Friday, August 3, 2018

Parang Wedang - Eks Pemandian Air Panas Keluarga Raja

Setelah berlibur satu minggu yang lalu di museum Kareta Karaton yang menyimpan 23 koleksi kereta kuno milik keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan menemui pengalaman berlibur berkesan disana, lokasi liburanku selanjutnya memilih berlibur ke lokasi wisata umum yang masih ada kaitan kisahnya dengan sejarah masa lampau keraton Ngayogyakata Hadiningrat ..., yaitu ke sumber air panas Parang Wedang Projo Tamansari.


Trip Of Mine
Deretan pintu kamar berendam di pemandian air panas Parang Wedang.

Keberadaan lokasinya memang tak berdekatan dengan lokasi museum Kareta Karaton, cukup jauh ditempuh dari lokasi museum Kareta Karaton yang berada di pusat kota Yogyakarta dan untuk menuju kesana, memerlukan waktu jarak tempuh sekitar 50 menit atau sekitar 27 kilometer melalui jalan Parangtritis, Bantul.
Kisah asal mula terbentuknya sumber mata air panas tak mengandung belerang dan lokasinya tak sampai berjarak 2 kilometer dari pantai Parangtritis ini, juga cukup melegenda di tengah masyarakat.
Konon, sumber mata air panas tersebut terbentuk hasil dari kesaktian Sri Sultan Hamengku Buwono VI, Gusti Raden Mas Mustojo atau disebut Sinuhun Mangkubumi yang memerintah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada periode tahun 1855 - 1877.

Kisah bermula dari perjalanan beliau tiba di pesanggrahan Bale Kencur dan hendak bermaksud mandi menggunakan air panas, namun beliau tak menemukan sumber mata air panas yang dicarinya. Kemudian beliau memutuskan untuk mencari sumber air panas dan setibanya di desa Mancingan, beliau membuat sebuah lubang di tanah. Dengan kesaktian yang dimilikinya, tanah berlubang tersebut mengeluarkan sumber mata air panas yang terus mengalir sampai sekarang, tanpa pernah berhenti.


Trip Of Mine
Papan nama lokasi sumber air panas Parang Wedang Projo Tamansari

Pertamakali aku melihat sekilas keberadaan lokasi pemandian air panas Parang Wedang ini saat perjalanan pulang dari acara liburan bersama seluruh keluarga, kira - kira setahun yang lalu. Dilihat dari arah kedatangan dari pantai Parangtritis, lokasi ini berada di sebelah kanan jalan. Saat itu kami tak sekalian berkunjung karena jam operasional kunjungan ke lokasi hampir mendekati akhir jam kunjungan.
Di lain kesempatan, lokasi ini kudatangi berlibur seorang diri.

Selain karena memang penasaran dengan bentuk bangunannya yang bercirikan rumah traditional adat Jawa, terdiri dari beberapa pendopo juga menuntaskan rasa keingintahuanku dalam hati ' bagaimana bisa, lokasinya yang berdekatan dengan pantai Parangtritis, perairan samudera Hindia Belanda terdapat sumber mata air panas '.


Trip Of Mine
Pendopo terbuka untuk beristirahat segaris lurus dengan gapura.

Sesampai disana di satu siang hari itu, aku tak langsung memilih menuju ke kamar berendam, tapi aku memilih beristirahat  dan memesan segelas kopi di pendopo terbuka yang berada searah dengan gerbang kedatangan memasuki area dan memilih berbincang dengan ibu penjaga warung penjual makanan dan minuman yang dagangannya ditempatkan di salah satu sudut pendopo. 

Dari keterangan ibu penjaga warung sekaligus tugasnya merangkap sebagai pemungut restribusi tiket kunjungan inilah aku mendapatkan penjelasan, jika dahulu kala pemandian air panas Parang Wedang hanya dipergunakan oleh sultan dan para keluarga keraton, seiring waktu tak dipergunakan lagi oleh sultan dan para keluarganya.
Sampai akhirnya ditetapkan sebagai tempat lokasi wisata umum yang dapat dipergunakan oleh siapapun untuk mendapatkan manfaat khasiat air panas tersebut. Airnya mampu menghilangkan pegal - pegal badan dan bermanfaat untuk kesembuhan penderita penyakit kulit, rematik dan stroke.

Sembari berbincang, sesekali pandangan kuarahkan ke dinding bangunan samping pendopo yang terlihat dari pendopo terbuka tempat aku beristirahat. Bangunannya tampak kurang perawatan, dindingnya terlihat banyak berjamur.


Trip Of Mine
Lorong menuju ke deretan kamar berendam.

Setelah segelas kopi hitam sampai di tegukan terakhir, segera kukitari keseluruhan areanya yang terdiri dari 4 atap pendopo.
Setelah kuhitung, disana terdapat 9 kamar berendam yang ditata mengitari area.
Kesemua pintu kamar ruang berendam saat itu dalam keadaan tertutup dan tampak alas kaki pengunjung berada di luar, pertanda kamar ruang berendam sedang digunakan oleh pengunjung.

Sambil menunggu antrian waktu bergiliran berendam dengan pengunjung yang lain, kukitari ulang keseluruhan area dan aku penasaran kembali dengan salah satu dinding pembatas yang bagian atasnya tanpa dilengkapi atap, dibiarkan terbuka dan lokasinya berada di antara 2 bangunan pendopo. 


Trip Of Mine
Sayangnya, bangunan di area yang memiliki kisah kaitan sejarah Sri Sultan Hamengku Buwono VI ini terlihat kurang perawatan maksimal.

Dinding pembatasnya dilengkapi 2 pintu kayu berukir dalam keadaan digembok, kucoba kuintip dari celah pintu kira - kira ada ruangan apakah dibalik dinding pembatas berukuran tinggi itu, ternyata ..., disanalah lokasi sumber mata air panas Parang Wedang berada.
Dibentuk sebuah kolam berukuran cukup besar yang dilapisi ubin keramik, tampak di dalam kolam terdapat bangunan berbentuk lingkaran menyerupai dinding sebuah sumur, tempat mata air panas alami memancar dari perut bumi.

Kembali tiba berada di depan deretan kamar berendam nomor 6 sampai nomor 9, belum tampak juga pintu ruang berendam yang digunakan oleh pengunjung terlihat terbuka.
Kupilih duduk di bangku taman yang dibuat dari semen dan letaknya berhadapan dengan deretan kamar berendam sambil menunggu antrian giliran berendam dan kuperhatikan salah satu bangunan berukuran kecil berada di dekat kamar berendam nomor 9 dan berdekatan dengan tangga yang tadi telah kulewati sebelum aku mengintip ruangan terbuka dari celah pintu tempat sumber mata air panas berada.
Bangunan setinggi setengah badan orang dewasa itu adalah ..., tempat menaruh sesajen.
Tampak kembang setaman diletakkan di wadah yang terbuat dari daun pisang dan beberapa batang hio ditancapkan didekatnya.
Ternyata, lokasi ini dikeramatkan.


Trip Of Mine
Tangga menuju ke dinding berpintu lokasi sumber mata air panas.
Dan didekat area inilah, lokasi bangunan untuk meletakkan sesajen berada.

Di setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon penanggalan Jawa digunakan sebagai lokasi ritual tradisi Jawa.
Dan pada saat kedua hari tersebut, jam operasional dibuka sampai dinihari, tak seperti jam operasional di hari biasanya.

Menunggu waktu sekitar 15 menit kemudian dari lama batas waktu berendam yang memang disarankan untuk setiap pengunjung, untuk menghindari kondisi tubuh justru menjadi lemas setelahnya dikarenakan berendam air panas terlalu lama, akhirnya 2 pintu kamar berendam nomor 8 dan nomor 9 terbuka, telah selesai dipergunakan orang.
Dari pilihan 2 kamar berendam yang telah selesai digunakan pengunjung untuk berendam itu, aku memilih kamar berendam nomor 8.


" Ha ha ha ..., ngga usah kusebutin alasannya apalah ..., aku memilih kamar berendam nomor 8. Tak memilih berendam di kamar nomor 9 ".

Begitu berada tiba di depan pintu kamar berendam, jujur aku cukup kaget melihat kondisi ruangan bagian dalamnya.
Bukan kaget karena ukuran bak kolam rendamnya hanya berukuran 2 x 3 meter dan ruangannya berundak, dibuat lebih rendah dari pelataran area.
Tapi, kondisi bangunannya yang bikin cukup kaget melihatnya ..., perlu direnovasi ulang dan ditangani perawatan maksimal. 
Lagi - lagi, terlihat kurang perawatan seperti yang terlihat di dinding pendopo bagian luar.
Karena penasaran ingin tahu, apakah kondisi ruangan dalam kamar berendam nomor 9 juga sama, kucoba kulihat dan ternyata juga sama kondisinya.
Sangat disayangkan, terlebih lokasi ini memiliki kaitan kisah sejarah dengan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Trip Of Mine
Ruangan kamar berendam.

Berbeda dengan gambaranku sebelum aku datang ke lokasi ini, tadinya kukira kolam berendam di Parang Wedang ini dibuat seperti bak tampungan air dan pengunjung yang datang berendam hanya tinggal menceburkan diri di baknya, sementara airnya terus mengalir dari sumber mata air panas dialirkan ke bak kolam kemudian air dibuang mengalir di saluran pembuangan.

Kolam berendam di Parang Wedang ini sebelum digunakan, harus diisi air terlebih dulu dengan cara membuka sumbat di lubang tembok yang berbatasan lokasi dengan sumber mata air dan menutup sumbat yang berada di bawah kolam tempat kita berendam.
Menunggu sampai air panas memenuhi ketinggian batas kolam rendam, setelahnya siap digunakan untuk berendam.

Cukup luasnya ruangan kolam rendam memungkinkan digunakan untuk beberapa orang sekaligus dalam satu ruangan.
Uniknya, meski air panas yang bersumber dari lempengan di dalam tanah yang berasal dari perbukitan di sebelah utara pantai Parangtritis itu, tak mengandung konsentrat belerang seperti pada umumnya sumber mata air panas di lokasi lain. 
Air jernihnya cenderung terasa panas cukup tinggi, mengandung konsentrat kimia Cl, Na dan Mg.

Lokasi :
Jl. Parangtritis, Pantai, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tiket :
▪Rp. 10. 000 ,_ , berikut untuk memasuki kawasan pantai Parangtritis, pantai Parangkusumo, Gumuk Pasir, Pantai Cemara, pantai Depok dan beberapa lokasi wisata lainnya.
▪Rp. 5. 000 ,_ , untuk berendam + beaya parkir.

Jam Operasional :
06. 00 - 18. 00

Tips berlibur di sumber air panas Parang Wedang Projo Tamansari :
Terdapat sarana transportasi umum minibus dari kota Yogyakarta untuk menuju ke dan dari lokasi pantai Parangtritis, jika datang berlibur tak membawa kendaraan pribadi.
▪Di sekitaran area lokasi sumber air panas Parang Wedang banyak terdapat penginapan, jika memilih ingin bermalam untuk sekalian berlibur di beberapa lokasi wisata yang ada.
▪Patuhi peraturan dengan tidak mempergunakan sabun dan shampoo di ruangan kamar berendam air panas.
▪Jaga sikap dan kata - kata dengan baik, mengingat lokasi ini dikeramatkan.





156 comments:

  1. Sering jalan-jalan ya mas? :D postinganmu pasti kemana-mana deh wkwk
    Bekas tempat pemandian raja? apa ini sama dengan Taman Sari Jogja juga? Cuman kan itu lebih instagramable dan emang ga fungsi untuk pemandian sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, kak 😁.

      Ya,kak lokasi pemandian ini berbeda dengan Taman Sari karena airnya panas.
      Kalau di Taman Sari airnya dingin biasa.

      Benar kata kak Onix, bangunan di Taman Sari jauh lebih artistik dan istagramable, keren buat bikin foto-foto ☺

      Delete
  2. Halooo Mas Hinoooo :) Asik bener jalan2nya. Kok bilangnya Karaton sih bukan keraton? Hehehe. AKu pas liburan lebaran juga ke Museum Keraton tapi ga main ke Parang Wedang. Btw aneh ya kita nih ga merawat peninggalan sejarah yang berjaya di zamannya. Kondisi bangunan ga terawat gitu memprihatinkan pdhal kalau diperbaiki bagus untuk pariwisata yang terkenal ya. Dari 9 kamar berendam itu, kira2 Mas Hino mau berendam di nomor berapa? Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo juga, kak Nurul 👋 ...

      Penulisannya menggunakan istilah Karaton, bukan keraton karena mengikuti bahasa Jawa kromo dan penyebutan nama dari pihak Keraton, kak ☺

      Iya ya,kak ... , aku juga heran dan sempat kaget lihat ruangan berendam kok sama-sama kurang perawatannya begitu.
      Dinding berjamur, kaca pecah, plafon bolong ...
      Sangat banget kondisi bangunannya dibiarkan seperti itu.

      Aku pilih kamar mandi berendam nomor 8 ..., hahaha 😂
      Rada-rada deg-degan juga seorang diri di dalam kamar mandi rendam bersejarah ini 😁

      Delete
    2. Ooooooh jadi memang Karaton itu dari Bahasa Jawa Kuno ya? Wah, aku jadi tau deh sekarang. Nah itu dia ya ada keanehan kenapa air panasnya ga mengandung belerang. Ceritanya dari Sri Sultan Hamengku Buwono VI membuat lubang di tanah gitu ya, bisa jadi sumber air panas hhhmm... Ati2 berendam sendirian spooky tau hahahahah tau2 ada yg nyolek :D :D

      Delete
    3. Hahahahaha ... 🤣
      Kalo ada yang nyolek, kubalas colek lagi, kaaak ...
      #ColekColekanNamanya

      Iya, betul kak Nurul.
      Penggunaan kata Kareta Karaton gunain bahasa Jawa kuno.

      Dipikir-pikir aneh juga ya, sumber air panas bisa ngga mengandung belerang, udah gitu dekat pantai pula lokasinya.

      Delete
  3. Aku malah belum pernah ke sini...ternyata dalemnya kayak ruangan kamar mandi biasa to.. seberapa panas to itu suhu airnya mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayok kapan ada waktu, ajak keluarga kak Sulis nyobain berendam air panas ini, kak ☺

      Yups, kamar mandi rendamnya kayak tampilan kamar mandi biasa.
      Awalnya kukirain juga kayak di kolam rendam air panas Ciseeng, Bogor yang masing-masing ruangannya berisi bak tampungan penuh air dan kita tinggal nyemplung.

      Meski begitu, air nya betul bermanfaat, kak Sulis.
      Terbukti badanku langsung terasa rileks, pegal-pegal di badan langsung hilang setelah berendam disana.

      Airnya cenderung terasa panas menyengat, seperti air setelah mendidih.
      Untuk itu kita harus pelan-pelan mencelupkan tubuh agar tubuh beradaptasi lebih dulu dengan temperatur air panasnya.

      Delete
  4. Horee akhirnya saya orang nomor tiga komen di sini. Ssstt mas, saya komen belum baca heheh, soalnya setiap mau komen penuh mulu, jadi sekarang saya senang sekali karena jadi orang keempat yang komen. semoga kedepanya jadi orang pertama. Jujur saya penasaran ini jadi orang pertama yang komen heheh.. ntar ta baca dulu ya kwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha .. 😂
      Aku jadi ngakak baca komentarnya dari mas Martin !.
      Kok bilang horeee ..., seperti lagi dapat piala penghargaan 😅

      Jujur, saya juga merasa senang sudah bikin mas Martin senang dapat berkomentar di urutan ke 4.
      [ kayak antrian di dokter, yaa .. pakai nomor urut ... wkkkakakaka 😅 ! ]

      Btw, terimakasih banyak atas supportnya selama ini ya, mas Martin ⚘

      Delete
    2. idd mas, suport apaan kwkwk, mas Indonesia ini jika hanya mengharapan dinas pariwisata saja mak sampai tahun adam sekalipun kita masih akan dilabeling negara berkembang. Entah sampai kapan saya juga tidak tahu tetapi dengan adanya blogger kususnya blogger kaki kereta (meminjam kata sahabatku Tuteh) Indahnya Indonesia bisa diketahui, so orang-orang seperti mas Himawa, sobat tuteh, sobat blogger Hasibuan, mbak Ajeng Veren harus diberdayakan. Tengok saja negeri jiran sektor pariwisata gandeng blogger, lah kita?

      Jadi inilah yang saya maksudkan dengan kerja sama membangun bangsa. Lakukan apa yang kita bisa, dan kita enjoy, saling suport itu penting karena hal-hal yang berhubungan dengan aksara kadang membuat kita mati gaya alias mandek, mau nulis apa ya? tetapi dengan suport memberi semacam nutris, dan akhirnya sahabat gantengku ini berkata, "ideku tak akan pernah mati" Selamat berkarya sobat. Tuhan berkati. salam

      Delete
    3. Support dari mas Martin adalah : selalu menyemangati saya untuk banyak mengeksplore lokasi wisata, juga selalu berkomentar dengan antusias dan sukacita.
      Jujur, itu suatu penghargaan buat diri saya ...,
      jerih payah saya mencari sumber informasi seakurat mungkin disuatu lokasi liburan membuahkan hasil direspon dengan baik dan banyak dikomentari pembaca, termasuk komentar datang dari mas Martin ⚘

      Jika hanya sebatas murni liburan, tentunya saya tidak akan mencari informasi sedetil mungkin di suatu lokasi untuk keperluan bahan informasi blog seperti ini.
      Hanya betul-betul murni menikmati liburan saja di lokasi wisata.
      Hehehe 😁
      Semoga ya, aku bisa terus banyak mengeksplore lokasi wisata, mas.

      Ide yang bagus itu, mas ... sektor pariwisata Indonesia menggandeng semua travell blogger.
      Ini demi memajukan pariwisata Indonesia semakin maju dan banyak didatangi wisatawan lokal dan mancanegara 👍

      Selamat berkarya dan Tuhan berkati juga buat sobat mas Martin yang ganteng eksotis.
      Sukses, ya.

      Delete
    4. Hahaha jadi macam bagimana begitu di bilang gantenga eksotis kwkwk. Bisa jadi saya nyebur di sumber air panas Parang Wedang Projo Tamansari. biar tambah eksotis kwkwk, maturnuhun mas..

      Delete
    5. Wkkkwwwkkk 😅 ..., nyeburnya jangan kelamaan nyelam di dalam air,ya ..., ntar malah kehabisan oksigen.

      Ayoooo datang nyebur ke sumber air panas Parang Wedang, mas ..., biar ganteng eksotisnya makin bertambah.

      Delete
    6. Kalian tahu ... blogger adalah salah satu ujung tombak pariwisata daerah kita sendiri.

      Sayangnya ... dulu saya dan teman-teman Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) pernah menawarkan melatih blog, FB, dan Twitter (bermodal kami melihat promosi daerah lain di Indonesia yang serba digital kan) ke suatu dinas terkait pariwisata, tapi ditolak. Padahal GRATIS. Untuk melatih blog komunitas kami tidak memungut bayaran sepeser pun. Apalagi kami juga menjelaskan tentang manfaat blog yang begitu banyaknya.

      Suatu saat nanti ... suatu saat.

      Delete
    7. Jujur aku kaget baca komentar tentang pengalaman kak Tuteh dan teman-teman dari Flobamora Community ditolak oleh suatu dinas pariwisata ... , padahal inisiatif baik untuk memajukan kepariwisataan Indinesia.

      Bagiamana bisa begitu ??.

      Semestinya dan patut digarisbawahi peran seorang penulis blogger adalah jelas ikut andil memajukan pariwisata, mengenalkan suatu lokasi wisata dan ikut meningkatkan pendapatan daerah wisata setempat yang didatangi dengan mempopulerkan lewat artikel

      Delete
    8. Mindset-nya hehehe. Tapi kami tidak berhenti di situ, puluhan kegiatan soal kenal blog dan bikin blog, termasuk konten blog sudah kami jalankan. Di SMA-SMA, diminta sama Komunitas GMIT se-Flores-Lembata diselenggarakan di Aula Gereja Syalom, diminta sama anak BEM Uniflor, sama dosen-dosen muda PBSI Uniflor, de el el nya hehehe ... ini sama Kak Anazkia lagi bikin Kelas Blogging Kupang via WA. Saya paling suka ngajarin blog dan etika berinternet / Internetsehat. Di kantor kami pun demikian (UPT).

      Delete
    9. Iya ya, sayangnya mindsetnya belum terbuka akan arti pentingnya peran serta seorang blogger ikut memajukan sektor kepariwisataan.
      Semoga kedepannya peran penting seorang blogger lebih dapat perhatian.

      Salut dengan semangat dan kegiatan kak Tuteh yang sangat besar mengenalkan dunia blog ke generasi muda dan khalayak umum.
      Luar biasa semangatnya ... , angkat jempol👍!

      Delete
  5. Wah jujur saya prihatin dengan keberadaan tempat ini, dari narasinya saja kalau tempat ini memiliki nilai tradisi, ritual,sejarah, dan juga kebanggaan, tapi pyee mas kok kayak gini ya. Mas, hanya saran. akan sangat baik bagi kelangsungan tempat ini jika mas posting juga di kompasiana.

    Kemudian kenapa pilih nomor 8 mas kwkwkw?
    terakhir, mas Himawan (lihat foto pertama dari tulisan ini) cakapnya minta ampun kayak artis korea mas...Kim ling Jong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, mas.
      Aku juga prihatin melihat keadaan kondisi bangunan yang memiliki sejarah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VI ini kok ..., seperti ini.
      Semoga setelah kutulis jadi artikel ini, segera dapat perhatian dan segera direnovasi bangunannya.

      Pilih kamar nomor 8 ..., heumm ... karena ...,
      muncul perasaan ketar-ketir berada di kamar rendam nomor 9,mas.
      Soalnya ruangannya bersebelahan persis dengan tempat sesajen.
      Wkkkwkk 😅 ..
      Lagian saat itu aku sendirian juga,sih .. jadi bawaannya takut aja
      [ huuu ..dasar penakut 😅 !! ]

      Wadoooh ..
      Tolongin niih tubuhku kerasa mau melayang, mas ...
      akibat dipuji seganteng kayak artis dari negara ginseng.
      Hihihi .. , jadi malu saya 😊

      Delete
    2. hehehe id mas saya no komen ya kwkwk

      Mas ikut grup face book yang berhubungan dengan dinas pariwisata DIY ga?

      Delete
    3. Wkkkwwwkk 😅
      Ngga apa-apa ngga dikoneni id saya, mas

      Selama ini aku masih indipenden mengelola blog ini, mas.
      Belum gabung dengan dinas pariwisata DIY.
      Pengin gabung dengan dinas pariwisata dan komunitas blogger seperti itu, tapi laaah ..., ngga tau caranya gimana 😁

      Delete
    4. mas kalau ada face book klik di bagian pencahriann dengan kata kunci Dinas Pariwisata DIY, setelah temukan ikuti dan sgere tulisan ini mas. Kedua cari websid Dinas pariwisata DIY kemudian komen saja mas. Bisa juga cari DInas Pariwisata Nasional dan koment... biar makin rame mas...saya sudah lihat mas, grup FBnya ada mas ganteng hehehe

      Delete
    5. O,caranya gabung di dinas pariwisata DIY seperti itu,mas ..., melalui facebook.
      Aku coba ikuti saran mas Martin,ya.

      Terimakasih banyak infonya, mas.
      Sampai dibelain mencari caranya gabung di facebook.
      Terimakasih banyak untuk itu ..., anda murah hati 👍

      Delete
  6. Seru ya Mas bisa mencoba tempat pemandian bersejarah yang dulu digunakan oleh Sultan dan istri serta para putrinya. Aura bangsawannya pasti masih ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,kak Evy.
      Kerasa sih aura bangsawannya disana, makanya rada deg-degan juga waktu itu.
      Apalagi setelah lihat ada bangunan untuk menaruh sesaji ..., hehehe 😁

      Delete
  7. Dilihat dari foto2nya, kalau malam kayaknya serem tempatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😁 cobalah kapan-kapan kesana saat malam hari, kak Arizuna.
      Dibuka sampai dini hari hanya pada saat malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon.

      Delete
  8. Kenapat tempat peninggalan bersejarah seringnya kurang terawat, apa kurang anggarannya ya?

    Kalo pas blogging suka minum kopi hitam biar ga ngantuk ya mas Himawan?
    Saya juga sering pesen kopi hitam walaupin cuacanya panas hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laah ..., ternyata mas Aris memperhatikan tulisan saya kalau di suatu lokasi saya sering minum kopi hitam.
      He he he 😁 ...
      Terimakasih ya selama ini mas Aris memperhatikan detil tulisan saya ⚘

      Iya, mas saya pesan dan minum kopi hitam biar ngga ngantuk juga buat melawan kena udara dingin diperjalanan.
      Pesan kopi hitam bukan buat sesajen, loh ...
      Wuakakakaka 😅

      Kalo gitu kita samaan ya, penyuka kopi.
      Toss 👋

      Delete
    2. Toss juga mas 👋 hahaha...

      Delete
    3. Joss ...
      Toss nya muantaaap beneer 👋👋
      Hahahhaahaha 😂

      Delete
  9. bagus banget pemandian air panas mengobati banyak penyakit msd=z

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul, mas Kadir 👌
      Mineral air panas alami mampu mengusir banyak penyakit, juga membuat pikiran jadi lebih rileks setelah berendam disana.

      Delete
  10. Baru tahu ini ada parang wedang,masih bagian dari komplek taman sari kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan merupakan bagian dari kompleks Taman Sari, Idris.
      Lokasinya terpisah cukup jauh dari lokasi Taman Sari, kira-kira ditempuh sekitar 1 jam.

      Delete
    2. Jarang yang tahu yaa, saya saja tinggal di Jogja 4 tahun gak tahu lokasi ini sama sekali dan mungkin kaena jarang di publish di media kali yaa

      Delete
    3. Loh, Idris tuh pernah tinggal di Yogya ?.
      Kuliah disanakah ?.

      Mungkin bagi sebagian orang luar kota, lokasi ini belum banyak dikenal orang.
      Tapi kalo untuk orang Jogja dan sekitarnya, lokasi ini namanya sudah banyak dikenal orang, Idris.

      Delete
    4. Iyaa mas e, aku dulu kuliah di Ahmad Dahlan, terus kerja di Magelang 4 bulan. Baru dah pindah ke Jakarta. Klo main ke Magelang juga masih sering mampir ke ibu kosan di Mertoyudan.

      Delete
    5. Oh,yaa ..., ternyata Idris sempat kerja di Magelang dan ngekost di daerah Mertoyudan tow 😁.

      .. Wah, kalo gitu kapan sewaktu Idris ke Magelang lagi, kita ketemuan yuk ...,
      Kita saling tukar pikiran mengenai blog.

      Delete
  11. Tempatnya agak kurang instagrammable ya mas... hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak Dwi ... hehehe 😁
      Berbeda jauh dengan tampilan bangunan Tamansari yang memang instagramable.

      Delete
  12. Dilihat dari awal terbentuknya sumber air panas ini yakni dari kerajaan jaman dahulu, seharusnya struktur bangunan area tempat mandinya dipugar dengan bahan2 bangunan yang artistik kayaq ukiran gitu biar lebih menarik, mungkin karena dananya yang minim kali mas pemugarannya jadi kayaq toilet gitu.... " Happy Blogging "

    ReplyDelete
    Replies
    1. Happy blogging juga, mas Harman ☺

      Betul ... dan sependapat dengan ide mas Harman, kalo lokasi yang punya kisah kaitan sejarah dengan keraton ini semestinya ... direnovasi ulang berganti desain bangunan artistik penuh ukiran ciri khas traditional Jawa.

      Jika benar suatu saat nanti dilaksanakan pemugaran desain seperti yang digambarkan mas Harman ..., lokasi sumber air panas ini pasti akan mengundang banyak kunjungan dari turis mancanegara.
      Turis mancanegara sangat menyukai seni etnik.

      Delete
  13. Awal melihat fotonya, saya sudah tak yakin. Dan terbukti dengan cerita dan foto-foto selanjutnya. Sayany sekali, ya, Mas. Potensi alam yang luar biasa tersebut tidak diiringi dengan perawatan bangunan wisatanya.

    Betewe, itu bak mandinya tidak diganti ya Mas air panasnya dengan yang baru? Kan sudah digunakan oleh pengunjung sebelumnya. Atau bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😁 judulnya tertebak kalo gitu..., dilihat dari foto pertama saat aku nyengir di depan kamar rendam nomor 7 dan 8 😃

      Iya, betul, kak Ajeng.
      Sangat disayangkan ..., kondisi bangunan kurang perawatan maksimal seperti itu.
      Setelah aku selesai berendam dan melewati kamar-kamar berendam yang terbuka pintunya, kulihatin kamar berendam satu persatu ..., kesemua ruangan kamar rendamnya juga pada rusak, malah ada yang tanpa plafon sama sekali.

      Bekas air panas yang selesai digunakan orang lain untuk berendam, dibuang lebih dulu dengan cara membuka sumbat yang terbuat dari kayu yang terletak di bawah bak kolam, kak.
      Nunggu sampai bak kolam benar-benar tak ada airnya, setelah itu air panas yang baru diisi kembali ke bak kolam rendam dengan cara membuka sumbat yang menempel di dinding yang berbatasan dengan sumber air panas.

      Delete
    2. Begitu ya mas. Habisnya saya penasaran sih airnya dibuang atau enggak, syukurlah kalau ternyata pengunjung selanjutnya tetap mendapat air bersih. Hehhe

      Apa karena tak ada biaya atau perhatian pemerintah soal ini ya mas? Sayang sekali loh, padahal berpotensi bagus kalau terus diperhatikan.

      Delete
    3. Hehehe .., airnya setiap berganti digunain orang diganti kok,kak.
      Masalah saluran pembuangan air juga kurang cepat terbuang masuk ke saluran airnya.

      Semoga ya setelah artikel ini kuposting, areanya segera direnovasi.

      Delete
  14. kalau ke pemandian air panas itu mungkin gak jadi mandi mz, soalnya rada gak terawat gitu... mungkin lain cerita kalau pemerintah desanya bisa ngasih bantuan dan di rehap keseluruhan bisa jadi tempat onsen kaya di jepang yang bikin gimana... gitu xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Howaaaa ... ditata kayak pemandian air panas Onsen di Jepang 😃..

      Bener yakin mau dan berani kak Risna nyebur berendam kalo mata air panas di tata kayak Onsen 😉 ?.

      .... padahaal ... , aturan mandi rame-rame berendam di Onsen itu .. pada ngga pakai pakaian alias minimalis, loooh ... wuakakaka 😂

      Delete
  15. Awalnya aku pikir bentuknya seperti kolam, luas yang dipakai bersama-sama. Ternyata seperti kamar mandi ya.
    Semoga ada segera dibenahi ya. Sayang juga sih ada potensi bagus buat wisata tapi kurang dirawat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama seperti gambaranku sebelum datang ke lokasi ini, kak Rochma.
      Kukirain juga berupa kolam besar dan digunakan bersama-sama untuk sekaligus kegiatan sosialisasi dengan pengunjung lain.

      Semoga ya lokasi berpotensi besar dikunjungi banyak wisatawan ini segera dibenahi jadi bangunan yang lebih artistik dan selanjutnya terawat dengan baik.

      Delete
  16. Wah sayang ya, perawatan bangunannya kurang maksimal. Padahal tempat pemandian air panas dekat pantai kan unik dan bisa punya nilai jual cukup tinggi. (Tapi kok ada kegiatan tradisi ritual secara rutin di situ? Saya jadi nggak minat mandi-mandi di sana ya. :D )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooops, kak Dyah ngga usah takut mandi berendam air panas di lokasi ini, kak 😁 ...
      Ngga ada apa-apa,kok.
      Udah gitu, disana juga rame pengunjungnya.

      Rata-rata pengunjung yang kuajak ngobrol saat itu datang ke lokasi ini setelah mereka liburan dari pantai.
      Kebanyakan alasannya buat ngilangin pegal badan setelah beraktivitas di pantai ☺


      Iya ya sayang banget lokasi potensial ini bangunannya terbengkelai seperti itu.
      Semoga cepat direnovasi.

      Delete
    2. Iya ... makanya sayang kalau tidak segera direnovasi. Capek habis jalan di gunung pasir, terus berendam air panas. Okeh banget kan tuh ...

      Delete
    3. Betul juga,kalau bangunan dibiarkan kurang perawatan begitu jadi kurang menarik dilihat dan buat sebagian orang pasti jadi bikin takut.

      Waah, betul banget, kaaak ...
      Abis trekking di gurun pasir Barchan, langsung melipir ke lokasi air panas ini ..., pegel kaki langsung hilang 😁

      Delete
  17. Enak banget ke Parang Wedang pas Jogja lagi dingin-dinginnya kayak sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok tau kalo Jogja akhir-akhir ini udaranya sangat terasa dingin, kak 🤔 ?.
      Tinggalnya di Jogja ya, kak ?.

      Kalo tinggalnya di Jogja, ayok kesana kak ... berendam air panas enak buat ngangetin badan ngurangin udara dingin.

      Delete
  18. Wuuiihh meski tempat beredam air hangatnya kategori standar namun banyak Sesuatu bersejarah yang dapat kita petik di Para Wedang , Projo Taman Sari . 😄😄😄 Mantap 👍👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuman sayang ya, mas ..., area sumber air panas Parang Wedang ini termasuk punya kaitan cerita sejarah keraton, bangunannya kok ngga terawat maksimal.

      Delete
  19. Wahh aku pikir kayak pemandian air panas di Sumbar, yang ada kolam-kolamnyaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak kolam - kolam rendam air panas di Sumbar dan di Ciseeng, Bogor ya, Aul ?.


      Nah, mumpung Aul masih di Depok, cobalah berendam di Ciseeng, Bogor.
      Udah pernah kesana belum ?.

      Delete
  20. Gue baru tau nih pemandian air panas di jogja. Emang yah jogja mistis nya masih kental banget, bahkan ditempat pemandian masih ada aja sesajen. Sayang banget ga terawat yah, padahal kalau dirawat kan bisa meningkatkan pengunjung yang dateng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adanya sumber mata air panas ini makin melengkapi sejumlah pilihan wisata yang ada di Jogja.
      Pertamakali aku lihat lokasi ini juga sempat surprise ternyata di Jogja juga ada sumber mata air panas ..., dekat pula lokasinya sama pantai. Unik 👌.

      Ya, mas Firman suasana Jogja aura mistisnya masih terasa kuat.
      Kebanyakan yang diberi sesajen adalah tempat-tempat yang berhubungan dengan keraton.

      Betul, sangat disayangkan kondisi bangunannya kurang perawatan.
      Semoga setelah ini segera direnovasi ulang.

      Delete
  21. Kok sedih lihatnya ya air panas begini malah kurang perawatan begini. Adakah alasan seperti debit air panas yang kurang banyak sehingga untuk berendam didalam ruangan pun harus mengisi dulu? Aku berharap airnya terus ngalir gitu di ruangan berendamnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya keprihatinan kita semua tentang kondisi bangunan yang ada kaitan sejarah dengan keraton ini segera ditindaklajuti direnovasi ulang, agar makin bagus dilihat dan mampu menarik kunjungan wisatawan lokal juga mancanegara.

      Kalau aku perhatikan sewaktu mengisi bak berendam, debit airnya deras, bli.
      Mengalir kencang memenuhi bak kolam rendam.

      Mungkin yang perlu dibenahi adalah saluran pembuangan air dari bak kolam rendamnya agar lancar terus mengalir tanpa menunggu jeda waktu.

      Delete
  22. kalau tempat sebegini dijaga dengan baik pasti ramai visitor akan dataang. pada masa sama membantu menjana ekonomi penduduk setempat..kalau di malaysia tempat sebegini jadi tumpaun mereka yang hidap sakit kulit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, kak Anies 👌.
      Jika lokasi ini dirawat dengan maksimal pasti akan mampu lebih banyak mendatangkan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara.

      Sama di Indonesia juga,kak.
      Khasiat air panas alami ini mampu menyembuhkan penyakit kulit dan kerap didatangi penderita sakit kulit untuk terapi penyembuhan.

      Delete
  23. Keren kang, cuman benar apa akang, cielah pakai akang segala, sok-sokan manjah gitu hehe, kurang terawat masalah utama dari hal-hal classical gitu hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi 😁 ...,sekali-kali manjaaah ngga apa-apa..., hahaha 😅

      Jadi betul pendapat kita, akang #ikutanmanjah ..., bangunannya kurang terawat.
      Sayang banget seperti itu.

      Delete
  24. Wah bagus banget untuk kita yang hendak liburan, mencari tempat relesin otak. Pas ad waktu libur, pengen juga ah libur kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mas Alex ..., setelah berendam air panas alami pikiran jadi lebih rileks dan tubuh jadi lebih terasa enteng.

      Siiip, mas Alex 👌

      Delete
  25. Sayang sekali karena tempatnya tidak dirawat ya?

    Air panasnya mengandung NaCl? Mirip cairan infus dong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,kak Sitti.
      Semestinya direnovasi dan dirawat semaksimal mungkn.
      Jika dikelola dengan baik, aset sumber alam dan sejarahnya lokasi ink bisa mendatangkan banyak kunjungan dari turis mancanegara juga lokal.

      Wuih, kak Sitti hafal betul kandungan cairan infus.
      Kandungan airnya mampu menyegarkan kulit kita.
      Keren ya ..

      Delete
    2. Iya, Mas. Ini kan tempat bersejarah. Tempat mandinya seorang Raja yang akhirnya dibuka untuk umum. Jadi, harus dirawat.

      Delete
    3. Semoga saja setelah komentar-komentar yang masuk tentang minimnya perawatan lokasi ini dari kita semua ..., jadi masukan buat dinas pariwisata DIY untuk segera dilaksanakan renovasi ya, kak Sitti.

      Delete
  26. Sayang sekali jika tempatnya dibiarkan seperti itu. Padahal jika direnovasi pasti orang lebih tertarik berkunjung ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul pendapat mas Insan.
      Lokasi ini sebenarnya potensial menarik kunjungan lebih banyak pengunjung, terlebih berada di dekat sejumlah obyek wisata lainnya.
      Sayangnya, penanganannya kurang maksimal.

      Delete
  27. oh enggak ada kandungan belerangnya ya, Mas...enggak biasanya nih..
    Tapi sayangnya kurang perawatan sepertinya.
    Coba dinaikkan saja retribusinya untuk biaya pemeliharaan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Unik airnya ya bisa ngga ada belerangnya,kak.
      Saran bagus itu,kak ..., dengan restribusi dinaikkan sedikit dananya bisa untuk renovasi bangunan dan perawatannya.

      Delete
  28. Awal baca pos ini pikirnya kolamnya itu luas banget, terbuat dari batu-batu alam apalah begitu, ternyata mirip kamar mandi. Tapi bangunan luarnya sudah cukup menunjukkan kekhasan daerah setempat. Mungkin kamar mandinya yang perlu direnovasi. Air berendam itu dialirkan masuk-keluar, mungkin agar setelah pengunjung lain berendam, airnya dikeluarkan, ditampung air baru untuk pengunjung berikkutnya ya.

    Kalau di Ende banyak tempat mata air panas ini, salah satunya di daerah Detusoko yang dibangun kolam super besar yang airnya panas (banget) gitu, disediakan juga dengan kamar mandi umum tempat berganti baju. ehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama seperti gambaranku sebelum datang ke lokasi ini,kak.
      Kukira air panasnya berupa kolam besar dan digunakan untuk berendam rame-rame.

      Bisa jadi memang diatur begitu, buka tutup sumbat kolam jadi airnya selalu berganti yang bersih setelah dan sebelum digunakan orang lain.

      Waah ..., kereen itu, kak Tuteh 👍. Ternyata di Ende banyak sumber air panas alami.
      Aku jadi penasaran pengin lihat, dan siapa tau ..., bisa kesampaian berkunjung ke mata air Detusoko.
      Doain ya, kak.

      Delete
    2. Insha Allah didoakan sampai ke Ende, pokoknya tinggal WA saja lah huehehe. Insha Allah bisa dibantu untuk pergi ke tempat2 itu *toss*

      Delete
    3. Amin, terimakasih doanya kak Tuteh.
      Kudoakan kak Tuteh juga berkesempatan mengeksplore semua lokasi wisata yang ada di pulau Jawa.

      Toss 👋

      Delete
  29. jaman kerajaan dulu
    sendang beginian hanya untuk raja duraja dan keluarganya
    sekarang sudah tempat umum saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul, mas Awan.
      Lagipula sayang ya, sudah tak pernah lagi digunakan oleh keluarga raja lalu ditelantarkan, ngga dibuka untuk digunakan masyarakat umum.
      Syukurlah, sekarang lokasinya diperbolehkan untuk tujuan wisata.
      Sayangnya, perawatan bangunannya kurang maksimal.

      Delete
  30. Baru tahu tempat pemandian air panas ini,ternyata jadi sumber sejarah ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan saat liburan ke Jogja, terutama liburan ke area pantai Parangtritis mampir ke lokasi sumber air panas Parang Wedang ini ya, kak ...
      Coba nikmatin air panas alami yang punya kaitan kisah dengan salah satu Sultan ini ☺

      Delete
  31. sayang banget ya keadaannya kurang terawat, jadi horor gitu suasananya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha..., huuush kok kayak horror suasananya 😃.
      Ngga horor kok disana, mas.

      Iya, sayangnya bangunannya kurang terawat dengan baik, jadi terlihat kurang nyaman digunakan.

      Delete
  32. baca ini artikel... jadi pengen ke cisolong, satu-satunya pemandian air panas alami di daerah pandeglang..

    cuma sayang, karena kerja jadi nggak ada waktu.. #huffttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap semangaaaat,mas Bayu ... 👌
      Meski sebenarnya aku juga ngerasain hal yang sama, karena rutinitas kerja jadinya kurang maksimal mengeksplore banyak lokasi wisata 😓
      Padahal ..., pengin rasanya semua lokasi wisata kudatengin semuanya.
      #curhat

      Waah, di Cisolong,Pandeglang ada juga sumber mata air panas ..., mantaap itu, mas 👍

      Delete
    2. iyahh ada non belerang juga... kelebihannya di sana lebih dijaga tempatnya dikelola sama orang jadi agak bagus...

      Delete
    3. Jadi penasaran nih, mas..., aku akan searching lokasinya air panas Cisolong,Pandeglang.
      Terimakasih info lokasinya, ya.

      Delete
  33. sepertinya butuh biaya untuk perawatan kemudian promosi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul pendapat mas Abdur 👌.
      Lokasi wisata ini perlu pendanaan untuk renovasi, setelah itu digencarkan namanya agar dikenal banyak orang.

      Delete
  34. Belum pernah kesini. Cuma pernah lihat plangnya aja tapi nggak pernah tertarik buat mampir. Soalnya kayak serem gitu ya tempatnya, kurang terurus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah,pendapat sebagian komentar yang masuk seperti yang kak Lusi katakan, areanya terlihat serem ..., semoga jadi masukan dan segera dilaksanakan renovasi disana ya,kak.

      Delete
  35. betul mas, mesti dirawat lebih bagus lagi sehingga nyaman digunakan. Jika sudah bagus, pasti banyak orang yang mau mampir. Kok bisa ya airnya panas tanpa belereng?
    Keren..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sependapat, bli.
      Lokasi potensial ini semestinya segera direnovasi agar nyaman dan ngga terkesan menakutkan dikunjungi.

      Iya,unik mineral sumber air panas Parang Wedang ini,bli.
      Sama sekali ngga mengandung belerang, jadi seperti air panas hasil rebusan dari kompor begitu ☺

      Delete
  36. Saya baca dari atas sampai ke bawah, hehe... saya juga kaget dengan dengan kondisi ruangan kamar untuk berendamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ..., terimakasih post saya ini dibaca dari awal sampai akhir, mas Akhmad.

      Semoga bangunannya segera direnovasi,ya.
      Selain untuk keindahan dan kenyamanan, juga menarik minat kunjungan dan membawa kesan baik turis dari manacanegara setelah datang ke lokasi ini.

      Delete
  37. kkahimawant.. akhirnya jalan2 lagi eksni yaa hihi.. btw kak himawant, itu tempatnay di daerah Yogya kan? Kayanya aku pernah kesana deh kak.. cuma emang kumuh yaa maaf tempatnya,, terus kaya udah banyak lumutan gtu .. mungkin mau renov juga biayanya besar ga murah, sedangkan tiket masuknya aja murah ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata kak Vika udah pernah berkunjung kesini sebelumnya 😐 .., hehehe.
      Iya, betul kondisi areanya memang seperti yang kak Vika katakan, kurang perawatan.

      Kemungkinan besar bisa jadi pendanaan renovasi dan beaya perawatannya kurang karena tiketnya yang murah.
      Tapi entah juga pastinya ya,kak ..., kalo dilihat dari jumlah kunjungan turis ke area pantai Parangtritis sangatlah banyak.

      Delete
    2. ia sih kak banyak tapi ga sepadan ya kak kayanya.. apalagi sekarang biaya renovasi pastinya tidak murah ya kak.. butuh ampe puluhan juta mungkin biar jadi cantik lagi tempatnya.. Btw kak himawant kasi modal aja kak buat pemandiannya.. biar semakin enak diliatnya xixixix tar sistem bagi hasil deh hihih

      Delete
    3. Wuakakakakkaa ..., kak Vika bisaaa aja deeh 😂
      Ceritanya aku jadi investor gituuh 😂 ?

      Waah ..., kalo aku beneran jadi investor untuk lokasi ini, ntar bangunannya akan kudesain kayak resort spa traditional Jawa.

      Pengunjung wanita dan pengunjung pria selama berada di dalam area wajib berganti dengan pakaian traditional Jawa ..., agar nuansa Jawa masa lampau lebih terasa 😁.

      Ruangan antara pria dan wanita dibuat kolam rendam terpisah.
      Ditata dengan bebatuan alami mengelilingi kolam rendamnya.

      ... Akh, kayaknya itu .., angan -angan kita aja deh, kak .. hahahaha 😂

      Delete
  38. Sayang banget yah tempatnya kurang terawat. Padahal tempat ini kan bersejarah banget. Semoga pihak pemerintah setempat bisa lebih peduli yah mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya kak Suryani, setelah postingan ini dan dikomentari teman-teman semua, pemerintah setempat segera membenahi lokasi bersejarah ini.
      Sayang banget kalo dibiarkan seperti ini terus kondisinya.

      Delete
  39. Mantaab.... membaca tulisan Mas Hino seperti kita duduk di depannya dan menyimak ceritanya, sambil terbayang lokasinya dengan detil (kerna foto-fotonya) hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooops ..., aku jadi bayangin jadi seorang bapak guru seperti mas Rifan 😁

      Bayangin lagi ngajar pelajaran pariwisata di depan kelas berdiri di layar proyektor sambil ... sibuk geser-geser slide foto.
      Hahahahahaa 😅

      Delete
  40. Itu pemandiannya yg suka dipaka buat ritual nyi roro fitria berendem biasanya kan hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Howaaa ..., iyakah 😲 ?.
      Aku malah baru tau dari kamu, mas Riza kalo lokasi ini dulu sering digunain ritual oleh Roro Fitria.

      Tapi aku ke lokasi ini bukan untuk ikut-ikutan menjalankan ritual kayak Roro Fitria loh ..., wuakakakaka 😂
      Cuman, buat rileksasi ngilangin pegel-pegel bodi, #'eh badan maksudku 😁

      Delete
  41. Sayang sekali fasilitasnya kurang terawat ya. Padhal masih ada hubungan dengan Keraton Jogja. Setelah berendam, faedah apa yang dirasakan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sayang banget kondisi bangunannya kurang terawat maksimal, mas Arief.

      Setelah berendam ..., yang kurasain pegel-pegel badan jadi hilang, badan terasa enteng dan pikiran lebih terasa rileks, mas ☺

      Delete
  42. Cukup menyayangkan karena fasilitas yang kurang terawat itu. Tapi saya secara pribadi senang dengan adanya blogger2 seperti mas Himawan dan kita2 ini. Dengan begitu beberapa hal bisa terpublikasi, harapannya jika memang ada yang perlu diperbaiki maka bisa diperbaiki oleh pihak berwenang... Matur nuwun mas Himawan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami-sami, aku juga matur nuwun mas admin Majalah Lampung sudah mampir berkomentar di artikelku yang terkesan kritis ini.

      Sudah semestinya kita para blogger untuk tak hanya menceritakan pengalaman mengunjungi suatu lokasi wisata yang kita datangi, hanya menceritakan hal-hal indah yang saja yang kita temui disana.
      Tapi juga hal yang patut jadi sorotan, yang perlu untuk dibenahi.
      Ini demi kemajuan kemajuan kepariwisataan negara kita.

      Terimakasih dan salam sukses selalu untuk admin Majalah Lampung ⚘

      Delete
  43. Cak mano tuh, pemandian semoga lekas diperbaiki ya. Bagus mas Himawan ulasannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga bangunannya segera direnovasi.

      Terimakasih opininya, ya ⚘.
      Salam buat admin Blogger Palembang dan salam juga buat komunitas teman-teman blogger di Palembang.
      Sukses ya 👍

      Delete
  44. Masss kok tempatnya nyeremin gituuu hahahahha padahal kalau fasilitasnya diperbaharui mungkin banyak yg akan datang yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha ..., ini kak Sandra ikut-ikutan mengomentari tempatnya serem, sih 😂 ..

      Ngga ada apa-apa kok disana 😉.
      Yang pasti kita jaga sikap dan bicara saja selama disana, ya.

      Betul apa yang dikatakan kak Sandra dan teman-teman, kalo tempat dan fasilitas areanya diperbaharui ..., pasti akan jadi lokasi favorit kunjungan wisatawan.
      Apalagi lokasinya dekat dengan pantai legendaris namanya, pantai Parangtritis.

      Delete
  45. keliatannya terlalu biasa ya

    coba pemerintah daerah situ bisa lebih mengembangkannya lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul apa yang dikatakan mas Arif Chasan.
      Seandainya pemerintah daerah dan (mungkin) pihak keraton ikut tergerak merenovasi ulang bangunan dan memaksimalkan lokasi ini ..., bukan tak mungkin lokasi sumber air panas Parang Wedang ini jadi magnet kunjungan turis tersendiri karena keunikan lokasinya berada tak jauh dari pinggir pantai.

      Delete
  46. Kayaknya tak cocok untuk keluarga dengan anak yang masih kecil padahal itu unik karena lokasi. Sepertinya kesan mistis senantiasa mewarnai tempat tertentu di Yogya, terutama yang berkaitan dengan peninggalan para raja. Jadi ngebayangin kayak apa kehidupan kerajaan zaman itu. :D
    Yah, apakah pendapatan tak seimbang dengan perawatan jadi tempatnya seakan diiarkan tanpa renovasi? Sayang banget.
    Pengen berendam di air panas, tapi karena anak masih kecil lebih milih yang umum saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dilihat lokasinya yang tak jauh dari garis pantai, sumber air panas Parang Wedang ini memanglah unik.
      Jarang kan ditemui, lokasi sumber air panas berdekatan dengan pantai.Apalagi ini berada di perairan Samudera Hindia.

      Tapi ya itu ..., apa yang dikatakan kak Rohyati.
      Semoga kedepannya beneran direnovasi dan nyaman digunakan untuk seluruh keluarga.

      Delete
  47. semoga selalu menjadi destinasi wisata di daerah tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga, kak.
      Kita support saja melalui tulisan artikel ini.
      Syukur-syukur dapat perhatian lebih setelahnya.

      Delete
  48. duh sayang banget itu tempatnya kok begituh yah coba dirapihin dikit ya kang tempat2 begini aku suka ga berani karena pasti ada mistisnya hehehe emang dasarnya penakut sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😁 ayok kak Herva latih keberaniannya ..., hehehe ...
      Ngga ada apa-apa kok ke lokasi semacam ini, kak Herva.
      Yang pasti kita jaga bicara dan sikap saja untuk menhhindari hal yang tidak diinginkan.

      Delete
  49. Wah dulu aku pernah lewat di depan wisata ini...cuma belum pernah masuk.. Baru tau juga sih kalau ini itu pemandian raja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ntar suatu saat liburan ke pantai Parangtritis, mampir ke lokasi sumber mata air panas Parang Wedang ini, mas Adhi ...
      Ikut ngerasain mandi berendam air panas yang dulu digunain oleh raja dan keluarganya.

      Delete
  50. masih terus berlanjut tripnya mas Himawan hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ..., iya mas Darwin ☺.
      Ayook kapan kita ngetrip bareng-bareng temen semua,mas ..

      Delete
  51. Gimana kalo mas Himawan pindah kesini dan jadi pengelolanya.
    Sedih banget tempat yang kaya sejarah seperti ini justru di telantarin.
    jadi kaya rumah hantu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuakakkaa .., bisa ajaaa tawaran kamu, mas Leooon ... 😅

      Kayaknya ngga mungkin terjadi,deh kita - kita orang awam, bukan dari silsilah keluarga keraton ikut ditunjuk jadi pengelola aset peninggalan keraton, mas.

      Delete
  52. Wahhhh rame tuhhh, sayang banget kalo gak direnovasi lagi tempatnya.. biar bisa lebih muat lebih banyak lagi pengunjungnya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, betul ..., seandainya sumber air panas dibuat berupa 2 kolam besar, 1 kolam digunain khusus pria dan 1 kolam digunain khusus wanita ..., bisa jadi malah tambah ramai lokasinya dikunjungi wisatawan.
      Juga tanpa perlu mengantri lama nunggu giliran dengan pengunjung lain.

      Delete
  53. Kayaknya kalau saya yang ke situ, langsung balik badan. Gak jadi mandi, cukup poto-poto ajah.. Hahahah.

    Semoga nanti ada perhatian agar peninggalan-peninggalan budaya kita bisa tetap dilestarikan dan diperbaharui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laah, kenapa sih kak Qudsi ... ?.
      Hahahhaaha 🤣
      Ngga ada apa-apa disana,kok.

      Kan di air panas ngga ada hewan bisa hidup disana,kak 😁

      Semoga ya, setelah postinganku ini ada rencana dipugar bangunan yang memiliki kaitan kisah dengan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

      Delete
  54. keren ya air panas alami di dataran rendah...
    pengen nyoba ksana ah.. gpp meskipun tempatnya gitu wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ..., yang penting udah nyobain berendam disana gitu ya, kak 😁 ?.

      Benar, lokasi air panas alami Parang Wedang ini bisa dibilang unik karena selain air ngga mengandung belerang, juga letaknya yang berada di dataran rendah.
      Biasanya, letak lokasi air panas hanya ditemui di dataran tinggi saja.
      Tapi ini bisa muncul di dataran rendah ...

      Delete
  55. Ini termasuk cagar budaya gak sih Mas ?, Kadang suka Miris kalau lihat tempat2 cagar budaya kurang terawat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai saat ini, lokasi air panas alami Parang Wedang belum ditetapkan sebagai cagar budaya, mas.

      Betul, sebetulnya masih banyak lokasi cagar budaya yang kurang terawat.
      Sangat disayangkan dibiarkan kurang perawatan begitu.

      Delete
  56. Saya baca tulisan diatas ada nama pesanggrahan, sebenarnya itu artinya apa ya? Nama tempatkah atau nama orang? Soalnya ada kali besar namanya kali Pesanggrahan.

    Setelah melihat foto diatas, sepertinya tempatnya perlu perawatan ekstra, biar gak kelihatan kumuh dan gak terawat. Semoga saja pihak terkait rutin melakukan perawatan agar pengunjung merasa nyaman dan lebih ramai lagi yang datang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesanggrahan adalah nama suatu tempat dan sama artinya dengan semacam Padepokan gitu, mas Suhendra.

      Iya, betul mas ..., sumber air panas Parang Wedang ini memang perlu direnovasi dan dilakukan pengontrolan perawatan secara kontinyu.

      Delete
  57. wah, seru amat mas bisa berendem di pemandian air panas di sana.
    keren, kaya akan sejarah jadi gak cuma liburan aja ya bisa sambil belajar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesukaan kita samaan, kak Liana 😁 ...., sukanya berlibur ngga cuma sekedar bersenang-senang di suatu lokasi, tapi juga belajar sejarah dibaliknya.

      Toss yook 🖐😁

      Delete
  58. Jujur ya mas, td aku udh tertarik banget pgn kesana kalo suatu waktu ke jogja. Tp pas liat foto bak nya, wuahahahahaha lgs surut keinginan :p. Serius sih, ini butuh banget maintenance ulang biar menarik :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha ..., aku tuh langsung reflek ikut ngakak baca komentar kak Fanny yang bilang ' tapi pas lihat foto baknya, wuahahhaaha ' ... 😂

      Kaget ya lihat bentuk kolam rendamnya, kak ?.
      Semoga ya setelah postingan ini, bangunannya segera direnovasi ulang.

      Delete
  59. wah senang rasanya kalo bisa mengunjungi tempat tempat bersejarah kaya gini
    apa lagi bisa berendam dikolamnya itu
    habis berendam pasti wajah jadi kinclong nih cling cling cling hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh" ... cling cling bling bling kinclong yaa ... hehehe 😁
      Coba seandainya kita-kita ini tinggalnya deket sama sumber air panas kayak gini, kita-kita pasti udah rajin berendam biar kulit kita bersinar tanpa perlu ditambahi lampu ...., rumaaah kali yaaaak pake lampu hahahhhaaa 🤣

      Delete
  60. 10 rb ya masuknya sama seperti di daerah saya tapi itu sudah dibaiki belum ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiik nih di daerah mangs Abdul tinggal ada lokasi mata air panas ..., boleh nih mampir kesana suatu saat nanti 😁

      Entah nih mas sekarang udah belumnya diperbaiki.
      Semoga saja dalam proses renovasi.

      Delete
  61. kalau tempat pemandiaannya di dalam kamar sendiri gitu sepertinya saya gak berani deh, pinginnya seperti bak pemandian yang bisa banyakan orang lebih enak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ..., terasa lebih nyaman berada di kolam banyakan orang ya kak Evrina.
      Aku sendiri sebenarnya juga terasa lebih nyaman berendam di kolam banyakan orang sekaligus dan di ruangan terbuka sambil bisa lihat pemandangan sekitar.

      Semoga kedepannya segera direnovasi.

      Delete
  62. Iya mas, kolam berendamnya bikin kaget hehehe kayak kamar mandi bilas di kolam renang gitu ajah, btw trims udah sharing pengalamannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, mas Bisot.
      Terimakasih juga udah berkunjung berkomentar.
      Semoga nantinya kolam rendam dibuat banyakan orang sekaligus ☺

      Delete