Tuesday, September 25, 2018

Taman Kyai Langgeng : Wisata Hutan Buatan di Tengah Kota

Destinasi wisata alam hutan buatan dilengkapi sarana edukasi dan beberapa wahana permainan yang berada di tengah perkotaan ini, tepatnya terletak berada di kelurahan Kemirirejo, Magelang Tengah, dinamakan dengan Taman Kyai Langgeng.


Trip Of Mine
Jembatan merah Kreteg Tresno, yang artinya Jembatan Cinta

Nama destinasinya resmi berganti nama menjadi Taman Kyai Langgeng pada tahun 1987, setelah nama sebelumnya menggunakan nama Taman Rekreasi dan Taman Flora atau disebutnya dengan nama Taman Bunga. Bahkan sampai sekarang masyarakat sekitar dan warga Magelang secara luas jika diajak membicarakan satu lokasi wisata taman hutan buatan di Jalan Cempaka yang tepat bersisian dengan rumah dinas Walikota Magelang ini, mereka kadung mengenalnya dan tetap menyebutnya dengan nama Taman Bunga atau TB.


" Tak percaya ?, coba ya suatu saat nanti kalian sedang liburan berada di kota Magelang, cobalah warga ditanya tentang Taman Kyai Langgeng atau mungkin, tanpa sengaja mendengar tentang wisata satu ini ..., pasti mereka sigap menjawabnya dengan sebutan Taman Bunga. Bukan dengan Taman Kyai Langgeng "

Nama Taman Bunga terlanjur melekat lama di ingatan warga Magelang, karena penggunaan namanya telah berjalan 6 tahun lamanya, tepatnya pada tahun 1981 setelah pembukaan awal lahan sebagai lokasi destinasi wisata sekaligus merangkap sebagai lokasi penelitian pertumbuhan pohon - pohon langka oleh para pelajar, yang semula lahan luasnya hanyalah berupa area pekuburan, pertanian dan perkebunan yang kurang layak produktif.
.
Karena namanya dianggap kurang tepat, kemudian dengan melibatkan banyak instansi, mulai dari dinas pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutanan, luasnya lahan diperluas dan lebih dikembangkan untuk melengkapi sejumlah lokasi destinasi wisata yang berada di Magelang, maka nama destinasinya diubah menjadi nama Taman Kyai Langgeng sampai saat ini.


Trip Of Mine
Patung flora fauna di halaman depan 

Nama Kyai Langgeng dipilih karena dianggap lebih tepat dan jika memang benar adanya di tengah taman seluas 27 hektar ini terdapat makam Kyai Langgeng atau Ki Ageng Suryokusumo, merupakan keturunan raja Mataram dari Sri Sultan Hamengku Buwono II dan merupakan penasehat juga orang kepercayaan Pangeran Diponegoro pada masa penjajahan Belanda.
Beliau meninggal pada tahun 1829.

Wuuihh ..., kamu kok hafal betul, sih sejarah lengkapnya pembangunan destinasi Taman Kyai Langgeng, Himawan ?. Sampai paham juga tentang sejarah lahannya itu dulu berupa lahan apa. 
Lah, iyalah ..., masa iya ding rumah keluargaku kan ngga begitu jauh dari situ. 
Bahkan tau ngga, kalau dulu lahannya masih banyak semak belukar sebelum mulai dipersiapkan sebagai lokasi wisata, aku dan teman - teman sebaya sering diam - diam kabur tanpa pamit ke orang tua blusukan kesana ... .

Apa tujuan blusukannya kesana waktu itu ?.
Tak lain tak bukan karena terpengaruh rayuan pulau kelapa, eh maksudku rayuan teman - teman untuk ... #nggg ... , mencari kuntum bunga kamboja berjumlah genap di area makam Kyai Langgeng  ..., wwkkkwwwkkk !.
Kata teman - teman sih waktu itu, kalau mau jadi pintar tanpa belajar itu ya harus berjuang mencari kuntum bunga berjumlah genap di atas makam Kyai Langgeng hi hi hi ..., setelah itu bunga kamboja ditempatkan di tengah buku pelajaran yang dirasa paling sulit diikuti.
Ha ha ha ..., koplak parah. 
Dasar anak - anak jaman old, ngga senalar anak - anak jaman now.

Nah, datang berlibur ke Taman Kyai Langgeng kali ini kulakukan buat nostalgia mengenang kelucuan masa bocah mencari kuntum bunga yang ternyata hasilnya ngga abrakadabra jadi langsung mendadak pintar seketika itu ... he he he ... , juga sekaligus jogging pagi biar badanku seseksi kamu, eh ... .


Trip Of Mine
Relief perjuangan Pangeran Diponegoro

Sekarang setelah menjelma menjadi lokasi destinasi wisata alam dan dilengkapi sarana edukasi seperti tanaman - tanaman langka yang ditanam dilengkapi dengan nama pohon ditempel di batang pohonnya, diantaranya pohon cempaka ganda, apel beludru, dewa daru, matoa, lobi - lobi dan masih banyak lagi pohon langka lainnya ..., Taman Kyai Langgeng juga dilengkapi taman satwa, diantaranya burung merak, siamang, ular, beberapa jenis ikan. Tak ketinggalan juga ada sensasi naik kuda poni.

Trip Of Mine
Sangkar bulat berwarna hijau itu kandang buruk merak. Burungnya cantik - cantik.

Trip Of Mine
Kereta mobil keliling

Dan luas area tamannya juga dilengkapi patung - patung binatang, taman lalu - lintas, sepeda tandem, kereta mobil, rumah apung, bianglala ala pasar malam, jet coaster, flying fox, kolam renang, pesawat terbang anjungan dirgantara, bioskop 6 dimensi atau 6D dan yang terbaru mengikuti trend yang sedang disukai oleh semua lapisan usia jaman now, spot selfie.


Trip Of Mine
Jalur trek dilihat dari ketinggian

Spot selfienya berupa hammock, deretan payung melayang, ayunan langit dan sepeda melayang.
Yang unik tuh, spot ayunan langit digunakan dengan cara ditarik dan diputar menggunakan mesin ..., setelah wisatawan duduk di ayunan dan badan diikat sabuk pengaman, mesin akan menggerakkan kursi ayunan bergeser tepat ke arah atas jalur trek, dengan ketinggian beberapa meter diatasnya. Hasil foto tentunya akan terlihat nyata melayang betulan di atas ketinggian.

Kamu ikutan foto di spot selfie ayunan melayang juga, Himawan ?. Ngga ... .
... ha ha ha .. !.
Aku datang memasuki area tamannya kan sekalian jogging di saat jam operasional destinasi belum resmi dimulai. 
Jam operasional destinasi Taman Kyai Langgeng resmi dimulai dari jam 08. 00 pagi sampai dengan jam 17. 00 ..., jadi ya semua wahana yang ada disana belum beroperasional, jadi ngga bisa kujajal.
Ngeles yang jujur he he he ... .


Trip Of Mine
Pesawat anjungan dirgantara.
Kapan ceritanya, ya ... , Magelang pernah ada bandaranya.
Laah ini, ada pesawat betulan disana ... , he he he


Trip Of Mine
Bioskop 6D

Untuk siapapun, kecuali di hari sabtu, minggu dan libur nasional ..., pengunjung yang ingin berolahraga atau jogging di dalam area Taman Kyai Langgeng dipersilahkan. Tanpa dikenai beaya tiket saat jam operasional resmi dimulai, hanya cukup mengisi kotak dana secara sukarela.


Trip Of Mine
Komidi putar


Trip Of Mine
Kolam renang dan lobi resor Puri Asri berada disampingnya

Lahan dan area sekitarnya yang dulu tampak sedikit menakutkan sebelum mulai dipersiapkan menjadi lokasi destinasi wisata, kini Taman Kyai Langgeng dan area sekitarnya menjelma menjadi ramai oleh kunjungan wisatawan.
Puri Asri, resor berbintang 4 pun berada di sebelah Taman Kyai Langgeng memudahkan wisatawan yang ingin bermalam untuk menikmati keindahan alam pemandangan gunung Sumbing, bentangan persawahan dan pedesaan yang berada di seberang Kali Progo. 
Selain itu, destinasi wisata alam Taman Kyai Langgeng juga menyediakan pusat oleh - oleh, souvenir dan display hasil karya UKM Magelang. Lokasi kompleknya berada di dekat area parkir dan berada di seberang area Taman Kyai Langgeng terpisah oleh sungai kecil diantara kedua areanya.

Sayangnya, transportasi angkutan umum tidak melewati depan lokasi destinasi Taman Kyai Langgeng. Transportasi umum angkutan kota dan minibus jalur Magelang - Wonosobo hanya melalui Jalan Diponegoro, namun itu tak jauh untuk ditempuh hanya berjalan kaki untuk tiba di lokasi destinasi Taman Kyai Langgeng setelah turun dari angkutan umum. Hanya memerlukan waktu sekitar 5 menitan dengan melewati Taman Cempaka.

Lokasi :
Jalan Cempaka, Kemirirejo, Magelang Tengah, kota Magelang

Tiket :
Senin - Jumat Rp. 24. 000 ,_
▪Sabtu, Minggu, libur nasional Rp. 30. 000 ,_
▪ Natal, lebaran, tahun baru Rp. 35. 000 ,_
Tiket termasuk free 10 wahana : becak air, komidi putar, kereta air, becak mini, bianglala, sepur mini, komidi layang, bioskop 6D, kereta mini, mobil keliling dan becak air.
▪ Wahana permainan tidak termasuk tiket terusan : dragon jet coaster Rp. 10. 000 ,_ , Kolam renang Rp. 10. 000 ,_ , Pesawat anjungan dirgantara Rp. 8. 000 ,_ , Sepeda layang Rp. 20. 000 ,_ , Ayunan langit Rp. 20. 000 ,_ , Water ball Rp. 10. 000 ,_ , Hand ball Rp. 10. 000 ,_ , Taman satwa berikut terapi ikan Rp. 5. 000,_
[ Info harga dan kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]



Monday, September 17, 2018

Sensasi Petik Buah di Perkebunan Apel Batu

Berlibur ke kota Batu, kota yang kini mengukuhkan diri dengan sebutan Kota Wisata Batu, rasanya kok terasa kurang lengkap jika tak sekalian memilih berlibur ke perkebunan apel.
Pemikiran itu terlintas berulangkali di pikiranku beberapa hari sebelum jadwal keberangkatanku tiba.

Sejak dulu kota Batu memang terlebih dahulu terkenal sebagai sentra perkebunan penghasil buah apel terbesar di Indonesia sebelum namanya kemudian lebih terkenal secara luas setelah kotanya dibangun sejumlah destinasi modern dan keren wisata kekinian berbalut edukasi. 
Karena alasan itulah, aku memasukkan jadwal berlibur ke lokasi perkebunan apel saat berlibur di kota Batu yang hanya berjarak tempuh sekitar 15 kilometer dari kota Malang.

Pencarian beberapa informasi lokasi perkebunan apel kulakukan melalui berselancar di dunia maya, muncul sejumlah nama penyedia jasa paket wisata petik apel di layar perangkatku. 
Satu persatu kutelusuri dan kubandingkan infonya, mulai dari jasa yang ditawarkan sampai dengan kisaran harga. 
Sampai akhirnya aku memutuskan memilih penyedia jasa Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi untuk mengatur liburanku berlibur di perkebunan apel Batu kali ini.


Trip Of Mine
Krauuuk ... , sebuah apel Rome Beauty kugigit

Di kota Batu setidaknya terdapat 3 nama penyedia jasa wisata petik apel cukup populer, diantara ketiganya menawarkan pilihan paket dan harga bervariatif, mulai dari harga Rp. 25. 000 ,_ sampai dengan harga Rp. 150. 000 ,_ . Harga paket variatif tersebut tentunya dengan jualan utamanya adalah sensasi petik buah sendiri langsung dari pohonnya. 

Dari shelter penjemputan, aku dan beberapa wisatawan lainnya untuk tujuan yang sama ke perkebunan apel Batu, dikoordinir oleh pengelola dengan mengunakan sarana transportasi mobil angkutan kota. Kuperhatikan mobil angkutan kota yang digunakan ini merupakan mobil angkutan trayek kota Batu yang dicarter oleh pengelola, terlihat nomor trayek dan tulisan rute jalur tujuan di badan mobilnya berwarna cokelat tua gabungan dengan cokelat muda.


Trip Of Mine
Shelter antar jemput dari dan ke perkebunan apel Batu Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi

Sepanjang perjalanan yang mendaki melewati deretan sejumlah kios pedagang tanaman hias, penginapan harga terjangkau juga pertokoan, setelahnya memasuki sebuah gang kecil di pertigaan berbelok ke arah kiri. Perjalanan waktu tempuh dari shelter ke lokasi perkebunan apel milik Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi tak kurang dari 10 menit.

Lokasi perkebunan apel berada di lereng gunung Panderman dan dari titik lokasi perkebunan seluas beberapa hektar ini, terlihat dengan jelas jika perkebunan apel di Indonesia ini dikelilingi oleh gunung Biru, gunung Arjuna, gunung Kawi dan gunung Banyak tampak berdiri gagah tinggi menjulang dari kejauhan.


Trip Of Mine
Lokasi perkebunan apel 
Jadi bisa dibayangkan, ya jika udara di lokasi perkebunan milik para petani ini terasa sejuk cenderung dingin, meski di pagi hari itu sinar matahari terlihat mulai terik menyilaukan mata dan beberapa hasil foto wajahku terlihat memerah akibat tersengat panasnya sinar matahari,kayak semburat memerah warna buah apel Rome Beauty ..., wkkkwwwk !

Lokasi petik buahnya berpindah - pindah

Kelompok Tani Makmur Abadi atau lebih dikenal dengan singkatan KTMA merupakan suatu wadah gabungan dari para pemilik perkebunan yang tak hanya memanfaatkan lahannya sebagai komoditas penghasil buah semata, tetapi juga memanfaatkan lahannya sebagai wisata petik buah sendiri oleh wisatawan.
Tak hanya perkebunan buah apel yang dijadikan sebagai tujuan lokasi wisata, tetapi juga perkebunan buah lainnya, strawberry dan jeruk. Hanya saja buah strawberry dan jeruk adalah jenis buah musiman, waktu panennya sangat bergantung dengan masanya. 


Hati - hati melintir buahnya, ya

Dengan membayar Rp. 25. 000 ,_ perorangnya, aku dan wisatawan lainnya diperbolehkan memetik dan makan apel di lokasi perkebunan sepuasnya, sekenyangnya ..., berapapun jumlah buah buah apelnya sanggup masuk perut dipersilahkan. 
Asalkan jangan masuk celana hi hi hi ..., apalagi diam - diam di umpetin di dalam kaos. Kalau tiba - tiba saja buah apel jatuh gelinding dari tempat persembunyian di depan penjaga kebun, kan maluuuuu ..., wkwkwkwwwk ! . Don't try this ! . 

Nah, jika wisatawan berkeinginan membawa pulang buah apel sebagai oleh - oleh dapat langsung juga langsung memetik buah apel sendiri dari pohonnya. Hitungannya perkilo dan harga 1 kilonya Rp. 30. 000 ,_ .

Satu hal yang menyenangkan memilih berlibur petik buah sendiri di perkebunan apel Batu melalui penyedia jasa Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi, selain harga tiket paket cukup terjangkau juga sesuai dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya melalui konfirmasi pembelian tiket dan jadwal keberangkatan, jika perkebunan buah yang dijadikan lokasi wisata petik buah sendiri selalu hanya ke lokasi perkebunan buah apel yang memang sudah tua siap petik atau masuk usia panen dan jumlah buah apel yang banyak. 
Maka lokasi perkebunan petik buahnya pun selalu berpindah - pindah ..., tergantung lokasi perkebunan mana yang siap dijadikan lokasi wisata. Jika satu perkebunan apel jumlah persediaan buah apel ranum siap petik telah berkurang, lokasi kunjungan wisatawan akan berpindah ke perkebunan apel lainnya.

Meski berukuran kecil, tapi manis rasanya

Apel Manalagi dan apel Rome Beauty adalah jenis buah apel yang paling banyak ditanam di kebun milik para petani. Keduanya berukuran kecil, tidak berukuran besar seperti badan kamu eh# ... , maksudku seperti bentuk apel merah USA. Meski berukuran kecil, tapi manis rasanya.

Apel Manalagi memiliki warna hijau kekuningan, baunya harum, daging buahnya terasa manis dan keras saat digigit. Sanggup bertahan selama 1 bulan setelah dipetik dari pohonnya.
Apel Rome Beauty memiliki dominasi warna hijau dengan semburat warna merah, daging buahnya terasa manis sedikit masam dan keras renyah saat digigit.

Trip Of Mine
Pedagang penganan olahan buah

Menurut informasi yang kudapatkan dari pembicaraanku dengan salah satu pedagang penganan olahan beragam buah dijadikan selai, syrup dan aneka keripik, yang menggelar dagangannya di depan mobilnya yang diparkirkan di seberang jalan lokasi perkebunan apel, ada 3 jenis buah apel lagi yang dibudidayakan oleh para petani di perkebunan apel Batu selain apel jenis Manalagi dan Rome beauty. Ketiga apel tersebut adalah apel Hwang Lien, apel Hijau dan yang terakhir apel Anna. 
Catat, ..., Anna bukan merupakan singkatan nama dari boneka horror Annabelle, ya ... wwkkkwwwkk !

Trip Of Mine
Krauuuk ..., 1 kali eh# ..., 10 buah lagi ya ... , he he he

Lokasi :
Shelter penjemputan dan kepulangan
Jl. Bukit Berbunga, Sidomulyo, kecamatan Batu, kota Batu.

•  Perkebunan apel Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi
Jl. P. Diponegoro, Gang Puncak Jaya, Tulungrejo, Bumiaji, kota Batu.

Tiket :
Rp. 25. 000 ,_ 
[ Paket wisata petik buah sendiri, makan apel sepuasnya di tempat, transportasi pulang pergi dari dan ke shelter penjemputan ]

Rp. 30. 000 ,_
[ Harga dan minimal per 1 kilo buah apel jika dibawa pulang ]

Tips berlibur di perkebunan apel Batu :
•  Persiapkan tisu basah atau sebotol air mineral untuk mencuci permukaan apel sebelum dikonsumsi di lokasi perkebunan apel. Lokasi tidak menyediakan sarana air.

• Tetap perhatikan cara petik buah yang benar sesuai petunjuk dari pengelola, pangkal tangkai buah dipelintir sampai buah terlepas. Bukan dengan cara ditarik paksa.
Cara tarik paksa akan menyebabkan buah apel yang tumbuh bergerombol di ujung tangkai pohon jatuh berguguran serempak.
Meski buah apel yang terjatuh, sore harinya akan dikumpulkan oleh pengelola untuk ditempatkan di keranjang besar dan setelahnya dibawa ke pengolahan home industry Kelompok Tani Makmur Abadi untuk dijadikan olahan selai, syrup, keripik dan olahan lainnya.

Sunday, September 9, 2018

Menjelajah ke Lokasi 3 Serangkai Candi Sengi

Maps berbasis tehnologi digital kubuka, di suatu pagi hari itu. 
Menggunakan suaraku yang ..., ehm ..., sama sekali tak kedengeran seksi, apalagi serak berat kayak suara seorang dubber trailler aktor film action perfilman Hollywood ..., halaaaaah hi hi hi ..., kumasukkan kata kunci lokasi, Sawangan, dengan menggunakan fitur " OK Google ". 

Tak pakai acara lama, dengan canggihnya layar peta digital langsung terbuka memperlihatkan jalur demi jalur berwarna hijau menuju ke lokasi yang kucari. 
Tanda sorot biru seperti bentuk meteor mini itu bergerak lengkap dengan keterangan waktu, berapa jam dan berapa menit lokasi tujuan ditempuh dengan menggunakan alternatif transportasi mobil atau motor.

Tiga hari setelahnya, perburuan pencarian rute ke arah Sawangan menuju keberadaan lokasi ke 3 serangkai candi Hindu yang terdiri dari candi Lumbung, candi Asu dan candi Pendem, ketiganya disebut sebagai candi Sengi kulakukan.
Kutempuh melalui jalan pertigaan Blabak di dekat pabrik kertas PT. Blabak yang kini sudah tak beroperasional lagi.

Sayangnya, kepintaran maps berbasis tekhnologi digital itu harus mengalami kejadian tak pintar sesaat setelah aku melewati gerbang besar melintang di tengah badan jalan beraspal mulus bertuliskan " Taman Nasional Gunung Merapi ".
Kuperhatikan sinyal operator yang kugunakan beberapa kali naik turun byar - pet tak konsisten, seperti cintamu hilang timbul padaku gitu ..., wwkkwwkk !.

Ya sudahlah tak mengapa, toh bertanya info rute lokasi ke penduduk yang kutemui di pinggir jalan pun juga tak masalah. 
Malah bukan hanya sekali dua kali, loh dengan bertanya ke penduduk setempat setelahnya kudapatkan informasi dan cerita - cerita seru seputaran suatu lokasi wisata yang tak pernah terekspos media. 

Meski berada di lereng gunung Merapi, menurutku kondisi rute perjalanan masih terbilang biasa - biasa saja, tak sulit ditempuh meski perjalanan ditempuh dengan sedikit mendaki.
Setelah melewati daerah Sawangan dan tiba berada di depan pertigaan jalan di daerah yang dinamakan daerah Dukun, sesuai petunjuk maps digital yang kucatat di selembar kertas, aku mulai kebingungan menentukan ke arah rute mana yang benar untuk menuju ke lokasi keberadaan 3 serangkai candi Sengi ..., lurus sajakah, atau berbelok ke arah paling kanan, atau ..., melalui rute jalan yang berada di tengah ?.

Daripada kebingungan lama memikirkan ke arah rute mana yang benar, hanya menghabiskan waktu percuma, segera kuputuskan mengambil rute ke arah lurus saja, rute jalur menuju ke arah Selo, kota Boyolali.
Dan untuk memastikan tak salah pencarian arah rute terlalu jauh, aku mampir di warung makan dan bertanya disana. 
Rute lokasi candi Lumbung Sengi, candi pertama yang kutanyakan dan seperti mendapatkan petunjuk tak terduga sebelumnya di dalam hati ..., kalau ternyata rute lurus yang kuambil adalah memang tepat adanya, tak salah arah.

Pencarian ke lokasi Candi Lumbung Sengi

Sesuai petunjuk rute yang diberikan oleh pemilik warung makan dan tak jauh dari lokasi warung makan itu, aku memasuki gerbang dusun Tlatar. 
Kuikuti terus jalan desa melewati deretan rumah sederhana penduduk desa sambil melihat beberapa aktivitas warga di halaman rumahnya.
Seperti pada umumnya warga desa yang selalu ramah menyapa dan mengajak mampir dirumahnya, meski belum pernah kenal sama sekali ..., begitupun juga saat kedatanganku memasuki dusun Tlatar ini. 
Berulangkali aku melempar senyum manis balik, setelah diajak senyum ..., eh* tapi aku bukan tebar pesona loh, ya ha ha ha.

Keasikan senyam - senyum terus meladeni senyum ramah warga sambil melajukan kendaraan mengikuti  jalan setapak, aku sampai lupa petunjuk dari pemilik warung tadi kalau lokasi candi Lumbung Sengi itu sebenarnya tak jauh dari gapura dusun !.
Kebablasan jauh sampai pertengahan desa dan celingukan di kanan kiri jalan persawahan, tak kunjung kutemui lokasi keberadaan candi ..., sampai akhirnya bertemu dengan sepasang petani dan bertanya dengan mereka. 
Jawabnya ?, " Laaah ..., itu candinya kan di dekat tugu yang sampeyan tadi lewati, mas. Ada di pinggir jalan, kok ".

Kayak ditampar, dijelaskan begitu aku malunya bukan main. Wajahku langsung terasa panas, kalau seandainya saat itu kusempatkan diri nengok cermin, pastilah wajahku merah padam seperti tampilan kepiting rebus ... !.
Gara - gara terus tersenyum manis tebar pesona, siiih  ..., makanya kebablasan arah ..., ha ha ha.

Agar maluku, eh maksudnya malunya aku hilang, aku cepat - cepat memutar balik arah kendaraanku dan segera berbalik kembali ke arah tugu, jalan masuk dusun.
Dan ternyata benar saja, kalau lokasi candi Lumbung Sengi itu adanya memang di tepi jalan dusun dan tak jauh dari tugu, tak kurang dari 5 meter ... .


Trip Of Mine
Ternyata, lokasi baru candi Lumbung berada tak jauh dari gapura dusun

Pantesan tanah lokasi candinya tinggi dari jalan setapak, sih dan posisi candinya berada di sudut pelataran halaman yang agak luas, makanya tadi ngga kelihatan ... , yeaayy masih ngeles lagi.

Lokasi candi Lumbung, orang biasanya menyebutnya dengan candi Lumbung Sengi ..., kenapa alasannya disebut dengan candi Lumbung dilengkapi dengan kata Sengi dibelakangnya ..., sstt ikuti terus membacanya sampai akhir ya, guys ... he he he ..., sekarang ini merupakan lokasi baru atau pindahan dari lokasi aslinya yang berada di ketinggian tebing sungai Apu.
Situs cagar budaya candi Lumbung diambil tindakan dipindahkan dari lokasi aslinya untuk tindakan penyelamatan dari kerusakan akibat bencana lahar dingin pasca erupsi dahsyat gunung Merapi pada tahun 2010 lalu, tebing tempat lokasi asli candi Lumbung Sengi berdiri sangat rawan bencana longsor.

Di lokasinya yang baru ini, candi Lumbung Sengi ditempatkan di desa Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan.


Trip Of Mine
Lokasi baru candi Lumbung berada tepat di pinggir jalan dusun Tlatar perkampungan warga

Saat masih berada di lokasi aslinya pun, bentuk bangunan candi dengan lebar 8, 70 meter persegi dan tinggi 2, 5  meter persegi ini kondisinya memang sudah tak lagi utuh sempurna, bagian atap candi telah rusak akibat terjadinya bencana erupsi dahsyat gunung Merapi ribuan tahun silam.
Material vulkanik telah mengubur candi Lumbung Sengi ratusan tahun di dalam tanah.
Candi ini merupakan candi Hindu, peninggalan kerajaan dinasti Wangsa Sanjaya. 


Trip Of Mine
Candi Lumbung tampak dari depan

Bangunan candi menghadap ke arah timur, dilengkapi dengan tangga dan pintu masuk. Di bagian samping atau pipi tangga kuperhatikan terdapat relief hiasan sulur gelung yang keluar dari mangkuk memiliki cakar, bagian ujung tangga dihiasi relief Makara berbentuk kepala ikan dan di dalam mulut menganganya terdapat hiasan berupa burung.
Dibagian atas pintu terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah dan dibagian dalam tengah candi terdapat sumur kering berbentuk kotak, tersusun dari tumpukan batuan candi dan di sekeliling bagian atas sumur dilengkapi papan pijakan.

Trip Of Mine
Sumur candi Lumbung

Bagian atap candi yang telah hilang ditutupi dengan seng plastik untuk menghindari masuknya air hujan memenuhi sumur keringnya.


"Trip Of Mine"
Duduk anteng di atas candi, asik juga ...

Karena ditempatkan di lokasi baru di dusun Tlatar, candi Lumbung Sengi ini sekarang berada disekeliling rumah penduduk. Berdampingan asri dengan kegiatan keseharian warga dusun Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan.

Pencarian ke Candi Sengi berikutnya

Setelah mengamati relief dan badan candi Lumbung, juga melihat aktivitas hilir mudik warga di jalan setapak dusun yang tampak jelas dilihat dari ketinggian badan candi, pencarian rute kulanjutkan ke lokasi rangkaian 2 candi Sengi berikutnya, candi Asu Sengi dan candi Pendem ... .


" Awalnya, kupikir jika rangkaian 3 candi Hindu peninggalan kerajaan Wangsa Sanjaya ini letaknya berada di lokasi sangat berdekatan satu sama lain, atau berada dalam satu komplek "

Kali ini aku bertanya arah rute ke candi selanjutnya ke seorang bapak berusia cukup uzur yang kebetulan berjalan mengarah tempat aku menuruni halaman pekarangan candi. 
Dari jauh bapak yang sedang memanggul keranjang setumpuk sayuran di atas kepalanya yang ditutupi semacam sorban bermotif batik itu terlihat tersenyum sumringah ke arahku. 

Konsen Himawan ..., konsen Himawan ..., kalo ngga ..., kamu bakalan gagal fokus lagi, nyasar arah lagi, muter arah lagi ..., gegara sibuk tersenyum sok manis ha ha ha.

Dengan sikap nyanak nyedulur [ Bahasa Jawa, kekeluargaan ] dan aksen medok, bapak itu menjelaskan arah rute menuju lokasi yang kumaksud menggunakan bahasa gabungan, bahasa Jawa diselingi bahasa Indonesia, jika rute yang benar untuk menuju keberadaan lokasi candi Asu dan candi Pendem melalui rute tempuh dari pertigaan jalan di daerah Dukun kembali, setelahnya melalui jalan yang berada di tengah, bukan melalui jalur ke arah kanan.

Kuikuti rute petunjuknya untuk melalui jalan tengah dengan kondisi jalannya setengah menanjak dan tak lama setelahnya bertemu dengan lokasi jembatan gantung Kali Adem.
Karena kedatanganku menggunakan kendaraan bermotor, mau tak mau harus melewati jembatan gantung yang terbuat dari susunan plat baja itu yang hanya dikhususkan dilalui oleh sepeda motor dan hanya sanggup dilalui oleh 2 kendaraan motor berpapasan. Sedangkan kendaraan roda empat melalui jalan berbeda, jalan beraspal dan melingkar yang berada di dekatnya.

Bagaimana sensasi saat melewatinya ... ?, ya, seru plus deg - degan juga rasanya.
Melihat ke bawah aliran sungai tampak cukup dalam beberapa meter dari atas jembatan, sementara susunan plat baja mengeluarkan suara berdentum cukup keras saat dilalui. Dentuman suara itu semakin terdengar kencang saat 2 kendaraan motor berpapasan.


Trip Of Mine
Jembatan gantung Kali Adem

Untuk mengambil gambar kondisi jembatan gantung, aku nekad memberanikan diri berdiri di tengah tanjakan jalan berbelok. Cepat - cepat kuarahkan kamera ke arah jembatan. Kalau tiba - tiba saja muncul kendaraan dari belokan jalan dengan kecepatan melaju tinggi, aduh ..., bisa berbahaya !.

Tak berjarak cukup jauh dari jembatan gantung, terlihat papan petunjuk lokasi berukuran kecil di tepi jalan. 
Papan petunjuk lokasi candi Pendem yang pertama terlihat, setelah itu papan petunjuk lokasi candi Asu.
Karena keberadaan candi Pendem tak terlihat dari pinggir jalan, kuputuskan untuk terlebih dahulu mendatangi lokasi candi Asu.

Lokasi candi Asu Sengi berada di pinggir jalan

Berbeda dengan lokasi baru penempatan candi Lumbung Sengi yang berada di perkampungan warga, pencarian lokasi ke candi Asu Sengi ini tak perlu pakai aksi perjuangan maksimal, apalagi pakai acara nyasar kebablasan sampai ke jalan di pertengahan persawahan segala hi hi hi ..., karena lokasi keberadaannya memang tepat di pinggir jalan desa dan lokasinya yang hampir berhadapan dengan sekolah dasar negeri Sengi I, membuatnya mudah untuk ditemukan.


Trip Of Mine
Candi Asu dilihat dari seberang jalan

Candi Asu Sengi tepatnya terletak berada di desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.
Nama asli candi Hindu ini sampai sekarang belum diketahui oleh team arkeologi, sementara penamaannya dengan sebutan candi Asu dikarenakan saat pertama kali diketemukan kembali oleh warga setelah terkubur di dalam tanah dan material vulkanik gunung Merapi selama ratusan tahun, diketemukan badan patung Lembu Nandhini yang tak utuh, mengalami kerusakan dan jika dilihat lebih menyerupai seekor binatang asu [ Bahasa Jawa, anjing ].


Trip Of Mine
Candi Asu

Candi Asu Sengi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran tinggi kaki candi 2, 5 meter dan tinggi tubuh candi 3, 5 meter.
Saat diketemukan bagian atap candi telah hilang dan hanya menyisakan sedikit dinding candi.


Trip Of Mine
Tangga candi Asu

Kulihat di keempat badan candi terdapat hiasan flora dan tampak relief Kinara - Kinari, makhluk penjaga nirwana menghiasi pilar mengitari candi. 


Trip Of Mine
Relief di badan candi Asu

Ditengah bagian atas candi juga terdapat sumur kering berbentuk kotak dengan kedalaman mencapai 4 meter.
Dahulu kala candi Asu Sengi merupakan bangunan candi untuk melakukan pemujaan kepada para dewa.

Beberapa gambar sudut candi Asu Sengi kuambil melalui kameraku dengan leluasa karena saat itu di lokasi memang tak ada seorangpun petugas terlihat bertugas disana, yang tampak hanyalah pagar pembatas halaman candi terbuka dan sebuah buku kunjungan tamu tergeletak di tangga candi.

Blusukan cari lokasi candi Pendem

Perjalanan kulanjutkan dengan berjalan kaki setelah mendatangi lokasi candi Asu Sengi melewati jalan setapak tanah tanpa diplester semen, sesuai rute papan petunjuk arah lokasi ke candi Pendem Sengi.
Kendaraanku kuparkirkan di seberang jalan depan lokasi candi Asu Sengi.
Melewati jalan setapak tanah yang bersebelahan dengan sungai kecil dan deretan tanaman jati ini, ternyata merupakan akses jalan memasuki perkampungan desa.


Berbeda dengan lokasi candi Lumbung Sengi dan candi Asu Sengi yang berada di pinggir jalan, lokasi keberadaan candi Pendem Sengi memang terletak berada jauh dari pinggir jalan.

Tanpa terlihat adanya tanda papan petunjuk ke arah mana lokasi candi Pendem berada di dalam perkampungan desa dan saat itu suasana perkampungan desa terlihat sepi, membuatku kebingungan seorang diri memastikan rute ke arah mana.
Beruntungnya, dari jarak agak lumayan dekat aku melihat seorang bapak muda sedang membersihkan semak - semak di sekitar pohon bambu berukuran besar. 
Dan dari bapak itulah, akhirnya rute ke arah candi Pendem Sengi kudapatkan.

Trip Of Mine
Blusukan mencari rute ke candi Pendem

Rutenya ternyata tepat melalui deretan antara rerimbunan pohon bambu !.
Blusukan terasa semakin seru setelah mulai melewati pematang sawah berjarak cukup jauh ditempuh dengan jarak keberadaan lokasi candi ..., dan dari atas pematang sawah lokasi keberadaan candi Sengi sama sekali belum terlihat.

Setelah mengitari persawahan, akhirnya lokasi candi Pendem Sengi terlihat. 
Lokasinya berada di permukaan tanah yang lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan karena alasan inilah penamaan candi Pendem diberikan oleh warga sekitar.


Trip Of Mine
Pemandangan sekitar candi Pendem indah, ya ...

Sama seperti candi Lumbung Sengi, nama asli candi Pendem Sengi sampai sekarang ini belum diketahui secara pasti.
Lokasi candi Pendem Sengi tepatnya juga berada di desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.

Saat aku memasuki halaman candi melalui pagar teralis terbuka tanpa digembok, tak kulihat seorang pun berada disana, hanya aku seorang diri berada di area candi yang dikepung persawahan ini.

Kuperhatikan bangunan candi Pendem tanpa adanya atap, bagian atap ikut mengalami kerusakan akibat erupsi gunung Merapi ribuan tahun silam.
Candi berbentuk bujur sangkar dengan panjang sekitar 11, 9 meter dan lebar 11, 9 meter, menghadap ke arah barat.


Trip Of Mine
Candi Pendem dilihat dari ketinggian dataran, lokasinya berada di dataran tanah yang lebih rendah


Trip Of Mine
Relief di badan candi Pendem

Di bagian badan candi terdapat relief flora menaungi burung, relief sulur tanaman dan relief Gana sebagai perwujudan dewa Syiwa.
Sama seperti kedua candi yang sebelumnya kudatangi, candi Pendem Sengi ini di bagian atasnya juga terdapat sumur kering.


Trip Of Mine
Sumur candi Pendem

Meski letaknya berada di dataran yang lebih rendah dari dataran tanah sekitarnya, candi ini tak terendam air di saat musim penghujan tiba, karena setiap area candi sejak dahulu kala telah dirancang bangun dengan sempurna sebelum bangunan candi didirikan. 

Ketiga candi Lumbung, candi Asu dan candi Pendem merupakan peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno dari dinasti Wangsa Sanjaya dan ketiganya didirikan pada masa kepemerintahan raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala tahun 880 Masehi, hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan prasasti di sekitar lokasi candi. Sejarah pendirian ketiga candi tertulis di prasasti Sri Manggala I angka tahun 874 Masehi, prasasti Sri Manggala II angka tahun 876 Masehi, prasasti Kurambitan I dan prasasti Kurambitan II.
Kini kesemua prasasti tersebut disimpan di Museum Candi Prambanan, Yogyakarta.

Lokasi ke 3 serangkai candi Hindu ini berada di lereng gunung Merapi dan terletak berada pada ketinggian 650 meter di atas permukaan air laut.


Trip Of Mine
Yeayyy, akhirnya berhasil juga menjelajahi lokasi 3 serangkai candi Sengi ...

Kenapa tiga serangkai candi tersebut disebut dengan candi Sengi di belakang nama candinya, dikarenakan lokasi ketiganya berada di kelurahan Sengi, kecamatan Dukun.
Dan sekarang setelah lokasi candi Lumbung dipindahkan, menempati lokasi baru di dusun Tlatar ..., hanya candi Asu dan candi Pendem yang tetap masih berada di kelurahan Sengi.

Lokasi :
▪ Candi Lumbung Sengi
Dusun Tlatar, desa Krogowanan, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang

▪ Candi Asu Sengi dan candi Pendem Sengi
Desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang

Tiket :
Tidak dikenai beaya
[ Kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]

Saturday, September 1, 2018

Candi Umbul : Situs Pemandian Air Hangat

Kerajaan Medang atau disebut juga dengan kerajaan Mataram kuno adalah sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya di pulau Jawa pada abad ke 7 Masehi. 
Penamaan dengan sebutan kerajaan Medang setelah lokasi kekuasaannya berpindah dari wilayah Jawa Tengah ke wilayah Jawa Timur akibat adanya situasi bencana alam dahsyat erupsi gunung Merapi, gunung berapi yang masih terus aktif kegiatan vulkanologinya hingga sekarang ini, meluluhlantakkan wilayah Jawa Tengah dan material vulkaniknya ikut menghancurkan dan mengubur sejumlah bangunan megah karya dari 2 dinasti besar, Wangsa Sanjaya beraliran agama Hindu Syiwa dan Wangsa Syailendra beraliran agama Buddha Mahayana.

Tak hanya candi Borobudur mahakarya dari Wangsa Syailendra saja di kabupaten Magelang yang terkubur selama ratusan tahun akibat erupsi vulkanik dahsyat gunung Merapi, gunung yang membatasi antara kota Yogyakarta dan kota Magelang, tapi juga mengubur candi Umbul, candi pemandian mata air hangat alami peninggalan Wangsa Syailendra yang kudatangi berlibur kali ini. 


Trip Of Mine
Situs cagar budaya candi Umbul.
Bagian tengah kolam pertama terdapat umpak relief lingga, diduga dahulu kala digunakan oleh para raja sebagai tempat bertapa

Dan sekarang, berlibur ke candi Umbul Magelang tak hanya mengenal wisata budaya semata tetapi juga sebagai wisata umum dikarenakan fungsinya yang dahulu kala dipercaya sebagai tempat kolam pemandian para pangeran dan putri raja juga petirtaan para raja dalam upacara keagamaan, digunakan sebagai kolam rendam untuk masyarakat umum.

Sengaja datang pagi hari di candi Umbul untuk melihat ...

Alarm aplikasi penanda waktuku berbunyi tepat jam 05. 00 subuh dini hari, tandanya harus segera bangun dari tempat tidurku dan segera mempersiapkan diri untuk bebenah, selanjutnya berangkat menuju ke destinasi situs wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul di Grabag, kabupaten Magelang. 

Jaket tebal, sarung tangan dan syal kugunakan selama di perjalanan untuk antisipasi udara dingin dan kebetulan saat itu suasana masih tampak berkabut menandakan temperatur udara sedang turun.
Rute perjalanan menembus kabut kulalui melewati daerah Secang di jalan raya utama rute kota Magelang - kota Semarang, setelahnya melalui Grabag dan mengikuti papan rute arah petunjuk ke desa Kartoharjo. 
Sebenarnya lokasi destinasi situs wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul lebih cepat ditempuh untuk tiba di tujuan melalui daerah Pringsurat, dengan jarak tempuh hanya sekitar 600 meter dari jalan raya utama kota Magelang - kota Semarang melewati perkampungan penduduk, tapi aku sengaja memilih melalui rute jalur Grabag untuk melihat pemandangan persawahan dan jejeran pegunungan di sepanjang perjalanan.
Karena sengaja memilih melewati rute perjalanan jalur memutar ini jarak tempuh tiba di lokasi lebih lama dan memang sengaja agar tiba di lokasi tepat jam 06. 00 saat jam operasional dimulai.

Kedatanganku berlibur ke destinasi situs  wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul yang diperkirakan oleh para arkeolog sama usia pembangunannya dengan candi Selogriyo di Magelang, candi Gedong Songo di Ungaran dan candi Dieng di kabupaten Banjarnegara, merupakan kunjunganku yang telah kesekiankalinya, tapi baru kali ini aku sengaja datang berlibur kesana dengan jam keberangkatan pada pagi hari untuk melihat ..., permukaan air kolam rendam tampak dipenuhi uap tebal, seperti mendidih !.
Keunikan fenomena ini tak akan tampak seiring waktu dengan sinar matahari mulai meninggi.


Trip Of Mine
Jalan setapak menuju kolam pemandian dengan taman asri


Trip Of Mine
Gapura mengesankan jaman purbakala

Jam 06. 00 tepat aku tiba di lokasi destinasi situs wisata cagar budaya pemandian air hangat candi Umbul Magelang.
Sepi ?, tidak juga. 
Ternyata didalam areanya yang terdiri dari 2 kolam air hangat peninggalan purbakala telah terlihat 4 cowok sedang berendam, sepertinya mereka datang bersamaan karena mereka terlihat kompak membidik kamera bergantian diselingi dengan canda tawa, juga tampak 1 ibu setengah baya datang sendirian tak berselang waktu lama dengan waktu kedatanganku.

Dimanakah candinya ?

Untuk sebagian orang yang belum pernah mendengar nama destinasi situs wisata budaya pemandian air hangat candi Umbul dan belum kesampaian berlibur kesana pasti mengira jika bangunan candi satu ini seperti struktur bangunan candi pada umumnya, berdiri tinggi menjulang dan gagah.
Tapi candi yang terletak berada di lembah dan dikelilingi perbukitan juga persawahan ini, sekarang ini hanya menyisakan 2 buah kolam rendam air hangat alami disusun dengan batuan andesit berukuran persegi empat cukup besar, masing - masing berukuran sekitar 12, 5 meter x 7, 15 meter di kolam pertama dan berukuran sekitar 8, 5 meter x 7 meter di kolam kedua.


Trip Of Mine
2 kolam pemandian air hangat candi Umbul.
Kolam kedua dibuat lebih rendah dari kolam pertama


Trip Of Mine
Relief Kalamakara berada di kanan dan kiri undakan tangga

Aliran air rendam kolam pertama dialirkan melalui celah pemisah ke kolam rendam kedua.
Diduga struktur bangunan candi pada umumnya telah musnah, ini dibuktikan dengan diketemukannya sisa - sisa relief candi yang ditumpuk di beberapa lokasi di pinggir kolam rendam. 
Tampak disana relief gong berukuran besar, hiasan Kalamakara, arca Ganesha, potongan relief tubuh yang hilang bagian atasnya dan beberapa ornamen candi lainnya.


Trip Of Mine
Beberapa reruntuhan ornamen candi berada di tepi kolam pemandian

Di dalam kolam rendam air hangat berwarna bening sedikit kehijauan yang mengandung zat belerang dan zat Saphopryl bagus untuk kesehatan kulit juga mengobati reumatik ini terdapat beberapa umpak berupa arca lingga dan yoni. 


Trip Of Mine
Uap air panas di permukaan kolam pemandian seiring matahari meninggi tak tampak lagi ...

Di sela - sela bebatuan landasan kolam ditumbuhi subur lumut berwarna hijau dan terasa lembut saat dipijak terselip gelembung - gelembung air muncul dari dalam tanah.
Gelembung - gelembung air ini terlihat sangat jelas dan terus mengalir deras tanpa pernah berhenti sejak dari ribuan tahun silam ..., hingga sekarang ini.

Di tengah kolam pertama, tepat sejajar dengan tangga berhiaskan Kalamakara di kedua sisinya, berdiri 1 arca lingga rata di bagian atas permukaannya. Diduga dahulu kala arca lingga tersebut dipergunakan oleh para raja melakukan semedi dalam upacara keagamaan.

Awalnya aku ragu untuk berendam ...

Saat aku tiba di lokasi destinasi situs wisata cagar budaya pemandian air hangat candi Umbul, udara pagi masih menyisakan dingin yang cukup membuat badan menggigil kedinginan meski jaket tetap terus kukenakan.

Aku memilih terlebih dahulu mengamati bentuk reruntuhan relief candi yang diletakkan di samping kolam dan memotret keseluruhan areanya.
Awalnya aku ragu untuk berendam ..., tapi kok sayang juga jika telah sampai di lokasi malah membatalkan diri berendam, udara yang terus terasa dinginlah yang membuatku ragu untuk segera berendam menikmati manfaat zat air mineralnya. 
Airnya selain dipercaya mengobati penyakit kulit, rematik, pegal - pegal juga dipercaya masyarakat setempat untuk kebugaran dan kekenyalan kulit.

Setelah suasana lokasi sepi, hanya ada aku dan ibu setengah baya yang tampak enggan keluar berendam dari kolam pertama, aku memutuskan untuk segera berganti property untuk membuat dokumentasi foto untuk pelengkap artikelku ini dan suatu kebetulan juga akhirnya suasana terlihat sepi karena aku lebih menyukai foto di suatu lokasi yang tampak tak terlihat crowded penuh orang di latar belakang foto.


Trip Of Mine
Air mineralnya bening kehijauan pengaruh dari lumut lembut di dasar kolamnya

Kain traditional produksi pengrajin rumahan sekitar candi Mendut kupilih untuk property foto kali ini dan memilih tak mengenakan baju agar nuansa etniknya terlihat, meski terus terang sebenarnya saat itu aku ..., ng* ..., mengigil kedinginan berkali - kali wwkkwwkkk !.

Lokasi :
Jalan. Candi Umbul, Grabag, Perkebunan, Kartoharjo, Kabupaten Magelang

Tiket :
Rp. 8. 000 ,_ , berikut beaya parkir
[ Info harga tiket sewaktu - waktu dapat berubah ]

Jam Operasional :
06. 00 - 17. 00


Tips berlibur di candi Umbul :
▪ Perhatikan jam buka dan jam tutup operasional, terutama untuk yang tidak membawa kendaran pribadi, karena tidak tersedia sarana angkutan umum melewati depan lokasi.
Sarana transportasi umum berupa bus besar jurusan Magelang - Semarang hanya berada di jalan raya utama dan hanya beroperasional mulai dari jam 05. 00 sampai jam keberangkatan terakhir jam 17. 00.

▪ Di sekitaran lokasi tidak terdapat sarana penginapan.
Jika datang dari luar kota dan memilih bermalam di Magelang, sebaiknya terlebih dahulu menentukan pilihan bermalam di hotel atau losmen yang banyak terdapat di kota Magelang.

▪ Tak perlu khawatir tentang makanan dan minuman.
Di dalam komplek tersedia warung makan menyediakan beberapa menu pilihan, hanya sayangnya tak menyediakan kuliner atau oleh - oleh khas Magelang.