Thursday, June 13, 2019

Melihat Beberapa Bangunan Ikonik di Sekitar Alun - alun Magelang

Di suatu pagi, ketika melewati pusat kota Magelang untuk kesekiankalinya, tercetus ide ajakan dari mulut kecil si keponakanku, Celyn untuk singgah melipir menepikan kendaraanku kembali di pusat keramaian alun - alun Magelang. 

Ajakan gadis kecil cantik berwajah oriental itu tanpa pikir ulang dua kali, langsung kuiyakan. 

Sebelumnya, kira - kira tiga bulan lalu, aku juga pernah menemani dua keponakanku, Fanny dan Celyn jalan - jalan sore di alun - alun yang terletak di Kelurahan Kemirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang ini untuk kegiatan mewarnai lukisan styreofoam yang digelar oleh beberapa pedagang disana. 

Saat itu mereka begitu antusias duduk anteng di bangku kayu kecil mewarnai pola gambar yang mereka pilih masing - masing, tak mempedulikan saat hujan gerimis rintik - rintik mulai turun ..., sementara omnya mereka ini mulai panik dan koar - koar meminta mereka  untuk segera meninggalkan area alun - alun ..., ha ha ha ..., tetap saja mereka berdua tak bergeming dan terus berkonsentrasi maksimal menyelesaikan polesan warna pola gambarnya dan setelah hasil mewarnai styreofoam selesai dikerjakan, mereka bawa pulang kerumah dengan perasaan senangnya. 

Di kesempatan ini, bertepatan dengan libur panjang sekolahnya, Celyn kembali mengajakku jalan - jalan di alun - alun Magelang. 


Trip Of Mine


Kedatangan kami kali ini bukan di sore hari seperti waktu itu, tapi di pagi hari saat area alun - alun tidak begitu ramai dikunjungi oleh banyak orang seperti mulai menjelang sore hari hingga tengah malam hari.
Hanya tampak beberapa orang hilir mudik mengelililingi trotoar alun - alun melakukan jogging, duduk - duduk santai di tembok pembatas tanaman beringin di tengah alun - alun dan beberapa orang tampak menikmati sarapan pagi sambil berselancar wi- fi gratisan di area kuliner yang ditempatkan berkelompok di sebelah utara. 

Dan kali ini, kami berdua datang kesana untuk melihat apa saja yang ada di alun - alun Magelang. 
Tepatnya melihat bangunan - bangunan ikonik peninggalan berusia ratusan tahun yang berada di sekelilingnya.

Letak alun - alun Magelang sangat strategis, mudah dijangkau dan posisinya berada di tengah empat arus jalur lalu - lintas utama. 

Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan alun - alun Selatan, sebelah Utara berbatasan dengan Jalan alun - alun Utara, sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Tentara Pelajar dan sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Ahmad Yani.


Trip Of Mine


Alun - alun Magelang memiliki pemandangan menawan dikelilingi oleh tiga pegunungan yang tampak dari kejauhan ..., gunung Sumbing, gunung Tidar, dan gunung Merbabu. 

Ruang terbuka alun - alun Magelang penataannya digarap apik dilengkapi sarana beberapa taman bunga berkelompok rapi dengan tiang - tiang lampu cantik beragam bentuk juga dilengkapi fasilitas pertunjukan hiburan dancing fountain atau air mancur menari dengan permainan tata warna cahaya memikat. 


Trip Of Mine


Pertunjukan atraksi air mancur menari atau dancing fountain dibedakan jadwal dan jam harinya.

  •  Sabtu atau malam minggu :  20. 00 - 20. 30 dan 21. 30 - 22. 00
  • Malam libur nasional :  20. 00 - 20. 30 dan 21. 30 - 22. 00
  • Minggu libur nasional : 11. 00 - 11. 30 dan 16. 00 - 16. 30


Alun - alun Magelang mulai dibuat pengerjaannya pada tahun 1812 setelah Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles mengangkat Mas Ngabehi Danuningrat yang bergelar Adipati Danuningat I sebagai Bupati pertama Magelang. 

Selain membuat alun - alun, Adipati Danuningrat I juga membangun rumah dinas Bupati dan sarana mushola [dalam bahasa Jawa diartikan Langgar, semacam surau] yang kelak menjadi masjid besar yang tampak seperti sekarang setelah melewati beberapakali proses pemugaran. 

Pada tahun 1813 Magelang kembali lagi menjadi daerah kolonial Belanda dan mulai mengembangkan tata kota yang maju dengan mendirikan sejumlah gedung bangunan di sekitaran alun - alun Magelang yang keberadaannya tetap berdiri anggun dengan indahnya hingga sekarang ini. 
Diantaranya mendirikan bangunan :

  • Gereja Protestan Indonesia Baru atau GPIB ~ 1817
  • Kelenteng Liong Hok Bio ~ 1864
  • Gereja Santo Ignatius ~ 1865
  • Middlebare Opleiding Schol voor Indasche Ambtenaren ~ 1878
  • Water Toren ~ 1916
  • Kantor Pos ~ 1920

Setelah kami berdua menyelesaikan menghabiskan sarapan 'amunisi' sepotong roti soes krim vanilla dan segelas susu cokelat pilihanku, dan Celyn memilih camilan sosis sebagai suntikan tambahan energi, kami memulai mengitari alun - alun Magelang dan melihat dari dekat keberadaan gedung - gedung historikal. 


Dimulai lokasi terdekat dari area kuliner, yaitu Water Toren, kemudian berlanjut mengelilingi keempat penjuru.


* Water Toren

Merupakan bangunan menara air [Bahasa Belanda : Water Toren, Bahasa Inggris : Water Tower]. 

Bangunan yang terkenal sebagai Land Mark nya kota Magelang ini dibangun pada tahun 1916 oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitektur kenamaan berkebangsaan Belanda.

Resmi mulai dipergunakan untuk menampung sumber mata air dari desa Kalegen dan Wulung pada tanggal 2 Mei 1920. 

Karena bentuknya, menara air yang memiliki tinggi 21, 2 meter dan memiliki 32 pilar ini seringkali disebut oleh masyarakat Magelang dengan kompor.


Trip Of Mine


Bentuk bangunannya memanglah mirip dengan bentuk kompor minyak tanah bersumbu yang mungkin saat ini keberadaan kompor berbentuk seperti itu telah sulit diketemukan lagi di pasar atau pusat perbelanjaan. 

Memiliki dua bangunan melingkar di bawah dan di atas. 

Bagian bawah terdiri dari 16 ruangan dahulunya difungsikan diantaranya  sebagai ruang laboratorium, ruang administrasi dan ruang pengontrol air, kini bagian bawah difungsikan sebagai gudang penyimpanan.

Bagian bangunan diatas berfungsi menampung air sebanyak 1, 750 juta liter air untuk memenuhi kebutuhan air warga kota Magelang.

Menara air di alun - alun Magelang yang dicat berwarna biru dan putih ini masih berfungsi dan dipergunakan oleh PDAM kota Magelang.


* Kelenteng Liong Hok Bio

Lokasi kelenteng Liong Hok Bio berada di sudut perempatan jalan, di sebelah selatan alun - alun Magelang.
Tepatnya di Jalan Alun - alun selatan nomor 2, Kecamatan Magelang Tengah. 


Trip Of Mine


Kelenteng megah sangat indah dengan dominasi warna merah mentereng dan memiliki ciri khas kuat bangunan Tiongkok ini adalah bangunan kelenteng baru, menggantikan kelenteng lama Liong Hok Bio yang ludes terbakar pada tanggal 16 Juni 2014 lalu. 


Trip Of Mine


Bangunan baru kelenteng Liong Hok Bio diresmikan pada tanggal 25 Maret 2018, bertepatan dengan perayaan hari TAO. 

Kelenteng lama Liong Hok Bio didirikan pada tahun 1864 oleh warga etnis Tionghoa yang dipercaya oleh kolonial Belanda, bernama Be Koen Wie atau Tjok Bok. 

Be Koen Wie merupakan saudagar kaya raya berasal dari kota Surakarta atau Solo. 
Kedekatannya dengan pemerintah kolonial Belanda, membuat Be Koen Wie diangkat menjadi Letnan dan dipindahtugaskan di kota Magelang.
Tak lama kemudian, diangkat menjadi Kapten. 

Kekayaannya yang melimpah ruah, Kapten Be Koen Wie tergerak menghadiahkan sebidang tanah untuk dibangun sebuah tempat peribadatan Tri Dharma. 


Trip Of Mine


Kelenteng lama Liong Hok Bio sarat menyimpan sejarah, saksi bisu sejarah perjuangan masyarakat Tionghoa turut berperan serta melawan penjajah Belanda dalam Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.


* Monumen Electrificatie

Monumen Electrificatie letaknya tepat berada di depan seberang jalan masuk pintu kelenteng Liong Hok Bio.

 Dibangun kolonial Belanda pada tahun 1924 untuk menandai sumber penerangan tenaga listrik pertamakali dialirkan masuk ke kota Magelang. 


Trip Of Mine


Tulisan dalam bahasa Belanda 'Mart 1924 Electrificatie Magelang' terukir rapi di monumen dengan bentuk tinggi meruncing dan dipoles dengan cat warna kuning keemasan ini.


* Masjid Agung



Lokasi Masjid Agung berseberangan dengan lokasi dancing fountain atau air mancur menari alun - alun Magelang. 

Awalnya bernama masjid Jami'. Didirikan tahun 1650 oleh KH. Mudakir, seorang tokoh ulama dari Jawa - Timur. 

Masjid Agung yang juga terkenal dengan nama masjid Kauman ini semula hanyalah berbentuk mushola kecil [Masyarakat Jawa mengistilahkan dengan langgar, semacam surau].

Pertamakali dipugar dipugar pada tahun 1797. 
Catatan tahun pemugaran tersebut tercatat dalam sebuah prasasti yang tertulis dalam dua bahasa, bahasa Belanda dan bahasa Arab. 
Kini prasasti tersebut tersimpan rapi berada di dalam masjid Agung Magelang. 


Trip Of Mine


Pemugaran masjid dilakukan sampai beberapakali dan pada tahun 1934 oleh Bupati Magelang V, RAA Danoe Soegondo dilakukan pemugaran besar - besaran hingga bentuk masjid terlihat seperti sekarang.



* GPIB Jemaat 'Magelang'


Gereja berdesain arsitektur Gothic dengan ciri khas memiliki menara tinggi dan runcing ini merupakan gereja tertua di kota Magelang.

Dibangun pada tahun 1817 dan lebih tua usianya dari masa Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825 - 1830. 

Di tahun 2019 ini usianya telah mencapai 202 tahun. 

Memiliki tinggi menara sekitar 15 meter, keseluruhan dinding jendela berhiaskan kaca patri indah berwarna - warni menggambarkan kisah Yesus Kristus, dan memiliki bentuk pintu dan jendela berbentuk melengkung meruncing ke atas.

Pada tahun 2014 nama asli gereja diubah dan diresmikan oleh Walikota Magelang, dari semula bernama GPIB Jemaat 'Magelang' Magelang berganti nama menjadi GPIB Jemaat 'Beth - El' Magelang.


Trip Of Mine


Lokasi bangunan Heritage Magelang ini berada di sebelah utara alun - alun Magelang, bersedekatan dengan bangunan Water Toren. 



Setelah melihat dari dekat bangunan Water Toren yang menjadi Land Marknya kota Magelang, juga melihat bangunan - bangunan ikonik bersejarah di sebelah selatan, barat dan utara, aku dan Celyn berjalan bergandengan tangan mengarah menuju ke arah timur alun - alun Magelang yang memiliki slogan kota sebagai 'Kota Sejuta Bunga'.

Trip Of Mine


Disana terdapat patung pahlawan nasional Pangeran Diponegoro menunggangi kuda putih dengan ekspresi gagah beraninya. 
Tak jauh dari situ, hanya bersebelahan jarak terpampang tulisan besar kota Magelang. 

Trip Of Mine


Saat kami melangkah meninggalkan sebelah timur alun - alun Magelang yang berseberangan jalan dengan keberadaan lokasi gedung Kantor Pos peninggalan kolonial Belanda, eks gedung bioskop Magelang Theatre dan department store ternama ..., tampak sekumpulan pemuda tanggung usia asyik bergantian berlatih keseimbangan tubuh berdiri melajukan papan skateboard di sudut trotoar taman alun - alun Magelang diiringi musik berdentam - dentam yang dikeluarkan suaranya melalui tape recorder milik mereka.
Seru !. 


Lokasi :
Alun - alun Magelang
Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa - Tengah




Saturday, June 1, 2019

Taman Naura, Spot Selfie Kekinian Diapit Perkebunan

Pengalaman meniti membal - membalnya jembatan panjang rangkaian bambu yang sengaja dibuat lebih tinggi dari daratan dibawahnya, jadi sensasi pertama yang kami berdua rasakan saat mulai memasuki taman Naura, taman wisata kekinian yang berada di Kalipeh, Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang ini.



Trip Of Mine


Titian panjang jembatan bambu itu memang dibuat dengan sengaja karena dibawahnya terhampar perkebunan warga membelah kiri dan kanan pemandangan menghijau dan suburnya beragam jenis palawija. 

Saat kami berdua, aku dan keponakanku Fanny, si hitam manis eksotik berambut kriwil bak tampilan dara berasal dari pulau Maluku Ambon manise itu, melewati titian panjang jembatan bambu diselingi terus dengan ketawa ketiwi ngga jelas ..., masalahnya payung sewaan gratis dari pengelola di ruang loket tiket yang juga diposisikan lebih tinggi dari dataran sekitarnya, ... bentangan payung  beberapakali mengalami kejadian nyantol di tiang - tiang tinggi tonggak jembatan bambu ..., membuat kami berdua reflek ketawa ngakak cuwawakan tanpa kenal dosa, telah mengganggu orang sekitaran. 

Kejadian payung nyantol membuat badan kami kompak serempak maju mundur syantik tanpa sadar itu untuk berusaha memposisikan payung terangkat kembali dan payung 'bersedia' diajak melangkah jalan kembali, memayungi kami dari terpaan panasnya sengatan sinar matahari di siang hari itu.
*lol*


Trip Of Mine


Jembatan bambu yang hanya sanggup memuat 2 orang berjalan secara bersamaan itu selain melintasi perkebunan warga dibawahnya juga melewati tepi kubangan yang difungsikan sebagai wahana permainan becak air.
Kemudian ujung jembatan berakhir di batas area tepi kubangan, selanjutnya memasuki area spot selfie. 

Sebetulnya area taman wisata kekinian taman Naura yang keberadaannya melengkapi beberapa pilihan destinasi wisata taman kekinian serupa yang telah ada sebelumnya di sekitaran Ngluwar ini, areanya tidaklah berukuran besar. 


Trip Of Mine


Areanya hanya berbentuk memanjang.

Baca juga :
https://www.tripofmine.com/2018/12/taman-bunga-dewari-taman-bunga-berganti-rupa-ribuan-kincir-angin.html


Yups, lokasi taman Naura ini berada dalam satu kecamatan Ngluwar dengan beberapa lokasi wisata taman instagramble lainnya. 



Trip Of Mine


Jaraknya cukup berdekatan antara lokasi wisata taman kekinian yang satu dan dengan lokasi wisata taman kekinian lainnya, diantaranya : taman Dewari yang foto - foto spot area tamannya beberapa  waktu lalu sempat ramai bersiliweran di aplikasi ajang pamer diri narsis, instagram.

Tapi, ya jarak antar kesemua lokasi tamannya ngga deket - deket amat juga, sih ..., apalagi kalo ditempuh dengan cara berjalan kaki, terlebih memang tak ada sarana angkutan umum tersedia di jalur sana.
Bisa - bisa setelahnya kaki jadi terlihat kekar bengkak berotot alias ..., kram ..., wwwkkk.
Oopss !.

Dasar anak beranjak remaja lagi senang - senangnya fefotoan, ya ..., diajak berlibur ke spot foto kekinian seperti taman Naura ini mungkin yang ada dipikirannya tuh bawaannya senang banget.
Fanny pun juga begitu.

Saking kegirangan Fanny diajak liburan ke taman Naura, setelah kepulangan kami berlibur di Balkondes Tumpangsari ..., Fanny penuh semangat empat lima bernarsis ria di kesemua spot selfie.



Trip Of Mine


Ya berfoto di Merlion spot ikonik negara Singapore berbadan ikan dan berkepala singa, jejeran rumah ranting yang nyaris sama persis bentuknya seperti yang terdapat di salah satu taman kekinian di Gunung Kidul, Yogyakarta yang pernah kudatangi beberapa bulan yang lalu, juga berfoto di spot terapi ikan dan kolam renang anak.



Trip Of Mine



Bahkan rangkaian lorong besi tanaman menjuntai yang dibentuk model lope - lopean tak luput jadi sasaran aksi gegayaannya.

Asiknya, dengan harga tiket dibanderol 10K di taman Naura itu kita dibebaskan untuk merasakan kaki kita digigitin manja puluhan mulut ikan di kolam terapi dan anak kecil bebas berenang atau sekedar bermain - main di kolam renang berbentuk bulat, tanpa dikenai beaya tambahan.

Yang merasa bukan bocah tua, sih ..., ya jangan kepingin ikutan nyebur main air di kolam renang segala. 
Malu - maluin namanya.


Trip Of Mine


Karena memang, kolam renang di pinggir sawah itu hanya khusus dipergunakan untuk anak kecil.

Lihat Fanny pasang aksi kebanyakan gaya berfoto dengan pede dahsyat begitu , terhitung sampai lima puluh kali lebih bidikan kamera ..., mulai dari gegayaan monyongin bibir yang katanyaaaa ..., pose andalannya kids jaman now, ha ha ha ..., sampai biasaaaa tuh ...,  ngandalin jurus pose yang dilakukan generasi millenial ..., apalagi kalau itu bukan gayaaa ..., menyilangkan tangan terus kedua jari telunjuknya nempel manja ala - ala di kedua pipinya, ..., wwwwkk ..., omnya Fanny yang terlahir bukan di era kids jaman now ini (tetap) tak mau kalah gaya berfoto, dong yaa ... .

Ya iyalaaah ..., 
apalagi omnya Fanny ini sudah terlanjur dapat julukan penobatan ala - ala sebagai ..., travel blogger terphotomodel ..., dari Reyne Raea seorang admin blogger Sharing By Rey asal Sidoharjo, wwwwkkkk ... !.

Melebaylah akhirnya gaya berfotoku di taman Naura ..., eh# 😅 .


Trip Of Mine
Yuhuuuu ..., siapa nih berikutnya yang mau kuboncengiiin ?
*lol*


Kutunggangi spot patung kerbau di kubangan kolam kecil dan kutarik tali kekangnya ..., seolah aku seorang rodeo handal, ha ha ha.


Lokasi :
Taman Naura
Kalipeh, Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang

Tiket :
10K/person
[Info tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah]