Wednesday, December 12, 2018

Candi Mendut, Candi yang Kaya Relief Indah

Berada terletak sedikit bersebelahan dengan lokasi kompleks bangunan asrama tempat para biksu menimba ilmu yang memiliki taman indah, Buddhist Monastery berdiri sebuah candi Buddha berusia ribuan tahun silam peninggalan bersejarah dari dinasti atau wangsa Syailendra, candi Mendut. 
Lokasi tepatnya berada di Jalan Mayor Kusen, desa Mendut, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang. 
Jalan Mayor Kusen merupakan salah satu jalan utama menuju ke lokasi candi Borobudur dari arah Magelang dan Yogyakarta. 


Trip Of Mine

Letak lokasinya yang strategis berada tepat di pinggir jalan, membuat siapapun yang tengah melintas pasti akan langsung tergerak untuk melihat keeksotisannya, karena struktur candi Mendut setinggi sekitar 26, 40 meter ini terlihat sangat jelas dari badan jalan raya. Hanya sedikit terhalang  pandangan oleh tinggi dan rimbunnya pagar deretan tanaman jenis bambu hias berbatang kecil. 

Untuk memarkirkan kendaraan disana tersedia area parkir yang tak seberapa luas, letaknya berada segaris lurus dengan arah masuk ke lokasi Buddhist Monastery. 
Meski area parkirnya terbilang berukuran tak cukup luas, area parkir yang dilengkapi beberapa bangku taman dan bangku lesehan terbuat dari cor semen mengelilingi batang pohon besar untuk bersantai sembari menikmati kuliner dari para pedagang gerobak ini tak pernah terlihat sepi dari pemberhentian kendaraan.


Trip Of Mine
Candi Mendut dilihat dari bagian depan

Beberapa kali kulihat saat melintas di depannya, silih berganti parkir kendaraan datang dari kunjungan wisatawan. Khususnya kunjungan dari para wisatawan mancanegara. 
Tak jarang terlihat rombongan wisatawan mancanegara datang dengan bus wisata carteran dan tak sedikit pula tampak turis datang dengan menyewa kendaraan beroda dua. Datang berboncengan berdua dengan partnernya atau juga terlihat datang seorang diri seperti yang biasa kulakukan saat travelling. 

Malah aku pernah punya pengalaman cerita menarik, loh ..., lihat tiga turis bule dengan berpakaian santai enak dilihat, dua cewek dan satu cowok dengan cuek bebek menumpang duduk asik di mobil bak terbuka sekembalinya mereka berlibur di candi Mendut yang kebetulan pula berbarengan dengan kepulanganku dari sana. 
Beberapa kali kendaraanku dan kendaraan yang mereka tumpangi saling susul diantara ramainya laju lalu lintas dan tiap kali itu pula kami lagi - lagi saling menebarkan senyum dan menganggukan kepala ..., " Duh, rasanya hati ini kok kerasa seneng banget lihat pemandangan begitu ..., bule cantik dan bule ganteng saja ramah sikapnya. Masa kamu engga ? ", sambil nunjuk foto sang mantan. Eh# ..., wwwkkkwwwk !.

Punya cerita pengalaman seperti itu, senang rasanya. Berkesan buatku. Beberapakali sudah, aku dan turis mancanegara pernah terlibat interaktif langsung. Mulai dari sekedar saling bantu mengambil gambar dari kamera ataupun cuma bersay hi tanpa pakai acara mengerlingkan mata genit saat berpapasan di suatu lokasi.

Candi Mendut merupakan candi Buddha dan berdasarkan keterangan yang tercantum di prasasti Karangtengah 824 Masehi, candi Mendut dibuat oleh raja Indra, raja pertama dari dinasti atau wangsa Syailendra. 

Dan menurut prasasti yang juga ikut terkubur selama ratusan tahun silam akibat terjadinya bencana alam erupsi dahsyat gunung Merapi, kemudian prasasti  dan struktur candi yang telah potak poranda diketemukan kembali oleh J.G de Casparis pada masa kepemerintahan Hindia Belanda, diduga usia candi Mendut pembangunannya lebih tua dari usia pembangunan candi Borobudur. 


Trip Of Mine
Selasar candi Mendut

Melalui prasasti Karangtengah jugalah diketahui jika candi Mendut memiliki kaitan erat dengan candi Pawon dan candi Borobudur. 
Ketiga candi ini berada dalam satu garis imajiner. Para ahli arkeologi menduga, dahulu kala nenek moyang telah mampu membuat jalan penghubung antara ketiga candi ini dengan melintasi sungai Progo.

Pada saat diketemukan kembali bagian atap candi telah hilang, namun struktur kaki dan badan candi terlihat utuh, meski sudah tak pada tempat semestinya.
Pada tahun 1897 - 1904 pemerintah Hindia Belanda berhasil merekonstruksi kembali bagian kaki dan tubuh candi. 
Kemudian pada tahun 1908 dipimpin oleh Van Erp, rekonstruksi ulang candi Mendut dilanjutkan kembali dan pada rekonstruksi kedua kalinya ini berhasil memasang kembali stupa - stupa pada tempatnya dan juga berhasil merekonstruksi sebagian puncak atap candi.
Rekonstruksi sempat terhenti cukup lama karena keterbatasan dana setelah proses rekonstruksi tahap kedua. 
Kemudian pada tahun 1925 pemugaran dilanjutkan kembali hingga candi terlihat berdiri seperti sekarang ini.

Candi Mendut memiliki bentuk segi empat dan memiliki lebar sekitar 2 meter berdiri diatas batur [ atau semacam tatakan, atau dasar ]. Pada bagian kaki candi dipenuhi ukiran indah beragam kisah di 31 buah panelnya disertai relief bunga dan sulur - suluran menjuntai artistik.
Di bagian tubuh candi terdapat Jaladwara atau saluran air yang memiliki fungsi membuang air hujan dari selasar candi.
Bagian atap candi dihiasi 48 stupa berukuran kecil dan atapnya terdiri dari tiga kubus tersusun makin mengecil ke atas.


Trip Of Mine
Relief Kuwera

Dinding dalam di kiri dan kanan menuju ke bilik bagian dalam candi dihiasi relief lukisan indah berupa relief Kuwara dan Hariti. 


Trip Of Mine
Depan pintu bilik dalam candi berhiaskan relief Kuwera dan relief Hariti

Kedua relief tersebut merupakan tokoh raksasa pemakan manusia yang dikisahkan kemudian bertobat setelah memperoleh pencerahan dari Buddha ini letaknya berhadapan, seolah mengapit di lorong menuju ke bagian dalam candi.


Trip Of Mine
Relief Hariti

Pemandangan terlihat makin membuat berdecak kagum setelah tiba berada di dalam bilik candi Mendut ..., 3 patung Buddha berukuran besar menempati ruang dalamnya. 
Dilengkapi dengan pencahayaan kuning temaram, detil ke 3 patung : Buddha Sakyamuni berada di tengah, Bodhisattva Avalokitesvara di sebelah kanan dan Maitreya di posisi sebelah kiri tersebut terlihat sangat detil pembuatannya. 


Trip Of Mine
Tiga arca Buddha berukuran besar di dalam tubuh indah candi Mendut

Arca Buddha Sakyamuni diwujudkan sedang duduk berkotbah dengan sikap tangan dharmacakramudra atau sikap tangan yang biasa dilakukan saat sang Buddha memberikan ajaran.
Bodhisattva Avalokitesvara merupakan penolong manusia diwujudkan dalam keadaan duduk, kaki kanan menginjak teratai dan kaki kirinya melipat.
Maitreya sebagai dewa penebus diwujudkan dalam bentuk posisi juga sedang duduk dan jari tangannya menutup rapat.
Semerbak wangi aroma hio dari wadah menambah kesan kesakralan.


Candi Mendut ini merupakan lokasi upacara awal prosesi besar memperingati Waisak, sebelum iringan - iringan para biksu datang dari berbagai belahan dunia melakukan puja bakti di candi Borobudur 


Di bagian tubuh dinding candi sebelah selatan, timur, utara dan barat [ bagian depan candi, terdapat tangga ] kesemuanya dihiasi relief menceritakan kehidupan Buddha. 


Trip Of Mine
Sisa - sisa puing diduga merupakan candi Perwara

Di halaman pelataran taman candi sebelah selatan terdapat dua lahan tempat sisa - sisa puing dan satu berupa pondasi candi yang kemungkinan diduga merupakan candi Perwara atau candi pendamping candi Mendut. 


Trip Of Mine
Pohon Boddhi di pelataran halaman candi Mendut.
Akar pohon yang menjuntai itu sangat kuat, loh ..., banyak wisatawan seringkali berfoto bergelayutan disana

Setelah mengamati setiap detil keindahan relief ukiran candi dan mengelilingi keseluruhan areanya, waktunya meninggalkan halaman candi dan kembali melewati deretan kios pedagang souvenir khas Jawa - Tengah, seperti boneka wayang golek terbuat dari kayu berkostum indah, kerajinan anyaman tas, wayang kulit, kain cetak beraneka warna dan motif hasil produksi masyarakat desa sekitar, juga tak ketinggalan replika miniatur candi dan replika kepala Buddha untuk hiasan interior ikut terpajang sebagai pilihan cenderamata wisatawan. 


Trip Of Mine
Deretan kios cinderamata

Para pedagang souvenir di candi Mendut termasuk gigih menawarkan ragam koleksinya ke wisatawan. 
Dengan fasih berbahasa Inggris mereka ikut menyodorkan dagangannya, termasuk ke aku yang tak luput dari sasaran rayuan pulau kelapa , " Only thirty thousand, sir. Is cheap " , selembar kain warna kuning dengan motif memikat disodorkan sambil dibentangkan oleh si pedagang berjalan disampingku. 
Langsung kujawab saja pakai bahasa Jawa kromo, " Mboten, bu. Maturnuwun ".
Si ibu pedagang sontak kaget, aku pun nahan ketawa agar ngga kebablasan ngakak lihat reaksi ekspresi kagetnya.
Laaah ..., apa dikiranya aku ini bukan dari Indonesia kali, yaa ... ?. 
Tampang dari Thailand gitu ?.
Ha ha ha ..., ono - ono wae, buuu ... .

Lokasi :
Candi Mendut
Jalan Magelang Sumberrejo atau Jalan Mayor Kusen, Mendut, Mungkid, kabupaten Magelang

Tiket : 
Rp. 3. 000 ,_
[ Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah ]

Wednesday, December 5, 2018

Telaga Warna Telaga Pengilon, Pesona Dua Telaga Satu Keindahan

Telaga Warna adalah salah satu wisata alam andalan di dataran tinggi Dieng. Keunikan sifat warna air telaga dan keeksotisan alam sekitarnya mampu membuat wisatawan terpana. 
Berada disana, imajinasi pengunjung seolah sedang dibawa ke dimensi lain.

Akh, betulkah demikian adanya ?.
Apa iya, sih ... ?.
Pertanyaan seperti itu, sangat mungkin akan terjadi jika seseorang belum pernah berkesempatan berlibur ke Telaga Warna. 
Tapi lain cerita jika pernah berkesempatan langsung berlibur disana, terutama berlibur seorang diri seperti yang kulakukan saat itu. 


Trip Of Mine
Add caption

Telaga Warna merupakan salah satu dari beberapa telaga terletak berada di atas ketinggian 2000 mdpl gunung api purba, Gunung Dieng, kabupaten Wonosobo yang berbatasan langsung dengan kabupaten Banjarnegara. 

Temperatur keseharian udara disana cenderung terasa dingin dirasakan bagi masyarakat negara Indonesia kebanyakan mengingat Indonesia beriklim tropis, meski panas terik matahari saat itu sedang berlangsung. 
Bahkan beberapa bulan lalu temperatur udara di Dieng mencapai di bawah nol derajat menyebabkan keunikan fenomena alam tersendiri dengan munculnya kristal salju menutupi permukaan tanah dan tanaman.

Jadi jangan heran, jika dalam perjalanan menuju ke Gunung Dieng tempat keberadaan sejumlah destinasi wisata menakjubkan disana dengan melintasi jalan naik turun pegunungan curam berpemandangan tebing tinggi yang banyak difungsikan sebagai lahan perkebunan warga dan jurang menganga ratusan meter berada di kiri kanan jalan, akan mudah ditemui pemandangan aktivitas para petani dengan menggunakan pakaian tebal membungkus badan, berlengan panjang dan tak sedikit yang mengenakan atribut tambahan seperti syal, kupluk untuk mengantisipasi dinginnya udara.

Pemandangan seperti itu saja saat di siang hari ..., nah kebayang kan bagaimana dinginnya temperatur udara di Dieng saat malam hari ?.

" Memang pernah bermalam disana, kok tahu ? "

Belum pernah jawabanku wwkkkwwwkk !.
Lah, kok tahu kalau malam hari udara disana terasa sangat dingin ?.
Tahulah ..., masalahnya beberapa bulan lalu aku pernah terjebak hujan deras disertai angin kencang sampai sekian lama menjelang malam hari setelah liburan berada di area kawah unik, Kawah Sikidang. 

[ Baca juga  https://www.tripofmine.com/2018/02/fenomena-unik-kawah-sikidang.html ]

Saat itu, udara terasa sangat begitu dingin menggigit kulit. 
Beruntung pos penjagaan tempat aku berteduh, beberapa warga disana membuat perapian sederhana dengan membakar tumpukan sisa kemasan makanan dan kertas di tong sampah terbuat dari kaleng. Itupun rasanya tidak mempan buat bikin hangat tubuh, meski kupluk kupakai kutenggelamkan sampai kuping tertutup rapat dan jaket tebal telah kupakai, plus sarung tangan kukenakan.

Dengan duduk meringkuk manis pasrah di pojokan menanti seorang kekasih , eh# maksudku, hujan angin sedikit reda, teh panas mendidih yang beberapakali kupesan di warung dekat pos penjagaan cuma terasa hangat ruam kuku saat kuminum, padahal terlihat jelas uap mengepul di permukaan gelasnya, mendidih maksimal.
Nah, kalau seperti itu gimana terasa dinginnya udara tengah malam menemani bobok disana, ya ... ?. 
Melukin kamu pun rasanya tak akan mempan memberikan kehangatan, aseeeek ..., ha ha ha ..., kecuali menenggelamkan diri dalam tebalnya bed cover, kurasa. 
Hmm ..., titik.

Tampilan baru di area Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Tak sedikit yang belum mengetahui jika sebenarnya di area seluas 39 hektar ini, tak hanya terdapat satu telaga memesona diareanya. 
Berdampingan persis, hanya terpisahkan oleh daratan yang menyembul dan ditumbuhi rerimbunan ilalang tinggi, terdapat sebuah telaga mendampingi keindahan Telaga Warna. Telaga Pengilon namanya.


Trip Of Mine
Telaga Pengilon

Nama Telaga Pengilon [ Bahasa Jawa, pengilon = cermin, biasanya dipergunakan untuk berhias diri ] memang tak disebutkan di papan petunjuk arah lokasi dan mewakili nama area destinasinya, hanya tercantum di lembar tiket masuk. 

Untuk memasuki areanya dan untuk tiba di tepian telaga, tanpa perlu dibutuhkan usaha dengan cara mendaki atau menuruni ketinggian bukit karena letak telaga ini terbilang sejajar dengan badan jalan.
Cukup ditempuh dengan cara melewati jalan setapak berpaving block yang dibuat tertata rapi mulai dari gerbang tiket hingga mengitari areanya.

Di sepanjang melewati jalan setapak, tanaman bunga indah berwarna putih namun memabukkan, bunga Kecubung dengan mudah dilihat dari dekat karena tanaman ini banyak tumbuh berada di sisi area telaga dan jalan setapak. 
Beberapa dahan kayu pohon berukuran besar terlihat dibiarkan tetap utuh tanpa ditebang melintang di atas jalan setapak, membuat siapapun perlu menundukkan kepala saat melintasinya. 
Pemandangan menambah kesan eksotik ini kutemui saat melintasi jalan setapak mengarah ke Telaga Pengilon.

Dua telaga memikat, Telaga Warna dan Telaga Pengilon berdampingan bak sepasang sejoli ini memiliki keistimewaan berbeda diantara keduanya.


Trip Of Mine
Ilalang kecokelatan dan warna air telaga, perpaduan kontras dan memikat

Berkat sangat tingginya kandungan zat mineral belerang yang berada di dasar Telaga Warna dan kemungkinan diduga mengandung unsur logam mulia, air telaga mampu menyuguhkan warna sangat menakjubkan saat terpantul sinar matahari.
Dengan dominasi warna hijau, warna airnya sesekali berubah - ubah. Kadang tampak hijau tua, hijau muda, gradasi warna hijau tua dan hijau muda, kecoklatan dan juga warna pelangi.


Trip Of Mine
Alamnya memikat !

Menurut legenda, sih, pengaruh warna dari Telaga Warna akibat jatuhnya selendang cantik berwarna - warni milik dewi Nawang Wulan ke dalam dasar telaga dan menciptakan warna memikat di airnya.

Jika Telaga Warna tampil memesona dengan warnanya yang menakjubkan, Telaga Pengilon tampil memikat dengan kejernihan airnya. Saking jernihnya, pantulan bayangan alam sekitarnya tampak terlihat jelas di permukaan airnya.

Keindahan kedua telaga ini semakin terlihat memikat dilihat dari atas ketinggian bukit Sidengkeng dan Batu Ratapan Angin, maka tak heran jika banyak wisatawan rela sedikit ' bersusah payah ' mendaki bukit untuk melihat tampilan kedua telaga dengan tampilan warna air berbeda. 
Wisatawan biasanya melakukan pendakian saat pagi hari karena saat siang dan menjelang sore seringkali keindahannya tertutup oleh tebalnya kabut. 

Mengingat gunung Dieng merupakan dataran tinggi, tingkat intensitas curah hujan seringkali turun tiba - tiba di daerah yang seringkali disebut sebagai tempat bersemayamnya para dewa ini. 


Trip Of Mine
Spot dermaga di tepi telaga siap bikin indah foto kenangan liburan

Saat ini di pinggir Telaga Warna telah disediakan semacam dermaga kecil untuk sarana membuat dokumentasi liburan.
Dan gerbang loket pun berbenah jadi menarik dilihat, tak lagi terkesan seadanya yang kulihat saat kedatanganku kesana sekitar 1 tahun lalu.

Selain 2 telaga memikat, ada obyek lain menarik apa disana ?

Mengitari keseluruhan areanya dengan berjalan di atas jalan setapak dan tampak bebatuan berukuran besar disekitarnya, juga akibat pengaruh musim kemarau panjang telaga menciptakan pemandangan gradasi eksotik tersendiri.


Trip Of Mine
Daratan menyembul membatasi 2 telaga memesona ditumbuhi ilalang tinggi.
Tampak mengering pengaruh kemarau panjang.
Keren untuk lokasi berfoto

Banyak sekali sisi pinggir telaga tampak mengering dan ilalang disekitarnya yang tinggi menjulang tampak ikut mengering berubah menjadi warna cokelat muda.
Terlihat sangat kontras dengan perbedaan warna tanah cokelat tua, dan warna air telaga.
Tentu pemandangan alam jadi sangat terlihat luar biasa indah untuk latar belakang berfoto.

Di dalam area Telaga Warna dan Telaga Pengilon terdapat beberapa petilasan yang sampai saat ini masih dipergunakan untuk bersemedi, tentunya untuk keperluan bertapa disana harus seijin terlebih dahulu dan didampingi oleh pengelola.


Trip Of Mine
Petilasan Batu Tulis

Beberapa petilasan diantaranya : 

  • Batu Tulis, merupakan sebuah bongkahan batu berukuran besar. Dipercaya jika orang tua berkeinginan agar anaknya berkemampuan cepat pandai membaca, maka berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa di dekat batu yang didepannya dihiasi arca mahapatih Gajah Mada ini.


  • Gua Jaran, dipercaya dahulu kala merupakan tempat pertapaan Resi Kendali Sodo. Dinamakan dengan Gua Jaran karena dikisahkan pada jaman dahulu terdapat seekor kuda kebingungan mencari tempat berteduh dari hujan, kemudian kuda tersebut menemukan celah gua ini dan berteduh didalamnya sepanjang malam. Anehnya, keesokan harinya kuda tersebut telah dalam keadaan bunting besar. Sejak saat itu, gua ini dipercaya oleh kaum wanita yang ingin segera mempunyai keturunan setelah berumah tangga dengan cara melakukan semedi disana.


  • Gua Semar, dipercaya dijaga oleh Kyai Semar. Merupakan tempat bertapa yang pernah digunakan oleh para raja Jawa Mataram kuno dan beberapa nama petinggi negara Indonesia. Salah satunya presiden RI kedua, Soeharto pada tahun 1974.
Trip Of Mine
Pemandangan misterius Telaga Warna saat tertutup kabut

Berjalan atau mendekat berada di depan petilasan - petilasan yang lokasinya tak begitu jauh satu sama lainnya ini, tercium samar - samar aroma wangi semerbak misterius. 
Entah wangi apakah itu, mungkin wangi gabungan antara hio dan parfum ..., yang jelas tercium berasal dari dalam gua. 


Lokasi :
Telaga Warna
Jl. Telaga Warna, Dieng, Kejajar, Kabupaten Wonosobo

Tiket :
Domestik Rp. 12. 500,_
Wisman Rp. 125. 000,_
Berlaku di hari normal.

Domestik Rp. 15. 000,_
Wisman Rp. 150. 000,_
Berlaku di hari Sabtu, Minggu dan hari libur.
[ Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]

Thursday, November 22, 2018

Kampung Mural : Kampung Kumuh Menjelma Jadi Kampung Tematik

Nama Kampung Pancuran di kota Salatiga kini lebih mudah dikenali dengan sebutan nama Kampung Mural
Image kumuh yang semula menempel di perkampungan warga yang berada di tengah lokasi segitiga keberadaan pasar traditional : Pasar Raya 2 - Pasar Tamansari dan Pasar Blauran juga bersebelahan dengan salah satu dept. store ternama ini, kini tampil berganti penuh warna - warni memikat.


Trip Of Mine

Bukan sekedar tampilan kampung warna - warni ' polos ' biasa seperti akhir - akhir ini banyak bermunculan ide kreatif kampung serupa di sejumlah kota untuk mempercantik tata kotanya dan sebagai daya tarik kunjungan wisatawan, tapi Kampung Pancuran yang memiliki jumlah sebanyak 18 RT di kelurahan Kutowinangun Kidul ini menjelma menjadi Kampung Mural penuh warna - warni indah memikat mata.

Lukisan mural mengagumkan dan artistik mulai di lukis dari tembok pembatas pinggir kali perkampungan dan pasar, dinding depan dan samping sebagian besar rumah warga dan juga jalan gang.
Lukisan mural berupa beberapa tokoh pahlawan nasional, pahlawan dari kota Salatiga, wayang, tanaman, binatang prasejarah dinosaurus, beragam aneka binatang jaman setelah prasejarah, bahkan tokoh kartun idola anak - anak, minions dan winnie the pooh pun juga ada disana menghiasi dinding rumah warga.


Trip Of Mine
Salah satu dinding tepi kali, jembatan tematik dan dinding rumah salah satu warga

Kesemua muralnya sangat menawan untuk latar belakang berfoto ..., tentunya hasil berfoto akan tampil keren tanpa perlu pakai acara malu - malu kucing  bergaya di depan kamera, sambil sesekali dilihatin warga yang sesekali tampak berlalu lalang di depan kita, atau juga berfoto di depan rumah warga sementara pemiliknya sedang duduk bersantai di ruang tamunya.

" Memang diperbolehkan berfoto di kesemua mural dan area publiknya ? "

Jawabannya, boleh banget.
Tak ada larangan buat pengunjung siapapun dan datang dari kota manapun untuk berfoto - foto di kesemua area perkampungan yang bahan cat warnanya di sponsori oleh salah satu produsen cat ternama ini. 
Dan kesemuanya tak dikenai beaya.


Trip Of Mine

Mural - mural indah dilukis dengan jenis cat mengilap atau glossy dan cat biasa atau matte.
Baik dilukis dengan menggunakan cat mengilap dan cat biasa, semua hasil lukisan muralnya tampak seperti tampilan gambar 3 Dimensi.


Trip Of Mine
Wow, ada singa jantan !

Kampung Pancuran sebelum digarap menjadi destinasi wisata buatan tematik, dulu merupakan perkampungan sentra pembuatan kerupuk Karak. 
Namun setelah terjadi krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997 - 1998, harga bahan produksi pembuatan kerupuk karak hingga sekarang ini mengalami kenaikan harga yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi. 
Sekarang ini hanya menyisakan sedikit produksi di beberapa rumah warga, tampak dari proses penjemuran kerupuk di depan rumah mereka. 
Selain dikenal sebagai sentra industri rumahan pembuatan kerupuk karak, kampung Pancuran juga dikenal sebagai pelopor kesenian musik Drumblek di tahun 1986.

Liburanku kali ini ke Kampung Mural merupakan liburan keduakalinya. 
Kedatanganku pertama ke Kampung Mural saat itu untuk keperluan vlogging, dan karena vlogging yang kuunggah untuk keperluan channel Youtubeku Himawan sant [ huruf s kecil, sekalian promosi wwwkkkkk ] ditonton oleh si cantik keponakanku, Celyn.
Akhirnya Celyn kepengin liburan juga kesana.
Dan pada hari libur nasional kemarin bertepatan dengan hari libur kerjaku, aku dan Celyn liburan ke Kampung Mural.
Cuma berdua ?. 
Iya, berdua he he he ... .
Kebetulan sejak kecil, Celyn terlihat menyukai seni menggambar dan berfoto.

Trip Of Mine
Si cantik Celyn kok bisa samaan pakai ikat kepala etnik dengan mural Indian, ya ?  ... , he he he

Sejak bayi, Celyn sudah punya bakat sadar kamera  ..., tiap kamera atau layar ponsel mengarah ke wajahnya, langsung tanpa di aba - aba pasang aksi bergaya ..., kayak omnya gitu  ha ha ha.
Jadi, liburan di Kampung Mural atau Kampung Pancuran ini bisa dibilang liburan klop antara ponakan dan omnya.

Trip Of Mine

Celyn terlihat sangat antusias berfoto hampir di semua dinding rumah dan dinding kampung yang dilukis mural juga berfoto di kali kecil yang membelah kampung untuk budidaya ikan, di shelter tepi kali dan jembatan bertema.
Beberapa kali warga disana menyapa Celyn dengan panggilan si cantik ... , he he he .


Trip Of Mine
Budidaya ikan 


Trip Of Mine
Kincir air pancuran wisata air

Letak kampung Pancuran ini berundak, sebagian badan perkampungan berada di bawah. 
Lukisan mural - mural indah pengerjaannya memerlukan waktu 8 bulan lamanya dengan melibatkan 100 warga. Penataan areanya melibatkan pemerintah dan juga pihak swasta sebagai penyuplai bahan cat.

Trip Of Mine
Suburnya tanaman hidroponik

Kampung Pancuran tak hanya punya daya pikat wisata sebatas lukisan mural, tapi juga dilengkapi dengan percontohan pemanfaatan pekarangan dengan adanya wadah kegiatan community garden dan penanaman kebun sayur melalui media hidroponik, taman baca, kursus menjahit, pembuatan teklek [ semacam sandal terbuat dari material kayu, atau bakiak ], juga beberapa kios kuliner yang terdapat di sepanjang gang demi gang.


Trip Of Mine

Setelah mengitari kesemua gang dan mengagumi semua karya lukisan mural yang digarap bukan dengan asal - asalan, kami mencicipi kuliner di salah satu warung yang ada di atas kali. Kue traditional dan jus buah kami pilih untuk menghilangkan dahaga dari teriknya panas matahari kota Salatiga saat itu.

Lokasi :
Kampung Pancuran
Jalan Taman Pahlawan, Kutowinangun Kidul, Kecamatan Tingkir, Salatiga.


Sunday, November 11, 2018

Louw Djing Tie, Jejak si Pendekar Shaolin di Parakan

Kota Parakan terletak berada di lereng gunung Sindoro dan gunung Sumbing, merupakan salah satu kota yang seringkali disebut - sebut sebagai lokasi penghasil tanaman tembakau terbaik di Indonesia.
Memasuki kota Parakan, mata dan imajinasi kita akan digiring ke masa tempoe doloe dengan melihat banyaknya deretan peninggalan bangunan rumah berasitektur Tionghoa yang masih tetap utuh terjaga dengan baik hingga sekarang. 
Bisa dikatakan, Parakan adalah perkotaan Tiongkok kecil.

Tak sedikit bangunan rumah khas Tionghoa tertutup rapat oleh tingginya pagar tembok, hanya sebatas bisa dipandangi bagian  dinding luar bangunan dan atapnya saja, tetapi beberapa bangunan rumah tua diantaranya dapat atau diperbolehkan untuk dikunjungi oleh siapapun.

Salah satunya bangunan rumah yang dinamai Omah Tjandie Gotong Rojong berada di Jalan Demangan nomor 16, yang kudatangi kali ini untuk berlibur di kota Parakan, kabupaten Temanggung.


Trip Of Mine
Bergaya ala jurus Shaolin di depan seperangkat senjata peninggalan Louw Djing Tie

Omah Tjandie Gotong Rojong bukanlah rumah khas Tionghoa biasa, tapi rumah yang didirikan tahun 1870 ini menyimpan sejarah besar dari seorang pembawa dan penyebar ilmu bela diri shaolin dari Tiongkok ke Indonesia, Louw Djing Tie .

Sekelumit cerita pencarian lokasi

Pintu kayu yang memiliki dua bukaan dan bertuliskan Omah Tjandie Gotong Rojong di bagian atas dindingnya itu tertutup rapat, beberapakali ketukan yang kulakukan tak kunjung dibuka oleh pemiliknya.


Trip Of Mine
Gerbang pintu Omah Tjandie Gotong Rojong

Akhirnya kuputuskan meninggalkan pintu rumah di jalan Demangan itu untuk kembali memutar balik ke arah jalan Tejo Sunaryo, jalan yang semula telah kulewati sebelumnya untuk pencarian lokasi rumah pendekar Shaolin asal Tiongkok, Louw Djing Tie.

Jalan Tejo Sunaryo ini lebih dikenal warga dengan nama lama, disebutnya Gambiran [ Dialek Jawa menyebutnya Nggambiran, ada penambahan bunyi Ng didepan pengucapannya ]. 
Kulakukan memutar balik kembali ke Jalan Tejo Sunaryo atas pemberian informasi dari beberapa pria yang berada di warung angkringan, jika pintu Omah Tjandie Gotong Rojong tak dibuka, cobalah mengetuk lewat pintu ' depan ' .
Jadi benar adanya jika rumah bersejarah dan sekarang masuk sebagai warisan cagar budaya ini memiliki 2 pintu masuk. 

Pintu ke satu berada di jalan Demangan menghadap ke arah pemandangan gunung Sumbing dan pintu kedua merupakan pintu tambahan baru berada di jalan Tejo Sunaryo atau Gambiran, berderetan dan berhadapan dengan rumah - rumah bangunan Tionghoa lainnya.

Benar saja dengan menekan tombol bel, tak lama kemudian pintu dibukakan oleh seorang pemuda yang ternyata merupakan salah satu pekerja bolu yang diproduksi di rumah ini.
Setelah kuutarakan apa maksud kedatanganku, aku dipersilahkan masuk untuk melihat keseluruhan bangunan megah tempat Louw Djing Tie menumpang tinggal di rumah milik keluarga Hoo Ting Bie, mulai dari mendirikan perguruan Garuda Mas menggembleng ilmu bela diri murid - muridnya, menjadi tabib pengobatan, memproduksi beragam jamu bermerk Garuda seperti param dan minyak gosok, hingga di akhir sisa usia hidupnya 66 tahun pada tahun 1921.

Bagian pertama rumah yang kulewati merupakan dapur untuk produksi kue bolu cukil cap Tomat.
Usaha kue bolu cukil cap Tomat merupakan pengganti usaha param dan obat gosok bermerk Garuda dengan bungkus kemasan foto Louw Djing Tie yang terhenti produksinya sejak tahun 2015 lalu karena sulitnya bahan produksi ditemui, tak selengkap bahan resep asli dari Louw Djing Tie.


Trip Of Mine
Bolu kue cukil cap Tomat

Bangunan inti atau induk berpilar 2 berukuran besar berada di tengah halaman. 
Pintunya berupa bukaan dua daun pintu bertuliskan huruf Mandarin berwarna gold mengkilap, telapak kaki Qilin [ mewakili sifat maskulin ] dan bulu burung Phoenix [ mewakili sifat feminim ]. 
Keduanya melambangkan antara keperkasaan dan keindahan. 


Trip Of Mine
Bangunan induk Omah Tjandie Gotong Rojong

Seperangkat senjata milik Louw Djing Tie yang dulu digunakan untuk berlatih kunthaw ditempatkan di ruang tamu sebelah kanan, diantaranya berupa golok besar dan tombak.
Tongkat kayu cendana yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie, buku resep ramuan jamu asli buatan Louw Djing Tie, minyak gosok dan parem produksi akhir tahun 2015 dipajang di satu lemari kaca di ruang tamu sebelah kiri.


Trip Of Mine
Tongkat milik Louw Djing Tie terawat baik di lemari display di ruang tamu Omah Tjandie Gotong Rojong

Di dinding rumah yang terpisah berhadapan, terpasang foto Louw Djing Tie bertopi baret hitam duduk memegang tongkat kayu cendana dikelilingi murid - muridnya, foto liputan dari beberapa media surat kabar juga foto dua keluarga yang pernah memiliki rumah ini, keluarga Hoo Ting Bie pemilik rumah pertama dan 2 bersaudara Go Kim Tong dan Go Kim Jong yang membeli rumah dari Hoo Ting Bie.


Trip Of Mine
Sederet foto Louw Djing Tie 

Tapi Louw Djing Tie bukanlah tinggal di rumah induk berpilar 2 itu, tapi menempati satu bangunan berada di pojok halaman.
Di halaman taman sampai sekarang masih berdiri tiang gelang besi setinggi 2, 5 meter yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie dan murid - muridnya untuk melatih kekuatan tangan dan perut.

Kesetiakawan mengubah hidup Louw Djing Tie

Menurut cerita dari berbagai sumber informasi yang kuperoleh, diantaranya dari cerita mamaku tentang kehebatan Louw Djing Tie yang melegenda sampai sekarang, seperti : untuk memasuki area rumahnya Louw Djing Tie seringkali tak melewati pintu rumah, tetapi dengan cara meloncat tembok pagar rumah khas bangunan Tionghoa yang dibuat setinggi beberapa meter mengelilingi bangunan rumah.
Dengan ilmu ringan tubuhnya, Louw Djing Tie sanggup terlihat seakan terbang untuk meloncat dari satu tempat ke tempat lain.
Satu cerita ini begitu melegenda turun temurun diceritakan sejak jaman kakek buyutku, orang tuaku dan kini diceritakan ke aku.

Dan menurut sumber informasi yang juga kuperoleh dari cerita mamaku karena dulu mama papaku seringkali ke Parakan untuk menjalankan usaha tembakau dan mereka berdua seringkali saling membicarakan dengan para petani tembakau setempat tentang kehebatan ilmu kungfu Louw Djing Tie, juga dari sumber yang kuperoleh dari https://www.wikipedia.org 

Louw Djing Tie lahir di kampung Khee Thao Kee, kota Hayteng, Hokkian, Tiongkok.
Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakak dan adiknya perempuan, Louw Djing Tie satu - satunya anak lelaki. 
Kakaknya bernama Louw Djing Lian dan adiknya bernama Louw Djing Hiang.
Sejak kecil, dia pemberani dan nakal, namun rendah hati.
Beberapa kali pernah terlibat berantem dengan teman - temannya dan pada usia 9 tahun mendapat bekas luka dikeningnya yang membekas hingga sekarang.


" Loh ..., kok kayak aku, ya ?. Punya bekas luka di kening. Bedanya Louw Djing Tie kecil dapat bekas luka karena berantem dengan teman - temannya, kalau aku dapat bekas lukanya karena kecelakaan "

Louw Djing Tie kecil bersemangat masuk ke perguruan kungfu di desanya setelah ia melihat kehebatan bela diri pemilik warung yang menyelamatkannya dari kejaran seorang biksu bejat pemabuk yang tak terima dikerjain olehnya. 
Sayangnya, semangat berlatih kungfunya harus terhenti ditengah jalan karena tak ada beaya setelah kedua orang tuanya meninggal secara beruntun.
Keadaan ini memaksa ketiga kakak beradik mengungsi berpindah ke kota lain, menumpang di rumah saudaranya dan harus membanting tulang demi sesuap nasi, sementara kakaknya sering bekerja di luar kota.

Suatu saat sekembalinya dari perantauan, Louw Djing Lian memasukkan Louw Djing Tie ke biara Shaolin di Song Shan.
Dari biara Shaolin inilah, Louw Djing Tie memperoleh ilmu kepandaian dalam bertarung dan meramu obat - obatan.

Selepas menimba ilmu di biara Shaolin, Louw Djing Tie melanjutkan ilmu di guru keduanya, seorang pendeta lulusan biara Shaolin juga, pendeta Biauw Tjin.
Selama 6 tahun berguru dengan pendeta Biauw Tjin, Louw Djing Tie memperoleh ilmu tenaga dalam dan tenaga luar juga menguasai ilmu penggunaan beragam macam senjata rahasia seperti uang logam dan jarum. 

Kemudian selama 7 tahun Louw Djing Tie melanjutkan berguru kepada seorang pendeta Kang Too Soe untuk mempelajari ilmu menyumpit, totok jalan darah, memperdalam tehnik mengalirkan tenaga chi ke seluruh bagian tubuh juga mempelajari ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang.

Pendeta Kang Too Soe merupakan guru ketiga dan guru terakhir Louw Djing Tie menimba ilmu.
Setelah itu Louw Djing Tie membuka perguruan sendiri di Hok Ciu, provinsi Hok Kian. Muridnya sangatlah banyak, salah satunya adalah adik kandungnya sendiri, Louw Djing Hiang. 

Pada suatu ketika pemerintah Hok Ciu menggelar acara kompetisi seleksi pemilihan guru kungfu untuk dijadikan pelatih tentara setempat. Louw Djing Tie termasuk salah satu peserta dari beberapa jago - jago kungfu di daerah tersebut. Wakil dari pemerintah Hok Ciu diwakili oleh seorang guru kungfu berasal dari daerah Shan Tung yang memiliki ilmu bela diri cukup hebat.

Saat giliran teman Louw Djing Tie bernama Lie Wan mendapat giliran beradu dengan guru kungfu wakil dari pemerintah tersebut, Lie Wan tak sabaran berkeinginan segera menyelesaikan pertarungan dengan si guru kungfu. Lie Wan menggunakan tehnik berbahaya dengan cara menghantamkan kedua telapak tangannya ke tubuh si guru kungfu, guru kungfu pun dengan sigap menghindari serangan tersebut dan segera bersiap menyerang balik Lie Wan dengan serangan berbahaya pula. 
Louw Djing Tie melihat serangan mematikan yang diarahkan ke Lie Wan, segera meloncat ke tengah arena dan menyerang menendang kemaluan si guru kungfu hingga terluka parah.

Louw Djing Tie segera menyadari kesalahannya dan sadar bahwa tindakannya akan berakibat dikenai hukuman berat oleh pemerintah.
Segera Louw Djing Tie dan Lie Wan melarikan diri dari arena dan keluar meninggalkan negara Tiongkok.  

Lie Wan berpindah ke Amoy dan menjadi tabib disana, sedangkan Louw Djing Tie melarikan diri ke Singapura. Hanya tinggal sementara di Singapura, Louw Djing Tie kemudian berkeinginan pindah ke pulau Jawa, Indonesia. 
Rasa kesetiakawananlah yang dimiliki Louw Djing Tie yang akhirnya menyeret ia dalam pelarian ... .

Batavia [ sekarang Jakarta ], merupakan kota pertama persinggahan Louw Djing Tie. Di Batavia, ia sempat menjalani sebagai pedagang keliling di daerah Toko Tiga, Glodok.
Kemudian ia berpindah ke Semarang, lalu ke Kendal. Di kedua kota ini, ia berdagang ikan asin di pasar juga sebagai tabib mengobati orang yang mengalami salah urat dan terkena pukulan. Ajakan salah seorang temannya, membawa Louw Djing Tie berpindah ke Ambarawa dan disana ia mendirikan perguruan silat secara tersembunyi, karena kegiatan belajar ilmu bela diri pada masa kepemerintahan itu tidak diperkenankan. 
Tak berselang lama setelah itu, Parakan jadi kota pilihan persinggahan terakhir Louw Djing Tie.

Dengan menumpang di rumah kerabatnya bernama Hoo Ting Bie yang kudatangi inilah, nama besar Louw Djing Tie semakin termasyur ke seluruh penjuru nusantara berkat perguruan ilmu kungfu shaolin, Garuda Mas yang ia bentuk dan sebagai cikal bakal ilmu bela diri di Indonesia.
Tak hanya ilmu bela diri yang ia ajarkan, tapi juga memproduksi jamu dengan label Garuda.
Param merupakan salah satu jamu produksinya yang terus dikenang sampai sekarang akan keampuhannya mengobati otot terkilir dan penyakit yang berhubungan dengan tulang lainnya.

Tak hanya ilmu bela dirinya yang melegenda, tapi cerita jalan hidupnya menarik untuk disimak

Semasa hidupnya, Louw Djing Tie berkeinginan dan bersumpah untuk tidak pernah menikah.
Satu keinginan itu merupakan dari dua keinginan lainnya, hidup sederhana asalkan kebutuhan makan cukup terpenuhi dan berusia pendek.

Entah suatu kebetulan atau bukan, suatu saat Louw Djing Tie terkena sumpahnya sendiri setelah akhirnya ia menyerah menerima desakan terus menerus dari murid - murid kungfunya untuk segera menikah.
Ia pun akhirnya dengan terpaksa melangsungkan pernikahan di saat usianya yang tak lagi muda.
Dan sengsara pun akhirnya mulai menghampiri hidupnya ... .

Istri pertamanya meninggal setelah mereka tak lama melangsungkan pernikahan, kemudian istri keduanya terlibat perselingkuhan yang akhirnya berujung perpisahan, istri ketiga mengalami gangguan jiwa.
Dari ketiga kali pernikahan ini, tak satupun membuahkan seorang anak.

Penderitaan itu berlangsung seiring dengan kesehatannya yang terus mulai menurun, matanya mengalami gangguan penglihatan atau rabun.
Dengan kondisi sakit - sakitan, Louw Djing Tie dirawat oleh murid kesayangannya yang juga sebagai anak angkatnya bernama Hoo Tik Tjay atau sebutan nama kecilnya, Suthur.
Suthurlah yang terus tetap setia merawat Louw Djing Tie sampai akhirnya ia menutup mata selama - lamanya. 
Beliau dimakamkan di komplek pemakaman gunung Manden yang berada di pinggir kota Parakan. 


Trip Of Mine
Gerbang Omah Tjandie Gotong Rojong dilihat dari teras rumah induk

Pemilik Omah Tjandie Gotong Rojong memperbolehkan siapapun untuk berkunjung dan berfoto disana.


Trip Of Mine
Duduk santai di teras Omah Tjandie Gotong Rojong sambil membayangkan sosok Louw Djing Tie, sang pendekar Shaolin dari Tiongkok

Hanya ada 2 area yang tidak diperkenankan diambil gambarnya, altar meja sembahyangan kedua leluhur yang berada di ruang tengah rumah induk dan area dapur produksi kue bolu cukil tempat dulu pernah digunakan oleh Louw Djing Tie mengolah aneka jamu buatannya. 


Lokasi :
Omah Tjandie Gotong Rojong
• Pintu 1 jalan Demangan nomor 16
• Pintu 2 jalan Tejo Sunaryo nomor 10
Parakan, kabupaten Temanggung

Tiket :
Tidak dikenai beaya masuk