Wednesday, December 12, 2018

Candi Mendut, Candi yang Kaya Relief Indah

Berada terletak sedikit bersebelahan dengan lokasi kompleks bangunan asrama tempat para biksu menimba ilmu yang memiliki taman indah, Buddhist Monastery berdiri sebuah candi Buddha berusia ribuan tahun silam peninggalan bersejarah dari dinasti atau wangsa Syailendra, candi Mendut. 
Lokasi tepatnya berada di Jalan Mayor Kusen, desa Mendut, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang. 
Jalan Mayor Kusen merupakan salah satu jalan utama menuju ke lokasi candi Borobudur dari arah Magelang dan Yogyakarta. 


Trip Of Mine

Letak lokasinya yang strategis berada tepat di pinggir jalan, membuat siapapun yang tengah melintas pasti akan langsung tergerak untuk melihat keeksotisannya, karena struktur candi Mendut setinggi sekitar 26, 40 meter ini terlihat sangat jelas dari badan jalan raya. Hanya sedikit terhalang  pandangan oleh tinggi dan rimbunnya pagar deretan tanaman jenis bambu hias berbatang kecil. 

Untuk memarkirkan kendaraan disana tersedia area parkir yang tak seberapa luas, letaknya berada segaris lurus dengan arah masuk ke lokasi Buddhist Monastery. 
Meski area parkirnya terbilang berukuran tak cukup luas, area parkir yang dilengkapi beberapa bangku taman dan bangku lesehan terbuat dari cor semen mengelilingi batang pohon besar untuk bersantai sembari menikmati kuliner dari para pedagang gerobak ini tak pernah terlihat sepi dari pemberhentian kendaraan.


Trip Of Mine
Candi Mendut dilihat dari bagian depan

Beberapa kali kulihat saat melintas di depannya, silih berganti parkir kendaraan datang dari kunjungan wisatawan. Khususnya kunjungan dari para wisatawan mancanegara. 
Tak jarang terlihat rombongan wisatawan mancanegara datang dengan bus wisata carteran dan tak sedikit pula tampak turis datang dengan menyewa kendaraan beroda dua. Datang berboncengan berdua dengan partnernya atau juga terlihat datang seorang diri seperti yang biasa kulakukan saat travelling. 

Malah aku pernah punya pengalaman cerita menarik, loh ..., lihat tiga turis bule dengan berpakaian santai enak dilihat, dua cewek dan satu cowok dengan cuek bebek menumpang duduk asik di mobil bak terbuka sekembalinya mereka berlibur di candi Mendut yang kebetulan pula berbarengan dengan kepulanganku dari sana. 
Beberapa kali kendaraanku dan kendaraan yang mereka tumpangi saling susul diantara ramainya laju lalu lintas dan tiap kali itu pula kami lagi - lagi saling menebarkan senyum dan menganggukan kepala ..., " Duh, rasanya hati ini kok kerasa seneng banget lihat pemandangan begitu ..., bule cantik dan bule ganteng saja ramah sikapnya. Masa kamu engga ? ", sambil nunjuk foto sang mantan. Eh# ..., wwwkkkwwwk !.

Punya cerita pengalaman seperti itu, senang rasanya. Berkesan buatku. Beberapakali sudah, aku dan turis mancanegara pernah terlibat interaktif langsung. Mulai dari sekedar saling bantu mengambil gambar dari kamera ataupun cuma bersay hi tanpa pakai acara mengerlingkan mata genit saat berpapasan di suatu lokasi.

Candi Mendut merupakan candi Buddha dan berdasarkan keterangan yang tercantum di prasasti Karangtengah 824 Masehi, candi Mendut dibuat oleh raja Indra, raja pertama dari dinasti atau wangsa Syailendra. 

Dan menurut prasasti yang juga ikut terkubur selama ratusan tahun silam akibat terjadinya bencana alam erupsi dahsyat gunung Merapi, kemudian prasasti  dan struktur candi yang telah potak poranda diketemukan kembali oleh J.G de Casparis pada masa kepemerintahan Hindia Belanda, diduga usia candi Mendut pembangunannya lebih tua dari usia pembangunan candi Borobudur. 


Trip Of Mine
Selasar candi Mendut

Melalui prasasti Karangtengah jugalah diketahui jika candi Mendut memiliki kaitan erat dengan candi Pawon dan candi Borobudur. 
Ketiga candi ini berada dalam satu garis imajiner. Para ahli arkeologi menduga, dahulu kala nenek moyang telah mampu membuat jalan penghubung antara ketiga candi ini dengan melintasi sungai Progo.

Pada saat diketemukan kembali bagian atap candi telah hilang, namun struktur kaki dan badan candi terlihat utuh, meski sudah tak pada tempat semestinya.
Pada tahun 1897 - 1904 pemerintah Hindia Belanda berhasil merekonstruksi kembali bagian kaki dan tubuh candi. 
Kemudian pada tahun 1908 dipimpin oleh Van Erp, rekonstruksi ulang candi Mendut dilanjutkan kembali dan pada rekonstruksi kedua kalinya ini berhasil memasang kembali stupa - stupa pada tempatnya dan juga berhasil merekonstruksi sebagian puncak atap candi.
Rekonstruksi sempat terhenti cukup lama karena keterbatasan dana setelah proses rekonstruksi tahap kedua. 
Kemudian pada tahun 1925 pemugaran dilanjutkan kembali hingga candi terlihat berdiri seperti sekarang ini.

Candi Mendut memiliki bentuk segi empat dan memiliki lebar sekitar 2 meter berdiri diatas batur [ atau semacam tatakan, atau dasar ]. Pada bagian kaki candi dipenuhi ukiran indah beragam kisah di 31 buah panelnya disertai relief bunga dan sulur - suluran menjuntai artistik.
Di bagian tubuh candi terdapat Jaladwara atau saluran air yang memiliki fungsi membuang air hujan dari selasar candi.
Bagian atap candi dihiasi 48 stupa berukuran kecil dan atapnya terdiri dari tiga kubus tersusun makin mengecil ke atas.


Trip Of Mine
Relief Kuwera

Dinding dalam di kiri dan kanan menuju ke bilik bagian dalam candi dihiasi relief lukisan indah berupa relief Kuwera dan Hariti. 


Trip Of Mine
Depan pintu bilik dalam candi berhiaskan relief Kuwera dan relief Hariti

Kedua relief tersebut merupakan tokoh raksasa pemakan manusia yang dikisahkan kemudian bertobat setelah memperoleh pencerahan dari Buddha ini letaknya berhadapan, seolah mengapit di lorong menuju ke bagian dalam candi.


Trip Of Mine
Relief Hariti

Pemandangan terlihat makin membuat berdecak kagum setelah tiba berada di dalam bilik candi Mendut ..., 3 patung Buddha berukuran besar menempati ruang dalamnya. 
Dilengkapi dengan pencahayaan kuning temaram, detil ke 3 patung : Buddha Sakyamuni berada di tengah, Bodhisattva Avalokitesvara di sebelah kanan dan Maitreya di posisi sebelah kiri tersebut terlihat sangat detil pembuatannya. 


Trip Of Mine
Tiga arca Buddha berukuran besar di dalam tubuh indah candi Mendut

Arca Buddha Sakyamuni diwujudkan sedang duduk berkotbah dengan sikap tangan dharmacakramudra atau sikap tangan yang biasa dilakukan saat sang Buddha memberikan ajaran.
Bodhisattva Avalokitesvara merupakan penolong manusia diwujudkan dalam keadaan duduk, kaki kanan menginjak teratai dan kaki kirinya melipat.
Maitreya sebagai dewa penebus diwujudkan dalam bentuk posisi juga sedang duduk dan jari tangannya menutup rapat.
Semerbak wangi aroma hio dari wadah menambah kesan kesakralan.


Candi Mendut ini merupakan lokasi upacara awal prosesi besar memperingati Waisak, sebelum iringan - iringan para biksu datang dari berbagai belahan dunia melakukan puja bakti di candi Borobudur 


Di bagian tubuh dinding candi sebelah selatan, timur, utara dan barat [ bagian depan candi, terdapat tangga ] kesemuanya dihiasi relief menceritakan kehidupan Buddha. 


Trip Of Mine
Sisa - sisa puing diduga merupakan candi Perwara

Di halaman pelataran taman candi sebelah selatan terdapat dua lahan tempat sisa - sisa puing dan satu berupa pondasi candi yang kemungkinan diduga merupakan candi Perwara atau candi pendamping candi Mendut. 


Trip Of Mine
Pohon Boddhi di pelataran halaman candi Mendut.
Akar pohon yang menjuntai itu sangat kuat, loh ..., banyak wisatawan seringkali berfoto bergelayutan disana

Setelah mengamati setiap detil keindahan relief ukiran candi dan mengelilingi keseluruhan areanya, waktunya meninggalkan halaman candi dan kembali melewati deretan kios pedagang souvenir khas Jawa - Tengah, seperti boneka wayang golek terbuat dari kayu berkostum indah, kerajinan anyaman tas, wayang kulit, kain cetak beraneka warna dan motif hasil produksi masyarakat desa sekitar, juga tak ketinggalan replika miniatur candi dan replika kepala Buddha untuk hiasan interior ikut terpajang sebagai pilihan cenderamata wisatawan. 


Trip Of Mine
Deretan kios cinderamata

Para pedagang souvenir di candi Mendut termasuk gigih menawarkan ragam koleksinya ke wisatawan. 
Dengan fasih berbahasa Inggris mereka ikut menyodorkan dagangannya, termasuk ke aku yang tak luput dari sasaran rayuan pulau kelapa , " Only thirty thousand, sir. Is cheap " , selembar kain warna kuning dengan motif memikat disodorkan sambil dibentangkan oleh si pedagang berjalan disampingku. 
Langsung kujawab saja pakai bahasa Jawa kromo, " Mboten, bu. Maturnuwun ".
Si ibu pedagang sontak kaget, aku pun nahan ketawa agar ngga kebablasan ngakak lihat reaksi ekspresi kagetnya.
Laaah ..., apa dikiranya aku ini bukan dari Indonesia kali, yaa ... ?. 
Tampang dari Thailand gitu ?.
Ha ha ha ..., ono - ono wae, buuu ... .

Lokasi :
Candi Mendut
Jalan Magelang Sumberrejo atau Jalan Mayor Kusen, Mendut, Mungkid, kabupaten Magelang

Tiket : 
Rp. 3. 000 ,_
[ Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah ]

Wednesday, December 5, 2018

Telaga Warna Telaga Pengilon, Pesona Dua Telaga Satu Keindahan

Telaga Warna adalah salah satu wisata alam andalan di dataran tinggi Dieng. Keunikan sifat warna air telaga dan keeksotisan alam sekitarnya mampu membuat wisatawan terpana. 
Berada disana, imajinasi pengunjung seolah sedang dibawa ke dimensi lain.

Akh, betulkah demikian adanya ?.
Apa iya, sih ... ?.
Pertanyaan seperti itu, sangat mungkin akan terjadi jika seseorang belum pernah berkesempatan berlibur ke Telaga Warna. 
Tapi lain cerita jika pernah berkesempatan langsung berlibur disana, terutama berlibur seorang diri seperti yang kulakukan saat itu. 


Trip Of Mine
Add caption

Telaga Warna merupakan salah satu dari beberapa telaga terletak berada di atas ketinggian 2000 mdpl gunung api purba, Gunung Dieng, kabupaten Wonosobo yang berbatasan langsung dengan kabupaten Banjarnegara. 

Temperatur keseharian udara disana cenderung terasa dingin dirasakan bagi masyarakat negara Indonesia kebanyakan mengingat Indonesia beriklim tropis, meski panas terik matahari saat itu sedang berlangsung. 
Bahkan beberapa bulan lalu temperatur udara di Dieng mencapai di bawah nol derajat menyebabkan keunikan fenomena alam tersendiri dengan munculnya kristal salju menutupi permukaan tanah dan tanaman.

Jadi jangan heran, jika dalam perjalanan menuju ke Gunung Dieng tempat keberadaan sejumlah destinasi wisata menakjubkan disana dengan melintasi jalan naik turun pegunungan curam berpemandangan tebing tinggi yang banyak difungsikan sebagai lahan perkebunan warga dan jurang menganga ratusan meter berada di kiri kanan jalan, akan mudah ditemui pemandangan aktivitas para petani dengan menggunakan pakaian tebal membungkus badan, berlengan panjang dan tak sedikit yang mengenakan atribut tambahan seperti syal, kupluk untuk mengantisipasi dinginnya udara.

Pemandangan seperti itu saja saat di siang hari ..., nah kebayang kan bagaimana dinginnya temperatur udara di Dieng saat malam hari ?.

" Memang pernah bermalam disana, kok tahu ? "

Belum pernah jawabanku wwkkkwwwkk !.
Lah, kok tahu kalau malam hari udara disana terasa sangat dingin ?.
Tahulah ..., masalahnya beberapa bulan lalu aku pernah terjebak hujan deras disertai angin kencang sampai sekian lama menjelang malam hari setelah liburan berada di area kawah unik, Kawah Sikidang. 

[ Baca juga  https://www.tripofmine.com/2018/02/fenomena-unik-kawah-sikidang.html ]

Saat itu, udara terasa sangat begitu dingin menggigit kulit. 
Beruntung pos penjagaan tempat aku berteduh, beberapa warga disana membuat perapian sederhana dengan membakar tumpukan sisa kemasan makanan dan kertas di tong sampah terbuat dari kaleng. Itupun rasanya tidak mempan buat bikin hangat tubuh, meski kupluk kupakai kutenggelamkan sampai kuping tertutup rapat dan jaket tebal telah kupakai, plus sarung tangan kukenakan.

Dengan duduk meringkuk manis pasrah di pojokan menanti seorang kekasih , eh# maksudku, hujan angin sedikit reda, teh panas mendidih yang beberapakali kupesan di warung dekat pos penjagaan cuma terasa hangat ruam kuku saat kuminum, padahal terlihat jelas uap mengepul di permukaan gelasnya, mendidih maksimal.
Nah, kalau seperti itu gimana terasa dinginnya udara tengah malam menemani bobok disana, ya ... ?. 
Melukin kamu pun rasanya tak akan mempan memberikan kehangatan, aseeeek ..., ha ha ha ..., kecuali menenggelamkan diri dalam tebalnya bed cover, kurasa. 
Hmm ..., titik.

Tampilan baru di area Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Tak sedikit yang belum mengetahui jika sebenarnya di area seluas 39 hektar ini, tak hanya terdapat satu telaga memesona diareanya. 
Berdampingan persis, hanya terpisahkan oleh daratan yang menyembul dan ditumbuhi rerimbunan ilalang tinggi, terdapat sebuah telaga mendampingi keindahan Telaga Warna. Telaga Pengilon namanya.


Trip Of Mine
Telaga Pengilon

Nama Telaga Pengilon [ Bahasa Jawa, pengilon = cermin, biasanya dipergunakan untuk berhias diri ] memang tak disebutkan di papan petunjuk arah lokasi dan mewakili nama area destinasinya, hanya tercantum di lembar tiket masuk. 

Untuk memasuki areanya dan untuk tiba di tepian telaga, tanpa perlu dibutuhkan usaha dengan cara mendaki atau menuruni ketinggian bukit karena letak telaga ini terbilang sejajar dengan badan jalan.
Cukup ditempuh dengan cara melewati jalan setapak berpaving block yang dibuat tertata rapi mulai dari gerbang tiket hingga mengitari areanya.

Di sepanjang melewati jalan setapak, tanaman bunga indah berwarna putih namun memabukkan, bunga Kecubung dengan mudah dilihat dari dekat karena tanaman ini banyak tumbuh berada di sisi area telaga dan jalan setapak. 
Beberapa dahan kayu pohon berukuran besar terlihat dibiarkan tetap utuh tanpa ditebang melintang di atas jalan setapak, membuat siapapun perlu menundukkan kepala saat melintasinya. 
Pemandangan menambah kesan eksotik ini kutemui saat melintasi jalan setapak mengarah ke Telaga Pengilon.

Dua telaga memikat, Telaga Warna dan Telaga Pengilon berdampingan bak sepasang sejoli ini memiliki keistimewaan berbeda diantara keduanya.


Trip Of Mine
Ilalang kecokelatan dan warna air telaga, perpaduan kontras dan memikat

Berkat sangat tingginya kandungan zat mineral belerang yang berada di dasar Telaga Warna dan kemungkinan diduga mengandung unsur logam mulia, air telaga mampu menyuguhkan warna sangat menakjubkan saat terpantul sinar matahari.
Dengan dominasi warna hijau, warna airnya sesekali berubah - ubah. Kadang tampak hijau tua, hijau muda, gradasi warna hijau tua dan hijau muda, kecoklatan dan juga warna pelangi.


Trip Of Mine
Alamnya memikat !

Menurut legenda, sih, pengaruh warna dari Telaga Warna akibat jatuhnya selendang cantik berwarna - warni milik dewi Nawang Wulan ke dalam dasar telaga dan menciptakan warna memikat di airnya.

Jika Telaga Warna tampil memesona dengan warnanya yang menakjubkan, Telaga Pengilon tampil memikat dengan kejernihan airnya. Saking jernihnya, pantulan bayangan alam sekitarnya tampak terlihat jelas di permukaan airnya.

Keindahan kedua telaga ini semakin terlihat memikat dilihat dari atas ketinggian bukit Sidengkeng dan Batu Ratapan Angin, maka tak heran jika banyak wisatawan rela sedikit ' bersusah payah ' mendaki bukit untuk melihat tampilan kedua telaga dengan tampilan warna air berbeda. 
Wisatawan biasanya melakukan pendakian saat pagi hari karena saat siang dan menjelang sore seringkali keindahannya tertutup oleh tebalnya kabut. 

Mengingat gunung Dieng merupakan dataran tinggi, tingkat intensitas curah hujan seringkali turun tiba - tiba di daerah yang seringkali disebut sebagai tempat bersemayamnya para dewa ini. 


Trip Of Mine
Spot dermaga di tepi telaga siap bikin indah foto kenangan liburan

Saat ini di pinggir Telaga Warna telah disediakan semacam dermaga kecil untuk sarana membuat dokumentasi liburan.
Dan gerbang loket pun berbenah jadi menarik dilihat, tak lagi terkesan seadanya yang kulihat saat kedatanganku kesana sekitar 1 tahun lalu.

Selain 2 telaga memikat, ada obyek lain menarik apa disana ?

Mengitari keseluruhan areanya dengan berjalan di atas jalan setapak dan tampak bebatuan berukuran besar disekitarnya, juga akibat pengaruh musim kemarau panjang telaga menciptakan pemandangan gradasi eksotik tersendiri.


Trip Of Mine
Daratan menyembul membatasi 2 telaga memesona ditumbuhi ilalang tinggi.
Tampak mengering pengaruh kemarau panjang.
Keren untuk lokasi berfoto

Banyak sekali sisi pinggir telaga tampak mengering dan ilalang disekitarnya yang tinggi menjulang tampak ikut mengering berubah menjadi warna cokelat muda.
Terlihat sangat kontras dengan perbedaan warna tanah cokelat tua, dan warna air telaga.
Tentu pemandangan alam jadi sangat terlihat luar biasa indah untuk latar belakang berfoto.

Di dalam area Telaga Warna dan Telaga Pengilon terdapat beberapa petilasan yang sampai saat ini masih dipergunakan untuk bersemedi, tentunya untuk keperluan bertapa disana harus seijin terlebih dahulu dan didampingi oleh pengelola.


Trip Of Mine
Petilasan Batu Tulis

Beberapa petilasan diantaranya : 

  • Batu Tulis, merupakan sebuah bongkahan batu berukuran besar. Dipercaya jika orang tua berkeinginan agar anaknya berkemampuan cepat pandai membaca, maka berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa di dekat batu yang didepannya dihiasi arca mahapatih Gajah Mada ini.


  • Gua Jaran, dipercaya dahulu kala merupakan tempat pertapaan Resi Kendali Sodo. Dinamakan dengan Gua Jaran karena dikisahkan pada jaman dahulu terdapat seekor kuda kebingungan mencari tempat berteduh dari hujan, kemudian kuda tersebut menemukan celah gua ini dan berteduh didalamnya sepanjang malam. Anehnya, keesokan harinya kuda tersebut telah dalam keadaan bunting besar. Sejak saat itu, gua ini dipercaya oleh kaum wanita yang ingin segera mempunyai keturunan setelah berumah tangga dengan cara melakukan semedi disana.


  • Gua Semar, dipercaya dijaga oleh Kyai Semar. Merupakan tempat bertapa yang pernah digunakan oleh para raja Jawa Mataram kuno dan beberapa nama petinggi negara Indonesia. Salah satunya presiden RI kedua, Soeharto pada tahun 1974.
Trip Of Mine
Pemandangan misterius Telaga Warna saat tertutup kabut

Berjalan atau mendekat berada di depan petilasan - petilasan yang lokasinya tak begitu jauh satu sama lainnya ini, tercium samar - samar aroma wangi semerbak misterius. 
Entah wangi apakah itu, mungkin wangi gabungan antara hio dan parfum ..., yang jelas tercium berasal dari dalam gua. 


Lokasi :
Telaga Warna
Jl. Telaga Warna, Dieng, Kejajar, Kabupaten Wonosobo

Tiket :
Domestik Rp. 12. 500,_
Wisman Rp. 125. 000,_
Berlaku di hari normal.

Domestik Rp. 15. 000,_
Wisman Rp. 150. 000,_
Berlaku di hari Sabtu, Minggu dan hari libur.
[ Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]