Wednesday, May 15, 2019

Candi Cantik si Air Jatuh Menetes : Candi Banyunibo

Didirikan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, bangunan candi Banyunibo memang tidaklah semegah candi Borobudur dan candi Prambanan. 
Tetapi candi beraliran Buddha, dikenali dengan adanya arca stupa di bagian atapnya, bentuk candi yang dibangun pada abad IX ini juga memesona. 
Ornamen relief dinding candinya diukir sangat halus.



Trip Of Mine
Kolom ventilasi candi Banyunibo, berfoto di ventilasi candi ini bagus juga :)


Loh, kok candi lagi yang didatangi untuk berlibur dan diulas lagi di artikel berikutnya kali ini sih, apa ngga bosan ?.

Mungkin buat sebagian besar sahabat Trip Of Mine yang seringkali mampir di blogku ini sedikit banyak cukup hafal dengan beberapa lokasi candi - candi yang pernah kuceritakan secara berurutan dan selanjutnya setelah membaca sekilas judul artikel ini, pasti bisa jadi akan muncul pertanyaan seperti itu.
Yeikan ?.
Tapi please jangan lantas muncul perasaan bosan dihatimu padaku, ya ..., he he he .
*ngarep* .

Percayalah, diluaran sana tuuuuuh  ..., dan  juga beberapa teman pembaca yang pernah mampir berkomentar di blogku ini ..., masih banyak orang yang sebenarnya belum pernah berkesempatan melihat secara langsung keindahan arsitektur bangunan candi itu seperti apa, hanya masih sebatas berkesempatan melihat candi - candi melalui hasil bidikan gambar kamera yang tersebar di dunia maya.
Betul, kan ?.

Makanya, di kesempatan kali ini, artikel keberadaan percandian masih tetap kuulas, dan mungkin juga keberadaan candi - candi lain akan muncul di artikelku berikutnya.

Nah, sampai disini, rasanya aku tuh pengin nulis sambil teriak pakai toa ..., hayooooo ..., siapa diantara kalian yang belum pernah melihat candi secara langsung ?, ngakuuu ... .

Oopss, maksudku teriak menanyakan begitu, aku tuh bukan bermaksud akan mengadakan give away blogger dan menyediakan free gift ticket atau tiket gratisan masuk ke area candi loh, yaaa ..., wwwkkk ..., tapi kudoakan agar diantara kalian yang belum pernah melihat candi dan punya keinginan melihat candi secara langsung itu ..., dapat segera terkabulkan. 

Diamin dong, yaa ...  :).

Ya, minimal terjadi sekali seumur hiduplah terlaksana melihat candi secara langsung, agar mengenal dengan baik bagaimana karya arsitektur mengagumkan dibuat oleh leluhur kita pada ratusan, bahkan ribuan tahun silam dan juga berkesempatan mengamati dari dekat bagaimana indahnya detil relief candi dibuat seperti yang terdapat di candi Banyunibo yang berada di desa Cepit, dusun Bokoharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang kudatangi kali ini.

Tau, kan ..., mas dan mbak bule aja dibela - belain datang terbang jauh - jauh numpak montor mabur  [Kebanyakan orang Jawa mengistilahkan naik pesawat : numpak motor mabur] dari negaranya buat melihat keberadaan candi loh, masa kamu ngga, sih ?.
Eh# kok ..., bule dibawa - bawa lagi sih disini ?.
Ha ha ha ... . 
 *lol* .


Trip Of Mine
Area candi berbatasan dengan sungai kecil dan dikitari persawahan asri


Saat aku tiba di depan kompleks candi Banyunibo di suatu pagi itu, setelah sebelumnya melewati jalan desa beraspal mulus, kulihat dari tepi jalan sekaligus berfungsi sebagai lahan parkir kendaraan pengunjung yang berbatasan dengan sungai kecil di tepi halaman candi dan diseberangnya terbentang persawahan luas menghijau menyegarkan pandangan mata ..., tak terlihat satupun ada pengunjung di dalam area candinya.
Hanya tampak 2 petugas loket dan 1 petugas keamanan bertugas disana. 

Letak lokasi keberadaan candi Banyunibo yang memiliki arti ' Air yang menetes jatuh' ini terbilang memilki pemandangan alam sekitar cukup memikat. 

Selain dikelilingi asrinya persawahan juga dikelilingi oleh puncak - puncak perbukitan berpemandangan indah.

Di sebelah tenggara terdapat bukit tempat keberadaan candi Ijo, di sebelah timur laut terdapat puncak bukit Dawangsari tempat dimana candi Barong berdiri dengan megahnya disana dan di sebelah barat laut terdapat bukit Ratu Boko, bukit tempat candi Ratu Boko berdiri.


Trip Of Mine


Pandangan mataku kusebar ke segala penjuru sekali lagi sewaktu aku mulai melangkahkan kakiku menyeberangi jembatan kecil menuju ke bangunan loket, memang benar tak terlihat ada wisatawan satupun berlibur disana. Sepi.
Tapi dugaanku itu ternyata ..., keliru.

Dan itu jadi bumbu cerita pengalaman lucu tersendiri saat berlibur di candi Banyunibo.


Trip Of Mine
Tangga bilik candi utama


Kekagetanku berawal dari lokasi tangga candi utama yang kududuki dan kupilih sebagai spot foto pertama.
Tiba - tiba dari dalam bilik candi utama terdengar suara lengkingan tertawa bahagia suara seorang wanita dari dalam sana ... .

Reflek aku loncat kaget dan menoleh ke arah belakang, selanjutnya aku berdiri menaiki undakan anak tangga dan mencoba melongok ke bilik dalam candi, memastikan memang apa betul ada seseorang sedang berada di dalam sana atau tidaknya.

Pas mendekati pintu candi yang di bagian atasnya dihiasi relief Kalamakara, berbarengan muncul 2 orang dari dalam sana, 1 orang pria dan 1 orang wanita, keduanya muda usia ..., mereka keluar dari bilik candi sambil tersenyum senang. Si pria tampak membawa kamera mengajakku tersenyum ..., dan tiba - tiba pula ekspresi wajah tegangku berubah langsung mengendor legaaaa ..., kirain tuh betulan suara tertawa tadi itu suara misterius ..., atau suara hantu ..., wwwwkkk !.

Sepertinya dia di dalam bilik candi utama tertawa empuk renyah garing kayak kerupuk gitu, menertawakan dirinya sendiri saat difoto oleh si pria.
Dugaanku itu diperkuat setelah mereka berdua selalu tampak ketawa geli setelah melakukan pengambilan gambar di luar candi utama dan melihat hasil fotonya di layar kamera.
Owalaaaah ..., ono - ono wae, mbaak !.
Ha ha ha. 

Kekagetanku di candi Banyunibo ternyata tak berhenti sampai disitu saja, masih berlanjut. 
Atau terulang lagi.

Sewaktu giliranku memasuki bilik candi utamanya yang berukuran cukup luas dan di keempat sisinya dihiasi ventilasi berukuran kotak dan rendah ..., jadi dari balik ventilasi bagian dalamnya, bisa melongok pemandangan di sekitaran candi. Unik, ya ... , dan mengamati perlahan ukiran lengkungan relung yang diatasnya juga berhiaskan Kalamakara dan tanpa ada hiasan arca di dalam relungnya, juga sekilas kuperhatikan di tengah bilik terdapat beberapa batang hio tertancap menyala, menebarkan aroma wangi magis ..., tiba - tiba sapaan suara berat lelaki mengagetkanku muncul dari pintu bilik candi.


Trip Of Mine
Bilik dalam candi utama


Kutoleh, ohh ternyata petugas keamanan yang tadi kulihat sekilas berada di dekat ruang loket tiket. 
Lagi - lagi legaaaa ..., kirain hantu betulan kali ini ..., wwwkkk !.

Kebetulan dong rasanya, ada petugas keamanan ikut menemaniku di dalam bilik candi utama ..., eh# bukan berarti selama ini aku type penakut seorang diri berada di dalam bilik candi, yaaa ..., no way !.

Tapi adanya petugas keamanan yang sedang berpatroli memeriksa area candi dan kebetulan bersamaan dengan aku di dalam candi utama, itu artinya memudahkan aku 'mengorek' informasi unik yang ada dan setelahnya tak perlu repot - repot bertanya lagi nantinya mengenai informasi tambahan tentang candi Banyunibo sewaktu aku akan pulang.

Dan informasi dari petugas keamanan itulah, aku jadi tau jika candi Banyunibo ini secara rutin masih dipergunakan untuk keperluan beribadah dan seringkali dipergunakan oleh orang - orang tertentu, termasuk petinggi negara untuk melakukan tirakat.

Nama salah seorang pejabat yang namanya akhir - akhir ini santer terdengar di pemberitaan, disebutkan oleh petugas keamanan yang berpembawaan ramah itu.

Menarik disimak juga ceritanya, ya ..., tapi nama pejabat yang diceritakan petugas keamanan itu tak akan kusebutkan disini, karena kapasitasku disini hanyalah berlibur plus sibuk rempong mengumpulkan informasi sedetil mungkin di suatu lokasi wisata, kemudian setelahnya menuliskan cerita pengalaman berliburku.

Aku tuh bukan wartawan berita gosip, ha ha ha. 

Candi Banyunibo ini memiliki tampilan eksotik, memiliki bentuk atap yang terlihat sedikit berbeda dengan candi - candi Buddha lainnya, meskipun juga terdapat arca stupa diatasnya sebagai penanda jika candi ini adalah candi beraliran Buddha.
Dibawah stupa bagian atapnya terdapat lengkungan besar yang diduga oleh para arkeologi merupakan penggambaran dari bunga teratai.

Seperti kita tau, jika tumbuhan teratai dipercaya sebagai lambang kesucian umat Buddha.
Kemampuannya tumbuh subur dan berbunga indah diatas tanah berlumpur menandakan filosofis ajaran Buddhist.

Candi ini diketemukan kembali sudah dalam keadaan runtuh, tak lagi berdiri sempurna.
Kemudian candi mulai direstorasi pada tahun 1940 dan terselesaikan pada tahun 1978.


Trip Of Mine


Penamaan candinya dengan nama candi Banyunibo (Bahasa Jawa, Banyu : air, Nibo : jatuh, menetes)  yang memiliki arti ' Air yang jatuh menetes ', tidak diketahui asal mula penamaannya, sejak kapan dan dimulai dari kapan.

Atau mungkin juga dinamakan demikian karena ..., keberadaan letak lokasinya di dataran paling rendah dibandingkan dengan ketiga candi lainnya yang mengelilinginya dan ketiganya berada di puncak perbukitan ..., entahlah.

Yang pasti saat ini, ke 6 candi Perwara yang berderet di sisi sebelah selatan dan timur candi utama masih belum tersentuh restorasi pemugaran.


Trip Of Mine
Reruntuhan candi Perwara


Dan disana juga terdapat sembulan tembok batu kuno 'misterius'' terlihat membujur memanjang dari barat ke timur sepanjang sekitar 65 meter, diduga kuat tembok batu tersebut kemungkinan besar masih memanjang tertanam di dalam tanah hingga di luar pagar kawat berduri yang mengelilingi kompleks candi Banyunibo saat ini ... .


Lokasi :
Candi Banyunibo
Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
° Turis Lokal 5K
° Turis Mancanegara 10K
[Informasi tiket dan kondisi sewaktu -waktu dapat berubah]

Jam Operasional :
08. 00 - 16. 00







Sunday, May 5, 2019

Namanya Tetap Candi Bubrah, Meski Tak Lagi Bubrah

Candi Bubrah keberadaan lokasinya terletak diantara candi Sewu dan candi Lumbung. 

Merupakan candi Buddha yang terletak di dalam komplek taman wisata candi Prambanan. 

Meski berada dalam satu kompleks dengan candi Prambanan, secara administratif letak lokasi candi Bubrah, bukanlah berada di Daerah Istimewa Yogyakarta sama halnya dengan letak admistratif candi Prambanan.
Tetapi candi Bubrah (Bahasa Jawa = rusak, berantakan) berada di dusun Kelurak, desa Tlogo, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa - Tengah. 


Trip Of Mine
Tangga menuju bilik candi Bubrah


Nah, jadi tau, ya ..., kalau memasuki taman wisata candi Prambanan dengan tiket berbayar 40K untuk turis domestik dan 350K untuk turis mancanegara itu, tak hanya berkesempatan mengeksplore keindahan memesona candi Prambanan yang lekat dengan legenda cerita rakyat Tanah Jawa tentang Roro Jonggrang disana, tapi juga berkesempatan mengeksplore keeksotikan 3 candi lainnya = candi Sewu, candi Lumbung dan candi Bubrah. 

Candi Bubrah rangkaian candi terakhir yang kudatangi setelah menjelajahi ketiga candi lain sebelumnya.

Dari ketiga lokasi candi yang berada di dalam taman wisata candi Prambanan, sengaja kudatangi ketiganya dengan cara memilih tak ikut naik numpang duduk manis diantara beberapa pilihan sarana transportasi berbayar yang tersedia disana, begitu juga saat aku menuju ke candi Bubrah ini.
Tapi sengaja kupilih dengan cara berjalan kaki demi merasakan rekam jejak kehidupan masa silam yang pernah terjadi pada abad ke 8 ..., saat candi - candi mengagumkan arsitekturnya ini dibangun. 
Begitu ceritanyaaa ..., meski setelahnya, kaki terasa gempor heboh juga ..., wwwkkkk 😆.

Betewe anyway busway, sesampai di dekat halaman candi Bubrah yang dibatasi oleh pagar berteralis besi mengelilingi candi, aku ngga langsung memasuki pekarangannya dan mengeksplore ke seluruh bagian candi yang penyelesaian rekonstruksi ulang pada tahun 2017 silam dan menurut informasi yang kuperoleh menghabiskan dana pemugaran yang fantastis angkanya, sekitar 13 milyar.

Tapi memilih duduk anteng duduk di bedeng pos sederhana di sebelah pagar candi buat menghimpun ulang tenaga setelah berjalan kaki menyusuri jalanan taman ditemani panas teriknya sang mentari (ceileeeh  ..., gaya bahasaku iniii ..., romantis - romantis gimana getoooh ..., ha ha ha 😅) dan juga mengesplore ke semua bagian ketiga candi sebelumnya ..., candi Prambanan, candi Sewu dan candi Lumbung. 

Terasa capek juga berjalan kaki sejauh itu, say ..., sayuran maksudnya *lol* . Bayangin, menyusuri area seluas 39,8 hektar dan memasuki area candi satu persatu, terus ditambah cuaca panas saat itu rasanya ..., sesuatu banget, loh. Rasanya badan jadi meleleh. 
Loh ?, ..., lilin kaleeeee akh .., meleleh ha ha ha 😄.

Beruntung saja, didalam tas selempangku masih tersisa persediaan 1 botol cairan ion pengganti tubuh.
Lumayanlah, buat menyegarkan badan.

Tau gitu, tadi menyewa payung saja di halaman awal kedatangan di dekat area parkir dan di dekat area pembelian tiket. 
Sampai disitu, sambil masih duduk selonjoran kaki terselip penyesalan dalam hati dan merasa kasihan juga, kenapa tadi kuabaikan kejaran seorang ibu penyewa jasa payung menyodorkan ke aku untuk menyewa payung miliknya.
Eh, tapi ... , cowok siang - siang panas tanpa hujan turun, kok ..., payungan, ya ?. Akh, ngga apa - apa juga, keleees ;) .


Trip Of Mine


Dinamakan candi Bubrah oleh masyarakat setempat dikarenakan saat pertamakali diketemukan memang dalam keadaan nyaris rata dengan tanah, hanya berupa sisa pondasi candi, sebagian kaki candi dan bebatuan candi yang berserakan. 

Kerusakan itu semakin diperparah dengan penggunaan batu candi dan arca - arca yang berjumlah sangat banyak sebagai material pondasi benteng pertahanan pada saat terjadinya Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825 - 1830. 

Keberadaan candi Bubrah pertamakali diketemukan kembali oleh FC Lons, merupakan seorang utusan dari VOC saat beliau mengunjungi keraton Mataram yang kemudian dikenal dengan nama keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kemudian pada tahun 1807, H.C Cornelius membuat sketsa gambar candi Bubrah. 

Pemugaran candi Bubrah terselesaikan pada tahun 2017, setelah 4 tahun lamanya dilaksanakan pemugaran. 


Trip Of Mine


Candi Bubrah adalah candi Buddha dan diperkirakan dibangun semasa dengan candi Sewu dan candi Lumbung.
Dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran pada abad ke VIII. 

Dikisahkan, atas usulan dari ayahandanya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran pemimpin dari dinasti Syailendra ini awal mulanya adalah seorang pemeluk agama Hindu kemudian berganti keyakinan menjadi seorang Buddhist.
Ia sangat taat dalam menjalankan ajaran agama Buddha dan banyak mendirikan candi - candi untuk pemujaan, termasuk mendirikan candi Sewu.

Namun sayangnya, sebelum bangunan - bangunan suci dengan tehnik arsitektur mengagumkan itu rampung pengerjaannya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran telah wafat.
Peresmian candi Bubrah dilanjutkan oleh penggantinya, Rakai Panaraban. 

Candi Bubrah dibangun sebagai simbolisasi pengabungan 2 konsep mandala, Vajradatu mandala dan Barbhadhatu mandala.
Dalam kepercayaan Hindu, kedua konsep mandala itu dikenal dengan Lingga dan Yoni, merupakan lambang penyatuan kesempurnaan alam semesta. 


Trip Of Mine
Arca Lingga Yoni yang tak lagi utuh bentuknya.
Kok, unik juga, ya ..., ada arca Lingga Yoni di candi Buddha.


Meski sekarang ini candi Bubrah telah berdiri utuh, cantik kembali seperti bentuk awalnya ..., tak lagi bubrah rusak berantakan ..., namanya tetap dipertahankan seperti saat penemuannya kembali, candi Bubrah. 

Sekeluarku dari area candi Bubrah, setelah mengelilingi dan memasuki bilik candi tunggal dan menghadap ke arah timur ini, kulihat lagi seorang petugas keamanan sedang berpatroli melintas mengendarai motornya di jalan beraspal di tengah taman berpohonan cukup rindang.

Trip Of Mine
Candi cantik yang tak lagi bubrah


Dasarnya orang Jawa tuh, ya ..., ramah - ramah, meski ngga saling mengenal sebelumnya, hampir sebagian besar dari mereka, pasti disempatkan melempar senyum disertai anggukan jika bertemu dengan siapapun.
Begitupun petugas berusia matang itu saat berpapasan denganku yang mulai tampak kucel kelelahan, menebarkan senyumnya sambil terus melanjutkan melajukan motornya, tanpa mampu dia membaca raut wajah kelelahanku dan tiada peduli dengan diriku.
*lol*

Rasanya saat itu juga, pengin kulambaikan tangan ngasi kode ke dia untuk diperbolehkan ikut nebeng mbonceng motornya, ya setidaknya sampai di batas pintu teralis besi berputar sana, tempat pintu keluar area candi taman wisata candi Prambanan yang letaknya masih cukup jauh juga ditempuh dari lokasi candi Bubrah begitu.
Tapi kubatalkan.

Tetiba, terlintas khayalan di pikiran, takutnya petugas keamanan itu nyeletuk,
"Heyyy ..., nebeng ?, ngga salah ... ?. Emang gue ..., t. o. p ..., tukang ojek pengkolan, getooooh ... ".
Wwwwkkkk 😂!. 


Lokasi :
Candi Bubrah
Dusun Kelurak, Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa - Tengah

Tiket :
Karena berada dalam satu kawasan wisata candi Prambanan, tiket masuk berikut tiket kunjungan untuk ke candi Bubrah.
• Wisatawan lokal, Dewasa 40K, Anak - anak 20K
• Wisatawan Mancanegara 350K
[Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah]

Jam Operasional :
06. 00 - 17. 00





Wednesday, April 24, 2019

Candi Lumbung, Candi Buddha Terkecil di Kawasan Prambanan

Terdiri dari 17 bangunan candi dalam satu kompleks yang juga merupakan bagian dari kelompok Situs Cagar Budaya Warisan Dunia atau The World Cultural of Heritage UNESCO candi Prambanan, candi Lumbung yang memiliki kesamaan nama, tapi berbeda aliran kepercayaan dengan candi Lumbung di Magelang ini ..., adalah lokasi candi yang kudatangi selanjutnya.


Trip Of Mine


Kulakukan setelah mengeksplore keindahan candi Sewu dan punya pengalaman berkesan dengan 2 turis asal Spanyol disana 😁 .

Memang, setelah aku mengeksplore keindahan rumitnya detil relief candi Prambanan ..., seperti yang kuceritakan dalam artikel sebelumnya tentang Candi Sewu, lokasi candi Sewu adalah lokasi candi terjauh yang berada di dalam area taman wisata candi Prambanan yang kudatangi setelahnya, kemudian disusul dengan letak lokasi candi Bubrah dan candi Lumbung pada arah rute jalur kepulangan wisatawan yang kudatangi berikutnya dan kuceritakan di artikel ini.

Sengaja kupilih rute kunjungan ke lokasi candi - candi yang berada di dalam area taman wisata candi Prambanan seperti itu rutenya, agar nantinya setelah mengeskplore kesemua lokasi candinya, rute dan jarak tempuh kepulangan lebih dekat dengan jalur kepulangan melewati pintu palang besi berukuran tinggi memutar, hanya memuat 1 pengunjung dan berakhir di los area berkumpulnya para pedagang souvenir. 

Lagi - lagi pelit ..., kupilih dengan cara berjalan kaki atau napak tilas menuju ke arah letak lokasi candi Lumbung yang diperkirakan dibangun pada abad ke IX dan jaraknya terpisah cukup jauh dengan letak lokasi keberadaan candi Sewu.

Tak ikut nebeng menggunakan sarana transportasi berbayar sepur mini atau mobil dalam bentuk rangkaian kereta, ataupun juga memilih menggunakan sarana transportasi pilihan lainnya, agar aku dapat merasakan langsung bagaimana suasana tempoe doloe saat berlangsungnya kegiatan yang pernah terjadi di area seluas 39, 8 hektar ini.

Meski untuk itu, memang perlu dipersiapkan stamina cukup baik untuk melewati rute jalur dari satu lokasi candi ke candi lainnya.
Beruntungnya persediaan minuman pengganti cairan tubuh yang telah kupersiapkan sebelumnya masih tersisa satu botol dalam tas perbekalanku.

Cukup rindangnya pepohonan yang tertanam rapi di taman dan melewati jalan beraspal mulus, rasanya tak mempan mengurangi panasnya teriknya sengatan sinar matahari di satu siang hari itu. 

Trip Of Mine
Jalur rute taman yang berada di dalam kawasan wisata candi Prambanan


Kalo tubuh sama sekali ngga diasupi seteguk air minum untuk menempuh jarak jauh seperti itu kan bisa - bisa tubuh terasa lemas lunglai, kayak cintamu padaku lunglai melempem, kandas pingsan terdampar ..., wwwwkkk, eh# 😅
*curhat terselubung*

Tapi memang, di sepanjang jalur dari candi Sewu ke candi Lumbung, juga di sekitaran area kedua candi ini, tak ada satupun tempat kuliner tersedia dan juga terdapat larangan tegas siapapun pedagang asongan tidak diperkenankan untuk berjualan disekitaran sana.

Duh, tetiba saat itu aku kok jadi feeling luckyly, merasa beruntung banget gitu ..., aku bawa camilan dan perbekalan air minum didalam tas selempangku.

Eh, iya merk kemasan botol cairan pengganti ion tubuh yang menemaniku melawan lelahnya perjalanan ke candi Lumbung itu ngga kusebutkan namanya, ya ..., soalnya bukan diendorse wwwkkk ... . 

Memiliki nama candi yang sama, candi Lumbung di kabupaten Magelang dan candi Lumbung di kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki perbedaan struktur bentuk bangunan candi dan aliran kepercayaan berbeda antar keduanya. 

Baca juga : https://www.tripofmine.com/2018/09/menjelajah-ke-lokasi-3-serangkai-candi.html



Jika candi Lumbung di kabupaten Magelang, karena suatu alasan berada di satu wilayah maka selanjutnya disebut dengan candi Lumbung Sengi, merupakan candi Hindu peninggalan dari dinasti Sanjaya, lain halnya candi Lumbung di kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan candi Buddha dan dibangun oleh raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya.


Trip Of Mine
Deretan candi Perwara candi Lumbung


Keterangan yang menyebutkan candi Lumbung dibangun atas titah perintah raja Indra dan memiliki keterkaitan dengan pendirian candi Sewu, tercantum dalam prasasti Kelurak yang kini keberadaannya tersimpan rapi di Museum Nasional Jakarta. 

Sepi. 
Tak terlihat satupun wisatawan terlihat berada di dalam area candi Lumbung seluas 545, 3 meter persegi saat aku tiba berada disana.
Hanya tampak 2 petugas keamanan yang terlihat tampak sedang beristirahat berada di bangunan bedeng kayu sederhana terletak diluar batas pagar besi.


Trip Of Mine


Tak kumasuki ke bilik candi 5 candi Perwara yang tersisa masih terlihat berdiri utuh, dari ke 12 candi Perwara lainnya yang berada mengelilingi candi utama dan mengalami kerusakan menyisakan reruntuhan akibat terjadinya bencana gempa besar pada tahun 2006 silam.

Bukan karena alasan merasa takut, ya ..., atau juga merasakan adanya aura gaib.
Tapiii ..., akibat tercium kuat tajamnya aroma kapur barus yang diletakkan di dalam bilik candi Perwara dan berfungsi menghindari struktur candi dari kelembaban ruangan. 
Kepalaku mendadak pusing mencium aroma kapur barus sangat kuat ..., ha ha ha.

Jujur, dari sekian banyak lokasi candi yang telah kueksplore, baru di candi Lumbung kali inilah kutemui penggunaan kapur barus untuk menghindari kerusakan. 

Batal kumasuki bilik candi - candi Perwara, kumasuki bangunan candi utama yang terletak berada di tengah pelataran dan menghadap ke arah timur. 


Trip Of Mine
Candi utama candi Lumbung


Candi utama sudah tak lagi sempurna bentuknya, bagian atap candi Lumbung utama telah tak ada lagi. 


Trip Of Mine
Bagian atap candi utamanya sudah tak ada lagi

Bagian luar dinding dikeempat sisinya dihiasi relief Kuwera dan Hariti yang memiliki seukuran asli dengan tubuh manusia.
Dibagian dalam candi utama, terdapat sejumlah relung berbentuk stupa ..., terlihat sangat unik untuk latar belakang berfoto. 

Candi Lumbung dibangun pada abad IX dan dibangun pada satu periode dengan pembangunan candi Sewu. 
Hanya saja, sampai sekarang belum diketahui secara pasti apakah candi Lumbung ini dibangun sebelum atau setelah Sri Maharaja Rakai Panangkaran wafat.  

Menurut keterangan prasasti Kelurak, candi Lumbung dibangun untuk pendirian Kirtistambha untuk penghormatan kepada dewa Manjusri. 

Area candi Lumbung ini merupakan area candi terkecil diantara ke 3 candi lainnya yang berada di dalam kawasan taman wisata candi Prambanan. 


Trip Of Mine
Relung - relung berbentuk stupa, indah bentuknya


Setelah menjelajahi area candi Lumbung selesai kulakukan, tampak samar - samar dari kejauhan tertutup rindangnya pepohonan besar keberadaan candi Bubrah menanti untuk kudatangi selanjutnya ... .


Lokasi :
Candi Lumbung
Candi, Nngangrukbaru, Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
Karena berada dalam satu kawasan wisata candi Prambanan, tiket masuk berikut tiket kunjungan untuk ke candi Lumbung.
▪ Wisatawan Lokal : Dewasa 40K, Anak - anak 20K
▪ Wisatawan Mancanegara 350K
[Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah] 

Jam operasional :
06. 00 - 17. 00



Sunday, April 14, 2019

Candi Sewu : Candi Buddha Terbesar Kedua di Indonesia

Kompleks candi Sewu adalah kompleks percandian Buddha, merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah candi Borobudur di Magelang. 
Candi Sewu terletak berada di sebelah utara candi Prambanan, candi Hindu terbesar se - Asia Tenggara. 
Tepatnya terletak berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa - Tengah. 

Menurut informasi data letak geografisnya yang kuperoleh, letak candi Sewu berada di Kabupaten Klaten. 
Tapi setelah kucoba googling via peta digital, lokasi candi yang keempat sisi pintu masuk pelatarannya dihiasi 4 pasang arca Dwarapala sangat indah untuk lokasi berfoto itu, hasil layar laporan pencarian data lokasi menunjukkan jika lokasi candi Sewu letaknya berada di dalam kompleks area taman wisata candi Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta.  

Lah, piye kuy ..., berada di propinsi Jawa - Tengah atau di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ?.

Hal inilah yang sempat membuatku kebingungan menentukan arah saat berada di dekat lokasi area candi Prambanan, akan melanjutkan arah perjalanan kemanakah terlebih dahulu.
Akan ke candi Prambanan dulukah, atau ..., datang ke candi Sewu terlebih dahulu. 

Setelah memperkirakan waktu dengan melihat letak lokasi jarak tempuh saat aku berada berdiri di tepi jalan sambil melihat layar google map, kuputuskan datang ke candi Prambanan terlebih dahulu saja. 
Toh, semisal tak cukup waktu setelah dari candi Prambanan nantinya, candi Sewu bisa kudatangi di lain hari dan waktu.
Begitu, pikirku saat itu.
Tapi siapa nyana, ternyata ... 


Aku : "Mbak, kalau lokasi candi Sewu itu sebetulnya berada dimana dan beli tiketnya dimana, sih ?".

Tanyaku ke salah satu petugas loket candi Prambanan saat pembelian tiket di konter tiket berlapis dinding kaca tebal, kemudian dijawab melalui kotak pengeras suara berukuran kecil dan diletakkan didepan tiap loket tiket.


Petugas : "Candi Sewu berada di dalam kompleks candi Prambanan, mas. Dan tiket masuknya, berikut tiket masuk kunjungan ke candi Prambanan".

Ohh, dijelaskan begitu, senang dong pastinya, yaaa ... .

Rasanya pengin teriak saat itu juga saking senangnya di depan kotak pengeras suara yang berada di depanku, tapi kuurungkan, takut dikira gila. 

Ternyata ..., lokasi candi Sewu yang kucari -cari dan kuidamkan sudah cukup lama untuk  berlibur disana itu letaknya berada di perbatasan antara propinsi Jawa Tengah dan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan terletak berada di dalam kompleks taman wisata candi Prambanan.

Karena memang keindahan arsitektur candi Sewu memang sangat indah diamati dari dekat dan tujuanku kesana itu adalah untuk berlibur juga sekalian ... , pssst ..., apalagi sih kalau bukan buaat ..., berfoto - foto di tengah pelataran diapit 2 patung kembar Dwarapala.
Ha ha ha ..., dasar travel blogger ter-photomodel !.

Sampai disini, aku langsung teringat komentar dari teman blogger, kak Reyne Raea admin Sharing By Rey di salah satu artikelku tentang cara pose - pose berfotoku buat pelengkap artikel yang dianggap tidak berpose foto biasa, tidak terkesan berpose ala kadarnya ..., begitu katanya 😅.  

Mengikuti papan petunjuk arah, perjalanan ke arah lokasi candi Sewu berada kulakukan seorang diri, cukup ditemani lagu dari Maroon 5, Don't Wanna Know yang kuperdengarkan melalui headset dan kuputar secara berulang ..., ya buat nambah penyemangat gitu he he he ..., setelah sebelumnya mengamati dari dekat koleksi temuan sejumlah artefak yang dipertontonkan di museum Arkeologi. 

Memang sengaja kulakukan memilih dengan cara berjalan kaki mendatangi area lokasi candi satu ke lokasi candi lainnya, tak memilih menggunakan sarana beberapa fasilitas transportasi berbayar yang tersedia disana, seperti mobil golf dan rangkaian kereta mobil.
Bukan pelit loh, ya ..., memilih kulakukan dengan cara menapak tilas berjalan kaki agar bisa ikut merasakan langsung atmosfer kegiatan masa silam yang pernah terjadi disana.

Lokasi candi Sewu yang diperkirakan dibangun pada abad VIII oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran, raja ketiga kerajaan Mataram Kuno dari dinasti Syailendra beragama Buddha, kemudian penyelesaian pembangunan candinya disempurnakan oleh Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya beragama Hindu, setelah terjadinya pernikahan salah satu putri dari dinasti Syailendra bernama Pramodhwardhani dinikahi oleh salah seorang pangeran dari dinasti Sanjaya ini menempati lokasi candi terjauh dari area taman wisata candi Prambanan seluas 39, 8 hektar. 

Dan lokasi candi Sewu inilah yang sengaja kupilih kudatangi terlebih dahulu, sebelum nantinya kudatangi 2 candi lainnya, candi Bubrah dan candi Lumbung. 

Saat aku sibuk mempersiapkan mengatur tripod dan menyetting penanda waktu di kamera berada di salah satu pintu masuk pelataran candi Sewu yang dihiasi sepasang arca Dwarapala yang saling berhadapan setinggi 2, 3 meter dalam posisi satu kaki berlutut, kaki kanannya ditekuk dan satu tangannya memegang gada ..., sepasang turis mancanegara yang tadi kulihat sekilas berjalan tak begitu jauh berada dibelakangku menuju ke arah candi Sewu juga, tiba - tiba mengajakku berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris terbatas. 
Kudengar dari pembicaraan mereka berdua sebelumnya, mereka berkomunikasi dengan bahasa Spanish. 

Si cewek terlihat masih belia dan berparas wajah cantik itu bilang "Can you ... ", sambil menunjuk ke ponselnya memperagakan pengambilan gambar dan dilanjutkan jarinya diarahkan ke dirinya dan teman cowoknya. 
Aku langsung paham apa yang dia maksudkan, minta tolong untuk difotokan mereka berdua di lokasi yang sama jadi lokasi incaranku, berfoto di apit sepasang arca Dwarapala dan berlatar belakang candi utama ..., dan langsung sigap kujawab "Sure, i will".

Mereka berdua langsung tersenyum sumringah dengan mata berbinar dan mereka berdua langsung ambil ancang - ancang berpose aksi di depan kamera iphonenya. 
Sementara aku dengan penuh percaya dirinya melakukan aksi gaya bak photographer profesional ala - ala ....
One, two, three ..., yups!.
Ha ha ha.

Dalam beberapakali bidikanku, mereka berdua terlihat luwes bergaya dan tak canggung berpose mesra di depan kamera ..., sementara aku mengintip dari balik layar iphonenya sempat membatin dalam hati "Oh, mereka berdua pasangan serasi, sama - sama good looking, pinter bergaya pula keduanya".
Daaaan disaat itu juga ..., aku tiba - tiba baru sadar kalau aku ternyata ..., jomblo wwwkkk.

Setelah mereka selesai kubantu pengambilan gambarnya,  si cowok bermata hazel itu mengajakku berbicara dan mencoba menawarkan dirinya untuk gantian memotretku dalam percakapan bahasa Inggris yang juga terbata - bata, "Do you want .. ", sambil tangannya memperagakan adegan memotret.
Ditawari balik begitu, langsung saja penuh semangat kuiyakan tawarannya, "Sure, i want. If you don't mind" sambil kuserahkan kameraku.

Ya, jauh dari kata lumayan, kan ..., ada yang bantuin motretin gituu .., ha ha ha. 
Daripada ribet bolak - balik sendirian mengatur timer ulang kamera dan balik lagi kembali berdiri bersiap berpose foto ulang di lokasi yang diinginkan ..., oh, cap cay  juga deh.

Tapi bukanlah si cowok bule tampan itu yang memotretku dari kameraku, tapi si cewek langsung mendatangiku sambil tersenyum mengambil kameraku yang sudah berada ditangan si cowok ..., entah maksudnya apa ha ha ha ... , dan bersiap membidik poseku.
Selanjutnya, dalam beberapakali bidikan kamera, aku berpose dengan percaya diri di depan mereka berdua.


Trip Of Mine
Arsitektur candi Sewu, mengagumkan


Sampai di bidikan terakhir, si cewek berambut dark brown itu tiba - tiba nyeletuk kata "Perfect" ..., sambil mengarah ke arahku dan mengembalikan kameraku.
Kaget pastinya, dong ..., kata perfect diucapkan begitu.

Dalam hati kubilang,  "Akh, bule ini bisaan saja deh bilang begitu ..., kan mereka berdua jauh lebih keren dan juga pintar berpose dibanding aku. Kayak gini kok, dibilang perfect".

Kulihat sekilas fotoku yang dia sebutkan seperti itu sih memang iya, komposisi sudut pengambilan gambarnya memang terlihat pas.
Tapi kok rada gelap gitu hasil fotonya, ya ..., itu pasti karena akibat efek pantulan teriknya panas sinar matahari di lokasi.
Yo wis ndak apa - apa, nantinya juga bisa diedit. Begitu ucapku menghibur hati saat itu. 

Mungkin buat sebagian orang akan bertanya, bagaimana mungkin ekspresiku di foto itu bisa terlihat serileks mungkin seperti itu padahal dibidik kamera oleh orang mendadak baru saja berkenalan ..., biasanya ekspresi seseorang akan terlihat canggung di hasil gambar fotonya jika difoto oleh orang yang baru saja dikenalnya.

Aku punya trik jitu tersendiri cara menyiasatinya ..., saat pengambilan gambar berlangsung di depan candi Sewu itu, aku mengingat kata -kata komentar lucu yang pernah ditulis oleh ..., Kang Nata  ... .
Ha ha ha 😂 !.
Gaya celetukan humor yang selalu dia tulis di kolom komentar blogku itu, selalu sanggup membuatku refleks tertawa ngakak saat membacanya.

Secara pribadi, aku tak mengenal betul siapakah sebenarnya sosok dibalik foto aktor Mandarin Jet Lee dan blogger senior si pemilik blog https://www.asikpedia.com/ asal Sumatera Selatan itu. 
Dan sampai sekarang, sebenarnya aku masih dibuat penasaran dengan wajah asli Kang Nata gimana wajah aslinya.
Atau jangan ~ jangaaan ..., apa wajah asli Kang Nata itu malah jauh lebih ketje dibandingkan dengan wajah aktor laga yang namanya mendunia itu, ya.

Uniknya, meski aku tak mengenal banyak siapakah sebenarnya itu sosok Kang Nata, bahkan nomor kontaknya pun aku tak punya ..., blogku ini pernah diulas oleh beliau.

Dan tetap dengan ciri khas gaya kepenulisan yang ia punya, sosokku dan blogku diulas dengan gaya bahasanya yang santai, segar dan kocak.
Seger gitu bacanya he he he.
Terimakasih ya untuk itu, Kang Nata.
Sebagai apresiasinya ..., siniiii aku cubit .. . !.
Loh ?, wwwkk !.

Setelah acara gantian saling bantu berfoto selesai, kami saling mengucapkan terimakasih dan mengucapkan salam perpisahan. 
Sudah sampai disitu saja, pertemuanku dengan 2 turis mancanegara menyenangkan itu ..., berfoto bareng dengan mereka berduapun tak kulakukan.


Trip Of Mine


Selebihnya kami berpisah berbeda arah memasuki halaman pelataran dalam candi Sewu. 
Setelah itu mereka tak terlihat lagi berada di area mana, terhalang oleh pemandangan tingginya bangunan candi utama dan reruntuhan candi Perwara akibat gempa yang terjadi pada tahun 2006 lalu.

Candi utama terletak berada di tengah halaman menghadap ke arah timur, memiliki ketinggian 30 meter, memiliki 1 pintu utama dengan tambahan 3 pintu lainnya ini, jadi arah tujuanku selanjutnya. 
Kumasuki bilik utama yang dinding dalamnya tertutup rapat oleh tebalnya sekat batu, memisahkan 3 bilik lainnya yang saling berhubungan. 


Trip Of Mine
Salah satu pintu dari ketiga bilik pintu lain yang saling berhubungan di candi utama 

Tak banyak yang bisa kuceritakan saat berada di dalam bilik candi utama Candi Sewu yang telah masuk ke dalam rangkaian The World Of Heritage atau Situs Warisan Budaya Dunia nomor 642 oleh UNESCO ini, karena ruang bilik dalam hanyalah berupa bilik kosong, tak ada satupun arca terlihat berada di dalam sana. 

Menurut informasi yang kuperoleh, dahulu kala di dalam bilik candi utama terdapat arca Buddha Boddhisatva Manjusri, namun arca setinggi empat meter itu kini hilang, entah dimana keberadaannya. 
Kini hanya menyisakan pondasi batu berukirkan daun teratai di tengah bilik. 


Trip Of Mine



Nama candi Sewu [Bahasa Jawa, Sewu : Seribu] diperkirakan muncul bersamaan waktu dengan munculnya kisah legenda Roro Jonggrang versi Mataram Islam. 

Dinamakan demikian bukanlah berarti benar bahwa di areanya terdapat seribu candi, melainkan sebagai pengggambaran banyaknya jumlah candi yang berada disana.


Trip Of Mine


Jumlah keseluruhan candi Sewu terdiri dari 1 candi utama, 8 candi Apit dan 240 candi Perwara. 
Mengenai informasi tentang kapan candi Sewu dibangun diketahui dari penemuan prasasti Manjusrigrha 792 M yang diketemukan di tahun 1960 di dekat candi Perwara.


Trip Of Mine


Selain memiliki keunikan dijaga oleh 4 pasang arca Dwarapala di keempat penjuru pintu masuk, ada fakta keunikan luar biasa lainnya yang dimiliki Candi Sewu ... .

Tepatnya terlihat berada di bagian atap stupa candi utama, berupa sesosok wajah seorang biksu berukuran sangat besar lengkap dengan kumis dan jenggotnya panjang menjuntai.

Penemuan keunikan yang bisa dikatakan sangat misterius dan fenomenal itu terjadi saat candi Sewu disorot lampu pada acara malam penganugerahan Festival Film Dokumenter yang diadakan disana pada tahun 2014 lalu. 


Trip Of Mine

Dalam kesehariannya, candi Sewu tidak disorot oleh penerangan lampu di malam hari dan pada saat siang hari sesosok wajah tersebut tidaklah terlihat.


Perhatikan sosok wajah di bagian atap stupa candi utama.
Sumber foto : BPCP Jateng


Seperti yang dilansir oleh https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/misteri-di-dinding-candi-sewu/ dijelaskan, penemuan adanya sesosok wajah di atap candi utama itu setelah seorang staff Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa - Tengah mendokumentasikan acara tersebut menggunakan kamera DSLR dan hasil dokumentasi foto tersebut adalah murni, bukan rekayasa.

Dalam artikel tersebut dijelaskan, apakah penampakan sosok seraut wajah biksu yang tertangkap di foto hanyalah suatu kebetulan belaka atau memang dibuat pada jaman dahulu dengan tehnik luar biasa mengagumkan ... .
Menurut kalian ?.



Lokasi :
Candi Sewu
Jalan Raya Solo - Yogyakarta KM. 16
Dukuh Bener, Bugisan, Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa - Tengah

Tiket :
Karena berada dalam satu kawasan wisata candi Prambanan, tiket masuk berikut tiket kunjungan untuk ke candi Sewu.
▪ Wisatawan Lokal : Dewasa 40K, Anak udia 3 - 10 tahun 20K
▪ Wisatawan Mancanegara 350K
[Info harga tiket sewaktu-waktu dapat berubah]

Jam operasional :
06. 00 - 17. 00