Tuesday, January 22, 2019

Candi Pawon, Candi Ramping di Tengah Garis Imajiner

Candi Pawon merupakan candi Buddha. Memiliki tinggi 13, 3 meter dan berukuran ramping tak seperti pada umumnya candi - candi Buddha lainnya.
Terletak berada di posisi tengah garis imajiner antara candi Mendut dan candi Borobudur, candi Pawon dibangun pada abad ke 8.
Hanya berjarak sekitar 2 kilometer atau memerlukan waktu sekitar 5 menit kutempuh dengan kendaraan dari lokasi candi Mendut, lokasi candi Pawon berada di sebuah dusun dan dikelilingi rumah warga.


Trip Of Mine
Bilik candi Pawon

Mungkin dan bisa jadi untuk sebagian besar orang dengan menyebut kata dusun, akan segera terlintas di pikiran gambaran suasana sebuah perkampungan warga dengan tampilan sederhana dan letaknya berada dikitari pemandangan lebatnya pepohonan asri seperti pada umumnya di daerah pegunungan jauh terpencil dari perkotaan. Begitupun juga yang terpintas dipikiranku saat itu, kukira penataan area perkampungan dusun Brojonalan tempat lokasi candi Pawon ini berada masih terlihat tampil 'apa adanya' seperti tampilan banyak dusun - dusun lainnya di Indonesia, belum tersentuh proyek pembangunan dari pemerintah.

Trip Of Mine
Jalan dusun Brojonalan, tempat candi Pawon berada

Ternyata, sesampainya aku di dusun yang nama dusunnya menurut penelitian team arkeologi diambil dari bahasa Sansekerta, Vajranala yang memiliki arti 'Senjata yang memiliki api' ini lingkungan area dusunnya telah digarap dengan baik, terlihat telah cukup dipersiapkan untuk kunjungan wisatawan dari mancanegara. 
Asal usul nama desa Brajanalan dikaitkan dengan kata dari bahasa Sansekerta. Bajra dikembangkan dari kata Vajra = senjata. Nala diambil dari kata Anala = api. Jika digabungkan kedua kata Vajra dan Anala memiliki arti Senjata yang mengeluarkan api.
Akses jalan dusun dipaving blok rapi dibuat mengikuti kontur tanah yang sedikit menanjak dari arah kedatangan di pertigaan badan Jalan Syailendra Raya dan di sepanjang jalan kenangan dusun dihiasi tiang -tiang lampu berwarna tembaga berhiaskan ornamen kepala relief raksasa Kalamakara. 


Trip Of Mine
Ruang informasi


Trip Of Mine
Satu dari empat display batu berelief candi Pawon

Selain area dusun telah tertata rapi, sekitaran area candi Pawon dilengkapi 1 ruang informasi dilengkapi layar televisi menayangkan film tentang sejarah candi dan proses penelitian team arkeologi serta dilengkapi majalah dan brosur tentang candi juga display 4 potongan batu relief. 


Trip Of Mine
Art gallery

Terdapat pula kios art gallery hasil karya para seniman, kios - kios pedagang cinderamata dan kedai kopi dengan bangunan berkonsep Jawa traditional.


Trip Of Mine
Kedai kopi Pawon Luwak coffee.
Kebetulan saat aku kesana beragam jenis kopi terlihat sedang dijemur 

Ya, sebenarnya sih enak kedai kopinya bisa buat nongki - nongki asik gitu nyeruput ngopi sambil mandangin kamu, ... ,eh# keindahan candi Pawon dari kejauhan, tapi sayangnya pemandangan ke arah candi sedikit terhalang oleh salah satu bangunan kios pedagang souvenir dan pepohonan besar.
Seandainya saja, pemandangan ke arah candi Pawon dari kejauhan terlihat utuh tak terhalang oleh apapun didepannya, pasti duduk ngopi di kedai kopi saat  pagi hari atau sore hari, hmm ... , sepertinya akan tampak dramatis, ya. 
Warna orange sinar matahari pasti tambah bikin cantik pemandangan ke arah candi. 

Relief kepala Kalamakara tanpa rahang bawah diatas pintu candi menuju bilik dan guratan pahatan dibawahnya bertuliskan 1904, dua obyek yang pertama jadi perhatianku saat aku menaiki badan candi. 


Trip Of Mine
Candi Pawon tampak dari depan

Kalamakara merupakan sosok raksasa berkemampuan mengusir roh jahat dan guratan tahun 1904 menandakan selesainya proses pemugaran candi Pawon, setelah diketemukan kembali dalam kedaaan rusak di bagian atapnya dan tertutup oleh semak belukar pada tahun 1900an.

Di panel sisi depan sebelah kiri badan candi yang menghadap ke arah barat ini dihiasi relief sosok Kuwera dewa kekayaan. Sementara di panel sebelah kanan relief sudah tak terlihat utuh lagi. 
Demikian juga di bagian pangkal pipi tangga menuju selasar dan bilik, hanya menyisakan 1 relief kepala naga di sebelah kiri.

Di badan candi Pawon sebelah selatan dan utara terdapat relief yang sama antar keduanya, berupa relief sepasang makluk Kinara Kinari merupakan sosok lambang kebaikan dan kemakmuran berwujud memiliki kepala manusia bertubuh burung sedang mengapit pundi - pundi dan pohon suci Kalpataru ditanam dalam sebuah jambangan berukuran besar dan terlihat relief 2 dewa dewi terbang berada di atas langit.


Trip Of Mine
Relief Kinara Kinari mengapit pohon Kalpataru dan dua dewa dewi terbang di atas langit

Uniknya, bangunan candi Buddha bercorak perpaduan antara corak Hindu dan Buddha yang dibangun pada 834 Masehi ini dilengkapi ventilasi udara berupa celah kotak disetiap sisinya. Diantara kedua celah ventilasi di bagian luar badan candi terdapat relief Kumuda. 
Adanya ventilasi di badan candi jadi satu pembeda tersendiri dengan candi - candi lainnya dan jadi misterius tersendiri tentang apa sebenarnya kegunaan ventilasi tersebut.

Berdasarkan arti bahasa Jawa, pawon adalah dapur atau sarana untuk memasak. Namun pendapat J.G de Casparis seorang ahli epigrafi dan team arkeologi berasal dari negara Belanda berkesimpulan jika kata pawon di candi ini berasal dari kata awu atau pengawuan, yang artinya tempat penyimpanan abu jenasah.

Menurut prasasti Karang Tengah 834 Masehi bertuliskan bahasa Sansekerta juga  disebutkan bahwa candi Pawon merupakan bangunan yang didirikan untuk menyimpan senjata dan abu jenasah raja Indra, raja pertama yang memimpin dinasti Syailendra dan merupakan ayah dari raja Samaratungga. 
Dan dalam prasasti Karang Tengah juga disebutkan, candi ini mengeluarkan sinar atau cahaya.
Para ahli arkeolog berkesimpulan jika dahulu kala didalam bilik candi Pawon terdapat arca terbuat dari perunggu yang mengeluarkan cahaya saat terpantul sinar.


Trip Of Mine
Ruangan bilik candi Pawon

Sayangnya, sekarang ini bilik candi dalam keadan kosong, hanya menyisakan 2 relung berhiaskan kepala Kalamakara dan ornamen disekelilingnya. 

Arca yang diduga mengeluarkan sinar itu tak lagi diketahui keberadaannya.
Bagian atas candi yang dahulu saat diketemukan kembali telah mengalami kerusakan diganti dengan menggunakan material serupa, batu andesit yang berasal dari aliran Kali Elo.


Trip Of Mine
Unik, badan candi dilengkapi ventilasi

Dilihat dari kesamaan bentuk ukiran relief indah, candi Pawon memiliki kaitan erat dengan candi Mendut dan candi Borobudur.
Diduga dahulu kala, candi Pawon digunakan setelah prosesi penyucian diri dari candi Mendut, kemudian dari candi Pawon prosesi spiritual dilanjutkan ke candi Borobudur.
Rute prosesi dari candi Mendut ke candi Pawon, para ahli menduga bahwa nenek moyang kita pada jamannya dahulu telah berkemampuan membuat jembatan penghubung untuk melintasi 2 kali besar, Kali Elo dan Kali Progo.

Jalan dusun Brojonalan tempat lokasi candi Pawon ini berada, dapat diakses melalui 2 jalur berlawanan arah dengan melewati jalan utama dusun dan masing - masing menembus ke pertigaan Jalan Syailendra Raya dan satunya menembus ke Jalan Balaputeradewa. 
Sebenarnya, sebelum aku berlibur ke candi Pawon ini aku sudah beberapakali melewati kedua jalan yang selalu ramai dilalui oleh kendaraan itu, tapi karena tidak adanya papan nama petunjuk lokasi candi Pawon ditepi jalan membuat aku tidak mengetahui secara pasti dimana tepatnya lokasi candi Pawon ini berada. 


Trip Of Mine
Pertigaan jalan Syailendra Raya.
Belokan paling kiri menuju ke dusun Brojonalan

Selama itu pula aku hanya mengenal informasi lokasi candinya terletak berada di desa Wanurejo, sedangkan desa Wanurejo memiliki wilayah cukup luas terdiri dari 9 dusun. 
Dan kuingat - ingat memang sepertinya aku pernah berlibur di hotel Pondok Tingal yang berlokasi di Jalan Balaputeradewa.

Baca juga : https://www.tripofmine.com/2018/11/museum-sasono-guno-roso-koleksi-wayang-mancanegara-dan-lokal.html

Saat perjalanan pulangku dari lokasi candi Pawon, aku sengaja memilih tak kembali melewati arah rute kedatangan dari Jalan Syailendra Raya, tapi mencoba berbelok ke arah kiri dari pelataran halaman candi menuju ke arah berlawanan.


Trip Of Mine
Pelataran halaman candi Pawon dikelilingi rumah warga dan deretan kios souvenir

Dan ternyata, benar saja ... , rute itu tembusnya tak jauh dari lokasi hotel Pondok Tingal di Jalan Balaputeradewa. 
Cukup dengan menyeberang jalan dan berjalan kakipun juga sampai tujuan.

Owalaaaaah cyiiiiiiiin ... , ha ha ha ..., tau gitu kan dulu sekalian saja mampir liburan ke candi Pawon setelah dari museum wayang.
Kan udah deket banget jaraknya !.
Hmm ..., kenapa juga ngga bertanya ke google maps :) ?.

Lokasi :
Candi Pawon
Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kabupaten Magelang

Tiket :
Rp. 3. 500 ,_
▪ Harga tiket termasuk untuk kunjungan ke candi Mendut 
▪ Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah.

200 comments:

  1. Indonesia itu kaya banget yaaa.. Saya ke candi pawon belum pernah nih, paling dulu ke prambanan aja pas masih kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuul banget ..., Indonesia itu kaya banget peninggalan sejarah, budaya dan lokasi wisata.
      Seabrek dan rasanya ngga bakal ada habis2nya dikunjungi :)

      O iya kak baru kesampaian ke candi Prambanan saja ya ?.
      Next, kudu disempetin liburan ke candi-candi ya kak Inka :)

      Delete
    2. Candi pawon yang mirip candi dapur itu ya...?

      Delete
    3. Bukaaaan ...,
      hahaha :D

      Dapur kok secantik ini bentuknya, eh# tapi siapa tau yaa ruangan dapur rumahnya mas Asnaji dibentuk seperti candi dibuat penih ukiran indah didalamnya hehehe :)

      Delete
  2. Candi Pawonnn
    ini salah satu candi perpindahan dari Hindu ke Buddha,
    Apakah ditemukan Lingga dan Yoni Mas di Candi Pawon?
    Zaman dulu sudah bisa membuat sebuah peradaban yang sangat istimewa sekali, batuan andesit dari Kali Elo pun dimanfaatkan untuk struktur Candi, Aku ga pernah habisnya takjub sama nenek moyang kita pada zamannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mas Aldi.
      Menurut penelitian berdasarkan bentuk candi yang ramping, candi Pawon didirikan pada pergantian atau perpindahan dari Hindu ke Buddha yang terjadi di tanah Jawa , disebutnya Masa Klasik.
      Tapi dilihat dari kesamaan relief dengan candi Mendut dan candi Borobudur, candi Pawon jelas corak candi Buddha.
      Karena candi Buddha, tidak ada relief lingga dan yoni, mas.

      Sependapat dengan mas Aldhi, aku juga kagum dan terasa heran tiap kali liburan ke candi.
      Selalu kepikiran bagaimana jaman dulu cara mereka membuat potongan demi potongan batu, disusun dan dibentuk relief sedemikian rupa.
      Detil banget pengerjaannya dan hasilnya simetris sempurna ...

      Delete
    2. Oh bener brrti mas, soalnya dipakai ritual utk agama buddha ya pd zamannya.
      Dan lingga yoni hny ditemukan d candi peninggalan zaman Hindu.
      Yg aku tekjub, teknik kuncian batu itu sudah terpikirkan sejak dulu, ga pakai semen tapi kuat banget. Kl di jaman skg kan harus hitung2an fisikanya.
      Salah satu keunikan lg mas, yg saya lihat candi itu pasti berada d sekitar kali dan di titik tinggi alias bukit. Sepertinya ada filosofinya..
      Aku seneng kl mas himawan bahas ttg sejarah hehehe...

      Delete
    3. Pendapat mas Aldhy tentang ada itung2an fisika untuk mendirikan suatu bangunan di jaman sekarang .., persiiis dengan apa yang pernah kudengar dari pendapat dari salah satu pengelola wisata yang kuajak ngobrol.
      Katanya gini :
      'Lebih pinter mana hayooo, orang jaman dulu apa jaman sekarang ?. Jaman dulu itu belum dikenal istilah fisika, tapi nyatanya sanggup mendirikan bangunan sempurna seperti itu'.
      Aku ditanya begitu, langsung kujawab kecerdasan nenek moyang kita dulu jauh lebih cerdas daripada sekarang.
      Hehehe ...

      Tentang keberadaan lokasi candi di lokasi tinggi pegunungan dan di dekat sumber air seperti kali atau danau, biasanya itu ciri khas candi Hindu, mas.
      Tapi juga tak jarang candi Buddha juga dipilih lokasinya berada di kedua unsur itu.
      Candi Borobudur contohnya.

      Pada jaman dulu, candi Borobudur berada di atas sebuah pulau, dikelilingi air.
      Tapi bukan terletak di suatu ketinggian gunung, melainkan dikelilingi pegunungan, jadi berada di bawah.
      Dan dilihat dari perbukitan2 sekitarnya, candi Borobudur terlihat seolah seperti teratai mengapung dipermukaan air ....
      Itu wooouw banget kan arsiteknya, luar biasa hebat !.

      Eh, menurut pendapat mas Aldhy seperti apa sih kalo aku bahas tentang sejarah ?.
      Aku boleh tau kan alasannya apa, untuk bahan masukan, mas.
      Terimakasih sebelumnya.

      Delete
    4. Iya memang nenek moyang kita itu lebih cerfas, terbukti dulu majapahit hampir menguasai asia tenggara. Dan ngebayangin dl pasti ekspansinya menggunakan perahu layar dan cadik. Aku jd berimajinasi dan bikin penasaran. Dulu ngitung arah kompasnya gmn hehe.
      .
      Borobudur sih memang katanya diibaratkan teratai di tengah danau.
      Oh iya mas, sudah tau info tentang relief candi borobudur palig bawah?yg katanya sekarang tidak dimunculkan ke permukaan, karena reliefnya mengandung tentang kesengsaraan dan sisi gelap jaman dl kala. Nah itu aq blm dapat fakta sejarah yg pasti tentang itu.
      Hebatnya lagi borobudur yg besar gitu sisi2nya simetris banget. Amazing banget kan mas
      .
      Mas Himawan pembawaan tulusannya udah cukup bikin penasaran mas, dan pasti menimbulkan topik lain yg seru klo dibahas.
      Lanjutkan mas hehe aku siap jd pembaca setia.
      .

      Delete
    5. Terimakasih buat opininya, mas Aldhy. Opini mas Aldhy buat masukanku untuk menulis yang lebih baik lagi.

      Betul, cara menentukan kompas ke arah pendirian tiap sisi candi bisa sangat tepat dan terlihat sangat simetris juga jadi salah satu kekaguman tersendiri.
      Mungkin saat pembuatannya dulu dengan cara mengikuti pergerakan arah terbitnya matahari sampai tenggelam ya ?.

      Oh, aku pernah lihat secara langsung relief di candi Borobudur yang mas Aldhy maksudkan itu.
      Kalau ngga salah namanya relief Kamawibhangga Sutra.
      Area relief itu sebagian sudah dibuka untuk umum, sebagian lagi tertutup.
      Atau mungkin sekarang malah ditutup semua area relief terbawah itu,ya mas ?.
      Mas Aldhy terakhir kapan ke candi Borobudur ?.
      Kalo aku kira2 setahun lalu.
      Jadi penasaran pengin ke candi Borobudur lagi :)

      Delete
    6. Mas Himawan mas sudah begitu baik menyampaikan informasinya mas, aku yg harus banyak belajar sama mas Himawan hehe

      Nah itu mungkin sepertinya kl menurutku nentuin arah mata angin daei rasi bintang, tp kl dibayangkan aja jaman skg kl blm ada kompas, sulit jg nentuin arah oakai rasi bintang.haha
      .
      Aku malah baru tau mas namanya relief Kamawibhangga Sutra, apakah itu kasta terendah atau gmn mas? Setauku reliefnya bersusun menurut kasta ya.
      Tapi aku pernah baca memang sengaja terkubur, karena ceritanya mungkin agak saru.tp gatau jg hehe
      .
      Aku terakhir 5bulan lalu mas. Itu background webku lokasinya d borobudur hehe.
      .
      Mas udah pernah baca sejarah tentang Candi Kimpulan?

      Delete
    7. Oh, gaya tulisan mas Aldhi juga sudah bagus kok, udah mulai terlihat feelnya.
      Yok mas kita sama-sama terus belajar untuk kepenulisan yang lebih baik agar alur tulisan lebih enak dibaca.
      Saling dukung juga.

      Misterius ya kalau bicarain cara mengukur titik koordinat saat proses pembangunan candi Borobudur dan selalu jadi bahasan sangat menarik.

      Menurutku relief Kamawhibangga Sutra itu bukan tingkatan kasta, mas.
      Dalam agama Buddha dan Hindu yang disebut kasta terendah itu rakyat jelata.
      Nah kalau di relief Kamawhibangga Sutra yang letaknya seolah sengaja ditempatkan tersembunyi di kaki candi itu adalah gambaran tentang tingkah laku negatif manusia yang kelak menanggung karma.

      Iya, kuperhatikan foto latar belakang akun G+nya mas Aldhi lokasinya berada di candi Borobudur dengan gaya berfoto kekinian hehehe

      Candi Kimpulan ?, dimana itu lokasinya, mas ?.
      Aku baru dengar sekarang nama candi itu.

      Delete
    8. Masih belajar mas aku, hehe
      Memang agak sulit untuk menempatkan sudut pandang penulisa dan akur yg teratur.. iya mas bimbing aku buat belajar menulis hehe.
      .
      Sangat misterius mas, apalagi kl dikaitkan dengan blackhole bisa sampe pagi kita ngborlin itu wkwk.

      Oh ternyata kasta terendah yg diceritakan d dasar borobudur itu tentang perilaku negatif manusia ya. Aku baru tau mas jd wawasan baru deh.
      Karena kesimpang siuran itu perlu diluruskan dgn cata diskusi seperti ini malah lebih baik mas hehe
      .
      .
      Kl candi kimpulan itu, candi yg ditemuin para pekerja bangunan di daerah kampus UII mas. Disitu ditemuin arca ganesha, lingga yoni dan serpihan eman. Uniknya trdpt tempat umpag, diperkirakan struktur dulu kala pakai kayu jg. Tp karena kayu kemakan usia jd ga kliatan peninggalannya . Itu sih yg aku tau ttg Candi Kimpulan. CMIWW :)

      Delete
    9. Uhuk ... batuk tiba2 aku jadinya gegara baca komentar mas Aldy minta diajarin menulis.
      Jangan merendah gitu napaaa, mas :) ..., lagipula aku bukan master atuh hehehe

      UII itu didaerah mana ya, mas ?.
      Dan apa itu arti CMIWW ?.

      Delete
    10. Beneran mas kl ini hehe.
      CMIIW itu mas typo. Maksudnya correct me if i'm wrong hehe
      .
      UII itu univ Islam Indonesia mas d jalan kaliurg km14 sleman.
      Itu UII nyediain space dan akhirnya desain bangunan diubah total setelah dtmukan candi.

      Delete
    11. Ohh, artinya CMIIW tuh itu .. ?
      Wuahahahaha ...
      Aku baru tau istilah itu.
      Aku jadi merasa malu karena kudet.


      Loh ternyata candi Kimpulan itu adanya di Sleman ...
      Mas Aldhi sudah pernah kesana ya ?. Gimana lokasinya, keren juga ya ?

      Delete
    12. Sudah pernah mas kesana, cuma lewat aja tp. Dan terlihat jelas candinya.
      Oia disana ada struktur tanahnya ditampilkan. Jadi lapisan tamah pas diketemukan kemudian dibatasi kaca.
      Jadi kita bs liat beberapa endapan dr jaman ke jaman dr atas tanah sampai ke candinya.
      Aku jg pgn ngulas itu. Tp blm ad kesemptn kesana haha

      Delete
    13. Wuaah .., kok unik banget itu, mas.
      Endapan lapisan tanah saat candi diketemukan dilapisi tanah, jadi kita bisa lihat seberapa dalam candi pernah terkubur ...
      Baru kali ini ada lokasi penemuan candi dibuat seperti itu.

      Jadi pengin kesana :)

      Segera saja kesana, mas Aldhi ...

      Delete
    14. Iya mas itu unik bgt menurutku. Besok deh aq kudu cr waktu libur.. nasib kuli, haha mau ngulas aja nggu libur :D

      Delete
    15. Eh, maaf maksudku komentarku diatas 'endapan lapisan tanah dibatasi dengan kaca. Bukan dengan tanah'
      Hahaha .., maklum kemarin rada sibuk kerjaan :D

      Tetap semangat, mas.
      Semoga kelak bisa punya jadi fulltime blogger :)

      Delete
    16. Iya kaca haha..typo y mas.
      Tapi itu ada ilmu jdnya.dahsyatnya lahar dingin merapi kliatan teksturnya.
      Aminnn haha semiga bisa libur terus
      Everyday is holiday

      Delete
    17. Langsung kebayang tekstur lapisan tanahnya ..., antara kagum juga serem.

      Amiiin semoga kelak terwujudkan :)

      Delete
    18. Alhamdulillah, Mas Aldhi akhirnya bisa ngobrol soal candi di sini. Saya memang trekomendasikan Mas Hino agar bisa dikenal Mas aldhi. Tak nyangka malah diskusiseru soal candi mendalam banget. Itu yang saya suka.
      Ya, benar, generasi muda sekarang harus mengenal sekarah agar tak lupa akar. Bahwa bangsa kita pernah besar dan membangun peradaban mengagumkan lewat candi. Pun strukturt bangunannya, membuat saya takjub. Bagaimana cara memotongnya?
      Ilmu pahat mereka juga apakah dipelajari lewat keterampilan olah seni yang ada sekolahnya atau todidak? Ukirannya saja belum tentu orang zaman sekarang bisa dan setelaten itu.
      Filofofi candi pun memaparkan pelajaran hidup bukan sekadar bangunan semata. Sayang memang tak ada peninggalan bagaimana sejarah pembuatan candi serta seluk-beluk perencanaannya.

      Delete
    19. Terimakasih banyak ya kak Rohyati, berkat kak Rohyati aku bisa berkenalan dengan mas Aldhi yang kulihat punya ketertarikan besar tentang wisata sejarah candi.
      Aku masih ingat perkenalanku dengan mas Aldhi di salah satu artikelnya tentang candi, disana kak Rohyati memperkenalkan namaku di komentar hehehe ... , kaget juga malu karena aku masih terus belajar, kak :)

      Betul, sependapat kak kalau generasi sekarang wajib diperkenalkan dan digencarkan untuk tertarik berwisata ke bangunan candi.
      Wisatawan asing saja sangat tertarik datang liburan ke candi, sayangnya jumlah turis lokal masih terbilang minim, terkecuali ke candi besar seperti candi Borobudur dan candi Prambanan.

      Sama seperti pendapat kak Rohyati, aku juga heran dengan cara proses pembuatan candi pada masanya dulu ..., tehnologi apa yang mereka pergunakan sampai mampu membentuk potongan demi potongan sama presisi, ukiran relief juga sangat detil.

      Delete
    20. @Mbak Rohyati

      Iya nbka makasih udah meperkenalkanku dengan mas HImawan, soanya aku seneng aja ngebahas tentang beberapa peninggalan peradaban masa lampau, sepertinya menarik untuk dibahas.
      tentang ukiran di candi, nah itu dia mbak jaman dulu karya seninya nenek moyang sudah luar biasa menurutku. Seni dan filosofi dipadukan mejadi satu dalam sebuah relief yang menggambarkan cerita pada zamannya..

      @ Mas Himawan
      Hehe kita jadi ada silaturahmi ya mas klo udah ngbrol tentang candi.
      Bener mas, generasi muda saat ini harus tahu betapa susahnya jaman dulu membuat sebuah bangunan megah yang begitu luar biasa. dengan peralatan seadanya dan bahan bangunan juga dari sekitaran.
      selain wawasan dan ilmu baru, sepertinya juga bakal membuka pikiran kita untuk lebih bisa berkarya yg baik di jaman yang serba canggih ini.
      mas himawan ditunggu nih ulasan tntang sejarah lainnya agar diskusi lebih menarik heheh

      Delete
    21. Iya nih karena candi jadi ada silaturahmi hehehe ..., semoga saja silaturahmi kegiatan bw juga berlanjut di post lainnya yang bukan tentang candi :)

      Baik, mas Aldhi terimakasih supportnya untuk mengulas candi berikutnya.
      Sebenarnya udah sih ke candi lain lagi tapi belum kugarap ;)
      Ayok mas Aldhi juga mengulas candi lagi ..

      Delete
    22. berkat candi aku jadi tambah wawasan dari blognya mas Himawan hehe
      diskusi ringan yang bikin aku seru kl berkunjung ke blognya mas HImawan :)
      klo aku sih pernah mas ke Candi Sewu sama PLaosan
      tapi foto dokumentasi ilang kwkw
      di laptop yg dibobol maling
      nasi sih hahaha

      Delete
  3. Ini nih sudah diperhatikan banget ya sebagai objek wisata. Untuk fasilitas dan aksesnya jg tidak terlalu sulit. Nggk sembarang dusun jadinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, dusunnya sudah digarap rapi dan memang dipersiapkan untuk kunjungan wisatawan.
      Bagus juga ya, karena akan membawa image baik tentang Indonesia di mata turis mancanegara.

      Delete
  4. Saya kira juga pawon artinya dapur soalnya kalau di tempat saya nyebut dapur itu pawon, ternyata awu ya...

    Saya jadi ngebayangin kehidupan zaman kerajaan dulu, kira-kira kayak gimana ya, kayakny asyik bisa liburan ke masa lalu.
    Wkwk....😂
    Panggil doraemon dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jawa memang betul istilah pawon adalah dapur.
      Tapi untuk di candi ini diduga oleh para team arkeolog dan tertulis di prasasti Karang Tengah , nama pawon diambil dari kata perawuan atau abu jenasah.

      Xixixii ...
      Ajakin aku juga yaaa bareng doraemon menjelajahi kehidupan masa lalu ;)
      Kayaknya bakalan seru ya, kak ..., bisa lihat rentetan kehidupan sebelum kita brojol, eh# lahir

      Delete
    2. aku juga pengen ikut kembali ke masa lalu :D

      Delete
    3. Ayoook kita bertiga barengan menjelajah masa silam ..., panggil doraemon segeraaa :D

      Delete
    4. heeem iya toh yang ngira pawon itu sama dengan dapur bukan saya doang kan ....makanya jangan main main sama pawonya perempuan, ntar bisa kuwalat...

      pawon apaan yang di maksud coba...?

      Delete
    5. Wwwkkkwkk ..
      Coba aku ntar semedi dulu buat nyari jawaban yang mas Asnaji maksudkan itu apa :D

      Delete
    6. Apa mungkin candi ini dulunya adalah dapur pas masa kerajaan ya? Hhe pawon kan artinya dapur

      Delete
    7. Sanes kok, mas Eko :)
      Khusus candi ini pawon artinya dari kata perawuan.

      Delete
  5. Indonesia itu kaya banget akan candi-candi gini ya, tersebar di mana-mana.
    Pengen banget deh bisa mengunjungi satu persatu karena setiap candi itu punya keindahan tersendirinya.

    Dan baca ini saya jadi baper, rencana ke Jateng tertunda lagi gegara anak mau ujian, huwaaaa...

    Rempong dehhh..
    Mau jalan2 pas liburan kok ya ramai banget, pas gak liburan sulit cari waktunya.

    Padahal pengen explore jateng di wilayah sekitar candi Borobudur ini loh.
    Saya sampai catat beberapa destinasi yang saya baca di blog ini, buat itinerary ke sana.

    Duh sayang banget ketunda lagi huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disabarin ya keinginan kak Reyne mengeksplore wisata sekitaran candi Borobudur hehehe ..., ntar pasti punya waktu yang tepat :)

      Terimakasih ya kak udah mencatat alamat lokasi wisata yang udah kudatangi.
      Senang rasanya bisa berbagi informasi.

      Delete
  6. Walah, ke Magelang cuma sempet ke Borobudur, ternyata masih ada candi lain, yaitu Candi Pawon. Next trip, mudah-mudahan bisa ke Candi Pawon. Uwooo.. tiketnya.. muraaah sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuups, aku ikut doain kak Eri kesampaian liburan ke candi Pawon.
      Terjangkau banget kan tiketnya ..., cukup membayar 3k untuk ke 2 lokasi candi.

      Sebelumnya, saat aku liburan ke candi Mendut tiketnya masih 3K untuk ke 1 candi saja.
      Sekarang 3K untuk ke candi Mendut dan candi Pawon.

      Delete
    2. ayo mbak borong tiketnya, mumpung masih murah, siapa tau ntar jadi mahal, lagi hehehe

      Delete
    3. Tuh kak Eri ..., diajak mas Sudibjo ngeborong tiket buat dibagiin satu kampung diajak barengan liburan ke 2 lokasi candi hahaha .. :D

      Delete
  7. Apapun ada jodohnya, ada waktunya ya mas...
    waktu dari museum wayang gak langsung mampir kesini, ya mungkin belum jodohnya, perlu dicomblangin mungkin *ehapasih.

    Wah? Gak salah itu harga tiketnya? Woow ekonomis sekali ya, ngajak keluarga besar singgah di sini juga masih bisa lah ini mah ditalangin hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhaa ...., soalnya makcomblang lagi sibuk bikin nasi goreng di dapur sih, maas ..
      Jadi ngga sempet nyomblangin aku :D

      Iya, mas ngajak 20 orang anggota keluarga tiketnya ngga nyampe 100K. Itu juga buat ke 2 lokasi candi.
      Ngga sampai nguras dompet hehehe

      Delete
  8. walaupun binaannya kecil tapi tetap jadi sebahagian barangan bersejarah... dulu kawasan ni didiami penduduk beragama Hindu atau Buddha, mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kawasannya dahulu kala dihuni penduduk pemeluk agama Buddha, kak Anies.
      Candi Pawon sampai sekarang ini kerap digunakan untuk acara peribadatan.
      Selain itu juga pada acara tertentu diadakan pertunjukan pagelaran seni tari Kinara Kinari.

      Delete
  9. Candi genre budha ya ini. Reliefnya apik, tiket masuknya pun murah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayoo waktu kemarin mas Adi dan keluarga liburan ke candi Borobudur ...., ngga sekalian liburan ke candi Pawon, kan ?.
      Hehehe

      Delete
  10. tempat yg bersejarah. semoga tetap terwat agar kelak generasi setelah kita bisa tahu ttg sejarah di masa lampau ya, mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, mas Beny.
      Harapanku juga begitu, generasi milenial dan generasi-generasi dibawah kita mengenal baik tentang sejarah nenek moyang kita dan punya minat besar berlibur ke candi.
      Ngga cuma memilih berlibur di lokasi wisata kekinian.

      Delete
  11. Candi Pawon ini sangat indah yaa.. tempat bersejarah yang pastinya mempunyai kenangan di masa lampau.. pengen ak kesana kak,, ke candi borobudur aja belum pernah huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, kak Vika belum berkesempatan melihat langsung candi Borobudur ?.
      Sabar kak, ntar kalo si kecil udah mulai bisa jalan baru diajak kesana.
      Kalo sekarang masih balita, kak Vika bakalan gempor gendong si kecil untuk naik ke bagian candi teratasnya :D
      Tinggi banget candinya,kak.

      Delete
    2. ayo kesana kapan ? nanti bareng sama saya

      Delete
    3. hahahha gempor bin pegal ya kak himawant.. ayolah sama kang asnaji kita bareng2 kalau bisa anak saya tak gendong kemana2 sma kak himawant dan kang asnaji yaa, biar saya bisa futu2 selfie kece ckckkckc

      Delete
    4. Wwwwkkk ..., baeklaaah .... aku mau kok disuruh jadi babysitter buat gendong anaknya kak Vika, sementara kak Vika sibuk berselfie ria di pelataran candi :D

      Ntar kalo aku juga ikutan selfie, biar mas Asnaji yang jagain tas perbekalan bawaan kita.
      Biar duduk manis anteng saja hahaha ..

      Delete
  12. sendirian jalan jalan di tempat candi begitu suka ngeri , bagusnya ditemenin atau rame rame , takut ada culik ghaib wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wwwkkkwkk .. enggaaa kok, kak.
      Liburan sendirian ke candi aman-aman saja tuh.

      Malah aku pernah seorang diri blusukan ke candi terpencil jauh ditengah persawahan dekat hutan ..., nglewatin pematang sawah yang licin dan saat itu tak ada seorangpun di area seluas itu.

      Delete
  13. Etapi yang bikin aku penasaran, narasi sejarah yang Mas tulis itu hasil wawancara dengan pengelola Candi atau baca sih? Soalnya lengkip banget, bikin aku pingin ke sana gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti biasanya sebelum aku membuat tulisan tentang candi dan bangunan bersejarah, di lokasi aku selalu mengumpulkan informasi selengkap mungkin, mas Broh.
      Takut ada kesalahan atau kekurangan info kalau digarap asal-asalan.

      Kadang infonya hasil dari bertanya dengan penduduk,petugas lokasi atau juga dari keterangan yang dicantumkan di suatu lokasi, mas.
      Setelahnya bahan informasi yang kudapatkan kukembangkan dalam tulisan artikel.

      Malah aku pernah saking takutnya salah atau kurang lengkap nulis keterangan nama bangunan dan fungsinya, aku sampai bolak balik 3 kali ke keraton untuk mencocokkan ulang.

      Ayook kapan ada waktu liburan, datang ke candi Pawon, mas Broh.

      Delete
  14. Selain candi Borobudur dan candi Mendut ternyata masih ada candi Pawon ya peninggala zamann agama Buddha. Aku baru tahu di pelajaran sejarah ada nggak ya candi Pawon? Lupa aku hehehe.. Dari keteranangan candi Pawon ini tampaknya bangunannya lebih kecil ya di bandingkan candi Borobudur dan Mendut. Di mana candi Pawon fungsinya untuk menyimpan senjata dan abu jenazah raja Syailendra yang pertama.
    Kalau begitu candi Pawon ini dibangun pada zaman raja siapa? raja Samaratungga ya?
    Btw ruangan informasinya nyaman juga ya buat baca-baca info tentang candi.

    Ooh jadi awalnya brader agak bingung ya dengan rute lokasi candi Pawon karena info alamatnya kurang jelas.
    Akhirnya nggak ngambil jalan pas kedatangan ya? ambil rute yang jalan berbeda dan jalan tembus dan akhirnya ketemu dech lokasi candi Pawon. Ternyata nggak jauh dari lokasi hotel yang memiliki galeri wayang kemarun itu ya? hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba buka dulu topengmu ...
      Buka dulu topengmu ...
      eh# salah ...
      Kok malah nyanyi lagunya Peterpan ?, hahahaha :D.
      Coba buka dulu buku pelajaran sejarah masa sekolah, sista ..., pasti ada candi Pawon dalam mata pelajaran sejarah hehehe

      Betul banget, diantara ketiga candi di garis imajiner candi inilah yang terkecil ukurannya dan dibangun oleh raja Samaratungga.
      Selasar candinyapun berbeda dengan candi Mendut dan candi Borobudur, ngga ada dinding pembatasnya.
      Selasarnya bisa dikelilingi dan untuk motret panel relief candi harus hati2 mengatur pijakan brrdiri ke posisi yang tepat, kalau ngga bisa terjungkal ke bawah.

      Iya, ternyata ... lokasinya sangat dekat banget dengan museum wayang Guno Roso hehehe.
      Tinggal nyebrang jalan kaki saja dari hotel dan museum wayang itu sudah nyampe.
      Tau gitu kan dulu sekalian saja datang ke candi Pawon :D

      Delete
    2. Wah kok ada nyanyian nya lagunya Ariel? Wkwkwkwk.. :)
      Pasti ada ya candi Pawon dalam buku sejarah SD dulu. Lupa.. Lupa.. Lupa syairnya.. (nyanyi lagi dech)
      Ntar aku coba lihat buku sejarah ponakank. Tapi sekarang anak SD itu bukunya pelajaran sejarahnya beda ya sama kita dulu? Kalau aku nanya katanya kelas 3 belum dapat pelajaran sejarah, baru kelas 5 dapat pelajaran sejarahnya. Kok telat banget ya? Kadang aku nanya tentang asal pahlawan nasional dari setiap daerah mereka kurang hafal.
      Lah mereka tahunya super hero doang?

      Jadi candi Pawon dibangun oleh raja Samaratungga ya?
      Selain itu candi Pawon dipakai untuk proses penyucian yang tahap nya dari candi Mendut-Pawon-Borobudur.
      Wuih.. Waktu motret relief candi harus hati-hati ya karena ngga ada dinding pembatasnya.

      Tiket masukknya murmer hehehe.

      Ooh ngerti begitu dulu saat ke museum Wayang Guno Roso bisa mampir sekalian ke candi Pawon ya? Namung cedak mawon lokasine pun? Wkwkwk bener nggak bahasa kromoku brader?

      Delete
    3. Wuelah dalaaah dinyanyiin lagu peterpan kok malah nyambung ke lagu kuburan band ..., lupa .. lupa .. lupa syairnya ...
      Hahahaha :D

      Sayang ya anak-anak sekarang kok kurang mengenal baik tentang sejarah dan nama-nama tokoh-tokoh dibaliknya.
      Superhero komik dan film lebih populer bagi mereka.
      Ini yang harus diubah, sejarah lebih gencar diperkenalkan sejak anak berusia dini agar sejarah tak hilang begitu saja.
      Karena salah satu alasan itulah aku ikut gencar mengulas tentang candi agar lebih dikenal publik dan generasi muda juga tertarik datang liburan ke candi.
      Semoga nantinya aku juga dapat mrngeksplore ke candi2 lainnya dan mengulasnya.

      Hihihi ..
      Rada-rada salah pengucapan bahasa Jawa kromonya :)
      Yang betul begini :
      ' Oh meniko sampun mboten tebih lokasinipun saking museum ? '

      Kayaknya aku pinter ya bicara bahasa Jawa kromo hehehe ..., tapiii ..., jangan harap aku bisa cas cis cus diajak ngobrol percakapan panjang dalam bahasa Jawa kromo. Yang ada belepotan jawabnya, gelagapan ... hahaha

      Delete
    4. Lho yang penting itu nembang.. Eh nyanyi.. meski yang satunya nyanyi ini yang satunya nyanyi itu, pada adu nembang bukannya nyambung, malah tabrakan lagunya..wis Jadi lupa.. lupa.. syairnya.. Wkwkwkwk..
      Ayo kuat-kuatan siapa yang nyanyinya paling lama? Wkwkwkwkwk.. :D

      Iya sayang sekali kalau anak anak sekolah jaman sekarang kurang mengenal sejarah asal usul bangsa kita. Mereka kurang mendalami pelajaran sejarah srhingga pengetahuan sejarah mereka pun berlurang. Malah mereka lebih tertarik dengan tokoh-tokoh pahlawan kekinian yang dikenal sebagai Superhero.
      Iya harus dirubah bagaimana cara mengenalkan sejarah agar menarik untuk dipelajari oleh anak-anak sekolah.

      Iya secara nggak langsung brader juga ikut berpartisipasi dalam mengenalkan sejarah melalui artikel travelling ke tempat wisata bersejarah salah satunya wisata ke candi seperti ini.
      Siapa tahu dengan mengulas artikel wisata sejarah begini adalah cara laim agar lebih menarik bagi siswa sekolah untuk mengenal warisan budaya bangsa kita.
      Siapa tahu juga kelak brader bisa jadi duta pariwisata bersejarah. Wah asyik tuch? Hehehe..

      Ooh Ternyata bahasa kromo ku salah besar ya? bahasa ku nggak halus ya? Wkwkwkwk maaf maklum nggak begutu bisa.

      Wah, meski brader kalau berhadapan lawan bicara nggak bisa cas cis cus kromo tapi menurutku brader sudah termasuk fasih dan pintar menggunakan bahasa kromo inggil.
      Mboten menopo-menopo sing penting kudu pede nggih,? :)

      Delete
    5. Eh, adu nembang atau nyanyi dengan lagu berbeda itu sulit loh. Kuping dan konsentrasi kita kudu maksimal, kalo ngga ..., malah jadi ikutan nyanyiin lagu yang dibawain kontestan lain hahaha :D

      Sependapat,sista anak-anak generasi milenial agar lebih mengenal dengan mudah juga menyukai tentang sejarah candi pengajaran ilmunya perlu disampaikan dengan cara lebih menarik secara visual dengan memanfaatkan tekhnologi digital.

      Semoga kelak perfilman Hollywood sebagai pusat perfilman dunia itu tergerak membuat film tentang sejarah candi, misalnya candi Borobudur.
      Kalau hal itu benar terlaksana, sangat mungkin generasi muda langsung mengenal dengan baik sejarah dan tokoh pendiri candi.

      Aku sih belum fasih maksimal gunain bahasa Jawa kromo, sista.
      Ya kadang kalo udah mentok ngga ngerti akan ngomong apa kelanjutannya ... kucampur ngomongnya pakai bahasa Jawa ngoko .. hahaha ..
      Untungnya, lawan bicaraku biasanya pada maklumin, palingan mereka juga nahan geli lihat aku gelagapan bicara.
      Betul .. yang penting pede aja lagiii .. :D

      Delete
    6. This comment has been removed by the author.

      Delete
    7. Iya sich memang nggak gampang adu nembang dengan lawan yang berbeda lagunya.. tapi seru kali.. justru di situ tantangannya.

      Yup semoga aja perfilman dunia tergerak membuat film tentang candi misalnya candi Borobudur. Tapi menurutku sambil menunggu ke arah situ, alangkah baiknya bila perfilman Indo mulai sekarang lebih sering membuat film dokumenter dengan tema sejarah sejarah masa lampau yang nanti kurikulumnya mewajibkan semua siswa untuk menontonnya dan harus membuat ulasan tentang film sejarah Indonesia.

      Btw mengenai yang dugunakan belum maksimal nggak apa-apa yang penting masih tetap digunakan terus sehari+hari. Karena takutnya bila jarang digunakan bahasa daerah lama-lama bisa punah ditelan kemajuan jaman.

      Oh ya foto di atas di kedai kopi banyak kopi yang sedang dijemur. Itu kopi jenis apa aja ya yang biasa digunakan di kedai brader? Arabica atau Robusta atau kopi Luwak? :)

      Delete
    8. Sayangnya sampai sejauh ini tekhnologi pembuatan perfilman Indo belum mampu setara dengan perusahaan film Hollywood yang mampu membuat film dengan tehnik canggih yang membuat penonton siapapun berimajinasi kuat tentang sosok superhero.
      Kumaklumin sih tekhnologi pembuatan film seperti itu sangat tinggi beayanya, meski sebenarnya beberapa sineas digital dari Indonesia sudah direkrut oleh perfilman Hollywood.
      Semoga ya kelak tokoh dan sejarah candi nenek moyang kita difilmkan dengan tekhnologi tidak asal-asalan pembuatannya, apalagi hanya dibuat seperti alur asal-asalan sinetron.

      Bermacam jenis biji kopi yang sedang dijemur itu biji kopi luwak, sista.
      Sesuai nama kedai kopinya, pawon luwak coffee.
      Kelak kapan akan kuulas :)

      Delete
    9. Iya bisa dimaklumi bila dunia perfilman kita belum mampu menyamai pembuatan film dokumenter seperti perfilman Hollywood yang berteknologi canggih dan membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
      Iya aku pernah lihat di tv ada neberapa sineas muda berbakat asal Indo yang direkrut dalam pembuatan film di Hollywood. Harapannya sich semoga kelak perusahaan film Hollywood akan mau membuat film tentang sejarah dan warisan budaya Indonesia misalnya candi lengkap dengan tokoh-tokoh raja-raja pada jaman kerajaan saat candi dibangun dahulu.
      Mungkin dengan banyak belajar dari dunia perfilman luar seperti Hollywood atau yang lainnya, dunia perfilman kita diharapkan akan lebih baik lagi dalam pembuatan film dokumenter yang bertemakan sejarah dan budaya.

      Btw... Oh ternyata kopi yang dijemur berjejer tsb itu kopi luwak ya? Katanya sich kopi paling enak itu ya jenis kopi luwak ya brader?
      Alright ntar kita tunggu aja liputan tentang kopi luwak. Jadi penasaran hehehe.. :)

      Btw jalan di sekitar dusun Brojonala ini bagus ya sudah di paving jadi terlihat rapi dan nyaman buat pengunjung.

      Delete
    10. Amin, semoga kelak betulan sejarah candi dan tokoh raja-raja dari kerajaan Mataram Kuno digarap sineas perfilman Hollywood.
      Coba kita lihat sewaktu mas Nunu atau Keanu Reeves berperan sebagai Siddharta Gautama ..., film itu digarap artistik dan jadi salah satu film box office dunia.
      Dengan suksesnya film itu, jelas lokasi shooting jadi incaran kunjungan para turis mancanegara dan naik pesat grafik kunjungan wisatawannya.
      Semoga pemerintah Indonesia sendiri juga mudah membuka kran perijinan untuk pembuatan film komersil seperti itu.

      Iya, betul sista.
      Kopi paling terenak adalah kopi jenis luwak.
      Hasil fermentasi dari faset hewan luwak.

      Semoga tampilan jalan dusun Brojonalan ini jadi contoh untuk desa2 wisata lainnya, ya.

      Delete
  15. Serius itu harga tiketnya cuma Rp. 3.500? Uh wow sekali ya. Sangat murah untuk tempat/lokasi wisata seperti ini (candi).

    Dan seperti biasa, informasi detail tentang suatu lokasi tersedia rapi dan menarik di blog ini ... puas bacanya, sampai ke sejarahnya juga. Seperti dugaan dahulu kala Candi Pawon digunakan setelah prosesi penyucian diri dari candi Mendut, kemudian dari candi Pawon prosesi spiritual dilanjutkan ke candi Borobudur. Garis prosesi spiritual yang menghubungkan tiga candi dengan nama besar di Indonesia ini.

    Saya suka melihat foto-fotonya. Sayang ya kalau ngopi, pemandangan terhalang toko souvenir sehingga terhalang melihat dia ... eh si candi maksudnya. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat terjangkau kan tiketnya, kaaak .. hehehe :)
      Selain keren buat lokasi liburan juga bisa sekaligus belajar sejarah dengan bayar tiket cuma segitu.

      Sewaktu aku ke candi Mendut sebelum ke candi Pawon ini di loket tiketnya malah belum tercantum tulisan tiket sekaligus untuk kunjungan ke candi Pawon.
      Nah baru di candi Pawon, ada tulisan di loket dan penjelasan petugas loket kalau tiketnya sekalian untuk ke candi Mendut.

      Terimakasih opini tentang tulisanku ya, kak Tuteh.
      Semoga aku bisa terus punya kesempatan mengunjungi banyak lokasi wisata dan belajar tambah baik mengulasnya.

      Juga terimakasih menyukai fotofotoku di artikel ini.

      Aaakh .. kenapaa yaa aku hari ini kok jadi merasa feeling gweeee-errrr hahahaha ..., padahal belum jadi apa-apa dan jadi siapa.
      Abisnyaaa dari tadi dipuji terus sama kak Tuteh seeeeh ....
      Wwwkkkwwwkk ..

      Delete
    2. Hahahah memuji itu sebagian dari iman *ngikik* Tapi memang benar kok, Himawan, setiap pos di sini konsisten tentang wisata dan ditulis/dikemas apik, ditambah data-data komplit, yang baca juga bisa berimajinasi. Hehehe. Salut.

      Delete
    3. *pipimemerah* tersipu lampu mode:ON mendadak menyala ...
      Hahahaha .. , kak Tuteh bisa aja bikin aku jadi jalan terhuyung-huyung gegara kekenyangan dipuji kayak gitu :D
      Ohh, tolooong ...

      Jujur ya, kak aku tuh kagum banget dengan talenta seabrek yang kak Tuteh punyai dan salutnya lagi nyaris hampir tiap hari bisa menulis artikel baru ...
      Rasanya baru aja aku kemarin berkomentar di satu artikel, pas ke blognya kak Tuteh lagi udah ada postingan baru lagi dan lagi ... ckckkckk .. keren .. keren ..
      Angkat jempol buat konsistensinya.

      Delete
    4. Hahahahah *nadah tangan* mana ceperannnnnn siniiii sudah saya pujiiii ... hahaha.

      Terimakasih Himawan, semoga bermanfaat tulisan2nya bagi orang yang membacanya hehe. Btw, Himawan termasuk salah satu teman narablog yang saya panggil tanpa embel-embel 'Kak' atau 'Mas' ... tapi tidak mengapa ya.

      Delete
  16. Mau nanya seputar Candi Pawon seperti sejarah, wilayah dan penduduknya, eh sudah di tanya sama penanya yang lain. Jadinya tinggal baca bagian komentar aja, hehe..

    Sebagai gantinya, saya request Candi pertama di Jawa sajalah bila mas sempat menulisnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Requestnya mas Ridwan sudah terjawab hehehe ...
      Karena aku pernah liburan ke candi pertama atau tertua dan kuulas di artikel.
      Namanya candi Arjuna.
      Lokasinya di dataran tinggi Dieng.
      Itu candi Hindu, mas.

      Kalau candi Buddha tertua namanya candi Kalasan di Yogyakarta.
      Tapi aku belum pernah kesana hehehe ..

      Delete
    2. Eh uda dtulis rupanya, siap-siap meluncur ni, hehehe..

      Ditunggu mas, kelanjutan tulisannya untuk candi Budha tertua..

      Delete
    3. Terimakasih supportnya, mas Ridsal.
      Siap dilaksanakan, sudah masuk wishlist :)

      Delete
  17. Wah, penampakan candi pawonnya menakjubkan, belum pernah ke sana dan pengen banget bisa traveling melihat candi-candi yang ada di Indonesia...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kak Muyass meski candinya berukuran tak begitu besar tapi tak kalah unik dengan candi lainnya.
      Reliefnya juga detil.
      Dan keren buat lokasi foto-foto :)

      Kudoain kelak kak Muyass kesampaian liburan ke semua candi.
      Doain aku juga ya, kak hehehe

      Delete
  18. Pengen banget gua membuat candi yang mengisahkan di phpin cewek gebetan ckck, nggak nyambung komentar nya ckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhuahahahaaa ...
      Boleh tuuuh idenya diwujudkan :D.
      Ntar kalo udah jadi, candinya difoto yaaa ...

      Ssst, reliefnya beragam ekspresi wajah Idaham yaa ... ;)

      Delete
  19. Selama ini aku juga menyangka kata Pawon di sini dengan "dapur" atau tempat kita memasak. Ternyata keliru. :D

    Makasih sharingnya Mas Himawaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami-sami, mas Rifan :)
      Semoga jadi referensi liburan mas Rifan dan keluarga.

      Delete
    2. Makasih mas.
      Nggak terlalu jauh sih dari Ambarawa. cuman, kadang susah banget menemukan waktu kumpul bareng.. kesempatannya itu yang jarang.. :D

      Delete
    3. Iya juga sih kadang waktu untuk liburan barengan keluarga yang bikin jadi salah satu kendala,mas.
      Hal itu juga kurasain, bisa jadi dalam setahun cuma sekali atau duakali bisa punya waktu liburan bareng keluarga.

      Tetap semangat ya, mas Rifan :)

      Delete
  20. totally udah candi keberapa nih kak? aku suka mengenal budaya gini, dan biasanya malah lupa foto apalagi kalau ada tour guidenya lebih mantap tahu sejarahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah pernah ke berapa candi ya ..., haahaha aku lupa, kak :D

      Lah, ya jangan kelupaan foto di lokasi candi yang dikunjungi gegara keasikan nyimak penjelasan tour guidenya ..., ntar nyeseeel loh setelahnya ngga punya dokumentasi kenangan liburan ;)

      Delete
  21. Melalui review lengkap ini jadi tau, ternyata Candi Pawon tidak kalah bersejarah dari candi-candi lainnya ya ... Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, mas Rustam.
      Candi berukuran tak begitu besar ini punya kaitan kuat dengan candi Mendut dan candi Borobudur.

      Malah diduga oleh team arkelog candi Pawon dulunya merupakan pintu utama menuju ke candi Borobudur.

      Delete
  22. Pas ke situ, aku juga mampir di kedai kopi yang menjemur kopi luwak itu, lalu masuk ke dalam kedai dan sekalian menengok luwaknya dooong ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantul ..., ternyata kak Agustina udah ke candi Pawon dan nengok si luwak nih hehehe ...

      Keren ya candinya, kak.


      Delete
  23. kok rasanya lebih tau arkeolog Belanda ya dalam menterjemahkan candi pawon, eh... ga juga deng, soalnya kalau dari mereka Pawon tempat penyimpanan abu jenazah, sedangkan peneliti Indonesia bilang pawon adalah dapur atau tempat memasak gitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe karena tercantum di prasasti Karang Tengah yang menyebutkan candi ini merupakan tempat penyimpanan abu jenasah raja Indra.
      Jadi nama pawon dikaitkan dengan pengawuan.
      Sudah jadi tradisi jika pemeluk agama Buddha meninggal, jasadnya dilakukan proses kremasi.

      Delete
  24. Terakhir saya ke candi pawon kapan ya... Kayaknya sudah lama banget deh. Waktu itu belum sekeren yang diceritakan di sini. Kapan-kapan harus cek lapangan nih, biar lihat aslinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siiip, kak Dyah ...

      Monggo, eh# silahkan di cek ke lapangan buat buktiin benar ngganya lokasinya ditata seperti yang kuulas

      Delete
  25. Selama hidup belum pernah ke magelang, tapi mungkin saja kalo tuhan mengijinkan bisa magelang dan mengunjungi lokasi tempat ini amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin ...
      Ikut kudoakan buat mas Bepe kelak kesampaian ke candi Borobudur dan obyek2 wisata lainnya di Magelang.

      Delete
  26. di mana-mana tanah seakan dianggap mengotori sehingga harus ditutupi. coba cukup diurug batu kerikil tak perlu pakpingblok, rasanya lebih pas hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi .. , kayaknya kalo ditutup pakai kerikil tok takutnya bikin cepat rusak ban kendaraan deh, maas ... :)

      Delete
    2. ya biar orang ke situnya jalan kaki sekalian pijat refleksi hihi

      Delete
    3. Wwwkkkkk ..., cucok aahh liburan sekaligus terapi kaki melewati jalanan berkerikil tanpa alas kaki ..., pulang-pulang tinggal bobok pulaaz :D

      Delete
  27. Terakhir ke Candi Borobudur udah lama banget kang, mungkin lebih dari 25 tahun lalu, waktu bulan madu haha.. Ternyata aku sudah tawwa yaa..

    Semoga masih ada kesempatan untuk maen sini lagi di waktu mendatang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Romantis bener candi Borobudur jadi lokasi bulan madunya kang Maman ... hehehe :)

      Wajah kang Maman tetap terlihat awet muda loh, ngga kerasa ya udah 25 tahun masa pernikahan.

      Amin, kudoakan kelak kang Maman dan dan keluarga berkesempatan liburan lagi ke candi Borobudur.
      Sekalian mampir liburan ke candi Pawon dan candi Mendut juga.

      Delete
  28. Wah saya belum pernah ke candi ini. Bahkan ke candi mendut pun belum pernah.... Btw, harga tiketnya murah banget :D jadi pengen mampir kalau kebetulan ke Magelang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disempetin mampir berlibur ke candi Pawon, candi Mendut dan candi Borobudur saat pas ke Magelang, kak Mur ...
      Sayang loh kalo ngga mampir ke 3 candi yang jaraknya ngga gitu jauh satu sama lainnya ini :)

      Delete
    2. Kalau ke Borobudur sudah pernah 2x. Tapi yang lainnya ini belum huhu

      Delete
    3. Oh, kak Mur udah 2 kali ke candi Borobudur ..., sangat keren ya, kak.
      Yowis, selanjutnya pas liburan lagi ke Magelang mampir ke 2 candi yo, kak :)

      Delete
  29. Tempat kulinernya mana mas, kalau jalan2 kan kuliner tidak bisa lepas dari para pengunjung, betul gak, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget kalo destinasi wisata dan kuliner itu satu kaitan yang ngga bisa dipisahkan satu sama lain.
      Kebetulan ngga begitu jauh dari lokasi candi Pawon ada beberapa tempat makan dengan sajian khas Magelang berupa ikan beong.
      Ntar kapan akan kubuat artikel terpisah dengan candi, mas hehehe :)

      Delete
  30. emang enak ya liburan ke candi-candi gitu, sejauh ini si aku cuma pernah ke candi prambanan aja, itupun waktu smp :D, candi borobudur, candi mendut, candi pawon, dan candi-candi lainya masih dalam list gak tau kapan bisa kesana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti sudah cukup lama belum sempat liburan ke candi lagi setelah dulu ke candi Prambanan ya, mas Khanif ...

      Setidaknya mas Khanif beruntung sudah pernah melihat candi secara langsung, karena ternyata ngga sedikit orang yang pernah kesampaian liburan ke candi.
      Mungkin karena jarak domisilinya ke candi sangat jauh ditempuh.

      Delete
  31. Apa cuma aku ya yang kesini sampai baca komen2. Hihi...aku blank tentang candi. Tapi kalau ada sesi pemutaran film tentang candi bakal lebih mudah memahami sejarahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ... , asik loh kak mempelajari sejarah tentang candi.
      Mempelajari tentang dinasti, nama2 raja, proses pembangunan candi dan penemuan candi setelah terkubur dalam tanah karena erupsi gunung Merapi.

      Kebetulan di candi Pawon ini sudah dilengkapi sarana tayangan visual tentang candi jadi wisatawan bisa mengenal lebih jauh sejarah tentang candi.
      Yok liburan ke candi Pawon, kak hehehe :)

      Delete
  32. Oh, saya sepakat sama belanda tuh, sebab kok kenapa susah-susah bikin candi kalau 'cuma' buat masak aja. Pasti buat hal-hal yang lebih sakral dan monmental seperti penyimpanan abu jenazah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, betul banget analisa bang Doel ..., sangat ngga mungkin pendirian candi difungsikan untuk kegiatan masak memasak.
      Pasti untuk kepentingan keagamaan dan benar fungsinya seperti tercantum di prasasti Karang Tengah adalah tempat untuk perawuan.
      Entah perawuan proses kremasi jasad raja Indra saat itu dilakukan di halaman candi atau didalam candi ..., yang pasti digunakan untuk menyimpan abu kremasi tersebut, meski tidak diketahui pasti penyimpanannya ditempatkan disebelah mana.

      Delete
  33. pawon = dapur,kalo bahasa jawane gitu ya
    lagi lagi tiket masuknya murah pake banget ini. Kalo candi ini aku blm pernah kesana,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bahasa Jawanya dapur itu pawon, kak.
      Khusus atti nama candi ini penamaannya bukanlah tempat sebuah dapur.

      Ya, kak tiketnya sangat ramah dikantong.
      Cukup 3K untuk ke 2 lokasi candi.

      Delete
  34. Tak kira deket sama jalan yang dari Candi Mendut itu mas. Saya mikir e, area disekitar candi ini juga luas. Oh ternyata, sempit ya? Dan bener-bener di tengah perkampungan. Beda sama candi-candi kebanyakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo rutenya dari candi Mendut memang iya rada deket, mas Tri.
      Tapi ya ngga bener-bener lurus ditempuh dengan melewati jalan raya yang ada sekarang ini, rute dari candi Mendut melewati 2 jembatan sebelum nyampe di jalan raya Syailendra Raya.

      Area halaman candinya ndak gitu luas, mas. Lumayan gitu.
      Kadang sering dipergunakan untuk acara prosesi keagamaan Buddist, pementasan seni tari dari sanggar tari Kinara Kinari dan kesenian lainnya.

      Delete
  35. Candi itu menunjukkan kemajuan peradaban masyarakat kala itu yah mas. Belum ada ilmu arsitek tapi bisa membangun sesuatu secara presisi dan dengan motif unik.

    Btw kapan kita kerja mas hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah fakta kehebatan arsitek nenek moyang kita ya, bang Day.
      Ngga ada kuliah arsitek kayak jaman now tapiii ..., sanggup menvisualisasikan rancang bangun candi sedemikian presisi dan ukiran reliefnya bikin takjub.

      Oh, iyaa .. kita berdua kan lagi mempersiapkan diri jadi pekerja travelling, dibayar untuk jalan-jalan dan mengulasnya hehehe ..
      Amiiin, semoga terealisasikan ya, baaang Day :)

      Delete
  36. Precioso templo, me encanta esa cultura. Saludos.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Obrigado mi amiga Teresa.
      I hope you will visiting to Indonesia someday.

      Delete
  37. Kawasan candinya keren termasuk ruang informasinya. Biasanya yang ada informasi dan medianya hanya candi besar semacam Borobudur dan Prambanan, ternyata di Pawon juga ada. Jadi ingin berkunjung, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak Qudsi penataan jalan areanya digarap keren, apik dilihat.
      Coba ya seandainya semua area lokasi candi2 di Indo dibuat serapi ini, pasti terlihat lebih menarik.
      Semoga kelak kak Qudsi kesampaian juga ke candi ramping satu ini, amin.

      Delete
  38. Tiketnya murah bgt mas..??
    Pawon itu kan artinya dapur ya mas? kalo menurut bahasa Jawa.
    Tp luar biasa sekali para arsiteknya. Semua candi2 dibangun begitu terlihat megah, dan tentunya penuh relief yg membutuhkan keahlian utk membuatnya. Kekayaan Indonesia yg hrs trs dijaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntungnya pemerintah daerah ngga menetapkan harga tiket mahal, mas :)
      Cukup 3K untuk ke 2 lokasi candi.
      Malah ada lokasi candi yang tanpa perlu membayar tiket untuk memasuki areanya, mas.
      Dan aku pernah kesana :)

      Kita pantas angkat 2 jempol untuk karya luar biasa nenek moyang kita ..., keahlian arsitekturnya luar biasa.

      Delete
  39. Jawa Tengah menyimpan banyak peninggalan sejarah masa kerajaan Hindu dan Budha ya mas. Seperti candi Pawon ini, walaupun arcanya sudah tidak ada lagi, namun wisata candi akan memberi kita gambaran akan kehidupan orang2 jaman dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mas Aris.
      Jawa Tengah sangat banyak menyimpan sejarah dan bukti berupa candi-candi dari kerajaan-kerajaan Mataram Kuno masa Hindu dan Buddha.
      Diduga kerajaan Hindu terbesar berada di Daerah Istimewa Yogyakarta diwakili dengan candi Prambanan dan kerajaan Buddha terbesar berada di Magelang diwakili oleh candi Borobudur.

      Delete
  40. Wuihhh kayaknya kalau punya rumah dekat candi Pawon enak ya mas, apik, bersih..Dan bisa buat jualan penganan juga buat turis ha ha ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah itu potensial banget, kak ... , jualan kue atau pastry kelas hotel berbintang seperti yang kak Monica sering bikin di artikel itu, terus kue2nya didisplay diruang tamu yang disulap jadi tampilan kafe keren.
      Itu para wisatawan asing pasti pada mampir buat nongki sambil nikmatin kue2 buatan kak Monica.
      Dan di jalan dusun candi Pawon belum ada kafe kue dan pastry, kak.
      Tapi kalo di sepanjang jalan Balaputeradewa, ada banyak resto dan kafe untuk kelas wisman.

      Semoga keinginan kak Monica ini terealisasikan.
      Coba kak berburu informasi lokasi rumah disana, kak.

      Delete
  41. Keren mas :) semoga saya bisa kesana juga. Soalnya sampai sekarang belum pernah sekalipun lihat candi-candi secara langsung kecuali mungkin yang mirip-mirip yang ada di Univ Brawijaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kudoain kelak mas Zai kesampaian liburan ke candi, amin.

      O, mas Zai di Malang ya tinggalnya ?.
      Seingatku, ada lokasi candi di dekat Malang, mas ..., candi-candi hasil karya nenek moyang setelah mereka bermigrasi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pasca erupsi dahsyat gunung Merapi.
      Semoga jadi referensi buat mas Zai.

      Delete
  42. Pernah denger candi Pawon eehehe, lokasinya ternyata di deket mendut dan ada di sekitar perkampungan warga ya?

    Unik juga ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lumayan dekat dengan candi Mendut tapi kalau ditempuh dengan berjalan kaki ya jauh juga, mas Febri :D

      Ntar kalau mas Febri liburan ke candi Pawon, rute tempuhnya jangan kesasar, ya :)
      Masuk ke dusunnya lewat belokan kiri di pertigaan jalan seperti foto yang kusertain diatas.

      Delete
  43. Kayak gudeg yang terkenal di jogja nama candinya mas Hino, gudeg pawon wkwk. tapi mirip mirip keraton merapi ama parangtritis yang ada garis imajinernya, unik juga kayaknya... I'll be there soon :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, iyaaa .. ada gudeg namannya gudeg Pawon, mas Rahmat ?.
      Wah itu pasti penjualnya berasal dari sekitaran candi Pawon kalo gitu ... wwwkkkwkk, nebak# :D

      Kok ngajak2 sih nyantap gudeg di gudeg Pawon ?.
      Kan aku juga pengiiin ..., jadi laper rasanya bayangin kentalnya aren dan suwiran daging pitiknya.

      Yuup, betul ... , bangunan keratin Ngayogyakarta Hadiningrat dibuat segaris imajiner dengan gunung Merapi dan pantai Parangtritis.
      Dan tugu Yogyakarta sebagai patokan ketiganya.

      Delete
  44. Wah, tiketnya murah amat ya, cuma 3500 rupiah saja. Sayangnya jauh dari Banten, bisa sampai 10 jam kalo dari Serang ya ke Magelang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 3500 rupiah itu untuk ke 2 lokasi candi, mas : candi Mendut dan candi Pawon.
      Muraaah banget kaaan .. hehehe.

      Iya ya dari Serang ke Magelang itu jauh jaraknya.
      Semangat ya mas Agus, kelak pasti kesampaian liburan ke Magelang, amin.

      Delete
  45. Kecil tapi antik ya mas

    Wah aku baru tau nih soal candi ini, belum pernah denger sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti kita.
      Kecil tapi antik gitu.
      Weeeiiiiisss ... , apaan seeh ?, wwkkwkkk ..., ngaco#

      Iya, mas Aul.
      Meski candi Pawon ini ukurannya paling kecil diantara candi Mendut dan candi Borobudur, tapi candi ini punya hubungan kuat dengan kedua candi tersebut.

      Delete
  46. Wah makasih sejarahnya lengkap bener. Saya pernah kesini sekali dan bingung karena meskipun di tengah kampung tapi seperti nggak ada yg peduli ada wisatawan datang. Tapi betul tu, kalau misalnya nggak bisa mendatangkan wisatawan dalam jumlah masif, bisa diolah jadi tempat nongkrong, ngopi2 yg lagi hits.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami-sami, kak Lusi.
      Mungkin karena masyarakatnya sudah terbiasa ya dengan kunjungan para turis, jadi lihat turis datang sambil lalu ngelihatnya.

      Nah itu aku juga sependapat, kak.
      Buat ningkatin kunjungan turis, terutama turis lokal, areanya dilengkapi kafe.
      Entah kafe kopi atau juga kafe pastry yang banyak disukai anak-anak muda jaman sekarang.
      Kedai kopi disana, Pawon luwak coffee shop udah jadi pelopor untuk itu.

      Delete
  47. Mas Hino mah keren atuh, mampu memaparkan tempat wisata bersejarah secara detail berikut data pendukungnya. Saya yang Generasi X dan pencinta sejarah karena pengaruh bacaan masa kecil merasa terbantu, diajak nostalgia. Itu ayng saya suka. Menyusurei sejarah bukan semata kisah, melainkan untuk mengenal akar tradisi dan budaya bangsa kita. Kita pada zaman dahulu pernah besar dan memiliki peninggalan berupa candi yang bahkan struktur bangunannya belum tentu dipahami orang teknik sipil zaman sekarang.
    Berandang ke blog ini tak mrelulu dikisahi alam, ada sejarah, kenangan, warna lokal, juga budaya setempat. Tak perlu wisata klew tempat mahal, masih ada tempat wisata lain dengan harga terjangkau yang mewnawarkan pelajaran besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, harus bagaimana ya cara saya mengucapkan banyak terimakasih banyak opini dari kak Rohyati. Saya merasa tersanjung sekaligus malu karena saya cuma menuangkan ke dalam tulisan apa yang saya lihat di lokasi dan data kuperoleh dilapangan.
      Terimakasih banyak dinilai begitu,kak.
      Gaya penulisan kak Rohyati juga sangat bagus, alur penulisannya enak dibaca.

      Mengenai lokasi liburan tak perlu melulu ke lokasi yang bertiket mahal, itu aku juga sependapat, kak.
      Tak perlu memaksakan diri ke lokasi mahal, jika memang keuangan sedang tak memungkinkan untuk itu.
      Toh kenyataannya, berlibur ke lokasi seperti ke candi Pawon bertiket murah ini justru dapat manfaat banyak setelah berlibur disana ..., bisa melihat langsung bukti kehebatan ilmu arsitektur leluhur kita dan juga mengenal sejarah dengan baik.

      Delete
  48. kdg pgn tahu, gmn yaa nenek moyang zaman dahulu bisa membangun candi2 megah begini, jembatang penghubung, mengukir relief di batu dll. bukan keahlian sembarangan.. seandainya aja bisa balik ke masa lalu ya mas :D. selalu suka aku sejarah2 begini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh#, sama kalo gitu, kak Fanny ..., rasanya pengin tau banget jaman dulu cara leluhur kita sanggup membuat bangunan candi sampai detil sama presisi dan menentukan titik koordinat lokasi candi bisa sangat cermat juga detil pembuatan relief ukiran2nya begitu.
      Ajaib bisa seperti itu ...

      Delete
  49. Luar biasa. Bukan hanya berjalan-jalan dan liburan. Tapi Bang Himawan juga menceritakan secara detail sejarah Candi Pawon ini dengan segala pernak-pernik peristiwanya. Semoga bisa memberikan manfaat bagi semua orang untuk memahami sejarah Nusantara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak opininya, mas Dody.
      Semoga ulasan saya ini bisa bikin orang tertarik liburan ke candi, terutama generasi muda yang akhir-akhir ini lebih menyukai liburan ke lokasi wisata kekinian.

      Delete
  50. pawon itu kalo bahasa jawa artinya teras iya gak sih mas him?
    kok murah ya tiket masuk ke candi pawon..
    candi yang pernah aku kunjungin baru candi prambanan aja dan itu tiket masuk nya lumayan mihils.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sanes, eh# kok balas komentarnya jadi pakai bahasa Jawa hahaha :D.
      Bukan, kak Tia ..., bahasa Jawanya pawon itu dapur.

      Murah kan tiketnya, kak.
      Itu juga untuk ke 2 lokasi candi.
      Malah di Magelang ada 4 candi yang pernah kudatangi tanpa dikenai tiket loh, kak.
      Dan semuanya ... , keren-keren candinya :)
      Ayook ke Magelang, kak ..

      Iya, sekarang tiket candi Prambanan dan candi Borobudur harganya tidak murah karena namanya memang sudah mendunia, kak.

      Delete
    2. oiya deng, dapur yaaa.. suka ketuker2 sama teras.. hehe

      Delete
    3. Hehehe :)
      Ngga apa-apa, kak.
      Aku saja berasal dari suku Jawa, kalo diajak percakapan panjang dalam bahasa Jawa kromo dijamin ... ngga paham hahahaa :D

      Delete
  51. Magelang + Jogja...gudangnya candi ya . Aku tu klo ke candi2 gitu..jadinya penasaran...orang dulu hidupnya kayak gimana...apa kayak di saur sepuh itu apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dilihat dari bentuk kostum di relief candi sih kayaknya ngga sama kayak kostum jaman saur sepuh gitu, kak.
      Jaman saur sepuh itu diadaptasi jauh setelah masa purbakala saat kerajaan-kerajaan besar Hindu dan Buddha terjadi.

      Betul, kak Tri kalau Magelang & Jogja adalah gudangnya atau pusatnya lokasi candi-candi.
      Memang diduga kerajaan terbesar berpusat di Magelang atau di Jogja.

      Delete
  52. Saya jadi tertarik dengan nama dusun Brajanalan yang konon diambil dari bahasa sangsekerta. Tapi kenapa jauh banget dari kata asli ya? Vajranala .
    Kedai kopinya semoga saja bisa ditata ulang ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya sama loh mas nama Vajraanala (bahasa Sansekerta) dan Bajranalan (bahasa Jawa) ..., hanya beda di huruf F dan B juga ditambahi huruf N dibelakangnya.

      Penggantian nama jadi Brajanalan karena dialek orang jawa jaman dulu saat candi kembali diketemukan mengalami kesulitan mengucapkan huruf F.

      Sepertinya kedai kopi memang sengaja dipertahankan konsep traditional rumahannya, mas.
      Biar kesan Jawanya lebih kental.

      Delete
  53. Enaknya bacpakeran, kita bisa menyapu bersih tempat wisata yg berdekatan.. Tidak terikat sama rombongan..

    Kalau jalan akses ke tempat wisata itu bagus, berarti memang ada perencanaan matang agar wisatawan merasa mudah dan nyaman menemukan tujuan wisatawannya.
    Berarti pendapatan wisatanya tepat guna.

    Karena tidak sedikit juga, jalan akses tempat wisata yg masih setapak, padahal bisa jadi pendapatan nya pertahun bisa buat nyicil memperbaiki akses jalan ke tempat wisata..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, satu nilai plusnya begitu ngga ikut rombongan tour, mas Heri.
      Bisa menjelajah ke lokasi-lokasi wisata lain di sekitaran yang ngga tercantum di daftar lokasi wisata yang dikunjungi.
      Bebas kemana-mana hehehe ...
      Cuma enaknya ikut rombongan tour, tinggal duduk manis di perjalanaan dan di lokasi wisata tinggal nyimak penjelasan tour guide.
      Kalau backpacker, terutama untuk keperluan kepenulisan atau blog, kita kudu sibuk seorang diri tanya sana sini info seputar lokasi wisata yang didatengin :)

      Ya, mas sebenarnya masih sangat banyak akses ke suatu lokasi wisata yang belum digarap maksimal. Seadanya saja.
      Malah aku pernah ke suatu lokasi wisata di desa dekat Imogiri, buseeet deh jalannya .. ancur parah dan cuma berupa bebatuan tanpa diaspal.
      Bikin rusak ban kendaraan :(


      Delete
    2. bener, klo ikut rombongan, biasanya ada tour guidenya... tinggal menjalankan schedule, tanpa harus capek booking ini itu sendiri

      Delete
  54. Candinya ga terlalu besar tapi sejarahnya ternyata menarik. bahkan sampai sekarang candi ini masih suka dipakai prosesi ya mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesekali digunakan untuk prosesi keagamaan iya betul, mas Kris.
      Cuma saat ini dalam prosesi iring-iringan acara Waisak dari candi Mendut ke candi Borobudur ..., candi Pawon tak lagi dilewati.

      Delete
  55. Candi pawon tapi ayu
    Walau warnanya mirip dapur masak pake kayu


    ReplyDelete
  56. ngeri, komentarnya ratusan yah, coba pake disqus pak biar lebih simpel gak melorot ke bawah hehe, saran aja sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh#, kok ngeri sih ?,
      xixixi :)

      Ngga apa-apa kupertahankan pakai kolom komentar seperti ini agar memudahkan pembaca dan pengomentar berinteraksi atau saling kenal, karena masih banyak blogger yang belum pada gunain disqus, mas

      Delete
    2. maka dari itu, sama sama pake disqus, ngajak yg lain pake disqus biar lebih rapi kan, kasian lho yg mau komen apalagi kalo pake hp kudu skrol ke bawah wkwkwk

      Delete
  57. Candi Pawon nya keliatan bersih dan terawat. Tiket masuknya murah sekali! ;) apa dibedakan tiket pegunjung doemstik dan mancanegara? .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan tiket untuk kunjungan ke kedua lokasi candi Mendut dan candi Pawon ini tidak dibedakan antara harga tiket untuk turis domestik dan turis mancanegara, kak.
      Cukup bayar dengan 3K saja :)

      Delete
  58. coba dibawah ah.....masak diatas terus ...capek tahu..!!!
    jangan nyasar ngiranya lho ya....

    ngomong ngomong ini artikel bulan lalu Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesekali tengkurap ..., juga ngga bikin capek, kok ..., haiiisszh apaan sih ? .. wwwwkkkwkk :D

      Pas tanggal 1 bulan Februari ini artikel masuk publish date bulan lalu, mas ;)

      Delete
  59. Wahhh ak pernah nya ke candi pawon, dan untuk candi lainnya belum pernah sih, karena waktu yang singkat jadi tidak sempat mengunjungi tempat lainnya, tapi memang bagus banget lokasinya, jadi kepengen kesana lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan pas punya waktu luang lebih banyak, monggo datang berlibur ke candi Mendut dan candi Borobudur, mas Bepe.
      Udah deket kok jaraknya :)

      Delete
  60. ntah napa saya ndak terlalu tertarik dateng ke candi-candi mas, lebih suka dateng ke museum saya hahaha

    (( kabur ))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan kabuuuur ...
      Nih ada yang ketinggalan hahahah ... :D

      Ayoook kasi contoh generasi muda biar suka liburan ke candi, mas Andie ;)

      Delete
  61. Apik banget lokasi sekitar Candinya ya... bisa sekaligus tur candi Borobudur-Pawon-Mendut Prambanan ya karena lokasinya masih deketan gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, lokasi area dusunnya ditata apik, kak Nike.
      Cuman, lokasi ketiga candi Pawon ini dan candi Mendut - candi Borobudur letaknha terpisah jauh banget dengan lokasi candi Prambanan, kak.
      Candi Prambanan adanya di Jogja dan dekat dengan candi Sari.

      Delete
  62. Candinya ditengah pemukiman gitu mas ya..
    keren dah..
    masyarakat disana menjaganya dengan baik dan lingkungannya tertata apik..

    Sudah berasa atmosfir disana mas, soalnya saya sering wara-wiri dipedusunan jogja dulu..
    jadi pengen main lagi kesana, sekalian lihat candi-candi..

    kapan-kapan main ke klaten mas, disana candinya banyak juga lho..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berasa jadi nostalgia ya buat bli Eka lihat post ini ..., teringat masa lalu sering blusukan di pedusunan daerah Jogja hehehe :)

      Ya, bli Eka, Klaten sudah masuk wishlist buat explore candi-candi unik disana, cuma masih nunggu waktu yang tepat terutama karena aktifitas gunung Merapi dikatakan BMKG kali ini lebih dominan mengarah ke Klaten.
      Semoga tidak brnar terjadi erupsi, ya bli.

      Delete
  63. ternyata masih begitu banyak candi yang belum saya kenal selama ini mas terimkasih infonya tentang candi pawong ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, mas Rusdi :).
      Semoga kelak aku bisa mengeksplore ke semua candi yang ada dan menuliskannya di artikel agar mas Rusdi dan pembaca lainnya yang belum banyak mengenal nama dan lokasi candi bisa mengenalnya.

      Delete
  64. komplek candi tertata rapi.
    Apakah Wisatawan masih kurang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kuperhatikan saat berada di candi Pawon ini, jumlah kunjungan wisatawan lokal sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah turis mancanegara, mas Tanza.

      Delete
  65. Aku dulu pernah ke Yogyakarta tapi cuma ke Candi Borobudur aja. Kalau ke Candi Pawon belum pernah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak, candi Borobudur bukan di Yogyakarta tapi lokasinya berada di Magelang.

      Ntar kapan kalo liburan ke candi Borobudur, yok sekalian liburan ke candi Mendut dan candi Pawon :)

      Delete
  66. Sangat eksotis. Ternyata benar, destinasi di Indonesia sangat banyak sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, mas.
      Indonesia punya banyak jenis pilihan wisata.
      Mulai dari alam, sejarah, candi, kekinian juga buatan hehehe :)

      Delete
  67. Pernah dengar candi pawon, tapi sayangnya saya belum pernah kesana. Candi pawon sebagai situs peninggalan zaman dulu, sebaiknya kita jaga agar tetap diketahui oleh anak cucu kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya kelak mas Dzaky kesampaian liburan ke candi Pawon, ikut kudoain, mas.

      Betul, situs peninggalan sangat sarat sejarah ini wajib dilindungi dan kita ikut gencar memperkenalkan ke media agar generasi muda juga menyukai liburan ke candi.

      Delete
  68. Haloooo, Mas Hino :) Wah, keren deh fotonya tampak depan di Candi Pawon! Berarti bener kayaknya ya zaman dulu candi ini tempat menyimpan abu jenazah? Wah, udah banyak kali ya sekian orang meninggal yg abunya ditaruh di sini. Btw kalau pergi begini di hari biasa ya? Sama siapa? #kepoah wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga, kak Nurul :).
      Terimakasih opini tentang fotoku di depan candi, kak hehehe ...
      Langsung seserian deh senyumku dikomentari begitu hahaha .., soalnya kebayang panasnya cuaca waktu pengambilan foto itu berlangsung :D.
      Kadang aku travelling sendirian, kadang juga bareng sodara hehehe ...

      Candi Pawon ini cuma digunakan untuk tempat penyimpanan abu jenasah raja Indra saja, kak.
      Meski belum diketahui secara pasti abu jenasah tersebut dahulunya tersimpan dibagian mana candinya.

      Delete
  69. Wahaha. Emang penting banget yah sekarang kita nanya Google Maps. Apa-apa kalo bingung nanya lagi ke Google Maps. Bahkan traveler sekelas mas yang udah kemana-mana juga pasti butuh Google Maps. Dapat ilmu baru lagi dong ya, karena jalur kedatangan dan pulangnya beda. Kalo saya kadang kalo udah terlanjur tau 1 jalur, malah maunya disitu terus. Males mau cari jalur lain. Tapi sebenarnya sifatku ini ngga bagus. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhahaa ...
      Beginilah akibatnya kalau ngga sekalian ngandelin fitur google maps :D.
      Coba dulu buka fiturnya waktu ke museum wayang, kan jadi bisa sekalian datang ke candi Pawon.

      Dicobain beraniin diri ya, kak Suryani .. untuk berani mencoba melewati jalur lain hehehe :).
      Barangkali melewati jalur baru malah nemu tempat-tempat asik buat travelling juga.

      Delete
  70. wah mantap juga nich candi pawon ini bang, boleh juga jadi referensi untuk petualangan berikutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, kak.
      Senang rasanya ikut menginspirasi liburan ke lokasi cagar budaya.

      Delete
  71. huaa...rame banget gan, blog ini tentang traveling keren banget mas, jalan dusunnya keren banget disusun dengan pavin blok yang rapi, khas batu candi, saya paling baru kraton boko...kapan bisa jalan jalan lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih opininya, kak :)
      Semangat yaa .. ntar suatu hari pasti kesampaian lagi jaln-jalan ke banyak lokasi ;)

      Delete