Thursday, March 14, 2019

Epik Eksotiknya Gunung Bagus Paliyan

Setiba di persimpangan jalan depan Taman Desa Giring berhiaskan patung sosok lelaki duduk bersila berpakaian traditional khas Jawa - Tengah lengkap dengan blangkon menghiasi penutup kepalanya ..., sebenarnya instingku sudah mengatakan, jika belokan arah yang benar ke Gunung Bagus di desa Giring, kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul adalah belokan jalan ke arah kiri. 
Terbukti secara refleks tanganku mengemudikan stir kendaraan ke arah kiri.

Tapi setelah beberapa meter melaju, mendadak aku teringat petunjuk arah yang kami peroleh dari pemilik toserba mini, tempat kami memilih membeli camilan dan minuman ion pengganti cairan tubuh sambil beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan berliku dan menikung dengan jarak waktu sekitar 2, 5 jam dari Tugu, pusat kota Yogyakarta melewati rute jalan Wonosari - Bukit Bintang Pathuk - Bundaran Siyono Wonosari - Jalan Kyai Legi - Jalan Ki Ageng Giring - perempatan Wereng menuju ke arah kanan Jalan Wonosari Paliyan. 
Pemilik toserba menyebutkan rute ke arah Paliyan adalah rute berbelok ke arah kanan di pertigaan Taman Desa Giring, seperti instingku yang mengatakan rute yang benar adalah ke arah kiri, kemudian sesuai petunjuknya berbelok ke arah kiri masuk melewati jalan desa, jembatan dan persawahan.

Memang sih, ketemu pemandangan jejeran perbukitan di depan mata, tapi kok bentuknya bukanlah seperti gundukan tanah di Bukit Warinding di Sumbawa, Nusa Tenggara Timur sana yang keeksotikan bentuknya ramai banyak diperbincangkan orang.
Pasti ini salah !, dugaanku langsung mengatakan begitu.
Langsung saja kuhentikan laju kendaraanku di tepi jalan desa dan diseberang sana terlihat 3 petani pria sepertinya sedang melepas penat setelah beraktivitas di sawah.


" Maaf, numpang tanya, pak. Paliyan itu dimana, ya ? "

Salah satu dari ketiga bapak petani menjawab dengan ramah.

" Nah, ini Paliyan, mas. Dari sini sampai kesana ke bukit di depan sana itu Paliyan. Memang mas mau kemana ? "
" Tapi itu loh, pak ..., bentuk gunungnya yang berupa gundukan begini ..., begini  "

Jawabku sambil memperagakan tangan membentuk 2 gundukan seperti bukit. 
Belum sempat ketiga bapak petani menjawab pertanyaanku, seorang ibu paruh baya yang menyunggi tumpukan jerami kering diatas kepalanya muncul dari jalur pematang sawah, rupanya si ibu itu mendengar apa yang sedang kami bicarakan.
" Oh,itu looh ..., lokasi yang dicari mas ini pasti gunung Bagus. Yang bentuk gunungnya seperti gundukan - gundukan bukit seperti bukit di film teletubbies dan bagus buat foto - foto itu, kaan ? "

Nerocosnya sambil tersenyum sumringah memamerkan deretan giginya yang masih tersusun rapi. Dalam hati terselip rasa kagum juga melihat ketangguhan fisiknya masih mampu menyunggi tumpukan jerami sebanyak itu.
Mendengar nama gunung Bagus disebut, aku langsung teringat jika nama gunung yang kucari lokasinya adalah bukan Paliyan dan spontan aku membalas perkataannya ... .
" Ohh ..., itu dia bu, pak gunung yang saya cari. Gunung Bagus "

Salah satu bapak petani berbadan atletis bertelanjang dada lantas berdiri memberikan pengarahan arah rute yang benar.


" Itu namanya gunung Bagus, mas. Masih jauh ditempuh dari sini. Kalian kembali melewati jembatan besar, ada polsek di sebelah kiri di dekat persimpangan jalan lurus saja, jangan berbelok. Kemudian diseberangnya ada taman, namanya Taman Desa Giring ambil lurus saja. Dari sini sampai tiba di depan Taman Desa Giring kira - kira masih 6 kilometer, terus untuk tiba di gunung Bagus dari situ masih sekitar 3 kilo lagi "

Dijelaskan begitu, dalam hati spontan aku berucap " Wouw, aku telah kesasar arah sejauh sekitar  9 kilometer dari sini !".

Setelah berpamitan, perjalanan rute kembali kuarahkan berbalik arah melewati jalan kedatangan semula untuk kembali tiba di depan persimpangan jalan di depan Taman Desa Giring ditemani matahari bersinar terik diatas kepala kami. 
Percakapanku dengan para petani sebenarnya kuawali dengan menggunakan bahasa Jawa kromo, bukan untuk gegayaan seolah aku fasih benar menggunakannya tapi setidaknya untuk melatih kepandaianku menggunakan bahasa Jawa halus, tapi perkataan selanjutnya aku gelagapan mengutarakan pertanyaan menggunakan bahasa Jawa kromo ..., beruntungnya si bapak paham aku terlihat gugup bicara bahasa Jawa kromo sepenuhnya dengan mencampuradukkan bahasa Jawa kromo disertai bahasa Indonesia dan tiba - tiba percakapan selanjutnya bapak itu menggunakan bahasa Indonesia ha ha ha ... , sebetulnya aku malu kalau teringat itu. 

Memang selama ini, aku hanya mengerti nama lokasi keberadaan bentuk gunung mirip dengan setting gundukan tanah hijau lokasi film anak - anak Teletubbies dan memiliki pemandangan nyaris mirip serupa dengan bukit Warinding di Nusa Tenggara Timur itu, hanyalah Paliyan. Tanpa mengerti nama sebenarnya gunung photogenic itu adalah gunung Bagus.
Padahal ternyata cakupan wilayah kecamatan Paliyan itu cukup luas, pantas saja kalau jadi kesasar he he he ... . 

Setiba kembali di depan lokasi Taman Desa Giring dan bersebelahan dengan balai desa sengaja kufoto lokasinya sebagai penanda dan panduan rute yang benar ke arah gunung Bagus dari arah kedatangan kota Yogyakarta. 
Perjalanan kulanjutkan kembali setelahnya sejauh sekitar 3 kilometer melewati jalan desa beraspal mulus dan rindang tertutup jejeran dedaunan lebar pohon jati di sepanjang kiri dan kanan jalan. 


Trip Of Mine

Ini benar photogenic !. 
Gumamku setelah mulai terlihat bukaan pemandangan bentangan dan lekukan gundukan demi gundukan tanah karst berada di kanan kiri jalan membelah badan gunung Bagus.
Tampilan menakjubkan pemandangan alam ladang perkebunan jagung hibrida menggantikan lahan perkebunan pohon jati setelah ditebang seluas 132 hektar milik Dinas Kehutanan DIY ini membuat kami berdecak kagum akan keindahannya dan membuat kami penasaran untuk melintasi jalan rayanya yang berkelok naik turun dari ujung ke ujung batas desa. 


Trip Of Mine

Masa musim penghujan dengan curah hujan yang singkat di daerah Gunung Kidul membuat sebagian tampilan permukaan tanah terlihat cokelat mengering, deretan batang pepohonan jagung siap panen dan batang pohon sisa panen berwarna kuning keemasan yang masih berdiri tegak di tanah dan sebagian lagi area gundukan terlihat belukar menghijau ... , sungguh kesemua itu membuat pemandangan bentangan deretan gundukan - gundukan gunung Bagus terlihat semakin eksotik. 


Trip Of Mine

Setelah menyusuri jalan raya di tengah badan gunung Bagus yang merupakan jalur alternatif menuju ke pantai Baron sejauh 13 kilometer, kami memilih beristirahat makan siang menikmati sajian menu lothek di sebuah warung sederhana di tepi jalan sembari melihat pemandangan aktivitas petani jagung diladangnya dan sambil menunggu waktu mendekati sore hari seperti yang kami agendakan ..., berburu foto ditemani sinar matahari sore. 



Trip Of Mine

Pukul 15. 00 seperti yang sudah direncanakan berburu dokumentasi foto kenangan liburan di gunung Bagus disertai efek sinar matahari menjelang senja, kami lakukan. 
Terbukti pantulan sinar matahari pagi ataupun sore hari menciptakan obyek foto ikut memperindah tampilan gambar. 
Beruntungnya, sepanjang waktu di hari itu cuaca berlangsung cerah saat pengambilan gambar dari spot satu berpindah ke spot lainnya, meski bunyi geludug sekali terdengar cukup kencang. 
Dan melihat semua hasil bidikan kamera di lokasi gunung Bagus kecamatan Paliyan ini, aku sangat senang. 
Property kain tenun etnik traditional yang kukenakan untuk pelengkap berfoto sekaligus ikut mempopulerkan khasanah kekayaan kain Indonesia ikut berkibar - kibar tertiup kencangnya angin saat itu ... , seolah menyatu dengan pemandangan alam epik eksotik gunung Bagus. 


Trip Of Mine

Hampir dikesemua lansekap area pemandangan gunung Bagus terlihat photogenic, tak terkecuali di beberapa jalan setapak pedesaan, masuk jauh dari jalan raya beraspal ditengah badan gunung. Ini kubuktikan dari hunting lokasi berburu fotografi ... , lansekap keindahannya tak hanya terlihat berada di tepi jalan dan naik mendaki ke salah satu gundukan tanah, kemudian berfoto dengan menaiki undakan anak tangga spot gardu pandang juga difungsikan sebagai lokasi berfoto terbuat dari susunan potongan kayu. 


Trip Of Mine

Kuperhatikan ada satu jalan setapak menuju ke sebuah perkampungan pemandangannya hampir mirip dengan pemandangan jalan menurun di hutan pohon pinus Kragilan, Magelang. 
Bedanya, jalan setapak perkampungan satu perkampungan desa di kaki lembah gunung Bagus ini, kiri dan kanan jalanan curamnya diapit deretan hutan pepohonan jati. 

Dulu saat pepohonan jati belum ditebang, lansekap gundukan - gundukan gunung Bagus tidak begitu terlihat, keindahan pemandangannya tertutup rapat oleh jajaran batang dan rimbunnya dedaunan pohon jati. 


Trip Of Mine

Keeksotikan lansekapnya terlihat begitu jelas setelah pepohonan jati ditebang dan lahannya digantikan oleh ladang tanaman jagung. Tanaman jagung yang ditanam merupakan jagung varietas unggul hibrida bertongkol dua. 
Hasil panennya diantaranya dimanfaatkan untuk pakan ternak dan olahan produksi penganan ringan emping jagung.


Lokasi :
Gunung Bagus
Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tiket :
Tidak dikenai beaya masuk, hanya beaya parkir.

Tips berlibur di gunung Bagus :
▪ Lokasi hutan area perkebunan pohon jati dan perkebunan jagung hibrida gunung Bagus tidak dilalui oleh angkutan umum. 
Pastikan membawa kendaraan pribadi atau menyewa carteran kendaraan untuk mencapai lokasi.
▪ Berbelok ke arah kiri di dekat Taman Desa Giring adalah rute yang benar.


Trip Of Mine
Lokasi persimpangan Taman Desa Giring

▪ Kenakan krim atau lotion tabir surya dan kenakan properti untuk melindungi diri dari terpaan sinar matahari.
▪ Perhatikan peraturan untuk tidak menginjak, mencabut dan merusak tanaman jagung.




Friday, March 1, 2019

Posong : Paduan Sempurna Spot Golden Sunrise dan Citarasa Kopi Unik

Kabut pagi cukup tebal masih terlihat menyisakan pemandangan indah tersendiri di sepanjang rute jalur terjal berkontur bebatuan berkelok dan mendaki yang masih tampak sedikit basah, sisa hujan semalam. 
Samar - samar tipisnya kabut menutup sebagian pemandangan kiri dan kanan rute perkebunan palawija dan perkebunan kopi ditempuh sejauh sekitar 3, 5 kilometer dari jalan raya utama Temanggung - Wonosobo menuju ke lokasi wisata alam Posong di kaki gunung Sindoro, tepatnya berada di desa Tlahab, kecamatan Kledung, kabupaten Temanggung ... , seolah menyambut kedatangan kami, aku dan Usep berlibur di gunung yang memiliki ketinggian 3150 mdpl dan dikenal sebagai spot golden sunrise dan pusat penghasil kopi khas Temanggung.


Trip Of Mine
Spot dak jembatan gantung Posong area bawah ini sepertinya jadi spot ketje nunggu kemunculan golden sunrise


Mengejar kemunculan golden sunrise

Jaket tebal, sarung tangan juga syal untuk mengantisipasi terpaan dinginnya udara pagi yang akhir - akhir ini seringkali terjadi bertekanan cukup kencang, telah kami persiapkan di malam sebelum jadwal keberangkatan dan kami kenakan selama di perjalanan menembus gelapnya subuh dini hari pukul 03. 45 dari kota tempat kami tinggal.

Terpaan dinginnya udara iklim pancaroba atau memasuki musim peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau selama di perjalanan terasa cukup membuat badan terasa mengigil kedinginan, tak pelak membuat kami memilih menepikan kendaraan beristirahat sejenak untuk ngopi di sebuah warung kucingan di trotoar persimpangan jalan besar di Parakan. Tampak di dalam warung bertenda, 2 orang pemuda juga berjaket tebal duduk menikmati panasnya seduhan kopi untuk mengurangi udara dingin. 
Setelah bertegur sapa sekilas, meski kami tak saling kenal sebelumnya, tak lama kemudian 2 pemuda itu meninggalkan warung dan melanjutkan laju truknya ke arah Wonosobo. 

Sementara kami terus sibuk membicarakan hal lain, termasuk saling bercerita tentang pengalaman travelling masing - masing. 
Karena kami keasikan bertukar cerita tak terasa cukup lama kami menghabiskan sekian menit sendiri berada di warung, sadarnya setelah aku melirik ke arlojiku ..., aduh waktu sudah mepet untuk tiba di Posong menunggu kemunculan golden sunrise. 

Setelah membayar apa yang kami pesan, kami segera melajukan kendaraan cukup kencang, tapi masih dalam batas normal kecepatan mengemudi. 
Bukan ugal - ugalan atau ala - ala aksi laga super heroes melajukan kendaraan super kencang di film action, atau juga ala Valentino Rossi melibas rival di lintasan sirkuit adu balap dengan kecepatan maksimal 😅 ... .


Jika di Dieng ada bukit Sikunir dan di Magelang ada gunung Andong untuk melihat kemunculan golden sunrise menakjubkan..., di Temanggung Posonglah tempatnya.

Meskipun letak Posong kecamatan Kledung berada di kabupaten Temanggung, letaknya cukup jauh ditempuh dari pusat kota Temanggung. Titik koordinat kecamatan Kledung berada di dekat perbatasan gapura besar antara kabupaten Wonosobo dan kabupaten Temanggung.
Ditambah pula rute jalan pegunungan yang menanjak dan berkelok - kelok setelah melewati pasar Parakan hingga tiba di kecamatan Kledung, membutuhkan jarak waktu tempuh yang cukup terasa lebih lama dibandingkan melewati rute jalan mendatar biasa. 

Gapura kecil bertuliskan Posong di sebelah kanan jalan sebagai penanda bahwa kami akan mulai memasuki kawasan kaki gunung Sindoro dan lokasi akhir, spot utama area Posong.
Hampir pukul 06. 00 kami tiba di gerbang tiket, dan itu artinya ... , kami telah ketinggalan waktu melihat fenomena kemunculan matahari terbit atau golden sunrise dari balik gunung Sumbing.

Kecewa juga, tapi apa mau dikata jika jarak waktu tempuhnya tak memungkinkan untuk itu. 
Ya sudahlah, tak mengapa ... .
Kelak di saat musim kemarau nanti, akan kucoba bermalam dalam tenda disana dan di malam harinya melihat kemunculan penampakan fenomena alam yang tak kalah memukau, tampak jelas milyaran bintang Milky Way muncul diatas langit Posong. 
Atau juga, kelak berangkat dan tiba lebih awal lagi di Posong untuk melihat indahnya mentari keluar perlahan dari peraduannya.


Trip Of Mine
Jalur rute Posong kawasan lereng gunung Sindoro.
Foto diambil saat perjalanan pulang

Dengan membayar tiket masuk area 10K perorangnya, kami melanjutkan perjalanan melewati jalur rute terjal berkontur bebatuan sejauh 3, 5 kilometer daaan ... , hanya penampakan sisa bias sinar golden sunrise berwarna keemasan dan penampakan kabut tipis eksotis itulah bonus pemandangan yang kami peroleh di sepanjang perjalanan sekitar 1 jam menuju ke lokasi akhir Posong sebagai pelipur lara mengobati kekecewaan tak berkesempatan melihat kemunculan sang surya perlahan muncul dari gunung Sumbing yang berhadapan dengan gunung Sindoro ... .


Menikmati cita rasa kopi unik khas Temanggung

Area wisata Posong terbagi menjadi 2 area, satu area berada dibawah dan satu lagi area berada diatasnya, hanya terpisah beberapa meter jaraknya.
Berada di area bawah yang dilengkapi beberapa gazebo untuk menunggu kemunculan golden sunrise dan spot dak gantung, pengunjung tidak dikenai beaya tambahan untuk memasuki areanya. Cukup membayar 10K di gerbang tiket awal memasuki kawasan gunung Sindoro.
Berbeda dengan ketentuan memasuki area atas, Taman wisata Alam Posong, untuk memasuki areanya pengunjung dikenai beaya tambahan sebesar 10K.


Trip Of Mine



Saat kami memasuki area Taman Wisata Alam Posong melewati gapura berkonsep traditional Bali, kami sempat kagum melihat kerapihan penataan taman dan kebersihan areanya. 
Disana tertata rapi kedai kopi, gazebo - gazebo yang tersebar di tengah taman dengan masing - masing gazebo diberi nama - nama gunung, juga seperti pada umumnya tampilan penataan taman sekarang, dilengkapi tulisan Posong berukuran besar dan beberapa spot selfie ketje


Trip Of Mine



Gazebo bernama gunung Merbabu kami pilih untuk bersantai melepaskan penat setelah mengitari area bawah sebelumnya dan berjalan kaki dari area bawah ke area atas, Taman Wisata Alam Posong. 


Trip Of Mine



Setelah dirasa cukup waktu beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk mendokumentasikan diri berfoto di lokasi, kami melanjutkan ke area taman berikutnya melewati jalan setapak yang ditata berundak mengikuti kontur tanah pegunungan.


Trip Of Mine



Sesampai di sudut area taman, kekaguman semakin bertambah melihat bentangan taman dan bukaan pemandangan alam sangat indah tersaji di depan mata ..., lekukan - lekukan bumi terlihat begitu memukau. 
Disertai sinar cahaya golden sunrise dan samudera awan, pemandangan alam tampak semakin dramatis. 
Selintas pemandangan alamnya seperti di belahan negara Eropa. 


Trip Of Mine



Rasanya tak afdol, jika berada di Posong tak menikmati sajian minum kopi khas Temanggung yang hasil perkebunan kopinya merupakan hasil dari penanaman sistem tumpangsari atau ditanam diantara jenis tanaman lainnya, diantaranya tanaman tembakau yang memang jadi komoditas utama petani Temanggung.
Awalnya, tanaman kopi jenis Arabika dan jenis Robusta di desa Tlahab hanyalah ditanam sebagai pagar antara jenis tanaman satu dan jenis tanaman lainnya, juga sebagai pembatas jarak perkebunan milik antar warga. 
Dan dulu batang pohon kopi hanya difungsikan sebagai kayu bakar untuk keperluan memasak warga, dan biji kopinya hanya diolah sederhana dan dikonsumsi pribadi. 

Tapi siapa nyana, berkat kuatnya aroma tanaman tembakau tersisa, meski sedang tak lagi pada musim tumbuhnya, aroma kuat tembakau meninggalkan dan menciptakan keunikan cita rasa khas pada biji kopi yang tak dapat ditemui di daerah lain. 
Kekhasan aroma dan keunikan rasa kopi bercampur tembakau ini sempat menghantarkan kopi khas Temanggung meraih beberapa penghargaan kejuaraan festival kopi di Indonesia dan mulai pada tahun 2000 menembus pasar ekspor.

Seiring waktu permintaan pasar, pengolahan kopi Arabica dan Robusta khas Temanggung dibuat bermacam varian rasa, diantaranya : kopi excelso, kopi robusta, kopi arabika green coffee, kopi arabika honey dan beberapa varian rasa lainnya dengan tetap mempertahankan cita rasa khas Temanggung ..., kopi berasa dan beraroma tembakau.

Dua cup berbeda kopi arabika tubruk dan kopi robusta tubruk masing - masing seharga 10K, sengaja kami pesan dari pilihan varian rasa lainnya yang disediakan kedai taman Posong, vietnam drip dan french press, untuk mencoba bagaimana cita rasa kopi asli khas Temanggung.


Trip Of Mine

Saat diseruput ..., hmmm aroma tembakaunya terasa dan memang benar cita rasa kopi Temanggung ini punya keunikan karakter khas tersendiri, berbeda dengan cita rasa kopi dari daerah lainnya. Nikmat kopinya terasa asam yang tertinggal lama dimulut. 


Lokasi :
Posong
Desa Tlahap, kecamatan Kledung, kabupaten Temanggung

Tiket :
Area kawasan lereng gunung Sindoro, berikut souvenir stiker dan area Posong bawah 10K


Trip Of Mine
Souvenir stiker

• Area Taman Wisata Alam Posong, berikut souvenir stiker 10K
[Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah]

Jam operasional :
• Gerbang tiket area 03. 30 - 23. 00
• Taman Wisata Alam Posong 07. 00 - 17. 30

Tips berlibur di Posong :
• Jaket dan pelengkapnya wajib dimasukkan dalam daftar perbekalan, terutama bermalam dan kedatangan dini hari.
• Perbekalan makanan dan minuman sebaiknya ikut masuk dalam tas perbekalan, mengingat warung di Posong buka sekitar jam 07. 00.
• Jika berburu kemunculan golden sunrise, sebaiknya memulai start jam 04. 00 subuh dini hari dari gerbang tiket dan sekitar jam 05. 00 sudah berada di area Posong.
• Siapkan kamera SLR / DSLR, atau juga kamera smartphone dan tripod untuk berburu foto.


Wednesday, February 20, 2019

Taman Seribu Cinta, Taman Kece di Bantaran Kali Blongkeng

Taman berbentuk lope - lopean ?
Instagramable dan juga lokasi tamannya tampil beda dengan lokasi taman kekinian lainnya ?.
Wuuaaaah ... , dimanakah itu, ya, emang ada ?.
Nah, jadi penasaran kan, dimana tuh sebenarnya lokasi tamannya ... , he he he :) . 
Kalo gitu, daripada penasaran ikuti terus cerita lokasi liburanku kali ini, yok.

Ketika kalian melewati kota Muntilan, kota yang terkenal kuliner khas tape ketannya berwarna hijau pucat dan letak kotanya berada di jalan raya utama penghubung antara Magelang - Yogyakarta itu, cobalah tengok dahan dan ranting ..., pohon dan kebun basah semuaaah, eh#, kok malah nyanyi sih ini ha ha ha ... , maksudku cobalah tengok kiri dan kanan di sepanjang jalan ... , apakah disana tampak ada sesuatu yang baru, yang asik buat hang - out bareng teman - teman atau juga datang buat nongki sendirian kayak aku,  dan tentunya juga, sih tempatnya ketje buat digunain ... , ehem apalagi kalo bukan buat acara ..., foto - foto.
Ha ha ha !.

Trip Of Mine
Main di spot putaran Taman Seribu Cinta

Ya, iyalaah. Bener juga, kan ?.
Hari gini ..., liburan kok ngga bikin dokumentasi foto. Itu ngga seru kaliii ... .
Tetep judulnya kalo gitu, ya ..., bawa perlengkapan kamera terus berfoto - foto di lokasi liburan itu wajib hukumnya, titik :) . 

Nulis kayak gitu seolah aku sedang membela diri, kalo diriku memang suka foto - foto di lokasi wisata buat pelengkap dokumentasi blog xi xi xi ..., sampai - sampai aku pernah lihat, loh salah satu komentar di artikel tentang blogku yang diulas oleh salah satu blogger, Eko Prianto di artikel  https://www.ekopriantoblogs.top/2018/12/Blog-traveling-trip-of-mine.html , disana ada yang berkomentar kalo aku adalah seorang travell blogger senarsis - narsisnya travell blogger ..., kkwwkkkk. 
Hadeuh !. 

Kembali ke topik ;)

Kalo kalian celingukan sibuk muterin bola mata indah bola pingpong kalian mencari ke semua sudut di sepanjang jalan utama kota Muntilan, jawabannya tak akan pernah ketemu tempat sesuatu yang tadi kusebutkan, lokasi taman lope - lopean instagramable itu.
Kok bisa ?. Bisa, dong.
Laah ..., lokasi taman yang masih gress ini lokasinya memang bukanlah terlihat berada persis di tepi jalan utama, kok.
Ditepi jalan sih memang, iya ..., tapi ngga kelihatan, 'ngumpet'. 
Maksudnya, bersembunyi gitu.
Bersembunyi dimana ?.
Dibawah jembatan, say. 


Trip Of Mine
Aliran jatuhnya air dari dam membentuk tirai air ketje

Yups, dibawah jembatan kembar dua arah, jembatan Kali Blongkeng yang terletak tak jauh dari pusat kota Muntilan, hanya berjarak beberapa meter, disanalah sebenarnya letak lokasi taman berbentuk lope - lopean bernama Taman Seribu Cinta itu berada.
Nah, benar kan kalau letak lokasi tamannya itu unik dan berbeda dengan lokasi taman serupa he he he ... . 

Karena lokasi Taman Seribu Cinta dibangun dibawah satu sisi jembatan, tepatnya berada di arah jalur menuju ke Magelang, maka saat kalian melewati jembatan Kali Blongkeng dua arah itu dari arah Magelang menuju ke Yogyakarta, keindahan taman berundak ini tak akan terlihat keberadaanya, yang terlihat hanyalah sebuah aliran dangkal Kali Blongkeng berair jernih di sisi sebelah kiri. 
Saking jernihnya tuh, setiapkali aku melewati jembatan diatasnya dan menoleh ke arah kali muncul keinginan sesekali akan kucoba mampir disana untuk bermain - main air dialirannya.
Jika kalian datang dari arah kota Magelang untuk mencapai lokasi taman ini harus memutar arah terlebih dahulu dari persimpangan jalan terdekat.

Berbeda jika kalian datang dari kota Yogyakarta, arah rutenya ditempuh cukup mengikuti arah rute saja, tanpa perlu memutar arah. 
Dan mulai mendekati letak lokasi jembatan, pelan - pelan melongoklah pandangan arah mata kalian kebawah ..., melongok ke bawah jembatan loh, ya ..., bukan melongok melihat apa yang ada dibawah kaki kalian xi xi xi ... *lol*


Trip Of Mine
Area taman terbagi 2 area, terpisahkan oleh aliran besar kali Blongkeng

Nah, disitulah letak lokasi taman beraneka jenis kelompok tanaman hias ditanam berundak dan dicat berwarna pink yang dibangun atas bantuan dana dari pemkot setempat itu berada.
Setelah ketemu lokasinya, tinggal arahkan kaki atau kendaraan kalian menuju ke pinggir sisi kali yang bersebelahan dengan perkampungan warga.

Saat aku mulai menuruni jalur memasuki sisi taman, kencangnya suara gemuruh dari aliran kali Blongkeng yang bersumber mata air dari gunung Merapi yang dijatuhkan melalui 2 dam bersusun cukup tinggi itu mengalahkan suara laju padatnya lalu lintas kendaraan di atas jembatan. 
Karena aku penyuka air, eh# bukan berarti aku sejenis pesut air atau dugong, ya ..., kwwkkk ... , mendengar suara air itu langsung saja bawaannya pikiranku jadi adem gitu dan pengin cepat - cepat memasuki tamannya dan mendekati lokasi pinggir dam setelah memarkirkan kendaranku di halaman rumah warga. 

Selembar kertas kecil tiket masuk area taman berikut beaya parkir seharga 5K sudah ditanganku diantar oleh salah satu petugas taman yang ikut memarkirkan kendaraanku ke lokasi yang tepat, di sebuah halaman pekarangan rumah warga yang saat itu belum terselesaikan pengerjaan areanya untuk lahan parkir. 
Dengan ramah petugas itu sempat mengajakku berbicara menggunakan percakapan bahasa Jawa kromo, menanyakan asal kota tempat tinggalku dan kedatanganku seorang diri tanpa barengan datang dengan teman - teman brontosaurus. 

Dalam hati terselip rasa lega juga diajak berbicara cuma sekilas basa basi gunain bahasa Jawa kromo, kalo saja petugas itu terus ngajak bicara dalam percakapan panjang gunakan bahasa Jawa kromo ..., huwaduh bisa - bisa aku gelagapan kebingungan balas lanjutan pertanyaannya dan bisa - bisa juga aku mendadak jadi ... , dugong betulan ... , ha ha ha. 


Trip Of Mine
Susunan berundak kelompok tanaman dalam bentuk hati

Namanya juga taman kekinian, ngga cuma sekedar taman buat duduk - duduk santai bareng gebetan atau tempat ngelamun asik bagi para jomblowan jomblowati, taman Seribu Cinta ini juga dilengkapi beberapa spot selfie ketje juga adanya spot Gembok Cinta, loh.

Nah, meski aku datang liburan kesana sendirian, tetep aja pasang gaya stay cool ikutan nyobain masuk ke spot yang memang betulan terus digembok dari pintu luar teralis, hanya pengunjung berbayar tambahan 5K plus dapat bingkisan souvenir imut gantungan kunci yang bisa diperbolehkan masuk ke spotnya.


Trip Of Mine
Spot Gembok Cinta

Setelah foto - foto di atas spot selfienya yang berdiri terpancang di atas dinding bantaran kali, terus kupasang, deh ..., gembok kecil di jeruji teralisnya. 
Meski sebenarnya aku sendiri juga ngga tau setelahnya, simbolisasi lucu - lucuan itu kulakuin buat ngegembok hati siapa coba ..., kkwwwk !. 


Trip Of Mine
Gembok dan souvenirnya.
Souvenirnya, sih buat aku.
Tapi, kalo gemboknya ..., buat nggembok hati siapa, yaah ... *lol*

Selain keistimewaan adanya pemandangan 2 susun aliran dam yang tampak terlihat membentuk tirai air yang kelak dinding dam akan dilengkapi tata cahaya lampu warna - warni, pengelola taman Seribu Cinta menyiapkan spot jembatan rangkaian dari bambu diberi tambahan besi penguat untuk digunakan pengunjung ke area taman di seberang bantaran kali.

Trip Of Mine

Letak jembatan bambunya persis diposisikan di atas derasnya kucuran air dam pertama dan dibawah jembatan jalan raya. 
Ada sensasi seru tersendiri saat aku mencoba melintasinya ..., jembatan bambu terasa membal mantul - mantul dipijak dibarengi suara gemuruh air jatuh dari dam. 

Dan taukah, aku hampir sempat membatalkan meniti jembatan bambunya, karena apa ..., karena saat kaki kananku mulai menapak di atas bambu, tiba - tiba rangkaian jembatan bambu ikut bergetar berbarengan dengan terdengar suara kendaraan besar melintas di atas jalan raya jembatan Kali Blongkeng. 


Trip Of Mine
Seru juga sensasinya melewati jembatan bambu ...

Aku sempat ciut nyali dan loncat mundur ..., kukirain jembatan bambu mau rubuh ha ha ha ... , padahal ternyata itu aman - aman dan fine aja. 
Tentunya satu tangan tetap wajib berpegangan di besi pengaman yang memang hanya dibuat terdiri dari satu sisi jembatan untuk menciptakan sensasi saat melintasinya.


Lokasi :
Taman Seribu Cinta
Jembatan Kali Blongkeng
Dangean, Gulon, Salam, kota Muntilan

Tiket :
▪ Area + parkir 5K
▪ Spot Selfie Gembok Cinta + souvenir 5K
▪ Tubing 10K

Jam Operasional :
24 Jam

Sunday, February 10, 2019

Candi Unik di Bawah Permukaan Tanah : Candi Sambisari

Artikel tentang lokasi percandian yang berada di Ungaran, dataran tinggi Dieng dan beberapa lokasi candi di Magelang diantaranya telah kutuliskan dalam blogku ini, Trip Of Mine.
Itupun kesemua lokasi artefak candi yang berada di Magelang belum seluruhnya kudatangi untuk keperluan berlibur disana, sekaligus mengeksplore dan mengumpulkan informasi di lokasi sedetil dan seakurat mungkin untuk keperluan penulisan blogku yang baru berusia 1 tahun lebih 2 bulan ini.

Dih, kok ngga kerasa, ya ... , tau - tau udah setahun lebih sedikit aja aku telah jadi seorang penulis narasumber atau blogger :) . 
Profesi blogger yang sering dicap banyak orang, eh# teman maksudku, sebagai orang berkepribadian tertutup, suka menyendiri, asik sibuk berimajinasi melalui tulisan dan sibuk pencat - pencet tombol keyboard smartphone atau komputer he he he ... .
Benar kan begitu ?.

Di Magelang dan di Yogyakarta terdapat banyak jejak artefak atau situs peninggalan kejayaan dari dinasti kerajaan Hindu dan Buddha pada ribuan tahun silam. 
Para arkeologi pun menduga di kedua kota ini dahulu kala merupakan pusat dari kerajaan Mataram Kuno terdiri dari 2 kerajaan besar dari dinasti Hindu dan Buddha. 

Dari kesemua peninggalan artefak bersejarah  tersebut, kesemuanya memang menarik ditelusuri dan setiapkali berlibur ke lokasi candi selalu memunculkan decak kagum luar biasa akan kemampuan para leluhur kita telah sanggup menghasikan karya sedemikian artistik untuk sarana ritual peribadatan, mengingat proses pembuatannya dilaksanakan pada abad yang jauh sebelum mereka mengenal tekhnologi peralatan modern dan canggih seperti sekarang ini. 

Dari beberapa lokasi candi yang pernah kudatangi, tak kesemua lokasi candi didirikan diatas suatu dataran tinggi, terutama candi beraliran Hindu yang memang rata - rata dibangun di suatu ketinggian lokasi, diantaranya : candi Umbul, candi yang dibangun sebagai kolam pertirtaan sumber air panas alami dan candi Pendem Sengi yang juga dibangun dibawah permukaan tanah sekitarnya. 
Kedua candi itu bukanlah terletak berada di suatu ketinggian bukit.


Trip Of Mine
Candi utama candi Sambisari

Begitupun lokasi candi Sambisari, candi beraliran Hindu yang terletak di desa Purwomartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang kudatangi kali ini ..., letak lokasi komplek candinya bukanlah berada di suatu ketinggian, tapi berada dibawah permukaan tanah. 

Unik ... , tampilan candinya seperti sebuah miniatur mainan !.
Begitulah spontanitas yang terlintas dipikiranku, saat aku tiba berada di tepi tebing ketinggian halaman taman candi. 
Gimana tidak refleks terlintas dipikiran seperti itu, jika kompleks candi yang terdiri dari 1 candi utama dan 3 candi perwara atau candi pendamping itu lokasinya berada di ... , kedalaman sekitar 6, 5 meter dibawah permukaan tanah dan areanya seluas lapangan bola !.

Dilihat dari ketinggian dan halaman taman seluas itu, komplek candi Sambisari nyaris mirip betulan dengan sebuah replika miniatur mainan.
Karena keunikan letak posisinya itulah, tak sedikit wisatawan melakukan pengambilan foto diri seolah jemarinya sedang menjumput badan candi melalui tangannya dari halaman atas taman ... , keren ya :) . 


Trip Of Mine
Candi Sambisari dilihat dari atas ketinggian tebing taman

Dari ketinggian taman yang mengelilingi komplek candi Sambisari ini, terlihat jelas terdapat 4 jalur anak tangga di keempat penjuru arah mata angin ditepi tebing. Fungsi tangganya untuk menuju ke komplek candi dan naik kembali ke area taman setelah dari komplek percandian. 

Dan juga terlihat dari atas ketinggian tebing jika komplek candi Sambisari yang memberlakukan perijinan khusus untuk wisatawan menggunakan sarana alat perekaman gambar drone ini memiliki 2 lapis pagar batu.
Pagar batu pertama tertanam didalam tanah berada di sisi terluar candi dan pagar batu kedua berada di bagian dalam dekat dengan lokasi candi.
Ada peraturan tegas larangan tertulis di beberapa papan pengumuman terpancang di tebing untuk pengunjung siapapun tidak bermain ataupun tidak melakukan tindakan apapun di lereng tebing taman karena kecuramannya dapat membahayakan keselamatan pengunjung. 

Setelah menuruni salah satu anak tangga , memasuki pintu pagar terbuat dari batu mengelilingi candi setinggi sekitar 2 meter dan mengelilingi areanya tampak beberapa situs Lingga tersebar di beberapa titik. 


Trip Of Mine
Artefak Lingga Yoni di pelataran candi

Sedikit berbeda dengan struktur candi lainnya, struktur batur candi utama Sambisari menghadap ke arah barat ini dibuat lebih tinggi ukurannya dengan badan candi kira - kira setinggi 1, 2 meter,  menimbulkan kesan terlihat badan candi inti seolah tenggelam dari kaki candinya. 



Trip Of Mine
Candi utama menghadap ke arah barat

Candi inti dilengkapi selasar untuk mengelilingi badan candi dan terdapat 3 arca utuh di badan candi : arca Durga Mahisasura Mardani di sebelah utara, arca Ganesha di sebelah timur, arca Agastya di sebelah selatan. 
Sayangnya, arca Mahakala dan Nandiswara yang semestinya berada di relung sebelah barat mengapit pintu masuk ruang dalam candi inti, keberadaan kedua arca itu telah hilang entah dimana keberadaannya.


Trip Of Mine
Arca Ganesha terlihat utuh sempurna

Di dalam bilik candi inti terdapat sepasang arca Lingga dan Yoni utuh sempurna berukuran besar. Arca Yoni terbuat dari batu berwarna putih dan arca lingga terbuat dari batu hitam, terpahat mulus dan mengilap.


Lingga merupakan perwujudan dari dewa Siwa, dewa tertinggi kepercayaan agama Hindu. Yoni merupakan perwujudan dari dewi Parvati, istri dewa Siwa

Melihat arca Lingga utuh, berukuran besar dan mengilap seperti itu, aku jadi teringatkan mitos yang beredar di masyarakat, katanya sih ..., dengan menyentuh arca Lingga dapat terkabulkan keinginan seorang lelaki untuk memiliki keperkasaan. 
Demikian juga sebaliknya, jika seorang wanita menyentuh arca Yoni maka akan mendapatkan kesuburan.
Entah benar tidaknya mitos yang beredar di masyarakat dan aku sering dengar kasak kusuk begitu, aku tak paham kebenarannya tentang hal itu.


Trip Of Mine
Arca Lingga Yoni di dalam bilik candi utama

Tapi tak ada salahnya juga kan, kucoba kusentuh arca Lingga di candi Sambisari yang diperkirakan dibangun pada abad ke 9 oleh Rakai Garung seorang raja Mataram Hindu dari Wangsa Sanjaya itu ... .
Rasanya saat disentuh ?. 
Ya keras, licin dan dingiiiiin !.
Namanya juga terbuat dari batu ..., he he he :) . 

Berhadapan tepat dengan candi inti, terdapat 3 puing kaki candi perwara atau candi pendamping.
Uniknya, dibagian tengah badan candi pendamping terdapat umpak terpahat bulat sempurna, diduga kemungkinan dahulu kala fungsinya dipergunakan untuk meletakkan sesaji ritual keagamaan.


Trip Of Mine
Umpak di tengah badan candi perwara

Sekali lagi berada didekat umpak dipahat sedemikian bulat sempurna itu, aku dibuat heran ..., bagaimanakah cara mereka dahulu kala sanggup memotong bongkahan batu bisa sebulat dan sepipih mulus rata permukaannya seperti itu ?.

Candi Sambisari diketemukan kembali pada tahun 1966 oleh petani daerah setempat saat menggarap lahan sawah milik Karyowinangun, setelah berabad - abad lamanya tertimbun tanah dan material erupsi gunung Merapi.
Diduga erupsi dahsyat gunung Merapi mengubur sejumlah candi itu terjadi pada tahun 1006. 


Trip Of Mine
3 candi perwara menghadap ke timur

Seperti terpasang di keterangan data dan sejumlah dokumentasi foto di ruang informasi saat candi Sambisari diketemukan kembali dan dalam rentang waktu saat penggalian lahan untuk penemuan komplek candi secara utuh pada tahun 1975 - 1977 diketemukan sejumlah artefak, diantaranya Prasasti Emas bertuliskan 'Om Siwasthana' dalam bahasa Jawa kuno yang memiliki arti 'Hormat, rumah untuk dewa Siwa'. Proses rekonstruksi dan pemugaran candi selesai pada tahun 1987.

Rute menuju ke desa Purwomartani tempat lokasi candi Sambisari berada, kutempuh melalui ringroad menuju ke arah Surakarta atau Solo dari persimpangan jalan di dekat terminal Jombor dan setelah melewati bandara Adi Sutjipto yang berada disebelah kanan jalan kemudian tetap masih melaju berada di kiri jalur badan jalan, perjalanan kulanjutkan berbelok ke arah kiri masuk ke jalan pedesaan setelah melewati lokasi pom bensin. 
Perjalanan melewati pedesaan, persawahan dan perumahan warga sejauh sekitar 2 kilometer dari badan jalan ringroad, akhirnya tiba di lokasi candi Sambisari. 

Lokasi :
Candi Sambisari 
Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket:
Lokal 5K
• Mancanegara 10K
[Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah]

Friday, February 1, 2019

Mengenal Lebih Dekat Koleksi Satwa Eksotis Mini Zoo Jogja Exotarium

Setelah beberapa waktu lalu aku tak sengaja 'bertemu' melihat sekawanan kupu - kupu terbang bebas dan mendarat bersembunyi berulangkali di sela - sela tanaman di sebuah lokasi wisata taman bebungaan di Magelang dan mengalami kesulitan mengambil gambar gerakan kupu - kupu karena saking gesitnya mereka berterbangan disana ... , terlintas dipikiranku punya keinginan untuk melihat beraneka binatang sekaligus bisa merasakan menyentuh langsung fisik mereka. 
Disatu hari, keinginanku itu kulaksanakan dengan mengatur jadwal berlibur ke Mini Zoo Jogja Exotarium.

Memang bolehkah koleksi binatang disana dibelai - belai manja gitu ?. 
Yups, boleh dong. 
Di taman seluas 9 hektar ini koleksi binatangnya diperbolehkan disentuh secara langsung fisiknya oleh pengunjung, tentunya cara menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, ya ... .


Trip Of Mine
Berinteraksi langsung dengan kura - kura Africa atau Sulcata. 
Bobot dewasanya bisa mencapai 32 - 45 kilogram.

Staff pengelola di Mini Zoo Jogja Exotarium mengklaim semua satwa koleksinya telah jinak dan aman untuk diajak berinteraksi, tentunya dengan catatan sesuai prosedur yang berlaku dan dibawah pengawasan staff. 
Misalnya, nih seekor binatang yang terlihat sedang tidur pulas dikandangnya ..., eh# mungkin juga dia sedang bermimpi indah kali, ya ? ... *lol* , tetiba diusik dibelai - belai dan dibangunin buat diajak foto bareng sama kamu ... , pasti marahlah dia. 
Kamu aja juga bakalan ngambek, kan kalo lagi enak - enaknya sleeping beauty or sleeping handsome digangguin kayak gitu ? ... he he he.


Menurut pendapat para ahli, sih, katanya dengan seringkali menyentuh langsung fisik hewan memiliki manfaat baik untuk kepribadian dan kesehatan kita, diantaranya : menjadikan pribadi yang lebih baik atau tidak kasar, mampu menurunkan tekanan darah tinggi dan mengurangi resiko lanjutan seperti penyakit jantung dan serangan stroke.


Namanya juga kebun binatang mini atau mini zoo, jangan dibayangin koleksi hewannya mirip dengan koleksi hewan kebun binatang skala besar, ya. 


Trip Of Mine
Area lokasi dilihat dari area lain, terpisahkan oleh kali

Jangan sampai dibayangin di sana tuh ada binatang eksotik berkaki jenjang, Jerapah dari benua Africa atau juga ada singa, si kucing besar gagah perkasa tapi galaknya menakutkan itu ... .
Hmm , apalagi ada dinosaurus hidup segala ... , wwwkkwk ngaco, akh !. 
Ya, iyalaaah ... , hari gini ada dinosaurus, bisa kacau balau dunia kitaaa ... , yekan ? :) .

Lalu, koleksi hewan di Mini Zoo Jogja Exotarium apa saja, ya ?.
Ya, banyak juga koleksi hewannya, ada ratusan.
Mulai dari bermacam jenis ikan, burung, kuda, biawak, kura - kura, ular dan masing - masing hewan terdiri dari beberapa jenisnya.


Trip Of Mine
Gubug reptil 1

Tiap jenis hewan ditempatkan di area berbeda yang ditata mengikuti kontur tanah yang berundak seperti bukit dan terbagi menjadi 2 area besar, terpisahkan oleh sebuah sungai cukup besar dan melewati jembatan dengan pepohonan rimbun. 


Trip Of Mine
Kuda berwajah imut ini namanya Putra Agashi :)

Trip Of Mine
Lapangan kuda

Hewan pertama yang kusentuh kura - kura berasal dari Africa berada di kandang taman bersebelahan dengan kandang taman kelinci beragam jenis.
Kuhitung kura - kura disini ada 17 ekor, terdiri dari 3 baby kura - kura ditempatkan di kandang terpisah terbuat dari semen setinggi lutut orang dewasa dan 14 ekor kura - kura dewasa berukuran besar.
Ada 1 ekor kura - kura terlihat agresif mondar - mandir mengelilingi area tamannya. 

Tau ngga, saat aku berfoto dengan 2 ekor kura - kura dewasa itu, tau - tau si kura - kura agresif  bergerak cukup cepat berjalan mengarah ke belakangku ..., aku sampai loncat karena kaget. 
Rada seram juga dengar gerakan langkah berat kakinya diatas lantai semen, bunyi berderak kencang begitu ... .


Trip Of Mine
Eh#, kenapa ya si kura - kura satu ini agresif polahnya :D

Staff petugas yang saat itu terlihat membersihkan kandang sampai tertawa melihat aku loncat karena kaget, lalu dia menjelaskan para kura - kura berukuran besar dan tampak kuat ini ngga galak dan ngga menginggit, terkecuali saat memberikan makanan tangan kita berada terlalu dekat dengan mulutnya. 
Oh, mungkin saja si kura - kura agresif itu pengin kenalan lebih dekat sama aku kali, ya ... , atau tau -tau mendadak menganggap aku ttm - nya teman tapi menjengkelkan  ..., wwkkwk !.

O, iya untuk memberikan makan kura - kura di Mini Zoo Jogja Ecotarium disediakan pilihan sayuran kangkung atau kacang panjang dengan harga seikatnya Rp. 2. 000 ,_ . 
Cukup murah, ya ..., dengan harga yang sama dengan beaya parkir bisa berkesempatan ngelus - ngelus badan kamu, eh# maksudku badan kura - kura dan ngasi makan langsung kawanan kura - kura berasal dari Africa. 

Setelah dari taman kura - kura dan taman kelinci, kulanjutkan berjalan ke bangunan gubug Nocturnal. 
Didalam bangunan gubug beratap jerami kering itu ada hewan imut lucu dan saat ini sedang banyak digandrungi oleh para kolektor pecinta satwa, siapa lagi kalau bukan ..., sugar glider.


Trip Of Mine
Si imut sugar glider ditempatkan di salah satu tumpukan kandang disana 

Hewan berbulu halus dan berwarna krem pucat itu ditempatkan di sebuah kandang kecil dilengkapi hammock mini dan saat itu si sugar glider tampak keasikan tidur meringkuk pulas di dalam hammocknya. Imut banget kayak boneka :) .
Kandang sugar glider ditempatkan bertumpuk dengan hewan kelelawar, landak mini berduri warna putih susu dan tupai, dikelompokkan berada di tengah ruangan gubug.

Sementara beberapa jenis musang atau luwak ditempatkan di masing - masing kandang mengelilingi ruangan gubug, diantaranya : musang pandan, musang bulan, musang bali, musang akar jawa dan yang istimewa koleksinya ada musang albino.


Trip Of Mine
Musang albino

Musang albino warna bulunya sangat berbeda dengan warna bulu musang pada umumnya yang rata - rata berbulu warna gelap dan merupakan jenis musang sangat langka keberadaannya.
Dan harganya seperti yang tercantum di keterangan tertempel dikandangnya cukup wow ... , sekitar 25 jutaan untuk 1 ekor. !.
Ckckckk ... , seharga 1 buah motor matic model kekinian, ya :) .  

Gubug reptil 1 selanjutnya yang kumasuki, didalam sana ada sejumlah koleksi : 2 hewan iguana berbadan gemuk dan berbeda warna, biawak, kura - kura mini dan gecko yang hampir mirip dengan fisik tokek.


Trip Of Mine
Gecko.
Berasal dari Pakistan, India, Iran dan Afghanistan



Trip Of Mine
Iguana

Ada pula hewan yang hampir mirip fisik dan keganasannya dengan komodo, namanya tegu. Hanya saja ukuran fisiknya jauh lebih kecil daripada komodo.
Binatang pemakan daging dan agresif berasal dari Argentina ini ditempatkan di kandang berkawat dan didalam kandangnya dipenuhi sejumlah anak ayam sebagai santapan 3 hewan tegu.
Para tegu ini tak kalah agresif bergerak seperti para anak ayam sibuk kesana kemari mengitari kandang sambil terus ramai berkeciak mengeluarkan suara.
Sebenarnya aku ngga tega rasanya melihat para anak ayam imut menggemaskan itu siap ditelan bulat - bulat oleh para tegu ... .
Tapi apa boleh buat, ya ... , kan itu memang mata rantai kehidupan.


Trip Of Mine
Tegu berasal dari Argentina

Gubug reptil 2 letaknya berada paling sudut diantara gubug lainnya.
Ada koleksi hewan apa sajakah disana ?. 
Ternyata, hanya khusus diperuntukan sebagai kandang beragam jenis hewan ... , ulaaa ... ar !.
Ohh, sampai di gubug ini aku cuma berani berdiri di tengah ruangan gubug sambil berbincang dengan staff penjaga mengenai koleksi jenis - jenis ular, tanpa berani mendekati sekat kandang - kandang kaca penyimpanan hewan ular.
Ular - ular berukuran kecil ditempatkan di wadah plastik kecil berongga dan hampir kesemua koleksi hewan ularnya berukuran sebesar lingkar paha orang dewasa. 
Ada jenis ular phyton, sanca, kobra dan ... , anaconda !.

Whoaaaa ... , seumur - umur aku baru kali ini lihat langsung tampilan fisik ular terbesar di dunia berasal dari sungai Amazone dan terkenal dengan belitannya yang sangat mematikan itu.
Dan taukah, koleksi ular anaconda di Mini Zoo Jogja Exotarium ini baru berusia 5 bulan, itupun ukurannya sudah segede lingkar ular phyton dan juga ... , diklaim jinak diajak berfoto.
Memang, sih disana ada beberapa foto terpasang didindingnya, foto - foto para pengunjung berselfie dengan para ular.
Sementara aku cukup melihat langsung saja, tak pakai acara memotretnya dan menyertakan di post ini.

Selain dapat melihat koleksi jenis - jenis hewan, aku juga sempat masuk ke area florist tempat area penjualan bibit tanaman hias dan tanaman buah.
Cukup lengkap juga koleksi tanamannya.


Trip Of Mine
Golden Pheasant si burung cantik dari dataran tinggi Tibet, Chinna

Juga mengitari area burung, area kuda tunggang, spot belajar memanah atau Archery, area spot selfie, area budidaya ikan, area terapi ikan, kolam renang dan kolam ikan ganas dan berukuran besar, ikan arapaima.


Trip Of Mine
Area kolam renang

Rute termudah untuk pencapaian ke lokasi melewati jalan Kebon Agung tepat di sebelah terminal Jombor, kemudian lurus terus sampai bertemu di pertigaan jalan desa, ambil ke arah kanan dengan melewati lahan persawahan di kiri dan kanan jalan, setelah itu berbelok ke arah kiri melewati jalan perkampungan warga. Tak jauh dari situ, cukup mengikuti papan petunjuk jalan arah rute menuju ke lokasi.

Lalu di Mini Zoo Jogja Exotarium sempat berfoto dengan hewan apa, nih ?.
Ya, cukup foto bareng dengan kura - kura berukuran besar berasal dari Africa itu saja ... , he he he. 
Selebihnya memotret koleksi hewan - hewan yang ada disana, kecuali ular.


Lokasi :
Mini Zoo Jogja Exotarium
Jalan Magelang Km 8, Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
• Masuk area 10K
• Wahana perorangnya, diantaranya : naik kuda tunggang 15K, panahan 10K, terapi ikan 5K dan kolam renang 10K
• Kegiatan fieldtrip, outbound dan family gathering harga perorangnya disesuaikan kategori usia
• Kemah selama 2 hari 1 malam perorangnya dikenai 30K 
[Info harga dan kondisi diatas sewaktu - waktu dapat berubah]