..., sampai biasaaaa tuh ...,  ngandalin jurus pose yang dilakukan generasi millenial ..., apalagi kalau itu bukan gayaaa ..., menyilangkan tangan terus kedua jari telunjuknya nempel manja ala - ala di kedua pipinya, ..., wwwwkk ..., omnya Fanny yang terlahir bukan di era kids jaman now ini (tetap) tak mau kalah gaya berfoto, dong yaa ... .

Ya iyalaaah ..., 
apalagi omnya Fanny ini sudah terlanjur dapat julukan penobatan ala - ala sebagai ..., travel blogger terphotomodel ..., dari Reyne Raea seorang admin blogger Sharing By Rey asal Sidoharjo, wwwwkkkk ... !.

Melebaylah akhirnya gaya berfotoku di taman Naura ..., eh# 😅 .


Trip Of Mine
Yuhuuuu ..., siapa nih berikutnya yang mau kuboncengiiin ?
*lol*


Kutunggangi spot patung kerbau di kubangan kolam kecil dan kutarik tali kekangnya ..., seolah aku seorang rodeo handal, ha ha ha.


Lokasi :
Taman Naura
Kalipeh, Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang

Tiket :
10K/person
[Info tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah]