Thursday, June 13, 2019

Melihat Beberapa Bangunan Ikonik di Sekitar Alun - alun Magelang

Di suatu pagi, ketika melewati pusat kota Magelang untuk kesekiankalinya, tercetus ide ajakan dari mulut kecil si keponakanku, Celyn untuk singgah melipir menepikan kendaraanku kembali di pusat keramaian alun - alun Magelang. 

Ajakan gadis kecil cantik berwajah oriental itu tanpa pikir ulang dua kali, langsung kuiyakan. 

Sebelumnya, kira - kira tiga bulan lalu, aku juga pernah menemani dua keponakanku, Fanny dan Celyn jalan - jalan sore di alun - alun yang terletak di Kelurahan Kemirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang ini untuk kegiatan mewarnai lukisan styreofoam yang digelar oleh beberapa pedagang disana. 

Saat itu mereka begitu antusias duduk anteng di bangku kayu kecil mewarnai pola gambar yang mereka pilih masing - masing, tak mempedulikan saat hujan gerimis rintik - rintik mulai turun ..., sementara omnya mereka ini mulai panik dan koar - koar meminta mereka  untuk segera meninggalkan area alun - alun ..., ha ha ha ..., tetap saja mereka berdua tak bergeming dan terus berkonsentrasi maksimal menyelesaikan polesan warna pola gambarnya dan setelah hasil mewarnai styreofoam selesai dikerjakan, mereka bawa pulang kerumah dengan perasaan senangnya. 

Di kesempatan ini, bertepatan dengan libur panjang sekolahnya, Celyn kembali mengajakku jalan - jalan di alun - alun Magelang. 


Trip Of Mine


Kedatangan kami kali ini bukan di sore hari seperti waktu itu, tapi di pagi hari saat area alun - alun tidak begitu ramai dikunjungi oleh banyak orang seperti mulai menjelang sore hari hingga tengah malam hari.
Hanya tampak beberapa orang hilir mudik mengelililingi trotoar alun - alun melakukan jogging, duduk - duduk santai di tembok pembatas tanaman beringin di tengah alun - alun dan beberapa orang tampak menikmati sarapan pagi sambil berselancar wi- fi gratisan di area kuliner yang ditempatkan berkelompok di sebelah utara. 

Dan kali ini, kami berdua datang kesana untuk melihat apa saja yang ada di alun - alun Magelang. 
Tepatnya melihat bangunan - bangunan ikonik peninggalan berusia ratusan tahun yang berada di sekelilingnya.

Letak alun - alun Magelang sangat strategis, mudah dijangkau dan posisinya berada di tengah empat arus jalur lalu - lintas utama. 

Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan alun - alun Selatan, sebelah Utara berbatasan dengan Jalan alun - alun Utara, sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Tentara Pelajar dan sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Ahmad Yani.


Trip Of Mine


Alun - alun Magelang memiliki pemandangan menawan dikelilingi oleh tiga pegunungan yang tampak dari kejauhan ..., gunung Sumbing, gunung Tidar, dan gunung Merbabu. 

Ruang terbuka alun - alun Magelang penataannya digarap apik dilengkapi sarana beberapa taman bunga berkelompok rapi dengan tiang - tiang lampu cantik beragam bentuk juga dilengkapi fasilitas pertunjukan hiburan dancing fountain atau air mancur menari dengan permainan tata warna cahaya memikat. 


Trip Of Mine


Pertunjukan atraksi air mancur menari atau dancing fountain dibedakan jadwal dan jam harinya.

  •  Sabtu atau malam minggu :  20. 00 - 20. 30 dan 21. 30 - 22. 00
  • Malam libur nasional :  20. 00 - 20. 30 dan 21. 30 - 22. 00
  • Minggu libur nasional : 11. 00 - 11. 30 dan 16. 00 - 16. 30


Alun - alun Magelang mulai dibuat pengerjaannya pada tahun 1812 setelah Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles mengangkat Mas Ngabehi Danuningrat yang bergelar Adipati Danuningat I sebagai Bupati pertama Magelang. 

Selain membuat alun - alun, Adipati Danuningrat I juga membangun rumah dinas Bupati dan sarana mushola [dalam bahasa Jawa diartikan Langgar, semacam surau] yang kelak menjadi masjid besar yang tampak seperti sekarang setelah melewati beberapakali proses pemugaran. 

Pada tahun 1813 Magelang kembali lagi menjadi daerah kolonial Belanda dan mulai mengembangkan tata kota yang maju dengan mendirikan sejumlah gedung bangunan di sekitaran alun - alun Magelang yang keberadaannya tetap berdiri anggun dengan indahnya hingga sekarang ini. 
Diantaranya mendirikan bangunan :

  • Gereja Protestan Indonesia Baru atau GPIB ~ 1817
  • Kelenteng Liong Hok Bio ~ 1864
  • Gereja Santo Ignatius ~ 1865
  • Middlebare Opleiding Schol voor Indasche Ambtenaren ~ 1878
  • Water Toren ~ 1916
  • Kantor Pos ~ 1920

Setelah kami berdua menyelesaikan menghabiskan sarapan 'amunisi' sepotong roti soes krim vanilla dan segelas susu cokelat pilihanku, dan Celyn memilih camilan sosis sebagai suntikan tambahan energi, kami memulai mengitari alun - alun Magelang dan melihat dari dekat keberadaan gedung - gedung historikal. 


Dimulai lokasi terdekat dari area kuliner, yaitu Water Toren, kemudian berlanjut mengelilingi keempat penjuru.


* Water Toren

Merupakan bangunan menara air [Bahasa Belanda : Water Toren, Bahasa Inggris : Water Tower]. 

Bangunan yang terkenal sebagai Land Mark nya kota Magelang ini dibangun pada tahun 1916 oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitektur kenamaan berkebangsaan Belanda.

Resmi mulai dipergunakan untuk menampung sumber mata air dari desa Kalegen dan Wulung pada tanggal 2 Mei 1920. 

Karena bentuknya, menara air yang memiliki tinggi 21, 2 meter dan memiliki 32 pilar ini seringkali disebut oleh masyarakat Magelang dengan kompor.


Trip Of Mine


Bentuk bangunannya memanglah mirip dengan bentuk kompor minyak tanah bersumbu yang mungkin saat ini keberadaan kompor berbentuk seperti itu telah sulit diketemukan lagi di pasar atau pusat perbelanjaan. 

Memiliki dua bangunan melingkar di bawah dan di atas. 

Bagian bawah terdiri dari 16 ruangan dahulunya difungsikan diantaranya  sebagai ruang laboratorium, ruang administrasi dan ruang pengontrol air, kini bagian bawah difungsikan sebagai gudang penyimpanan.

Bagian bangunan diatas berfungsi menampung air sebanyak 1, 750 juta liter air untuk memenuhi kebutuhan air warga kota Magelang.

Menara air di alun - alun Magelang yang dicat berwarna biru dan putih ini masih berfungsi dan dipergunakan oleh PDAM kota Magelang.


* Kelenteng Liong Hok Bio

Lokasi kelenteng Liong Hok Bio berada di sudut perempatan jalan, di sebelah selatan alun - alun Magelang.
Tepatnya di Jalan Alun - alun selatan nomor 2, Kecamatan Magelang Tengah. 


Trip Of Mine


Kelenteng megah sangat indah dengan dominasi warna merah mentereng dan memiliki ciri khas kuat bangunan Tiongkok ini adalah bangunan kelenteng baru, menggantikan kelenteng lama Liong Hok Bio yang ludes terbakar pada tanggal 16 Juni 2014 lalu. 


Trip Of Mine


Bangunan baru kelenteng Liong Hok Bio diresmikan pada tanggal 25 Maret 2018, bertepatan dengan perayaan hari TAO. 

Kelenteng lama Liong Hok Bio didirikan pada tahun 1864 oleh warga etnis Tionghoa yang dipercaya oleh kolonial Belanda, bernama Be Koen Wie atau Tjok Bok. 

Be Koen Wie merupakan saudagar kaya raya berasal dari kota Surakarta atau Solo. 
Kedekatannya dengan pemerintah kolonial Belanda, membuat Be Koen Wie diangkat menjadi Letnan dan dipindahtugaskan di kota Magelang.
Tak lama kemudian, diangkat menjadi Kapten. 

Kekayaannya yang melimpah ruah, Kapten Be Koen Wie tergerak menghadiahkan sebidang tanah untuk dibangun sebuah tempat peribadatan Tri Dharma. 


Trip Of Mine


Kelenteng lama Liong Hok Bio sarat menyimpan sejarah, saksi bisu sejarah perjuangan masyarakat Tionghoa turut berperan serta melawan penjajah Belanda dalam Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.


* Monumen Electrificatie

Monumen Electrificatie letaknya tepat berada di depan seberang jalan masuk pintu kelenteng Liong Hok Bio.

 Dibangun kolonial Belanda pada tahun 1924 untuk menandai sumber penerangan tenaga listrik pertamakali dialirkan masuk ke kota Magelang. 


Trip Of Mine


Tulisan dalam bahasa Belanda 'Mart 1924 Electrificatie Magelang' terukir rapi di monumen dengan bentuk tinggi meruncing dan dipoles dengan cat warna kuning keemasan ini.


* Masjid Agung



Lokasi Masjid Agung berseberangan dengan lokasi dancing fountain atau air mancur menari alun - alun Magelang. 

Awalnya bernama masjid Jami'. Didirikan tahun 1650 oleh KH. Mudakir, seorang tokoh ulama dari Jawa - Timur. 

Masjid Agung yang juga terkenal dengan nama masjid Kauman ini semula hanyalah berbentuk mushola kecil [Masyarakat Jawa mengistilahkan dengan langgar, semacam surau].

Pertamakali dipugar dipugar pada tahun 1797. 
Catatan tahun pemugaran tersebut tercatat dalam sebuah prasasti yang tertulis dalam dua bahasa, bahasa Belanda dan bahasa Arab. 
Kini prasasti tersebut tersimpan rapi berada di dalam masjid Agung Magelang. 


Trip Of Mine


Pemugaran masjid dilakukan sampai beberapakali dan pada tahun 1934 oleh Bupati Magelang V, RAA Danoe Soegondo dilakukan pemugaran besar - besaran hingga bentuk masjid terlihat seperti sekarang.



* GPIB Jemaat 'Magelang'


Gereja berdesain arsitektur Gothic dengan ciri khas memiliki menara tinggi dan runcing ini merupakan gereja tertua di kota Magelang.

Dibangun pada tahun 1817 dan lebih tua usianya dari masa Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825 - 1830. 

Di tahun 2019 ini usianya telah mencapai 202 tahun. 

Memiliki tinggi menara sekitar 15 meter, keseluruhan dinding jendela berhiaskan kaca patri indah berwarna - warni menggambarkan kisah Yesus Kristus, dan memiliki bentuk pintu dan jendela berbentuk melengkung meruncing ke atas.

Pada tahun 2014 nama asli gereja diubah dan diresmikan oleh Walikota Magelang, dari semula bernama GPIB Jemaat 'Magelang' Magelang berganti nama menjadi GPIB Jemaat 'Beth - El' Magelang.


Trip Of Mine


Lokasi bangunan Heritage Magelang ini berada di sebelah utara alun - alun Magelang, bersedekatan dengan bangunan Water Toren. 



Setelah melihat dari dekat bangunan Water Toren yang menjadi Land Marknya kota Magelang, juga melihat bangunan - bangunan ikonik bersejarah di sebelah selatan, barat dan utara, aku dan Celyn berjalan bergandengan tangan mengarah menuju ke arah timur alun - alun Magelang yang memiliki slogan kota sebagai 'Kota Sejuta Bunga'.

Trip Of Mine


Disana terdapat patung pahlawan nasional Pangeran Diponegoro menunggangi kuda putih dengan ekspresi gagah beraninya. 
Tak jauh dari situ, hanya bersebelahan jarak terpampang tulisan besar kota Magelang. 

Trip Of Mine


Saat kami melangkah meninggalkan sebelah timur alun - alun Magelang yang berseberangan jalan dengan keberadaan lokasi gedung Kantor Pos peninggalan kolonial Belanda, eks gedung bioskop Magelang Theatre dan department store ternama ..., tampak sekumpulan pemuda tanggung usia asyik bergantian berlatih keseimbangan tubuh berdiri melajukan papan skateboard di sudut trotoar taman alun - alun Magelang diiringi musik berdentam - dentam yang dikeluarkan suaranya melalui tape recorder milik mereka.
Seru !. 


Lokasi :
Alun - alun Magelang
Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa - Tengah




Saturday, June 1, 2019

Taman Naura, Spot Selfie Kekinian Diapit Perkebunan

Pengalaman meniti membal - membalnya jembatan panjang rangkaian bambu yang sengaja dibuat lebih tinggi dari daratan dibawahnya, jadi sensasi pertama yang kami berdua rasakan saat mulai memasuki taman Naura, taman wisata kekinian yang berada di Kalipeh, Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang ini.



Trip Of Mine


Titian panjang jembatan bambu itu memang dibuat dengan sengaja karena dibawahnya terhampar perkebunan warga membelah kiri dan kanan pemandangan menghijau dan suburnya beragam jenis palawija. 

Saat kami berdua, aku dan keponakanku Fanny, si hitam manis eksotik berambut kriwil bak tampilan dara berasal dari pulau Maluku Ambon manise itu, melewati titian panjang jembatan bambu diselingi terus dengan ketawa ketiwi ngga jelas ..., masalahnya payung sewaan gratis dari pengelola di ruang loket tiket yang juga diposisikan lebih tinggi dari dataran sekitarnya, ... bentangan payung  beberapakali mengalami kejadian nyantol di tiang - tiang tinggi tonggak jembatan bambu ..., membuat kami berdua reflek ketawa ngakak cuwawakan tanpa kenal dosa, telah mengganggu orang sekitaran. 

Kejadian payung nyantol membuat badan kami kompak serempak maju mundur syantik tanpa sadar itu untuk berusaha memposisikan payung terangkat kembali dan payung 'bersedia' diajak melangkah jalan kembali, memayungi kami dari terpaan panasnya sengatan sinar matahari di siang hari itu.
*lol*


Trip Of Mine


Jembatan bambu yang hanya sanggup memuat 2 orang berjalan secara bersamaan itu selain melintasi perkebunan warga dibawahnya juga melewati tepi kubangan yang difungsikan sebagai wahana permainan becak air.
Kemudian ujung jembatan berakhir di batas area tepi kubangan, selanjutnya memasuki area spot selfie. 

Sebetulnya area taman wisata kekinian taman Naura yang keberadaannya melengkapi beberapa pilihan destinasi wisata taman kekinian serupa yang telah ada sebelumnya di sekitaran Ngluwar ini, areanya tidaklah berukuran besar. 


Trip Of Mine


Areanya hanya berbentuk memanjang.

Baca juga :
https://www.tripofmine.com/2018/12/taman-bunga-dewari-taman-bunga-berganti-rupa-ribuan-kincir-angin.html


Yups, lokasi taman Naura ini berada dalam satu kecamatan Ngluwar dengan beberapa lokasi wisata taman instagramble lainnya. 



Trip Of Mine


Jaraknya cukup berdekatan antara lokasi wisata taman kekinian yang satu dan dengan lokasi wisata taman kekinian lainnya, diantaranya : taman Dewari yang foto - foto spot area tamannya beberapa  waktu lalu sempat ramai bersiliweran di aplikasi ajang pamer diri narsis, instagram.

Tapi, ya jarak antar kesemua lokasi tamannya ngga deket - deket amat juga, sih ..., apalagi kalo ditempuh dengan cara berjalan kaki, terlebih memang tak ada sarana angkutan umum tersedia di jalur sana.
Bisa - bisa setelahnya kaki jadi terlihat kekar bengkak berotot alias ..., kram ..., wwwkkk.
Oopss !.

Dasar anak beranjak remaja lagi senang - senangnya fefotoan, ya ..., diajak berlibur ke spot foto kekinian seperti taman Naura ini mungkin yang ada dipikirannya tuh bawaannya senang banget.
Fanny pun juga begitu.

Saking kegirangan Fanny diajak liburan ke taman Naura, setelah kepulangan kami berlibur di Balkondes Tumpangsari ..., Fanny penuh semangat empat lima bernarsis ria di kesemua spot selfie.



Trip Of Mine


Ya berfoto di Merlion spot ikonik negara Singapore berbadan ikan dan berkepala singa, jejeran rumah ranting yang nyaris sama persis bentuknya seperti yang terdapat di salah satu taman kekinian di Gunung Kidul, Yogyakarta yang pernah kudatangi beberapa bulan yang lalu, juga berfoto di spot terapi ikan dan kolam renang anak.



Trip Of Mine



Bahkan rangkaian lorong besi tanaman menjuntai yang dibentuk model lope - lopean tak luput jadi sasaran aksi gegayaannya.

Asiknya, dengan harga tiket dibanderol 10K di taman Naura itu kita dibebaskan untuk merasakan kaki kita digigitin manja puluhan mulut ikan di kolam terapi dan anak kecil bebas berenang atau sekedar bermain - main di kolam renang berbentuk bulat, tanpa dikenai beaya tambahan.

Yang merasa bukan bocah tua, sih ..., ya jangan kepingin ikutan nyebur main air di kolam renang segala. 
Malu - maluin namanya.


Trip Of Mine


Karena memang, kolam renang di pinggir sawah itu hanya khusus dipergunakan untuk anak kecil.

Lihat Fanny pasang aksi kebanyakan gaya berfoto dengan pede dahsyat begitu , terhitung sampai lima puluh kali lebih bidikan kamera ..., mulai dari gegayaan monyongin bibir yang katanyaaaa ..., pose andalannya kids jaman now, ha ha ha ..., sampai biasaaaa tuh ...,  ngandalin jurus pose yang dilakukan generasi millenial ..., apalagi kalau itu bukan gayaaa ..., menyilangkan tangan terus kedua jari telunjuknya nempel manja ala - ala di kedua pipinya, ..., wwwwkk ..., omnya Fanny yang terlahir bukan di era kids jaman now ini (tetap) tak mau kalah gaya berfoto, dong yaa ... .

Ya iyalaaah ..., 
apalagi omnya Fanny ini sudah terlanjur dapat julukan penobatan ala - ala sebagai ..., travel blogger terphotomodel ..., dari Reyne Raea seorang admin blogger Sharing By Rey asal Sidoharjo, wwwwkkkk ... !.

Melebaylah akhirnya gaya berfotoku di taman Naura ..., eh# 😅 .


Trip Of Mine
Yuhuuuu ..., siapa nih berikutnya yang mau kuboncengiiin ?
*lol*


Kutunggangi spot patung kerbau di kubangan kolam kecil dan kutarik tali kekangnya ..., seolah aku seorang rodeo handal, ha ha ha.


Lokasi :
Taman Naura
Kalipeh, Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang

Tiket :
10K/person
[Info tiket dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah]

Wednesday, May 22, 2019

Mengintip Kerennya Balkondes Tumpangsari

Terinpirasi dari mamaku, setelah seminggu sebelumnya mama beserta rombongan keagamaan menghadiri acara gathering sekaligus liburan di salah satu Balkondes di sekitaran candi Borobudur ..., aku juga punya keinginan berlibur ke salah satu lokasi Balkondes sebagai pilihan lokasi liburanku kali ini. 

Dan kali ini sebagai teman berliburku, kuajak keponakanku, Fanny yang kebetulan sedang masa liburan bertepatan dengan kelulusan sekolahnya.

Tapi lokasi Balkondes yang kupilih ..., dan kali ini juga adalah merupakan lokasi Balkondes yang pertamakali kudatangi dari beberapa pilihan lokasi Balkondes yang terdapat di sekitaran candi Borobudur ..., bukanlah lokasi Balkondes yang pernah didatangi oleh mamaku dan teman - temannya. 


Trip Of Mine


Menyusuri jalan pedesaan nan asri, melewati deretan rumah warga dan dikitari oleh pemandangan persawahan menyejukkan mata, kami berdua mulai melakukan pencarian rute ke arah Balkondes yang kami tuju. 

Dimulai dari jalan alternatif ke arah Kulon Progo di dekat persimpangan area kompleks candi Borobudur, kemudian terus mengikuti arah rute jalan sejauh sekitar 5 kilometer.


Trip Of Mine
Balkondes Tumpangsari dilihat dari jalan raya desa


Tak begitu jauh dari depan jalan masuk ke area taman spot selfie Junk Yard, sekitar kurang lebih 1, 5 kilometer kemudian, sampailah kami tiba di tujuan lokasi Balkondes instagramable yang berada tepat di pinggir jalan ini.


Trip Of Mine



Balkondes Tumpangsari.
Inilah nama lokasi Balkondes tematik pertama yang kudatangi, dari ke 20 pilihan lokasi Balkondes lainnya yang berada di desa - desa sekitaran candi terbesar dan termasyur di dunia, candi Borobudur.

Bukan tanpa suatu alasan tak jelas seperti alasan dirimu melupakanku, eh# ..., keceplosan curcol , ..., aku memilih lokasi Balkondes Tumpangsari jadi tujuan pertamaku sebelum nantinya berlibur ke lokasi Balkondes berikutnya. 

Alasan itu dikarenakan kecintaanku tentang seni kebudayaan. 

Ya kisah sejarahnya, ya seninya ..., segala sesuatu hal tentang sejarah aku menyukainya. 
Tak hanya menyukai seni kebudayaan Jawa, tapi semua kesenian kekhasan etnik setiap daerah yang ada di Indonesia aku pun menyukainya.


Trip Of Mine


Di Balkondes Tumpangsari kekhasan kesenian etnik tanah Jawa, tokoh sosok pewayangan ditampilkan kuat sebagai eksteriornya.

Gunungan, property pernak - pernik interior eksterior pendukung yang digunakan dan juga sosok tokoh wayang berukuran besar digarap apik terpajang di depan bangunan khas Jawa di 3 joglo dan 2 pendopo berukuran besar dan terlihat nJawani tenan.


Trip Of Mine
Pendopo Balkondes Tumpangsari, keren bentuknya, ya ...

Itulah alasanku kenapa memilih lokasi Balkondes Tumpangsari jadi tujuan nongki pertamakalinya ke Balkondes dari sejumlah pilihan Balkondes lainnya yang tersebar sebanyak 20 lokasi desa di Borobudur.


Trip Of Mine
Apa yang akan kutumbuk pakai alu ini, ya ?
*lol*

Balkondes tematik lainnya dan masing - masing Balkondes juga punya daya pikat tersendiri, diantaranya tersebar berada di kecamatan Karanganyar, kecamatan Wringin Putih, kecamatan Candirejo, kecamatan Karangrejo dan kecamatan Kebonsari.

Balkondes atau Balai Ekonomi Desa sendiri merupakan sinergi bentukan antara BUMN pendamping PT. Taman Wisata Candi Borobudur, candi Prambanan dan candi Ratu Boko dengan sejumlah BUMN sponsor untuk mengembangkan potensi ekonomi, seni budaya dan wisata yang dimiliki ke 20 desa yang berada di kawasan Borobudur.

Setiap desa disupport oleh satu BUMN sponsor.

BUMN sponsor diantaranya : 
PT. Telekomunikasi Indonesia, PT. Pertamina, PT. Angkasa Pura Airports, PT. Telekomunikasi Indonesia, Bank Negara Indonesia dan beberapa BUMN lainnya. 

Satu Balkondes ditata tematik berbeda antara satu Balkondes dengan Balkondes yang lain dan setiap lokasi Balkondes dilengkapi dengan sejumlah kamar penginapan atau homestay bernuansa pedesaan dengan pelayanan dan kenyamanan setara dengan hotel berbintang. 

Setiap lokasi Balkondes dilengkapi dengan bangunan pendopo, ruang - ruang yang dipergunakan untuk keperluan kegiatan budaya dan beragam keperluan lainnya. 
Juga dilengkapi lapak pedagang makanan minuman yang menjajakan kuliner khas ndeso, seperti : singkong rebus, wedang uwuh dan jenis kuliner lainnya. 
Sesekali waktu di setiap Balkondes diadakan pertunjukan pementasan seni, seperti : gamelan, jathilan dan tari - tarian daerah.  


Trip Of Mine
Seperangkat sofa ala tempoe doloe


Kalau hanya sekedar nongki asik dan hang-out seru bareng - bareng teman di area pendopo dan nyobain icip - icip kuliner berbayar di Balkondes, tanpa bermalam pun boleh - boleh saja. 

Tinggal datang, order camilan atau juga memilih jenis menu makanan 'berat' ..., terus dilanjut fefotoan kayak kebiasaanku, ya di persilahkan.
Tak ada larangan untuk itu. 

Tapi, jangan gegara keasikan fefotoan di kesemua lokasi keren Balkondes ..., jangan lantas kamu pura -pura pasang aksi lupa membayar menu apa yang telah kamu order, lalu pergi nyelonong gitu saja, yaaa ..., wwwkk.
Ngga baik banget kayak gitu !.

Sebenarnya ada cerita berkesan, tepatnya bisa dibilang lucu, sih dibalik pengalaman liburanku bareng Fanny di Balkondes Tumpangsari di satu hari itu. 

Ceritanya ..., sesampainya kami disana yang kami temui bukanlah adanya pemandangan staff dengan segala kesibukannya melayani kunjungan tamu, atau juga ..., hmmm ..., adanya sambutan hangat dari staff untuk kami, misalnya ucapan 'Selamat siang, selamat datang di Balkondes ..., bla ..., bla ..., bla', seperti pada umumnya saat kami datang ke suatu lokasi layanan jasa. 

Loh, apa penyebabnya, kok ..., bisa gitu ?. 

Ternyata pemandangan yang kami temui saat kami tiba di Balkondes Tumpangsari adalah ..., hanyalah kesibukan para pekerja tukang bangunan tampak sedang membenahi ornamen satu pendopo yang hampir selesai pengerjaan keseluruhan areanya.
Ha ha ha ..., jelaslah kami berdua yang semula kebingungan, akhirnya malah tertawa ngakak berdua. 

Lah, gimana ..., plesiran kok ke lokasi yang masih belum terselesaikan sempurna dan areanya masih terlihat beberapa material kayu ditumpuk di salah satu ruangan joglo.

Tapi karena pada dasarnya secara kebetulan kami berdua sama - sama penyuka sosok wayang, fine - fine aja tuh ..., liburan di Balkondes Tumpangsari yang belum terselesaikan seratus persen pengerjaannya.


Trip Of Mine
Aku dan Fanny, sama - sama penyuka wayang


Dengan seijin petugas disana, akhirnya kami berdua kesampaian keinginan kami untuk membuat dokumentasi foto kenangan liburan di kesemua sudut memikat Balkondes Tumpangsari.

Dan juga ngerasain gimana nyamannya duduk nongki  berlama - lama di satu pendopo yang dilengkapi seperangkat meja dan kursi model tempoe doloe, meski terpaksa ngga berkesempatan ..., heumm ..., menjajal icip - icip kuliner khas desa disana ... .


Trip Of Mine



Lokasi :
Balkondes Tumpangsari
Jalan Giri Tengah No. KM15, Dusun V, Tanjungsari, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa - Tengah



Wednesday, May 15, 2019

Candi Cantik si Air Jatuh Menetes : Candi Banyunibo

Didirikan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, bangunan candi Banyunibo memang tidaklah semegah candi Borobudur dan candi Prambanan. 
Tetapi candi beraliran Buddha, dikenali dengan adanya arca stupa di bagian atapnya, bentuk candi yang dibangun pada abad IX ini juga memesona. 
Ornamen relief dinding candinya diukir sangat halus.



Trip Of Mine
Kolom ventilasi candi Banyunibo, berfoto di ventilasi candi ini bagus juga :)


Loh, kok candi lagi yang didatangi untuk berlibur dan diulas lagi di artikel berikutnya kali ini sih, apa ngga bosan ?.

Mungkin buat sebagian besar sahabat Trip Of Mine yang seringkali mampir di blogku ini sedikit banyak cukup hafal dengan beberapa lokasi candi - candi yang pernah kuceritakan secara berurutan dan selanjutnya setelah membaca sekilas judul artikel ini, pasti bisa jadi akan muncul pertanyaan seperti itu.
Yeikan ?.
Tapi please jangan lantas muncul perasaan bosan dihatimu padaku, ya ..., he he he .
*ngarep* .

Percayalah, diluaran sana tuuuuuh  ..., dan  juga beberapa teman pembaca yang pernah mampir berkomentar di blogku ini ..., masih banyak orang yang sebenarnya belum pernah berkesempatan melihat secara langsung keindahan arsitektur bangunan candi itu seperti apa, hanya masih sebatas berkesempatan melihat candi - candi melalui hasil bidikan gambar kamera yang tersebar di dunia maya.
Betul, kan ?.

Makanya, di kesempatan kali ini, artikel keberadaan percandian masih tetap kuulas, dan mungkin juga keberadaan candi - candi lain akan muncul di artikelku berikutnya.

Nah, sampai disini, rasanya aku tuh pengin nulis sambil teriak pakai toa ..., hayooooo ..., siapa diantara kalian yang belum pernah melihat candi secara langsung ?, ngakuuu ... .

Oopss, maksudku teriak menanyakan begitu, aku tuh bukan bermaksud akan mengadakan give away blogger dan menyediakan free gift ticket atau tiket gratisan masuk ke area candi loh, yaaa ..., wwwkkk ..., tapi kudoakan agar diantara kalian yang belum pernah melihat candi dan punya keinginan melihat candi secara langsung itu ..., dapat segera terkabulkan. 

Diamin dong, yaa ...  :).

Ya, minimal terjadi sekali seumur hiduplah terlaksana melihat candi secara langsung, agar mengenal dengan baik bagaimana karya arsitektur mengagumkan dibuat oleh leluhur kita pada ratusan, bahkan ribuan tahun silam dan juga berkesempatan mengamati dari dekat bagaimana indahnya detil relief candi dibuat seperti yang terdapat di candi Banyunibo yang berada di desa Cepit, dusun Bokoharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang kudatangi kali ini.

Tau, kan ..., mas dan mbak bule aja dibela - belain datang terbang jauh - jauh numpak montor mabur  [Kebanyakan orang Jawa mengistilahkan naik pesawat : numpak motor mabur 😅] dari negaranya buat melihat keberadaan candi loh, masa kamu ngga, sih ?.
Eh# kok ..., bule dibawa - bawa lagi sih disini ?.
Ha ha ha ... . 
 *lol* .


Trip Of Mine
Area candi berbatasan dengan sungai kecil dan dikitari persawahan asri


Saat aku tiba di depan kompleks candi Banyunibo di suatu pagi itu, setelah sebelumnya melewati jalan desa beraspal mulus, kulihat dari tepi jalan sekaligus berfungsi sebagai lahan parkir kendaraan pengunjung yang berbatasan dengan sungai kecil di tepi halaman candi dan diseberangnya terbentang persawahan luas menghijau menyegarkan pandangan mata ..., tak terlihat satupun ada pengunjung di dalam area candinya.
Hanya tampak 2 petugas loket dan 1 petugas keamanan bertugas disana. 

Letak lokasi keberadaan candi Banyunibo yang memiliki arti ' Air yang menetes jatuh' ini terbilang memilki pemandangan alam sekitar cukup memikat. 

Selain dikelilingi asrinya persawahan juga dikelilingi oleh puncak - puncak perbukitan berpemandangan indah.

Di sebelah tenggara terdapat bukit tempat keberadaan candi Ijo, di sebelah timur laut terdapat puncak bukit Dawangsari tempat dimana candi Barong berdiri dengan megahnya disana dan di sebelah barat laut terdapat bukit Ratu Boko, bukit tempat candi Ratu Boko berdiri.


Trip Of Mine


Pandangan mataku kusebar ke segala penjuru sekali lagi sewaktu aku mulai melangkahkan kakiku menyeberangi jembatan kecil menuju ke bangunan loket, memang benar tak terlihat ada wisatawan satupun berlibur disana. Sepi.
Tapi dugaanku itu ternyata ..., keliru.

Dan itu jadi bumbu cerita pengalaman lucu tersendiri saat berlibur di candi Banyunibo.


Trip Of Mine
Tangga bilik candi utama


Kekagetanku berawal dari lokasi tangga candi utama yang kududuki dan kupilih sebagai spot foto pertama.
Tiba - tiba dari dalam bilik candi utama terdengar suara lengkingan tertawa bahagia suara seorang wanita dari dalam sana ... .

Reflek aku loncat kaget dan menoleh ke arah belakang, selanjutnya aku berdiri menaiki undakan anak tangga dan mencoba melongok ke bilik dalam candi, memastikan memang apa betul ada seseorang sedang berada di dalam sana atau tidaknya.

Pas mendekati pintu candi yang menghadap ke arah barat  dan di bagian atasnya dihiasi relief Kalamakara, berbarengan tampak muncul 2 orang dari dalam sana, 1 orang pria dan 1 orang wanita, keduanya muda usia ..., mereka keluar dari bilik candi sambil tersenyum senang. 
Si pria tampak menenteng kamera digital mengajakku tersenyum ..., dan saat itu pula tiba - tiba ekspresi wajahku yang semula tegang langsung mendadak berubah jadi mengendor ..., legaaaa ..., kirain tuh betulan suara tertawa lantang tadi itu suara misterius ..., atau suara hantu ..., wwwwkkk !.

Sepertinya dia di dalam bilik candi utama tertawa empuk renyah garing kayak kerupuk gitu, menertawakan dirinya sendiri saat difoto oleh si pria.
Dugaanku itu diperkuat setelah mereka berdua selalu tampak ketawa geli setelah melakukan beberapakali pengambilan gambar di luar candi utama dan melihat hasil fotonya di layar kamera.

Owalaaaah ..., ono - ono wae, mbaak !.
Ha ha ha. 

Kekagetanku di candi Banyunibo ternyata tak berhenti sampai disitu saja, masih berlanjut. 
Atau terulang lagi.

Sewaktu giliranku memasuki bilik candi utamanya yang berukuran cukup luas dan di keempat sisinya dihiasi ventilasi berukuran kotak dan rendah ..., jadi dari balik ventilasi bagian dalamnya, bisa melongok pemandangan di sekitaran candi. Unik, ya ... , dan perlahan mengamati ukiran lengkungan relung yang diatasnya juga berhiaskan Kalamakara dan tanpa terlihat ada hiasan arca di dalam relungnya, juga sekilas kuperhatikan di tengah bilik terdapat beberapa batang hio tertancap menyala, menebarkan aroma wangi magis ke seluruh ruangan bilik candi ..., tiba - tiba terdengar sapaan suara berat lelaki mengagetkanku muncul dari pintu bilik candi.


Trip Of Mine
Bilik dalam candi utama


Kutoleh, ohh ternyata petugas keamanan yang tadi kulihat sekilas berada di dekat ruang loket tiket. 
Lagi - lagi legaaaa ..., kirain hantu betulan kali ini ..., wwwkkk !.

Kebetulan dong rasanya, ada petugas keamanan ikut menemaniku di dalam bilik candi utama ..., eh# bukan berarti selama ini aku type penakut seorang diri berada di dalam bilik candi, yaaa ..., no way !.

Tapi adanya petugas keamanan yang sedang berpatroli memeriksa area candi dan kebetulan bersamaan dengan aku di dalam candi utama, itu artinya memudahkan aku untuk 'mengorek' informasi unik yang ada dan setelahnya tak perlu repot - repot bertanya lagi nantinya mengenai informasi tambahan tentang candi Banyunibo sewaktu aku akan pulang.

Dan informasi dari petugas keamanan itulah, aku jadi tau jika candi Banyunibo ini secara rutin masih dipergunakan untuk keperluan beribadah dan seringkali dipergunakan oleh orang - orang tertentu, termasuk petinggi negara untuk melakukan tirakat.

Nama salah seorang pejabat yang namanya akhir - akhir ini santer terdengar di pemberitaan, disebutkan oleh petugas keamanan yang berpembawaan ramah itu.

Menarik disimak juga ceritanya, ya ..., tapi nama pejabat yang diceritakan petugas keamanan itu tak akan kusebutkan disini, karena kapasitasku disini hanyalah berlibur plus sibuk rempong mengumpulkan informasi sedetil mungkin di suatu lokasi wisata, kemudian setelahnya menuliskan cerita pengalaman berliburku diblogku ini.

Aku tuh bukan wartawan berita gosip, ha ha ha. 

Candi Banyunibo ini memiliki tampilan eksotik, memiliki bentuk atap yang terlihat sedikit berbeda dengan candi - candi Buddha lainnya, meskipun juga terdapat arca stupa diatasnya sebagai penanda jika candi ini adalah candi beraliran Buddha.
Dibawah stupa bagian atapnya terdapat lengkungan besar yang diduga oleh para arkeologi merupakan penggambaran dari bunga teratai.

Seperti kita tau, jika tumbuhan teratai dipercaya sebagai lambang kesucian umat Buddha.
Kemampuannya tumbuh subur dan berbunga indah diatas tanah berlumpur menandakan filosofis ajaran Buddhist.

Candi ini diketemukan kembali sudah dalam keadaan runtuh, tak lagi berdiri sempurna.
Kemudian candi mulai direstorasi pada tahun 1940 dan terselesaikan pada tahun 1978.


Trip Of Mine


Penamaan candinya dengan nama candi Banyunibo [Bahasa Jawa, Banyu : air, Nibo : jatuh, menetes]  yang memiliki arti 'Air yang jatuh menetes', tidak diketahui asal mula penamaannya, sejak kapan dan dimulai dari kapan.

Atau mungkin juga dinamakan demikian karena ..., keberadaan letak lokasinya di dataran paling rendah dibandingkan dengan ketiga candi lainnya yang mengelilinginya dan ketiganya berada di puncak perbukitan ..., entahlah.

Yang pasti saat ini, ke 6 candi Perwara yang berderet di sisi sebelah selatan dan timur candi utama masih belum tersentuh restorasi pemugaran.


Trip Of Mine
Reruntuhan candi Perwara


Dan disana juga terdapat sembulan tembok batu kuno 'misterius'' terlihat membujur memanjang dari barat ke timur sepanjang sekitar 65 meter, diduga kuat tembok batu tersebut kemungkinan besar masih memanjang tertanam di dalam tanah hingga di luar pagar kawat berduri yang mengelilingi kompleks candi Banyunibo saat ini ... .


Lokasi :
Candi Banyunibo
Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tiket :
° Turis Lokal 5K
° Turis Mancanegara 10K
[Informasi tiket dan kondisi sewaktu -waktu dapat berubah]

Jam Operasional :
08. 00 - 16. 00