Sunday, November 11, 2018

Louw Djing Tie, Jejak si Pendekar Shaolin di Parakan

Kota Parakan terletak berada di lereng gunung Sindoro dan gunung Sumbing, merupakan salah satu kota yang seringkali disebut - sebut sebagai lokasi penghasil tanaman tembakau terbaik di Indonesia.
Memasuki kota Parakan, mata dan imajinasi kita akan digiring ke masa tempoe doloe dengan melihat banyaknya deretan peninggalan bangunan rumah berasitektur Tionghoa yang masih tetap utuh terjaga dengan baik hingga sekarang. 
Bisa dikatakan, Parakan adalah perkotaan Tiongkok kecil.

Tak sedikit bangunan rumah khas Tionghoa tertutup rapat oleh tingginya pagar tembok, hanya sebatas bisa dipandangi bagian  dinding luar bangunan dan atapnya saja, tetapi beberapa bangunan rumah tua diantaranya dapat atau diperbolehkan untuk dikunjungi oleh siapapun.

Salah satunya bangunan rumah yang dinamai Omah Tjandie Gotong Rojong berada di Jalan Demangan nomor 16, yang kudatangi kali ini untuk berlibur di kota Parakan, kabupaten Temanggung.


Trip Of Mine
Bergaya ala jurus Shaolin di depan seperangkat senjata peninggalan Louw Djing Tie

Omah Tjandie Gotong Rojong bukanlah rumah khas Tionghoa biasa, tapi rumah yang didirikan tahun 1870 ini menyimpan sejarah besar dari seorang pembawa dan penyebar ilmu bela diri shaolin dari Tiongkok ke Indonesia, Louw Djing Tie .

Sekelumit cerita pencarian lokasi

Pintu kayu yang memiliki dua bukaan dan bertuliskan Omah Tjandie Gotong Rojong di bagian atas dindingnya itu tertutup rapat, beberapakali ketukan yang kulakukan tak kunjung dibuka oleh pemiliknya.


Trip Of Mine
Gerbang pintu Omah Tjandie Gotong Rojong

Akhirnya kuputuskan meninggalkan pintu rumah di jalan Demangan itu untuk kembali memutar balik ke arah jalan Tejo Sunaryo, jalan yang semula telah kulewati sebelumnya untuk pencarian lokasi rumah pendekar Shaolin asal Tiongkok, Louw Djing Tie.

Jalan Tejo Sunaryo ini lebih dikenal warga dengan nama lama, disebutnya Gambiran [ Dialek Jawa menyebutnya Nggambiran, ada penambahan bunyi Ng didepan pengucapannya ]. 
Kulakukan memutar balik kembali ke Jalan Tejo Sunaryo atas pemberian informasi dari beberapa pria yang berada di warung angkringan, jika pintu Omah Tjandie Gotong Rojong tak dibuka, cobalah mengetuk lewat pintu ' depan ' .
Jadi benar adanya jika rumah bersejarah dan sekarang masuk sebagai warisan cagar budaya ini memiliki 2 pintu masuk. 

Pintu ke satu berada di jalan Demangan menghadap ke arah pemandangan gunung Sumbing dan pintu kedua merupakan pintu tambahan baru berada di jalan Tejo Sunaryo atau Gambiran, berderetan dan berhadapan dengan rumah - rumah bangunan Tionghoa lainnya.

Benar saja dengan menekan tombol bel, tak lama kemudian pintu dibukakan oleh seorang pemuda yang ternyata merupakan salah satu pekerja bolu yang diproduksi di rumah ini.
Setelah kuutarakan apa maksud kedatanganku, aku dipersilahkan masuk untuk melihat keseluruhan bangunan megah tempat Louw Djing Tie menumpang tinggal di rumah milik keluarga Hoo Ting Bie, mulai dari mendirikan perguruan Garuda Mas menggembleng ilmu bela diri murid - muridnya, menjadi tabib pengobatan, memproduksi beragam jamu bermerk Garuda seperti param dan minyak gosok, hingga di akhir sisa usia hidupnya 66 tahun pada tahun 1921.

Bagian pertama rumah yang kulewati merupakan dapur untuk produksi kue bolu cukil cap Tomat.
Usaha kue bolu cukil cap Tomat merupakan pengganti usaha param dan obat gosok bermerk Garuda dengan bungkus kemasan foto Louw Djing Tie yang terhenti produksinya sejak tahun 2015 lalu karena sulitnya bahan produksi ditemui, tak selengkap bahan resep asli dari Louw Djing Tie.


Trip Of Mine
Bolu kue cukil cap Tomat

Bangunan inti atau induk berpilar 2 berukuran besar berada di tengah halaman. 
Pintunya berupa bukaan dua daun pintu bertuliskan huruf Mandarin berwarna gold mengkilap, telapak kaki Qilin [ mewakili sifat maskulin ] dan bulu burung Phoenix [ mewakili sifat feminim ]. 
Keduanya melambangkan antara keperkasaan dan keindahan. 


Trip Of Mine
Bangunan induk Omah Tjandie Gotong Rojong

Seperangkat senjata milik Louw Djing Tie yang dulu digunakan untuk berlatih kunthaw ditempatkan di ruang tamu sebelah kanan, diantaranya berupa golok besar dan tombak.
Tongkat kayu cendana yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie, buku resep ramuan jamu asli buatan Louw Djing Tie, minyak gosok dan parem produksi akhir tahun 2015 dipajang di satu lemari kaca di ruang tamu sebelah kiri.


Trip Of Mine
Tongkat milik Louw Djing Tie terawat baik di lemari display di ruang tamu Omah Tjandie Gotong Rojong

Di dinding rumah yang terpisah berhadapan, terpasang foto Louw Djing Tie bertopi baret hitam duduk memegang tongkat kayu cendana dikelilingi murid - muridnya, foto liputan dari beberapa media surat kabar juga foto dua keluarga yang pernah memiliki rumah ini, keluarga Hoo Ting Bie pemilik rumah pertama dan 2 bersaudara Go Kim Tong dan Go Kim Jong yang membeli rumah dari Hoo Ting Bie.


Trip Of Mine
Sederet foto Louw Djing Tie 

Tapi Louw Djing Tie bukanlah tinggal di rumah induk berpilar 2 itu, tapi menempati satu bangunan berada di pojok halaman.
Di halaman taman sampai sekarang masih berdiri tiang gelang besi setinggi 2, 5 meter yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie dan murid - muridnya untuk melatih kekuatan tangan dan perut.

Kesetiakawan mengubah hidup Louw Djing Tie

Menurut cerita dari berbagai sumber informasi yang kuperoleh, diantaranya dari cerita mamaku tentang kehebatan Louw Djing Tie yang melegenda sampai sekarang, seperti : untuk memasuki area rumahnya Louw Djing Tie seringkali tak melewati pintu rumah, tetapi dengan cara meloncat tembok pagar rumah khas bangunan Tionghoa yang dibuat setinggi beberapa meter mengelilingi bangunan rumah.
Dengan ilmu ringan tubuhnya, Louw Djing Tie sanggup terlihat seakan terbang untuk meloncat dari satu tempat ke tempat lain.
Satu cerita ini begitu melegenda turun temurun diceritakan sejak jaman kakek buyutku, orang tuaku dan kini diceritakan ke aku.

Dan menurut sumber informasi yang juga kuperoleh dari cerita mamaku karena dulu mama papaku seringkali ke Parakan untuk menjalankan usaha tembakau dan mereka berdua seringkali saling membicarakan dengan para petani tembakau setempat tentang kehebatan ilmu kungfu Louw Djing Tie, juga dari sumber yang kuperoleh dari https://www.wikipedia.org 

Louw Djing Tie lahir di kampung Khee Thao Kee, kota Hayteng, Hokkian, Tiongkok.
Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakak dan adiknya perempuan, Louw Djing Tie satu - satunya anak lelaki. 
Kakaknya bernama Louw Djing Lian dan adiknya bernama Louw Djing Hiang.
Sejak kecil, dia pemberani dan nakal, namun rendah hati.
Beberapa kali pernah terlibat berantem dengan teman - temannya dan pada usia 9 tahun mendapat bekas luka dikeningnya yang membekas hingga sekarang.


" Loh ..., kok kayak aku, ya ?. Punya bekas luka di kening. Bedanya Louw Djing Tie kecil dapat bekas luka karena berantem dengan teman - temannya, kalau aku dapat bekas lukanya karena kecelakaan "

Louw Djing Tie kecil bersemangat masuk ke perguruan kungfu di desanya setelah ia melihat kehebatan bela diri pemilik warung yang menyelamatkannya dari kejaran seorang biksu bejat pemabuk yang tak terima dikerjain olehnya. 
Sayangnya, semangat berlatih kungfunya harus terhenti ditengah jalan karena tak ada beaya setelah kedua orang tuanya meninggal secara beruntun.
Keadaan ini memaksa ketiga kakak beradik mengungsi berpindah ke kota lain, menumpang di rumah saudaranya dan harus membanting tulang demi sesuap nasi, sementara kakaknya sering bekerja di luar kota.

Suatu saat sekembalinya dari perantauan, Louw Djing Lian memasukkan Louw Djing Tie ke biara Shaolin di Song Shan.
Dari biara Shaolin inilah, Louw Djing Tie memperoleh ilmu kepandaian dalam bertarung dan meramu obat - obatan.

Selepas menimba ilmu di biara Shaolin, Louw Djing Tie melanjutkan ilmu di guru keduanya, seorang pendeta lulusan biara Shaolin juga, pendeta Biauw Tjin.
Selama 6 tahun berguru dengan pendeta Biauw Tjin, Louw Djing Tie memperoleh ilmu tenaga dalam dan tenaga luar juga menguasai ilmu penggunaan beragam macam senjata rahasia seperti uang logam dan jarum. 

Kemudian selama 7 tahun Louw Djing Tie melanjutkan berguru kepada seorang pendeta Kang Too Soe untuk mempelajari ilmu menyumpit, totok jalan darah, memperdalam tehnik mengalirkan tenaga chi ke seluruh bagian tubuh juga mempelajari ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang.

Pendeta Kang Too Soe merupakan guru ketiga dan guru terakhir Louw Djing Tie menimba ilmu.
Setelah itu Louw Djing Tie membuka perguruan sendiri di Hok Ciu, provinsi Hok Kian. Muridnya sangatlah banyak, salah satunya adalah adik kandungnya sendiri, Louw Djing Hiang. 

Pada suatu ketika pemerintah Hok Ciu menggelar acara kompetisi seleksi pemilihan guru kungfu untuk dijadikan pelatih tentara setempat. Louw Djing Tie termasuk salah satu peserta dari beberapa jago - jago kungfu di daerah tersebut. Wakil dari pemerintah Hok Ciu diwakili oleh seorang guru kungfu berasal dari daerah Shan Tung yang memiliki ilmu bela diri cukup hebat.

Saat giliran teman Louw Djing Tie bernama Lie Wan mendapat giliran beradu dengan guru kungfu wakil dari pemerintah tersebut, Lie Wan tak sabaran berkeinginan segera menyelesaikan pertarungan dengan si guru kungfu. Lie Wan menggunakan tehnik berbahaya dengan cara menghantamkan kedua telapak tangannya ke tubuh si guru kungfu, guru kungfu pun dengan sigap menghindari serangan tersebut dan segera bersiap menyerang balik Lie Wan dengan serangan berbahaya pula. 
Louw Djing Tie melihat serangan mematikan yang diarahkan ke Lie Wan, segera meloncat ke tengah arena dan menyerang menendang kemaluan si guru kungfu hingga terluka parah.

Louw Djing Tie segera menyadari kesalahannya dan sadar bahwa tindakannya akan berakibat dikenai hukuman berat oleh pemerintah.
Segera Louw Djing Tie dan Lie Wan melarikan diri dari arena dan keluar meninggalkan negara Tiongkok.  

Lie Wan berpindah ke Amoy dan menjadi tabib disana, sedangkan Louw Djing Tie melarikan diri ke Singapura. Hanya tinggal sementara di Singapura, Louw Djing Tie kemudian berkeinginan pindah ke pulau Jawa, Indonesia. 
Rasa kesetiakawananlah yang dimiliki Louw Djing Tie yang akhirnya menyeret ia dalam pelarian ... .

Batavia [ sekarang Jakarta ], merupakan kota pertama persinggahan Louw Djing Tie. Di Batavia, ia sempat menjalani sebagai pedagang keliling di daerah Toko Tiga, Glodok.
Kemudian ia berpindah ke Semarang, lalu ke Kendal. Di kedua kota ini, ia berdagang ikan asin di pasar juga sebagai tabib mengobati orang yang mengalami salah urat dan terkena pukulan. Ajakan salah seorang temannya, membawa Louw Djing Tie berpindah ke Ambarawa dan disana ia mendirikan perguruan silat secara tersembunyi, karena kegiatan belajar ilmu bela diri pada masa kepemerintahan itu tidak diperkenankan. 
Tak berselang lama setelah itu, Parakan jadi kota pilihan persinggahan terakhir Louw Djing Tie.

Dengan menumpang di rumah kerabatnya bernama Hoo Ting Bie yang kudatangi inilah, nama besar Louw Djing Tie semakin termasyur ke seluruh penjuru nusantara berkat perguruan ilmu kungfu shaolin, Garuda Mas yang ia bentuk dan sebagai cikal bakal ilmu bela diri di Indonesia.
Tak hanya ilmu bela diri yang ia ajarkan, tapi juga memproduksi jamu dengan label Garuda.
Param merupakan salah satu jamu produksinya yang terus dikenang sampai sekarang akan keampuhannya mengobati otot terkilir dan penyakit yang berhubungan dengan tulang lainnya.

Tak hanya ilmu bela dirinya yang melegenda, tapi cerita jalan hidupnya menarik untuk disimak

Semasa hidupnya, Louw Djing Tie berkeinginan dan bersumpah untuk tidak pernah menikah.
Satu keinginan itu merupakan dari dua keinginan lainnya, hidup sederhana asalkan kebutuhan makan cukup terpenuhi dan berusia pendek.

Entah suatu kebetulan atau bukan, suatu saat Louw Djing Tie terkena sumpahnya sendiri setelah akhirnya ia menyerah menerima desakan terus menerus dari murid - murid kungfunya untuk segera menikah.
Ia pun akhirnya dengan terpaksa melangsungkan pernikahan di saat usianya yang tak lagi muda.
Dan sengsara pun akhirnya mulai menghampiri hidupnya ... .

Istri pertamanya meninggal setelah mereka tak lama melangsungkan pernikahan, kemudian istri keduanya terlibat perselingkuhan yang akhirnya berujung perpisahan, istri ketiga mengalami gangguan jiwa.
Dari ketiga kali pernikahan ini, tak satupun membuahkan seorang anak.

Penderitaan itu berlangsung seiring dengan kesehatannya yang terus mulai menurun, matanya mengalami gangguan penglihatan atau rabun.
Dengan kondisi sakit - sakitan, Louw Djing Tie dirawat oleh murid kesayangannya yang juga sebagai anak angkatnya bernama Hoo Tik Tjay atau sebutan nama kecilnya, Suthur.
Suthurlah yang terus tetap setia merawat Louw Djing Tie sampai akhirnya ia menutup mata selama - lamanya. 
Beliau dimakamkan di komplek pemakaman gunung Manden yang berada di pinggir kota Parakan. 


Trip Of Mine
Gerbang Omah Tjandie Gotong Rojong dilihat dari teras rumah induk

Pemilik Omah Tjandie Gotong Rojong memperbolehkan siapapun untuk berkunjung dan berfoto disana.


Trip Of Mine
Duduk santai di teras Omah Tjandie Gotong Rojong sambil membayangkan sosok Louw Djing Tie, sang pendekar Shaolin dari Tiongkok

Hanya ada 2 area yang tidak diperkenankan diambil gambarnya, altar meja sembahyangan kedua leluhur yang berada di ruang tengah rumah induk dan area dapur produksi kue bolu cukil tempat dulu pernah digunakan oleh Louw Djing Tie mengolah aneka jamu buatannya. 


Lokasi :
Omah Tjandie Gotong Rojong
• Pintu 1 jalan Demangan nomor 16
• Pintu 2 jalan Tejo Sunaryo nomor 10
Parakan, kabupaten Temanggung

Tiket :
Tidak dikenai beaya masuk

110 comments:

  1. Jadi mirip jet lee "shaolin kung fu he he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, ya ...
      Aku ?, eh# siapa yang jadi mirip Jet Lee, mas ... ?
      Wkkwwkk 😅

      Keburu gE-eR niih 😜

      Delete
  2. Wih baru tau nih mas Himawant, tak kira cuma ada kampung inggris eh ternyata ada juga kampung tiongkong. Mantap bener.

    Ngomong-ngomong mas himawant cocok jadi aktor kungfu heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius, mas Tri 😁 ...,
      Aku cocok jadi aktor kungfu ?.

      Waaah ... aseeeek itu 😅 !.
      Ntar kalo ada produser film yang ikut membaca postku ini lalu tertarik dengan pendapat mas Tri merekrut aku jadi aktor laga beneran ...,
      pasti mas Tri kurekomendasikan jadi aktor laga juga hehe ..

      Betul, mas Tri jika ke Parakan kita akan melihat suasana Tiongkok tempoe doloe ..., bangunan-bangunan gagah khas Tionghoa mudah kita temui.

      Delete
  3. Ouw ada yang lagi pasang ancang-ancang kungfu.. Takut diserang jurus-jurus nya.. Kabur ah..:)

    Baru tahu kota Parakan sebagai penghasil tembakau dan disebut sebagai kota Tionghoa kecil semacam pecinan or China Town bahasa kerennya ya?

    Mau nanya nic, seperti nama Omah Tjandi gotong royong, kenapa kok ada nama gotong royong nya brader? Kalau di kota ku malang dan Batu rumah yang dinamai gotong royong itu biasanya untuk krematorium / tempat kremasi. Apa memang demikian? atau ada makna lain selain untuk krematorium?

    Baca kisa Louw Djing Tie ini sedih juga ya dari kecil berjuang untuk hidup, takut mendapat hukuman terus melarikan diri sampai terdampar di Indonesia. Akhir hidupnya kurang bahagia ya? Meski begitu Louw Djing Tie banyak jasanya ya dalam mengajarkan Koentaw dan mendirikan perguruan shaolin di Indonesia.

    Usaha jamu berupa param dan obat gosok bermerk garuda sayangnya sudah dihentikan produksinya ya? berganti dengan bisnis usaha kue bolu cukil tomat. Sempat nggak ngerasai bolu cukil brader?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhuahahahaha ..
      jangan kabuuur 😅, aku cuman beraksi buat foto doang kok 😉.

      Ntar kapan sewaktu aku liburan ke Parakan lagi, kufotoin kotanya agar tau suasana Tiongkok kecilnya, ya.
      Aku bayangin seandainya saja kesemua deretan bangunan Tionghoa itu difungsikan sebagai lokasi wisata ..., waaah pasti sangat eksotik.

      Bangunan bersejarah itu dinamai Omah Tjandie Gotong Tojong setelah dibeli oleh 2 bersaudara, Go Kim Tong dan Go Kim Jong.
      Kemudian dinamakan demikian berdasarkan singkatan nama dari nama kedua bersaudara itu, menjadi Omah Tjandie GOTONG roJONG.
      Sebelum dibeli oleh 2 bersaudara rumah ini belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, jika sudah ditetapkan sebagai cagat budaya pasti tidak diperkenankan oleh pemerintah.
      Merubah sedikit bangunannya saja pasti melalui proses perijinan khusus.

      Membaca kisah hidup Louw Djing Tie secara garis besar kita dapat mengambil satu garis kesimpulan :
      Beliau rasa kesetiakawanannya sangat besar, rela berkorban demi teman yang ia sayangi dan jiwa sosialnya sangat tinggi mengajarkan ilmu beladiri yang ia punya untuk murid-muridnya.
      Tapi sayang, karena desakan murid-muridnya jugalah akhirnya Louw Djing Tie mengingkari sumpah tekadnya sendiri untuk tidak menikah.

      Beli bolu cukilnya dong, sista ... hehehe 😁.
      1 bungkus kemasan isinya 20 buah bolu cukil, harganya 16K.
      Ada 2 varian : berwarna cokelat seperti foto diatas berbahan dasar gula jawa dan berwarna krem kekuningan berbahan dasar gula pasir.
      Kubelikan oleh-oleh buat mamaku yang berwarna cokelat.
      Foto bolu cukil diatas sengaja kuletakin di atas tatakan kecil, ngga kufoto dalam satu kemasan yang ada merknya cap Tomat.

      Delete
    2. Hehehe.. Jadi ngambil ancang-ancang siap jurus-jurus untuk foto doang ya? Coba beneran pasang kuda-kuda untuk beraksi kungfu wah pasti bisa jadi aktor laga pengganti mendiang aktor laga Brandon Lee (anak dari Bruce Lee).


      Ntar kapan-kapan kalau ke kota Parakan lagi bradee mau motret keadaan kota Parakan yang menggambarkan suasana Tiongkok tempo dulu ya? Wah itu ide yang bagus.:)
      Iya ya seandaunya semua bangunan berasitektur Tiongkok dibuat sebagai lokasi wisata china town tempo dulu dan dibuat sebagai cagar alam,oleh pemerintah kemudian dieksplore wah pasti akan menjadi salah satu destinasi wisata yang unik dan menarik wisatawan. Semoga terealisasi.

      Ooh jadi nama omah Tjandie Gotong Royong itu berasal dari singkatan nama dua bersaudara pemilik rumah ya yaitu Go Kim Tong dan Go Kim Jong menjadi Gotong roJong. Oh I seesee now.


      Iya dari kisah hidup Louw Tjing Tie dia seorang yang setia kawan dan orang yang nggak mudah menyerah pantang mundur dalam menjalani hidup yang keras.
      Jadi perguruan kungfu shaolin yang didirikannya bernama Garuda Mas ya? Apa sampai sekarang masih berdiri perguruan tsb di kota Parakan? Aoa ada cabangnya Garuda Mas di daerah atau kota lain brader?

      Wah brader sempat beli bolu cukil buat oleh-oleh mamanya brader ya? Kelihatannya enak tuch bolu yanf varian coklat, murah lagi harganya isi 20 harga 16 K. Jadi penasaran pingin beli.

      Sayangnya bisnis jamu param dan obat gosok merk Garuda sudah nggak diproduksi ya? Padahal penasaran pingin lihat bentuk jamu param dan obat gosok tsb yang pasti cespleng ya dibuat terkilir.

      Btw kota Parakan ini termasuk kotamadya atau kabupaten brader? Semoga bisa dilirik menjadi alternatif destinasi wisata ya? Hehehe.

      Delete
    3. Wkkkwkkk .., sista bisa aja sih 😜😅 , gantiin si Brandon Lee film the crowd yang fenomenal itu.
      Eh boleh juga ya wajahku dimakeup kayak tokoh film misterius itu 😅

      Yups, penamaan rumah bersejarah itu diambil dari nama kedua saudara yang membeli dari pemilik tangan pertama, Hoo Ting Bie.
      Meski rumah sudah berpindah tangan kepemilikan, foto dan peralatan milik Louw Djing Tie beruntungnya tidak ikut diboyong pindah oleh keluarga Hoo Ting Bie.
      Jadi, bisa dipajang sebagai kenang-kenangan sangat bersejarah di rumah itu.

      Iya, sayangnya foto param dan obat gosok kemasan bergambar Louw Djing Tie tak kelihatan di foto yang kuambil gambarnya.

      Kota Parakan berada di kabupaten Temanggung, sista.
      Aku juga berharap, suatu saat nanti kota Tiongkok kecil di pulau Jawa ini betulan digarap jadi destinasi wisata ..., pesonanya pasti keren banget karena berada di lereng pegunungan.

      Delete
    4. Wkwkwk...iya siapa tahu ketiban rezeki dapat panggilan casting untuk memerankan tokoh biografi alm Brandon Lee yang keren itu. Hehehe iya ntar brader bisa dirias sampai mirip dengan aktor keren tsb. Kasihan ya Brandon Lee kisahnya tragis meninggal.saat lagi syuting film. Kok ada orang jahat yang tega mencelakainya.

      Iya untung semua barang Low Tjing Tie nggak ikut keboyong pemilik rumah baru. Kalau sekarang yang menempati Omah Tjandi Gotong Royong ini siapa brader? masih 2 bersaudara kakak adik ya?
      Iya sayangnya nggak ada foto param dan obat gosok merk Garuda ya biar jadi kenang-kenangan bisnia pertama Low Tjing Tie.
      Aku penasaran juga sama bolu cukilnya nih, itu jenis bolu kering ya?

      Oh kota Parakan ini letaknya di kabupaten Temanggung ya?
      Coba kota Parakan ada yang mensponsori ya biar nantunya kota Parakan dengan banyak gedung-gedung berarsitektur Tionghoa bakal menjadi destinasi wisata berbentuk China Town tempo dulu yang ada di Jawa Tengah.
      Unik pastinya.

      Oh ya maaf nich apa Louw Tjin Tie dulu sewaktu pindah ke Indonesia itu beliau sudah menjadi biksu yang mendirikan perguruan kungfu di Jawa Tengah? Apa mungkin karena beliau biksu jadi dilarang untuk menikah dalam ajarannya?

      Delete
    5. Hihihi😁 hahaha😅
      Who knows ya ...
      Siapa tau beneran jadi pemeran Brandon Lee 😉
      Tapi ..., wajah si Brandon kan blasteran China dan kebulean, kalau wajahku kan semi oriental plus Jawa 😁

      Yang menempati rumah tersebut sekarang generasi 2 bersaudara itu.
      Saat aku kesana, aku bertemu dengan salah satu om dan anaknya.
      Mereka ramah menyambut kedatanganku dan langsung bertanya aku dari kota mana.
      Lalu si om cerita katanya baru saja dihubungi oleh seseorang untuk minta ijin akan dibuat lokasi film. Film apa kata si om belum jelas yang dimaksud si penelepon.

      Untuk realisasi sebagai China Town pastinya melalui proses perijinan cukup panjang antara pemilik rumah dan dinas kepariwisataan.
      Menurut informasi dari mamaku, banyak rumah-rumah Tionghoa di Parakan hanya sebatas aset pribadi, tidak dihuni.
      Pemiliknya tinggal menetap dan menjalankan usaha di kota lain.
      Padahal sayang ya ..., coba kalau digarap jadi tempat usaha dan dihias dengan tampilan penuh ornamen dekorasi pasti sangat menarik.

      Di dekat rumah ini, ada satu bangunan kas Tionghoa yang super mewah, sista ....
      Disebutnya rumah Nggambiran [ sebagai asal mula penyebutan nama jalan] , merupakan bekas rumah pengolahan gambir.
      Suatu saat aku akan kesana untuk meliput, jika memang diperkenankan pemiliknya.
      Siapapun pasti berdecak kagum lihatnya ..., ornamen khas Tionghoa sangat kuat disana dan sangat terawat apik.

      Setauku Louw Djing Tie bukan seorang biksu, meski pernah belajar ilmu bela diri di biara Shaolin.
      Beliau memang tak berkeinginan menikah sejak ia remaja, bukan karena larangan siapapun.

      Delete
    6. Hehehe... Iya kalau aktor mendiang Barandon Lee kan wajahnya blastera Chineae-Bule. Kalau brader semi oriental Chinese-Jawa, nggak apa-apa kan sama-sama blasteran nya kan? Hihihi... :)
      ntar misalnya lolos casting terus dirias di make oveove, nanti wajah brader bisa tampil ala Brando.n Lee versi asia. Yang penting bisa brader ntar bisa main di film laga Hollywood. Keren Hehehe.. :)

      Ooh generasi kedua pemilik Omah Tjandi Gotong Royonv ini bercerita pernah dihubungi rumah tsb untuk pembuatan film ya? Wah asyik itu, semoga terealisaai ya? bikin film di lokasi Omaj Tjandi Gotong Royong.

      Oh jadi rumah-rumah yang berarsitektur Tiongkok tempo dulu ini kebanyakan milik aset pribadi ya jarang ditinggali oleh pemiliknya yang tinggal di kota lain. Jadi nggak bisa dibuat cagar alam oleh pemerintah.
      Iya sayangnya coba kalau rumah-rumah unik tsb ditempati digarap dibuat bisnis usaha yang mencerminkan suasana area sebagai little china town pasti akan menarik wisatawan datang ke kota Parakan.

      Ooh brader punya rencana next travelling mau ngunjungi rumah Nggambiran yang berarsitektur Tiongkok dengan tampilan rumah megah dan super mewah ya? Wah.. sangat menarik itu, Mudah-mudahan bisa dapat ijin untuk masuk ke rumah Nggambiran dan meliput suatu hal yang unik di rumah tsb. Jadi penasaran..:)

      Oh iya katanya Louw Djing Tie itu kalau masuk ke area rumah nggak lewat pintu ya tapi dengan melompat tembok pagar karena mempunyai ilmu ringan tubuh. Wah keren itu aku juga pingin punya ilmu sepetti itu.. Hehehe..

      Delete
    7. Hohoho ..., kalau saja betulan terjadi, sesuatooooh banget namanya 😅

      Iya, ntar kapan aku akan datangi rumah khas Tionghoa super mewah itu, sista.
      Kemarin sempat tanya sama tukang kebun yang lagi merawat tanaman dihalamannya tapi ngga mampir sekalian kesana karena aku fokus nyari alamat rumah Tjandie Gotong Rojong ini.
      Aku sempat melongo lihat bangunan depan dan ruangan dalamnya yang tak ditutup pintunya ... jadi kelihatan dari luar pagar besi.
      Dalam hati aku langsung kagum ... sampai nyeletuk 'gilaaa ... mewah beneeer ini rumah ! '.
      Pokoke beneran super keren.

      Waah .. aku juga pengiiin punya ilmu ringan tubuh kayak beliau ... hehehe .. bisa loncat sana sini dengan mudahnya ..., mantap betul yaaa ...

      Delete
    8. Hehehe... Iya kalau sampai bisa merankan tokoh Brandon Lee.. wah itu sesuatu banget..:)

      Jadi kemarin itu sempat nanya-nanya sama tukang kebun pas lagi nyari Omah Tjandi Gotong Royong ya? Ternyata eh ternyata itu sebelahnyasebelahnya ada rumah besar super mewah berarsitektur Tiongkok,brader sampai melongo dibuatnya.
      Rumah mewah super keren itu bisa jadi milik seorang pengusaha Taipan atau konglomerat ya?
      Memang ada tanda-tanda dari luar kalau rumah mewah tsb adalah rumah tempat usaha atau sesuatu? Kok brader ingin meliputnya?
      Semoga kesampaian ya?

      Ayo kita belajar ilmu ringan tubuh yuk biar bisa gesit loncat sana loncat sini kayak Louw Djing Tie yang loncat pagar tembok tinggi wah mantap banget. Tapi ntar asal jangan jadi slonong boy aja ya? Wkwkwkwk...

      Makan bolu cukil dulu kali ya biar bisa ringan tubuh kita.. Hehehe..

      Delete
    9. Selain tanya ke tukang kebun di halaman rumah khas Tionghoa super mewah itu, sebelumnya aku dapat info rumah Nggambiran itu juga dari satu klienku, sista.
      Info dari dia, di dekat lokasi Omah Tjandie Gotong Rojong ada satu rumah apik dan benar kata dia.
      Tapi karena aku memburu waktu saat itu jadi tak sempat sekalian mampir je rumah wah itu.

      Juga info dari klienku, rumah wah itu pernah digunakan sebagai industri rempah gambir.

      Eiiits,
      Biar ringan tubuh selain makan bolu cukil juga makan agar-agar yang sista buat itu 😆 ...
      Kan ringan tuh makanannya, jadi tubuh enteng loncatnya hahaha ...

      Delete
  4. wah baru tahu ada tempat seperti ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga jadi rekomendasi lokasi liburan mas Arif selanjutnya sewaktu di Parakan nanti 🙂

      Delete
  5. Baca postingan ini jadi ingat waktu kecil sering nonton film kungfu, rumah juga kebetulan dekat dgn gedung bioskop tinggal jalan sebentar udh sampai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ..., nonton bioskop film kungfunya ngga pakai acara bolos sekolah kan mas Aris 😁 ?.

      Keren ya film kungfu ...
      Tehnik pembuatan filmnya mumpuni.

      Delete
    2. Waktu SD nonton sore hari, seringnya sama kakak laki2 saya, dan kdg2 sama tetangga juga. 😀

      Delete
  6. wah bang, panjenengan kok bisa menulis panjang sekali
    ajarin dunk...

    jadi Tarakan ini ibaratnya kota kecil mirip Tiongkok ya
    peninggalan dan warisan perang zaman Raden Wijaya parti berhubungan dengan ini semua

    mereka ada yang melarikan diri entah kemana karena dihajar pasukan Raden Wijaya yang kalap
    Ada yang menikah dengan pribuma dan beranak pinak
    mungkinkah begitu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa menulis panjang karena terbawa suasana, mas .. hehehe 😁
      Menulisnya sambil bayangin apa yang terekam di ingatan.
      Ayok, kita sama-sama belajar menulis yang panjang, mas Awan .. 😉
      Mungkin tipsku ini berguna : aku kalau menulis di tempat atau ruangan yang sepi, ngga ada suara tv juga musik ..., hening.
      Jadi konsen ngga terpecah.
      Meski seringkali notif pesan masuk di hp kuabaikan, tetap dan terus konsen menulis 😅

      Bisa jadi begitu kalau rangkaian kisah ditelusuri satu persatu, mas.

      Delete
  7. Wahhh..... wahhh..... gayanya, bikin si jet lie ada saingan mas, hhahahah....

    Kenapa tidak pakai tombak mas, kan ada tuch disampingnya.

    Louw Djing Tie, ternyata sosok yang membawa ilmu kung fu yach mas.... senior nich kalau dibandingkan dengan Jet lie.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhuahhaaha ...,
      Ini Jet Lee from Indonesia, kaaang 😅

      Ngga berani pegang tombaknya, takut kenapa-kenapa.
      Jadinya cuma mandangin sambil berfoto didepannya 😉

      Betul banget.
      Jet Lee yang juga pernah belajar ilmu kungfu di perguruan shaolin merupakan generasi baru yang jauuuuh banget masa rentang waktunya dengan Louw Djing Tie.

      Delete
  8. Jangan-jangan antara Himawan dan Louw Djing Tie ada hubungan darah karena bekas luka yang sama qiqiqiqi. Becandaaaa. Membaca pos ini, saya senang sekali, karena masih ada rumah peninggalan zaman dahulu yang sampai sekarang dirawat dengan sangat baik dan menyimpan catatan sejarahnya. Lebih keren lagi, ditulis oleh Himawan dengan sangat lengkap sehingga pembaca, terutama saya yang jauh ini, jadi tahu sejarah Louw Djing Tie yang membawa 'shaolin'nya ke Indonesia.

    Errr itu di foto, jurus apa, Himawan? Qiqiqiqi ;))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixi ..., ngga apa-apa becandanya, kak Tuteh 😁

      Jujur aku juga kaget setelah dapat info kalau Louw Djing Tie punya luka di kening kayak aku.
      Pikiranku langsung kebayang ' Apa jangan-jangan aku reinkarnasinya Louw Djing Tie ' ... hehehe

      Bedanya,
      Kalau ilmu bela dirinya Louw Djing Tie kelas wahid, sementara aku ilmu bela dirinya cuma kelas amatir 😁
      Pernah ikut latihan bela diri karate cuma sampai satu level 😅

      Betul,
      Aku juga salut rumah bersejarah ini sampai sekarang setelah ratusan tahun lalu masih terawat sangat baik.
      Semoga rumah-rumah kuno lainnya juga terawat dengan baik seperti rumah ini ya, kak.

      Itu gaya ...ngggg# .. apa ya 🤔 ..., kayaknya gaya sabetan tisu melayang ... 😅

      Delete
    2. Eits, tissu pun kalau disabet dengan tenaga super bisa bikin lawan ambruk loh :D wkwkwkw.

      Delete
    3. Wwkkkwwkk ...
      Kalau gitu, aku akan praktekkan sekarang ...

      Kalau berhasil bikin lawan ambruk gegara sabetan tissu ku ..., berarti aku udah ahli ilmu Shaolin 😅

      Delete
    4. Berarti tenaga dalamnya sudah sakti mandraguna :D hahaha.

      Delete
  9. Kehebatan loe ding tie tidak semanis asmaranya. Biduk rumah tangganya tidak sebahagia selayaknya. Wah untung bisa masuknya, Sudah gitu gratis pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin benar adanya jika beliau tak semestinya menikah sesuai apa yang sudah jadi sumpahnya.
      Dan mungkin bisa jadi,
      Jika tak menikah lain lagi kisah akhir hidupnya
      [ di bagian tulisan ini aku ikut merasakan kesedihan apa yang dialami Louw Djing Tie ]

      Kapan ada waktu, berkunjung ke rumah bersejarah ini yuk, mas DB ...

      Delete
  10. Begitu baca judulnya, langsung buka GoogleMaps buat nyari letak Parakan. Ooo ... baru tahu ternyata letaknya dekat Magelang. Saya seumur-umur nggak pernah lewat jalur Temanggung-Wonosobo. Dan baru sekarang dengar ada tempat bersejarah penting di situ. Jadi pengin lewat daerah situ. Tapi kayaknya jalannya naik turun gitu ya. Serem dong?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. GoogleMaps langsung disearching ..,
      keren itu, kak 😁👍

      Yups, betul.
      Letak kota Parakan cukup dekat dan rada jauh juga ditempuh dari kota Magelang, kak.
      Rute ke kotanya meski di lereng gunung tapi terbilang ngga sulit ditempuh kok, kak.
      Ngga naik turun ekstrim jalurnya.

      Nah, setelah dari Parakan ke Wonosobo mulai agak naik turun.
      Kemudian dari Wonosobo ke Dieng barulah naik turun banget plus meliuk- liuk rutenya, kak 😁

      Delete
  11. Acara travelingnya ga abis-abis mas hima, di pulau jawa memiliki ribuan tujuan untuk traveling, kalo saya pergi ke tempat ini sepertinya saya lebih tertarik melihat senjatanya mas, di dalam artikel disebutkan senjata tongkatnya dibuat dari kayu cendana pasti harum itu mas hima

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe 😁 .., mumpung masih muda dan punya tenaga, mas Harman.

      Betul, di pulau Jawa kebetulan tersebar ribuan tempat wisata pilihan yang bisa dikunjungi, mas.
      Masih ditambah tempat-tempat wisata kekinian yang akhir-akhir ini banyak bermunculan.

      Iya, mas aku juga seperti mas Harman tertarik melihat koleksi senjatanya.
      Tapi aku ngga berani mencoba memegangnya soalnya benda bersejarah ratusan tahun silam 😁

      Pastinya harum ya, mas.
      Sayangnya lemari displaynya dikunci rapat, jadi ngga kecium wanginya kayu cendana.

      Delete
  12. Ciattt ciattt!
    Coba ada sekalian bikin tutorial kungfu maaas jangan foto kuda kuda doang ahhahaha

    Wah banyak pelajaran yah yang bisa diambil dari kisah hidup beliau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha ...
      Lalu 🤔 ,
      Tutorialnya diunggah di youtube gitu jurus kungfuku 😅 ?
      Kalau gitu, kita barengan aja yuk bikin tutorial kungfu .. biar rame adegannya hehehe 😁

      Betul, sejarah perjalanan hidup Louw Djing Tie banyak pelajaran penting yang bisa diambil untuk hidup kita-kita.

      Delete
  13. Sudah bergaya keren keran tempat pake jurus, terus ada makannya bolu cap tomat

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😉 di noted alamat Omah Tjandie Gotong Rojongnya ya, Idris ...
      Ntar bisa buat liburan Idris saat ke Parakan.

      Enak loh bolunya .. hehehe

      Delete
  14. jadi udah gak produksi ya jamunyaa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak Sha produksi jamu berakhir tahun 2015 karena sulitnya bahan produksi dicari, tak lagi sesuai bahan ramuan resep asli dari Louw Djing Tie.

      Delete
  15. wah memang hebat cerita tentang shaolin ternyata ada di sini ya kirain cuma wong pei hung yang mashur di china sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, mas Rusdi di China nama Wong Fei Hung master shaolin melegenda, di Indonesia nama Lou Djing Tie sebagai pembawa ilmu bela diri shaolin namanya juga melegenda.
      Semoga kelak sejarahnya difilmkan.

      Delete
  16. busui satu ini yang sedang comment malah teralihkan dengan adanya bolu cukil tomat satu ini yang bikin baper pengen makan.. btw keren ya kak adaa cerita tentang shaolin yang terkenal itu yaaa.. duh kirain cuma di negeri tetangga aja.. btw uda lama aku baru nengokin lagi blognya ka himawant makin kece aja nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, kak Vika terimakasih ya pendapatnya.
      Maaf udah lama ngga berkunjung di blog kak Vika dan beberapa teman blogger lainnya karena kadang G+ lama loadingnya.

      Iya kak, patut dibanggakan sosok Louw Djing Tie ini.
      Berkat beliau, ilmu bela diri kunthaw berkembang di Indonesia dan jadi cikal bakal sejarah persilatan di negara kita.

      Hehehe bolu cukilnya enak loh, kak 😁

      Delete
    2. hehe gpp kakak,, aku juga ud lama dan jarang buka blog kaya ditelan bumi nih hehehee... Ia nih jadi pengen order bolu cukilnya ya hihihi

      Delete
  17. Wah ternyata kungfu sudah lama masuk ke Indonesia ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mas Dwi sejak ratusan tahun silam.

      Semoga tokoh besar Louw Djing Tie ini kelak difilmkan ya agar masyarakat luas yang belum banyak mengenal sejarah asal mula ilmu bela diri di Indonesia jadi tau.

      Delete
  18. melihat foto-foto rumahnya, seakan terbang ke masa lalu mas himawant..
    hehehe...
    rasanya gimana gitu..
    auranya berasalah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bli Eka.
      Berada disana aura masa tempoe doloe kerasa banget ...
      Imajinasi kita kayak digiring akan kegiatan yang pernah terjadi ditempat itu.

      Juga saat berada di jalan di deretan rumah-rumah Tionghoa jaman dulu di Parakan ..., rasanya kita kayak hidup bukan berada di jaman sekarang hehehe ...

      Delete
  19. jalan-jalan lagi T_T.... jadi sedih ni mz tiap main di mari...

    btw Parakan itu dimana? Gunung Sumbing itu dimana? gak ngerti aku mz T_T

    kalau posenya sih lumayan mz kiki, tapi masih kalah banyak sama jacky chen :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku berharapnya kak Risna jangan sedih berkunjung di blogku, tapi terhibur dengan melihat foto dan membaca tulisanku hehehe ...
      Ayoook tetap semangat ya, kak 😉

      Kota Parakan itu berada di perbatasan antara Temanggung dan Wonosobo, kak.
      Kontur tata kotanya mengikuti kontur pegunungan, naik turun gitu jalurnya.
      Tapi ngga ekstrim atau sulit dilalui kok.

      Bhuahaahaha ...
      Jangan samakan poseku sama ... Jackie Chan dong kaaaak 🤣
      Beda jauuuh ... xixixi ...
      Aku kan amatir, kalau Jackie Chan kan udah senior 😜

      Delete
    2. kikiki kirain se letingan mz :p

      ooh di wonosobo, kalau wonosobo taunya cuman pernah denger kalau ada pondok takhfidz yang bimbing santrinya khafiz 30 juz hanya dalam 1 bulan :)

      abis gimana lagi liat foto traveling terus cuman gak bisa kemana-mana T_T

      Delete
    3. ☺ aku mah apa atuuh ..
      Hehehe pemain kungfu kelas kencur 🌱

      O, iya to, kak.
      Kak Risna ngga belajar jadi santri di Wonosobo saja, kak ?.
      Ntar pas hari off kuajakin jalan-jalan wwkkkwwwkk ...

      Delete
  20. Pernah ke wonosobo via Temanggung tapi gak tahu tempat ini, tahunya kebun teh saja, hehe.

    Andai paramnya masih ada, bisa titip nih, huahaha.

    Ini rumahnya masih ditempati atau hanya untuk usaha kue saja, soalnya di foto gak orang selain kak Himawan, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rute ke rumah bersejarah ini dimulai dari persimpangan pertama [ belok ke kanan, bernama jalan Brigjend. Katamso ] dari jalur Temanggung ke Wonosobo yang kak Qudsi lewati.

      Sayangnya produksi paramnya udah terhenti, kak.

      Rumah ini masih ditempati, kak.
      Biasaaa .., aku kalau mengambil gambar suatu lokasi selalu kuusahakan ngga kelihatan orang, kak ... hahahaha
      Jadilah kelihatannya aku seorang diri disana 😅
      Padahal staff produksi bolu cukil juga banyak berada disana, tapi ngga kufoto 😁

      Delete
    2. Bukan di jalan utama berarti ya. Hm.. Hm... Pantas gak tahu, hehehe.

      Iya, sayang sekali. Padahal param banyak dibutuhkan bagi yang sering pegel-pegel seperti saya, 😁😁😁.

      Kasihan stafnya atuh kak, cuma bisa lihat padahal mungkin dia ingin difoto juga hehhe

      Delete
  21. Hai Mas, saya pindah blog, nih. Link yang kemarin Mas hino buka itu rupanya sudah saya hapus. Maaf.
    Saya lagi fokus benahi blog jadi belum bisa BW. Ada yang salah dalam hal pemilihan jenis huruf plus ukurannya. Sekarang saya terpaksa arial 14, apa jelas atau kekecilan?
    Soalnya sobat saya protes di atas itu kebesaran. Dan tak bisa pisahin paragrafnya agar tak dempet gara-gara malah akan panjang ke bawah dan renggang.
    Ah, lieur.
    Minat banget pada paramnya, tapi kualitas memang harus diutamakan. Cuma apa tak bisa dibudidayakan? Resepnya dibantu pabrik besar agar bisa diproduksi massal? He he.
    Saya dalam usia segini ngerasain pegal linu, nyeri di punggung dan pinggang plus kaki. Sibuk dengan rutinitas khas ibu rumah tangga disambi kerja jadi penulis dan duduk di kursi mulu.
    Param zaman sekarang mah gak tahu khasiatnya apa manjr untuk nyeri tulang.
    Duh.
    Saya suka kisah sejarah, ternyata ilmu biksu itu banyak juga, ya. Kala nonton film Shaolin kerap lihat aplikasi ilmu totok dan pengobatan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga, kak Rohyati ..
      Lega saya rasanya kak Rohyati memberi kabar melalui post ini, kemarin kukira kak Rohyati sudah tak aktif lagi jadi penulis karena ku klik berkali-kali beberapa artikelnya kok tidak bisa terbuka halamannya ..., ternyata sedang proses pembenahan.
      Nanti saya coba lihat blognya kak Rohyati yang baru ya, akan saya lihat ukuran hurufnya.

      Ya, kak sekarang produksi param dan jamu lainnya tak lagi diteruskan karena sulitnya bahan baku yang tak sesuai resep asli dari Louw Djing Tie.
      Semoga ya kak nantinya ada produsen membeli lisensinya dan param bermerk Louw Djing Tie kembali berproduksi dan kembali berkibar namanya.

      Jaga kesehatan, kak.
      Sesekali minum susu kalsium.

      Terimakasih kak Rohyati terhibur membaca wisata sejarah yang kutulis ini.

      Delete
  22. Ternyata ada jejak2 kungfu juga ya, walau baru denger Parakan sih..
    Di padang dan Bukittinggi juga ada bang, namanya kampung cina, yg di padang lengkap dengan bangunan2 kuno nya, agama, budaya dan bahasanya, tapi gak ada keknya jejak2 kungfu disana hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat menarik, itu mas Wiki.
      Di Padang dan Bukit Tinggi ada wisata kampung China.
      Patut diacungi jempol dinas kepriwisataan disana tergerak mengaktifkan budaya multikultur.

      Jejak kungfu di Padang dan Bukittinggi mungkin ada ya kalau ditelusuri, mas.
      Barangkali salah satu murid Louw Djing Tie mengembangkan ilmu bela diri sampai di Padang dan Bukittinggi.

      Delete
  23. Dari semua postingan mas Himawan yang pernah saya baca, post dengan judul Louw Djing Tie, Jejak si Pendekar Shaolin di Parakan yang paling menarik, informatif dan mengandung nilai edukasi yang teramat tinggi.

    Contoh:

    Jalan Tejo Sunaryo ini lebih dikenal warga dengan nama lama, disebutnya Gambiran [ Dialek Jawa menyebutnya Nggambiran, ada penambahan bunyi Ng didepan pengucapannya ].

    Saya merasa seperti waktu kuliah, saat belajar fonologi, ilmu yang mempepelajari bunyi Bahasa. Penulisan sampai pada taraf penpenjelasan seperti ini membuat saya kagum bangat mas, totalitas.
    Samapai falsafahpun dijelaskan secara terang benderang, kagum bangat mas...

    “Pintunya berupa bukaan dua daun pintu bertuliskan huruf Mandarin berwarna gold mengkilap, telapak kaki Qilin [ mewakili sifat maskulin ] dan bulu burung Phoenix [ mewakili sifat feminim ]”.

    Lengkap dan mendalam..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak penilaiannya untuk post ini, mas Martin 🙏
      Saya jadi terharu membacanya.

      Semoga tulisan saya berikutnya juga bisa atau lebih baik lagi dari tulisan artikel Louw Djing Tie ini.
      Terimakasih opini dan supportnya selalu, mas.

      Delete
  24. Gaya dan bekas lukanya mirip. Jangan2 mas sama louw djing tie ada sesuatu nih :D

    Asik nih main kesini. Btw salam kenal mas, anak baru nih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan-jangaaaan ...
      Benar adanya kalau aku itu ... reinkarnasinya Louw Djing Tie 😅

      Terimakasih ya udah main kesini, kang 🙏
      Salam kenal juga dari saya, kudoakan kang Piknik juga sukses nantinya, Amin.

      Delete
  25. sekeliling kawasan ini, ramai warga tionghua ke mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak.
      Di kota Parakan etnis Tionghoa dan pribumi hidup harmonis sejak ratusan tahun silam sampai sekarang.

      Menyenangkan lihat aktivitas warga keturunan dan pribumi berbaur akrab disana, kak.

      Delete
    2. mereka bertutur dalam bahasa indonesia atau bahasa mereka sendiri (sesama sendiri)?

      Delete
    3. Kebanyakan mereka berkomunikasi pakai bahasa Jawa, kak 😁
      Mereka lebih fasih gunain bahasa Jawa.

      Sayang ya sebenarnya, bahasa Mandarin semestinya juga tetap diaktifkan karena sekarang bahasa Mandarin sudah masuk sebagai salah satu bahasa International.

      Delete
    4. kalau saya ke sana tentu susah saya nak bezakan, sama ada mereka orang tionghua atau orang jawa hahaha... at the end saya hanya boleh tanya "wes mangan?" hahahahahahahahahah

      Delete
  26. wah...bisa langsung jadi guru kungfu nih...sudah masuk roh Louw Djing Tie .....hehe

    Menarik cerita perjalanannya. thank you for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😅 kak Lantana bisa ajaa ...

      Terimakasih opininya, kak.
      Semoga bermanfaat.

      Delete
  27. Kalau di daerah saya, penghasil tembakau terbaik itu ada di daerah Parugpug. Betewe gayanya keren banget pak, kaya pendekar shaolin hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih infonya tentang Parugpug, bisa buat nambah wawasan semua pembaca, pak Yanuar.

      Hehehe 😁 .. , pendekar shaolin zaman nouw 😉

      Delete
  28. dari sekian banyak perjalanan travelling tentang ke Sindoro, keknya cuma aku yang baru sadar ternyata ada sisi kisah super menarik lain selain soal mendaki puncak Sindoro.

    Asli baru tau kalo ada kisah ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren ..., mas Prio udah sering perjalanan travelling ke gunung Sindoro 👍.
      Aku pengin juga sih ngetrip ke area puncak gunung seperti mas Prio lakukan, tapi aku ngga berani kalau sendirian ..., takut kesasar di hutan, mas 😁

      Kapan ada waktu, silahkan berkunjung ke rumah sejarah Liuw Djing Tie ini, mas.
      Senang rasanya artikel ini nambah wawasan buat mas Prio dan pembaca lainnya.

      Delete
  29. Pendekar Shaolin kok pake topi... nggak aci ahh.. nggak seru...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixi 😁
      Hahahahaha 😅

      Yeiiiiiii ... aku kan pendekar Shaolin jaman noooow atuuuh, mas Antooon ...

      Mau kukepang rambutku belum panjang 😜

      Delete
  30. Wah ini pasti suhunya shaolin di Indonesia yah. Terus berarti di situ banyak warga Tionghoa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat betul, mas Suhendra.
      Semoga sejarah Louw Djing Tie ini kelak difilmkan agar dikenal masyarakat Indonesia secara luas dan dikenal banyak negara lain.

      Delete
  31. gayamu mas... seperti pendekar shaolin aja sudah... tapi gayanya aja ya, aslinya ga bisa kungfu kan.. ngaku..

    kalau belajar karate sampai level satu berarti gaya tok iki mas bisa kungfu ha ha ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha ... 😂
      Kok tau aku cuma 1 level belajar karate, kak ?.
      Baca di kolom komentar diatas yaaa ... 😁 ?

      Yaaa kalau cuma ngerobohin ... pohon batang taoge siiih bisaaaa ... hahaha 🤣

      Delete
  32. wow history nya tuan Liouw panjang sekalii. Kalau baca cerita2 orang tiongkok semangatnya luar biasa sekali ya, dagang atau apapun itu dijalani dgn semangat 45
    aku baru denger nama kota parakan nih, yaampunnn aku waktu sekolah kemana aja ya mainnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe semoga kak Ainun suka membaca sejarah panjang Louw Djing Tie ...

      Betul, semangat orang Tiongkok memang luar biasa.
      Terkenal gigih dan ulet juga pemberani merantau sampai ke negara yang jauh dari Tiongkok.

      Kak Ainun masa sekolah mainnya ke luar negeri terus nih, sampai nga kenal nama kota Parakan 😁

      Delete
    2. hahaha kayaknya pelajaran geografinya nggak pernah merhatiin wkwkkw

      Delete
    3. Wwwkkkekk ...
      Ngga merhatiin pelajaran geografi tapi malah sibuk ngegabar tokoh kartun tom & jerry 😂

      Delete
  33. wah jadi ambil hikmah mas dari cerita di atas,, jangan sampai sumpah gak nikah dan jangan tunda buat menikah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau begitu ..., segeralah Angkis menikah 😉
      Hehehe 😁

      Delete
  34. Aku tuh kenapa ya selalu horor aja gitu tiap maen ke blog ini.... ahhaa Seru-seru merinding liat foto2nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaaha ... , ngga usah takut, mas Adhi 😃
      Ngga horor kok gedungnya,malah apik buat foto-foto 😉

      Delete
  35. Wah apa tuuuh makanan baru atuuu aku, bolu cukil cap tomat? Lucu bentuknya hihiihi :D Pa kabar MAs Hino? Udah lama kita ga ngubrul2 yak :) Baca sejarahnya bisa bikin bobo iniiii hehe. Serem ah ceritanya sampai isteri ketiganya itu..Jadi menikah bukan karena keinginan sendiri ya, duh kacian. Enaknya langsung didongengi sm Mas Hino nih wkwkwkwk sambil ngeteh dan mamam kue bolunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😁 unik kan bentuk bolu cukionya, kak Nurul.
      Rasanya enak loh [ bukan promosi bak seorang sales loh wwkkkwwkk ] .., aroma bolunya ada rempah tipis-tipis.
      Terjangkau, cuma 16K untuk kemasan 20 bolu cukil.

      Wuakakaaka .. ntar kalau didongengin malah abis satu drum teh loh minumnya 😂

      Delete
  36. mas Himawan, saya komentar 2kali nih..
    mas mohon doanya ya dan teman blogger lain, mba Ima pemilik blog dapur Ima telah pergi untuk selamanya
    semoga mba Ima tenang di sisi-Nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Monica, maaf baru sempat membalas.
      Teman blogger kita kak Sitti Taslimah bukan, kak ?.
      Coba aku kunjungi blognya.
      Terimakasih infonya, kak.

      Ikut mendoakan agar beliau tenang dan bahagia disisiNya.

      Ngga nyangka aku, kak.
      Baru beberapa waktu lalu aku dan beliau saling berkomunikasi di pesan youtube dan bercanda di komentar tau2 sudah berpulang selamanya.
      Merasa ikut kehilangan.

      Delete
  37. foto admin bak pendekar saja itu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh#
      Hahaahaa ...

      Pendekar dari Jowo, maaas ... 😆

      Delete
  38. Eh ini tempatnya insta-genic banget sih. Langsung bayangin kesana sambil bawa tripod buat hunting foto di rumah2nya itu Mas hahah (saking sendiri banget Gak ada yg fotoin).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha ...
      Dicatat lokasi rumahnya ya, mas Didy 😃

      Dan ...
      Jangan sampai ketinggalan tripodnya 😉

      Delete
  39. kue tomatnya minta sat ya Bang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ntar kalau aku ke Parakan lagi kukirimin buat mas Tomo ya 🙂

      Delete
  40. Wow, I'm so amazed. Pengalaman yg sangat menarik. Semoga aku punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini nanti. Itu gimana yah, masuk rumah gak pake masuk pintu tapi loncatin tembok. Beda lah yah sama yg awam bela diri :D Jujur, seperti diceritain ala ala film kungfu kayak di tv itu. Melegenda, tapi aku gak suka bagian pernikahannya... dia yang ngalamin, aku yang sakit hati :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Howaaa ..
      Kak Ran Soeky jadi sakit hati membaca kisah tragis pernikahan Louw Djing Tie 😓

      Kudoakan kak Ran suatu saat nanti kesampaian liburan ke rumah bersejarah ini.
      Jangan lupa kalau kesampaian, sekalian mampirlah ke salah satu rumah Tionghoa yang tak jauh dari rumah bersejarah ini ..., namanya Omah Nggambiran.
      Bentuk bangunannya pasti bikin kak Ran terkagum-kagum ngelihatnya.

      Delete
  41. keren ya bang cerita hidupnya louw djing tie, meski gak semuanya bahagia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mas Khanif.
      Cerita jalan hidup Louw Djing Tie sangat menarik disimak dan diambil hikmahnya.

      Semoga kelak sejarah beliau difilmkan.

      Delete
  42. Wah bagus yah mas masuknya tidak ada biaya yang dikenakan kalau masuk. Jadi pengen juga kesana. Tapi sayang tempatnya jauh dari tempatku. Semoga bisa ada kesempatan kesana di lain waktu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, aku ikut mendoakan keinginan kak Suryani kesampaian liburan di Parakan dan Omah Tjandi Gotong Rojong tempat Louw Djing Tie mendirikan perguruan silat shaolin di Indonesia.

      Delete
  43. Ah dirimu! Nemu aja tempat menarik meski di kota sekecil Parakan. Aku cuma lewat2 aja sih kalau mau ke Jakarta. Pernah sekali mampir 4 jam tapi ke UGD Ngesti Waluyo karena asam lambungku kumat. Wkwkwkk. Ntar lagi kalau lewat2 ke kota2 kecil kudu lebih peka nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nemu tempat menarik gegara nguping sana-sini, kak Lusi ..., kayak kuping kelelawar gitu ha ha ha 😅

      Astaga, kak Lusi ternyata punya sakit maag seperti aku.
      Akupun juga pernah dirawat singkat di RS akibat asam lambung kumat, kak.
      Kalau gitu, sering-seringlah ngemil dan kalau suka ngopi, cukup sekali sehari saja.

      Delete
  44. # Sudah ada iklan ya?
    akan saya klik iklannya

    ReplyDelete