Wednesday, July 25, 2018

23 Kereta Kuno Museum Kareta Karaton

Sebenarnya tak terhitung berapakali sudah aku telah melewati jalan Rotowijayan, jalan yang tepat berada di sebelah barat lokasi bangunan megah keraton Ngayogyakarta Hadininingrat yang dibuka untuk umum tujuan wisata budaya, yaitu area yang dinamakan Pagelaran - Siti Hinggil.
Area wisata budaya keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sendiri, seperti yang kita tahu ..., atau malah banyak yang sebenarnya belum tahu ?, ..., jika area untuk kunjungan wisatawan terbagi menjadi 2 area, yaitu : 

▪ Tepas Kaprajuritan Karaton Ngayogyakarta  yang dinamakan area Pagelaran - Siti Hinggil.
Tepas Pariwisata Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat meliputi area  Sri Manganti - Kedhaton.

Area keduanya terpisahkan oleh bangunan gapura tinggi besar yang berada di dalam komplek keraton, bernama gapura Brojonolo.
Kesehariannya gapura berwarna hijau tua itu memang selalu dalam keadaan terkunci, tak dibuka dan tak dapat dilalui oleh siapapun, hanya dibuka dan dilalui sekali dalam setahun saat iring - iringan raja lengkap beserta dengan barisan prajurit keraton melaksanakan upacara khusus.
Melalui jalan Rotowijayan yang beberapakali sudah sering aku lewati inilah, kedua area keraton yang dibuka untuk untuk kunjungan wisata ditempuh.


Trip Of Mine

Dan di jalan Rotowijayan ini jugalah terdapat sebuah bangunan kuno bergaya pendopo dilengkapi dengan pilar - pilar penyangga berukuran besar khas arsitektur Belanda ..., wisata budaya museum Kareta Karaton Ngayogyakarta.
Penamaan lokasinya memang menggunakan bahasa Jawa, tak tertulis museum Kereta Keraton Yogyakarta dalam bahasa Indonesia.
Letak lokasi museum Kareta Karaton Ngayogyakarta tak jauh dari halaman parkir area wisata keraton Ngayogyakarta Hadiningrat area Pagelaran - Siti Hinggil, tepatnya di dekat gapura bagian luar keraton yang disebut Pangurakan nJawi dan dapat ditempuh hanya dengan menyeberang jalan kaki.
Letak pendopo yang dibangun tahun 1755 itu tepat dibangun berada di tengah sebuah halaman, segaris lurus dengan akses masuk ke areanya dan tak dilengkapi pagar teralis yang membuat bangunan pendopo yang didominasi warna hijau tua dan putih itu terlihat tampak utuh tanpa terhalang oleh pemandangan apapun jika dilihat dari badan jalan Rotowijayan.

Trip Of Mine
Halaman depan museum Kareta Karaton.

Meski letak lokasinya sangatlah mudah untuk ditempuh dan tak terhitung beberapakali aku telah melewati depan lokasi museum kereta Ngayogyakarta ini, namun dari dulu aku tak berkunjung untuk berlibur di museum yang menyimpan koleksi 23 kereta berusia puluhan dan ratusan tahun milik keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini. 
Ada perasaan tersendiri muncul dipikiranku, setiap kali aku melewati lokasi keberadaan gedung museumnya ..., ' kepekaan bawaan ' yang kumiliki sejak kecil melihat dan merasakan ' ada sesuatu '  yang membuatku sempat mengurungkan datang berlibur kesekian kalinya kesana.

Sampai akhirnya aku yakin, memantapkan dan memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku berlibur menuju ke dalam museum, meski sebenarnya saat itu kondisi kesehatanku sedang dalam keadaan tidak fit, terkena flu akibat serangan temperature udara yang mendadak berubah menjadi sangat terasa dingin dalam beberapahari.
Lucunya, aku sempat berbalik arah kembali ke area parkir di area Pagelaran - Siti Hinggil, setelah aku berada di depan lokasi museum Kareta Karaton Ngayogyakarta dan belum sempat menyeberang jalan menuju ke lokasi museum. Aku berbalik arah kembali dan menenangkan diri sekitar 15 menitan di sebuah warung sambil menyeruput kopi panas agar pikiranku lebih rileks.

Setelah membayar tiket masuk di sebuah meja yang berada di tengah pintu masuk dan dijaga oleh beberapa para abdi dalem keraton, kutelusuri ruangan sesuai petunjuk arah mengikuti arah jarum jam, sambil kuperhatikan dan mencatat nama satu persatu koleksi kereta yang telah berusia puluhan tahun dan beberapa kereta diantaranya berusia ratusan tahun.

Trip Of Mine
Deretan kereta di sepanjang koridor.

Sepanjang rute terpajang kereta - kereta yang diberi diberi pagar batas larangan untuk pengunjung menyentuh badan kereta, lemari display memajang seragam prajurit dan penutup kepala yang digunakan saat acara keraton menggunakan kereta, lemari display sejumlah pelana kuda yang digunakan pada jaman dulu. Dan di sepanjang dinding bangunan museum terpasang foto - foto dokumentasi saat kereta - kereta tersebut dipergunakan disertai keterangannya.


Trip Of Mine
Lemari display memajang : pelana kuda, seragam prajurit dan topi pelengkap seragam prajurit.
Di pojok terdapat display replika kuda lokal.

Di bagian area tengah bangunan terdapat 2 ruangan berukuran besar dan letak kedua ruangannya berhadapan, disana terpajang kereta - kereta mewah, bahkan ada 1 kereta bentuknya sangatlah mewah, bernama kereta Kiai Garuda Yeksa


Trip Of Mine
Kereta mewah Kyai Garuda Yeksa, bermahkota emas murni.

Memasuki kedua ruangan ini, aura kesakralannya makin terasa dan aroma bunga sesajen yang diletakkan di kereta - kereta kencana makin terasa tercium wangi memenuhi ruangannya ... .

Jujur, bulu kudukku mendadak meremang saat berada di dekat kereta bernama Rata Pralaya, kereta yang digunakan untuk prosesi pemakaman Sultan. 
Bentuk kereta inipun juga mewah, badan keretanya berwarna putih gading berhiaskan ukiran bunga berwarna keemasan dan dilengkapi kaca - kaca berukuran besar mengelilingi keseluruhan badan kereta sehingga bagian dalam kereta tampak jelas terlihat.
Meski dari awal sebelum aku memasuki area museum sudah ' mengucapkan ' salam dan ijin didalam hati, aku tetap tidak berani memotret kereta satu ini.

Aura gaib juga terasa saat aku berada di dekat kereta kencana Kyai Garuda Yeksa, namun tak membuat bulu kudukku meremang.
Dan aku berani memotret bentuk kereta super mewah yang merupakan hadiah gubernur VOC Jacob Mussel dan berhiaskan mahkota terbuat dari emas asli 24 karat ini, termasuk memotret bagian dalam atap kereta dan pintu badan kereta ..., tentunya terlebih dahulu dengan seijin dari salah satu abdi dalem keraton yang bertugas dan berjaga disana.
Seluruh koleksi kereta di museum ini setiap harinya ditutup menggunakan tirai kain berwarna putih pada sore hari dan tirainya dibuka kembali keesokan harinya oleh para abdi dalem keraton yang bertugas di museum, dinamakan para abdi dalem Kanca Rata.


" Coba mas foto bagian atas atap dalam kereta dan lihat ada apa disana. Juga foto bagian pintu kereta ini "

Segera kulaksanakan kuarahkan kameraku ke 2 bagian kereta yang ditunjukkan oleh abdi dalem berusia paruh baya itu. 
Dan hasilnya ..., bagian dalam atap kereta yang jika dilihat menggunakan mata langsung tak terlihat ada apapun disana akibat karena pengaruh pantulan kaca terbuat dari kristal asli, di foto tampak lambang mahkota negara Belanda dengan indah menghiasi atap dalam kereta yang ditutup kain satin mewah berwarna merah.


Trip Of Mine
Lambang mahkota negara Belanda.

Tak kalah uniknya, gambar di badan pintu kereta yang mulai tampak memudar dilihat dengan mata langsung, begitu dilihat dari hasil bidikan kamera ..., tampak sangat jelas dan detil berupa lambang - lambang kerajaan Belanda.


Trip Of Mine
Badan pintu kereta Kyai Garuda Yeksa dilengkapi simbol - simbol negara Belanda : bendera Belanda, terompet, meriam dan singa hitam.

Dibalik keindahan bentuknya, kereta Kiai Garuda Yeksa yang hanya dipergunakan pada saat prosesi iring - iringan penobatan raja dan ditarik oleh 8 ekor kuda ini, memiliki cerita yang beredar kuat di masyarakat bahwa ..., siapapun yang ' peka ' tentang hal gaib maka akan melihat sosok penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul ikut duduk mendampingi sultan di dalam kereta selama proses iring - iringan prosesi penobatan berlangsung.
Oh ... !.


Trip Of Mine
Kereta Kyai Garuda Yeksa, aura gaib terasa berada di dekat kereta mewah ini.

Ke 23 koleksi kereta - kereta milik keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini masing - masing diberi nama dan beberapa kereta diantaranya merupakan kereta kencana atau pusaka yang disakralkan, yaitu :

Kereta Kanjeng Nyai Jimat
Merupakan kereta pusaka Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan merupakan kereta tertua.
Buatan Belanda tahun 1750, merupakan hadiah dari raja Spanyol sebagai bentuk kedekatan hubungan dagang antara Spanyol dan kasultanan Yogyakarta.
Dipergunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga III [ periode 1755 - 1792 ] untuk sarana transportasi sehari - hari, ditarik dengan menggunakan 8 ekor kuda.

•  Kereta Harsanuba
Merupakan kereta pusaka Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Buatan Belanda tahun 1750.
Dipergunakan sebagai sarana transportasi sehari - hari Sri Sultan Hamengku Buwono VI hingga VIII, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Kyai Garuda Yeksa
Merupakan kereta pusaka Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kereta hadiah dari gubernur VOC Jacob Mussel kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I. Memiliki kesamaan bentuk kereta para raja di Eropa dan berhiaskan mahkota berlapis emas asli 24 karat, bagian pintu kereta berhiaskan simbol lambang negara Belanda.
Dipergunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI [ periode 1855 - 1877 ], ditarik menggunakan 8 ekor kuda.
Saat ini, hanya dipergunakan saat penobatan Sultan baru.

• Kereta Mondro Juwolo
Buatan Inggris tahun 1814.
Dipergunakan oleh pangeran Diponegoro saat menjadi wali Sri Sultan Hamengku Buwono IV, ditarik menggunakan 2 ekor kuda.

• Kereta Kyai Rejo Pawoko
Buatan Inggris tahun 1901.
Dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Dipergunakan untuk keperluan para adik Sultan, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Kyai Roto Biru
Buatan Belanda tahun 1901.
Dipergunakan oleh para Manggala Yudha, bagian dari panglima perang, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Landower
Buatan Belanda tahun 1901.
Pernah dipajang sebagai display di lobby hotel Ambarukmo, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Landower Ngabean
Buatan Belanda tahun 1901. 
Dipergunakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Landower Wisman
Buatan Belanda tahun 1901.
Dipergunakan saat Sultan dalam kunjungan penyuluhan pertanian, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Landower Surabaya
Buatan Swiss.
Dipergunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII untuk keperluan penyuluhan pertanian di Surabaya, ditarik menggunakan  4 ekor kuda.

• Kereta Jolodoro
Buatan Belanda tahun tahun 1815.
Dipergunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IV.
Posisi sais berdiri ada di bagian belakang kereta, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Premili
Buatan dalam negeri, dirakit di Semarang.
Merupakan kereta pengangkut para penari keraton, ditarik menggunakan 4 - 6 ekor kuda.

• Kereta Kus no. 10
Buatan Belanda tahun 1901.
Dipergunakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII untuk keperluan prosesi pengantin.

• Kereta Kapulitin
Buatan dalam negeri, dirakit di Yogyakarta.
Merupakan kereta pesiar Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, ditarik menggunakan 2 ekor kuda.

• Kereta Kutha Raharjo
Buatan Berlin tahun 1927.
Dipergunakan oleh Raden Mas Dorodjatun sebelum diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ditarik menggunakan 2 ekor kuda.

• Kereta Kus Gading
Buatan Belanda tahun 1901.
Dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Kyai Pustoko Manik
Buatan Amsterdam, Belanda.
Dipergunakan untuk prosesi pengantin dan acara - acara keraton, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Noto Puro
Buatan Belanda tahun 1860. Dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Dipergunakan untuk aktivitas perang, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Wimono Putro
Buatan Belanda tahun 1860.
Dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI.
Dipergunakan saat upacara pengangkatan Putera Mahkota, ditarik menggunakan 6 ekor kuda.

• Kereta Kyai Jetayu
Buatan dalam negeri.
Dipergunakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Merupakan kereta kendaraan putra - putri Sultan, ditarik menggunakan 4 - 6 ekor kuda.

• Kereta Manik Retno
Buatan Belanda.
Digunakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI - VIII.
Merupakan kereta pesiar Sultan dan permaisuri, ditarik menggunakan 4 ekor kuda.

• Kereta Kyai Jogwiyat
Buatan Den Haag, Belanda tahun 1880.
Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Dipergunakan oleh satuan panglima perang Manggala Yudha, ditarik menggunakan 6 ekor kuda.

• Kereta Kyai Roto Praloyo
Buatan dalam negeri, dirakit di Yogyakarta pada tahun 1938 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Merupakan kereta jenazah untuk prosesi pemakaman Sultan, ditarik menggunakan 8 ekor kuda.


Setiap tahunnya pada bulan Suro, hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon penanggalan Jawa, 2 kereta dikeluarkan dari ruang penyimpanan museum untuk dibersihkan dengan cara dimandikan di halaman museum dengan menggunakan air kembang setaman dan air jeruk nipis, yang disebut acara Jamasan. 
Kereta Kanjeng Nyai Jimat secara rutin dijamasi setiap tahunnya, dan satu kereta pendamping yang dijamasi berganti - ganti setiap tahunnya.
Air Jamasan pencucian kereta pusaka ini diperebutkan oleh warga, airnya dipercaya mengandung tuah untuk melancarkan usaha dan melancarkan segala keinginan.

Selain bentuk kereta mewah Kyai Garuda Yeksa yang menarik untuk diamati, di depan 2 ruang kereta yang menyimpan kereta pusaka terdapat 2 replika kuda yang juga menarik perhatianku ..., kuda berwarna putih dan hitam.
Awalnya kukira berupa kuda betulan yang di offset atau diawetkan, setelah kutanyakan ke abdi dalem ternyata merupakan sebuah replika.


Trip Of Mine
Replika kuda putih.
Kuda tunggang kesayangan Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Pelana yang digunakan replika pelana Kanjeng Kyai Cekathak.

Replika kuda putih merupakan repika dari kuda tunggang kesayangan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Dan pada masanya dulu, tubuh atletis kuda berasal dari Eropa itu dilengkapi pelana bernama Kanjeng Kyai Cekathak, terbuat dari emas murni berhiaskan berlian.


Trip Of Mine
Replika kuda hitam.
Kuda tunggang kesayangan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Sedangkan replika kuda hitam merupakan kuda replika kuda tunggang dari Eropa kesayangan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Tubuhnya pada jaman dulu juga dihiasi asesoris indah, bukan terbuat dari emas tapi terbuat dari perak.
Menurut penjelasan abdi dalem, bentuk asesoris yang dipasang di replika pelana Kanjeng Kyai Cekathak dan dipasang di replika kuda hitam dibuat sama persis dengan bentuk asesoris aslinya.
Kini asesoris asli kedua kudanya disimpan dengan baik di dalam keraton dan tidak dipertontonkan untuk khalayak umum.

Sekeluarnya dari pendopo penyimpanan ke 23 kereta artistik milik para Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, aku baru ngeh kalau di sisi halaman pelatarannya ternyata ada kandang kuda. 
Disana ada 2 kuda Eropa, dipisahkan di kandang yang berbeda, satu berwarna cokelat dan satu berwarna putih mirip dengan replika kuda putih di dalam ruangan museum.


Trip Of Mine
Istal atau kandang kuda berada di samping halaman depan museum Kareta Karaton.

Kuamati dari dekat ...,  kuda cokelat tampak lebih tenang dan terlihat sibuk menguyah rumput yang berada di dalam kandang.
Berbeda dengan kuda putih, terlihat aktif terus bergerak mengitari kandangnya, seperti gelisah ..., sesekali menjulurkan kepalanya ke luar batas pagar kandang sambil matanya yang terlihat seperti albino terus menatap ke arah wajahku.
Ada apakah sebenarnya ... ?.

Lokasi :
Museum Kareta Karaton
Kadipaten, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tiket : 
Rp. 5. 000,_ / tiket masuk
Rp. 1. 000,_ / ijin berfoto
[ Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah ]

Jam operasional : 
08. 00 - 16. 00

Tips berlibur di museum Kareta Karaton : 
• Patuhi peraturan dengan baik : tidak merokok di dalam ruangan museum, tidak memasuki batas tali pagar lokasi kereta, tidak menyentuh kereta.
•  Hindari berbicara tidak sopan dan berbicara tidak pada tempatnya.

Tuesday, July 17, 2018

Nakula Sadewa ~ Sanggar Seni Pahat Instagenic

Sebagai anak yang terlahir dan tumbuh dibesarkan di Jawa - Tengah, juga sedari kecil sudah 'dibiasakan' mendengarkan alunan gamelan gending - gending Jawa dan rekaman percakapan dialog Wayang Orang yang diputar dari kaset tape recorder oleh kedua kakekku, dari keluarga mama dan papaku ..., kecintaanku pada dunia pewayangan terus tumbuh sampai sekarang ini. 
Aku masih ingat saat kecil dulu, setiap pagi kedua kakekku yang rumahnya hanya terpisah sejengkalan, sedikit berhadapan lokasi kedua rumahnya dan jika berkunjung hanya tinggal nyebrang jalan melangkahkan kaki ..., selalu setiap aku kecil main kesana pasti musik gamelan sedang diputar dengan suara kencang maksimal. 
Main ke rumah kakek nenek dari keluarga mama, dengerinnya gamelan Jawa ..., berada di rumah kakek nenek yang kami tinggali dari keluarga papapun juga iya. Sambil bermain, namanya juga bocah ... he he he ..., aku kecil sepintas lalu mendengarkan penjelasan kakekku yang selalu terlihat semangat berapi - api menceritakan lakon cerita tentang apa dan nama tokoh - tokoh wayang yang sedang didengarkan. 
Bahkan tak jarang, setiap di kota kami tinggali diadakan pagelaran live show Wayang Orang, aku kecil selalu diajak nonton pertunjukannya setiap hari dengan judul berbeda. 


Trip Of Mine
Deretan tokoh wayang Nakula Sadewa education park, Magelang.

Dan sedari kecil juga, aku memang selalu bersemangat diajak nonton pagelaran Wayang Orang ..., kuamati dengan terpana keindahan kostum tokoh para pemainnya dan gerakan - gerakan setiap tokoh karakternya. 
Aku masih ingat, kadang aku kecil hanya berdua bareng kakekku nonton pagelaran Wayang Orang, dari rumah diboncengin naik sepeda onthel, dan tak jarang juga kami rame - rame sekeluarga berangkat bareng berjalan kaki ke lokasi pertunjukan Wayang Orang.
Sayangnya, sekarang ini acara pagelaran live show Wayang Orang sudah tak ada lagi ..., kegiatannya menghilang sejak aku duduk di bangku sekolah lanjutan pertama. Sangat disayangkan !.

Meski sekarang tak ada lagi pertunjukan seni Wayang Orang diadakan dikotaku ..., sekalipun ada hanyalah pertunjukan seni Wayang Kulit yang diperagakan oleh seorang dalang dan acara itu hanya diadakan di pedesaan, bukan di tengah kota seperti dahulu dan kegiatannya belum tentu diadakan 1 tahun sekali ..., kini di Magelang, tepatnya berlokasi di jalan utama Jl. Raya Jogja - Magelang, Batikan, Pabelan ada satu destinasi wisata baru menggunakan nama tokoh wayang yang merupakan salah satu anggota keluarga Pandawa, Nakula Sadewa.


Trip Of Mine
Halaman depan Nakula Sadewa education park

Nakula Sadewa merupakan salah satu tokoh utama dalam cerita Mahabharata dan keduanya adalah sosok kembar, namun tak kembar identik alias memiliki wajah yang tak serupa. Digambarkan sosok Nakula memiliki wajah lebih tampan daripada sosok Sadewa. 
Meski sosok Sadewa tidaklah setampan Nakula .., seperti kata pepatah yang menyebutkan setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing - masing ..., Sadewa memiliki kecerdasan lebih tinggi daripada Nakula.


" Eiiits, ini dari tadi bukannya cerita tentang pengalaman berlibur ..., kok malah cerita tentang wayang dan tokoh - tokohnya, ya ?. Ha ha ha !"

Karena nama destinasi wisatanya menggunakan nama tokoh wayang itulah yang membuatku segera mengatur jadwal berlibur ke lokasi di hari off  kerjaku.
Penasaran ..., karena ingin menuntaskan keingintahuanku ' kira - kira ada apa sajakah disana ? '.

Nakula Sadewa education park merupakan lokasi wisata umum berupa sanggar yang didasari edukasi atau pengetahuan tentang seni kerajinan, khususnya seni pahat. 
Didirikan oleh seniman dan pengrajin asal pulau Dewata, Bali yang telah lama menetap di Magelang, Nyoman Alif Mustofa.


Trip Of Mine
Zona tokoh - tokoh pahlawan

Diareanya seluas sekitar 4 hektare, tak hanya terpajang ratusan karya seni pahat artistik hasil karya Nyoman Alif Mustofa dan team kreatornya, tapi areanya juga dilengkapi kafe, 2 kolam renang dan kebun binatang mini sebagai sarana liburan keluarga. Burung merpati, monyet, iguana, burung elang dan beberapa ular phyton berukuran besar berada di sangkarnya masing - masing.  


Trip Of Mine
Area taman berbatasan dengan area workshop

Juga terdapat area workshop, tempat para pengrajin seni membuat beragam bentuk patung yang dapat kita lihat proses pembuatannya dari dekat.



Trip Of Mine
Area workshop, disini kita bisa melihat dari dekat kreator mengerjakan proses pembuatan patung dari dekat.


Jika pengunjung berkeinginan membuat sebuah proses pembuatan benda seni atau artwork menggunakan cetakan aluminium khusus berbentuk beragam pilihan dan diarahkan langsung dari para kreator, disana tersedia paket minat khusus dengan harga Rp. 75. 000,_ , tentunya hasil karya kita dapat dibawa pulang sebagai kenang - kenangan pernah berlibur di sanggar yang memajang sejumlah replika bangunan - bangunan ternama di beberapa negara, seperti : patung Liberty dan pagoda Angkor Wat, juga memajang replika bangunan sejumlah proyek yang pernah ditangani oleh si pemilik sanggar, Nyoman Alif Mustofa beserta kru di sejumlah kota di Indonesia dan di beberapa negara.



Trip Of Mine


Trip Of Mine


Trip Of Mine


Trip Of Mine

Diantaranya proyek yang pernah ditangani :


▪ Pairi Daiza Brugellette, Belgium
▪ Chua Bai Dinh Temple, Hanoi, Vietnam
▪ Minimundus Austria dan Munich, Jerman
▪ Water Fountain Grand Kemala Lagoon
▪ Patung Lembuswana Jakarta Convention Centre
▪ Bandara Ngurah Rai, Bali
▪ Kamandalu Resort and Spa
▪ Grand Bali Beach Hotels
▪ Vihara Lembang, Bandung
▪ Gate Vihara Mendut
▪ Monumen pahlawan : Slamet Riyadi di Solo, Tjokorda Agung Trisna di Bali, Nicolau Lobato di Timur Leste, Tjokorda Mantuk Ring Rana di Bali


Trip Of Mine


Trip Of Mine

Uniknya, salah satu replika bangunan yang dinamakan Gate Vihara Mendut itu aku amati dan ingat - ingat pernah kulihat dimana keberadaannya ..., tak lama kemudian setelahnya aku baru teringat kalau bangunan itu berada di komplek taman Buddhist Monastery yang lokasinya berada di samping candi Mendut dan pernah kudatangi berlibur disana beberapa bulan sebelumnya.
Namun, nama bangunan uniknya di komplek taman Buddhist Monastery itu bukanlah bernama Gate Vihara Mendut, tapi dinamakan dan diresmikan memakai nama Gapura Hening Karta.
Bentuk bangunan gapuranya memanglah sangat artistik, berupa candi dan keempat sisinya bisa dilalui untuk bertemu berada ditengah ..., sangat keren untuk lokasi berfoto.


Trip Of Mine

Dan ada satu spot pahatan patung yang pasti membuat siapapun pengunjung ingin berfoto didekatnya, berupa rangkaian kereta kuda milik tokoh wayang Kresna.


Trip Of Mine
Replika kereta kuda Kresno Duto alun - alun Purworejo

Keseluruhan badan kereta dicat beraneka warna kontras dan keenam badan kudanya dicat motif batik modern berupa paduan bebungaan, sulur daun dan garis.


" aku jadi membayangkan ..., seandainya kuda betulan penarik andong dilengkapi kostum seperti itu, keren juga untuk menarik minat wisatawan, ya ..., he he he ".

Tentu, sebagai penyuka tokoh wayang aku tak ketinggalan berfoto di spot deretan wayang dan gunungan yang berada ditengahnya.
Spot deretan wayang terletak di salah satu sudut berada ditengah area dan terkesan seperti the main point, mewakili nama sanggarnya yang menggunakan nama tokoh wayang, Nakula Sadewa.

Lokasi : 
Nakula Sadewa education park
Jl. Raya Jogja - Magelang, Tangkilan, Pabelan, Mungkid, Magelang

Tiket : 
▪ Masuk Area Rp. 20. 000,_ 
▪ Berenang Rp. 20. 000,_
▪ Minat Khusus Rp. 75. 000,_
[ info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah ]

Jam operasional : 
09. 00 - 17. 00





Monday, July 9, 2018

Birunya Warna Blue Lagoon Jogja

Masih ingat dengan judul dan cerita sebuah film era tahun 80 an, The Blue Lagoon produksi perfilman Hollywood yang lokasi shootingnya di salah satu pulau wisata alam di Samudera Pasifik dan dibintangi oleh pemain film cantik jelita nan seksi, Brooke Shield sebagai Emmeline Lestrange dan lawan mainnya aktor pendatang baru saat itu, Christopher Atkins sebagai Richard Lestrange ?.
Kurasa hampir semua orang yang terlahir setelah tahun itu masih ingat betul bagaimana kesuksesan film bergenre drama dan petualangan yang diperankan aktris Brooke Shield saat muda belia kinyis - kinyis itu meraih keuntungan besar dan sangat fenomenal, ratingnya pun mencapai sukses box office di pemutaran film di gedung bioskop seluruh dunia.

Demam film The Blue Lagoon saat itu tak hanya menarik minat penonton dewasa rela mengantri panjang di loket gedung bioskop, bahkan seharusnya jenis pemutaran film yang dikhususkan untuk penonton dewasa atau 17 tahun ke atas itu nyatanya juga ditonton oleh banyak anak - anak dibawah usia 17 tahun, termasuk aku juga yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar ikut - ikutan antusias ngantri berdiri terselip manis diantara antrian penonton dewasa ..., untungnya lokasi gedung bioskop berada di dekat rumahku dan penjaga loket bioskop kenal baik dengan keluargaku.
Tentunya suatu keuntungan tersendiri buat aku kecil mengenal baik si penjaga loket, jadinya aku lolos sensor diperbolehkan masuk ke gedung bioskop dan nonton film yang minim busana itu ..., wkwwkkwwk !.

Lalu, apa hubungannya judul film itu dengan lokasi wisata yang ada di Yogyakarta ?

Awalnya aku memang ngga sengaja bertujuan untuk pergi berlibur, karena kepergianku saat itu ke Yogyakarta untuk suatu kepentingan pekerjaan. Jadi persiapan perbekalan liburan yang biasanya telah kupersiapkan jauh - jauh hari sebelumnya di tas tersendiri yang kugunakan khusus saat travelling pun tak kubawa.
Kepulanganku setelah selesai mengurus pekerjaan dan melewati jalan Kaliurang, tepatnya di pertigaan jalan Kaliurang KM 13 yang terdapat traffict light dan dibawahnya terpampang papan petunjuk nama kecil bertuliskan lokasi wisata alam Blue Lagoon Jogjakarta ..., karena alasan itulah yang selanjutnya membuatku mendadak mengarahkan laju kendaraanku berbelok ke arah sana.


" hahaha ..., dasar travelling addict, ya !. Jelalatan mata, lihat aja ada papan nama lokasi wisata nyempil dan langsung bablas nyasar kesana ... "

Selain sekalian mengambil keputusan mendadak datang ke lokasi liburan, mumpung berada di area itu ..., ibaratnya seperti kata pepatah ' sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui ' ..., ya udah sekalian saja kuputuskan berlibur ... he he he ...., dan pikiranku juga langsung mendadak teringat nama lokasi wisata alam ini kok sama dengan judul film yang saat aku kecil nonton dulu sempat membuat aku beberapakali menutup mata dengan tangan, eh tepatnya pura - pura menutup mata alias mengintip sambil cekikikan geli diing ..., lihat adegan yang semestinya ngga boleh ditonton oleh anak kecil itu.


Trip Of Mine
Nama lokasi wisatanya sama persis seperti judul novel dan film populer, Blue Lagoon

Setelah berbelok di pertigaan Jalan Kaliurang KM 13, rute selanjutnya melalui : 
Jalan Besi Jangkang KM 04, Klemben Sukoharjo, lurus terus - Jalan Besi Jangkang KM 1,5 , Kliwon, belok ke kanan - Jalan Besi Jangkang, Widodomartani [ sebelah timur BPD pasar Jangkang ] - belok kiri ke perkampungan keberadaan lokasi Blue Lagoon 
Kuperhatikan rute menuju dan kepulangan dari lokasi perkampungan Widodomartani, lokasi keberadaan wisata alam Blue Lagoon terdapat angkutan kecil transportasi umum, meski tak sampai berhenti tepat di depan gapura lokasi wisata. Namun jarak jalan raya dengan gapura lokasi wisata tidaklah jauh, cukup dekat ditempuh dengan berjalan kaki.

Berbeda dengan setting lokasi shooting film The Blue Lagoon yang digambarkan berada di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni, Blue Lagoon Jogja ini lokasinya bukanlah berada di sebuah pulau terpencil ..., tapi lokasinya berada di aliran sungai dan area persawahan, bersebelahan tepat dengan perkampungan warga desa.
Lokasi tepatnya berada di desa Widodomartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Dari depan area parkir yang terlihat hanyalah pemandangan rumah - rumah perkampungan warga, rimbunnya pepohonan bambu menjulang tinggi dan spanduk gapura lokasi wisata disponsori oleh salah satu operator Indonesia.


Trip Of Mine
Gapura memasuki area Blue Lagoon

Tak lama berjalan setelah memarkirkan kendaraan di halaman belakang rumah warga dan melewati gapura, dua petugas yang kutemui menyodorkan tiket memasuki area dan kartu tanda pengenal yang wajib kusimpan baik - baik selama berada di area dan juga wajib dikembalikan ke petugas setelah nantinya meninggalkan area wisata.
Kartu tanda pengenal itu mencantumkan nomor kunjungan wisatawan ke lokasi dalam satu hari, aku merupakan kunjungan wisatawan yang ke 97 di siang hari itu.


Trip Of Mine
Aliran sungai area teratas tampak mengering

Jujur, saat itu aku sempat bingung dan celingukan setelah beberapa langkah meninggalkan pos pengambilan tiket masuk area ..., karena yang kulihat hanyalah pemandangan aliran sungai mengering dan lebatnya sekumpulan pepohonan bambu juga beberapa warung makan sederhana berada di tepian aliran sungai yang saat itu terlihat sepi, tak terlihat ada pengunjung berada di warung makan.

Trip Of Mine
Aliran sungai di dekat lokasi sendang Wadon

Dalam hati aku menebak - nebak sendiri ..., dimanakah sebenarnya letak lokasi air yang berwarna biru seperti penamaan lokasinya mengikuti nama judul film terkenal itu ?. Airnya saja terlihat surut dan tak tampak berwarna apapun

Penasaran dalam hati, kulanjutkan kutelusuri memasuki area ke ujung kanan mengikuti jalur jalan setapak dan sesekali terdengar teriakan tertawa seru dari beberapa orang berada di area sana.
Dan benar saja, sesampai disana apa yang kulihat ternyata ..., ada sebuah palung berukuran cukup besar penuh air dan berwarna biru memikat ... .

Trip Of Mine
Inilah palung Blue Lagoon, terbentuk alami karena kucuran deras air saat musim penghujan

Palungnya penuh air dan disepanjang pinggir tanahnya mengucur deras beberapa mata air yang dialirkan melalui sebilah bambu.
Penampilan pemandangan alam di sekitar area palung dengan kedalaman bervariatif sekitar 2 - 3 meter ini sangat berbeda dengan tampilan pemandangan alam aliran air sungai diatasnya yang tampak mengering, bahkan aliran airnya pun tak sanggup mengalir melalui tanggul bendungan untuk selanjutnya mengalir ke palung di area bagian bawah.

Trip Of Mine
Beberapa sumber mata air kecil dialirkan melalui sebilah bambu, menambah keindahan palung Blue Lagoon

Birunya warna palung Blue Lagoon Jogjakarta ini ditimbulkan oleh tanaman sejenis lumut yang tumbuh di bebatuan yang berada di dasar palung.

Suatu keuntungan tersendiri berlibur ke Blue Lagoon Jogja pada saat musim kemarau, karena saat musim penghujan tiba palungnya tak lagi tampak berwarna biru menawan, karena saat musim penghujan debit air kali Tepus akan meningkat mengalir deras dan warna keruh air akan menutup warna biru palungnya.

Trip Of Mine
Deretan gazebo untuk bersantai, berada di dekat sendang Lanang

Di areanya terdapat 3 sumber mata air yang tak pernah berhenti mengalir, masing - masing lokasi mata airnya dinamakan : sendang Lanang, sendang Wadon dan sendang Kluwih, melengkapi keberadaan beberapa titik lokasi mata air kecil lainnya.
Sejatinya, lokasi yang merupakan bagian aliran dari kali Tepus ini adalah sarana irigasi pertanian milik warga sekitar dan airnya dipergunakan warga untuk keperluan sehari - hari, seperti : mencuci dan mandi.

Trip Of Mine
Tugu Blue Lagoon, berada di tengah area

Sendang Wadon khusus dipergunakan untuk wanita, berupa kolam kecil dan berada di dalam dinding yang bagian atasnya terbuka, sedangkan sendang Lanang berupa pancuran air dipinggir kali dan dapat digunakan sebagai terapi pijat air.
Palung Blue Lagoon dapat dipergunakan oleh pria dan wanita untuk berenang, menyelam, berfoto under water dan jika tak mahir berenang, disana disediakan penyewaan ban pelampung.

Trip Of Mine
Jika tak punya nyali dan tak mahir berenang, jangan coba - coba berani meloncat terjun bebas dari atas dam bendungan ke palung,  ya !

Beberapakali kulihat ada pengunjung yang berani melakukan aksi meloncat dari atas ketinggian dam ..., terjun bebas dengan beragam gaya ke palung.Byuuur ..., aksi loncatan mereka menciptakan cipratan ke sekitar palung dan jadi tontonan seru tersendiri

Dahulu sebelum terkenal dengan nama Blue Lagoon, lokasi ini bernama Tirta Budi.
Pemberian ide nama lokasi menjadi Blue Lagoon setelah adanya kegiatan Kuliah Kerja Nyata dari para mahasiswa di desa Widodomartani dan mereka menposting foto - foto lokasi di aplikasi sosial media. Sejak itu lokasi Tirta Budi mulai dikenal dan dikunjungi oleh banyak orang, selanjutnya diresmikan sebagai wisata alam pada tahun 2015.

Trip Of Mine
Warna birunya yang memikat, jadi lokasi incaran penyuka olahraga air dan penyuka foto under water

Berkat keindahan warna biru airnya yang memikat itulah, nama lokasi ini akhirnya diubah menjadi seperti judul film fenomenal ..., Blue Lagoon.

Lokasi : 
Area Sawah, Widodomartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
Rp. 10. 000,_ + free air mineral
[ Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]




Tuesday, July 3, 2018

Pantai Slili - Pantai Cantik Berada Diantara Dua Pantai

Cerita pengalamanku berlibur ke wisata alam pantai Slili, pantai cantik yang lokasinya terselip diantara 2 pantai, pantai Sadranan dan pantai Krakal di desa Sidoharjo, kecamatan Tepus, kabupaten Gunung Kidul ini sebenarnya satu cerita liburan di lokasi yang cuma mampir sesaat ..., kusebutnya begitu karena memang tak ada setengah jam berada disana dan memang sebelumnya lokasi wisata alam pantai satu ini tak masuk daftar dalam catatan nama  - nama lokasi pantai yang akan kudatangi mengisi liburanku kali ini.
Selain itu juga bingung menentukan pilihan akan berlibur ke pantai mana saja dari keberadaan 102 lokasi pantai yang terdapat di Gunung Kidul.

" Apaaa ... , ada 102 lokasi pantai di Gunung Kidul sana ?. Wow bangeeet jumlahnya, yaaaa ... !."

Yups, betul.
Disana total keseluruhan pantainya ada 102 ..., kuulangi ya ...,  s - e - r - a - t - u - s - d - u - a lokasi pantai.


" Gimana, menakjubkan ya ... !. Satu daerah dipenuhi lokasi ratusan pantai dan nyaris kesemua tampilan pantainya eksotis."

Sebenarnya saat aku menyebut angka jumlah pantainya yang terbilang fantastis itu, mendadak muncul perasaan mellow galau dalam hati ..., eeiits  bukan karena tentang cintrong - cintrongan loh,yaa ..., tapi mendadak muncul dalam hati berkeinginan nginep disana selama dua minggu full buat menjelajahi kesemua pantainya.
Tapi kapan terlaksana dan apakah bakalan terjadi kenyataan menjelajahi kesemua pantainya, ya ?. 
Padahal statusku saat ini masih terikat kerja, belum jadi fulltime blogger. Duh ...


" Laaah ..., ini apaan sih kok malah jadi curhat. Udah akh, wwwkkkwwk ! "

Bermula dari keterbatasan waktu berlibur hanya satu hari, jauhnya jarak tempuh, tanpa cukup waktu untuk bermalam di penginapan yang banyak terdapat di sekitar lokasi pantai karena keesokan harinya musti masuk kerja kembali dan juga kebingungan menentukan lokasi pantai mana yang akan dipilih untuk mengisi liburan kali ini ... , akhirnya aku mendamparkan diri menjatuhkan pilihan berlibur ke lokasi pantai Slili yang sebelum tiba di lokasinya melewati deretan pantai - pantai yang tampilannya juga tak kalah memikat.

Trip Of Mine
Panorama cantik pantai Slili

Liburanku mampir sesaat ke lokasi pantai Slili ini, setelah berlibur ke pantai Sepanjang yang terletak tak begitu jauh lokasinya.

Setelah memarkirkan kendaraan di area parkir yang ditata berhadapan dengan laut ... , oh iya ..., area parkir kendaraan di pantai Slili ini ditata mirip dengan area parkir kendaraan di pantai Siung yang pernah kudatangi beberapa waktu lalu sebelumnya. 
Sebenarnya aku pribadi, lebih menyukai melihat penataan area parkir kendaraan di pantai terletak jauh dari lokasi pantai, tak berada tepat diposisikan di depan pantai ... , menurutku pribadi keeksotisan tampilan pantainya jadi terasa berkurang dengan terlihat penuhnya kendaraan menghiasai areanya.
Tapi entah pendapat orang lain tentang hal ini sama seperti penilaianku atau tidak. , ... aku memilih duduk melepaskan penat sesaat di salah satu deretan gazebo yang didesain khas negara tropis beratapkan daun ijuk dan terletak berada di sebelah barat pantai sembari merasakan semilir angin datang dari rerimbunnya pepohonan cemara yang memayungi deretan gazebo.

Trip Of Mine
Gazebo unik, beratap ijuk di tepi pantai

Sesekali tampak para wisatawan sibuk mengamati dan membeli pilihan cinderamata di beberapa kios yang ditata berdekatan dengan area parkir kendaraan dan deretan warung - warung makan yang rata - rata menyediakan menu masakan olahan seafood dan kelapa hijau utuh sebagai pelengkap dagangannya.
Mereka tampak antusias mendatangi kios dan melihat beragam hasil kreasi seni yang terbuat dari rangkaian cangkang kerang, seperti : kap lampu berjuntai, bingkai cermin, pigura dan aksesoris. Juga kaos dan souvenir bertuliskan nama pantai Slili, terlihat jadi sasaran belanja para wisatawan.

Trip Of Mine
Deretan gazebo di area parkir pantai sebelah barat

Dari beberapa pantai di Gunung Kidul yang pernah kudatangi sebagai lokasi berlibur, pantai inilah areanya yang paling terkesan crowded tapi meriah dan hangat keberadaan suasananya karena tiga fungsi sekaligus berada tepat di depan pantai dan berdekatan dengan bentangan hamparan pasir yang dibatasi dinding pembatas buatan cukup tinggi.

Keistimewaan yang dimiliki pantai Slili adalah pemandangan bentangan hamparan pasir putihnya yang terlihat memanjang, terutama di sebelah barat dan berbatasan langsung dengan lokasi bukit karang keberadaan monumen ikonik pantai Krakal berbentuk kerangka tulang ikan.

Trip Of Mine
Perhatikan, warna hamparan pasir yang terkena sapuan air laut ..., berwarna semu pink.
Sangat cantik, berpadu dengan biru jernihnya air laut dan birunya langit.

Hamparan pasir di bagian barat pantai Slili ini tampilannya begitu memikat mata ..., putih bersih dan teksturnya sangat halus. Jika diamati, hamparan pasir putih ini terlihat agak berubah warna menjadi pink atau merah muda saat basah setelah terkena deburan ombak.

Pemandangan paduan warna alam antara batu karang, bentangan pasir putih dan pasir merah muda, biru jernihnya gulungan ombak dan birunya bentangan langit ... , menjadi terlihat sempurna.

Berbeda dengan area pantai Slili di sebelah timur, garis pantainya dominan dipenuhi dataran batu karang, hanya sedikit menyisakan bentangan hamparan pasir.

Trip Of Mine
Sisi pantai Slili sebelah timur didominasi hamparan batu karang

Di atas dataran batu karang yang berbatasan langsung dengan air laut ini, aku sempat mencoba berdiri sebentar diatasnya. Kulakukan karena penasaran ingin melihat sebentar kehidupan biota laut yang berada disana dan memang tampak ada beberapa ikan, udang dan kerang menghiasi terumbu karangnya.


" Tetap wajib hati -hati, ya ..., berdiri diatas dataran batu karang di sebelah timur pantai Slili ini. Karena keberadaannya di tengah 2 bukit karang yang berjarak cukup dekat satu sama lain, maka gulungan ombaknya jadi berukuran sangat besar "

Area pantai Slili sebelah barat dan sebelah timur dipisahkan oleh bukit batu karang raksasa ditengahnya. Bukit inipun bisa didaki, jika ingin melihat pemandangan samudera Hindia dari ketinggian.

Trip Of Mine
Bukit batu karang yang membatasi hamparan pasir pantai Slili sebelah barat dan timur pun bisa didaki, jika ingin melihat bentangan luas Samudera Hindia dari ketinggian

Lokasi wisata alam pantai Slili ditempuh dari kota Yogyakarta memerlukan jarak tempuh sekitar 66 kilometer atau lama perjalanan sekitar 2 jam lebih. Lama atau cepatnya sampai di tujuan lokasi pantai tergantung situasi yang ditemui di perjalanan, serta sigapnya melewati kontur jalan khas daerah Gunung Kidul yang berliku, menanjak naik dan turun cukup tajam.
Bahkan saat malam hari menjelang, penerangan lampu di sepanjang rute pun terbilang minim, hanya terlihat sebatas di penerangan rumah warga saat melewati beberapa lokasi desa.
Selebihnya melewati hutan jati dan bebatuan batu karang di kanan kiri jalan raya beraspal mulus dalam keadaan ..., gelap gulita.

Pengalaman kemalaman saat melewati area hutan jati dan bebatuan batu karang ini pernah kualami saat pertamakalinya berlibur ke pantai di Gunung Kidul.
Kebetulan saat itu liburan berdua, tak kulakukan seorang diri. 
Dan serunya, saat itu kami sama - sama  tak mengetahui pasti rute ke arah keberadaan deretan pantai dan tak hafal rute pulang ke arah Yogyakarta.
Jadilah, kami beberapakali kesasar arah di kegelapan malam disertai hujan lebat dalam perjalanan kembali ke pusat kota Yogyakarta.

Trip Of Mine
Monumen ikonik pantai Krakal tampak di kejauhan dari pantai Slili

Untuk menuju ke pantai Slili dari Yogyakarta ditempuh melalui rute : 


Wonosari - pantai Baron dan setelah melewati pos Tempat Pemungutan Restribusi atau TPR di pertigaan pantai Baron berbelok ke arah kiri - ikuti papan petunjuk rute ke arah pantai Kukup, pantai Sepanjang, pantai Drini, pantai Sarangan dan pantai Krakal - di pertigaan pantai Krakal berbelok ke arah kanan - pantai Slili

Dan cukup dengan membayar selembar tiket masuk  kawasan pantai seharga Rp. 10. 000 ,_ , sudah termasuk tiket asuransi Jasa Raharja, pengunjung tak hanya berkesempatan berlibur di pantai Slili saja, tapi juga berkesempatan berlibur di 8 lokasi pantai lainnya yang berada dalam satu kawasan dengan pantai Slili ..., pantai Baron, pantai Kukup, pantai Sepanjang, pantai Drini, pantai Krakal, pantai Sundak, pantai Indrayanti dan pantai Pok Tunggal.


" Pertanyaan yang muncul di kepalaku selanjutnya, apakah cukup menjelajah dengan berlama - lama waktu berada di 1 lokasi pantai ..., jika dalam 1 hari mendatangi semua lokasi 9 pantai sekaligus ?. Meski berada dalam satu kawasan, lokasi pantai satu dengan pantai yang lainnya tak kesemua lokasinya berjarak dekat untuk ditempuh "


Lokasi :
Jl. Pantai Krakal, Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
▪  Info harga tiket diatas sewaktu - waktu dapat berubah.
▪  Untuk beaya parkir di tiap lokasi pantai, berbeda antara di lokasi pantai satu dengan lokasi pantai lainya, berkisar Rp. 2. 000, _ sampai dengan Rp. 5. 000,_ .

Tips berlibur di pantai Slili :
 Pergunakan pakaian yang nyaman, mudah menyerap keringat.
▪  Oleskan krim tabir surya sebelum beraktivitas di pantai untuk menghindari kulit terpapar sinar ultra violet.
▪  Jika perlu, pergunakan sunglasses dan topi. Selain untuk menghindari paparan sinar matahari berlebih, juga untuk menambah gaya penampilan berlibur.
▪ Memilih bermalam di penginapan dengan harga sewa terjangkau permalamnya atau memilih bermalam di hotel dengan kisaran harga cukup tinggi, dapat dipilih jika ingin mengeksplore beberapa pantai disana selama beberapa hari.