Monday, September 17, 2018

Sensasi Petik Buah di Perkebunan Apel Batu

Berlibur ke kota Batu, kota yang kini mengukuhkan diri dengan sebutan Kota Wisata Batu, rasanya kok terasa kurang lengkap jika tak sekalian memilih berlibur ke perkebunan apel.
Pemikiran itu terlintas berulangkali di pikiranku beberapa hari sebelum jadwal keberangkatanku tiba.

Sejak dulu kota Batu memang terlebih dahulu terkenal sebagai sentra perkebunan penghasil buah apel terbesar di Indonesia sebelum namanya kemudian lebih terkenal secara luas setelah kotanya dibangun sejumlah destinasi modern dan keren wisata kekinian berbalut edukasi. 
Karena alasan itulah, aku memasukkan jadwal berlibur ke lokasi perkebunan apel saat berlibur di kota Batu yang hanya berjarak tempuh sekitar 15 kilometer dari kota Malang.

Pencarian beberapa informasi lokasi perkebunan apel kulakukan melalui berselancar di dunia maya, muncul sejumlah nama penyedia jasa paket wisata petik apel di layar perangkatku. 
Satu persatu kutelusuri dan kubandingkan infonya, mulai dari jasa yang ditawarkan sampai dengan kisaran harga. 
Sampai akhirnya aku memutuskan memilih penyedia jasa Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi untuk mengatur liburanku berlibur di perkebunan apel Batu kali ini.


Trip Of Mine
Krauuuk ... , sebuah apel Rome Beauty kugigit

Di kota Batu setidaknya terdapat 3 nama penyedia jasa wisata petik apel cukup populer, diantara ketiganya menawarkan pilihan paket dan harga bervariatif, mulai dari harga Rp. 25. 000 ,_ sampai dengan harga Rp. 150. 000 ,_ . Harga paket variatif tersebut tentunya dengan jualan utamanya adalah sensasi petik buah sendiri langsung dari pohonnya. 

Dari shelter penjemputan, aku dan beberapa wisatawan lainnya untuk tujuan yang sama ke perkebunan apel Batu, dikoordinir oleh pengelola dengan mengunakan sarana transportasi mobil angkutan kota. Kuperhatikan mobil angkutan kota yang digunakan ini merupakan mobil angkutan trayek kota Batu yang dicarter oleh pengelola, terlihat nomor trayek dan tulisan rute jalur tujuan di badan mobilnya berwarna cokelat tua gabungan dengan cokelat muda.


Trip Of Mine
Shelter antar jemput dari dan ke perkebunan apel Batu Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi

Sepanjang perjalanan yang mendaki melewati deretan sejumlah kios pedagang tanaman hias, penginapan harga terjangkau juga pertokoan, setelahnya memasuki sebuah gang kecil di pertigaan berbelok ke arah kiri. Perjalanan waktu tempuh dari shelter ke lokasi perkebunan apel milik Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi tak kurang dari 10 menit.

Lokasi perkebunan apel berada di lereng gunung Panderman dan dari titik lokasi perkebunan seluas beberapa hektar ini, terlihat dengan jelas jika perkebunan apel di Indonesia ini dikelilingi oleh gunung Biru, gunung Arjuna, gunung Kawi dan gunung Banyak tampak berdiri gagah tinggi menjulang dari kejauhan.


Trip Of Mine
Lokasi perkebunan apel 
Jadi bisa dibayangkan, ya jika udara di lokasi perkebunan milik para petani ini terasa sejuk cenderung dingin, meski di pagi hari itu sinar matahari terlihat mulai terik menyilaukan mata dan beberapa hasil foto wajahku terlihat memerah akibat tersengat panasnya sinar matahari,kayak semburat memerah warna buah apel Rome Beauty ..., wkkkwwwk !

Lokasi petik buahnya berpindah - pindah

Kelompok Tani Makmur Abadi atau lebih dikenal dengan singkatan KTMA merupakan suatu wadah gabungan dari para pemilik perkebunan yang tak hanya memanfaatkan lahannya sebagai komoditas penghasil buah semata, tetapi juga memanfaatkan lahannya sebagai wisata petik buah sendiri oleh wisatawan.
Tak hanya perkebunan buah apel yang dijadikan sebagai tujuan lokasi wisata, tetapi juga perkebunan buah lainnya, strawberry dan jeruk. Hanya saja buah strawberry dan jeruk adalah jenis buah musiman, waktu panennya sangat bergantung dengan masanya. 


Hati - hati melintir buahnya, ya

Dengan membayar Rp. 25. 000 ,_ perorangnya, aku dan wisatawan lainnya diperbolehkan memetik dan makan apel di lokasi perkebunan sepuasnya, sekenyangnya ..., berapapun jumlah buah buah apelnya sanggup masuk perut dipersilahkan. 
Asalkan jangan masuk celana hi hi hi ..., apalagi diam - diam di umpetin di dalam kaos. Kalau tiba - tiba saja buah apel jatuh gelinding dari tempat persembunyian di depan penjaga kebun, kan maluuuuu ..., wkwkwkwwwk ! . Don't try this ! . 

Nah, jika wisatawan berkeinginan membawa pulang buah apel sebagai oleh - oleh dapat langsung juga langsung memetik buah apel sendiri dari pohonnya. Hitungannya perkilo dan harga 1 kilonya Rp. 30. 000 ,_ .

Satu hal yang menyenangkan memilih berlibur petik buah sendiri di perkebunan apel Batu melalui penyedia jasa Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi, selain harga tiket paket cukup terjangkau juga sesuai dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya melalui konfirmasi pembelian tiket dan jadwal keberangkatan, jika perkebunan buah yang dijadikan lokasi wisata petik buah sendiri selalu hanya ke lokasi perkebunan buah apel yang memang sudah tua siap petik atau masuk usia panen dan jumlah buah apel yang banyak. 
Maka lokasi perkebunan petik buahnya pun selalu berpindah - pindah ..., tergantung lokasi perkebunan mana yang siap dijadikan lokasi wisata. Jika satu perkebunan apel jumlah persediaan buah apel ranum siap petik telah berkurang, lokasi kunjungan wisatawan akan berpindah ke perkebunan apel lainnya.

Meski berukuran kecil, tapi manis rasanya

Apel Manalagi dan apel Rome Beauty adalah jenis buah apel yang paling banyak ditanam di kebun milik para petani. Keduanya berukuran kecil, tidak berukuran besar seperti badan kamu eh# ... , maksudku seperti bentuk apel merah USA. Meski berukuran kecil, tapi manis rasanya.

Apel Manalagi memiliki warna hijau kekuningan, baunya harum, daging buahnya terasa manis dan keras saat digigit. Sanggup bertahan selama 1 bulan setelah dipetik dari pohonnya.
Apel Rome Beauty memiliki dominasi warna hijau dengan semburat warna merah, daging buahnya terasa manis sedikit masam dan keras renyah saat digigit.

Trip Of Mine
Pedagang penganan olahan buah

Menurut informasi yang kudapatkan dari pembicaraanku dengan salah satu pedagang penganan olahan beragam buah dijadikan selai, syrup dan aneka keripik, yang menggelar dagangannya di depan mobilnya yang diparkirkan di seberang jalan lokasi perkebunan apel, ada 3 jenis buah apel lagi yang dibudidayakan oleh para petani di perkebunan apel Batu selain apel jenis Manalagi dan Rome beauty. Ketiga apel tersebut adalah apel Hwang Lien, apel Hijau dan yang terakhir apel Anna. 
Catat, ..., Anna bukan merupakan singkatan nama dari boneka horror Annabelle, ya ... wwkkkwwwkk !

Trip Of Mine
Krauuuk ..., 1 kali eh# ..., 10 buah lagi ya ... , he he he

Lokasi :
Shelter penjemputan dan kepulangan
Jl. Bukit Berbunga, Sidomulyo, kecamatan Batu, kota Batu.

•  Perkebunan apel Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi
Jl. P. Diponegoro, Gang Puncak Jaya, Tulungrejo, Bumiaji, kota Batu.

Tiket :
Rp. 25. 000 ,_ 
[ Paket wisata petik buah sendiri, makan apel sepuasnya di tempat, transportasi pulang pergi dari dan ke shelter penjemputan ]

Rp. 30. 000 ,_
[ Harga dan minimal per 1 kilo buah apel jika dibawa pulang ]

Tips berlibur di perkebunan apel Batu :
•  Persiapkan tisu basah atau sebotol air mineral untuk mencuci permukaan apel sebelum dikonsumsi di lokasi perkebunan apel. Lokasi tidak menyediakan sarana air.

• Tetap perhatikan cara petik buah yang benar sesuai petunjuk dari pengelola, pangkal tangkai buah dipelintir sampai buah terlepas. Bukan dengan cara ditarik paksa.
Cara tarik paksa akan menyebabkan buah apel yang tumbuh bergerombol di ujung tangkai pohon jatuh berguguran serempak.
Meski buah apel yang terjatuh, sore harinya akan dikumpulkan oleh pengelola untuk ditempatkan di keranjang besar dan setelahnya dibawa ke pengolahan home industry Kelompok Tani Makmur Abadi untuk dijadikan olahan selai, syrup, keripik dan olahan lainnya.

Sunday, September 9, 2018

Menjelajah ke Lokasi 3 Serangkai Candi Sengi

Maps berbasis tehnologi digital kubuka, di suatu pagi hari itu. 
Menggunakan suaraku yang ..., ehm ..., sama sekali tak kedengeran seksi, apalagi serak berat kayak suara seorang dubber trailler aktor film action perfilman Hollywood ..., halaaaaah hi hi hi ..., kumasukkan kata kunci lokasi, Sawangan, dengan menggunakan fitur " OK Google ". 

Tak pakai acara lama, dengan canggihnya layar peta digital langsung terbuka memperlihatkan jalur demi jalur berwarna hijau menuju ke lokasi yang kucari. 
Tanda sorot biru seperti bentuk meteor mini itu bergerak lengkap dengan keterangan waktu, berapa jam dan berapa menit lokasi tujuan ditempuh dengan menggunakan alternatif transportasi mobil atau motor.

Tiga hari setelahnya, perburuan pencarian rute ke arah Sawangan menuju keberadaan lokasi ke 3 serangkai candi Hindu yang terdiri dari candi Lumbung, candi Asu dan candi Pendem, ketiganya disebut sebagai candi Sengi kulakukan.
Kutempuh melalui jalan pertigaan Blabak di dekat pabrik kertas PT. Blabak yang kini sudah tak beroperasional lagi.

Sayangnya, kepintaran maps berbasis tekhnologi digital itu harus mengalami kejadian tak pintar sesaat setelah aku melewati gerbang besar melintang di tengah badan jalan beraspal mulus bertuliskan " Taman Nasional Gunung Merapi ".
Kuperhatikan sinyal operator yang kugunakan beberapa kali naik turun byar - pet tak konsisten, seperti cintamu hilang timbul padaku gitu ..., wwkkwwkk !.

Ya sudahlah tak mengapa, toh bertanya info rute lokasi ke penduduk yang kutemui di pinggir jalan pun juga tak masalah. 
Malah bukan hanya sekali dua kali, loh dengan bertanya ke penduduk setempat setelahnya kudapatkan informasi dan cerita - cerita seru seputaran suatu lokasi wisata yang tak pernah terekspos media. 

Meski berada di lereng gunung Merapi, menurutku kondisi rute perjalanan masih terbilang biasa - biasa saja, tak sulit ditempuh meski perjalanan ditempuh dengan sedikit mendaki.
Setelah melewati daerah Sawangan dan tiba berada di depan pertigaan jalan di daerah yang dinamakan daerah Dukun, sesuai petunjuk maps digital yang kucatat di selembar kertas, aku mulai kebingungan menentukan ke arah rute mana yang benar untuk menuju ke lokasi keberadaan 3 serangkai candi Sengi ..., lurus sajakah, atau berbelok ke arah paling kanan, atau ..., melalui rute jalan yang berada di tengah ?.

Daripada kebingungan lama memikirkan ke arah rute mana yang benar, hanya menghabiskan waktu percuma, segera kuputuskan mengambil rute ke arah lurus saja, rute jalur menuju ke arah Selo, kota Boyolali.
Dan untuk memastikan tak salah pencarian arah rute terlalu jauh, aku mampir di warung makan dan bertanya disana. 
Rute lokasi candi Lumbung Sengi, candi pertama yang kutanyakan dan seperti mendapatkan petunjuk tak terduga sebelumnya di dalam hati ..., kalau ternyata rute lurus yang kuambil adalah memang tepat adanya, tak salah arah.

Pencarian ke lokasi Candi Lumbung Sengi

Sesuai petunjuk rute yang diberikan oleh pemilik warung makan dan tak jauh dari lokasi warung makan itu, aku memasuki gerbang dusun Tlatar. 
Kuikuti terus jalan desa melewati deretan rumah sederhana penduduk desa sambil melihat beberapa aktivitas warga di halaman rumahnya.
Seperti pada umumnya warga desa yang selalu ramah menyapa dan mengajak mampir dirumahnya, meski belum pernah kenal sama sekali ..., begitupun juga saat kedatanganku memasuki dusun Tlatar ini. 
Berulangkali aku melempar senyum manis balik, setelah diajak senyum ..., eh* tapi aku bukan tebar pesona loh, ya ha ha ha.

Keasikan senyam - senyum terus meladeni senyum ramah warga sambil melajukan kendaraan mengikuti  jalan setapak, aku sampai lupa petunjuk dari pemilik warung tadi kalau lokasi candi Lumbung Sengi itu sebenarnya tak jauh dari gapura dusun !.
Kebablasan jauh sampai pertengahan desa dan celingukan di kanan kiri jalan persawahan, tak kunjung kutemui lokasi keberadaan candi ..., sampai akhirnya bertemu dengan sepasang petani dan bertanya dengan mereka. 
Jawabnya ?, " Laaah ..., itu candinya kan di dekat tugu yang sampeyan tadi lewati, mas. Ada di pinggir jalan, kok ".

Kayak ditampar, dijelaskan begitu aku malunya bukan main. Wajahku langsung terasa panas, kalau seandainya saat itu kusempatkan diri nengok cermin, pastilah wajahku merah padam seperti tampilan kepiting rebus ... !.
Gara - gara terus tersenyum manis tebar pesona, siiih  ..., makanya kebablasan arah ..., ha ha ha.

Agar maluku, eh maksudnya malunya aku hilang, aku cepat - cepat memutar balik arah kendaraanku dan segera berbalik kembali ke arah tugu, jalan masuk dusun.
Dan ternyata benar saja, kalau lokasi candi Lumbung Sengi itu adanya memang di tepi jalan dusun dan tak jauh dari tugu, tak kurang dari 5 meter ... .


Trip Of Mine
Ternyata, lokasi baru candi Lumbung berada tak jauh dari gapura dusun

Pantesan tanah lokasi candinya tinggi dari jalan setapak, sih dan posisi candinya berada di sudut pelataran halaman yang agak luas, makanya tadi ngga kelihatan ... , yeaayy masih ngeles lagi.

Lokasi candi Lumbung, orang biasanya menyebutnya dengan candi Lumbung Sengi ..., kenapa alasannya disebut dengan candi Lumbung dilengkapi dengan kata Sengi dibelakangnya ..., sstt ikuti terus membacanya sampai akhir ya, guys ... he he he ..., sekarang ini merupakan lokasi baru atau pindahan dari lokasi aslinya yang berada di ketinggian tebing sungai Apu.
Situs cagar budaya candi Lumbung diambil tindakan dipindahkan dari lokasi aslinya untuk tindakan penyelamatan dari kerusakan akibat bencana lahar dingin pasca erupsi dahsyat gunung Merapi pada tahun 2010 lalu, tebing tempat lokasi asli candi Lumbung Sengi berdiri sangat rawan bencana longsor.

Di lokasinya yang baru ini, candi Lumbung Sengi ditempatkan di desa Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan.


Trip Of Mine
Lokasi baru candi Lumbung berada tepat di pinggir jalan dusun Tlatar perkampungan warga

Saat masih berada di lokasi aslinya pun, bentuk bangunan candi dengan lebar 8, 70 meter persegi dan tinggi 2, 5  meter persegi ini kondisinya memang sudah tak lagi utuh sempurna, bagian atap candi telah rusak akibat terjadinya bencana erupsi dahsyat gunung Merapi ribuan tahun silam.
Material vulkanik telah mengubur candi Lumbung Sengi ratusan tahun di dalam tanah.
Candi ini merupakan candi Hindu, peninggalan kerajaan dinasti Wangsa Sanjaya. 


Trip Of Mine
Candi Lumbung tampak dari depan

Bangunan candi menghadap ke arah timur, dilengkapi dengan tangga dan pintu masuk. Di bagian samping atau pipi tangga kuperhatikan terdapat relief hiasan sulur gelung yang keluar dari mangkuk memiliki cakar, bagian ujung tangga dihiasi relief Makara berbentuk kepala ikan dan di dalam mulut menganganya terdapat hiasan berupa burung.
Dibagian atas pintu terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah dan dibagian dalam tengah candi terdapat sumur kering berbentuk kotak, tersusun dari tumpukan batuan candi dan di sekeliling bagian atas sumur dilengkapi papan pijakan.

Trip Of Mine
Sumur candi Lumbung

Bagian atap candi yang telah hilang ditutupi dengan seng plastik untuk menghindari masuknya air hujan memenuhi sumur keringnya.


"Trip Of Mine"
Duduk anteng di atas candi, asik juga ...

Karena ditempatkan di lokasi baru di dusun Tlatar, candi Lumbung Sengi ini sekarang berada disekeliling rumah penduduk. Berdampingan asri dengan kegiatan keseharian warga dusun Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan.

Pencarian ke Candi Sengi berikutnya

Setelah mengamati relief dan badan candi Lumbung, juga melihat aktivitas hilir mudik warga di jalan setapak dusun yang tampak jelas dilihat dari ketinggian badan candi, pencarian rute kulanjutkan ke lokasi rangkaian 2 candi Sengi berikutnya, candi Asu Sengi dan candi Pendem ... .


" Awalnya, kupikir jika rangkaian 3 candi Hindu peninggalan kerajaan Wangsa Sanjaya ini letaknya berada di lokasi sangat berdekatan satu sama lain, atau berada dalam satu komplek "

Kali ini aku bertanya arah rute ke candi selanjutnya ke seorang bapak berusia cukup uzur yang kebetulan berjalan mengarah tempat aku menuruni halaman pekarangan candi. 
Dari jauh bapak yang sedang memanggul keranjang setumpuk sayuran di atas kepalanya yang ditutupi semacam sorban bermotif batik itu terlihat tersenyum sumringah ke arahku. 

Konsen Himawan ..., konsen Himawan ..., kalo ngga ..., kamu bakalan gagal fokus lagi, nyasar arah lagi, muter arah lagi ..., gegara sibuk tersenyum sok manis ha ha ha.

Dengan sikap nyanak nyedulur [ Bahasa Jawa, kekeluargaan ] dan aksen medok, bapak itu menjelaskan arah rute menuju lokasi yang kumaksud menggunakan bahasa gabungan, bahasa Jawa diselingi bahasa Indonesia, jika rute yang benar untuk menuju keberadaan lokasi candi Asu dan candi Pendem melalui rute tempuh dari pertigaan jalan di daerah Dukun kembali, setelahnya melalui jalan yang berada di tengah, bukan melalui jalur ke arah kanan.

Kuikuti rute petunjuknya untuk melalui jalan tengah dengan kondisi jalannya setengah menanjak dan tak lama setelahnya bertemu dengan lokasi jembatan gantung Kali Adem.
Karena kedatanganku menggunakan kendaraan bermotor, mau tak mau harus melewati jembatan gantung yang terbuat dari susunan plat baja itu yang hanya dikhususkan dilalui oleh sepeda motor dan hanya sanggup dilalui oleh 2 kendaraan motor berpapasan. Sedangkan kendaraan roda empat melalui jalan berbeda, jalan beraspal dan melingkar yang berada di dekatnya.

Bagaimana sensasi saat melewatinya ... ?, ya, seru plus deg - degan juga rasanya.
Melihat ke bawah aliran sungai tampak cukup dalam beberapa meter dari atas jembatan, sementara susunan plat baja mengeluarkan suara berdentum cukup keras saat dilalui. Dentuman suara itu semakin terdengar kencang saat 2 kendaraan motor berpapasan.


Trip Of Mine
Jembatan gantung Kali Adem

Untuk mengambil gambar kondisi jembatan gantung, aku nekad memberanikan diri berdiri di tengah tanjakan jalan berbelok. Cepat - cepat kuarahkan kamera ke arah jembatan. Kalau tiba - tiba saja muncul kendaraan dari belokan jalan dengan kecepatan melaju tinggi, aduh ..., bisa berbahaya !.

Tak berjarak cukup jauh dari jembatan gantung, terlihat papan petunjuk lokasi berukuran kecil di tepi jalan. 
Papan petunjuk lokasi candi Pendem yang pertama terlihat, setelah itu papan petunjuk lokasi candi Asu.
Karena keberadaan candi Pendem tak terlihat dari pinggir jalan, kuputuskan untuk terlebih dahulu mendatangi lokasi candi Asu.

Lokasi candi Asu Sengi berada di pinggir jalan

Berbeda dengan lokasi baru penempatan candi Lumbung Sengi yang berada di perkampungan warga, pencarian lokasi ke candi Asu Sengi ini tak perlu pakai aksi perjuangan maksimal, apalagi pakai acara nyasar kebablasan sampai ke jalan di pertengahan persawahan segala hi hi hi ..., karena lokasi keberadaannya memang tepat di pinggir jalan desa dan lokasinya yang hampir berhadapan dengan sekolah dasar negeri Sengi I, membuatnya mudah untuk ditemukan.


Trip Of Mine
Candi Asu dilihat dari seberang jalan

Candi Asu Sengi tepatnya terletak berada di desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.
Nama asli candi Hindu ini sampai sekarang belum diketahui oleh team arkeologi, sementara penamaannya dengan sebutan candi Asu dikarenakan saat pertama kali diketemukan kembali oleh warga setelah terkubur di dalam tanah dan material vulkanik gunung Merapi selama ratusan tahun, diketemukan badan patung Lembu Nandhini yang tak utuh, mengalami kerusakan dan jika dilihat lebih menyerupai seekor binatang asu [ Bahasa Jawa, anjing ].


Trip Of Mine
Candi Asu

Candi Asu Sengi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran tinggi kaki candi 2, 5 meter dan tinggi tubuh candi 3, 5 meter.
Saat diketemukan bagian atap candi telah hilang dan hanya menyisakan sedikit dinding candi.


Trip Of Mine
Tangga candi Asu

Kulihat di keempat badan candi terdapat hiasan flora dan tampak relief Kinara - Kinari, makhluk penjaga nirwana menghiasi pilar mengitari candi. 


Trip Of Mine
Relief di badan candi Asu

Ditengah bagian atas candi juga terdapat sumur kering berbentuk kotak dengan kedalaman mencapai 4 meter.
Dahulu kala candi Asu Sengi merupakan bangunan candi untuk melakukan pemujaan kepada para dewa.

Beberapa gambar sudut candi Asu Sengi kuambil melalui kameraku dengan leluasa karena saat itu di lokasi memang tak ada seorangpun petugas terlihat bertugas disana, yang tampak hanyalah pagar pembatas halaman candi terbuka dan sebuah buku kunjungan tamu tergeletak di tangga candi.

Blusukan cari lokasi candi Pendem

Perjalanan kulanjutkan dengan berjalan kaki setelah mendatangi lokasi candi Asu Sengi melewati jalan setapak tanah tanpa diplester semen, sesuai rute papan petunjuk arah lokasi ke candi Pendem Sengi.
Kendaraanku kuparkirkan di seberang jalan depan lokasi candi Asu Sengi.
Melewati jalan setapak tanah yang bersebelahan dengan sungai kecil dan deretan tanaman jati ini, ternyata merupakan akses jalan memasuki perkampungan desa.


Berbeda dengan lokasi candi Lumbung Sengi dan candi Asu Sengi yang berada di pinggir jalan, lokasi keberadaan candi Pendem Sengi memang terletak berada jauh dari pinggir jalan.

Tanpa terlihat adanya tanda papan petunjuk ke arah mana lokasi candi Pendem berada di dalam perkampungan desa dan saat itu suasana perkampungan desa terlihat sepi, membuatku kebingungan seorang diri memastikan rute ke arah mana.
Beruntungnya, dari jarak agak lumayan dekat aku melihat seorang bapak muda sedang membersihkan semak - semak di sekitar pohon bambu berukuran besar. 
Dan dari bapak itulah, akhirnya rute ke arah candi Pendem Sengi kudapatkan.

Trip Of Mine
Blusukan mencari rute ke candi Pendem

Rutenya ternyata tepat melalui deretan antara rerimbunan pohon bambu !.
Blusukan terasa semakin seru setelah mulai melewati pematang sawah berjarak cukup jauh ditempuh dengan jarak keberadaan lokasi candi ..., dan dari atas pematang sawah lokasi keberadaan candi Sengi sama sekali belum terlihat.

Setelah mengitari persawahan, akhirnya lokasi candi Pendem Sengi terlihat. 
Lokasinya berada di permukaan tanah yang lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan karena alasan inilah penamaan candi Pendem diberikan oleh warga sekitar.


Trip Of Mine
Pemandangan sekitar candi Pendem indah, ya ...

Sama seperti candi Lumbung Sengi, nama asli candi Pendem Sengi sampai sekarang ini belum diketahui secara pasti.
Lokasi candi Pendem Sengi tepatnya juga berada di desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.

Saat aku memasuki halaman candi melalui pagar teralis terbuka tanpa digembok, tak kulihat seorang pun berada disana, hanya aku seorang diri berada di area candi yang dikepung persawahan ini.

Kuperhatikan bangunan candi Pendem tanpa adanya atap, bagian atap ikut mengalami kerusakan akibat erupsi gunung Merapi ribuan tahun silam.
Candi berbentuk bujur sangkar dengan panjang sekitar 11, 9 meter dan lebar 11, 9 meter, menghadap ke arah barat.


Trip Of Mine
Candi Pendem dilihat dari ketinggian dataran, lokasinya berada di dataran tanah yang lebih rendah


Trip Of Mine
Relief di badan candi Pendem

Di bagian badan candi terdapat relief flora menaungi burung, relief sulur tanaman dan relief Gana sebagai perwujudan dewa Syiwa.
Sama seperti kedua candi yang sebelumnya kudatangi, candi Pendem Sengi ini di bagian atasnya juga terdapat sumur kering.


Trip Of Mine
Sumur candi Pendem

Meski letaknya berada di dataran yang lebih rendah dari dataran tanah sekitarnya, candi ini tak terendam air di saat musim penghujan tiba, karena setiap area candi sejak dahulu kala telah dirancang bangun dengan sempurna sebelum bangunan candi didirikan. 

Ketiga candi Lumbung, candi Asu dan candi Pendem merupakan peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno dari dinasti Wangsa Sanjaya dan ketiganya didirikan pada masa kepemerintahan raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala tahun 880 Masehi, hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan prasasti di sekitar lokasi candi. Sejarah pendirian ketiga candi tertulis di prasasti Sri Manggala I angka tahun 874 Masehi, prasasti Sri Manggala II angka tahun 876 Masehi, prasasti Kurambitan I dan prasasti Kurambitan II.
Kini kesemua prasasti tersebut disimpan di Museum Candi Prambanan, Yogyakarta.

Lokasi ke 3 serangkai candi Hindu ini berada di lereng gunung Merapi dan terletak berada pada ketinggian 650 meter di atas permukaan air laut.


Trip Of Mine
Yeayyy, akhirnya berhasil juga menjelajahi lokasi 3 serangkai candi Sengi ...

Kenapa tiga serangkai candi tersebut disebut dengan candi Sengi di belakang nama candinya, dikarenakan lokasi ketiganya berada di kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.
Dan sekarang setelah lokasi candi Lumbung dipindahkan, menempati lokasi baru di dusun Tlatar ..., hanya candi Asu dan candi Pendem yang tetap masih berada di kelurahan Sengi.

Lokasi :
▪ Candi Lumbung Sengi
Dusun Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang

▪ Candi Asu Sengi dan candi Pendem Sengi
Desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang

Tiket :
Tidak dikenai beaya
[ Kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]

Saturday, September 1, 2018

Candi Umbul : Situs Pemandian Air Hangat

Kerajaan Medang atau disebut juga dengan kerajaan Mataram kuno adalah sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya di pulau Jawa pada abad ke 7 Masehi. 
Penamaan dengan sebutan kerajaan Medang setelah lokasi kekuasaannya berpindah dari wilayah Jawa Tengah ke wilayah Jawa Timur akibat adanya situasi bencana alam dahsyat erupsi gunung Merapi, gunung berapi yang masih terus aktif kegiatan vulkanologinya hingga sekarang ini, meluluhlantakkan wilayah Jawa Tengah dan material vulkaniknya ikut menghancurkan dan mengubur sejumlah bangunan megah karya dari 2 dinasti besar, Wangsa Sanjaya beraliran agama Hindu Syiwa dan Wangsa Syailendra beraliran agama Buddha Mahayana.

Tak hanya candi Borobudur mahakarya dari Wangsa Syailendra saja di kabupaten Magelang yang terkubur selama ratusan tahun akibat erupsi vulkanik dahsyat gunung Merapi, gunung yang membatasi antara kota Yogyakarta dan kota Magelang, tapi juga mengubur candi Umbul, candi pemandian mata air hangat alami peninggalan Wangsa Syailendra yang kudatangi berlibur kali ini. 


Trip Of Mine
Situs cagar budaya candi Umbul.
Bagian tengah kolam pertama terdapat umpak relief lingga, diduga dahulu kala digunakan oleh para raja sebagai tempat bertapa

Dan sekarang, berlibur ke candi Umbul Magelang tak hanya mengenal wisata budaya semata tetapi juga sebagai wisata umum dikarenakan fungsinya yang dahulu kala dipercaya sebagai tempat kolam pemandian para pangeran dan putri raja juga petirtaan para raja dalam upacara keagamaan, digunakan sebagai kolam rendam untuk masyarakat umum.

Sengaja datang pagi hari di candi Umbul untuk melihat ...

Alarm aplikasi penanda waktuku berbunyi tepat jam 05. 00 subuh dini hari, tandanya harus segera bangun dari tempat tidurku dan segera mempersiapkan diri untuk bebenah, selanjutnya berangkat menuju ke destinasi situs wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul di Grabag, kabupaten Magelang. 

Jaket tebal, sarung tangan dan syal kugunakan selama di perjalanan untuk antisipasi udara dingin dan kebetulan saat itu suasana masih tampak berkabut menandakan temperatur udara sedang turun.
Rute perjalanan menembus kabut kulalui melewati daerah Secang di jalan raya utama rute kota Magelang - kota Semarang, setelahnya melalui Grabag dan mengikuti papan rute arah petunjuk ke desa Kartoharjo. 
Sebenarnya lokasi destinasi situs wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul lebih cepat ditempuh untuk tiba di tujuan melalui daerah Pringsurat, dengan jarak tempuh hanya sekitar 600 meter dari jalan raya utama kota Magelang - kota Semarang melewati perkampungan penduduk, tapi aku sengaja memilih melalui rute jalur Grabag untuk melihat pemandangan persawahan dan jejeran pegunungan di sepanjang perjalanan.
Karena sengaja memilih melewati rute perjalanan jalur memutar ini jarak tempuh tiba di lokasi lebih lama dan memang sengaja agar tiba di lokasi tepat jam 06. 00 saat jam operasional dimulai.

Kedatanganku berlibur ke destinasi situs  wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul yang diperkirakan oleh para arkeolog sama usia pembangunannya dengan candi Selogriyo di Magelang, candi Gedong Songo di Ungaran dan candi Dieng di kabupaten Banjarnegara, merupakan kunjunganku yang telah kesekiankalinya, tapi baru kali ini aku sengaja datang berlibur kesana dengan jam keberangkatan pada pagi hari untuk melihat ..., permukaan air kolam rendam tampak dipenuhi uap tebal, seperti mendidih !.
Keunikan fenomena ini tak akan tampak seiring waktu dengan sinar matahari mulai meninggi.


Trip Of Mine
Jalan setapak menuju kolam pemandian dengan taman asri


Trip Of Mine
Gapura mengesankan jaman purbakala

Jam 06. 00 tepat aku tiba di lokasi destinasi situs wisata cagar budaya pemandian air hangat candi Umbul Magelang.
Sepi ?, tidak juga. 
Ternyata didalam areanya yang terdiri dari 2 kolam air hangat peninggalan purbakala telah terlihat 4 cowok sedang berendam, sepertinya mereka datang bersamaan karena mereka terlihat kompak membidik kamera bergantian diselingi dengan canda tawa, juga tampak 1 ibu setengah baya datang sendirian tak berselang waktu lama dengan waktu kedatanganku.

Dimanakah candinya ?

Untuk sebagian orang yang belum pernah mendengar nama destinasi situs wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul dan belum kesampaian berlibur kesana pasti mengira jika bangunan candi satu ini seperti struktur bangunan candi pada umumnya, berdiri tinggi menjulang dan gagah.
Tapi candi yang terletak berada di lembah dan dikelilingi perbukitan juga persawahan ini, sekarang ini hanya menyisakan 2 buah kolam rendam air hangat alami disusun dengan batuan andesit berukuran persegi empat cukup besar, masing - masing berukuran sekitar 12, 5 meter x 7, 15 meter di kolam pertama dan berukuran sekitar 8, 5 meter x 7 meter di kolam kedua.


Trip Of Mine
2 kolam pemandian air hangat candi Umbul.
Kolam kedua dibuat lebih rendah dari kolam pertama


Trip Of Mine
Relief Kalamakara berada di kanan dan kiri undakan tangga

Aliran air rendam kolam pertama dialirkan melalui celah pemisah ke kolam rendam kedua.
Diduga struktur bangunan candi pada umumnya telah musnah, ini dibuktikan dengan diketemukannya sisa - sisa relief candi yang ditumpuk di beberapa lokasi di pinggir kolam rendam. 
Tampak disana relief gong berukuran besar, hiasan Kalamakara, arca Ganesha, potongan relief tubuh yang hilang bagian atasnya dan beberapa ornamen candi lainnya.


Trip Of Mine
Beberapa reruntuhan ornamen candi berada di tepi kolam pemandian

Di dalam kolam rendam air hangat berwarna bening sedikit kehijauan yang mengandung zat belerang dan zat Saphopryl bagus untuk kesehatan kulit juga mengobati reumatik ini terdapat beberapa umpak berupa arca lingga dan yoni. 


Trip Of Mine
Uap air panas di permukaan kolam pemandian seiring matahari meninggi tak tampak lagi ...

Di sela - sela bebatuan landasan kolam ditumbuhi subur lumut berwarna hijau dan terasa lembut saat dipijak terselip gelembung - gelembung air muncul dari dalam tanah.
Gelembung - gelembung air ini terlihat sangat jelas dan terus mengalir deras tanpa pernah berhenti sejak dari ribuan tahun silam ..., hingga sekarang ini.

Di tengah kolam pertama, tepat sejajar dengan tangga berhiaskan Kalamakara di kedua sisinya, berdiri 1 arca lingga rata di bagian atas permukaannya. Diduga dahulu kala arca lingga tersebut dipergunakan oleh para raja melakukan semedi dalam upacara keagamaan.

Awalnya aku ragu untuk berendam ...

Saat aku tiba di lokasi destinasi situs wisata cagar budaya pemandian air hangat candi Umbul, udara pagi masih menyisakan dingin yang cukup membuat badan menggigil kedinginan meski jaket tetap terus kukenakan.

Aku memilih terlebih dahulu mengamati bentuk reruntuhan relief candi yang diletakkan di samping kolam dan memotret keseluruhan areanya.
Awalnya aku ragu untuk berendam ..., tapi kok sayang juga jika telah sampai di lokasi malah membatalkan diri berendam, udara yang terus terasa dinginlah yang membuatku ragu untuk segera berendam menikmati manfaat zat air mineralnya. 
Airnya selain dipercaya mengobati penyakit kulit, rematik, pegal - pegal juga dipercaya masyarakat setempat untuk kebugaran dan kekenyalan kulit.

Setelah suasana lokasi sepi, hanya ada aku dan ibu setengah baya yang tampak enggan keluar berendam dari kolam pertama, aku memutuskan untuk segera berganti property untuk membuat dokumentasi foto untuk pelengkap artikelku ini dan suatu kebetulan juga akhirnya suasana terlihat sepi karena aku lebih menyukai foto di suatu lokasi yang tampak tak terlihat crowded penuh orang di latar belakang foto.


Trip Of Mine
Air mineralnya bening kehijauan pengaruh dari lumut lembut di dasar kolamnya

Kain traditional produksi pengrajin rumahan sekitar candi Mendut kupilih untuk property foto kali ini dan memilih tak mengenakan baju agar nuansa etniknya terlihat, meski terus terang sebenarnya saat itu aku ..., ng* ..., mengigil kedinginan berkali - kali wwkkwwkkk !.

Lokasi :
Jalan. Candi Umbul, Grabag, Perkebunan, Kartoharjo, Kabupaten Magelang

Tiket :
Rp. 8. 000 ,_ , berikut beaya parkir
[ Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah ]

Jam Operasional :
06. 00 - 17. 00


Tips berlibur di candi Umbul :
▪ Perhatikan jam buka dan jam tutup operasional, terutama untuk yang tidak membawa kendaran pribadi, karena tidak tersedia sarana angkutan umum melewati depan lokasi.
Sarana transportasi umum berupa bus besar jurusan Magelang - Semarang hanya berada di jalan raya utama dan hanya beroperasional mulai dari jam 05. 00 sampai jam keberangkatan terakhir jam 17. 00.

▪ Di sekitaran lokasi tidak terdapat sarana penginapan.
Jika datang dari luar kota dan memilih bermalam di Magelang, sebaiknya terlebih dahulu menentukan pilihan bermalam di hotel atau losmen yang banyak terdapat di kota Magelang.

▪ Tak perlu khawatir tentang makanan dan minuman.
Di dalam komplek tersedia warung makan menyediakan beberapa menu pilihan, hanya sayangnya tak menyediakan kuliner atau oleh - oleh khas Magelang.


Monday, August 20, 2018

Museum Angkut - Tak Hanya Mobil, Pesawat Tempur pun Ada

Letak lokasi destinasi Museum Angkut, museum transportasi pertama dan terbesar di benua Asia yang dikemas secara modern dan terkesan sebagai wisata kekinian ini berada di lereng gunung Panderman, lokasinya berada tak jauh dari lokasi destinasi Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan destinasi wisata Klub Bunga.
Tepatnya berada di satu deret dengan keberadaan lokasi destinasi Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan lokasi destinasi Klub Bunga, sedangkan akses masuk menuju ke lahan parkir Museum Angkut berada tepat di depan putaran jalan ke arah lokasi wisata kekinian berbalut edukasi Dino Mal dan arah menuju ke pusat tengah kota Malang.


Trip Of Mine
Museum Angkut, museum transportasi pertama dan terbesar se Asia

Ke museum yang tak hanya memajang koleksi transportasi motor, tapi juga memajang pesawat tempur inilah lokasi liburanku selanjutnya saat berada di kota wisata Batu.

Kulineran dulu di float market

Sesampaiku di pelataran parkir Museum Angkut di satu siang menjelang sore hari itu, udara kota Batu terasa cukup dingin di kulit, meski cuaca terlihat tengah cukup panas terik.
Namun temperature udaranya tak membuat tubuhku terasa menggigil karena temperature udara kota Batu dan Malang nyaris mirip dengan keseharian temperatur udara di kotaku.

Dari arah kedatangan pelataran parkir, zona pertama museum Angkut yang dilalui dengan jalan kaki menuruni selasar tangga terbuat dari lempengan besi adalah zona food court yang areanya ditata dengan konsep Float Market atau pasar terapung traditional.
Deretan kios -kios makanan, minuman, pusat oleh - oleh dan souvenir yang ditata dengan konsep traditional terlihat rapi dan asri di pinggir kiri kanan jalur pejalan kaki, berbatasan dengan kolam yang dapat dikelilingi areanya dengan menyewa perahu Rp. 10. 000 ,_ perorangnya.
Di bagian tengah kolam juga terdiri dari beberapa kios pedagang kuliner yang selain dapat ditempuh oleh pengunjung dengan berjalan kaki melewati jembatan penghubungnya, juga dapat ditempuh pengunjung menaiki perahu dengan menepikan perahu ke sisi restorannya.
Agar staminaku tak kelelahan bersiap untuk mengelilingi keseluruhan area Museum Angkut seluas 3,8 hektar yang dinobatkan sebagai The Best Museum 2017 ini, aku memilih beristirahat untuk duduk sejenak di salah satu kios kuliner Float Market dengan memesan bakpao isi ayam keju seharga Rp. 8. 000 ,_ dan sebotol mineral water, sembari memandangi laju perlahan perahu yang ditumpangi wisatawan mengelilingi kolam.


Trip Of Mine
Floating market

Setelah puas duduk santai nongkrong di salah satu kios kuliner di tepian kolam, perjalanan kembali kulanjutkan ke arah pintu masuk ruangan Museum Angkut dengan melewati selasar arah naik.
Jadi, area food court Float Market ini memang sengaja dibuat lebih rendah dibandingkan dengan lahan area parkir dan area Museum Angkut selanjutnya, mengesankan seolah area food court Float Market berada di sebuah daratan cekungan berukuran besar.
Hanya beberapa langkah setelahnya, aku tiba di halaman ticket counter cukup luas dan terlihat ada kapal selam dan sebuah helikopter dipajang di halamannya.


Trip Of Mine
Helikopter di halaman ticket area

Setiap pengunjung yang hanya hang-out atau nongkrong kumpul seru di area food court Float Market dan halaman ticket counter, tak dikenai beaya masuk.

Selebihnya untuk memasuki ruangan display Museum Angkut yang terbagi beberapa gedung dan zona, dimulai dari area Plaza setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp. 70. 000,_ dan jika membawa peralatan kamera atau handycam dikenai beaya tambahan sebesar Rp. 30. 000,_ .
Gelang sticker dipasang dilingkarkan di pergelangan tangan oleh petugas ditanganku saat memulai memasuki area dan wajib terus dikenakan saat berada di dalam area Museum Angkut.

Naik ke menara pandang

Memasuki lantai pertama area indoor Plaza, aku sudah berdecak kagum dengan koleksinya. 
Disana terpajang tak hanya belasan mobil dan sepeda klasik apik terawat sangat baik terlihat kinclong, seperti : Ford Corner, Chevrolet Series, Midget Cars dan Vintage Racing, tapi juga terdapat replika beberapa kereta kencana milik keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dilengkapi replika kuda Eropa, juga helikopter dan pesawat terbang !.
Ternyata, helikopter buatan Amerika Serikat tahun 1958 tersebut merupakan milik presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Beragam kendaraan dilengkapi dengan keterangan dan sejarahnya dan beberapa koleksi diantaranya dikelompokkan dengan tali pagar pembatas berwarna merah.


Trip Of Mine
Sepeda motor di Plaza lantai 1

Lantai kedua Plaza dinamakan Garbarata, disana terpajang sejumlah koleksi, diantaranya : kereta traditional karapan sapi dari Madura lengkap dengan replika sapi besar didepannya, kereta angkut traditional dari negara China yang ditarik dengan tenaga manusia, motor pedicab dan seabrek koleksi menarik lainnya untuk diamati dan tentu saja, apalagi kalau bukan untuk ..., spot berfoto ..., he he he.

Di lantai 2 Plaza ini terpajang 1 mobil listrik produksi Indonesia yang dinamakan Tucuxi, merupakan mobil listrik produksi Indonesia yang didesain oleh Daniel Suryatama asal Pacitan yang merupakan mantan karyawan pabrik mobil Chrysler di Amerika. Sayangnya dalam uji coba, mobil berwarna merah mentereng yang disebut ' si lumba - lumba ' ini mengalami kecelakaan tragis di wilayah Plaosan.


Trip Of Mine
Display eye catching mobil balap F1.
Ternyata, rute ke zona - zona selanjutnya melalui lorong kecil di dekat area mobil balap F1 ini ...

Dan terdapat display mobil balap Formula One atau lebih terkenal dengan sebutan F1, area kerennya didominasi warna merah dan putih atraktif, dilengkapi dengan informasi dan display foto - foto menarik, juga dilengkapi layar simulator mengendarai kecepatan mobil balap F1 di lintasan.

Setelah mengitari Garbarata area Plaza lantai 2, kulanjutkan menaiki lantai 3 dengan sengaja tak menggunakan sarana lift, tapi memilih dengan menaiki tangga untuk mengamati koleksi foto - foto dan informasi tentang keberagaman jenis transportasi.


Trip Of Mine
Pesawat terbang Boeing 737 - 200 nangkring di lantai teratas Plaza

Lantai 3 merupakan area yang dinamakan Runway 27 Airport dan merupakan lantai tertinggi gedung Plaza, disana kesemua areanya terpajang koleksi tentang sarana transportasi penerbangan.
Tak tanggung - tanggung, satu pesawat berukuran besar jenis Boeing 737 - 200 di display nangkring diatas gedung Plazanya.


Trip Of Mine
Pesawat tempur TomaHawk, keren !

Tak kalah menarik dan jadi buruanku lokasi berfoto selanjutnya adalah ..., pesawat tempur berukuran kecil, TomaHawk.


" Keren abis deh pesawat TomaHawk satu ini !. Moncong pesawatnya dilukis gambar ekspresi wajah ikan hiu menyeringai mempertontonkan deretan runcing gigi mautnya. Bodi pesawat dilukis loreng, motif khas angkatan perang "

Di area Runway 27 Airport di dekat pesawat tempur TomaHawk ini disediakan fasilitas penyewaan kostum penerbang lengkap dengan helm, cukup dengan harga sewa Rp. 10. 000 ,_ dapat digunakan sebagai property foto ala crew penerbang betulan.


Trip Of Mine
Pelataran lantai teratas Plaza dilengkapi helipad, roket, menara gardu pandang dan wahana permainan Fun Wheel

Masih di halaman teratas Plaza, terdapat sarana wisata permainan keluarga Happy Fun Wheel dengan beaya sewa Rp. 25. 000 ,_  dan terdapat menara gardu pandang yang dapat dinaiki tanpa dikenai beaya tambahan.


Trip Of Mine
Menara gardu pandang

Dari atas menara gardu pandang yang berdampingan dengan display roket berukuran besar berwarna silver dan hitam, pemandangan kota wisata Batu dapat dilihat dengan leluasa dari ketinggian 850 mdpl.


Trip Of Mine
Dari atas ketinggian menara gardu pandang yang bersebelahan dengan badan roket, pemandangan kota wisata Batu terlihat jelas

Kebingungan rute

Selesai mengitari lantai 3 Runway 27 Airport, aku menebak - nebak sendiri sebenarnya melalui ke arah mana untuk tiba di area Museum Angkut selanjutnya, atau keseluruhan ruangan museumnya hanya berada di gedung Plaza ini saja.
Kuturuni kembali ke Plaza lantai 1 dan bertanya ke petugas yang bertugas memasang gelang sticker di tangan, kutanyakan sebenarnya melalui ke arah mana untuk menuju ke area oudoor dan indoor selanjutnya setelah gedung Plaza.
Dengan sigap dan ramah, petugas menjelaskan untuk ke area berikutnya adalah melalui lantai 2, aksesnya persis berada di dekat area display mobil Formula F1 dan berukuran kecil seperti lorong.
Pantas ..., dari tadi kucari - cari aksesnya tak ketemu ..., ha ha ha.

Dari zona ke zona

Setelah berhasil menemukan rute ke area outdoor dan indoor selanjutnya, zona berikutnya yang kulewati adalah zona Petjinan.


Trip Of Mine
Zona Petjinan

Di zona Petjinan display areanya mewakili kota Batavia, lengkap dengan stasiun Kota, museum Fatahillah dan jejeran fasad rumah traditional ikonik China berwarna merah disertai pernak - pernik apik dan pelabuhan Sunda Kelapa.


Trip Of Mine
Display fasad rumah traditional China


Trip Of Minr
Mobil keren Tuk-tuk ikut didisplay di zona Batavia


Trip Of Mine
Display pedati di area pelabuhan Sunda Kelapa

Di jalannya terpajang mobil antik, truck klasik Mercedes Benz produksi tahun 1959, pedati juga mobil khas Thailand, Tuk - tuk.

Rute selanjutnya melalui zona Amerika, zona Eropa, zona istana Buckingham, zona Las Vegas dan zona Hollywood.


Trip Of Mine
Taman apik zona Buckingham Palace

Di zona istana Buckingham setting areanya dibuat terkesan eksklusif, bagaimana tidak jika areanya dihiasi ruangan indoor wah ..., mulai dari display puluhan mobil dan tokoh film terkenal mister Bean, banner tokoh personel band legendaris dunia The Beatles, 2 patung tentara kerajaan Inggris Queen Guards berukuran raksasa lengkap dengan hiasan topi ikoniknya berbulu hitam dan bulat menutupi kepalanya, taman istana yang kece untuk berfoto, juga replika bangunan megah Buckhingham Palace dilengkapi dengan air mancur.


Trip Of Mine
Replika raksasa Queen Guards.
Kalau ada orang betulan setinggi ini ..., wouw apa yang akan terjadi, yaa ...
Trip Of Mine
Eh, mister Bean lagi nangkring diatas mobil Morris mininya



Trip Of Mine
Interior mewah Buckingham Palace

Keindahannya tak berhenti sampai disitu, ruangan bangunan replika Buckingham Palace disetting sebagai aula besar dan mewah memajang transportasi kerajaan Inggris, bis tingkat Double Decker khas kota London , juga replika patung ratu Elizabeth berada disana ..., duduk anggun di sofa kerajaannya.
Kursi sofa singgasananya sengaja dibuat 2 dan satu sofanya dikosongkan untuk properti berfoto pengunjung.

Ngedance bareng figur superhero

Sekeluar dari ruangan indoor zona Edukasi menuju ke zona selanjutnya, zona outdoor Gangster Town dan Broadway Street era tahun 80 an, aku mendadak menghentikan langkah dan langsung dibuat kagum mengamati berlama - lama setting area rongsokan mobil dan motor ala film aksi layar lebar Mad Max yang dibintangi Mel Gibson dan penyanyi rocker wanita berkulit hitam merangkap pemain film, Tina Turner.
Tumpukan ban berukuran besar, plat - plat nomor kendaraan dipajang tak beraturan di dindingnya, rongsokan mobil ditata miring, moncong truk menumpuk di bagian teratas juga 2 motor berdesain sangat unik dan berbody warna tembaga itu ..., sempat aku bergumam kagum dalam hati " gila ... , ini kesannya macho dan gahar banget ! ".


Trip Of Mine
Mad Max ..., gahar banget settingnya !

Seandainya saja motor itu diperbolehkan kukendarai betulan, motor jagoan itu pasti akan kujalankan dengan aksi ngebut penuh gaya ..., ha ha ha !.
Setting zona Mad Max itu persis berhadapan mobil antik yang juga tak kalah berbentuk unik, mobil Chicago Police Dept. Police Patrol berwarna hitam mengkilap.

Baru saja melangkahkan kaki beberapa langkah melewati display mobil - mobil vintage kece di pinggir jalan dan deretan bangunan toko Broadway tempo dulu yang areanya diiringi musik berdentam heboh ..., mendadak musik dihentikan dan berganti dengan raungan sirene mobil, sesekali para staff petugas berseragam hitam memberikan aba - aba ke semua pengunjung untuk berdiri menjauh ke pinggir jalan. 
Ada apa sebenarnya, ... ?.


Trip Of Mine
Gangster Town

Tak berselang lama kemudian, musik pengeras suara berdentum lagi dan kali ini lebih kencang suaranya ..., dari tikungan arah zona Mad Max itu mulai terlihat satu persatu parade mobil unik.
Uniknya, peserta pawai yang berada di atas mobil - mobil klasik itu adalah tokoh figur superhero Marvel ..., dan eh ..., ada salah satu tokoh figur superhero idolaku duduk nangkring diatas mobil sambil sesekali dadah - dadah ramah ..., he he he.
Memakai kostum berwarna biru ketat membungkus bodynya, bermotif jaring laba - laba dan memakai topeng.
Nah, siapa lagi kalau bukan ..., mas eh# mister Spiderman ..., wwkkkwwwk !.

Tak cuman Spiderman yang ikutan pawai, tapi juga ada figur superhero Joker, Dark Veder Star Wars, Batman, Batgirl, dan temen - temen lainnya.
Mobil - mobil antik yang mereka tumpangi berhenti berderet memanjang di depan jalan ' panggung ' Broadway dan para figur superhero itu berloncatan keluar dari mobil  untuk berkumpul di depan panggung.
Sebetulnya, bukan panggung sih, karena memang tak ada panggungnya di badan jalan sana ..., tepatnya di jalan depan spanduk berukuran besar bertuliskan Broadway.
Setelah diperkenalkan satu persatu nama tokoh figur oleh pembawa acara, para figur superhero ngedance tampil atraktif dan kompak 1 putaran lagu full dibarengi musik berdentam - dentam layaknya irama di diskotik.


Trip Of Mine
Figur superhero ngedance bareng ...

Selesai ? ..., belum !.
1 putaran lagu selesai, pembawa acara menyoraki penuh semangat dan mengajak pengunjung ikutan ngedance bareng para figur superhero.
Ngga taunya ..., yang mimpin acara ngedance selanjutnya tuh Spiderman !.
Di sesi awal ngedance tadi, kulihatin pemeran figur Spiderman ini memang paling lentur tubuhnya, jejingkrakan paling atraktif mengikuti ritme musik pengiringnya.


" Kalau di film, si manusia bertopeng Spiderman pinter ngerayap tembok pencakar langit. Kalo di Museum Angkut, Spidermannya ngga pinter loncat dari tembok ke tembok lainnya, tapi jago ngedance ..., ha ha ha "

Ajakan ngedance rame - rame bareng Spiderman sebagai instrukturnya ..., membuatku langsung tergoda untuk ikutan gabung ngedance.
Seru, loh ..., ngikutin gerakan aba-abanya. Jalan kesana kesini, loncat - loncat, muterin badan dan ada satu gerakan tangan diletakin di depan mulut seperti paruh bebek sambil jalan berjingkat mengarah ke ..., toilet umum ..., ha ha ha !.

Cuplikan rekaman video serunya aku ikutan ngedance selama 1 jam bareng Spiderman, tak kusertakan di artikel ini, tapi kuunggah di channel Youtubeku.
Sstttt ..., takut blog jadi lemot loading pagenya karena ukuran file videonya tetap berukuran besar meski telah kukompres ukuran aslinya.


" Eits, lah kok jadi promosi channel Youtube, ya ?. He he he ... "

Di destinasi wisata kekinian Museum Angkut setiap hari weekdaynya diadakan 11 kali entertainment show dengan jam pertunjukan berbeda, jenis pertunjukan berbeda dan diadakan di zona yang berbeda pula.
Ke 11 entertainment show diantaranya :

• Movie Star Hero Cosplay, jam 12. 30 - 01. 00 di Main Hall.
• Petjinan Vestige, jam 12. 30 - 01. 00 di Petjinan Zone.
• Special Car and Costume Dance, jam 03. 00 - 03. 30 di Gangster Zone.
• Jewel Of Archipelago, jam 05. 00 - 05. 30 di Entrance of IHM.

Sedangkan di hari weekend dan di hari libur nasional, diadakan 15 kali entertainment show dengan jam pertunjukan terakhir jam 19. 30.


Trip Of Mine
zona Las Vegas

Selain acara entertainment show, fasilitas wisata kekinian Museum angkut dilengkapi dengan fasilitas flight simulator, free wifi, photo corner, free charging station, atm center.
Sangat keren, ya ..., museum ditata semenarik dan selengkap ini fasilitasnya. 

Kejutan kecil lainnya kutemui di zona Las Vegas setelah mengamati desain unik mobil premium Hummer H2 Limousine asal Amerika produksi tahun 2004 berwarna kuning mentereng dan berbentuk sangat panjang memiliki ukuran body mobil tak pada umumnya, adalah jalur keluar atau jalur terakhir area berbayar Museum Angkut.


Trip Of Mine
Mobil premium Hummer H2 limousine, panjaaang banget ya ...

Jalurnya bukanlah melewati pintu keluar berbentuk gerbang biasa, tapi melalui ..., pintu lokomotif kuno kereta api betulan.
Awalnya aku dan beberapa pengunjung lain juga tampak ragu sesaat sebelum memasukinya, betul tidaknya jika pintu keluar area melalui pintu lokomotif kereta api kuno ini, tapi setelah yakin dengan membaca ulang tulisan penunjuk arah yang tertempel di dinding, barulah kulangkahkan kaki memasuki ruangan lokomotif.


Trip Of Mine
Lokomotif kuno ini berfungsi sebagai jalur pintu keluar

Tampak didalamnya alat kemudi, alat pencatat kecepatan laju jalan dan peralatan lainnya terlihat masih utuh dan komplit.
Menoleh ke arah kanan, tampaklah rangkaian gerbong kereta cukup panjang dengan desain vintage berlantai kayu dan penerangan lampu berwarna kuning, dibagian ujung dinding gerbong terpasang hiasan topeng tokoh wayang.
Serunya, saat berjalan di dalam gerbongnya rangkaian gerbong terasa membal saat dipijak, bergoyang - goyang ..., seolah kereta sedang melaju di atas rel betulan. Tentu saja sensasi itu membuat tubuh jadi ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan gerbong lokomotifnya.
Jalur rangkaian lokomotif dan gerbong kereta kuno ini berakhir dan bertemu kembali di dekat jalur food court Float Market, area awal Museum Angkut yang kudatangi.



Lokasi :
Museum Angkut
Jl. Terusan Sultan Agung No. 2
Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota wisata Batu, Jawa Timur

Jam Operasional:
12. 00 - 20. 00

Tiket :
Rp. 100. 0000 ,_
• Khusus weekday diskon 30%
[ Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]