Sunday, September 9, 2018

Menjelajah ke Lokasi 3 Serangkai Candi Sengi

Maps berbasis tehnologi digital kubuka, di suatu pagi hari itu. 
Menggunakan suaraku yang ..., ehm ..., sama sekali tak kedengeran seksi, apalagi serak berat kayak suara seorang dubber trailler aktor film action perfilman Hollywood ..., halaaaaah hi hi hi ..., kumasukkan kata kunci lokasi, Sawangan, dengan menggunakan fitur " OK Google ". 

Tak pakai acara lama, dengan canggihnya layar peta digital langsung terbuka memperlihatkan jalur demi jalur berwarna hijau menuju ke lokasi yang kucari. 
Tanda sorot biru seperti bentuk meteor mini itu bergerak lengkap dengan keterangan waktu, berapa jam dan berapa menit lokasi tujuan ditempuh dengan menggunakan alternatif transportasi mobil atau motor.

Tiga hari setelahnya, perburuan pencarian rute ke arah Sawangan menuju keberadaan lokasi ke 3 serangkai candi Hindu yang terdiri dari candi Lumbung, candi Asu dan candi Pendem, ketiganya disebut sebagai candi Sengi kulakukan.
Kutempuh melalui jalan pertigaan Blabak di dekat pabrik kertas PT. Blabak yang kini sudah tak beroperasional lagi.

Sayangnya, kepintaran maps berbasis tekhnologi digital itu harus mengalami kejadian tak pintar sesaat setelah aku melewati gerbang besar melintang di tengah badan jalan beraspal mulus bertuliskan " Taman Nasional Gunung Merapi ".
Kuperhatikan sinyal operator yang kugunakan beberapa kali naik turun byar - pet tak konsisten, seperti cintamu hilang timbul padaku gitu ..., wwkkwwkk !.

Ya sudahlah tak mengapa, toh bertanya info rute lokasi ke penduduk yang kutemui di pinggir jalan pun juga tak masalah. 
Malah bukan hanya sekali dua kali, loh dengan bertanya ke penduduk setempat setelahnya kudapatkan informasi dan cerita - cerita seru seputaran suatu lokasi wisata yang tak pernah terekspos media. 

Meski berada di lereng gunung Merapi, menurutku kondisi rute perjalanan masih terbilang biasa - biasa saja, tak sulit ditempuh meski perjalanan ditempuh dengan sedikit mendaki.
Setelah melewati daerah Sawangan dan tiba berada di depan pertigaan jalan di daerah yang dinamakan daerah Dukun, sesuai petunjuk maps digital yang kucatat di selembar kertas, aku mulai kebingungan menentukan ke arah rute mana yang benar untuk menuju ke lokasi keberadaan 3 serangkai candi Sengi ..., lurus sajakah, atau berbelok ke arah paling kanan, atau ..., melalui rute jalan yang berada di tengah ?.

Daripada kebingungan lama memikirkan ke arah rute mana yang benar, hanya menghabiskan waktu percuma, segera kuputuskan mengambil rute ke arah lurus saja, rute jalur menuju ke arah Selo, kota Boyolali.
Dan untuk memastikan tak salah pencarian arah rute terlalu jauh, aku mampir di warung makan dan bertanya disana. 
Rute lokasi candi Lumbung Sengi, candi pertama yang kutanyakan dan seperti mendapatkan petunjuk tak terduga sebelumnya di dalam hati ..., kalau ternyata rute lurus yang kuambil adalah memang tepat adanya, tak salah arah.

Pencarian ke lokasi Candi Lumbung Sengi

Sesuai petunjuk rute yang diberikan oleh pemilik warung makan dan tak jauh dari lokasi warung makan itu, aku memasuki gerbang dusun Tlatar. 
Kuikuti terus jalan desa melewati deretan rumah sederhana penduduk desa sambil melihat beberapa aktivitas warga di halaman rumahnya.
Seperti pada umumnya warga desa yang selalu ramah menyapa dan mengajak mampir dirumahnya, meski belum pernah kenal sama sekali ..., begitupun juga saat kedatanganku memasuki dusun Tlatar ini. 
Berulangkali aku melempar senyum manis balik, setelah diajak senyum ..., eh* tapi aku bukan tebar pesona loh, ya ha ha ha.

Keasikan senyam - senyum terus meladeni senyum ramah warga sambil melajukan kendaraan mengikuti  jalan setapak, aku sampai lupa petunjuk dari pemilik warung tadi kalau lokasi candi Lumbung Sengi itu sebenarnya tak jauh dari gapura dusun !.
Kebablasan jauh sampai pertengahan desa dan celingukan di kanan kiri jalan persawahan, tak kunjung kutemui lokasi keberadaan candi ..., sampai akhirnya bertemu dengan sepasang petani dan bertanya dengan mereka. 
Jawabnya ?, " Laaah ..., itu candinya kan di dekat tugu yang sampeyan tadi lewati, mas. Ada di pinggir jalan, kok ".

Kayak ditampar, dijelaskan begitu aku malunya bukan main. Wajahku langsung terasa panas, kalau seandainya saat itu kusempatkan diri nengok cermin, pastilah wajahku merah padam seperti tampilan kepiting rebus ... !.
Gara - gara terus tersenyum manis tebar pesona, siiih  ..., makanya kebablasan arah ..., ha ha ha.

Agar maluku, eh maksudnya malunya aku hilang, aku cepat - cepat memutar balik arah kendaraanku dan segera berbalik kembali ke arah tugu, jalan masuk dusun.
Dan ternyata benar saja, kalau lokasi candi Lumbung Sengi itu adanya memang di tepi jalan dusun dan tak jauh dari tugu, tak kurang dari 5 meter ... .


Trip Of Mine
Ternyata, lokasi baru candi Lumbung berada tak jauh dari gapura dusun

Pantesan tanah lokasi candinya tinggi dari jalan setapak, sih dan posisi candinya berada di sudut pelataran halaman yang agak luas, makanya tadi ngga kelihatan ... , yeaayy masih ngeles lagi.

Lokasi candi Lumbung, orang biasanya menyebutnya dengan candi Lumbung Sengi ..., kenapa alasannya disebut dengan candi Lumbung dilengkapi dengan kata Sengi dibelakangnya ..., sstt ikuti terus membacanya sampai akhir ya, guys ... he he he ..., sekarang ini merupakan lokasi baru atau pindahan dari lokasi aslinya yang berada di ketinggian tebing sungai Apu.
Situs cagar budaya candi Lumbung diambil tindakan dipindahkan dari lokasi aslinya untuk tindakan penyelamatan dari kerusakan akibat bencana lahar dingin pasca erupsi dahsyat gunung Merapi pada tahun 2010 lalu, tebing tempat lokasi asli candi Lumbung Sengi berdiri sangat rawan bencana longsor.

Di lokasinya yang baru ini, candi Lumbung Sengi ditempatkan di desa Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan.


Trip Of Mine
Lokasi baru candi Lumbung berada tepat di pinggir jalan dusun Tlatar perkampungan warga

Saat masih berada di lokasi aslinya pun, bentuk bangunan candi dengan lebar 8, 70 meter persegi dan tinggi 2, 5  meter persegi ini kondisinya memang sudah tak lagi utuh sempurna, bagian atap candi telah rusak akibat terjadinya bencana erupsi dahsyat gunung Merapi ribuan tahun silam.
Material vulkanik telah mengubur candi Lumbung Sengi ratusan tahun di dalam tanah.
Candi ini merupakan candi Hindu, peninggalan kerajaan dinasti Wangsa Sanjaya. 


Trip Of Mine
Candi Lumbung tampak dari depan

Bangunan candi menghadap ke arah timur, dilengkapi dengan tangga dan pintu masuk. Di bagian samping atau pipi tangga kuperhatikan terdapat relief hiasan sulur gelung yang keluar dari mangkuk memiliki cakar, bagian ujung tangga dihiasi relief Makara berbentuk kepala ikan dan di dalam mulut menganganya terdapat hiasan berupa burung.
Dibagian atas pintu terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah dan dibagian dalam tengah candi terdapat sumur kering berbentuk kotak, tersusun dari tumpukan batuan candi dan di sekeliling bagian atas sumur dilengkapi papan pijakan.

Trip Of Mine
Sumur candi Lumbung

Bagian atap candi yang telah hilang ditutupi dengan seng plastik untuk menghindari masuknya air hujan memenuhi sumur keringnya.


"Trip Of Mine"
Duduk anteng di atas candi, asik juga ...

Karena ditempatkan di lokasi baru di dusun Tlatar, candi Lumbung Sengi ini sekarang berada disekeliling rumah penduduk. Berdampingan asri dengan kegiatan keseharian warga dusun Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan.

Pencarian ke Candi Sengi berikutnya

Setelah mengamati relief dan badan candi Lumbung, juga melihat aktivitas hilir mudik warga di jalan setapak dusun yang tampak jelas dilihat dari ketinggian badan candi, pencarian rute kulanjutkan ke lokasi rangkaian 2 candi Sengi berikutnya, candi Asu Sengi dan candi Pendem ... .


" Awalnya, kupikir jika rangkaian 3 candi Hindu peninggalan kerajaan Wangsa Sanjaya ini letaknya berada di lokasi sangat berdekatan satu sama lain, atau berada dalam satu komplek "

Kali ini aku bertanya arah rute ke candi selanjutnya ke seorang bapak berusia cukup uzur yang kebetulan berjalan mengarah tempat aku menuruni halaman pekarangan candi. 
Dari jauh bapak yang sedang memanggul keranjang setumpuk sayuran di atas kepalanya yang ditutupi semacam sorban bermotif batik itu terlihat tersenyum sumringah ke arahku. 

Konsen Himawan ..., konsen Himawan ..., kalo ngga ..., kamu bakalan gagal fokus lagi, nyasar arah lagi, muter arah lagi ..., gegara sibuk tersenyum sok manis ha ha ha.

Dengan sikap nyanak nyedulur [ Bahasa Jawa, kekeluargaan ] dan aksen medok, bapak itu menjelaskan arah rute menuju lokasi yang kumaksud menggunakan bahasa gabungan, bahasa Jawa diselingi bahasa Indonesia, jika rute yang benar untuk menuju keberadaan lokasi candi Asu dan candi Pendem melalui rute tempuh dari pertigaan jalan di daerah Dukun kembali, setelahnya melalui jalan yang berada di tengah, bukan melalui jalur ke arah kanan.

Kuikuti rute petunjuknya untuk melalui jalan tengah dengan kondisi jalannya setengah menanjak dan tak lama setelahnya bertemu dengan lokasi jembatan gantung Kali Adem.
Karena kedatanganku menggunakan kendaraan bermotor, mau tak mau harus melewati jembatan gantung yang terbuat dari susunan plat baja itu yang hanya dikhususkan dilalui oleh sepeda motor dan hanya sanggup dilalui oleh 2 kendaraan motor berpapasan. Sedangkan kendaraan roda empat melalui jalan berbeda, jalan beraspal dan melingkar yang berada di dekatnya.

Bagaimana sensasi saat melewatinya ... ?, ya, seru plus deg - degan juga rasanya.
Melihat ke bawah aliran sungai tampak cukup dalam beberapa meter dari atas jembatan, sementara susunan plat baja mengeluarkan suara berdentum cukup keras saat dilalui. Dentuman suara itu semakin terdengar kencang saat 2 kendaraan motor berpapasan.


Trip Of Mine
Jembatan gantung Kali Adem

Untuk mengambil gambar kondisi jembatan gantung, aku nekad memberanikan diri berdiri di tengah tanjakan jalan berbelok. Cepat - cepat kuarahkan kamera ke arah jembatan. Kalau tiba - tiba saja muncul kendaraan dari belokan jalan dengan kecepatan melaju tinggi, aduh ..., bisa berbahaya !.

Tak berjarak cukup jauh dari jembatan gantung, terlihat papan petunjuk lokasi berukuran kecil di tepi jalan. 
Papan petunjuk lokasi candi Pendem yang pertama terlihat, setelah itu papan petunjuk lokasi candi Asu.
Karena keberadaan candi Pendem tak terlihat dari pinggir jalan, kuputuskan untuk terlebih dahulu mendatangi lokasi candi Asu.

Lokasi candi Asu Sengi berada di pinggir jalan

Berbeda dengan lokasi baru penempatan candi Lumbung Sengi yang berada di perkampungan warga, pencarian lokasi ke candi Asu Sengi ini tak perlu pakai aksi perjuangan maksimal, apalagi pakai acara nyasar kebablasan sampai ke jalan di pertengahan persawahan segala hi hi hi ..., karena lokasi keberadaannya memang tepat di pinggir jalan desa dan lokasinya yang hampir berhadapan dengan sekolah dasar negeri Sengi I, membuatnya mudah untuk ditemukan.


Trip Of Mine
Candi Asu dilihat dari seberang jalan

Candi Asu Sengi tepatnya terletak berada di desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.
Nama asli candi Hindu ini sampai sekarang belum diketahui oleh team arkeologi, sementara penamaannya dengan sebutan candi Asu dikarenakan saat pertama kali diketemukan kembali oleh warga setelah terkubur di dalam tanah dan material vulkanik gunung Merapi selama ratusan tahun, diketemukan badan patung Lembu Nandhini yang tak utuh, mengalami kerusakan dan jika dilihat lebih menyerupai seekor binatang asu [ Bahasa Jawa, anjing ].


Trip Of Mine
Candi Asu

Candi Asu Sengi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran tinggi kaki candi 2, 5 meter dan tinggi tubuh candi 3, 5 meter.
Saat diketemukan bagian atap candi telah hilang dan hanya menyisakan sedikit dinding candi.


Trip Of Mine
Tangga candi Asu

Kulihat di keempat badan candi terdapat hiasan flora dan tampak relief Kinara - Kinari, makhluk penjaga nirwana menghiasi pilar mengitari candi. 


Trip Of Mine
Relief di badan candi Asu

Ditengah bagian atas candi juga terdapat sumur kering berbentuk kotak dengan kedalaman mencapai 4 meter.
Dahulu kala candi Asu Sengi merupakan bangunan candi untuk melakukan pemujaan kepada para dewa.

Beberapa gambar sudut candi Asu Sengi kuambil melalui kameraku dengan leluasa karena saat itu di lokasi memang tak ada seorangpun petugas terlihat bertugas disana, yang tampak hanyalah pagar pembatas halaman candi terbuka dan sebuah buku kunjungan tamu tergeletak di tangga candi.

Blusukan cari lokasi candi Pendem

Perjalanan kulanjutkan dengan berjalan kaki setelah mendatangi lokasi candi Asu Sengi melewati jalan setapak tanah tanpa diplester semen, sesuai rute papan petunjuk arah lokasi ke candi Pendem Sengi.
Kendaraanku kuparkirkan di seberang jalan depan lokasi candi Asu Sengi.
Melewati jalan setapak tanah yang bersebelahan dengan sungai kecil dan deretan tanaman jati ini, ternyata merupakan akses jalan memasuki perkampungan desa.


Berbeda dengan lokasi candi Lumbung Sengi dan candi Asu Sengi yang berada di pinggir jalan, lokasi keberadaan candi Pendem Sengi memang terletak berada jauh dari pinggir jalan.

Tanpa terlihat adanya tanda papan petunjuk ke arah mana lokasi candi Pendem berada di dalam perkampungan desa dan saat itu suasana perkampungan desa terlihat sepi, membuatku kebingungan seorang diri memastikan rute ke arah mana.
Beruntungnya, dari jarak agak lumayan dekat aku melihat seorang bapak muda sedang membersihkan semak - semak di sekitar pohon bambu berukuran besar. 
Dan dari bapak itulah, akhirnya rute ke arah candi Pendem Sengi kudapatkan.

Trip Of Mine
Blusukan mencari rute ke candi Pendem

Rutenya ternyata tepat melalui deretan antara rerimbunan pohon bambu !.
Blusukan terasa semakin seru setelah mulai melewati pematang sawah berjarak cukup jauh ditempuh dengan jarak keberadaan lokasi candi ..., dan dari atas pematang sawah lokasi keberadaan candi Sengi sama sekali belum terlihat.

Setelah mengitari persawahan, akhirnya lokasi candi Pendem Sengi terlihat. 
Lokasinya berada di permukaan tanah yang lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan karena alasan inilah penamaan candi Pendem diberikan oleh warga sekitar.


Trip Of Mine
Pemandangan sekitar candi Pendem indah, ya ...

Sama seperti candi Lumbung Sengi, nama asli candi Pendem Sengi sampai sekarang ini belum diketahui secara pasti.
Lokasi candi Pendem Sengi tepatnya juga berada di desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.

Saat aku memasuki halaman candi melalui pagar teralis terbuka tanpa digembok, tak kulihat seorang pun berada disana, hanya aku seorang diri berada di area candi yang dikepung persawahan ini.

Kuperhatikan bangunan candi Pendem tanpa adanya atap, bagian atap ikut mengalami kerusakan akibat erupsi gunung Merapi ribuan tahun silam.
Candi berbentuk bujur sangkar dengan panjang sekitar 11, 9 meter dan lebar 11, 9 meter, menghadap ke arah barat.


Trip Of Mine
Candi Pendem dilihat dari ketinggian dataran, lokasinya berada di dataran tanah yang lebih rendah


Trip Of Mine
Relief di badan candi Pendem

Di bagian badan candi terdapat relief flora menaungi burung, relief sulur tanaman dan relief Gana sebagai perwujudan dewa Syiwa.
Sama seperti kedua candi yang sebelumnya kudatangi, candi Pendem Sengi ini di bagian atasnya juga terdapat sumur kering.


Trip Of Mine
Sumur candi Pendem

Meski letaknya berada di dataran yang lebih rendah dari dataran tanah sekitarnya, candi ini tak terendam air di saat musim penghujan tiba, karena setiap area candi sejak dahulu kala telah dirancang bangun dengan sempurna sebelum bangunan candi didirikan. 

Ketiga candi Lumbung, candi Asu dan candi Pendem merupakan peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno dari dinasti Wangsa Sanjaya dan ketiganya didirikan pada masa kepemerintahan raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala tahun 880 Masehi, hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan prasasti di sekitar lokasi candi. Sejarah pendirian ketiga candi tertulis di prasasti Sri Manggala I angka tahun 874 Masehi, prasasti Sri Manggala II angka tahun 876 Masehi, prasasti Kurambitan I dan prasasti Kurambitan II.
Kini kesemua prasasti tersebut disimpan di Museum Candi Prambanan, Yogyakarta.

Lokasi ke 3 serangkai candi Hindu ini berada di lereng gunung Merapi dan terletak berada pada ketinggian 650 meter di atas permukaan air laut.


Trip Of Mine
Yeayyy, akhirnya berhasil juga menjelajahi lokasi 3 serangkai candi Sengi ...

Kenapa tiga serangkai candi tersebut disebut dengan candi Sengi di belakang nama candinya, dikarenakan lokasi ketiganya berada di kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.
Dan sekarang setelah lokasi candi Lumbung dipindahkan, menempati lokasi baru di dusun Tlatar ..., hanya candi Asu dan candi Pendem yang tetap masih berada di kelurahan Sengi.

Lokasi :
▪ Candi Lumbung Sengi
Dusun Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang

▪ Candi Asu Sengi dan candi Pendem Sengi
Desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang

Tiket :
Tidak dikenai beaya
[ Kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]

85 comments:

  1. Kirain Candi Lumbung yg dikomplek Taman Wisata Candi Prambanan. Yg di video candi ini ya mas? Pantesan beda. Saya blum pernah kesini.
    Saya suka liat jembatan gantungnya, jadi penasaran pingin jalan diatasnya. Pastinya asyik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul mas Aris candi Lumbung inilah candi yang videonya kuunggah di youtube.

      Betul, namanya sama antara candi Lumbung di Magelang dan yang di Yogyakarta.
      Bedanya, candi Lumbung ini hanya tunggal, tak ada candi perwara atau pendamping.

      Ayok cobain sensasi melintas di atas jembatan gantung Kali Adem, mas 😁

      Seingatku, model jembatan gantung beralas plat baja seperti ini ada 2 di Magelang, mas.
      Kalo ngga salah satunya berada di dekat candi Borobudur, cuman aku lupa tepatnya di daerah apa namanya.

      Delete
    2. Topinya sudah diganti Ya Mas...topi koboy nya kasih kan saya mau dong

      Delete
    3. Arsitektur candinya masih bagus-bagus ya...ini perlu dijaga kelestarianya agar cagar budaya Indinesia tetap eksis pada masa masa yang akan datang

      Delete
    4. Mas Asnaji kok bisa tau ya ini topi baru 🤔 ?
      Apa kelihatan merk-nya di foto kali ya 😁 ?

      Aku kan ngga tau alamatnya, mas nih ..

      Sependapat, mas.
      Kesemua situs candi wajib betul-betul dijaga kelestariannya, jangan sampai dirusak atau dicuri.
      Pelakunya harus ditindak tegas.

      Delete
  2. Sebuah perjalanan yang cukup kompleks! Betewe, tuh kan... Mas himawan suka sok cool eh, sok senyum ding di postingan ini, jadi kebablasan deh, #peace lagi hwehehe... Tapi, dengan begitu mas himawan punya cerita seru-seru lucu kan hikmahnya.

    Eh, asyik sekali itu tidak dikenakan biaya. Semoga tetap terjaga dan terawat walaupun gratis 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha gegara sok dimanis-manis senyumnya sih akhirnya ngaciiir kebablasan 😂
      Abisnya kalo ngga pasang wajah ramah, takutnya ngga ditolong dikasi tau info rute lokasi.

      Menarik kan tanpa ada beaya tiket masuknya hehehe ..., beaya perawatannya sudah ditangguh pemda setempat.
      Kewajiban pengunjung harus ikut menjaga dan menjauhkan diri untuk tidak mencuri dan merusak candi.

      Delete
  3. wah asyik banget mas berburu jejak peninggalan masa lalu, candi2 yang baru saya tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayook ..., kapan kita akan berburu bareng menelusuri lokasi candi peninggalan purbakala, mas 😉 ?.

      Setauku di Magelang masih banyak bangunan candi yang keberadaannya belum populer dikenal orang namanya, mas...

      Delete
  4. wah lahan sekitar lokasi ditata indah ya. jadi bagus difoto L)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak Farida.
      Penataan sekitar candi ketiganya terlihat asri ditata dengan indah, buat lokasi foto-foto apik nih hasilnya ☺

      Delete
  5. wah gratis ya mas
    lokasi wisata gratis pasti ramai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gratis tanpa dikenai tiket masuk, mas Awan.

      Bisa jadi begitu, lokasi kesehariannya ramai dikunjungi oleh para warga penduduk desa-desa sekitar.
      Berhubung aku datangnya pagi hari yang ada di ke 3 lokasi candi ya cuma aku, mas ... hahaha 😅
      #TurisRajinNamanya ^_^

      Delete
    2. Pastinya 😉
      Hehehe ..
      Lumayan bisa buat pengganti uang transport atau uang makan.

      Delete
  6. Kikiki mau niruin suara gahar peter Cullen ya Mz... or suara berad thor.. ?

    Kalau situsnya no komment, cuma kasih jempol aja 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilih suara ..., ng* ..., donal bebek ajah ... wkkwwkkwkk 😂

      Terimakasih jempol besarnya buat ke 3 candi, kak Risna hehehe 😁

      Delete
    2. ya ampuuuun kirain suara thor.. gak taunya donal bebek... kikiki

      Delete
    3. Huahahahaha 😂
      Kan lucuuuu suara donal bebek kayak gitu ....
      Buat nada dering juga oakii loooh ... wkkwkk

      Delete
  7. Byar - pet tak konsisten seperti cintamu hilang timbul padaku gitu ... ihiiiirrrr ... siapope sih diaaa *ngikik* membuatku penasaraaaaan. Anw, mungkin sinyalnya ya berpengaruh pada peta digital itu, jadi pas kurang kuat sinyal petanya jadi tidak konsisten. Tapi lumayan lah bisa dipakai peta digitalnya.

    Jangan sampai kebablasan arah lagi yaaaa gara-gara tebar pesona hahaha.

    Yang menarik itu relief di Candi Asu. Ada relief Kinara-Kinari, makhluk penjaga nirwana itu. Ciri khas, budaya, yang terus dijaga dan dilestarikan.

    Seperti biasa, nice trip, Himawan :) Foto-fotonya sangat mendukung, ulasannya komplit spesial pakai tebar pesona hahaha. Mantap!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wwwkkkwwkk 🤣 ...,
      Byar-pet tak konsisten seperti cintamu hilang timbul padaku itu ..., sejarah cinta masa lalu teman imajinerku kok, kak ...
      Entah tuh, kok tiba-tiba tanganku nulis kayak gitu 😁
      [ hayooo ..., sambil takut ngga bayangin aku cerita begini 😉 ? ]

      Astaga aku mendadak ingat setelah baca komentar kak Tuteh kagum tentang relief candi ..., aku kelupaan janjiku mau motretin relief kalamakara dari jarak dekat !.
      Maaf ya, lain kali aku ke lokasi candi lain lagi yang ada relief kalamakaranya pasti kuingat2 dan kufotoin untuk kak Tuteh.

      Terimakasih opininya, kak Tuteh ⚘.
      Tebar pesonanya saat nulis komentar kusembunyiin dulu .., ntar kalo blusukan nyari candi lagi baru deh kukeluarin jurusnya ... eh# 😅

      Delete
    2. Hiiiyyy ngeri juga laaah. Kebayang kalau suatu saat ketemu (dirimu ke Ende, Insha Allah) terus kita lagi jalan ke tempat wisata terus dirimu bilang, "Sabar ya, dikit lagi kita balik kok..."

      BYAR!

      Dirikyu pengsan :D

      Delete
    3. Byaaa ... aaarr-pet mendadak kak Tuteh langsung pingsan cantik ..., wuakakakka 😅
      Begitu aku bilang bisikin ke teman imajinerku 😁

      Delete
    4. sebelum pengsan, dandan dulu dooonk *yang adalah tidak mungkin karena saya tidak dandan* :D

      Delete
    5. Eh iya juga ya, kulihatin kak Tuteh ngga suka dandan 😁
      Jadi ..., pingsannya langsung bergaya duduk anggun saja kalo gitu 😂

      Delete
    6. Anggun ala ratu-ratu atau ibu suri kan ya? :D

      Delete
    7. Iya, bet ... uullll itu 😂
      Lalu dipanggul syantik oleh para dayang-dayang ...
      Wuakakkakaka 😂

      Delete
  8. Waah aku belum pernah sekalipun ke candi2 ituuu.. Penginnn,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yook disegerakan atur jadwal buat meluncur ke 3 candi Sengi, kak Ella 😉 ...
      Kalo bingung nyari rutenya, aku siap jadi guidenya 😁

      Delete
  9. candinya kecil tidak seperti Borobudur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mas Tomo ke 3 candi Sengi ini semuanya berukuran kecil.
      Kalau candi Borobudur sih ... Woouw banget besarnya.
      Mas Tomo pernah kan ya ke candi Borobudur ?.

      Delete
  10. Kalau mau ke Candi Pendem, harus lewat hutan bambu dulu? Terus masih harus lewat pematang sawah. Wah, serasa petualangan Indiana Jones, dong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru kan rutenya, kak Dyah 😁 ..., kudu blusukan dulu untuk ke candi Pendemnya.
      Jadi, hindari pakai high heels kalo ngga mau nuncep ke tanah persawahan 😅

      Delete
  11. Wahhhh berkunjung ke kelurahan sengi langsung dapat menikmati 3 objek keren ini sekaligus... Candi candinya juga masih terawat dengan baik, dan semoga masih gratis hha ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha tetep ya yang gratisan itu memang paling okeeeiih buat semua orang 😅 ..

      Beruntungnya ketiga candi ini terawat baik dan kulihatin ngga ada aksi vandalisme.

      Delete
  12. Kebablasan sampai jauh ketengah desa, wah pasti banyak awewe bening lagi senyumin mas hima disana ampe kebablasan gitu...Keren picnya oh iya pic yang pertama mirip mas hima lagi naik eskalator

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuahahaaha ..., langsung ngakak baca komentar mas Harmansyah 😂
      Terutama fotoku yang dibilang lagi kayak naik eskalator.

      Tapi boleh juga pendapat mas Harman ..., suatu saat nanti bentuk eskalator dibuat replika candi seperti itu 😉

      Delete
  13. Hehehe mas Himawan nagak saya, baca paragraf keempat dan kelima, tentang kecanggihan google maps. Yups secanggihnya teknologi tetaplah buatan tangan manusia yang tentunya memiliki kekurangannya mas. Syukkurlah perjalanan kali ini tidak nyasar lagi kwkwk, walau pun nyaris tersesat.

    ya mas, saya berharap kejadian saat liburan di kota batu malang tidak terjadi lagi. Ini kedua kalinya kwkwk. Mas kesimpulan dari dua perjalanan itu maknanya apa. Nyaris tidak bisa keluar (baca liburan di kota batu). Ini nyaris.

    Mas saya berharap ulasan berikutnya jangan nyasar lagi ya kwkwk. salam damai...semangat mas Himawan. terus wartawakan indahnya Indonesia lewat jepretan dan langkah kaki cantik ups ganteng ala mas Himawan. salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuakakakaa ..., semoga ya maas liburan ke lokasi berikutnya ngga nemu kejadian kesasar arah 😅.
      Kalau ingat kejadian2 kebingungan arah kayak gitu jadi suka tersenyum sendiri 😁

      Selama ini kejadian paling lucu saat aku nyari lokasi ke candi juga, mas ..., namanya candi Ngawen di Muntilan.
      Aku dan ibu2 yang kutanyai ngakak bareng kenceng banget menertawai pertanyaanku karena ..., ngga taunya lokasi candi Ngawen yang kucari itu ternyata berada persis di sebelah aku dan ibu itu bertanya jawab 🤣

      Delete
  14. Makasih Mas udah di ajak jalan-jalan ke candi, sumpeh... saya baru tau sama ketiga candi tersebut.

    tapi, ngomong-ngomong jangan keasikan senyum-senyum, untung aja gak kesasar di planet lain. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkkkwwkk ..., serem juga ya kalo nyasar sampai ke planet lain 😅

      Sama-sama, mas Masandi.
      Semoga lokasi ke 3 candi Sengi ini kelak jadi referensi liburan mas Masandi ..., ssstt ... tanpa perlu pakai acara kesasar kayak aku 😂

      Delete
  15. Ternyata candi-candi masih banyak ya mas, saya cuma dapat jalan-jalan ke candi boko, terus apalagi itu yang ada diklaten, saya lupa namanya.. masih banyak yang belum dijelajahi..
    hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain bli Eka waktu itu ke candi Boko, juga datang ke candi di Klaten yang namanya ... candi Plaosan, kan 😁 ?
      Hehehe ...

      Di sekitaran Magelang, masih cukup banyak candi yang belum terekspos, bli Eka.
      Nanti kucoba kueksplore kesemua candinya buat artikel, ya

      Delete
  16. Wkwkwk.. Ouw.. banyak senyum sana sini sampai lupa jalan menuju candi. Kok bisa? mungkin aja penyebabnya bukan tersenyum itu tapi pas nyetir motor paling sambil melamun jadi kebablasan jalannya.
    Yang dilamunkan itu ttg "byar pet tak konsisten muncul timbul itu", hahaha..! Sorry aku bacanya jadi ngakak geli. Mungkin juga bukan sinyal operayor nya yang byar pet tak konsisten.. tapi lokasinya yang jauh belum ada pemancar yang kuat.
    Wah kali ini aku tertarik dengan t-shirt merah magenta yang dipakai brader.. terlihat warnanya frresh.. Nice colour..:)

    Ketiga Candi Sengi ini sidah dipindahkan ya dari tempat aslinya karena terkena erupsi gunung Merapi. Karena itu juga nama candi diberi nama Sengi sesuai dengan kelurahankelurahan.

    Ketiga candi ini mempunyai ciri khas yang sama ya? yaitu masing-masing mempunyai relief dengan motif yang sama, dan masing-masing candi juga terdapat sumur ya?

    Lihat foto jembatan gantung jadi ingat aku juga pernah lewat jembatan gantung dulu. Jalan di jembatan gantung memang sensasinya seru tapi ngeri juga pijakan terasa bergoyang-goyang di atas sungai yang deras airnya.

    Pertanyaanku candi Lumbung Sengi, candi Asu Sengi dan candi Pendem Sengi waktu dipindahkan mengapa nggak satu lokasi atau satu kompleks ya? agar pengunjung nggak kesulitan menemui ketiga candi yang tetpisah ini. Apakah ada alasan tertentu ya dari informasi yang didapat saat itu brader? Makasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wukakakakaa ... 🤣
      ngga kok waktu itu naik motor ngga sambil bayangin byar-pet 'seperti cintamu hilang timbul tak konsisten' ...

      Tapi beneran, kayaknya kalo sista sendirian nyari lokasi baru candi Pendem pasti ngga ngeh kalo candi itu ada di sebelah kanan jalan, soalnya bangunan candinya menyamping dan letaknya di sudut halaman.
      Pandangan mata refleks mengarah ke lokasi rumah-rumah warga ...
      Ngga ngeles loh ya ini ...
      wuakakakaka 😅

      Betul, ke 3 candi punya ciri khas yang sama. Baik motif dan ada sumurnya.

      Seruuu ya nglewatin jembatan gantung kayak gitu ...
      Aku malah pengin loh ngerasain nglewatin jembatan gantung di atas sungai kayak sista lewatin itu ...
      Pasti wow banget rasanya di atas sana 😉 !

      Yang dipindahkan lokasinya hanyalah candi Lumbung.
      2 candi lainnya tetap berada di lokasi aslinya yang berada di kelurahan Sengi.

      Iya juga ya, seandainya candi Lumbung tetap berada di kelurahan Sengi dan diletakkan satu rute antara candi Asu dan candi Pendem ..., kemungkinan rute pencariannya akan memudahkan wisatawan.
      Bisa jadi, lokasi candi Asu dan candi Pendem tetap berada di lokasi aslinya agar ngga menghilangkan lokasi historisnya.

      Delete
    2. Oouw....Jadi bukan karena ngelamunin byar pet ya? wkwkwk... percaya kok. Tapi bentarbentar waktu kebablasan naik motor itu bukannya pas lagi nyari Candi Lumbung Sengi ? kok brader bilangnya pas nyari Candi Pendem Sengi? wah ngelesnya salah nich? Wkwkwkwk... becamda.:)

      Oh jadi yang dipindah dari lokasi aslinya hanya candi Lumbung ya? yang lainnya candi Asu Sengi dan candi Pendem Sengi tetap di lokasi asalnya, iya mungkin supaya nggak menghilangkan nilai historisnya itu sendiri.

      Yang aku kagumi lagi yaitu struktur bangunan candi itu bisa dirancang sedemikian rupa sehingga nggak pernah terendam banjir bila saat musim hujan. Wah hebat ya? Kalau begitu bangunan-bangunan jaman sekarang kalah dong ya rancangannya dibanding bangunan candi ?

      Di kotaku juga ternyata terdapat 11 candi tapi hanya 5 candi yang lebih dikenal sekarang. Diantara nya ada Candi peninggalan kerajaan Singosari Ken Arok dan Kendedes. Candi tsb terletak di kota Singosari yang berjarak kurang lebih 20 menit dari kota Malang. Tapi belum pernah aku kunjungi hanya melewatinya aja bila keluar kota perjalanan rute Malang-Surabaya.

      Delete
    3. Tuuh kaan jadinya aku ngga konsen byar-pet lagi balas komentar mau ke lokasi candi Lumbung Sengi, malah jadi jelasinnya ke candi Pendem Sengi 😅.

      Yups, betul keduanya.
      Hanya candi Lumbung yang dipindahkan lokasinya dan 2 candi lainnya tetap berada di lokasi aslinya agar nilai historisnya ngga hilang.

      Nah, candi-candi di kota Malang dan kota lainnya di Jawa Timur itu merupakan situs peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno setelah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pasca musibah dahsyat erupsi gunung Merapi.

      Ngga bisa membayangkan ya, dahulu banget ... belum ada sarana transportasi sama sekali, pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan cara berjalan kaki secara kolosal ...,
      Waaah lamanya berapa jam dan hari untuk itu ya ?.
      Ditempuh dengan kendaraan saja bisa berjam-jam lamanya.

      Delete
    4. Wkwkwkwk.. gegara nggak konsen jadi komennya malah byar pet keliru nulis candi Lumbung jadu candi Pendem:)

      Ooh ternyata begitu ya ceritanya? Dahulu itu karena erupsi gunung Merapi menyebabkan kerajaan Mataram kuno berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur? What? perpindahan tsb dengan berjalan kaki secara kolosal? apa perjalanannya nggak sambil nunggang kuda brader?
      Nggak bisa bayangin dech kalau harus jalan kaki berapa hari baru nyampe tujuan ya?
      Bisa jadi mungkin aja orang-orang jaman dulu itu memang dikaruniai kekuatan yang lebih dari orang-orang yang hidup di jaman sekarang. Jadi kuat berjala nkaki untuk rute jarak jauh. Analisaku bener nggak ya? Hehehe..:)

      Delete
    5. Naah ..., kok ikutan byar-pet ngga konsen sih nulis komentarnya tuh 😂 ?.
      Nulis jadi, eh malah nulis jadu ... wwkkkwwk 🤣

      Kemungkinan dengan berjalan kaki juga berkuda ya migrasi dari Jawa-Tengah ke Jawa-Timur.
      Sayangnya aku belum menemukan informasi lengkapnya.
      Meski begitu, aku dibuat kagum pada jaman ribuan tahun lalu bermigrasi sejauh itu ..., jarak tempuhnya pasti sangat lama.
      Atau mungkin juga benar adanya jika orang jaman dahulu kala memang memiliki kesaktian yang tinggi, berbeda dengan orang sekarang.

      Delete
  17. wah keren banget kak himawant main ke lokasi 3 serangkai candi.. banyak sekali ternyata selain candi borobudur yaaa,, harus bisa ngunjungin satu2 nih biar tau keindahan alam Indonesia,, ayo kak himawant jadi guide nya yaa! hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Vika 😁⚘
      Iya, kak di Magelang masih banyak candi yang namanya belum banyak dikenal orang.
      Aku akan coba eksplore ke semua candi yang ada, kak ....

      Ayooooo siapa yang mau ikuuut mengeksplore candi-candi lainnya 😉 ? ...
      Daftarnya ke kak Vika ya ... , hahahaha ..

      Delete
  18. Candi candi itu belum pernah terekspos media ya...
    Banyak banget ternyata candi candi yang belum banyak orang tahu, apalagi dikawasan Jawa. Mas Himawannya sampe kesasar, semangat terus mas menjelajahi keindahan Indonesia . Heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jawa Tengah,terutama Magelang banyak banget candi situs purbakala yang belum banyak diekspos media secara besar-besar seperti candi Borobudur, kak Anisa.

      Terimakasih supportnya ya,kak Anisa ⚘

      Delete
  19. Asik nih jelajah candi, mau juga dong skali-kali diajakin ngetrip bareng kalo ke Jogja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius nih mau ngetrip bareng mengeskplore candi 😁 ?.
      Ayooo ... , aku mau banget untuk itu, mas.
      Hehehe

      Delete
  20. Aku tuh kepikiran yah, candi itu mau siang bolong kek dikunjungi.. begitu masuk ke dalam candi tuh adem. Pingin gitu bkin rumah tapi bentuknya candi.. dari batu2 candi jadi adem kan gak perlu pake ac yg bs merusak lapiaan ozon yg emang udh rusak bgt skrg.. tapi kalo gempa.. bikin dag dig duh dueeerr.. tapi adem kan kalo di dalem candi.. enak gitu.. bkin ngantuk.. hahah

    ReplyDelete
  21. Apa, kak ? ...,
    wuakakakaaka ..., ada kata dag dig duerrr ..., bikin aku langsung ngakak bacanya 🤣 !.

    Ngga bisa bayangin saat lagi duduk asik nonton tayangan tivi di dalam bangunan rumah berbentuk candi dibarengi suasana adem ..., eeeeh ... tau-tau ... dag dig duueeerrr ...,rubuh.
    Wuakakakaaaka 😅

    ReplyDelete
  22. Perjalanan asik. Saya suka dengan sikap penduduk yang tidak menarik biaya untuk melihat candi-candi itu. Keren.

    Mengunjungi candi bertamasya ke masa lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, uda Alris ⚘.
      Semoga jadi contoh buat lokasi wisata di daerah manapun, warga tidak diam-diam ikutan menarik beaya tak resmi atau pungli ke pengunjung.
      Harus diambil tindakan tegas jika sampai terjadi hal seperti itu.

      Delete
  23. Wah tempat main zaman SMP dulu. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akh yang beneer nih mas Farchan 😲 ?

      Jadi, mas Farchan ini asal daerahnya dari sekitar candi Sengi ?.

      Delete
  24. Salut untuk yang memotret jembatan itu. Memang harus waspada dan harus dengan perhitungan cermat agat tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya jug seperti itu, saat memotret dijalan , khususnya jalan raya, harus secepat kilat.
    Tempat yang indah dan penuh nilai sejarah, tapi sayang sekali sepi ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, mas Djangkaru ⚘.
      Aku masih teringat setelah memotret jembatan itu dan menepi di pinggir jalan, ngga gitu lama muncul truk melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
      Blaast ...., lega rasanya udah menepi !.

      Mas Djangkaru selalu berhati2 dan waspada keadaan sekitar sebelum ambil keputusan maju memotret lokasi, mas.
      Takutnya salah perhitungan, terutama yang berada di tikungan yang bikin kehalangan pandangan.

      Delete
  25. Mumpung gratis nih...harusnya banyak pengunjung yang datang kesana ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga, mas Dwi.
      Kesempatan tidak atau belum nantinya dikenakan tarif masuk, semestinya lokasi candi tetap jadi minat tujuan liburan dari beragam kalangan usia,terutama generasi muda agar dari kecil sudah mengenal dengan baik sejarah candi peninggalan purbakala nenek moyang kita.

      Delete
  26. Wah, butuh perjuangan juga ya untuk sampai ke candi 3 serangkai ini. Btw, saya jadi ingat penerbit buku 3 serangkai baca kata 3 serangkai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe 😁 ..., perjuangan pencarian ke lokasi candi yang seru, kak.
      O,ya penerbit 3 serangkai ?, aku baru ngeh sekarang setelah kak Sitti bilang begitu.

      Delete
  27. Wah, tiga candi sekaligus. Jarang bangat yang ulas candi ini, baru tahu dari ulasan mas himan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kelak jadi referensi Iokasi liburan Idris ke 3 candi Sengi ini, ya.

      Delete
  28. OK google, tunjukan posisi liburan mas himawan selanjutnya...

    peta google kalo jalan setapak kadang akurasinya kurang tepat. atau bisa jadi belum kedeteksi.

    Kita juga bisa membuat jalan sendiri di goole mas klo memang blm ada di google. kalo sudah di ACC google maka jalan akan ditampilkan.

    bisa juga mengukur jarak dari candi satu ke candi lain dg google map..


    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan petunjuk suara mesin OK google mengatakan ..., liburanku selanjutnya ke rumah mas Heri Heryanto ...
      Wkkwkkwwk 😅

      O ya, kita bisa membuat peta sendiri dan layar peta tetap bisa muncul konsisten ngga byar-pet meski lagi ngga ada signal operator, mas 🤔 ?.
      Wah, menarik juga ya ...., perlu dicoba nih buat panduan jalan biar ngga kesasar 😁

      Delete
  29. he..he.. rupanya senang jalan-jalan mengunjungi sisa-sisa sejarah masa silam nih..
    kalau tak salah wangsa Sanjaya adalah salah satu bangsa pendiri kerajaan hindu di tanah jawa. jadi ingat masa lalu nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. He he he ..., iya aku suka jalan-jalan menjelajah candi, mas Indra.
      Sekalian menularkan semangat ke generasi muda untuk suka juga liburan ke candi sekaligus belajar sejarah.

      Betuul banget pendapat mas Indra kalau candi ini peninggalan dari Wangsa Sanjaya.
      Nilai 100 buat mas Indra Hidayat 😁👍

      Delete
  30. What?? Candi asu, hahaha... Namanya kok bikin kesel ya, hehehe.. Berarti kalo traveling ke sana harus pakai operator yang sinyalnya kuat ya, biar gak byar pet, kayak cinta ke si dia, eh.

    Namanya Sawangan, mirip nama daerah di Depok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhaaha ..., kaget ya dengan nama candinya 😂 ?.
      Pertamakali aku dengarnya juga kaget dan langsung heran kok candinya dinamai warga seperti itu ...

      Hahahahaa ..., byar-pet mana tahaan 😅

      Kok tau di Depok ada juga nama Sawangan.
      Mas Suhendra tinggal di Depok ya ?.
      Aku dulu kerja di Depok, mas.

      Delete
  31. candinya masih terawat apik meskipun sampe blusukan lewat hutan bambu kayak gitu, pemerintah setempat merhatiin banget peninggalan sejarah kyk gini. Wahhh keliling 3 candi ini termasuk plan liburan singkat yg diplanning matang kayaknya ya, misinya sampe berhasil kayak gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe betul kata kak Ainun, liburan singkat ke 3 candi Sengi ini kuplanning matang jauh hari.
      Selain tanya pakai OK google, aku juga sempat tanya ke teman yang pernah kesana, cuman temenku lupa rutenya.

      Jadilah aku bermodal info dari OK Google dan tanya2 ke penduduk nyari lokasi setelah signal operator byar-pet ngga konsisten 😂

      Delete
  32. batu candi hampir sama dengan batu candi di Cambodia. bentuk dan design pun hampir sama. mungkin candi ini seusia dengan candi di sana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi begitu, kak Anies.
      Sayangnya aku belum berkesempatan ke Cambodia, jadi ngga tau sejarah dibangunnya, kak.

      Kak Anies pernah ke Cambodia, ya ?.

      Delete
    2. ya. saya sudah sampai di cambodia tahun lepas. saya ada catat di blog. boleh tengok di sini:


      http://aniesandyou.blogspot.com/search/label/Cambodia


      mas harus pergi ke cambodia kalau suka sejarah sebegini. banyak ilmu boleh dibawa pulang ;-)

      Delete
  33. salut buat bang hino informasinya
    di zaman yang milenial seperti ini jika kita tidak menggali sejarah lama kelamaan informasi sejarah tersebut akan hilang
    boleh dicontoh semangatnya traveler yang satu ini mantab
    semangat bang ojo kasih kendorrr hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah ... aku langsung surprise bahagia banget dikomentari dan disupporti agar terus liburan ke tempat peninggalan sejarah 😁😊
      Terimakasih banyak opininya, mas Agung ⚘

      Ayook, kita lestarikan sejarah bangsa kita 👌

      Delete