Wednesday, May 22, 2019

Mengintip Kerennya Balkondes Tumpangsari

Terinpirasi dari mamaku, setelah seminggu sebelumnya mama beserta rombongan keagamaan menghadiri acara gathering sekaligus liburan di salah satu Balkondes di sekitaran candi Borobudur ..., aku juga punya keinginan berlibur ke salah satu lokasi Balkondes sebagai pilihan lokasi liburanku kali ini. 

Dan kali ini sebagai teman berliburku, kuajak keponakanku, Fanny yang kebetulan sedang masa liburan bertepatan dengan kelulusan sekolahnya.

Tapi lokasi Balkondes yang kupilih ..., dan kali ini juga adalah merupakan lokasi Balkondes yang pertamakali kudatangi dari beberapa pilihan lokasi Balkondes yang terdapat di sekitaran candi Borobudur ..., bukanlah lokasi Balkondes yang pernah didatangi oleh mamaku dan teman - temannya. 


Trip Of Mine


Menyusuri jalan pedesaan nan asri, melewati deretan rumah warga dan dikitari oleh pemandangan persawahan menyejukkan mata, kami berdua mulai melakukan pencarian rute ke arah Balkondes yang kami tuju. 

Dimulai dari jalan alternatif ke arah Kulon Progo di dekat persimpangan area kompleks candi Borobudur, kemudian terus mengikuti arah rute jalan sejauh sekitar 5 kilometer.


Trip Of Mine
Balkondes Tumpangsari dilihat dari jalan raya desa


Tak begitu jauh dari depan jalan masuk ke area taman spot selfie Junk Yard, sekitar kurang lebih 1, 5 kilometer kemudian, sampailah kami tiba di tujuan lokasi Balkondes instagramable yang berada tepat di pinggir jalan ini.


Trip Of Mine



Balkondes Tumpangsari.
Inilah nama lokasi Balkondes tematik pertama yang kudatangi, dari ke 20 pilihan lokasi Balkondes lainnya yang berada di desa - desa sekitaran candi terbesar dan termasyur di dunia, candi Borobudur.

Bukan tanpa suatu alasan tak jelas seperti alasan dirimu melupakanku, eh# ..., keceplosan curcol , ..., aku memilih lokasi Balkondes Tumpangsari jadi tujuan pertamaku sebelum nantinya berlibur ke lokasi Balkondes berikutnya. 

Alasan itu dikarenakan kecintaanku tentang seni kebudayaan. 

Ya kisah sejarahnya, ya seninya ..., segala sesuatu hal tentang sejarah aku menyukainya. 
Tak hanya menyukai seni kebudayaan Jawa, tapi semua kesenian kekhasan etnik setiap daerah yang ada di Indonesia aku pun menyukainya.


Trip Of Mine


Di Balkondes Tumpangsari kekhasan kesenian etnik tanah Jawa, tokoh sosok pewayangan ditampilkan kuat sebagai eksteriornya.

Gunungan, property pernak - pernik interior eksterior pendukung yang digunakan dan juga sosok tokoh wayang berukuran besar digarap apik terpajang di depan bangunan khas Jawa di 3 joglo dan 2 pendopo berukuran besar dan terlihat nJawani tenan.


Trip Of Mine
Pendopo Balkondes Tumpangsari, keren bentuknya, ya ...

Itulah alasanku kenapa memilih lokasi Balkondes Tumpangsari jadi tujuan nongki pertamakalinya ke Balkondes dari sejumlah pilihan Balkondes lainnya yang tersebar sebanyak 20 lokasi desa di Borobudur.


Trip Of Mine
Apa yang akan kutumbuk pakai alu ini, ya ?
*lol*

Balkondes tematik lainnya dan masing - masing Balkondes juga punya daya pikat tersendiri, diantaranya tersebar berada di kecamatan Karanganyar, kecamatan Wringin Putih, kecamatan Candirejo, kecamatan Karangrejo dan kecamatan Kebonsari.

Balkondes atau Balai Ekonomi Desa sendiri merupakan sinergi bentukan antara BUMN pendamping PT. Taman Wisata Candi Borobudur, candi Prambanan dan candi Ratu Boko dengan sejumlah BUMN sponsor untuk mengembangkan potensi ekonomi, seni budaya dan wisata yang dimiliki ke 20 desa yang berada di kawasan Borobudur.

Setiap desa disupport oleh satu BUMN sponsor.

BUMN sponsor diantaranya : 
PT. Telekomunikasi Indonesia, PT. Pertamina, PT. Angkasa Pura Airports, PT. Telekomunikasi Indonesia, Bank Negara Indonesia dan beberapa BUMN lainnya. 

Satu Balkondes ditata tematik berbeda antara satu Balkondes dengan Balkondes yang lain dan setiap lokasi Balkondes dilengkapi dengan sejumlah kamar penginapan atau homestay bernuansa pedesaan dengan pelayanan dan kenyamanan setara dengan hotel berbintang. 

Setiap lokasi Balkondes dilengkapi dengan bangunan pendopo, ruang - ruang yang dipergunakan untuk keperluan kegiatan budaya dan beragam keperluan lainnya. 
Juga dilengkapi lapak pedagang makanan minuman yang menjajakan kuliner khas ndeso, seperti : singkong rebus, wedang uwuh dan jenis kuliner lainnya. 
Sesekali waktu di setiap Balkondes diadakan pertunjukan pementasan seni, seperti : gamelan, jathilan dan tari - tarian daerah.  


Trip Of Mine
Seperangkat sofa ala tempoe doloe


Kalau hanya sekedar nongki asik dan hang-out seru bareng - bareng teman di area pendopo dan nyobain icip - icip kuliner berbayar di Balkondes, tanpa bermalam pun boleh - boleh saja. 

Tinggal datang, order camilan atau juga memilih jenis menu makanan 'berat' ..., terus dilanjut fefotoan kayak kebiasaanku, ya di persilahkan.
Tak ada larangan untuk itu. 

Tapi, jangan gegara keasikan fefotoan di kesemua lokasi keren Balkondes ..., jangan lantas kamu pura -pura pasang aksi lupa membayar menu apa yang telah kamu order, lalu pergi nyelonong gitu saja, yaaa ..., wwwkk.
Ngga baik banget kayak gitu !.

Sebenarnya ada cerita berkesan, tepatnya bisa dibilang lucu, sih dibalik pengalaman liburanku bareng Fanny di Balkondes Tumpangsari di satu hari itu. 

Ceritanya ..., sesampainya kami disana yang kami temui bukanlah adanya pemandangan staff dengan segala kesibukannya melayani kunjungan tamu, atau juga ..., hmmm ..., adanya sambutan hangat dari staff untuk kami, misalnya ucapan 'Selamat siang, selamat datang di Balkondes ..., bla ..., bla ..., bla', seperti pada umumnya saat kami datang ke suatu lokasi layanan jasa. 

Loh, apa penyebabnya, kok ..., bisa gitu ?. 

Ternyata pemandangan yang kami temui saat kami tiba di Balkondes Tumpangsari adalah ..., hanyalah kesibukan para pekerja tukang bangunan tampak sedang membenahi ornamen satu pendopo yang hampir selesai pengerjaan keseluruhan areanya.
Ha ha ha ..., jelaslah kami berdua yang semula kebingungan, akhirnya malah tertawa ngakak berdua. 

Lah, gimana ..., plesiran kok ke lokasi yang masih belum terselesaikan sempurna dan areanya masih terlihat beberapa material kayu ditumpuk di salah satu ruangan joglo.

Tapi karena pada dasarnya secara kebetulan kami berdua sama - sama penyuka sosok wayang, fine - fine aja tuh ..., liburan di Balkondes Tumpangsari yang belum terselesaikan seratus persen pengerjaannya.


Trip Of Mine
Aku dan Fanny, sama - sama penyuka wayang


Dengan seijin petugas disana, akhirnya kami berdua kesampaian keinginan kami untuk membuat dokumentasi foto kenangan liburan di kesemua sudut memikat Balkondes Tumpangsari.

Dan juga ngerasain gimana nyamannya duduk nongki  berlama - lama di satu pendopo yang dilengkapi seperangkat meja dan kursi model tempoe doloe, meski terpaksa ngga berkesempatan ..., heumm ..., menjajal icip - icip kuliner khas desa disana ... .


Trip Of Mine



Lokasi :
Balkondes Tumpangsari
Jalan Giri Tengah No. KM15, Dusun V, Tanjungsari, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa - Tengah



Wednesday, May 15, 2019

Candi Cantik si Air Jatuh Menetes : Candi Banyunibo

Didirikan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, bangunan candi Banyunibo memang tidaklah semegah candi Borobudur dan candi Prambanan. 
Tetapi candi beraliran Buddha, dikenali dengan adanya arca stupa di bagian atapnya, bentuk candi yang dibangun pada abad IX ini juga memesona. 
Ornamen relief dinding candinya diukir sangat halus.



Trip Of Mine
Kolom ventilasi candi Banyunibo, berfoto di ventilasi candi ini bagus juga :)


Loh, kok candi lagi yang didatangi untuk berlibur dan diulas lagi di artikel berikutnya kali ini sih, apa ngga bosan ?.

Mungkin buat sebagian besar sahabat Trip Of Mine yang seringkali mampir di blogku ini sedikit banyak cukup hafal dengan beberapa lokasi candi - candi yang pernah kuceritakan secara berurutan dan selanjutnya setelah membaca sekilas judul artikel ini, pasti bisa jadi akan muncul pertanyaan seperti itu.
Yeikan ?.
Tapi please jangan lantas muncul perasaan bosan dihatimu padaku, ya ..., he he he .
*ngarep* .

Percayalah, diluaran sana tuuuuuh  ..., dan  juga beberapa teman pembaca yang pernah mampir berkomentar di blogku ini ..., masih banyak orang yang sebenarnya belum pernah berkesempatan melihat secara langsung keindahan arsitektur bangunan candi itu seperti apa, hanya masih sebatas berkesempatan melihat candi - candi melalui hasil bidikan gambar kamera yang tersebar di dunia maya.
Betul, kan ?.

Makanya, di kesempatan kali ini, artikel keberadaan percandian masih tetap kuulas, dan mungkin juga keberadaan candi - candi lain akan muncul di artikelku berikutnya.

Nah, sampai disini, rasanya aku tuh pengin nulis sambil teriak pakai toa ..., hayooooo ..., siapa diantara kalian yang belum pernah melihat candi secara langsung ?, ngakuuu ... .

Oopss, maksudku teriak menanyakan begitu, aku tuh bukan bermaksud akan mengadakan give away blogger dan menyediakan free gift ticket atau tiket gratisan masuk ke area candi loh, yaaa ..., wwwkkk ..., tapi kudoakan agar diantara kalian yang belum pernah melihat candi dan punya keinginan melihat candi secara langsung itu ..., dapat segera terkabulkan. 

Diamin dong, yaa ...  :).

Ya, minimal terjadi sekali seumur hiduplah terlaksana melihat candi secara langsung, agar mengenal dengan baik bagaimana karya arsitektur mengagumkan dibuat oleh leluhur kita pada ratusan, bahkan ribuan tahun silam dan juga berkesempatan mengamati dari dekat bagaimana indahnya detil relief candi dibuat seperti yang terdapat di candi Banyunibo yang berada di desa Cepit, dusun Bokoharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang kudatangi kali ini.

Tau, kan ..., mas dan mbak bule aja dibela - belain datang terbang jauh - jauh numpak montor mabur  [Kebanyakan orang Jawa mengistilahkan naik pesawat : numpak motor mabur 😅] dari negaranya buat melihat keberadaan candi loh, masa kamu ngga, sih ?.
Eh# kok ..., bule dibawa - bawa lagi sih disini ?.
Ha ha ha ... . 
 *lol* .


Trip Of Mine
Area candi berbatasan dengan sungai kecil dan dikitari persawahan asri


Saat aku tiba di depan kompleks candi Banyunibo di suatu pagi itu, setelah sebelumnya melewati jalan desa beraspal mulus, kulihat dari tepi jalan sekaligus berfungsi sebagai lahan parkir kendaraan pengunjung yang berbatasan dengan sungai kecil di tepi halaman candi dan diseberangnya terbentang persawahan luas menghijau menyegarkan pandangan mata ..., tak terlihat satupun ada pengunjung di dalam area candinya.
Hanya tampak 2 petugas loket dan 1 petugas keamanan bertugas disana. 

Letak lokasi keberadaan candi Banyunibo yang memiliki arti ' Air yang menetes jatuh' ini terbilang memilki pemandangan alam sekitar cukup memikat. 

Selain dikelilingi asrinya persawahan juga dikelilingi oleh puncak - puncak perbukitan berpemandangan indah.

Di sebelah tenggara terdapat bukit tempat keberadaan candi Ijo, di sebelah timur laut terdapat puncak bukit Dawangsari tempat dimana candi Barong berdiri dengan megahnya disana dan di sebelah barat laut terdapat bukit Ratu Boko, bukit tempat candi Ratu Boko berdiri.


Trip Of Mine


Pandangan mataku kusebar ke segala penjuru sekali lagi sewaktu aku mulai melangkahkan kakiku menyeberangi jembatan kecil menuju ke bangunan loket, memang benar tak terlihat ada wisatawan satupun berlibur disana. Sepi.
Tapi dugaanku itu ternyata ..., keliru.

Dan itu jadi bumbu cerita pengalaman lucu tersendiri saat berlibur di candi Banyunibo.


Trip Of Mine
Tangga bilik candi utama


Kekagetanku berawal dari lokasi tangga candi utama yang kududuki dan kupilih sebagai spot foto pertama.
Tiba - tiba dari dalam bilik candi utama terdengar suara lengkingan tertawa bahagia suara seorang wanita dari dalam sana ... .

Reflek aku loncat kaget dan menoleh ke arah belakang, selanjutnya aku berdiri menaiki undakan anak tangga dan mencoba melongok ke bilik dalam candi, memastikan memang apa betul ada seseorang sedang berada di dalam sana atau tidaknya.

Pas mendekati pintu candi yang menghadap ke arah barat  dan di bagian atasnya dihiasi relief Kalamakara, berbarengan tampak muncul 2 orang dari dalam sana, 1 orang pria dan 1 orang wanita, keduanya muda usia ..., mereka keluar dari bilik candi sambil tersenyum senang. 
Si pria tampak menenteng kamera digital mengajakku tersenyum ..., dan saat itu pula tiba - tiba ekspresi wajahku yang semula tegang langsung mendadak berubah jadi mengendor ..., legaaaa ..., kirain tuh betulan suara tertawa lantang tadi itu suara misterius ..., atau suara hantu ..., wwwwkkk !.

Sepertinya dia di dalam bilik candi utama tertawa empuk renyah garing kayak kerupuk gitu, menertawakan dirinya sendiri saat difoto oleh si pria.
Dugaanku itu diperkuat setelah mereka berdua selalu tampak ketawa geli setelah melakukan beberapakali pengambilan gambar di luar candi utama dan melihat hasil fotonya di layar kamera.

Owalaaaah ..., ono - ono wae, mbaak !.
Ha ha ha. 

Kekagetanku di candi Banyunibo ternyata tak berhenti sampai disitu saja, masih berlanjut. 
Atau terulang lagi.

Sewaktu giliranku memasuki bilik candi utamanya yang berukuran cukup luas dan di keempat sisinya dihiasi ventilasi berukuran kotak dan rendah ..., jadi dari balik ventilasi bagian dalamnya, bisa melongok pemandangan di sekitaran candi. Unik, ya ... , dan perlahan mengamati ukiran lengkungan relung yang diatasnya juga berhiaskan Kalamakara dan tanpa terlihat ada hiasan arca di dalam relungnya, juga sekilas kuperhatikan di tengah bilik terdapat beberapa batang hio tertancap menyala, menebarkan aroma wangi magis ke seluruh ruangan bilik candi ..., tiba - tiba terdengar sapaan suara berat lelaki mengagetkanku muncul dari pintu bilik candi.


Trip Of Mine
Bilik dalam candi utama


Kutoleh, ohh ternyata petugas keamanan yang tadi kulihat sekilas berada di dekat ruang loket tiket. 
Lagi - lagi legaaaa ..., kirain hantu betulan kali ini ..., wwwkkk !.

Kebetulan dong rasanya, ada petugas keamanan ikut menemaniku di dalam bilik candi utama ..., eh# bukan berarti selama ini aku type penakut seorang diri berada di dalam bilik candi, yaaa ..., no way !.

Tapi adanya petugas keamanan yang sedang berpatroli memeriksa area candi dan kebetulan bersamaan dengan aku di dalam candi utama, itu artinya memudahkan aku untuk 'mengorek' informasi unik yang ada dan setelahnya tak perlu repot - repot bertanya lagi nantinya mengenai informasi tambahan tentang candi Banyunibo sewaktu aku akan pulang.

Dan informasi dari petugas keamanan itulah, aku jadi tau jika candi Banyunibo ini secara rutin masih dipergunakan untuk keperluan beribadah dan seringkali dipergunakan oleh orang - orang tertentu, termasuk petinggi negara untuk melakukan tirakat.

Nama salah seorang pejabat yang namanya akhir - akhir ini santer terdengar di pemberitaan, disebutkan oleh petugas keamanan yang berpembawaan ramah itu.

Menarik disimak juga ceritanya, ya ..., tapi nama pejabat yang diceritakan petugas keamanan itu tak akan kusebutkan disini, karena kapasitasku disini hanyalah berlibur plus sibuk rempong mengumpulkan informasi sedetil mungkin di suatu lokasi wisata, kemudian setelahnya menuliskan cerita pengalaman berliburku diblogku ini.

Aku tuh bukan wartawan berita gosip, ha ha ha. 

Candi Banyunibo ini memiliki tampilan eksotik, memiliki bentuk atap yang terlihat sedikit berbeda dengan candi - candi Buddha lainnya, meskipun juga terdapat arca stupa diatasnya sebagai penanda jika candi ini adalah candi beraliran Buddha.
Dibawah stupa bagian atapnya terdapat lengkungan besar yang diduga oleh para arkeologi merupakan penggambaran dari bunga teratai.

Seperti kita tau, jika tumbuhan teratai dipercaya sebagai lambang kesucian umat Buddha.
Kemampuannya tumbuh subur dan berbunga indah diatas tanah berlumpur menandakan filosofis ajaran Buddhist.

Candi ini diketemukan kembali sudah dalam keadaan runtuh, tak lagi berdiri sempurna.
Kemudian candi mulai direstorasi pada tahun 1940 dan terselesaikan pada tahun 1978.


Trip Of Mine


Penamaan candinya dengan nama candi Banyunibo [Bahasa Jawa, Banyu : air, Nibo : jatuh, menetes]  yang memiliki arti 'Air yang jatuh menetes', tidak diketahui asal mula penamaannya, sejak kapan dan dimulai dari kapan.

Atau mungkin juga dinamakan demikian karena ..., keberadaan letak lokasinya di dataran paling rendah dibandingkan dengan ketiga candi lainnya yang mengelilinginya dan ketiganya berada di puncak perbukitan ..., entahlah.

Yang pasti saat ini, ke 6 candi Perwara yang berderet di sisi sebelah selatan dan timur candi utama masih belum tersentuh restorasi pemugaran.


Trip Of Mine
Reruntuhan candi Perwara


Dan disana juga terdapat sembulan tembok batu kuno 'misterius'' terlihat membujur memanjang dari barat ke timur sepanjang sekitar 65 meter, diduga kuat tembok batu tersebut kemungkinan besar masih memanjang tertanam di dalam tanah hingga di luar pagar kawat berduri yang mengelilingi kompleks candi Banyunibo saat ini ... .


Lokasi :
Candi Banyunibo
Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
° Turis Lokal 5K
° Turis Mancanegara 10K
[Informasi tiket dan kondisi sewaktu -waktu dapat berubah]

Jam Operasional :
08. 00 - 16. 00







Sunday, May 5, 2019

Namanya Tetap Candi Bubrah, Meski Tak Lagi Bubrah

Candi Bubrah keberadaan lokasinya terletak diantara candi Sewu dan candi Lumbung. 

Merupakan candi Buddha yang terletak di dalam komplek taman wisata candi Prambanan. 

Meski berada dalam satu kompleks dengan candi Prambanan, secara administratif letak lokasi candi Bubrah, bukanlah berada di Daerah Istimewa Yogyakarta sama halnya dengan letak admistratif candi Prambanan.
Tetapi candi Bubrah (Bahasa Jawa = rusak, berantakan) berada di dusun Kelurak, desa Tlogo, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa - Tengah. 


Trip Of Mine
Tangga menuju bilik candi Bubrah


Nah, jadi tau, ya ..., kalau memasuki taman wisata candi Prambanan dengan tiket berbayar 40K untuk turis domestik dan 350K untuk turis mancanegara itu, tak hanya berkesempatan mengeksplore keindahan memesona candi Prambanan yang lekat dengan legenda cerita rakyat Tanah Jawa tentang Roro Jonggrang disana, tapi juga berkesempatan mengeksplore keeksotikan 3 candi lainnya = candi Sewu, candi Lumbung dan candi Bubrah. 

Candi Bubrah rangkaian candi terakhir yang kudatangi setelah menjelajahi ketiga candi lain sebelumnya.

Dari ketiga lokasi candi yang berada di dalam taman wisata candi Prambanan, sengaja kudatangi ketiganya dengan cara memilih tak ikut naik numpang duduk manis diantara beberapa pilihan sarana transportasi berbayar yang tersedia disana, begitu juga saat aku menuju ke candi Bubrah ini.
Tapi sengaja kupilih dengan cara berjalan kaki demi merasakan rekam jejak kehidupan masa silam yang pernah terjadi pada abad ke 8 ..., saat candi - candi mengagumkan arsitekturnya ini dibangun. 
Begitu ceritanyaaa ..., meski setelahnya, kaki terasa gempor heboh juga ..., wwwkkkk 😆.

Betewe anyway busway, sesampai di dekat halaman candi Bubrah yang dibatasi oleh pagar berteralis besi mengelilingi candi, aku ngga langsung memasuki pekarangannya dan mengeksplore ke seluruh bagian candi yang penyelesaian rekonstruksi ulang pada tahun 2017 silam dan menurut informasi yang kuperoleh menghabiskan dana pemugaran yang fantastis angkanya, sekitar 13 milyar.

Tapi memilih duduk anteng duduk di bedeng pos sederhana di sebelah pagar candi buat menghimpun ulang tenaga setelah berjalan kaki menyusuri jalanan taman ditemani panas teriknya sang mentari (ceileeeh  ..., gaya bahasaku iniii ..., romantis - romantis gimana getoooh ..., ha ha ha 😅) dan juga mengesplore ke semua bagian ketiga candi sebelumnya ..., candi Prambanan, candi Sewu dan candi Lumbung. 

Terasa capek juga berjalan kaki sejauh itu, say ..., sayuran maksudnya *lol* . Bayangin, menyusuri area seluas 39,8 hektar dan memasuki area candi satu persatu, terus ditambah cuaca panas saat itu rasanya ..., sesuatu banget, loh. Rasanya badan jadi meleleh. 
Loh ?, ..., lilin kaleeeee akh .., meleleh ha ha ha 😄.

Beruntung saja, didalam tas selempangku masih tersisa persediaan 1 botol cairan ion pengganti tubuh.
Lumayanlah, buat menyegarkan badan.

Tau gitu, tadi menyewa payung saja di halaman awal kedatangan di dekat area parkir dan di dekat area pembelian tiket. 
Sampai disitu, sambil masih duduk selonjoran kaki terselip penyesalan dalam hati dan merasa kasihan juga, kenapa tadi kuabaikan kejaran seorang ibu penyewa jasa payung menyodorkan ke aku untuk menyewa payung miliknya.
Eh, tapi ... , cowok siang - siang panas tanpa hujan turun, kok ..., payungan, ya ?. Akh, ngga apa - apa juga, keleees ;) .


Trip Of Mine


Dinamakan candi Bubrah oleh masyarakat setempat dikarenakan saat pertamakali diketemukan memang dalam keadaan nyaris rata dengan tanah, hanya berupa sisa pondasi candi, sebagian kaki candi dan bebatuan candi yang berserakan. 

Kerusakan itu semakin diperparah dengan penggunaan batu candi dan arca - arca yang berjumlah sangat banyak sebagai material pondasi benteng pertahanan pada saat terjadinya Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825 - 1830. 

Keberadaan candi Bubrah pertamakali diketemukan kembali oleh FC Lons, merupakan seorang utusan dari VOC saat beliau mengunjungi keraton Mataram yang kemudian dikenal dengan nama keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kemudian pada tahun 1807, H.C Cornelius membuat sketsa gambar candi Bubrah. 

Pemugaran candi Bubrah terselesaikan pada tahun 2017, setelah 4 tahun lamanya dilaksanakan pemugaran. 


Trip Of Mine


Candi Bubrah adalah candi Buddha dan diperkirakan dibangun semasa dengan candi Sewu dan candi Lumbung.
Dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran pada abad ke VIII. 

Dikisahkan, atas usulan dari ayahandanya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran pemimpin dari dinasti Syailendra ini awal mulanya adalah seorang pemeluk agama Hindu kemudian berganti keyakinan menjadi seorang Buddhist.
Ia sangat taat dalam menjalankan ajaran agama Buddha dan banyak mendirikan candi - candi untuk pemujaan, termasuk mendirikan candi Sewu.

Namun sayangnya, sebelum bangunan - bangunan suci dengan tehnik arsitektur mengagumkan itu rampung pengerjaannya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran telah wafat.
Peresmian candi Bubrah dilanjutkan oleh penggantinya, Rakai Panaraban. 

Candi Bubrah dibangun sebagai simbolisasi pengabungan 2 konsep mandala, Vajradatu mandala dan Barbhadhatu mandala.
Dalam kepercayaan Hindu, kedua konsep mandala itu dikenal dengan Lingga dan Yoni, merupakan lambang penyatuan kesempurnaan alam semesta. 


Trip Of Mine
Arca Lingga Yoni yang tak lagi utuh bentuknya.
Kok, unik juga, ya ..., ada arca Lingga Yoni di candi Buddha.


Meski sekarang ini candi Bubrah telah berdiri utuh, cantik kembali seperti bentuk awalnya ..., tak lagi bubrah rusak berantakan ..., namanya tetap dipertahankan seperti saat penemuannya kembali, candi Bubrah. 

Sekeluarku dari area candi Bubrah, setelah mengelilingi dan memasuki bilik candi tunggal dan menghadap ke arah timur ini, kulihat lagi seorang petugas keamanan sedang berpatroli melintas mengendarai motornya di jalan beraspal di tengah taman berpohonan cukup rindang.

Trip Of Mine
Candi cantik yang tak lagi bubrah


Dasarnya orang Jawa tuh, ya ..., ramah - ramah, meski ngga saling mengenal sebelumnya, hampir sebagian besar dari mereka, pasti disempatkan melempar senyum disertai anggukan jika bertemu dengan siapapun.
Begitupun petugas berusia matang itu saat berpapasan denganku yang mulai tampak kucel kelelahan, menebarkan senyumnya sambil terus melanjutkan melajukan motornya, tanpa mampu dia membaca raut wajah kelelahanku dan tiada peduli dengan diriku.
*lol*

Rasanya saat itu juga, pengin kulambaikan tangan ngasi kode ke dia untuk diperbolehkan ikut nebeng mbonceng motornya, ya setidaknya sampai di batas pintu teralis besi berputar sana, tempat pintu keluar area candi taman wisata candi Prambanan yang letaknya masih cukup jauh juga ditempuh dari lokasi candi Bubrah begitu.
Tapi kubatalkan.

Tetiba, terlintas khayalan di pikiran, takutnya petugas keamanan itu nyeletuk,
"Heyyy ..., nebeng ?, ngga salah ... ?. Emang gue ..., t. o. p ..., tukang ojek pengkolan, getooooh ... ".
Wwwwkkkk 😂!. 


Lokasi :
Candi Bubrah
Dusun Kelurak, Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa - Tengah

Tiket :
Karena berada dalam satu kawasan wisata candi Prambanan, tiket masuk berikut tiket kunjungan untuk ke candi Bubrah.
• Wisatawan lokal, Dewasa 40K, Anak - anak 20K
• Wisatawan Mancanegara 350K
[Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah]

Jam Operasional :
06. 00 - 17. 00