Sunday, November 11, 2018

Louw Djing Tie, Jejak si Pendekar Shaolin di Parakan

Kota Parakan terletak berada di lereng gunung Sindoro dan gunung Sumbing, merupakan salah satu kota yang seringkali disebut - sebut sebagai lokasi penghasil tanaman tembakau terbaik di Indonesia.
Memasuki kota Parakan, mata dan imajinasi kita akan digiring ke masa tempoe doloe dengan melihat banyaknya deretan peninggalan bangunan rumah berasitektur Tionghoa yang masih tetap utuh terjaga dengan baik hingga sekarang. 
Bisa dikatakan, Parakan adalah perkotaan Tiongkok kecil.

Tak sedikit bangunan rumah khas Tionghoa tertutup rapat oleh tingginya pagar tembok, hanya sebatas bisa dipandangi bagian  dinding luar bangunan dan atapnya saja, tetapi beberapa bangunan rumah tua diantaranya dapat atau diperbolehkan untuk dikunjungi oleh siapapun.

Salah satunya bangunan rumah yang dinamai Omah Tjandie Gotong Rojong berada di Jalan Demangan nomor 16, yang kudatangi kali ini untuk berlibur di kota Parakan, kabupaten Temanggung.


Trip Of Mine
Bergaya ala jurus Shaolin di depan seperangkat senjata peninggalan Louw Djing Tie

Omah Tjandie Gotong Rojong bukanlah rumah khas Tionghoa biasa, tapi rumah yang didirikan tahun 1870 ini menyimpan sejarah besar dari seorang pembawa dan penyebar ilmu bela diri shaolin dari Tiongkok ke Indonesia, Louw Djing Tie .

Sekelumit cerita pencarian lokasi

Pintu kayu yang memiliki dua bukaan dan bertuliskan Omah Tjandie Gotong Rojong di bagian atas dindingnya itu tertutup rapat, beberapakali ketukan yang kulakukan tak kunjung dibuka oleh pemiliknya.


Trip Of Mine
Gerbang pintu Omah Tjandie Gotong Rojong

Akhirnya kuputuskan meninggalkan pintu rumah di jalan Demangan itu untuk kembali memutar balik ke arah jalan Tejo Sunaryo, jalan yang semula telah kulewati sebelumnya untuk pencarian lokasi rumah pendekar Shaolin asal Tiongkok, Louw Djing Tie.

Jalan Tejo Sunaryo ini lebih dikenal warga dengan nama lama, disebutnya Gambiran [ Dialek Jawa menyebutnya Nggambiran, ada penambahan bunyi Ng didepan pengucapannya ]. 
Kulakukan memutar balik kembali ke Jalan Tejo Sunaryo atas pemberian informasi dari beberapa pria yang berada di warung angkringan, jika pintu Omah Tjandie Gotong Rojong tak dibuka, cobalah mengetuk lewat pintu ' depan ' .
Jadi benar adanya jika rumah bersejarah dan sekarang masuk sebagai warisan cagar budaya ini memiliki 2 pintu masuk. 

Pintu ke satu berada di jalan Demangan menghadap ke arah pemandangan gunung Sumbing dan pintu kedua merupakan pintu tambahan baru berada di jalan Tejo Sunaryo atau Gambiran, berderetan dan berhadapan dengan rumah - rumah bangunan Tionghoa lainnya.

Benar saja dengan menekan tombol bel, tak lama kemudian pintu dibukakan oleh seorang pemuda yang ternyata merupakan salah satu pekerja bolu yang diproduksi di rumah ini.
Setelah kuutarakan apa maksud kedatanganku, aku dipersilahkan masuk untuk melihat keseluruhan bangunan megah tempat Louw Djing Tie menumpang tinggal di rumah milik keluarga Hoo Ting Bie, mulai dari mendirikan perguruan Garuda Mas menggembleng ilmu bela diri murid - muridnya, menjadi tabib pengobatan, memproduksi beragam jamu bermerk Garuda seperti param dan minyak gosok, hingga di akhir sisa usia hidupnya 66 tahun pada tahun 1921.

Bagian pertama rumah yang kulewati merupakan dapur untuk produksi kue bolu cukil cap Tomat.
Usaha kue bolu cukil cap Tomat merupakan pengganti usaha param dan obat gosok bermerk Garuda dengan bungkus kemasan foto Louw Djing Tie yang terhenti produksinya sejak tahun 2015 lalu karena sulitnya bahan produksi ditemui, tak selengkap bahan resep asli dari Louw Djing Tie.


Trip Of Mine
Bolu kue cukil cap Tomat

Bangunan inti atau induk berpilar 2 berukuran besar berada di tengah halaman. 
Pintunya berupa bukaan dua daun pintu bertuliskan huruf Mandarin berwarna gold mengkilap, telapak kaki Qilin [ mewakili sifat maskulin ] dan bulu burung Phoenix [ mewakili sifat feminim ]. 
Keduanya melambangkan antara keperkasaan dan keindahan. 


Trip Of Mine
Bangunan induk Omah Tjandie Gotong Rojong

Seperangkat senjata milik Louw Djing Tie yang dulu digunakan untuk berlatih kunthaw ditempatkan di ruang tamu sebelah kanan, diantaranya berupa golok besar dan tombak.
Tongkat kayu cendana yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie, buku resep ramuan jamu asli buatan Louw Djing Tie, minyak gosok dan parem produksi akhir tahun 2015 dipajang di satu lemari kaca di ruang tamu sebelah kiri.


Trip Of Mine
Tongkat milik Louw Djing Tie terawat baik di lemari display di ruang tamu Omah Tjandie Gotong Rojong

Di dinding rumah yang terpisah berhadapan, terpasang foto Louw Djing Tie bertopi baret hitam duduk memegang tongkat kayu cendana dikelilingi murid - muridnya, foto liputan dari beberapa media surat kabar juga foto dua keluarga yang pernah memiliki rumah ini, keluarga Hoo Ting Bie pemilik rumah pertama dan 2 bersaudara Go Kim Tong dan Go Kim Jong yang membeli rumah dari Hoo Ting Bie.


Trip Of Mine
Sederet foto Louw Djing Tie 

Tapi Louw Djing Tie bukanlah tinggal di rumah induk berpilar 2 itu, tapi menempati satu bangunan berada di pojok halaman.
Di halaman taman sampai sekarang masih berdiri tiang gelang besi setinggi 2, 5 meter yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie dan murid - muridnya untuk melatih kekuatan tangan dan perut.

Kesetiakawan mengubah hidup Louw Djing Tie

Menurut cerita dari berbagai sumber informasi yang kuperoleh, diantaranya dari cerita mamaku tentang kehebatan Louw Djing Tie yang melegenda sampai sekarang, seperti : untuk memasuki area rumahnya Louw Djing Tie seringkali tak melewati pintu rumah, tetapi dengan cara meloncat tembok pagar rumah khas bangunan Tionghoa yang dibuat setinggi beberapa meter mengelilingi bangunan rumah.
Dengan ilmu ringan tubuhnya, Louw Djing Tie sanggup terlihat seakan terbang untuk meloncat dari satu tempat ke tempat lain.
Satu cerita ini begitu melegenda turun temurun diceritakan sejak jaman kakek buyutku, orang tuaku dan kini diceritakan ke aku.

Dan menurut sumber informasi yang juga kuperoleh dari cerita mamaku karena dulu mama papaku seringkali ke Parakan untuk menjalankan usaha tembakau dan mereka berdua seringkali saling membicarakan dengan para petani tembakau setempat tentang kehebatan ilmu kungfu Louw Djing Tie, juga dari sumber yang kuperoleh dari https://www.wikipedia.org 

Louw Djing Tie lahir di kampung Khee Thao Kee, kota Hayteng, Hokkian, Tiongkok.
Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakak dan adiknya perempuan, Louw Djing Tie satu - satunya anak lelaki. 
Kakaknya bernama Louw Djing Lian dan adiknya bernama Louw Djing Hiang.
Sejak kecil, dia pemberani dan nakal, namun rendah hati.
Beberapa kali pernah terlibat berantem dengan teman - temannya dan pada usia 9 tahun mendapat bekas luka dikeningnya yang membekas hingga sekarang.


" Loh ..., kok kayak aku, ya ?. Punya bekas luka di kening. Bedanya Louw Djing Tie kecil dapat bekas luka karena berantem dengan teman - temannya, kalau aku dapat bekas lukanya karena kecelakaan "

Louw Djing Tie kecil bersemangat masuk ke perguruan kungfu di desanya setelah ia melihat kehebatan bela diri pemilik warung yang menyelamatkannya dari kejaran seorang biksu bejat pemabuk yang tak terima dikerjain olehnya. 
Sayangnya, semangat berlatih kungfunya harus terhenti ditengah jalan karena tak ada beaya setelah kedua orang tuanya meninggal secara beruntun.
Keadaan ini memaksa ketiga kakak beradik mengungsi berpindah ke kota lain, menumpang di rumah saudaranya dan harus membanting tulang demi sesuap nasi, sementara kakaknya sering bekerja di luar kota.

Suatu saat sekembalinya dari perantauan, Louw Djing Lian memasukkan Louw Djing Tie ke biara Shaolin di Song Shan.
Dari biara Shaolin inilah, Louw Djing Tie memperoleh ilmu kepandaian dalam bertarung dan meramu obat - obatan.

Selepas menimba ilmu di biara Shaolin, Louw Djing Tie melanjutkan ilmu di guru keduanya, seorang pendeta lulusan biara Shaolin juga, pendeta Biauw Tjin.
Selama 6 tahun berguru dengan pendeta Biauw Tjin, Louw Djing Tie memperoleh ilmu tenaga dalam dan tenaga luar juga menguasai ilmu penggunaan beragam macam senjata rahasia seperti uang logam dan jarum. 

Kemudian selama 7 tahun Louw Djing Tie melanjutkan berguru kepada seorang pendeta Kang Too Soe untuk mempelajari ilmu menyumpit, totok jalan darah, memperdalam tehnik mengalirkan tenaga chi ke seluruh bagian tubuh juga mempelajari ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang.

Pendeta Kang Too Soe merupakan guru ketiga dan guru terakhir Louw Djing Tie menimba ilmu.
Setelah itu Louw Djing Tie membuka perguruan sendiri di Hok Ciu, provinsi Hok Kian. Muridnya sangatlah banyak, salah satunya adalah adik kandungnya sendiri, Louw Djing Hiang. 

Pada suatu ketika pemerintah Hok Ciu menggelar acara kompetisi seleksi pemilihan guru kungfu untuk dijadikan pelatih tentara setempat. Louw Djing Tie termasuk salah satu peserta dari beberapa jago - jago kungfu di daerah tersebut. Wakil dari pemerintah Hok Ciu diwakili oleh seorang guru kungfu berasal dari daerah Shan Tung yang memiliki ilmu bela diri cukup hebat.

Saat giliran teman Louw Djing Tie bernama Lie Wan mendapat giliran beradu dengan guru kungfu wakil dari pemerintah tersebut, Lie Wan tak sabaran berkeinginan segera menyelesaikan pertarungan dengan si guru kungfu. Lie Wan menggunakan tehnik berbahaya dengan cara menghantamkan kedua telapak tangannya ke tubuh si guru kungfu, guru kungfu pun dengan sigap menghindari serangan tersebut dan segera bersiap menyerang balik Lie Wan dengan serangan berbahaya pula. 
Louw Djing Tie melihat serangan mematikan yang diarahkan ke Lie Wan, segera meloncat ke tengah arena dan menyerang menendang kemaluan si guru kungfu hingga terluka parah.

Louw Djing Tie segera menyadari kesalahannya dan sadar bahwa tindakannya akan berakibat dikenai hukuman berat oleh pemerintah.
Segera Louw Djing Tie dan Lie Wan melarikan diri dari arena dan keluar meninggalkan negara Tiongkok.  

Lie Wan berpindah ke Amoy dan menjadi tabib disana, sedangkan Louw Djing Tie melarikan diri ke Singapura. Hanya tinggal sementara di Singapura, Louw Djing Tie kemudian berkeinginan pindah ke pulau Jawa, Indonesia. 
Rasa kesetiakawananlah yang dimiliki Louw Djing Tie yang akhirnya menyeret ia dalam pelarian ... .

Batavia [ sekarang Jakarta ], merupakan kota pertama persinggahan Louw Djing Tie. Di Batavia, ia sempat menjalani sebagai pedagang keliling di daerah Toko Tiga, Glodok.
Kemudian ia berpindah ke Semarang, lalu ke Kendal. Di kedua kota ini, ia berdagang ikan asin di pasar juga sebagai tabib mengobati orang yang mengalami salah urat dan terkena pukulan. Ajakan salah seorang temannya, membawa Louw Djing Tie berpindah ke Ambarawa dan disana ia mendirikan perguruan silat secara tersembunyi, karena kegiatan belajar ilmu bela diri pada masa kepemerintahan itu tidak diperkenankan. 
Tak berselang lama setelah itu, Parakan jadi kota pilihan persinggahan terakhir Louw Djing Tie.

Dengan menumpang di rumah kerabatnya bernama Hoo Ting Bie yang kudatangi inilah, nama besar Louw Djing Tie semakin termasyur ke seluruh penjuru nusantara berkat perguruan ilmu kungfu shaolin, Garuda Mas yang ia bentuk dan sebagai cikal bakal ilmu bela diri di Indonesia.
Tak hanya ilmu bela diri yang ia ajarkan, tapi juga memproduksi jamu dengan label Garuda.
Param merupakan salah satu jamu produksinya yang terus dikenang sampai sekarang akan keampuhannya mengobati otot terkilir dan penyakit yang berhubungan dengan tulang lainnya.

Tak hanya ilmu bela dirinya yang melegenda, tapi cerita jalan hidupnya menarik untuk disimak

Semasa hidupnya, Louw Djing Tie berkeinginan dan bersumpah untuk tidak pernah menikah.
Satu keinginan itu merupakan dari dua keinginan lainnya, hidup sederhana asalkan kebutuhan makan cukup terpenuhi dan berusia pendek.

Entah suatu kebetulan atau bukan, suatu saat Louw Djing Tie terkena sumpahnya sendiri setelah akhirnya ia menyerah menerima desakan terus menerus dari murid - murid kungfunya untuk segera menikah.
Ia pun akhirnya dengan terpaksa melangsungkan pernikahan di saat usianya yang tak lagi muda.
Dan sengsara pun akhirnya mulai menghampiri hidupnya ... .

Istri pertamanya meninggal setelah mereka tak lama melangsungkan pernikahan, kemudian istri keduanya terlibat perselingkuhan yang akhirnya berujung perpisahan, istri ketiga mengalami gangguan jiwa.
Dari ketiga kali pernikahan ini, tak satupun membuahkan seorang anak.

Penderitaan itu berlangsung seiring dengan kesehatannya yang terus mulai menurun, matanya mengalami gangguan penglihatan atau rabun.
Dengan kondisi sakit - sakitan, Louw Djing Tie dirawat oleh murid kesayangannya yang juga sebagai anak angkatnya bernama Hoo Tik Tjay atau sebutan nama kecilnya, Suthur.
Suthurlah yang terus tetap setia merawat Louw Djing Tie sampai akhirnya ia menutup mata selama - lamanya. 
Beliau dimakamkan di komplek pemakaman gunung Manden yang berada di pinggir kota Parakan. 


Trip Of Mine
Gerbang Omah Tjandie Gotong Rojong dilihat dari teras rumah induk

Pemilik Omah Tjandie Gotong Rojong memperbolehkan siapapun untuk berkunjung dan berfoto disana.


Trip Of Mine
Duduk santai di teras Omah Tjandie Gotong Rojong sambil membayangkan sosok Louw Djing Tie, sang pendekar Shaolin dari Tiongkok

Hanya ada 2 area yang tidak diperkenankan diambil gambarnya, altar meja sembahyangan kedua leluhur yang berada di ruang tengah rumah induk dan area dapur produksi kue bolu cukil tempat dulu pernah digunakan oleh Louw Djing Tie mengolah aneka jamu buatannya. 


Lokasi :
Omah Tjandie Gotong Rojong
• Pintu 1 jalan Demangan nomor 16
• Pintu 2 jalan Tejo Sunaryo nomor 10
Parakan, kabupaten Temanggung

Tiket :
Tidak dikenai beaya masuk

Thursday, November 1, 2018

Museum Sasono Guno Roso Koleksi Wayang Mancanegara dan Lokal

Di Kabupaten Magelang, tak jauh dari lokasi keberadaan candi Borobudur, candi kebanggaan Indonesia dan diakui sebagai Tujuh Keajaiban Dunia dan berjarak tempuh sekitar 5 kilometer, bahkan dari halaman depannya keindahan candi terbesar di dunia itu terlihat sangat jelas ..., menjulang tinggi sangat artistik dan menawan, berdiri museum wayang Magelang, museum Sasono Guno Roso.
Trip Of Mine

Lobby hotel berdesain perpaduan gabungan  antara bentuk badan rumah traditional khas adat Bugis dan beratapkan genteng dengan bentuk atap rumah traditional khas adat Jawa, penggabungan desain keduanya yang diistilahkan dengan rumah Bugis diblangkoni [ Blangkon : penutup kepala khas Jawa traditional terbuat dari bahan kain, digunakan untuk kaum pria, biasanya digunakan untuk suatu keperluan acara adat ] di tepi jalan Balaputradewa, pada suatu pagi itu kumasuki.


Trip Of Mine
Lobby Pondok Tingal

Saat itu suasana lobbynya yang banyak dihiasi ornamen seni traditional tampak lengang, hanya terlihat 2 petugas hotel berjaga disana.
Kedatanganku saat itu bukanlah untuk keperluan staycation yang seringkali dilakukan oleh para blogger untuk mengulas kelengkapan fasilitas suatu hotel dan juga bukan untuk keperluan chek-in bareng kamu, eh# ... .
Tapi kedatanganku ke hotel milik mantan Menteri Penerangan alm. R. Boediardjo periode jabatan tahun 1968 - 1973 itu untuk keperluan liburan di museum wayang Magelang, bernama Museum Sasono Guno Roso.

Dari lobby receptionist hotel Pondok Tingallah setiap pengunjung yang bermalam atau tidak bermalam disana untuk keperluan memasuki bangunan museum wayang Sasono Guno Roso koleksi pribadi milik mantan menteri, jurnalis, seniman juga pernah menjabat sebagai ketua perhimpunan anggrek Indonesia ini akan diarahkan.


Trip Of Mine
Gedung museum wayang Sasono Guno Roso berada di sebelah kiri

Setelahnya akan didampingi oleh salah satu petugas hotel untuk memasuki bangunan satu - satunya museum wayang di Magelang.
Ibu Titik, saat itu petugas hotel Pondok Tingal yang jadi tour guide buatku memasuki bangunan museum wayang.

Lokasi bangunan museum wayang Sasono Guno Roso terletak berada dalam satu area hotel Pondok Tinggal yang terbilang cukup luas areanya, terdiri dari 4 bangunan utama yang diperbolehkan dikunjungi untuk umum, area camping ground dan area wahana permainan paint ball.

Bangunan museum wayang Sasono Guno Roso terpisah dengan bangunan inti hotel, berdiri sendiri berseberangan dengan bangunan berbentuk rumah joglo yang difungsikan untuk pertunjukan pagelaran kesenian wayang kulit di setiap hari sabtu ke 4 dan persis terletak berada di samping bangunan yang juga berbentuk joglo khas Jawa traditional yang kerap digunakan untuk keperluan acara resepsi, pesta dan semacamnya.

Setelah mengisi data di buku kunjungan tamu di dalam ruangan museum, dengan tetap didampingi oleh ibu Titik, aku mengelilingi luasnya ruangan terbagi beberapa panel sekat yang menampilkan beragam jenis wayang dan setiap kelompok wayang disertai keterangan dibawahnya.


Trip Of Mine
Ruangan dalam museum

Namanya juga tour guide, ibu Titik tak hanya mendampingi aku, wisatawan satu - satunya saat itu, tapi juga menjelaskan satu persatu nama jenis wayang, koleksi benda - benda yang ada disana berikut menjelaskan asal usul sejarah darimana koleksi tersebut didapat.


Trip Of Mine
Wayang golek

Benda - benda antik dan bersejarah itu sebagian didapat dari cinderamata dari para pejabat negara asing teman relasi beliau saat menjabat sebagai Menteri Penerangan, juga sebagian diperoleh dari pembelian pribadi yang memang sengaja dikumpulkan karena kecintaannya beliau tentang dunia pewayangan.


Trip Of Mine
Wayang Turki


Trip Of Mine
Wayang Magelangan

Tak hanya wayang lokal dari berbagai daerah seperti Cirebon, Yogyakarta, Lombok, Bali dan Kedu, tapi museum wayang Magelang ini juga menyimpan koleksi wayang dari negara Laos Kamboja, China, Turki dan Jepang.
Wayang golek China yang dikenal sebagai wayang  potehi ditempatkan secara khusus di lemari kaca.
Deretan boneka wayangnya berkostum indah khas China klasik dan paras bonekanya terlihat sangat cantik kayak kamu. he he he.


Trip Of Mine
Wayang golek potehi dari negara China

Selain mengoleksi beragam jenis wayang, museum yang tak memasang tarif untuk memasukinya ini juga menyimpan beragam aneka bentuk topeng kayu, seperangkat souvenir peralatan ibadah agama Buddha terbuat dari tembaga merupakan hadiah dari pemerintah Laos berupa patung kura - kura dan tempat lilin berornamen indah, seperangkat gamelan kuno lengkap, perpustakaan yang menyimpan 694 buku tentang pewayangan dari berbagai bahasa, 59 kaset video rekaman pagelaran wayang sejak 1980 - 1990 dan 83 kaset rekaman wayang sejak 1971 - 1994. 


Trip Of Mine
Seperangkat gamelan kuno ditempatkan bersebelahan dengan perpustakaan

Dari sekian banyak koleksi wayang yang kuperhatikan, ada 2 jenis wayang yang paling menarik perhatianku : wayang Gunung dan wayang Ruwatan.
Wayang Gunung karya seniman Sujana Keron dibuat tahun 2014 divisualisasikan dengan karakter wajah para serangga !.
Warna badannya pun dipoles dengan warna - warni khas serangga. 
Saking unik wajah penokohanya, bu Titik sempat berseloroh :


" Monggo, mas kalau mau berfoto - foto silahkan, loh ..., mau berfoto dimana saja boleh. Atau kalau mau kelihatan unik foto bareng wayang Alien "

Spontan aku heran dalam hati ' kok ada wayang alien, yang mana, sih ?. Perasaan dari tadi kulihatin ngga ada '.
Begitu bu Titik menjelaskan yang dimaksud wayang alien itu adalah wayang Gunung dan disebut wayang serangga karena memang wajah tokohnya berupa beraneka wajah serangga yang menyerupai wajah alien, aku langsung reflek ngakak tanpa sadar ... , sadarnya setelah kulihat wajah bu Titik kaget terperanjat dengar suara ketawa cuwawakanku ha ha ha.


Wayang Gunung atau juga disebut wayang alien, eh# wayang serangga.
Merupakan karya seniman Sujono Keron, ide pembuatannya terinspirasi dari beragam jenis serangga.
Karya yang mewakili keprihatinan terhadap para serangga yang mati terbunuh akibat penggunaan peptisida secara berlebihan.

Berbeda dengan wayang Alien yang membuatku ketawa ngakak malu - maluin, wayang Ruwatan bikin aku mendadak langsung merinding disko.
Gimana ceritanya ?.
Karena penasaran dengan namanya yang disebut dengan kata Ruwatan [ hanya digelar untuk acara khusus ] , kutanyakan ke ibu Titik ... 
Aku : " Kalau namanya wayang Ruwatan, berarti kan disakralkan ya, bu ..., lalu apakah ada penanganan khusus untuk itu ? "
Ibu Titik : " O ya ada, mas. Pembersihannya ngga sembarangan. Ada ritual khususnya untuk itu "
Aku : " Lalu kalau memakai ritual khusus, apakah ada 'sesuatu ' pernah terjadi disini ? "
Ibu Titik : " Ada. Kalau kelamaan disimpan di dalam kotak penyimpanannya dan memang waktunya sudah akan dibersihkan ... , dalam kotaknya kerap terdengar suara glodakan "

Trip Of Mine
Satu persatu seri wayang dijelaskan secara detil, akupun menyimak he he he ...

Oh, tapi tak perlu takutlah. Toh di semua tempat juga pasti ada 'penunggu'nya, asalkan kita berbuat sopan saja dan mengucapkan permisi sebelumnya.

Yang patut dijadikan contoh, keluarga penerus hotel Pondok Tingal dan museum wayang Magelang ini tetap konsisten ikut menjaga kebudayaan leluhur tetap lestari agar tak tergerus kebudayaan pop masa kini.


Trip Of Mine
Aula pertunjukan

Di pendopo yang berhadapan dengan lokasi bangunan museum Sasono Guno Roso, setiap hari sabtu jam 4 sore diadakan latihan sanggar tari Kinara Kinari tarian Jawa traditional dan pada hari sabtu ke 4 diadakan pertunjukan wayang kulit dimulai jam 8 malam dengan pagelaran satu babak.
Semua terbuka untuk umum dan tidak dikenakan beaya untuk menontonnya.

Lokasi :
Pondok Tingal
Museum Wayang Sasono Guno Roso
Jl. Balaputeradewa No. 32, Dusun 1, Borobudur, Magelang