Tuesday, December 26, 2017

Indonesian Railway Museum stasiun Willem I

Travelling ke museum kereta api atau Indonesian Railway Museum, satu-satunya museum kereta api yang ada di Indonesia ini mengingatkan kenangan mainan masa kecilku dulu yang kupunya, mainan miniatur kereta.
Kereta mainanku itu berwarna biru , rangkaian keseluruhannya terbuat dari kaleng terdiri dari 4 gerbong.
Masing-masing kiri kanan gerbongnya dicetak gambar tokoh kartun anak-anak yang terlihat tertawa bahagia, berjejalan di tepi jendela gerbong.

Aku masih ingat, mainan kereta tanpa dilengkapi baterai itu dulu sering kugerakkan dimanapun tempat yang aku suka.
Kadang kugerakkan muter-muter di lantai ... , kadang di meja makan.
Sesekali waktu pernah juga kugerakkan di dinding tegak lurus yang ngga mungkin bisa terjadi dengan kereta beneran, kan ?.
Kereta kok naik dinding ...
Hahaha ... !.
Tapi itulah dunia anak-anak, dunia yang penuh khayal imajinasi.

Nah !, kesenangan masa kanak-kanak mengajak muter-muter mainan kereta kaleng dan mainan truk kayu bermerk 'hino' itu kemana-mana, kini kutemui kereta kuno beneran yang bisa jalan.
Tanpa perlu ditarik-tarik pakai benang seperti mainan kecilku dulu ...
Hehehe.

Trip Of Mine
Indonesian Railway Museum 

Di museum ini terdapat 21 koleksi lokomotif uap.
Diantara ke 21 lokomotif uap yang ada terdapat 3 lokomotif uap dan kereta diesel vintage yang masih berfungsi dengan baik hingga kini dan difungsikan sebagai Railway Mountain Tour untuk menikmati sensasi perjalanan wisata menaiki kereta dengan rute Ambarawa - Tuntang pp melewati danau Rawa Pening dengan lama waktu sekitar 1 jam.

Ke 3 kereta api uap yang digunakan untuk wisata itu adalah :  lokomotif B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabrik Esslingen dan kereta api uap lokomotif B 5122 buatan Hannoversche Maschinenbau AG.

Sayangnya, saat aku travelling ke museum ini jadwal tour kereta sedang tidak beroperasi ..., jadwal tour hanya dilaksanakan di hari dan jam tertentu saja.

Tapi tak apa, kekecewaanku gagal mencoba naik kereta api kuno Railway Mountain Tour terobati dengan melihat keindahan bangunan bersejarah cagar budaya yang dipertahankan keasliannya, deretan keseluruhan koleksi dan informasi yang ada disana.
Museum ini dikelola dengan baik, terlihat dipersiapkan dengan maksimal untuk kunjungan traveller domestik dan traveller mancanegara.
Dan dirancang untuk media edukasi dan informatif tentang sejarah perkeretaapian Indonesia.

Trip Of Mine
Papan informasi Indonesian Railway Museum

Deretan informasi yang dilengkapi foto - foto jembatan, nama-nama stasiun dan masih banyak lagi terlihat mulai dari selasar setelah area tiket.
Berada di dinding yang disebut Story Wall dan juga terdapat di tengah selasar.
Deretan koleksi lokomotif, gerbong dan rangkaian kereta berjajar rapi berada di samping selasar.

Trip Of Mine

Trip Of Mine

Trip Of Mine


Bangunan asli peninggalan Belanda bergaya vintage stasiun Willem I berada di inti area , berada di bawah area Dipo.
Bangunannya terdiri dari 2 bagian terpisah.
Masing-masing bagian dilengkapi ruangan-ruangan yang mempertontonkan koleksi benda bersejarah yang berkaitan dengan operasional kereta, seperti mesin ketik kuno, mesin hitung pencetak tiket merk classical dan facit.
Juga dilengkapi ruang tiket asli terbuat dari kayu yang menawan tampilannya.

Di halaman luar bangunan stasiun Willem  I dilengkapi ruang tunggu penumpang dan sejumlah koleksi benda antik, diantaranya: Genta PJL atau Genta Penjaga Lalu-lintas, Jam stasiun dua muka, Loket kayu Demak.

Desain lantai area stasiun Willem I dihiasi keramik corak kuno yang mengesankan kemewahan.

Trip Of Mine
Dipo stasiun Willem I

Trip Of Mine
Bangunan stasiun Willem I anno 1873

Trip Of Mine
Ruang tiket stasiun Willem I 

Trip Of Mine
Loket kayu stasiun Demak

Trip Of Mine
Ruang kerja Pengatur Perjalanan Kereta Api ( PPKA )
Berasal dari stasiun Tawang Semarang

Trip Of Mine
Genta Petugas Jaga Lalu-lintas ( PJL )
Digunakan sebagai bunyi tanda isyarat bahwa akan ada kereta yang akan lewat.
Berasal dari stasiun Tawang Semarang


Di halaman belakang museum terdapat 7 koleksi halte asli berbentuk traditional, terbuat dari kayu yang dikelompokkan dalam 1 area.
Ke 7 halte tersebut adalah :

• Kalisamin = dulu berada di lintasan Purwosari - Wonogiri. Berada di desa Bogel, kecamatan Polokarto, Sukoharjo.

• Kepuh = dulu terletak di desa Kepuh, kecamatan Nguter, Sukoharjo.

• Tekaran = dulu berada di desa Kalijajar, kecamatan Selogriyo, Wonogiri.

• Kronelan = dulu terletak di desa Plumbon, kecamatan Mojolaban, Sukoharjo.

• Cikoya dan Cicayur.


Trip Of Mine
Koleksi stasiun kayu


Si hijau favoritku

Dari semua koleksi lokomotif dan gerbong kereta yang berada di Museum Kereta Api, ada 1 rangkaian kereta kayu lengkap dengan lokomotifnya yang membuat aku menfavoritkannya.
Bolak-balik aku mengitari dan keluar masuk gerbongnya untuk mengamati detil interior dan eksteriornya.

Rangkaian kereta kayu terdiri dari 3 gerbong ini terlihat berbeda tampilan dengan sejumlah koleksi gerbong dan lokomotif lainnya.
Sebagian besar koleksi gerbong dan lokomotif yang ada di cat dengan perpaduan warna hitam dan merah yang tampak garang.
Namun rangkaian kereta favoritku ini, di cat warna hijau kalem menyejukkan mata dan desainnya unik dilihat.
Meski dirangkai terdiri dari 3 rangkaian gerbong kayu yang berbeda desain dan berbeda dari asal kota lokasi ketiganya, justru rangkaian kereta ini tampil matching dan terlihat eyecatching.

Rangkaian kereta berwarna hijau favoritku ini dirangkai terdiri dari 4 bagian, terdiri dari :

• Lokomotif bernomor seri C 2407.

Lokomotif ini dibeli oleh perusahaan kereta api swasta Nederland-Indische Spoorweg Maatschapijj dan didatangkan ke Indonesia antara tahun 1909 - tahun 1912. Kehandalan mesinnya sanggup menjelajahi jalur pegunungan dan dipergunakan untuk menarik kereta ekspress. Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia digunakan untuk menarik rangkaian kereta api untuk distribusi logistik dan mobilisasi tentara pejuang di rute Parakan - Secang - Magelang - Yogyakarta.

• Gerbong Pertama, gerbong kereta kayu bernama NR BY Pengok Yogya.

Gerbong NR fungsinya sebagai penolong untuk membantu kereta api yang sedang mengalami gangguan teknis dan dijalankan saat terjadi adanya suatu Peristiwa Luar Biasa. Peralatan yang berada di dalam gerbong diantaranya : dongkrak,kunci dan alat potong.
Pada tahun 1904 gerbong NR bergandar 2 dipergunakan oleh NV Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapijj.

• Gerbong Kedua, gerbong kereta kayu Magelang.

Kereta kayu Magelang dirakit oleh Harkoni Nuisburg am Rhein pada tahun 1904. Dioperasikan di lintas Yogyakarta - Magelang - Secang - Ambarawa sepanjang 55 kilometer. Tahun 1906 gerbong kereta kayu ini berada di depan sub terminal Kebon Polo Magelang. Dipindahkan ke stasiun Ambarawa pada tahun 2011.

• Gerbong Ketiga, gerbong kereta kayu Kamal Madura.

Kereta kayu Kamal Madura dimiliki oleh kereta api swasta Madoera Stoomtram Maatschapijj dan digunakan oleh Sultan Madura untuk melaksanakan inspeksi di lintas Madura.
Kereta diketemukan dengan kondisi tertutup oleh lumpur di Balai Yasa pada tahun 1958.

Diantara ketiga rangkaian gerbong kereta itu, gerbong urutan ketiga yaitu gerbong kereta kayu Kamal Madura yang paling keren tampilan gerbongnya.
Gerbongnya dilengkapi dengan halaman teras untuk bersantai, sekeliling teras diberi pagar kayu berteralis besi untuk pengaman dan dilengkapi dengan undakan anak tangga untuk naik turun gerbong.
Di dinding kayu bagian belakangnya dihiasi 2 jendela kaca bukaan lebar di kanan kirinya dan pintu kayu berada di bagian tengah gerbong.

Aku membayangkan berada di atas halaman teras gerbong unik ini pada jaman kolonial dulu saat kereta melaju ..., pastilah sangat menyenangkan melihat pemandangan sepanjang jalur yang dilalui.
Pemandangan belakang kereta pasti akan terlihat terbentang luas dari sana.
Dan jika pandangan mata diluruskan ke arah depan, pemandangan dari belakang kereta akan tampak menjauh, mengecil ..., mengeciil ..., mengeciiil ..., dan hilang.
Berganti dengan pemandangan lainnya seiiring laju kereta bertambah.

Sangat menyenangkan, bukan ?.

Trip Of Mine
Si Hijau, rangkaian kereta favoritku

Trip Of Mine
Gerbong dalam NR BY Pengok Yogya

Trip Of Mine
Ruang lokomotif

Trip Of Mine
Gerbong Kamal Madura

Si hijau favoritku memikat mata ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya dilindungi Undang Undang nomor 11 tahun 2010.

Ada satu lagi area yang disebut Round Table atau Meja Putar, yang bentuknya menarik minatku untuk mengamati disana lebih lama.
Area ini bukanlah sebuah meja seperti penyebutan namanya, tapi area besar berbentuk cekungan bulat penuh 360° dengan diameter 13,5 meter dan diatasnya terbentang rel kereta.
Fungsinya sebagai perangkat yang digunakan untuk menghadap lokomotif sehingga lokomotif dapat dipindahkan kembali darimana arah lokomotif itu datangnya.


Trip Of Mine
Round Table. 

Indonesian Railway Museum atau Museum Kereta Api Indonesia ini menempati lokasi stasiun Willem I atau stasiun Ambarawa yang pernah aktif beroperasi dari rentang waktu mulai tahun 1873 sampai dengan tahun 1976.
Stasiun Willem I dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 21 Mei 1873 untuk sarana transportasi militer di sekitar Jawa - Tengah.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda dahulu sarana transportasi kereta api merupakan sarana yang sangat diandalkan, baik untuk angkutan barang dan penumpang.
Peralihan fungsi stasiun Ambarawa menjadi museum atas prakarsa gubernur Jawa - Tengah dan kepala PJKA, diresmikan pada tanggal 8 April 1976.



Lokasi : 
Jl. Stasiun No. 1
Panjang, Ambarawa, Kabupaten Semarang

Tiket : 

• Anak - anak Rp. 5.000
• Pelajar Rp. 5.000
• Dewasa / Mahasiswa Rp. 10.000
• Tourist Rp. 10.000
• Tour kereta Rp.50.000 / pp
( info harga tiket sewaktu-waktu dapat berubah )

Info tambahan :

• Jam buka 08.00 - 17.00.
• Jam tour kereta wisata atau Railway Mountain Tour 10.00 , 12.00 , 14.00.
• Jadwal tour kereta hanya di hari Sabtu dan Minggu.
• Tarif parkir mobil Rp.5.000 , setiap jam berikutnya Rp.2.000, karcis hilang denda Rp.10.000 ( belum termasuk  beaya parkir ).
• Tarif parkir motor Rp.3.000 , setiap jam berikutnya Rp.1.000, karcis hilang denda Rp. 10.000 ( belum termasuk parkir ).
• Tarif micro bus Rp.8.000, setiap jam berikutnya Rp.2.000 , karcis hilang denda Rp.10.000 ( belum termasuk beaya parkir ).

Tips berlibur :

• Jika ingin mencoba merasakan sensasi naik kereta uap tempoe doloe datanglah di hari Sabtu dan Minggu.




Friday, December 22, 2017

Benteng Fort Willem I - Benteng muram sarat sejarah

" Masuk,masuk ...", teriakan lantang aba-aba dari seorang ibu di belakangku saat ia masih berada diatas motornya, berada di belakangku.
Spontan aku menoleh mendengar teriakannya.
Ibu itu memerintahkan dengan nada tegas  sekali lagi " Masuk ! ", sambil mendongakkan dagunya sebagai isyarat menunjuk ke lokasi dimana aku harus memarkirkan kendaraanku.
Si ibu itu yang suara tegasnya dan perawakannya terlihat seperti seorang anggota kemiliteran memerintahkan motorku untuk diparkir di dalam ruangan tengah sebuah bangunan rumah sederhana yang tak ada satupun barang tergeletak disana.

Sejurus kemudian setelah kuparkirkan kendaraanku ditempat yang ia perintahkan dan ibu itu juga terlihat telah memarkirkan kendaraannya di depan halaman rumah tempat aku memarkirkan kendaraanku, ibu itu kudatangi dan kutanyai terlebih dulu sebelum dia sempat menanyaiku.

Kutanyakan boleh tidaknya untuk berkunjung ke dalam area dan kujelaskan maksud tujuan kedatanganku ke benteng Fort Willem I ini.
Awalnya sewaktu dia kutanyai, ekspresinya masih tetap terlihat datar seperti yang terlihat saat aku melihatnya pertama kali bertemu berpapasan dengannya di persimpangan jalan kecil menuju ke lokasi ini dan sewaktu dia meneriakkan perintah untuk memarkirkan kendaraanku ditempat yang ia tunjukkan, tapi setelah kutanyai tak kusangka ibu itu menjawab dengan suara melunak dan tersenyum ramah untuk memperbolehkan masuk area setelah mengisi dana administrasi Rp.5.000 ,-.

Blaaaa ... aast !.
Plong rasanya mendengar jawabannya.
Ternyata ijin memasuki areanya, tidaklah sesulit yang aku bayangkan sebelumnya.
Ketegasan bicara dan sikap ibu itu baru kupahami setelah kulihat sebuah papan tulisan berukuran kecil yang bertuliskan ' Tanah milik TNI AD ' yang didirikan di seberang rumah tempat aku memarkirkan kendaraanku.
Kemungkinan besar ibu itu adalah memang salah satu anggota TNI yang sedang bertugas di jalur belakang area lokasi bangunan ini.
Pantas saja, perawakan dan suaranya sangat tegas seperti itu.

Tadinya aku sempat akan mengurungkan niatku untuk datang ke lokasi ini setelah mendapat informasi dari petugas kepolisian yang kutemui di depan terminal Ambarawa, saat ia terlihat  sedang berpatroli mengatur lalu lintas disana.
Menurut penjelasannya, sekarang ini untuk dapat memasuki areanya harus melalui prosedur perijinan terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya ke petugas jaga markas TNI yang berada di jalur depan lokasi.

" Waduh, bakalan lama nih proses perijinannya ", pikirku dalam hati.

Tapi aku tak lantas patah semangat untuk mencoba mendatangi lokasi dan mencoba mencari informasi tambahan lagi demi memenuhi rasa penasaranku untuk bisa melihat langsung lokasi.

Informasi selanjutnya kuperoleh dari seorang pedagang makanan yang berada di pinggir rel kereta api dekat lokasi.
Dari pedagang makanan ini, kuperoleh informasi bahwa untuk dapat memasuki area bangunannya dengan mudah tanpa harus melewati proses perijinan terlebih dahulu, aku disarankan masuk ke lokasi melalui sebuah gapura saja yang berada di samping rumah sakit RSUD.

Mendapat informasi seperti itu, aku memantapkan hati untuk terus mencoba mendatangi lokasi.
Dan dari jalur belakang area bangunan inilah akhirnya aku tiba di lokasi, bukan melalui jalur depan tempat markas TNI berada.

Sebenarnya, bangunan benteng Willem Fort I atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama benteng pendem Ambarawa ini bukanlah sebuah lokasi wisata.
Tepatnya, belum ditetapkan sebagai destinasi wisata oleh pemerintah sampai sekarang ini, meski keindahan arsitektur bangunan dan sejarah dibaliknya sangat mendukung untuk ditetapkan sebagai destinasi wisata cagar budaya yang potensial, mendatangkan banyak kunjungan dari traveller domestik ataupun traveller mancanegara.

Trip Of Mine
~ Benteng Fort Wiilem I ~ 

Fungsi benteng Fort Willem I saat ini masih digunakan tempat tinggal sejumlah warga di bagian atas bangunan benteng di sebelah utara dan juga sebagai Lembaga Pemasyarakatan di bangunan sebelah barat.
Selebihnya hampir keseluruhan area bangunannya dibiarkan terlantar begitu saja, tanpa ada penanganan dan perawatan berarti.
Rumput-rumput dan tanaman liar tumbuh subur menjulang tinggi terlihat dibeberapa dinding bangunan dan terlihat pohon besar tumbuh menempel di salah satu dinding gedung yang mulai terlihat rusak, dibawahnya berserakan tumpukan sampah.
Hanya di bagian tengah area yang difungsikan sebagai jalan saja yang tampak sedikit lebih rapi.

Trip Of Mine
Salah satu bagian benteng yang terpisah dari bangunan induk

2 bagian bangunan benteng terlihat terpisah dari bangunan induk dan berada di genangan air pertengahan persawahan mulai terlihat tak jauh setelah masuk melalui jalan kecil melewati sebuah gerbang yang tepat berada di samping rumah sakit angkatan darat Ambarawa.

Uniknya, tembok gerbang yang dicat berwarna putih kelabu itu tak menuliskan kata benteng tapi ' beteng '.
Mungkin penulisannya seperti itu mengikuti dialek gaya bahasa Jawa pada jaman dulu.
Itu terbukti dari percakapanku dengan beberapa warga setempat sewaktu mereka bertanya dari kota mana asalku, mereka menyebut nama kotaku dengan ' Megelang ', bukan ' Magelang ' , setelah kujelaskan dari mana kota asalku.

Jalan kecil menuju ke lokasi dibuat sangat sederhana , di paving tanpa diplester semen yang menyebabkan tanah menjadi becek dan cukup licin terkena air hujan saat dilalui.
Dari gerbang melewati perkampungan di sebelah kiri dan persawahan di sebelah kanan, selanjutnya tampak pemandangan 2 bagian bangunan benteng berukuran besar yang terkesan menakutkan itu.

1 bangunan benteng berukuran besar di sebelah kanan berbentuk kotak, kondisi bagian atasnya ditumbuhi oleh semak - semak tanaman liar.
Di sebelah kiri tampak bangunan benteng yang juga berukuran besar dan tampilannya dilengkapi dengan lengkungan-lengkungan yang ditumbuhi semak belukar didalam dan sekitarnya.

Kedua bangunan benteng ini jaraknya terpisah beberapa meter satu sama lain dilihat dari jalan kecil yang kulalui.
Banyaknya koloni burung-burung sriti berterbangan diatas persawahan dan di sekitar benteng menambah kesan misterius dan keangkeran lokasi bangunan indah ini.

Trip Of Mine
Sisi luar benteng bagian utara

Bangunan inti benteng Willem Fort I sendiri berada di sejajar garis lurus jalan yang kulalui dan tak jauh dari bangunan rumah tempat area parkir.
Indah struktur bangunannya, tapi pasti menakutkan buat siapapun yang pertamakali melihatnya.
Bangunan terlihat membujur memanjang dibuat 2 lantai, dilengkapi terowongan sebagai akses keluar masuk area.
Bangunan benteng tampak kokoh meski tampilan luar dindingnya terlihat telah banyak mengalami kerusakan.
Banyak dinding mengelupas, terlihat batu bata bagian dalamnya yang ditumbuhi beberapa tanaman liar dan tampak jemuran pakaian bergelantungan di bagian atas bangunan milik para warga yang mendiami lantai 2 benteng.

Saat aku mulai mencoba memasuki terowongan, area hawa mistis dan aroma lembab sangat terasa berada di dalam sana ...

Trip Of Mine
Bangunan dilihat dari terowongan area

Keseluruhan dinding benteng bagian dalam area tak berbeda jauh dengan kondisi dinding benteng bagian luar, sama-sama mengalami banyak kerusakan yang terlihat memprihatinkan.

Ditengah area terdapat jembatan kayu yang dulu difungsikan sebagai penghubung bangunan utara dan bangunan barat, namun kini sudah tak dapat lagi berfungsi akibat mengalami kerusakan.

Trip Of Mine
Jembatan kayu yang kini tak berfungsi

Trip Of Mine
Salah satu dinding ditumbuhi tanaman liar

Pengunjung hanya diperkenankan mengitari area di bagian utara, sebatas area berbentuk U mengelilingi badan gedung.
Di tiap ujung U areanya menyambung ke markas militer yang dipergunakan sebagai area penjara atau Lembaga Pemasyarakatan dan untuk dapat memasukinya memerlukan perijinan khusus sebelumnya.
Larangan berikutnya untuk pengunjung, tidak diperkenankan menaiki bangunan lantai 2 yang ditempati oleh beberapa anggota keluarga disana.

Trip Of Mine
Tangga menuju bagian atas benteng

Trip Of Mine
Arsitektur benteng yang megah dan menawan

Trip Of Mine
Deretan lengkungan berderet rapi

Trip Of Mine
Benteng Fort Willem I salah satu saksi bisu kejayaan VOC di pulau Jawa


Sejarah benteng Fort Willem I

Benteng Fort Willem I dibangun oleh VOC di kota Ambarawa pada tahun 1834 saat berkuasa menduduki pulau Jawa.
Pembangunannya selesai pada tahun 1845.
Benteng berbentuk bujur sangkar ini dibangun berada di bawah tanah atau terkubur di dalam tanah sebagai strategi perang melawan musuh dan sekeliling bangunannya dilengkapi saluran parit untuk memaksimalkan pertahanan.

Karena dulu keberadaanya didalam tanah inilah masyarakat sekitar menyebutnya dengan benteng pendem ( Bahasa Jawa, Pendem : terkubur, terpendam ).

Arsitektur bangunan yang dilengkapi desain lengkungan-lengkungan jendela dan tidak terdapat lubang dinding untuk meletakkan meriam di bagian atas benteng tersebut, menandakan fungsi bangunan ini dulu pada masanya digunakan bukan hanya sebatas untuk benteng pertahanan menghadapi musuh saja, tetapi fungsinya juga merangkap sebagai ruang penyimpanan data logistik.

Dugaan itu diperkuat dengan jarak keberadaan lokasi benteng cukup dekat dengan stasiun kereta api yang juga dibangun pada masa pemerintahan VOC dan sama-sama menggunakan nama Willem I di kedua bangunannya.
Lokasi stasiun itu, kini difungsikan sebagai museum kereta api Indonesia.

Lalu siapakah sebenarnya sosok Willem I yang namanya dipergunakan sebagai nama bangunan benteng ini, juga namanya dipergunakan untuk sebuah benteng kecil di kota Ungaran dan nama sebuah stasiun kereta api di Ambarawa ?.

Willem I adalah raja Belanda yang bertakhta di kala itu dan sebagai bentuk penghormatan dari kepemerintahan VOC di Indonesia, nama raja Willem diabadikan di ke 3 bangunan tersebut.

Kota Ambarawa dipilih oleh VOC karena dianggap kota berada di lokasi strategis untuk membangun basis kekuatan militernya saat itu.
Lokasi Ambarawa merupakan jalur pertemuan antara kota Semarang, kota Yogyakarta dan kota Surakarta.
Belanda tak hanya membangun sebuah benteng berbentuk modern ini saja, tetapi juga membangun benteng-benteng dan kamp-kamp militer di sepanjang kota Semarang, kota Ungaran, kota Salatiga dan kota Surakarta .
Hal ini dilakukan oleh Belanda agar selalu mudah berhubungan dengan kerajaan Mataram.


Riwayat panjang benteng Fort Willem I 

• 1834 - 1845 =  pelaksanaan dan penyelesaian pembangunan benteng.

• 1853 - 1927 =  digunakan sebagai barak militer KNII yang terhubung dengan kota Magelang, kota Yogyakarta dan kota Semarang.

• 1865 =  terjadi gempa bumi besar yang menyebabkan beberapa bagian bangunan mengalami kehancuran.

• 1927  = fungsi benteng yang semula dari penjara untuk anak-anak menjadi penjara tahanan politik dan tahanan dewasa.

• 1942 - 1945 = dikuasai oleh Jepang dan digunakan sebagai kamp militer.

• 1945 = sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat.

• 1950 = sebagai penjara dewasa dan barak militer.

• 1985 = sebagai penjara anak-anak dan barak militer.

• 1991 = sebagai penjara kelas II B dan barak militer.

• 2003 - sekarang = sebagai lembaga pemasyarakatan atau penjara kelas II A dan barak militer.


Melihat pesona keindahan arsitektur bangunan benteng dan catatan panjang sejarah dibaliknya ... , bangunan bersejarah ini jika suatu hari nanti terealisasikan menjadi destinasi wisata seperti museum Lawang Sewu di Semarang, bisa dipastikan keberadaannya menjadi tujuan wisata yang banyak menarik minat traveller lokal dan mancanegara untuk berdatangan mengunjunginya.

Trip Of Mine
~ Arsitektur menawan benteng Fort Willem I ~


Lokasi :
Lodoyong, kota Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa-Tengah

Tiket : 
Rp. 5.000 + berikut beaya parkir
( Sebenarnya bukan beaya tiket tapi pengisi kas administrasi. Kondisi sewaktu-waktu dapat berubah )

Info tambahan :

• Jam berkunjung jam 08.00 - 17.00
• Lokasi berada tepat di belakang RSUD Ambarawa dan dibelakang markas Ksatrian Turangga Ceta TNI.

Tips berkunjung ke benteng Fort Willem I :

• Pergunakanlah alas kaki yang nyaman, mengingat semua area masih berupa tanah. Terutama saat musim penghujan, kondisi permukaan tanah menjadi becek untuk dilalui.
• Perhatikan tata tertib yang berlaku dengan baik.









Tuesday, December 19, 2017

Bukit Cinta , bukit eks gardu pemantau

Lokasi Bukit Cinta adalah merupakan titik masuk pengamatan sekaligus sebagai pintu gerbang utama lokasi wisata Danau Rawa Pening, yang kupilih kali ini untuk travelling menyaksikan pemandangan indah danau alami seluas 2,670 hektar, selain beberapa lokasi pilihan lain sekitar Danau Rawa Pening yang juga tak kalah menarik untuk dikunjungi suatu saat nanti.


Trip Of Mine
Pesona misterius danau Rawa Pening 

Lokasi-lokasi keren lain di sekitar danau Rawa Pening, diantaranya : spot Jembatan Biru dengan ciri khasnya berupa jembatan berwarna biru yang terkesan menjorok ke tengah danau, Kampoeng Rawa dengan deretan pendopo terapungnya dan bukit Kendil yang seringkali digunakan oleh para traveller untuk melihat danau dari tempat yang lebih tinggi, yang tentunya pemandangan indah Danau Rawa Pening akan terlihat secara keseluruhan tampilannya.

Bukit Cinta merupakan sebuah bukit kecil seluas kurang dari 2 hektar areanya.
Berada di bagian sebelah barat daya dan letaknya tepat berada di pinggir danau Rawa Pening.
Terletak di desa Kebondowo, kecamatan Banyubiru, kabupaten Semarang.

Saat pada masa pemerintahan kolonial Belanda dahulu, lokasi Bukit Cinta digunakan sebagai gardu pemantau pertumbuhan tanaman eceng gondok agar pertumbuhannya terkendali tidak mengganggu kelancaran kerja mesin PLTA.
Seiring waktu pemerintahan kolonial Belanda usai setelah bangsa Indonesia merdeka, fungsi lokasi Bukit Cinta berubah menjadi taman dan lokasi wisata hingga saat ini.

Penamaan lokasi dengan sebutan yang terkesan unik, Bukit Cinta, menarik keingintahuanku ada alasan tertentu apa sebenarnya dibalik pemberian nama itu.

" Mungkinkah dinamakan seperti itu karena bukitnya sering digunakan orang untuk lokasi pacaran, cinta-cintaan ?.
Atau, bukit ini begitu dicintai oleh warganya lalu dinamai Bukit Cinta ? ".

Ternyata penggunaan kata cinta untuk bukit itu berdasarkan adanya penemuan sepasang situs peninggalan agama Hindu di lokasi bukit ini.
Penemuan situs itu berupa arca lingga dan arca Yoni tersusun secara menumpuk keduanya, yang kini ditempatkan di sebuah bangunan pendopo berukuran kecil bernama ' Ki Godho Pameling ' dan dibagian halaman depan pendopo dilengkapi dengan seperangkat alu dan lesung.
Pendopo ini dipercaya oleh warga dahulu kala merupakan sebuah petilasan.
Arca lingga melambangkan identitas laki-laki dan arca yoni melambangkan identitas wanita, merupakan simbolisasi suatu hubungan yang terjadi antara laki-laki dan wanita.
Berdasarkan dari adanya penemuan situs sepasang arca itulah bukit ini dinamai oleh warga dengan nama Bukit Cinta.
Penamaan lokasi menggambarkan adanya hubungan cinta antara sepasang kekasih.

" Oh ... , jadi begitu.
Paham,deh sekarang.
Kirain tuh dinamai Bukit Cinta karena dulu jadi tempat favorit yang lagi pada kena panah asmara buat berdua-duaan sama pacar disana  ... , ternyata bukan.
Hehehehe ... ".

Trip Of Mine
Kolam patung tokoh ikonik Baru Klinting dan Nyi Latung

Di awal area memasuki lokasi Bukit Cinta, traveller disambut dengan bangunan pintu gerbang megah dilengkapi halaman parkir luas dan terlihat deretan rapi kios makanan yang menyajikan bermacam olahan ikan hasil tangkapan dari danau Rawa Pening, kios souvernir dan kios tempat penyimpanan seperangkat gamelan.

Menuju pintu gerbang kedua yang difungsikan sebagai loket dan ruang informasi, bagian halaman tengahnya dihias dengan kolam patung figur ikonik tokoh Baru Klinting dalam bentuk sosok anak kecil yang berdiri di puncak gunungan wayang, sosok Baru Klinting dalam wujud ular naga raksasa saat melingkari gunungan wayang dan tokoh Nyi Latung berperahu lesung.

Ke area halaman berikutnya, melewati sebuah bangunan gedung berukuran besar dan berbentuk unik berada di bawah Bukit Cinta.
Berbentuk ular naga raksasa Baru Klinting yang terlihat seakan sedang melingkari keseluruhan area bukit.
Badannya di cat warna hijau kontras dengan warna merah menyala bagian mulutnya yang menyeringai memperlihatkan deretan gigi-gigi tajamnya.

" Keren ... , sebuah desain bangunan yang berhasil memikat mata ! ".

Trip Of Mine
Bangunan gedung berbentuk unik tokoh Baru Klinting dalam wujud sosok ular naga

Bagian dalam bangunan unik ini difungsikan sebagai ruang foto 3 dimensi dan ruang pamer ikan, sekaligus ikan bisa dibeli jika traveller menginginkannya.

Bagian atas Bukit Cinta diteduhi rimbunnya pohon-pohon cemara yang setiap batang pohonnya dipasangi plat nomor untuk memudahkan pendataan dan areanya di lengkapi pendopo besar yang dapat digunakan untuk beragam acara.
Dari atas Bukit Cinta ini dan dari halaman dermaganya yang dilengkapi spot kekinian berbentuk hati berukuran besar yang dapat digunakan oleh para traveller memasang gembok disana sebagai simbol kasih sayang.

... Pemandangan menawan danau Rawa Pening yang berair jernih tampak membentang luas terhampar berada di depan mata, deretan kapal - kapal nelayan yang berlabuh di dermaga, laju kapal menyusuri danau dan deretan pegunungan yang melingkarinya ... ,
Terlihat seakan sebuah lukisan hidup.


Trip Of Mine

Trip Of Mine
Pemandangan eksotik danau Rawa Pening

Trip Of Mine

Trip Of Mine

Trip Of Mine
Perahu nelayan berlabuh di dermaga danau Rawa Pening


Jika dirasa belum cukup hanya sekedar liburan memandangi keindahan danau Rawa Pening dari atas bukit dan dermaganya, cobalah jelajahi keindahan danau Rawa Pening dengan menggunakan perahu nelayan ...

Sekilas tentang danau Rawa Pening 

Posisi danau Rawa Pening berada di cekungan bagian terendah dari lereng gunung Merbabu, gunung Telomoyo dan gunung Ungaran.
Keseluruhan luas areanya sekitar 2.650 hektar dan menempati 4 kecamatan,yaitu : Ambarawa, Bawen, Tuntang dan Banyubiru.

Danau yang kini tengah dipersiapkan menjadi destinasi wisata bertaraf Internasional yang terintegrasi 1 paket wisata dengan destinasi wisata yang telah diakui dunia, candi Borobudur ini berada di lokasi yang sangat strategis, berada di persimpangan jalan antara Semarang, Solo dan Magelang.
Danau Rawa Pening terlihat cukup jelas dari jalan raya Semarang-Solo dan tampilannya lebih terlihat jelas lagi dari jalan lingkar Ambarawa.

Pemandangan alamnya menawan dan ditopang dengan luasnya area, namun sayangnya danau Rawa Pening dibarengi dengan pertumbuhan pesat tanaman eceng gondok yang menyebabkan pendangkalan kedalaman danau.
Ujung akar tanaman eceng gondok memiliki kantong akar yang dapat mengumpulkan lumpur dan sisa-sisa partikel kotoran, hal inilah yang menyebabkan terjadinya pendangkalan di suatu area.
Diperkirakan pertumbuhan eceng gondok di danau Rawa Pening mencapai 1 juta hektar perhari.

Berbagai macam cara penanganan dilakukan untuk mengurangi laju pertumbuhan pesat tanaman eceng gondok di danau Rawa Pening, diantaranya adalah : melakukan pembersihan areanya, mengadakan pelatihan pemanfaatan tanaman eceng gondok untuk industri kreatif kerajinan tangan dan pembuatan braket bahan bakar energi berbahan dasar tanaman eceng gondok yang dipelopori oleh perusahaan jamu ternama Indonesia.

Legenda Baru Klinting dan Rawa Pening

Pada jaman dahulu kala di sebuah desa Ngasem hidup seorang wanita bernama Endang Sawitri, yang ditinggal lama pergi oleh suaminya bertapa memohon kepada sang Pencipta di lereng gunung Telomoyo untuk mewujudkan keinginan mereka setelah sekian lama mereka berumah tangga belum juga dikaruniai seorang anak pun.

Di suatu hari, Endang Sawitri merasakan mual seperti adanya gejala kehamilan pada dirinya.
Dan benar saja, beberapa hari kemudian perutnya mulai membesar menandakan bahwa ia benar-benar tengah mengandung.
Berselang beberapa bulan kemudian ,ia melahirkan dan kejadiannya sangatlah menggemparkan seluruh warga desa Ngasem karena yang dilahirkannya bukanlah sosok bayi manusia,tetapi sosok seekor naga ...
Anehnya lagi, naga itu bisa berbicara seperti layaknya seorang manusia.
Bayi naga itu diberi nama Baru Klinting.
Klinting diambil dari nama pusaka tombak peninggalan suaminya.

Di usia remaja Baru Klinting bertanya kepada ibunya,

" Ibu, apakah aku mempunyai ayah ? ".

" Anakku, kamu memang benar mempunyai seorang ayah. Ayahmu bernama Ki Hajar Salokantara.
Ayahmu telah lama pergi merantau untuk bertapa,jauh sebelum ibu mengandungmu, nak.
Ayahmu bertapa di lereng kaki gunung Telomoyo.
Ibu rasa, sekarang sudah waktunya kamu pergi untuk mencari dan menemui ayahmu.
Ibu ijinkan kamu pergi untuk mencarinya dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu " , ujar ibunya.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada ibunya dengan senang hati naga Baru Klinting mulai pergi mencari keberadaan ayahnya ke hutan belantara gunung Telomoyo.
Sampai akhirnya tibalah naga Baru Klinting di sebuah gua, tak disangka ia bertemu dengan seorang pria pertapa berada disana.
Ia langsung berpikir mungkinkah itu adalah ayahnya ...
Dengan penuh hormat naga Baru Klinting bertanya,

" Mohon maaf telah menganggu ketenangan anda bertapa. Apakah benar ini adalah tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara ? ".

" Siapakah kamu dan kenapa kamu bisa berbicara seperti layaknya seorang manusia ? ", tanya si pertapa keheranan.

" Saya Baru Klinting. Saya bermaksud mencari keberadaan ayahku yang telah lama merantau untuk bertapa.
Apakah benar ini adalah tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara ?, ulang naga Baru Klinting.

" Benar,aku Ki Hajar Salokantara.
Tapi ..., bagaimana kau bisa tahu namaku ?, siapakah kau sebenarnya ? ", tanya si pertapa keheranan.

Mendengar jawaban itu, Baru Klinting langsung bersujud di hadapan ayahnya dan menjelaskan siapakah dirinya sebenarnya.
Awalnya, Ki Hajar Salokantara tidak mempercayainya, bagaimanakah mungkin dirinya memiliki seorang anak bukan manusia, tetapi berwujud seekor ular naga.

Ki Hajar mulai sedikit percaya ketika Baru Klinting menunjukkan bukti pusaka kepadanya, namun itu belum membuatnya yakin sepenuhnya.

" Baiklah, aku percaya jika pusaka Klinting itu adalah memang milikku.
Tapi, aku perlu satu bukti lagi.
Cobalah tunjukkan kesanggupanmu untuk melingkari gunung Telomoyo ini.
Jika kamu sanggup melaksanakannya, aku baru percaya bahwa kamu memang benar anakku "

Baru Klinting segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahnya.
Dengan kesaktiannya, naga Baru Klinting berhasil melingkari luasnya gunung Telomoyo dengan sangat mudah.
Akhirnya dengan pembuktian itu, Ki Hajar Salokantara mengakui bahwa, ular naga itu adalah memang benar anaknya.

" Anakku, aku sekarang percaya bahwa kamu memang benar adalah anakku.
Sekarang pergilah kamu ke bukit Tugur dan bertapalah disana. Suatu saat nanti tubuhmu akan berubah menjadi manusia ".

Baru Klinting melaksanakan titah ayahnya dan segera melakukan bertapa disana.

... Sementara itu, berada di sebuah desa lain bernama desa Pathok para warga desanya akan mengadakan pesta sedekah bumi untuk merayakan keberhasilan panen mereka.
Desa Pathok ini kehidupan warganya sangatlah makmur,nl namun sayangnya sifat penduduknya sangat angkuh dan sombong.

Untuk merayakan pesta sedekah bumi warga Pathok akan menggelar berbagai acara pertunjukan musik gamelan dan tari-tarian.
Hidangan-hidangan lezat pun akan disajikan sebagai hidangan bersama dan sebagai jamuan untuk para tamu undangan yang hadir.
Untuk itulah, para warga beramai-ramai berburu binatang di bukit Tugur.

Hampir menjelang sore hari tiba setelah mereka berburu seharian, tak satupun binatang yang mereka peroleh.
Saat hendak kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat ada seekor ular naga sedang bertapa disana.
Mereka pun segera beramai-ramai menangkapnya, membunuh dan memotong-motong daging naga itu lalu membawanya pulang ke desa untuk dimasak sebagai sajian hidangan dalam pesta.
Ular naga malang itu tak lain adalah Baru Klinting ... !.

Ketika acara pesta meriah sedang berlangsung, datanglah seorang anak laki-laki asing ikut datang bergabung di tengah keramaian pesta.
Tubuhnya di penuhi luka yang menyebabkan dirinya berbau amis.
Rupanya, anak laki-laki asing itu adalah penjelmaan Baru Klinting.

Saat ia meminta makanan kepada warga, tak satupun dari mereka yang bersedia memberinya makanan,p erlakuan kasar dan diusir justru diterimanya.
Dengan tubuh lemah karena kelaparan, Baru Klinting berjalan terseok-seok meninggalkan tempat pesta berlangsung.
Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang nenek janda tua baik hati bernama Nyi Latung.
Nenek baik hati itu mengajak Baru Klinting kerumahnya dan memberikan makanan untuk Baru Klinting.

" Terimakasih atas kebaikan yang nenek telah berikan untuk saya,Nek ..., ternyata masih ada orang baik hati kutemui di desa ini.
Tadi saya telah diusir oleh warga dari acara pesta sewaktu saya ingin minta sedikit makanan karena saya merasa kelaparan ", ucap Baru Klinting.

" Iya,nak. Semua warga disini memang memiliki sifat angkuh.
Dari semua warga, hanya nenek yang miskin ini yang tak diundang ke acara pesta itu " jawab Nyi Lantung.

" Kalau begitu,nek. Mereka semua harus diberi pelajaran.
Jika nanti nenek tiba-tiba mendengar adanya suara gemuruh, segeralah nenek siapkan dan naiki lesung kayu.
Saya akan kembali ke acara pesta itu sekarang ", ujar Baru Klinting.

Baru Klinting kembali datang ke acara pesta berlangsung.
Datang dengan membawa sebatang lidi dan kemudian lidi itu ia tancapkan ke tanah di tengah arena pesta.

" Dengarlah hai kalian semua warga Pathok yang sombong ..., cobalah cabut sebatang lidi yang kutancapkan ditanah ini.
Buktikan jika kalian sanggup mencabutnya dan buktikan jika diri kalian memang hebat ! ".

Merasa ditantang dan diremehkan, satu persatu warga berusaha mencoba mencabut lidi itu.
Namun tak satupun dari mereka yang berhasil mencabut lidi tersebut berhasil terangkat dari tanah.

Baru Klinting segera mencabut lidi yang ditancapkannya itu ... , begitu lidi tereebut tercabut, seketika terdengar suara gemuruh menggetarkan di seluruh desa Pathok.

Beberapa saat kemudian, air mulai menyembur deras keluar dari bekas tancapan lidi tersebut.
Semakin lama semburan air semakin deras yang menyebabkan terjadinya banjir besar.
Semua warga panik berlarian berusaha untuk menyelamatkan diri ... , namun terlambat.
Banjir besar menenggelamkan mereka.
Desa itupun akhirnya berubah menjadi danau besar yang kini dikenal dengan nama Rawa Pening.

Sementara itu setelah Baru Klinting mencabut batang lidi, ia gera berlari menemui Nyi Latung yang telah menunggunya di atas lesung yang berfungsi sebagai perahu penyelamat.
Selamatlah Baru Klinting dan Nyi Lantung mengarungi datangnya banjir besar yang menenggelamkan desa Pathok.

Setelah peristiwa itu terjadi ..., Baru Klinting kembali berubah ke wujud sosok ular naga dan bersemayam menjaga danau Rawa Pening hingga kini.


Pesona keindahan danau Rawa Pening memang melekat kuat dengan kisah legenda tokoh ular naga Baru Klinting yang membentuk dan mendiami danau sangat luas ini.

Berkat keindahan ponarama dan keunikan pemandangan lansekapnya danau Rawa Pening menjadi salah satu lokasi perburuan favorit para pecinta fotografi.
Baik pagi hari, saat area danau masih diselimuti kabut yang akan menciptakan kesan misterius dan mistis, di saat subuh dini atau sore hari sinar bola matahari terlihat memantul di permukaan air danau ..., dilengkapi latar belakang pemandangan pegunungan dan laju kapal, sama-sama akan menjadi obyek bidikan kamera yang menarik.

Jadi, jangan lupa persiapkanlah kamera kalian baik-baik sewaktu kalian datang kesini ...

Trip Of Mine
Dermaga Bukit Cinta


Lokasi :
Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa-Tengah

Tiket :
Rp. 7.500
(Info harga tiket sewaktu-waktu dapat berubah)

Info Tambahan :

• Jam operasional 08.00 - 18.00 ( Diluar jam tersebut disarankan menghubungi pengelola terlebih dahulu ).
• Tarif perahu motor untuk = pesiar Rp. 60.000 ( mengelilingi danau selama 30 menit dan maksimal 60 menit ) , tabur bunga Rp. 60.000 , larungan Rp. 100.000 dan foto/video shooting Rp. 120.000 selama 1 jam.

Tips berlibur di Bukit Cinta danau Rawa Pening : 

• Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.
• Untuk pecinta fotografi, siapkan kamera digital dan kamera smartphone kalian dengan baik, banyak obyek menarik yang akan kalian temui disana.




Wednesday, December 13, 2017

Air Terjun Sekar Langit , tempat Joko Tarub bertemu bidadari

Masih ingat dengan cerita legenda berasal dari tanah Jawa tentang seorang pemuda tampan yang jatuh hati dengan bidadari cantik jelita ?.

Atau juga,

Pernah melihat sebuah lukisan artistik karya pelukis maestro kenamaan Indonesia asal kota Surakarta, Basoeki Abdullah yang dipesan secara khusus oleh presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno tentang lukisan seorang pemuda yang mengambil selendang milik dari salah satu bidadari yang sedang mandi di aliran deras air terjun ?.
Inilah lokasi wisata alam air terjun yang ada di legenda dan lukisan ternama itu, air terjun Sekar Langit.

Trip Of Mine
Pesona air terjun legendaris Sekar Langit.

Lokasi air terjun Sekar Langit dipercaya oleh masyarakat secara turun temurun sebagai tempat asal mula kisah legenda sang pemuda tampan bernama Joko Tarub bertemu secara tanpa sengaja dengan 7 bidadari cantik jelita dari khayangan yang sedang mandi di aliran air terjunnya.
Dan Joko Tarub terpikat hatinya dengan salah satu bidadari tercantik disana bernama Nawangwulan.

Trip Of Mine
Tampilan menawan air terjun Sekar Langit.

Air terjun yang memiliki ketinggian 40 meter dengan debit air tinggi dan airnya selalu mengalir tanpa dipengaruhi oleh musim ini, lokasinya berada di lereng gunung Telomoyo.
Tepatnya di desa Tlogorejo, kecamatan Grabag, kabupaten Magelang.

Penamaan Sekar Langit diartikan dengan bunga turun dari langit ( Bahasa Jawa, Sekar = Bunga ).
Merupakan kawasan wisata alam yang masih sangat terjaga keasrian alamnya, tenang dan berudara segar, sejuk dingin.
Memasuki area wisata ini seperti memasuki sebuah hutan belantara ...
Sumber mata air terjun Sekar Langit berada di bagian puncak gunung Telomoyo.
Gunung Telomoyo merupakan gunung yang membatasi antara kota Magelang dan kota Salatiga, Kabupaten Semarang.

Pemandangan keasrian alam kutemui di sepanjang perjalanan diselingi dengan pemandangan beberapa desa menuju ke lokasi dan terus terlihat keasriannya berada di dalam area air terjun.
Hutan lebat pepohonan bambu berukuran besar mulai menyambut di area awal, tumbuh subur di sisi kanan berupa tebing dan disisi kiri berupa jurang yang bagian tengahnya mengalir aliran sungai dari air terjun mengalir ke arah barat menuju ke sungai Elo, selanjutnya bermuara di laut selatan Jawa.

Trip Of Mine
Rute areanya melintasi sisi tebing dan sisi jurang.

Beberapa meter melangkah dari area awal, aku menebak-nebak sebenarnya suara aliran sungai itu berada dimana lokasinya karena sama sekali tak terlihat, tertutup oleh rimbunnya pohon-pohon bambu.
Setelah berjalan beberapa meter kemudian mulai terlihat aliran sungai itu dimana, tampak beberapa belasan meter jauh berada dibawah sana.
Aliran airnya deras mengalir diantara bebatuan berukuran besar.

Trip Of Mine
Aliran sungai air terjun dipenuhi bebatuan besar.

Akses jalan di dalam area sejauh 400 meter menuju ke titik lokasi air terjun telah dibeton, namun tanpa adanya pagar pengaman di sisi tepi jurang.

Trip Of Mine
Jembatan beton penghubung

Tampilan keseluruhan air terjun mulai terlihat jelas setelah melewati jembatan beton dan menaiki anak tangga yang mengarah ke area pertapaan Joko Tarub dan sisi halaman air terjun.

Menakjubkan memang ... , air terjunnya tinggi, mengalir sangat deras dan limpahan air terjunnya membentuk palung berwarna hijau zamrud.

Trip Of Mine
Area pertapaan Jaka Tarub.

Trip Of Mine
Tampak depan air terjun Sekar Langit.

Trip Of Mine
Palungnya berwarna hijau zamrud.



Legenda Joko Tarub dan Nawangwulan

Alkisah dahulu kala, ada seorang pemuda tampan berasal dari desa Tarub yang memiliki kegemaran keluar masuk ke hutan belantara untuk berburu burung.
Pemuda tampan anak dari bupati Tuban itu bernama Joko Tarub.

Di suatu hari,
setelah hampir tengah hari memasuki sebuah hutan untuk berburu burung seperti rutinitas yang ia lakukan dalam kesehariannya, Joko Tarub hari itu tak mendapatkan hasil buruan seekor burung pun.
Ia tak putus asa dan terus melanjutkan perjalanan perburuannya kembali ke hutan lain, hingga tibalah Joko Tarub di sebuah hutan rimba belantara di kaki gunung Telomoyo.
Berada di dalam lebatnya hutan rimba ini, lagi-lagi suara merdu kicauan burung tak didengarnya.
Namun dari kejauhan sayup-sayup terdengar olehnya suara gelak tawa penuh sukacita dari para gadis diantara suara gemuruh air terjun ...

Diliputi keheranan dan rasa penasaran pemuda ini mencoba mencari dari mana sumber sumber suara itu berasal.
Betapa terkejutnya ia ..., setelah melihat apa yang tampak di depan matanya.
Tampak 7 gadis cantik tanpa busana sedang mandi di air terjun.

Mendapati adanya pemandangan yang belum pernah ia temui di sepanjang hidupnya itu, ia segera mengambil langkah bersembunyi di balik sebuah batu besar untuk terus bisa mengintip para gadis sedang mandi  ...

Sampai akhirnya terbersit keinginan nakalnya untuk mengambil pakaian dan selendang milik dari salah satu gadis tercantik yang tergeletak di bebatuan di dekat batu besar tempat ia mengintip.

Saat hari mulai menjelang sore tiba, para gadis cantik itu mulai menyudahi mandinya dan segera menuju ke bebatuan untuk mengambil dan mengenakan kembali pakaian mereka masing-masing.
Tampak 1 gadis yang kebingungan kesana kemari mencari pakaian dan selendangnya berada dimana, tak terletak berada di tempatnya semula.
Sementara itu mata Joko Tarub terus mengawasi ...

Hari pun mulai semakin beranjak sore dan dengan berat hati mereka harus segera meninggalkan gadis yang kehilangan pakaian dan selendangnya seorang diri.
Setelah ke 6 gadis lainnya selesai mengenakan pakaian mereka kembali dan mengaitkan selendang ke pinggul mereka masing-masing, kemudian satu persatu para gadis misterius ini mulai terbang melesat menuju ke langit.
Ternyata, selendang yang mereka kenakan itu adalah sebagai pengganti sayap yang mereka pergunakan untuk terbang menembus ke awan.

Joko Tarub terpukau menyaksikan kesemuanya dan menyadari bahwa para gadis cantik itu bukanlah sosok manusia biasa, tetapi para sosok bidadari.
Para bidadari dari khayangan yang sedang turun ke bumi untuk mandi dan bersenang-senang di air terjun menawan yang sekarang dinamai air terjun Sekar Langit.

Di benak Joko Tarub langsung terbersit perasaan bahagia, karena ia telah berhasil mencuri pakaian dan selendang milik dari salah satu bidadari yang tidak dapat dipergunakannya untuk kembali terbang ke khayangan dan timbul keinginan dipikirannya untuk memperistrinya di suatu hari nanti.
Bidadari cantik jelita yang malang itu bernama Nawangwulan.

Setelah ke 6 bidadari lainnya tak tampak lagi menghilang dibalik awan, muncullah Joko Tarub dari persembunyiannya dan menghampiri Nawangwulan yang masih berusaha menemukan kembali pakaian dan selendangnya.

Bak seorang pahlawan penyelamat, Joko Tarub menawarkan bantuan dan ajakan kepada Nawangwulan untuk mempersilahkan tinggal menetap dirumahnya.
Akhirnya Nawangwulan bersedia menerima ajakan kebaikan yang Joko Tarub berikan kepadanya.

Sesampainya dirumah, Joko Tarub bergegas berlari menuju ke lumbung padi untuk menyembunyikan pakaian dan selendang milik Nawangwulan yang dicurinya tadi.
Ia sembunyikan di sela-sela tumpukan padi bagian terbawah agar tidak mudah diketemukan oleh siapapun.

Hari demi hari cepat berlalu mereka lewati bersama tanpa adanya ikatan pernikahan, akhirnya suatu hari Joko Tarub berhasil mengajak Nawangwulan untuk bersedia menikah dengannya.
Dari pernikahan mereka ini terlahir seorang bayi perempuan cantik yang mereka beri nama Nawangsih.

Sebagai makhluk berasal dari khayangan, Nawangwulan sebenarnya memiliki kesaktian yang tak pernah diketahui oleh Joko Tarub selama ini.
Kesaktiannya sanggup mengubah setangkai padi yang ia letakkan di bakul untuk menjadi hidangan nasi, tanpa perlu memasaknya terlebih dahulu.
Berkat kesaktiannya yang dimiliki oleh Nawangwulan ini, persediaan beras rumah tangga mereka menjadi lebih lama masa persediaannya.

Tapi di suatu hari, kesaktian Nawangwulan ini musnah.
Bermula dari Nawangwulan hendak berangkat ke sungai untuk mencuci pakaian, sementara Joko Tarub suaminya mengasuh bayi Nawangsih.
Nawangwulan berpesan kepada Joko Tarub untuk tidak membuka bakul nasi sebelum Nawangwulan tiba kembali dirumah, sekembalinya dari sungai nanti.

Hari mulai menjelang siang, Nawangwulan tak kunjung tiba juga dirumah sementara Nawangsih terus menerus menangis yang membuat Joko Tarub kebingungan bagaimana cara menenangkannya, kemudian Joko Tarub berinisiatif membuka bakul nasi bermaksud untuk mengambil nasi untuk menyuapi Nawangsih.
Tapi apa yang didapatnya bukanlah nasi, tetapi hanyalah setangkai padi.

Sesampainya dirumah, Nawangwulan sangat kecewa karena melihat bakul nasi telah dalam keadaan terbuka.
Itu artinya Joko Tarub tak menuruti pesannya dan dari situlah kesaktian Nawangwulan menjadi musnah.

Setelah kesaktiannya menghilang, untuk memasak nasi memenuhi kebutuhan keseharian mereka, Nawangwulan harus mengambil persediaan beras di lumbung padi untuk ditanaknya terlebih dahulu untuk menjadi hidangan nasi.
Lama kelamaan persediaan beras pun semakin berkurang.

Di suatu hari,
di lumbung padi diantara sela-sela tumpukan padi bagian terbawah, Nawangwulan menemukan sebuah bungkusan kain.
Dibukalah bungkusan kain itu dan Nawangwulan terkejut saat melihatnya.
Bungkusan kain itu berisikan pakaian dan selendang miliknya yang dahulu ia kenakan dan hilang saat berada di air terjun bersama teman-teman bidadari.

Nawangwulan seketika tersadar bahwa dirinya selama ini telah dibohongi oleh Joko Tarub ... , sebenarnya pakaian dan selendang miliknya bukanlah hilang tetapi memang sengaja dicuri dan disembunyikan oleh Joko Tarub yang menyebabkan ia tak bisa kembali pulang ke khayangan.

Setelah pakaian dan selendang bidadari miliknya dikenakan kembali, wujud Nawangwulan seketika berubah menjadi wujud aslinya berupa bidadari.
Nawangwulan dengan diliputi amarah menemui Joko Tarub dan mengucapkan sumpah untuk segera kembali ke khayangan, tidak akan menemui Joko Tarub selama-lamanya.
Selain mengucapkan sumpah, Nawangwulan meminta Joko Tarub untuk segera membuatkan gubug bambu kecil yang tertutup rapat untuk dipergunakan meletakkan bayi Nawangsih anak dari hasil pernikahan mereka, jika Nawangsih menangis.
Jika suara tangisan Nawangsih terdengar sampai di khayangan, maka Nawangwulan akan segera turun ke bumi untuk menyusui Nawangsih berada di dalam gubug tertutup rapat itu.

Joko Tarub memohon agar Nawangwulan bersedia memaafkannya dan bersedia untuk tetap tinggal bersamanya membesarkan Nawangsih bersama.
Namun tekad Nawangwulan kembali pulang ke khayangan sudah bulat karena merasa dibohongi oleh perbuatan Joko Tarub selama ini.

Nawangwulan segera terbang melesat menembus ke awan pulang menuju ke khayangan meninggalkan Nawangsih dan Joko Tarub yang berlinang air mata ...

Hanya di saat tertentu jika suara tangisan Nawangsih terdengar oleh Nawangwulan dari khayangan, Nawangwulan turun ke bumi menemui dan menyusui Nawangsih di dalam gubug kecil tertutup rapat.
Tanpa wajahnya bisa terlihat oleh Joko Tarub.

... Seiring dengan berjalannya waktu, usia Nawangsih semakin bertambah dan Nawangwulan tidak pernah lagi turun ke bumi.
Tinggallah Joko Tarub mengarungi sisa hidupnya dengan melakukan bertapa di air terjun Sekar Langit tempat pertemuannya dahulu dengan bidadari yang dicintainya.



Mitos dan cerita mistis air terjun Sekar langit

Pesona keindahan air terjun Sekar langit yang dilatarbelakangi oleh kisah legendaris kisah percintaan antara manusia dengan makhluk khayangan ini menjadi magnet tersendiri untuk para pecinta travelling mendatangi lokasi wisata alam yang terbilang masih alami.

Banyak yang mempercayai airnya memiliki manfaat untuk penyembuhan berbagai macam penyakit kronis, penyakit gatal-gatal dan mengencangkan payudara.
Tak hanya itu, lokasi air terjun Sekar Langit seringkali digunakan sebagai lokasi ritual mendapatkan jodoh dengan cara duduk di sebuah batu besar berdiameter 5 meter yang berada di sebelah selatan air terjun sambil membakar dupa atau kemenyan menghadap ke arah timur laut, dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon atau malam Jumat Kliwon.

" Oh,benarkah semua manfaat itu ?.
Semua dikembalikan ke kepercayaan masing-masing, ya.
Dan kita harus tetap menghormati hal itu ".

Hingga sekarang ini, warga meyakini jika bidadari cantik Nawangwulan dan teman - temannya dari khayangan masih seringkali datang dari khayangan untuk mandi dan bermain-main air disana ...

Di saat musim kemarau seringkali terdengar suara ramai sukacita para wanita berada di dalam area air terjun yang didengar oleh banyak warga, namun jika didekati sumber asal suara itu berasal, tidak ditemui seorangpun berada disana.
Di saat hujan reda seringkali sekitar Tlogorejo muncul pelangi indah warna-warni, jika ditelusuri ujung pelangi akan terlihat jatuh tepat di air terjun Sekar Langit.

Pelangi menurut kepercayaan masyarakat Jawa adalah jembatan penghubung antara khayangan dan bumi yang dipergunakan oleh bidadari menuruni bumi.

" Pemandangan alam dan legenda yang sangat menarik, bukan ? ".




Lokasi :
Desa Tlogorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang

Harga Tiket :
Rp. 4.000 
( Info tiket sewaktu-waktu dapat berubah )

Info tambahan :

• Jam operasional  jam 06.00 - 18.00.
• Kegiatan diluar jam operasional diwajibkan melapor dan seijin pengelola terlebih dahulu.

Tips :

• Patuhi peraturan tata tertib dengan baik. Diantaranya tidak memasuki area wisata air terjun jika cuaca sedang hujan, segera keluar area jika turun hujan.
Dan tidak disarankan untuk turun ke area palung air terjun dan aliran sungai di saat musim penghujan.

• Gunakan sepatu sport atau sandal gunung.

• Bawalah perlengkapan payung atau mantol untuk antisipasi turunnya hujan.