Sunday, February 10, 2019

Candi Unik di Bawah Permukaan Tanah : Candi Sambisari

Artikel tentang lokasi percandian yang berada di Ungaran, dataran tinggi Dieng dan beberapa lokasi candi di Magelang diantaranya telah kutuliskan dalam blogku ini, Trip Of Mine.
Itupun kesemua lokasi artefak candi yang berada di Magelang belum seluruhnya kudatangi untuk keperluan berlibur disana, sekaligus mengeksplore dan mengumpulkan informasi di lokasi sedetil dan seakurat mungkin untuk keperluan penulisan blogku yang baru berusia 1 tahun lebih 2 bulan ini.

Dih, kok ngga kerasa, ya ... , tau - tau udah setahun lebih sedikit aja aku telah jadi seorang penulis narasumber atau blogger :) . 
Profesi blogger yang sering dicap banyak orang, eh# teman maksudku, sebagai orang berkepribadian tertutup, suka menyendiri, asik sibuk berimajinasi melalui tulisan dan sibuk pencat - pencet tombol keyboard smartphone atau komputer he he he ... .
Benar kan begitu ?.

Di Magelang dan di Yogyakarta terdapat banyak jejak artefak atau situs peninggalan kejayaan dari dinasti kerajaan Hindu dan Buddha pada ribuan tahun silam. 
Para arkeologi pun menduga di kedua kota ini dahulu kala merupakan pusat dari kerajaan Mataram Kuno terdiri dari 2 kerajaan besar dari dinasti Hindu dan Buddha. 

Dari kesemua peninggalan artefak bersejarah  tersebut, kesemuanya memang menarik ditelusuri dan setiapkali berlibur ke lokasi candi selalu memunculkan decak kagum luar biasa akan kemampuan para leluhur kita telah sanggup menghasikan karya sedemikian artistik untuk sarana ritual peribadatan, mengingat proses pembuatannya dilaksanakan pada abad yang jauh sebelum mereka mengenal tekhnologi peralatan modern dan canggih seperti sekarang ini. 

Dari beberapa lokasi candi yang pernah kudatangi, tak kesemua lokasi candi didirikan diatas suatu dataran tinggi, terutama candi beraliran Hindu yang memang rata - rata dibangun di suatu ketinggian lokasi, diantaranya : candi Umbul, candi yang dibangun sebagai kolam pertirtaan sumber air panas alami dan candi Pendem Sengi yang juga dibangun dibawah permukaan tanah sekitarnya. 
Kedua candi itu bukanlah terletak berada di suatu ketinggian bukit.


Trip Of Mine
Candi utama candi Sambisari

Begitupun lokasi candi Sambisari, candi beraliran Hindu yang terletak di desa Purwomartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang kudatangi kali ini ..., letak lokasi komplek candinya bukanlah berada di suatu ketinggian, tapi berada dibawah permukaan tanah. 

Unik ... , tampilan candinya seperti sebuah miniatur mainan !.
Begitulah spontanitas yang terlintas dipikiranku, saat aku tiba berada di tepi tebing ketinggian halaman taman candi. 
Gimana tidak refleks terlintas dipikiran seperti itu, jika kompleks candi yang terdiri dari 1 candi utama dan 3 candi perwara atau candi pendamping itu lokasinya berada di ... , kedalaman sekitar 6, 5 meter dibawah permukaan tanah dan areanya seluas lapangan bola !.

Dilihat dari ketinggian dan halaman taman seluas itu, komplek candi Sambisari nyaris mirip betulan dengan sebuah replika miniatur mainan.
Karena keunikan letak posisinya itulah, tak sedikit wisatawan melakukan pengambilan foto diri seolah jemarinya sedang menjumput badan candi melalui tangannya dari halaman atas taman ... , keren ya :) . 


Trip Of Mine
Candi Sambisari dilihat dari atas ketinggian tebing taman

Dari ketinggian taman yang mengelilingi komplek candi Sambisari ini, terlihat jelas terdapat 4 jalur anak tangga di keempat penjuru arah mata angin ditepi tebing. Fungsi tangganya untuk menuju ke komplek candi dan naik kembali ke area taman setelah dari komplek percandian. 

Dan juga terlihat dari atas ketinggian tebing jika komplek candi Sambisari yang memberlakukan perijinan khusus untuk wisatawan menggunakan sarana alat perekaman gambar drone ini memiliki 2 lapis pagar batu.
Pagar batu pertama tertanam didalam tanah berada di sisi terluar candi dan pagar batu kedua berada di bagian dalam dekat dengan lokasi candi.
Ada peraturan tegas larangan tertulis di beberapa papan pengumuman terpancang di tebing untuk pengunjung siapapun tidak bermain ataupun tidak melakukan tindakan apapun di lereng tebing taman karena kecuramannya dapat membahayakan keselamatan pengunjung. 

Setelah menuruni salah satu anak tangga , memasuki pintu pagar terbuat dari batu mengelilingi candi setinggi sekitar 2 meter dan mengelilingi areanya tampak beberapa situs Lingga tersebar di beberapa titik. 


Trip Of Mine
Artefak Lingga Yoni di pelataran candi

Sedikit berbeda dengan struktur candi lainnya, struktur batur candi utama Sambisari menghadap ke arah barat ini dibuat lebih tinggi ukurannya dengan badan candi kira - kira setinggi 1, 2 meter,  menimbulkan kesan terlihat badan candi inti seolah tenggelam dari kaki candinya. 



Trip Of Mine
Candi utama menghadap ke arah barat

Candi inti dilengkapi selasar untuk mengelilingi badan candi dan terdapat 3 arca utuh di badan candi : arca Durga Mahisasura Mardani di sebelah utara, arca Ganesha di sebelah timur, arca Agastya di sebelah selatan. 
Sayangnya, arca Mahakala dan Nandiswara yang semestinya berada di relung sebelah barat mengapit pintu masuk ruang dalam candi inti, keberadaan kedua arca itu telah hilang entah dimana keberadaannya.


Trip Of Mine
Arca Ganesha terlihat utuh sempurna

Di dalam bilik candi inti terdapat sepasang arca Lingga dan Yoni utuh sempurna berukuran besar. Arca Yoni terbuat dari batu berwarna putih dan arca lingga terbuat dari batu hitam, terpahat mulus dan mengilap.


Lingga merupakan perwujudan dari dewa Siwa, dewa tertinggi kepercayaan agama Hindu. Yoni merupakan perwujudan dari dewi Parvati, istri dewa Siwa

Melihat arca Lingga utuh, berukuran besar dan mengilap seperti itu, aku jadi teringatkan mitos yang beredar di masyarakat, katanya sih ..., dengan menyentuh arca Lingga dapat terkabulkan keinginan seorang lelaki untuk memiliki keperkasaan. 
Demikian juga sebaliknya, jika seorang wanita menyentuh arca Yoni maka akan mendapatkan kesuburan.
Entah benar tidaknya mitos yang beredar di masyarakat dan aku sering dengar kasak kusuk begitu, aku tak paham kebenarannya tentang hal itu.


Trip Of Mine
Arca Lingga Yoni di dalam bilik candi utama

Tapi tak ada salahnya juga kan, kucoba kusentuh arca Lingga di candi Sambisari yang diperkirakan dibangun pada abad ke 9 oleh Rakai Garung seorang raja Mataram Hindu dari Wangsa Sanjaya itu ... .
Rasanya saat disentuh ?. 
Ya keras, licin dan dingiiiiin !.
Namanya juga terbuat dari batu ..., he he he :) . 

Berhadapan tepat dengan candi inti, terdapat 3 puing kaki candi perwara atau candi pendamping.
Uniknya, dibagian tengah badan candi pendamping terdapat umpak terpahat bulat sempurna, diduga kemungkinan dahulu kala fungsinya dipergunakan untuk meletakkan sesaji ritual keagamaan.


Trip Of Mine
Umpak di tengah badan candi perwara

Sekali lagi berada didekat umpak dipahat sedemikian bulat sempurna itu, aku dibuat heran ..., bagaimanakah cara mereka dahulu kala sanggup memotong bongkahan batu bisa sebulat dan sepipih mulus rata permukaannya seperti itu ?.

Candi Sambisari diketemukan kembali pada tahun 1966 oleh petani daerah setempat saat menggarap lahan sawah milik Karyowinangun, setelah berabad - abad lamanya tertimbun tanah dan material erupsi gunung Merapi.
Diduga erupsi dahsyat gunung Merapi mengubur sejumlah candi itu terjadi pada tahun 1006. 


Trip Of Mine
3 candi perwara menghadap ke timur

Seperti terpasang di keterangan data dan sejumlah dokumentasi foto di ruang informasi saat candi Sambisari diketemukan kembali dan dalam rentang waktu saat penggalian lahan untuk penemuan komplek candi secara utuh pada tahun 1975 - 1977 diketemukan sejumlah artefak, diantaranya Prasasti Emas bertuliskan 'Om Siwasthana' dalam bahasa Jawa kuno yang memiliki arti 'Hormat, rumah untuk dewa Siwa'. Proses rekonstruksi dan pemugaran candi selesai pada tahun 1987.

Rute menuju ke desa Purwomartani tempat lokasi candi Sambisari berada, kutempuh melalui ringroad menuju ke arah Surakarta atau Solo dari persimpangan jalan di dekat terminal Jombor dan setelah melewati bandara Adi Sutjipto yang berada disebelah kanan jalan kemudian tetap masih melaju berada di kiri jalur badan jalan, perjalanan kulanjutkan berbelok ke arah kiri masuk ke jalan pedesaan setelah melewati lokasi pom bensin. 
Perjalanan melewati pedesaan, persawahan dan perumahan warga sejauh sekitar 2 kilometer dari badan jalan ringroad, akhirnya tiba di lokasi candi Sambisari. 

Lokasi :
Candi Sambisari 
Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket:
Lokal 5K
• Mancanegara 10K
[Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah]

Friday, February 1, 2019

Mengenal Lebih Dekat Koleksi Satwa Eksotis Mini Zoo Jogja Exotarium

Setelah beberapa waktu lalu aku tak sengaja 'bertemu' melihat sekawanan kupu - kupu terbang bebas dan mendarat bersembunyi berulangkali di sela - sela tanaman di sebuah lokasi wisata taman bebungaan di Magelang dan mengalami kesulitan mengambil gambar gerakan kupu - kupu karena saking gesitnya mereka berterbangan disana ... , terlintas dipikiranku punya keinginan untuk melihat beraneka binatang sekaligus bisa merasakan menyentuh langsung fisik mereka. 
Disatu hari, keinginanku itu kulaksanakan dengan mengatur jadwal berlibur ke Mini Zoo Jogja Exotarium.

Memang bolehkah koleksi binatang disana dibelai - belai manja gitu ?. 
Yups, boleh dong. 
Di taman seluas 9 hektar ini koleksi binatangnya diperbolehkan disentuh secara langsung fisiknya oleh pengunjung, tentunya cara menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, ya ... .


Trip Of Mine
Berinteraksi langsung dengan kura - kura Africa atau Sulcata. 
Bobot dewasanya bisa mencapai 32 - 45 kilogram.

Staff pengelola di Mini Zoo Jogja Exotarium mengklaim semua satwa koleksinya telah jinak dan aman untuk diajak berinteraksi, tentunya dengan catatan sesuai prosedur yang berlaku dan dibawah pengawasan staff. 
Misalnya, nih seekor binatang yang terlihat sedang tidur pulas dikandangnya ..., eh# mungkin juga dia sedang bermimpi indah kali, ya ? ... *lol* , tetiba diusik dibelai - belai dan dibangunin buat diajak foto bareng sama kamu ... , pasti marahlah dia. 
Kamu aja juga bakalan ngambek, kan kalo lagi enak - enaknya sleeping beauty or sleeping handsome digangguin kayak gitu ? ... he he he.


Menurut pendapat para ahli, sih, katanya dengan seringkali menyentuh langsung fisik hewan memiliki manfaat baik untuk kepribadian dan kesehatan kita, diantaranya : menjadikan pribadi yang lebih baik atau tidak kasar, mampu menurunkan tekanan darah tinggi dan mengurangi resiko lanjutan seperti penyakit jantung dan serangan stroke.


Namanya juga kebun binatang mini atau mini zoo, jangan dibayangin koleksi hewannya mirip dengan koleksi hewan kebun binatang skala besar, ya. 


Trip Of Mine
Area lokasi dilihat dari area lain, terpisahkan oleh kali

Jangan sampai dibayangin di sana tuh ada binatang eksotik berkaki jenjang, Jerapah dari benua Africa atau juga ada singa, si kucing besar gagah perkasa tapi galaknya menakutkan itu ... .
Hmm , apalagi ada dinosaurus hidup segala ... , wwwkkwk ngaco, akh !. 
Ya, iyalaaah ... , hari gini ada dinosaurus, bisa kacau balau dunia kitaaa ... , yekan ? :) .

Lalu, koleksi hewan di Mini Zoo Jogja Exotarium apa saja, ya ?.
Ya, banyak juga koleksi hewannya, ada ratusan.
Mulai dari bermacam jenis ikan, burung, kuda, biawak, kura - kura, ular dan masing - masing hewan terdiri dari beberapa jenisnya.


Trip Of Mine
Gubug reptil 1

Tiap jenis hewan ditempatkan di area berbeda yang ditata mengikuti kontur tanah yang berundak seperti bukit dan terbagi menjadi 2 area besar, terpisahkan oleh sebuah sungai cukup besar dan melewati jembatan dengan pepohonan rimbun. 


Trip Of Mine
Kuda berwajah imut ini namanya Putra Agashi :)

Trip Of Mine
Lapangan kuda

Hewan pertama yang kusentuh kura - kura berasal dari Africa berada di kandang taman bersebelahan dengan kandang taman kelinci beragam jenis.
Kuhitung kura - kura disini ada 17 ekor, terdiri dari 3 baby kura - kura ditempatkan di kandang terpisah terbuat dari semen setinggi lutut orang dewasa dan 14 ekor kura - kura dewasa berukuran besar.
Ada 1 ekor kura - kura terlihat agresif mondar - mandir mengelilingi area tamannya. 

Tau ngga, saat aku berfoto dengan 2 ekor kura - kura dewasa itu, tau - tau si kura - kura agresif  bergerak cukup cepat berjalan mengarah ke belakangku ..., aku sampai loncat karena kaget. 
Rada seram juga dengar gerakan langkah berat kakinya diatas lantai semen, bunyi berderak kencang begitu ... .


Trip Of Mine
Eh#, kenapa ya si kura - kura satu ini agresif polahnya :D

Staff petugas yang saat itu terlihat membersihkan kandang sampai tertawa melihat aku loncat karena kaget, lalu dia menjelaskan para kura - kura berukuran besar dan tampak kuat ini ngga galak dan ngga menginggit, terkecuali saat memberikan makanan tangan kita berada terlalu dekat dengan mulutnya. 
Oh, mungkin saja si kura - kura agresif itu pengin kenalan lebih dekat sama aku kali, ya ... , atau tau -tau mendadak menganggap aku ttm - nya teman tapi menjengkelkan  ..., wwkkwk !.

O, iya untuk memberikan makan kura - kura di Mini Zoo Jogja Ecotarium disediakan pilihan sayuran kangkung atau kacang panjang dengan harga seikatnya Rp. 2. 000 ,_ . 
Cukup murah, ya ..., dengan harga yang sama dengan beaya parkir bisa berkesempatan ngelus - ngelus badan kamu, eh# maksudku badan kura - kura dan ngasi makan langsung kawanan kura - kura berasal dari Africa. 

Setelah dari taman kura - kura dan taman kelinci, kulanjutkan berjalan ke bangunan gubug Nocturnal. 
Didalam bangunan gubug beratap jerami kering itu ada hewan imut lucu dan saat ini sedang banyak digandrungi oleh para kolektor pecinta satwa, siapa lagi kalau bukan ..., sugar glider.


Trip Of Mine
Si imut sugar glider ditempatkan di salah satu tumpukan kandang disana 

Hewan berbulu halus dan berwarna krem pucat itu ditempatkan di sebuah kandang kecil dilengkapi hammock mini dan saat itu si sugar glider tampak keasikan tidur meringkuk pulas di dalam hammocknya. Imut banget kayak boneka :) .
Kandang sugar glider ditempatkan bertumpuk dengan hewan kelelawar, landak mini berduri warna putih susu dan tupai, dikelompokkan berada di tengah ruangan gubug.

Sementara beberapa jenis musang atau luwak ditempatkan di masing - masing kandang mengelilingi ruangan gubug, diantaranya : musang pandan, musang bulan, musang bali, musang akar jawa dan yang istimewa koleksinya ada musang albino.


Trip Of Mine
Musang albino

Musang albino warna bulunya sangat berbeda dengan warna bulu musang pada umumnya yang rata - rata berbulu warna gelap dan merupakan jenis musang sangat langka keberadaannya.
Dan harganya seperti yang tercantum di keterangan tertempel dikandangnya cukup wow ... , sekitar 25 jutaan untuk 1 ekor. !.
Ckckckk ... , seharga 1 buah motor matic model kekinian, ya :) .  

Gubug reptil 1 selanjutnya yang kumasuki, didalam sana ada sejumlah koleksi : 2 hewan iguana berbadan gemuk dan berbeda warna, biawak, kura - kura mini dan gecko yang hampir mirip dengan fisik tokek.


Trip Of Mine
Gecko.
Berasal dari Pakistan, India, Iran dan Afghanistan



Trip Of Mine
Iguana

Ada pula hewan yang hampir mirip fisik dan keganasannya dengan komodo, namanya tegu. Hanya saja ukuran fisiknya jauh lebih kecil daripada komodo.
Binatang pemakan daging dan agresif berasal dari Argentina ini ditempatkan di kandang berkawat dan didalam kandangnya dipenuhi sejumlah anak ayam sebagai santapan 3 hewan tegu.
Para tegu ini tak kalah agresif bergerak seperti para anak ayam sibuk kesana kemari mengitari kandang sambil terus ramai berkeciak mengeluarkan suara.
Sebenarnya aku ngga tega rasanya melihat para anak ayam imut menggemaskan itu siap ditelan bulat - bulat oleh para tegu ... .
Tapi apa boleh buat, ya ... , kan itu memang mata rantai kehidupan.


Trip Of Mine
Tegu berasal dari Argentina

Gubug reptil 2 letaknya berada paling sudut diantara gubug lainnya.
Ada koleksi hewan apa sajakah disana ?. 
Ternyata, hanya khusus diperuntukan sebagai kandang beragam jenis hewan ... , ulaaa ... ar !.
Ohh, sampai di gubug ini aku cuma berani berdiri di tengah ruangan gubug sambil berbincang dengan staff penjaga mengenai koleksi jenis - jenis ular, tanpa berani mendekati sekat kandang - kandang kaca penyimpanan hewan ular.
Ular - ular berukuran kecil ditempatkan di wadah plastik kecil berongga dan hampir kesemua koleksi hewan ularnya berukuran sebesar lingkar paha orang dewasa. 
Ada jenis ular phyton, sanca, kobra dan ... , anaconda !.

Whoaaaa ... , seumur - umur aku baru kali ini lihat langsung tampilan fisik ular terbesar di dunia berasal dari sungai Amazone dan terkenal dengan belitannya yang sangat mematikan itu.
Dan taukah, koleksi ular anaconda di Mini Zoo Jogja Exotarium ini baru berusia 5 bulan, itupun ukurannya sudah segede lingkar ular phyton dan juga ... , diklaim jinak diajak berfoto.
Memang, sih disana ada beberapa foto terpasang didindingnya, foto - foto para pengunjung berselfie dengan para ular.
Sementara aku cukup melihat langsung saja, tak pakai acara memotretnya dan menyertakan di post ini.

Selain dapat melihat koleksi jenis - jenis hewan, aku juga sempat masuk ke area florist tempat area penjualan bibit tanaman hias dan tanaman buah.
Cukup lengkap juga koleksi tanamannya.


Trip Of Mine
Golden Pheasant si burung cantik dari dataran tinggi Tibet, Chinna

Juga mengitari area burung, area kuda tunggang, spot belajar memanah atau Archery, area spot selfie, area budidaya ikan, area terapi ikan, kolam renang dan kolam ikan ganas dan berukuran besar, ikan arapaima.


Trip Of Mine
Area kolam renang

Rute termudah untuk pencapaian ke lokasi melewati jalan Kebon Agung tepat di sebelah terminal Jombor, kemudian lurus terus sampai bertemu di pertigaan jalan desa, ambil ke arah kanan dengan melewati lahan persawahan di kiri dan kanan jalan, setelah itu berbelok ke arah kiri melewati jalan perkampungan warga. Tak jauh dari situ, cukup mengikuti papan petunjuk jalan arah rute menuju ke lokasi.

Lalu di Mini Zoo Jogja Exotarium sempat berfoto dengan hewan apa, nih ?.
Ya, cukup foto bareng dengan kura - kura berukuran besar berasal dari Africa itu saja ... , he he he. 
Selebihnya memotret koleksi hewan - hewan yang ada disana, kecuali ular.


Lokasi :
Mini Zoo Jogja Exotarium
Jalan Magelang Km 8, Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
• Masuk area 10K
• Wahana perorangnya, diantaranya : naik kuda tunggang 15K, panahan 10K, terapi ikan 5K dan kolam renang 10K
• Kegiatan fieldtrip, outbound dan family gathering harga perorangnya disesuaikan kategori usia
• Kemah selama 2 hari 1 malam perorangnya dikenai 30K 
[Info harga dan kondisi diatas sewaktu - waktu dapat berubah]









Tuesday, January 22, 2019

Candi Pawon, Candi Ramping di Tengah Garis Imajiner

Candi Pawon merupakan candi Buddha. Memiliki tinggi 13, 3 meter dan berukuran ramping tak seperti pada umumnya candi - candi Buddha lainnya.
Terletak berada di posisi tengah garis imajiner antara candi Mendut dan candi Borobudur, candi Pawon dibangun pada abad ke 8.
Hanya berjarak sekitar 2 kilometer atau memerlukan waktu sekitar 5 menit kutempuh dengan kendaraan dari lokasi candi Mendut, lokasi candi Pawon berada di sebuah dusun dan dikelilingi rumah warga.


Trip Of Mine
Bilik candi Pawon

Mungkin dan bisa jadi untuk sebagian besar orang dengan menyebut kata dusun, akan segera terlintas di pikiran gambaran suasana sebuah perkampungan warga dengan tampilan sederhana dan letaknya berada dikitari pemandangan lebatnya pepohonan asri seperti pada umumnya di daerah pegunungan jauh terpencil dari perkotaan. Begitupun juga yang terpintas dipikiranku saat itu, kukira penataan area perkampungan dusun Brojonalan tempat lokasi candi Pawon ini berada masih terlihat tampil 'apa adanya' seperti tampilan banyak dusun - dusun lainnya di Indonesia, belum tersentuh proyek pembangunan dari pemerintah.

Trip Of Mine
Jalan dusun Brojonalan, tempat candi Pawon berada

Ternyata, sesampainya aku di dusun yang nama dusunnya menurut penelitian team arkeologi diambil dari bahasa Sansekerta, Vajranala yang memiliki arti 'Senjata yang memiliki api' ini lingkungan area dusunnya telah digarap dengan baik, terlihat telah cukup dipersiapkan untuk kunjungan wisatawan dari mancanegara. 
Asal usul nama desa Brajanalan dikaitkan dengan kata dari bahasa Sansekerta. Bajra dikembangkan dari kata Vajra = senjata. Nala diambil dari kata Anala = api. Jika digabungkan kedua kata Vajra dan Anala memiliki arti Senjata yang mengeluarkan api.
Akses jalan dusun dipaving blok rapi dibuat mengikuti kontur tanah yang sedikit menanjak dari arah kedatangan di pertigaan badan Jalan Syailendra Raya dan di sepanjang jalan kenangan dusun dihiasi tiang -tiang lampu berwarna tembaga berhiaskan ornamen kepala relief raksasa Kalamakara. 


Trip Of Mine
Ruang informasi


Trip Of Mine
Satu dari empat display batu berelief candi Pawon

Selain area dusun telah tertata rapi, sekitaran area candi Pawon dilengkapi 1 ruang informasi dilengkapi layar televisi menayangkan film tentang sejarah candi dan proses penelitian team arkeologi serta dilengkapi majalah dan brosur tentang candi juga display 4 potongan batu relief. 


Trip Of Mine
Art gallery

Terdapat pula kios art gallery hasil karya para seniman, kios - kios pedagang cinderamata dan kedai kopi dengan bangunan berkonsep Jawa traditional.


Trip Of Mine
Kedai kopi Pawon Luwak coffee.
Kebetulan saat aku kesana beragam jenis kopi terlihat sedang dijemur 

Ya, sebenarnya sih enak kedai kopinya bisa buat nongki - nongki asik gitu nyeruput ngopi sambil mandangin kamu, ... ,eh# keindahan candi Pawon dari kejauhan, tapi sayangnya pemandangan ke arah candi sedikit terhalang oleh salah satu bangunan kios pedagang souvenir dan pepohonan besar.
Seandainya saja, pemandangan ke arah candi Pawon dari kejauhan terlihat utuh tak terhalang oleh apapun didepannya, pasti duduk ngopi di kedai kopi saat  pagi hari atau sore hari, hmm ... , sepertinya akan tampak dramatis, ya. 
Warna orange sinar matahari pasti tambah bikin cantik pemandangan ke arah candi. 

Relief kepala Kalamakara tanpa rahang bawah diatas pintu candi menuju bilik dan guratan pahatan dibawahnya bertuliskan 1904, dua obyek yang pertama jadi perhatianku saat aku menaiki badan candi. 


Trip Of Mine
Candi Pawon tampak dari depan

Kalamakara merupakan sosok raksasa berkemampuan mengusir roh jahat dan guratan tahun 1904 menandakan selesainya proses pemugaran candi Pawon, setelah diketemukan kembali dalam kedaaan rusak di bagian atapnya dan tertutup oleh semak belukar pada tahun 1900an.

Di panel sisi depan sebelah kiri badan candi yang menghadap ke arah barat ini dihiasi relief sosok Kuwera dewa kekayaan. Sementara di panel sebelah kanan relief sudah tak terlihat utuh lagi. 
Demikian juga di bagian pangkal pipi tangga menuju selasar dan bilik, hanya menyisakan 1 relief kepala naga di sebelah kiri.

Di badan candi Pawon sebelah selatan dan utara terdapat relief yang sama antar keduanya, berupa relief sepasang makluk Kinara Kinari merupakan sosok lambang kebaikan dan kemakmuran berwujud memiliki kepala manusia bertubuh burung sedang mengapit pundi - pundi dan pohon suci Kalpataru ditanam dalam sebuah jambangan berukuran besar dan terlihat relief 2 dewa dewi terbang berada di atas langit.


Trip Of Mine
Relief Kinara Kinari mengapit pohon Kalpataru dan dua dewa dewi terbang di atas langit

Uniknya, bangunan candi Buddha bercorak perpaduan antara corak Hindu dan Buddha yang dibangun pada 834 Masehi ini dilengkapi ventilasi udara berupa celah kotak disetiap sisinya. Diantara kedua celah ventilasi di bagian luar badan candi terdapat relief Kumuda. 
Adanya ventilasi di badan candi jadi satu pembeda tersendiri dengan candi - candi lainnya dan jadi misterius tersendiri tentang apa sebenarnya kegunaan ventilasi tersebut.

Berdasarkan arti bahasa Jawa, pawon adalah dapur atau sarana untuk memasak. Namun pendapat J.G de Casparis seorang ahli epigrafi dan team arkeologi berasal dari negara Belanda berkesimpulan jika kata pawon di candi ini berasal dari kata awu atau pengawuan, yang artinya tempat penyimpanan abu jenasah.

Menurut prasasti Karang Tengah 834 Masehi bertuliskan bahasa Sansekerta juga  disebutkan bahwa candi Pawon merupakan bangunan yang didirikan untuk menyimpan senjata dan abu jenasah raja Indra, raja pertama yang memimpin dinasti Syailendra dan merupakan ayah dari raja Samaratungga. 
Dan dalam prasasti Karang Tengah juga disebutkan, candi ini mengeluarkan sinar atau cahaya.
Para ahli arkeolog berkesimpulan jika dahulu kala didalam bilik candi Pawon terdapat arca terbuat dari perunggu yang mengeluarkan cahaya saat terpantul sinar.


Trip Of Mine
Ruangan bilik candi Pawon

Sayangnya, sekarang ini bilik candi dalam keadan kosong, hanya menyisakan 2 relung berhiaskan kepala Kalamakara dan ornamen disekelilingnya. 

Arca yang diduga mengeluarkan sinar itu tak lagi diketahui keberadaannya.
Bagian atas candi yang dahulu saat diketemukan kembali telah mengalami kerusakan diganti dengan menggunakan material serupa, batu andesit yang berasal dari aliran Kali Elo.


Trip Of Mine
Unik, badan candi dilengkapi ventilasi

Dilihat dari kesamaan bentuk ukiran relief indah, candi Pawon memiliki kaitan erat dengan candi Mendut dan candi Borobudur.
Diduga dahulu kala, candi Pawon digunakan setelah prosesi penyucian diri dari candi Mendut, kemudian dari candi Pawon prosesi spiritual dilanjutkan ke candi Borobudur.
Rute prosesi dari candi Mendut ke candi Pawon, para ahli menduga bahwa nenek moyang kita pada jamannya dahulu telah berkemampuan membuat jembatan penghubung untuk melintasi 2 kali besar, Kali Elo dan Kali Progo.

Jalan dusun Brojonalan tempat lokasi candi Pawon ini berada, dapat diakses melalui 2 jalur berlawanan arah dengan melewati jalan utama dusun dan masing - masing menembus ke pertigaan Jalan Syailendra Raya dan satunya menembus ke Jalan Balaputeradewa. 
Sebenarnya, sebelum aku berlibur ke candi Pawon ini aku sudah beberapakali melewati kedua jalan yang selalu ramai dilalui oleh kendaraan itu, tapi karena tidak adanya papan nama petunjuk lokasi candi Pawon ditepi jalan membuat aku tidak mengetahui secara pasti dimana tepatnya lokasi candi Pawon ini berada. 


Trip Of Mine
Pertigaan jalan Syailendra Raya.
Belokan paling kiri menuju ke dusun Brojonalan

Selama itu pula aku hanya mengenal informasi lokasi candinya terletak berada di desa Wanurejo, sedangkan desa Wanurejo memiliki wilayah cukup luas terdiri dari 9 dusun. 
Dan kuingat - ingat memang sepertinya aku pernah berlibur di hotel Pondok Tingal yang berlokasi di Jalan Balaputeradewa.

Baca juga : https://www.tripofmine.com/2018/11/museum-sasono-guno-roso-koleksi-wayang-mancanegara-dan-lokal.html

Saat perjalanan pulangku dari lokasi candi Pawon, aku sengaja memilih tak kembali melewati arah rute kedatangan dari Jalan Syailendra Raya, tapi mencoba berbelok ke arah kiri dari pelataran halaman candi menuju ke arah berlawanan.


Trip Of Mine
Pelataran halaman candi Pawon dikelilingi rumah warga dan deretan kios souvenir

Dan ternyata, benar saja ... , rute itu tembusnya tak jauh dari lokasi hotel Pondok Tingal di Jalan Balaputeradewa. 
Cukup dengan menyeberang jalan dan berjalan kakipun juga sampai tujuan.

Owalaaaaah cyiiiiiiiin ... , ha ha ha ..., tau gitu kan dulu sekalian saja mampir liburan ke candi Pawon setelah dari museum wayang.
Kan udah deket banget jaraknya !.
Hmm ..., kenapa juga ngga bertanya ke google maps :) ?.

Lokasi :
Candi Pawon
Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kabupaten Magelang

Tiket :
Rp. 3. 500 ,_
▪ Harga tiket termasuk untuk kunjungan ke candi Mendut 
▪ Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah.

Monday, January 14, 2019

Ramadanu : Taman Bunga Nuansa Belanda Ala Jawa

Sekawanan kupu - kupu beraneka warna  dengan dominasi warna kuning dan putih tampak terlihat berterbangan kesana kemari, kira - kira 10 sentimeter jarak terbangnya dari bagian puncak hamparan bebungaan. 
Tak lama kemudian, sebagian dari mereka mendarat kembali masuk ke sela - sela tanaman, tak tampak lagi kepak - kepak sayap mungil mereka ikut menghiasi penampilan indahnya taman. 
Pemandangan berulang kawanan kupu - kupu hinggap dan kemudian terbang silih berganti itu mulai kulihat dari area parkir di luar pagar pembatas area taman dari seberang kali kecil yang membelah antara jalan desa perkampungan warga dan lokasi taman bunga Taman Ramadanu. 


Trip Of Mine
Mengintip kamu, eh# ... , kupu - kupu di taman bunga Ramadanu

Entah penampakan kawanan kupu - kupu sebanyak itu hanya suatu kebetulan yang kutemui semata buatku, atau memang suatu keadaan di bulan Januari habitat perkembangbiakan mereka sedang banyak - banyaknya, atau juga memang karena adanya bebungaan dalam jumlah sangat banyak selalu jadi incaran lokasi hewan termasuk jenis serangga itu untuk berburu makanan. 
Entahlah ... , tapi yang jelas pemandangan unik itu terasa berkesan buatku karena selama ini tak sekalipun pernah kulihat secara langsung puluhan kupu - kupu dalam jumlah sebanyak itu berada di suatu lokasi area terbuka.

Sayangnya, kawanan kupu - kupu berukuran kecil itu tak tertangkap gambarnya di kameraku. 
Berulangkali aku sengaja mencoba mendekati satu kelompok tanaman yang ditata sedemikian rupa oleh pengelola Taman Ramadanu untuk mengambil gambar mereka, tapi setiap kali pula itu kulakukan kawanan kupu - kupu dengan gerakan cepat terbang pergi menjauh untuk kemudian 'bersembunyi' mendarat di kelompok tanaman bunga yang lainnya. 


Trip Of Mine
Kayak betulan berada di perkebunan bunga tulip di Belanda, ya :)

Pasti banyak orang akan dibuat terkecoh melihat fotoku berdiri berada di depan spot kincir angin yang berada di tengah area Taman Ramadanu, seolah lokasi liburanku kali ini sedang betulan berada di tengah sebuah area taman kebun bunga jauh di negara Belanda sana. 
Ya, ngga ... ?, 
hayooo akui sajalah ... , ngga usah pakai acara malu malu kucing dan nyengir kuda kepang begitu dong bacanya hi hi hi. 

Memang jika dilihat sekilas, fotoku yang tampak terlihat aku seolah sedang terkagum - kagum memandangi kincir angin berukuran besar ini lokasinya berada di dalam area taman bunga tempat acara liburan ketje di negara yang terkenal dengan ikoniknya bunga tulip itu, padahal bukan. 
Ini lokasinya masih di Indonesia, tepatnya di pulau Jawa.


Trip Of Mine
Tanaman bunga Celosia sebagai andalannya

Taman penuh bunga cantik satu ini lokasinya berada di sebuah pedesaan di kabupaten Magelang, tepatnya di dusun Danurojo, Sambi Roro, Jamuskauman, Ngluwar. 


Trip Of Mine
Fiber warna - warni ketje juga buat kap lampu ... , terinspirasi ;)

Lokasi tamannya 'terjepit' berada ditengah antara area persawahan dan jalan desa yang dipenuhi padatnya deretan rumah warga. 
Jadi bisa ditebak dengan adanya lokasi taman wisata buatan yang dibuka sejak bulan Juni 2018 lalu ini ditengah perkampungan, banyak rumah - rumah warga di sekitar area taman ikut 'menyulap diri' jadi tempat sarana kuliner melayani kebutuhan makanan dan minuman untuk wisatawan. 

Di dalam area Taman Ramadanu juga tersedia satu area kafe dengan tampilan cukup eye catching dilengkapi dengan sekumpulan meja berpayung dan kursi kayu untuk nongki menikmati hidangan sambil memandangi hamparan bebungaan disana.


Trip Of Mine
Kafe taman

Sayangnya konter kafe berwarna kuning mentereng yang terletak di sebelah konter tiket area ini tak menyediakan sajian menu spesifik khas Magelang, seperti : Kupat Tahu, Nasi Goreng Magelangan, Sop Senerek atau juga Mangut Beong. 
Seandainya saja menu - menu masakan khas Magelang ikut disediakan di kafenya, tentu akan jadi nilai tambah tersendiri karena wisatawan ikut diperkenalkan secara langsung rupa dan rasa makanan khas Magelang.
Kulihat di daftar menu pilihannya hanya tersedia menu sama seperti yang dijajakan di warung - warung warga, tak jauh dari pilihan sajian bakso dan mie instan.


Trip Of Mine
Spot selfie nama sejumlah lokasi wisata ngehits di Magelang

Jenis hidangan makanan spesifik khas Magelang tak terwakili di kafenya, tapi beruntungnya sejumlah nama lokasi wisata ternama di Magelang terwakili di spot tiang penunjuk arah yang berada di tengah taman, berdekatan dengan spot kincir angin.

Spot ini selain cukup keren untuk lokasi berfoto juga informatif buat pengunjung, terutama wisatawan dari luar kota karena berapa jarak kilometer suatu lokasi wisata lain akan ditempuh dari lokasi area taman bunga Taman Ramadanu ikut dicantumkan dipapannya.  

Jika dilihat dari atas ketinggian spot rumah panggung, sebagian besar formasi tanaman terlihat ditata berbentuk seperti labirin setengah lingkaran. 


Trip Of Mine
Dilihat dari ketinggian

Dengan hamparan tanaman bunga Celosia berwarna merah dan kuning sebagai tanaman hias utamanya, taman cukup luas areanya ini juga terdapat tanaman bunga Vinka, bunga Matahari, bunga Zinnia dan beberapa jenis tanaman bunga lainnya.

Sejumlah pilihan spot selfie beragam bentuk terbuat dari susunan bambu ditata mengelilingi taman.
Tak hanya itu, di tengah area terdapat beberapa spot bangku taman dihiasi latar belakang sekumpulan penuh bunga plastik cantik Mei Hua berwarna merah muda, bunga khas dari negara China dan digunakan untuk hiasan acara Imlek.


Trip Of Mine
Semua bebungaanya asli, terkecuali bunga Mei Hua

2 motor antik merk Vespa dan Honda yang sudah tak berfungsi mesinnya, ikut dipajang sebagai property berfoto ketje.
Vespa jadul warna pink sengaja kupilih untuk foto gegayaan he he he ... .


Trip Of Mine
Sesekali mendadak pink wokey juga :)

Biar beda gitu. Sesekali tampil dengan properti foto berwarna pink, ternyata bagus juga hasilnya, ... , eh#.

Asiknya lagi, untuk berfoto di semua spot selfie di Taman Ramadanu pengunjung tak dikenai beaya tambahan. 
Cukup dengan membayar tiket masuk area Rp. 10. 000 ,_ , bisa berfoto di spot manapun sesuai keinginan.

Memilih berfoto di spot selfie manapun dan dengan pasang aksi gaya apapun di depan kamera, tak ada larangan untuk itu. 
Eh, tapi bukan berarti karena kesenangan tau gratisan buat gunain semua spot selfie di Taman Ramadanu ...,  lalu lupa diri gegayaan berfoto pakai acara aksi levitasi melompat segala dari ketinggian spot rumah panggung loh, ya.


Trip Of Mine
Spot rumah panggung.
Tangganya sempiiit banget ... , kudu hati - hati menuruninya

Jangan dilakukan !.
Bisa - bisa tubuh indah nan seksi  milikmu nyungsep mendarat tak sempurna di sela - sela tanaman bunga matahari yang ditanam berada dibawah spot rumah panggung ..., wwkkkwkk !.

Cukup berpose foto manis saja buat nambah feeds akun instagram.
Atau kalau ngga ingin berfoto, memilih duduk - duduk saja di pinggir beberapa kolam ikan mas, tak kalah menyenangkan mengisi kegiatan liburan di Taman Ramadanu.


Trip Of Mine
Banyak ya ikan masnya :) 

Ada satu hal yang cukup menarik diperhatikan di Taman Ramadanu. 
Berbeda dengan konsep taman bunga yang lain, ternyata setiap hari jam operasionalnya sampai mendekati tengah malam hari.
Saat kuketahui informasinya, aku langsung kebayang gimana ramainya di dalam area taman dan sekitar luar taman saat malam minggu tiba.
Bisa jadi, suasana malam sekitar taman jadi ramai kayak pasar tiban, jalan dipenuhi oleh lapak para pedagang kaki lima menjajakan bermacam aneka dagangan. Seru juga, ya. 
Duh, kok ..., jadi kepengin juga sih nyobain liburan kesana malam hari ..., hmm tapi sama siapa, ya ?.


Lokasi :
Taman Ramadanu
Dusun Danurojo, Sambi Roro, Jamuskauman, Ngluwar, Kabupaten Magelang

Tiket :
Rp. 10. 000 ,_
[ Info harga tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]

Jam operasional :
08. 00 - 23. 00

Tips ketje berlibur ala Trip Of Mine :
▪ Akses rute menuju dan ke lokasi Taman Ramadanu, sebenarnya juga dapat ditempuh melalui jalan alternatif melalui jalan pedesaan dari salah satu badan jalan di dekat lokasi candi Mendut.
Tapi rute jalan alternatif tersebut tidak cukup mudah dikenali untuk wisatawan luar kota, terkecuali selama perjalanan didampingi tour guide berasal dari wilayah setempat.

Rute termudah menuju ke lokasi Taman Ramadanu ditempuh melalui jalan utama Magelang - Yogyakarta dan gapura besar perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta yang berada di kecamatan Salam sebagai patokan awal untuk pencarian lokasi.
Tak jauh dari gapura berukuran besar dan melintang di atas jalan itu, rute kemudian dilanjutkan dengan masuk ke belokan jalan pedesaan dan papan nama Puskesmas Salam sebagai petunjuk ke arah rute yang benar.
Lurus saja, sampai terlihat papan nama lokasi Taman Ramadanu berada di depan dusun Danurojo.
Pastikan jangan salah rute, ya.

▪ Di saat musim penghujan, licinnya permukaan tanah area taman yang tanpa diplester dibiarkan tampil alami apa adanya, wajib diperhatikan dengan baik. 
Jangan sampai liburan dan berburu foto keren untuk feeds instagram kamu malah berujung tergelincir ala - ala :)

▪ Krim atau lotion tabir surya sepertinya jenis kosmetik yang wajib masuk dalam tas perbekalan kamu buat berlibur di Taman Ramadanu. 
Oleskan sebelum kamu mengitari area taman dan bersiap pasang gegayaan beragam jurus andalan di depan kamera digital atau kamera smartphone kamu he he he.


Trip Of Mine
Keren ya tampilan bunganya ... , jadi pengin nanam juga buat dirumah :)

Masalahnya bukaan area taman ini juga terasa panas menyengat terkena terpaan sinar matahari secara langsung, meski areanya banyak sekali tanaman, dikitari oleh kali dan bersebelahan dengan persawahan.