Sunday, November 11, 2018

Louw Djing Tie, Jejak si Pendekar Shaolin di Parakan

Kota Parakan terletak berada di lereng gunung Sindoro dan gunung Sumbing, merupakan salah satu kota yang seringkali disebut - sebut sebagai lokasi penghasil tanaman tembakau terbaik di Indonesia.
Memasuki kota Parakan, mata dan imajinasi kita akan digiring ke masa tempoe doloe dengan melihat banyaknya deretan peninggalan bangunan rumah berasitektur Tionghoa yang masih tetap utuh terjaga dengan baik hingga sekarang. 
Bisa dikatakan, Parakan adalah perkotaan Tiongkok kecil.

Tak sedikit bangunan rumah khas Tionghoa tertutup rapat oleh tingginya pagar tembok, hanya sebatas bisa dipandangi bagian  dinding luar bangunan dan atapnya saja, tetapi beberapa bangunan rumah tua diantaranya dapat atau diperbolehkan untuk dikunjungi oleh siapapun.

Salah satunya bangunan rumah yang dinamai Omah Tjandie Gotong Rojong berada di Jalan Demangan nomor 16, yang kudatangi kali ini untuk berlibur di kota Parakan, kabupaten Temanggung.


Trip Of Mine
Bergaya ala jurus Shaolin di depan seperangkat senjata peninggalan Louw Djing Tie

Omah Tjandie Gotong Rojong bukanlah rumah khas Tionghoa biasa, tapi rumah yang didirikan tahun 1870 ini menyimpan sejarah besar dari seorang pembawa dan penyebar ilmu bela diri shaolin dari Tiongkok ke Indonesia, Louw Djing Tie .

Sekelumit cerita pencarian lokasi

Pintu kayu yang memiliki dua bukaan dan bertuliskan Omah Tjandie Gotong Rojong di bagian atas dindingnya itu tertutup rapat, beberapakali ketukan yang kulakukan tak kunjung dibuka oleh pemiliknya.


Trip Of Mine
Gerbang pintu Omah Tjandie Gotong Rojong

Akhirnya kuputuskan meninggalkan pintu rumah di jalan Demangan itu untuk kembali memutar balik ke arah jalan Tejo Sunaryo, jalan yang semula telah kulewati sebelumnya untuk pencarian lokasi rumah pendekar Shaolin asal Tiongkok, Louw Djing Tie.

Jalan Tejo Sunaryo ini lebih dikenal warga dengan nama lama, disebutnya Gambiran [ Dialek Jawa menyebutnya Nggambiran, ada penambahan bunyi Ng didepan pengucapannya ]. 
Kulakukan memutar balik kembali ke Jalan Tejo Sunaryo atas pemberian informasi dari beberapa pria yang berada di warung angkringan, jika pintu Omah Tjandie Gotong Rojong tak dibuka, cobalah mengetuk lewat pintu ' depan ' .
Jadi benar adanya jika rumah bersejarah dan sekarang masuk sebagai warisan cagar budaya ini memiliki 2 pintu masuk. 

Pintu ke satu berada di jalan Demangan menghadap ke arah pemandangan gunung Sumbing dan pintu kedua merupakan pintu tambahan baru berada di jalan Tejo Sunaryo atau Gambiran, berderetan dan berhadapan dengan rumah - rumah bangunan Tionghoa lainnya.

Benar saja dengan menekan tombol bel, tak lama kemudian pintu dibukakan oleh seorang pemuda yang ternyata merupakan salah satu pekerja bolu yang diproduksi di rumah ini.
Setelah kuutarakan apa maksud kedatanganku, aku dipersilahkan masuk untuk melihat keseluruhan bangunan megah tempat Louw Djing Tie menumpang tinggal di rumah milik keluarga Hoo Ting Bie, mulai dari mendirikan perguruan Garuda Mas menggembleng ilmu bela diri murid - muridnya, menjadi tabib pengobatan, memproduksi beragam jamu bermerk Garuda seperti param dan minyak gosok, hingga di akhir sisa usia hidupnya 66 tahun pada tahun 1921.

Bagian pertama rumah yang kulewati merupakan dapur untuk produksi kue bolu cukil cap Tomat.
Usaha kue bolu cukil cap Tomat merupakan pengganti usaha param dan obat gosok bermerk Garuda dengan bungkus kemasan foto Louw Djing Tie yang terhenti produksinya sejak tahun 2015 lalu karena sulitnya bahan produksi ditemui, tak selengkap bahan resep asli dari Louw Djing Tie.


Trip Of Mine
Bolu kue cukil cap Tomat

Bangunan inti atau induk berpilar 2 berukuran besar berada di tengah halaman. 
Pintunya berupa bukaan dua daun pintu bertuliskan huruf Mandarin berwarna gold mengkilap, telapak kaki Qilin [ mewakili sifat maskulin ] dan bulu burung Phoenix [ mewakili sifat feminim ]. 
Keduanya melambangkan antara keperkasaan dan keindahan. 


Trip Of Mine
Bangunan induk Omah Tjandie Gotong Rojong

Seperangkat senjata milik Louw Djing Tie yang dulu digunakan untuk berlatih kunthaw ditempatkan di ruang tamu sebelah kanan, diantaranya berupa golok besar dan tombak.
Tongkat kayu cendana yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie, buku resep ramuan jamu asli buatan Louw Djing Tie, minyak gosok dan parem produksi akhir tahun 2015 dipajang di satu lemari kaca di ruang tamu sebelah kiri.


Trip Of Mine
Tongkat milik Louw Djing Tie terawat baik di lemari display di ruang tamu Omah Tjandie Gotong Rojong

Di dinding rumah yang terpisah berhadapan, terpasang foto Louw Djing Tie bertopi baret hitam duduk memegang tongkat kayu cendana dikelilingi murid - muridnya, foto liputan dari beberapa media surat kabar juga foto dua keluarga yang pernah memiliki rumah ini, keluarga Hoo Ting Bie pemilik rumah pertama dan 2 bersaudara Go Kim Tong dan Go Kim Jong yang membeli rumah dari Hoo Ting Bie.


Trip Of Mine
Sederet foto Louw Djing Tie 

Tapi Louw Djing Tie bukanlah tinggal di rumah induk berpilar 2 itu, tapi menempati satu bangunan berada di pojok halaman.
Di halaman taman sampai sekarang masih berdiri tiang gelang besi setinggi 2, 5 meter yang dulu dipergunakan Louw Djing Tie dan murid - muridnya untuk melatih kekuatan tangan dan perut.

Kesetiakawan mengubah hidup Louw Djing Tie

Menurut cerita dari berbagai sumber informasi yang kuperoleh, diantaranya dari cerita mamaku tentang kehebatan Louw Djing Tie yang melegenda sampai sekarang, seperti : untuk memasuki area rumahnya Louw Djing Tie seringkali tak melewati pintu rumah, tetapi dengan cara meloncat tembok pagar rumah khas bangunan Tionghoa yang dibuat setinggi beberapa meter mengelilingi bangunan rumah.
Dengan ilmu ringan tubuhnya, Louw Djing Tie sanggup terlihat seakan terbang untuk meloncat dari satu tempat ke tempat lain.
Satu cerita ini begitu melegenda turun temurun diceritakan sejak jaman kakek buyutku, orang tuaku dan kini diceritakan ke aku.

Dan menurut sumber informasi yang juga kuperoleh dari cerita mamaku karena dulu mama papaku seringkali ke Parakan untuk menjalankan usaha tembakau dan mereka berdua seringkali saling membicarakan dengan para petani tembakau setempat tentang kehebatan ilmu kungfu Louw Djing Tie, juga dari sumber yang kuperoleh dari https://www.wikipedia.org 

Louw Djing Tie lahir di kampung Khee Thao Kee, kota Hayteng, Hokkian, Tiongkok.
Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakak dan adiknya perempuan, Louw Djing Tie satu - satunya anak lelaki. 
Kakaknya bernama Louw Djing Lian dan adiknya bernama Louw Djing Hiang.
Sejak kecil, dia pemberani dan nakal, namun rendah hati.
Beberapa kali pernah terlibat berantem dengan teman - temannya dan pada usia 9 tahun mendapat bekas luka dikeningnya yang membekas hingga sekarang.


" Loh ..., kok kayak aku, ya ?. Punya bekas luka di kening. Bedanya Louw Djing Tie kecil dapat bekas luka karena berantem dengan teman - temannya, kalau aku dapat bekas lukanya karena kecelakaan "

Louw Djing Tie kecil bersemangat masuk ke perguruan kungfu di desanya setelah ia melihat kehebatan bela diri pemilik warung yang menyelamatkannya dari kejaran seorang biksu bejat pemabuk yang tak terima dikerjain olehnya. 
Sayangnya, semangat berlatih kungfunya harus terhenti ditengah jalan karena tak ada beaya setelah kedua orang tuanya meninggal secara beruntun.
Keadaan ini memaksa ketiga kakak beradik mengungsi berpindah ke kota lain, menumpang di rumah saudaranya dan harus membanting tulang demi sesuap nasi, sementara kakaknya sering bekerja di luar kota.

Suatu saat sekembalinya dari perantauan, Louw Djing Lian memasukkan Louw Djing Tie ke biara Shaolin di Song Shan.
Dari biara Shaolin inilah, Louw Djing Tie memperoleh ilmu kepandaian dalam bertarung dan meramu obat - obatan.

Selepas menimba ilmu di biara Shaolin, Louw Djing Tie melanjutkan ilmu di guru keduanya, seorang pendeta lulusan biara Shaolin juga, pendeta Biauw Tjin.
Selama 6 tahun berguru dengan pendeta Biauw Tjin, Louw Djing Tie memperoleh ilmu tenaga dalam dan tenaga luar juga menguasai ilmu penggunaan beragam macam senjata rahasia seperti uang logam dan jarum. 

Kemudian selama 7 tahun Louw Djing Tie melanjutkan berguru kepada seorang pendeta Kang Too Soe untuk mempelajari ilmu menyumpit, totok jalan darah, memperdalam tehnik mengalirkan tenaga chi ke seluruh bagian tubuh juga mempelajari ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang.

Pendeta Kang Too Soe merupakan guru ketiga dan guru terakhir Louw Djing Tie menimba ilmu.
Setelah itu Louw Djing Tie membuka perguruan sendiri di Hok Ciu, provinsi Hok Kian. Muridnya sangatlah banyak, salah satunya adalah adik kandungnya sendiri, Louw Djing Hiang. 

Pada suatu ketika pemerintah Hok Ciu menggelar acara kompetisi seleksi pemilihan guru kungfu untuk dijadikan pelatih tentara setempat. Louw Djing Tie termasuk salah satu peserta dari beberapa jago - jago kungfu di daerah tersebut. Wakil dari pemerintah Hok Ciu diwakili oleh seorang guru kungfu berasal dari daerah Shan Tung yang memiliki ilmu bela diri cukup hebat.

Saat giliran teman Louw Djing Tie bernama Lie Wan mendapat giliran beradu dengan guru kungfu wakil dari pemerintah tersebut, Lie Wan tak sabaran berkeinginan segera menyelesaikan pertarungan dengan si guru kungfu. Lie Wan menggunakan tehnik berbahaya dengan cara menghantamkan kedua telapak tangannya ke tubuh si guru kungfu, guru kungfu pun dengan sigap menghindari serangan tersebut dan segera bersiap menyerang balik Lie Wan dengan serangan berbahaya pula. 
Louw Djing Tie melihat serangan mematikan yang diarahkan ke Lie Wan, segera meloncat ke tengah arena dan menyerang menendang kemaluan si guru kungfu hingga terluka parah.

Louw Djing Tie segera menyadari kesalahannya dan sadar bahwa tindakannya akan berakibat dikenai hukuman berat oleh pemerintah.
Segera Louw Djing Tie dan Lie Wan melarikan diri dari arena dan keluar meninggalkan negara Tiongkok.  

Lie Wan berpindah ke Amoy dan menjadi tabib disana, sedangkan Louw Djing Tie melarikan diri ke Singapura. Hanya tinggal sementara di Singapura, Louw Djing Tie kemudian berkeinginan pindah ke pulau Jawa, Indonesia. 
Rasa kesetiakawananlah yang dimiliki Louw Djing Tie yang akhirnya menyeret ia dalam pelarian ... .

Batavia [ sekarang Jakarta ], merupakan kota pertama persinggahan Louw Djing Tie. Di Batavia, ia sempat menjalani sebagai pedagang keliling di daerah Toko Tiga, Glodok.
Kemudian ia berpindah ke Semarang, lalu ke Kendal. Di kedua kota ini, ia berdagang ikan asin di pasar juga sebagai tabib mengobati orang yang mengalami salah urat dan terkena pukulan. Ajakan salah seorang temannya, membawa Louw Djing Tie berpindah ke Ambarawa dan disana ia mendirikan perguruan silat secara tersembunyi, karena kegiatan belajar ilmu bela diri pada masa kepemerintahan itu tidak diperkenankan. 
Tak berselang lama setelah itu, Parakan jadi kota pilihan persinggahan terakhir Louw Djing Tie.

Dengan menumpang di rumah kerabatnya bernama Hoo Ting Bie yang kudatangi inilah, nama besar Louw Djing Tie semakin termasyur ke seluruh penjuru nusantara berkat perguruan ilmu kungfu shaolin, Garuda Mas yang ia bentuk dan sebagai cikal bakal ilmu bela diri di Indonesia.
Tak hanya ilmu bela diri yang ia ajarkan, tapi juga memproduksi jamu dengan label Garuda.
Param merupakan salah satu jamu produksinya yang terus dikenang sampai sekarang akan keampuhannya mengobati otot terkilir dan penyakit yang berhubungan dengan tulang lainnya.

Tak hanya ilmu bela dirinya yang melegenda, tapi cerita jalan hidupnya menarik untuk disimak

Semasa hidupnya, Louw Djing Tie berkeinginan dan bersumpah untuk tidak pernah menikah.
Satu keinginan itu merupakan dari dua keinginan lainnya, hidup sederhana asalkan kebutuhan makan cukup terpenuhi dan berusia pendek.

Entah suatu kebetulan atau bukan, suatu saat Louw Djing Tie terkena sumpahnya sendiri setelah akhirnya ia menyerah menerima desakan terus menerus dari murid - murid kungfunya untuk segera menikah.
Ia pun akhirnya dengan terpaksa melangsungkan pernikahan di saat usianya yang tak lagi muda.
Dan sengsara pun akhirnya mulai menghampiri hidupnya ... .

Istri pertamanya meninggal setelah mereka tak lama melangsungkan pernikahan, kemudian istri keduanya terlibat perselingkuhan yang akhirnya berujung perpisahan, istri ketiga mengalami gangguan jiwa.
Dari ketiga kali pernikahan ini, tak satupun membuahkan seorang anak.

Penderitaan itu berlangsung seiring dengan kesehatannya yang terus mulai menurun, matanya mengalami gangguan penglihatan atau rabun.
Dengan kondisi sakit - sakitan, Louw Djing Tie dirawat oleh murid kesayangannya yang juga sebagai anak angkatnya bernama Hoo Tik Tjay atau sebutan nama kecilnya, Suthur.
Suthurlah yang terus tetap setia merawat Louw Djing Tie sampai akhirnya ia menutup mata selama - lamanya. 
Beliau dimakamkan di komplek pemakaman gunung Manden yang berada di pinggir kota Parakan. 


Trip Of Mine
Gerbang Omah Tjandie Gotong Rojong dilihat dari teras rumah induk

Pemilik Omah Tjandie Gotong Rojong memperbolehkan siapapun untuk berkunjung dan berfoto disana.


Trip Of Mine
Duduk santai di teras Omah Tjandie Gotong Rojong sambil membayangkan sosok Louw Djing Tie, sang pendekar Shaolin dari Tiongkok

Hanya ada 2 area yang tidak diperkenankan diambil gambarnya, altar meja sembahyangan kedua leluhur yang berada di ruang tengah rumah induk dan area dapur produksi kue bolu cukil tempat dulu pernah digunakan oleh Louw Djing Tie mengolah aneka jamu buatannya. 


Lokasi :
Omah Tjandie Gotong Rojong
• Pintu 1 jalan Demangan nomor 16
• Pintu 2 jalan Tejo Sunaryo nomor 10
Parakan, kabupaten Temanggung

Tiket :
Tidak dikenai beaya masuk

Thursday, November 1, 2018

Museum Sasono Guno Roso Koleksi Wayang Mancanegara dan Lokal

Di Kabupaten Magelang, tak jauh dari lokasi keberadaan candi Borobudur, candi kebanggaan Indonesia dan diakui sebagai Tujuh Keajaiban Dunia dan berjarak tempuh sekitar 5 kilometer, bahkan dari halaman depannya keindahan candi terbesar di dunia itu terlihat sangat jelas ..., menjulang tinggi sangat artistik dan menawan, berdiri museum wayang Magelang, museum Sasono Guno Roso.
Trip Of Mine

Lobby hotel berdesain perpaduan gabungan  antara bentuk badan rumah traditional khas adat Bugis dan beratapkan genteng dengan bentuk atap rumah traditional khas adat Jawa, penggabungan desain keduanya yang diistilahkan dengan rumah Bugis diblangkoni [ Blangkon : penutup kepala khas Jawa traditional terbuat dari bahan kain, digunakan untuk kaum pria, biasanya digunakan untuk suatu keperluan acara adat ] di tepi jalan Balaputradewa, pada suatu pagi itu kumasuki.


Trip Of Mine
Lobby Pondok Tingal

Saat itu suasana lobbynya yang banyak dihiasi ornamen seni traditional tampak lengang, hanya terlihat 2 petugas hotel berjaga disana.
Kedatanganku saat itu bukanlah untuk keperluan staycation yang seringkali dilakukan oleh para blogger untuk mengulas kelengkapan fasilitas suatu hotel dan juga bukan untuk keperluan chek-in bareng kamu, eh# ... .
Tapi kedatanganku ke hotel milik mantan Menteri Penerangan alm. R. Boediardjo periode jabatan tahun 1968 - 1973 itu untuk keperluan liburan di museum wayang Magelang, bernama Museum Sasono Guno Roso.

Dari lobby receptionist hotel Pondok Tingallah setiap pengunjung yang bermalam atau tidak bermalam disana untuk keperluan memasuki bangunan museum wayang Sasono Guno Roso koleksi pribadi milik mantan menteri, jurnalis, seniman juga pernah menjabat sebagai ketua perhimpunan anggrek Indonesia ini akan diarahkan.


Trip Of Mine
Gedung museum wayang Sasono Guno Roso berada di sebelah kiri

Setelahnya akan didampingi oleh salah satu petugas hotel untuk memasuki bangunan satu - satunya museum wayang di Magelang.
Ibu Titik, saat itu petugas hotel Pondok Tingal yang jadi tour guide buatku memasuki bangunan museum wayang.

Lokasi bangunan museum wayang Sasono Guno Roso terletak berada dalam satu area hotel Pondok Tinggal yang terbilang cukup luas areanya, terdiri dari 4 bangunan utama yang diperbolehkan dikunjungi untuk umum, area camping ground dan area wahana permainan paint ball.

Bangunan museum wayang Sasono Guno Roso terpisah dengan bangunan inti hotel, berdiri sendiri berseberangan dengan bangunan berbentuk rumah joglo yang difungsikan untuk pertunjukan pagelaran kesenian wayang kulit di setiap hari sabtu ke 4 dan persis terletak berada di samping bangunan yang juga berbentuk joglo khas Jawa traditional yang kerap digunakan untuk keperluan acara resepsi, pesta dan semacamnya.

Setelah mengisi data di buku kunjungan tamu di dalam ruangan museum, dengan tetap didampingi oleh ibu Titik, aku mengelilingi luasnya ruangan terbagi beberapa panel sekat yang menampilkan beragam jenis wayang dan setiap kelompok wayang disertai keterangan dibawahnya.


Trip Of Mine
Ruangan dalam museum

Namanya juga tour guide, ibu Titik tak hanya mendampingi aku, wisatawan satu - satunya saat itu, tapi juga menjelaskan satu persatu nama jenis wayang, koleksi benda - benda yang ada disana berikut menjelaskan asal usul sejarah darimana koleksi tersebut didapat.


Trip Of Mine
Wayang golek

Benda - benda antik dan bersejarah itu sebagian didapat dari cinderamata dari para pejabat negara asing teman relasi beliau saat menjabat sebagai Menteri Penerangan, juga sebagian diperoleh dari pembelian pribadi yang memang sengaja dikumpulkan karena kecintaannya beliau tentang dunia pewayangan.


Trip Of Mine
Wayang Turki


Trip Of Mine
Wayang Magelangan

Tak hanya wayang lokal dari berbagai daerah seperti Cirebon, Yogyakarta, Lombok, Bali dan Kedu, tapi museum wayang Magelang ini juga menyimpan koleksi wayang dari negara Laos Kamboja, China, Turki dan Jepang.
Wayang golek China yang dikenal sebagai wayang  potehi ditempatkan secara khusus di lemari kaca.
Deretan boneka wayangnya berkostum indah khas China klasik dan paras bonekanya terlihat sangat cantik kayak kamu. he he he.


Trip Of Mine
Wayang golek potehi dari negara China

Selain mengoleksi beragam jenis wayang, museum yang tak memasang tarif untuk memasukinya ini juga menyimpan beragam aneka bentuk topeng kayu, seperangkat souvenir peralatan ibadah agama Buddha terbuat dari tembaga merupakan hadiah dari pemerintah Laos berupa patung kura - kura dan tempat lilin berornamen indah, seperangkat gamelan kuno lengkap, perpustakaan yang menyimpan 694 buku tentang pewayangan dari berbagai bahasa, 59 kaset video rekaman pagelaran wayang sejak 1980 - 1990 dan 83 kaset rekaman wayang sejak 1971 - 1994. 


Trip Of Mine
Seperangkat gamelan kuno ditempatkan bersebelahan dengan perpustakaan

Dari sekian banyak koleksi wayang yang kuperhatikan, ada 2 jenis wayang yang paling menarik perhatianku : wayang Gunung dan wayang Ruwatan.
Wayang Gunung karya seniman Sujana Keron dibuat tahun 2014 divisualisasikan dengan karakter wajah para serangga !.
Warna badannya pun dipoles dengan warna - warni khas serangga. 
Saking unik wajah penokohanya, bu Titik sempat berseloroh :


" Monggo, mas kalau mau berfoto - foto silahkan, loh ..., mau berfoto dimana saja boleh. Atau kalau mau kelihatan unik foto bareng wayang Alien "

Spontan aku heran dalam hati ' kok ada wayang alien, yang mana, sih ?. Perasaan dari tadi kulihatin ngga ada '.
Begitu bu Titik menjelaskan yang dimaksud wayang alien itu adalah wayang Gunung dan disebut wayang serangga karena memang wajah tokohnya berupa beraneka wajah serangga yang menyerupai wajah alien, aku langsung reflek ngakak tanpa sadar ... , sadarnya setelah kulihat wajah bu Titik kaget terperanjat dengar suara ketawa cuwawakanku ha ha ha.


Wayang Gunung atau juga disebut wayang alien, eh# wayang serangga.
Merupakan karya seniman Sujono Keron, ide pembuatannya terinspirasi dari beragam jenis serangga.
Karya yang mewakili keprihatinan terhadap para serangga yang mati terbunuh akibat penggunaan peptisida secara berlebihan.

Berbeda dengan wayang Alien yang membuatku ketawa ngakak malu - maluin, wayang Ruwatan bikin aku mendadak langsung merinding disko.
Gimana ceritanya ?.
Karena penasaran dengan namanya yang disebut dengan kata Ruwatan [ hanya digelar untuk acara khusus ] , kutanyakan ke ibu Titik ... 
Aku : " Kalau namanya wayang Ruwatan, berarti kan disakralkan ya, bu ..., lalu apakah ada penanganan khusus untuk itu ? "
Ibu Titik : " O ya ada, mas. Pembersihannya ngga sembarangan. Ada ritual khususnya untuk itu "
Aku : " Lalu kalau memakai ritual khusus, apakah ada 'sesuatu ' pernah terjadi disini ? "
Ibu Titik : " Ada. Kalau kelamaan disimpan di dalam kotak penyimpanannya dan memang waktunya sudah akan dibersihkan ... , dalam kotaknya kerap terdengar suara glodakan "

Trip Of Mine
Satu persatu seri wayang dijelaskan secara detil, akupun menyimak he he he ...

Oh, tapi tak perlu takutlah. Toh di semua tempat juga pasti ada 'penunggu'nya, asalkan kita berbuat sopan saja dan mengucapkan permisi sebelumnya.

Yang patut dijadikan contoh, keluarga penerus hotel Pondok Tingal dan museum wayang Magelang ini tetap konsisten ikut menjaga kebudayaan leluhur tetap lestari agar tak tergerus kebudayaan pop masa kini.


Trip Of Mine
Aula pertunjukan

Di pendopo yang berhadapan dengan lokasi bangunan museum Sasono Guno Roso, setiap hari sabtu jam 4 sore diadakan latihan sanggar tari Kinara Kinari tarian Jawa traditional dan pada hari sabtu ke 4 diadakan pertunjukan wayang kulit dimulai jam 8 malam dengan pagelaran satu babak.
Semua terbuka untuk umum dan tidak dikenakan beaya untuk menontonnya.

Lokasi :
Pondok Tingal
Museum Wayang Sasono Guno Roso
Jl. Balaputeradewa No. 32, Dusun 1, Borobudur, Magelang













Friday, October 19, 2018

Uniknya Bentangan Alam Bebatuan Purba Pangenrejo Kali Bogowonto

Patokan rute termudah untuk menuju ke desa Pangenrejo, kelurahan Padukuhan tempat lokasi bentangan alam bebatuan purba unik di pinggir kali Bogowonto ini berada ditempuh melalui masuk ke gang bernama Gang. Ronogati RT. 01 / RW. 05, tepat di samping bangunan Gereja Kristen Jawa atau GKJ Purworejo Selatan di badan jalan utama Jalan Brigjend. Katamso.
Jalan Brigjend. Katamso ditempuh dari alun - alun kota Purworejo, kemudian lurus melewati patung kereta kuda Kresno Duto.


Trip Of Mine
Ukiran bebatuan alam menakjubkan

Curahan hati

Jujur kuakui, sebenarnya sebelum keberangkatan perjalanan berliburku ke kota Purworejo di pikiranku muncul bayangan ketakutan tersendiri.
Begitupun saat aku akan menulis artikel ini, aku yang biasanya tak punya kendala berarti menentukan kalimat awal pembuka suatu artikel, kali ini seperti mengalami kebuntuan, kesulitan memilih dan menentukan kata pembuka apa yang tepat.
Berulangkali coretan draft artikel yang kutulis di kertas, biasanya tak kulakukan seperti ini tapi langsung kuketikkan di layar perangkat, juga berujung tak cepat terselesaikan. 
Hasilnya menurutku, kurang pas. 
Selalu begitu dan begitu berulangkali.

Sampai akhirnya di suatu hari aku sanggup menenangkan pikiran dan memutuskan mengetik langsung di perangkat untuk menyelesaikan post guratan alam bebatuan unik di desa Pangenrejo pinggir Kali Bogowonto ini.
Toh semua kejadian telah berlalu dan peristiwanya terjadi setelah sekian tahun yang lalu, meski trauma itu masih membekas kuat di hati sampai sekarang ... .

Purworejo meski bukanlah kota kelahiranku dan akupun tak punya kerabat disana, tapi punya sejarah besar buat aku dan keluargaku.
Bagaimana tidak, jika ... , aku sebetulnya agak gemetaran menulis artikel ini dan tanpa sadar air mataku ikut mengalir turun dari mataku terbayang masa lalu ..., kami sekeluarga saat itu nyaris tak tertolong karena mengalami kecelakaan !.

Cerita bermula dari kami sekeluarga dengan nenek dari pihak papaku menggunakan mobil jeep ke Purworejo. 
Papaku yang mengemudikan kendaraan jeep merk Willys, jeep kesayangannya berwarna hijau khas milik militer itu.

Tujuan kami saat itu bukanlah untuk tujuan travelling atau liburan yang biasanya kami sekeluarga besar sering lakukan bersama, tapi untuk mencari informasi lanjutan dengan mendatangi sekolah asrama di Purworejo. Setelah beberapahari sebelumnya mendatangi sekolah asrama di Ambarawa, tapi ditolak dengan alasan kapasitas ruangan telah terisi penuh.

Siapa yang akan sekolah di asrama  ?.
Tak lain tak bukan, akulah yang akan disekolahkan di asrama.
Kenakalanku, sebenarnya bukan nakal, sih ..., tapi sifat kejahilanku yang luar biasa menjengkelkan plus sifat pembangkangku saat aku kecil dulu, membuat orang tuaku memutuskan berencana memasukkan aku ke sekolah asrama setelah lulus dari bangku Sekolah Dasar.

Di jalan kabupaten Purworejo dari arah Magelang, tepatnya di daerah Jambu yang berupa turunan panjang curam, berliku dan miring tiba - tiba jeep yang semula berangkat dari rumah dalam keadaan baik - baik saja mendadak hilang kendali, rem blong tak berfungsi.
Di tengah kepanikan luar biasa, papaku meneriakkan kami semua untuk berpegangan kencang ..., jeep meluncur deras, selip, oleng dan ..., braaaaak ..., tau - tau kami sudah berada di dalam jurang dari ketinggian sekitar beberapa meter dari badan jalan raya !.
Kami teriak menangis kesakitan minta tolong dan aku ..., dengan posisi tertidur menangis air mata dan bersimbah darah mengucur deras dari keningku membasahi pakaianku. Ya, Tuhan !.
Cuma itu yang kuingat ..., 
aku tersadar setelah berada di rumah sakit Purworejo.

Ya ..., 
aku, papaku dan nenekku yang mengalami luka - luka dilarikan ke rumah sakit di Purworejo dengan pertolongan warga sekitar.
Sementara mamaku dan adikku nomor 2 mengalami luka - luka ringan dan adikku nomor 3 yang saat itu masih bayi berada di pangkuan mamaku saat kejadian berlangsung terlempar dari kap jeep yang terbuat dari plastik terpal ke ..., pinggir jalan !.
Beruntung adik terselamatkan dan Tuhan masih memberikan kesempatan hidup untuk kami, benar - benar kuasa Tuhan melindungi kami saat itu.

Luka menganga di kening kananku dan jahitan memanjang sekitar 7 senti terlihat sampai sekarang, juga jahitan kecil di dagu kiriku. Sementara kulit kaki kananku sampai sekarang terlihat bercak hitam memanjang akibat ketidakcocokan jenis obat yang dioleskan di luka - luka kakiku.
Kelopak mata nenekku terluka terkena serpihan kaca, sementara bagian alis papaku dijahit beberapa senti jahitan.

Siksaan itu tak berhenti di rumah sakit Purworejo karena saat itu ketidaksanggupan rumah sakit menangani luka keningku yang cukup lebar dan terbilang sulit ditangani untuk dijahit, mengingat tulang kening adalah tulang keras.
Akhirnya keningku ditanam klep sementara untuk menghentikan pendarahan yang terus mengucur. Klep dipasang tanpa pembiusan.
Aku masih teringat jelas betapa luar biasa sakit yang kualami saat  pemasangan klep berlangsung. 
Saat itu aku menangis meronta - ronta dengan kedua tanganku dipegang erat oleh para kerabatku yang segera datang ke rumah sakit Purworejo dari Magelang.
Kemudian aku dilarikan ke Rumah Sakit Tentara atau RST di Magelang, disana diambil tindakan jahit.

Sejak peristiwa itu ..., 
sifat kejahilan dan sifat pembangkangku berubah total, hilang.
Tak ada lagi sikap ugal - ugalan dan sikap seenaknya sendiri. 
Mendadak kepribadianku jadi kalem, cenderung terasa lebih banyak diamnya, tapi tak jarang juga sekali waktu saat berkumpul dengan teman dan ngobrol cerita - cerita seru dengannya, aku masih tetap sering muncul sikap ' aslinya ' cuwawakan, ketawa ngakak keras mengagetkan tanpa peduli ada orang disekitaran.

Dan sampai sekarang, trauma itu masih membekas di ingatan dan lokasi kejadian menakutkan kecelakaan itu terjadi, aku masih ingat dengan jelas dimana lokasi tepatnya.
Belakangan setelah beberapa hari peristiwa itu terjadi, terdengar cerita dari para tamu yang membezuk kami jika lokasi kejadian itu memang kerap terjadi kecelakaan.

Dan di lokasi jalan itulah yang akan kulalui berlibur di Purworejo karena memang jalan tersebut adalah jalan utama penghubung antara kabupaten Magelang dan kabupaten  Purworejo
Berani tidak, ya melintasinya ... ?, begitu pikiranku berulang - ulang melintas di kepalaku.

Sampai akhirnya aku yakin dan mantap memberanikan diri seorang diri mengendarai kendaraanku untuk berlibur di Purworejo, meski di sepanjang perjalanan mulutku yang tertutup masker anti debu terus komat - kamit mengucapkan doa dan sengaja kukeluarkan kata - kata, tidak bicara di dalam hati agar keyakinanku makin tebal dan juga sebagai penyemangat diri bahwa aku akan baik - baik saja sebelum dan setelah melewati jalan yang terbilang memang perlu konsentrasi tinggi untuk dilalui ..., terbukti dengan terlihatnya beberapa papan pengumuman peringatan rambu lalu lintas dipasang di tepi jalan jika jalan tersebut daerah rawan kecelakaan.

Sesampai di lokasi ...

Setelah memasuki gapura Gang. Ronogati, perjalanan dilanjutkan melewati beberapa rumah warga. 
Sesampai di pertigaan jalan kampung, rute kulanjutkan berbelok ke arah kiri, kemudian lurus. 
Setelah itu berbelok ke arah kanan melewati perkebunan kosong dan melintasi jembatan kecil yang berdekatan dengan area pekuburan.
Area pemakaman ?. Iya, betul ... .
Komplek pemakaman berseberangan dengan rerimbunan pohon bambu dan jalan setapak yang bergelombang kulalui berada ditengah keduanya.
Kemudian dilanjutkan melewati samping kiri kanan perkebunan warga yang berada di sisi atas Kali Bogowonto ..., dan dari titik jalan itulah aliran kali besar Bogowonto itu mulai terlihat dari sela - sela rerimbunan perkebunan warga.
Tampak air terjun berkuran kecil dilihat dari kejauhan mengalir deras dari salah satu tebingnya.


Trip Of Mine
Air terjun mini terlihat dari kejauhan, berada di salah satu tebingnya

Beberapa meter setelahnya, di ujung perkampungan dan mengikuti papan nama petunjuk lokasi di persimpangan jalan, berbelok ke arah kanan tempat lokasi parkir dan keberadaan 2 warung makan berbentuk bangunan traditional Jawa tanpa nama.


Trip Of Mine
Halaman parkir dan warung makan berkonsep Jawa traditional rumahan

Tadinya aku sempat ragu benar tidaknya lokasi inilah tempat keberadaan bentangan bebatuan alam unik itu berada.
Setelah kutanyakan ke mas yang bertugas sebagai petugas parkir disana, ternyata memang benar lokasi inilah yang kucari, Pangenrejo Kali Bogowonto.

Panasnya cuaca di perjalanan dan meredam kekhawatiranku selama menempuh perjalanan melewati lokasi peristiwa yang membuatku traumatik psikis, keringat dingin cukup membasahi pakaianku.
Untuk meredamnya, sesampai di lokasi ... , aku memilih beristirahat terlebih dulu di warung makan sambil melihat - lihat pernak - pernik interiornya yang hampir semuanya ditata ala tempoe doeloe. 


Trip Of Mine
Interior warungnya berkonsep ala tempoe doloe

Beberapa pilihan lauk matang siap dipilih untuk pengunjung ditempatkan di salah satu meja tersendiri.
Setiap menunya ditutup dengan tudung saji untuk menghindari tebalnya debu di sekitaran lokasi parkiran yang memang sengaja dibiarkan alami apa adanya, tanpa diplester semen.


Trip Of Mine
Segarnya es jamu kunyit asam mendamaikan pikiranku

Segelas es minuman jamu traditional kunyit asam kupilih untuk mendamaikan pikiranku juga manfaat bagusnya untuk kulit memang sengaja kupilih dari beberapa pilihan jamu yang disediakan warung yang tepat dibangun di atas tepi Kali Bogowonto ini.
Harga minuman jamunya yang dilengkapi es batu, cukup merogoh kocek Rp. 5. 000 ,_ untuk segelas besar.
Murah, bukan ?.

Untuk menuju ke lokasi keberadaan rangkaian bebatuan alam unik yang diduga telah berusia ribuan tahun silam akibat proses penggerusan alami aliran sungai ini, dilalui melewati undakan terbuat dari susunan batu kali di dekat warung.


Trip Of Mine
Undakan tangga bebatuan menuju ke lokasi bebatuan purba

Ke arah kanan, pemandangan bentangan alam terlihat layaknya pemandangan alam sekitar sungai pada umumnya. ' Bonus ' nya terdapat pemandangan aliran air terjun kecil yang sebelumnya telah terlihat dari atas perkebunan warga yang kulewati.


Ke arah kiri ..., disanalah deretan bebatuan guratan alam sangat eksotik itu berada.
Melewati hamparan pasir hitam yang cukup terasa panas menyengat saat dilalui, rangkaian pertama bebatuan purba kupijak.


Trip Of Mine

Terselip rasa kagum lihat bentukan guratan hasil proses alamnya ... .
Celah, cekungan, naik turun bebatuan satu ke bebatuan lainnya juga garis bersusun di badan bebatuan seolah terlihat telah dipahat oleh tangan dingin maestro seni rupa.


Trip Of Mine

Lokasi bentangan bebatuan unik memesona dan terlihat sangat instagenic di desa Pangenrejo Kali Bogowonto ini sempat menjadi viral di sosial media sebagai lokasi berfoto berbagai lapisan usia.

Menurut penjelasan petugas parkir, tak sedikit pesohor Indonesia telah berlibur disana dan sampai sekarang, terutama di hari sabtu dan minggu dipenuhi kunjungan wisatawan dari luar kota untuk berfoto berlatar belakang deretan batu purba dan sebagai lokasi pecinta fotografi berburu foto menarik.


Trip Of Mine
Lihat, betapa eksotisnya guratan bebatuan purba ini ...

Sayangnya, di sekitar lokasi tak ada sarana penginapan dan warung makan berkonsep Jawa traditional rumahan itu hanya beroperasional mulai dari jam 08. 30 pagi sampai 17. 30, selebihnya bisa dipastikan hanya suasana asri dan sunyi yang tersisa di malam hari ... .

Lokasi :
Pangenrejo, Kali Bogowonto, Purworejo

Tiket :
Tidak dikenai beaya, hanya beaya parkir sukarela.
[ Kondisi sewaktu - waktu dapat berubah ]

Tips berlibur di Pangenrejo Kali Bogowonto :
▪ Aliran Kali Bogowonto sangatlah panjang. Jika datang dari arah kabupaten Magelang, aliran kali Bogowonto juga terlihat dari atas jembatan 2 simpang, tetapi lokasi keberadaan bebatuan purba bukanlah disitu.
Pastikan pencarian rutenya setelah melewati alun - alun pusat tengah kota dan melewati patung kereta kuda Kresno Duto

▪ Gunakan lotion suncreen atau tabir surya untuk menghindari paparan sinar matahari. Pantulan sinar matahari di atas bebatuan dan bukaan alam terasa lebih panas menyengat kulit.

Thursday, October 11, 2018

Keindahan Alam Telaga Menjer, Memesona

Lokasi Telaga Menjer berada di ketinggian 1300 mdpl di badan gunung api purba Gunung Dieng, tepatnya terletak berada di desa Maron, kecamatan Garung.
Memang telaga seluas 70 hektar dan memiliki kedalaman sekitar 50 meter ini bukanlah terletak berada di kawasan Dieng Plateau, kabupaten Banjarnegara, tetapi lokasinya berada di kabupaten Wonosobo. 
Kedua kabupatennya masih cukup jauh untuk ditempuh.

Gunung Dieng membatasi 2 kabupaten, kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo. 
Kegiatan erupsi vulkanik Gunung Dieng pada jutaan tahun silam, telah menganugerahi bentang kekayaan wisata alam eksotik dan menawan di kedua wilayah di kabupaten Banjarnegara dan di kabupaten Wonosobo.


Trip Of Mine
Telaga Menjer, telaga terluas di Gunung Dieng, kabupaten Wonosobo

Tercatat terdapat 7 telaga berada di gunung Dieng, yaitu : Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Cebong, Telaga Dringo, Telaga Merdada dan Telaga Menjer yang kudatangi kali ini setelah berlibur menikmati sensasi berendam air panas belerang di Panguman Kali Serayu.

Baca juga : https://www.tripofmine.com/2018/10/panguman-kali-serayu-kolam-onsennya.html


Rute pencarian lokasi mudah diketemukan

Telaga Menjer merupakan lubang kepundan kawah yang berukuran sangatlah besar, terbentuk dari letusan gunung api purba, gunung Dieng. 
Luasnya kawah mampu menampung curah hujan dan sumber - sumber mata air di sekitarnya. 

Hingga suatu saat pada masa penjajahan Belanda dahulu, kolonial Belanda berencana membuat pusat pembangkit listrik tenaga air. Sayangnya pasokan debit air telaga saat itu tak mencukupi untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air, maka kolonial Belanda berinisiatif sebagian aliran Kali Serayu di dekat desa Jengkol dibendung untuk dialirkan ke Telaga Menjer melalui terowongan bawah tanah sekitar 7 kilometer ke telaga, dan selanjutnya air Telaga Menjer dialirkan ke Pusat Listrik Tenaga Air atau PLTA Garung yang letak posisi areanya berada di bawah telaga, berjarak tempuh sekitar 2 kilometer.

Untuk menuju ke lokasi Telaga Menjer, rutenya kutempuh melalui jalan utama Wonosobo ke Dieng di Jalan Dieng Km, lurus terus sampai tiba di wilayah Garung dan terlihat papan informasi penunjuk lokasi di sebelah kanan jalan.
Setelah itu berbelok ke arah kiri melewati gerbang jalan bertuliskan  ' PLTA Garung ' yang tepat dengan keberadaan lokasi pasar.
Di pertigaan jalan, berbelok ke arah kanan dan tak lama setelahnya melewati depan lokasi PLTA Garung. 
Kemudian perjalanan dilanjutkan melalui jalan berkelok - kelok, mengikuti kontur tanah khas pegunungan.


Trip Of Mine
Gedung PLTA Garung

Takut kesasar arah ? ..., tak perlu.
Karena sepanjang perjalanan di beberapa titik lokasi jalan akan terlihat pipa berukuran besar dan panjang berwarna hijau seperti badan ular naga ..., kadang terlihat ditanam berada di bawah permukaan jalan raya dan kadang terlihat juga di titik badan jalan selanjutnya pipa ditempatkan sejajar dengan badan jalan, tepat di pinggir jalan.
Diameter ukuran pipanya sekitar 3 meter.


Trip Of Mine
Pipa PLTA diameternya besar seperti ular naga

Rada kaget juga,sih lihat pipa sebesar itu ukurannya ..., sambil mengendarai kendaraan aku membayangkan seandainya ..., itu betulan seekor monster ular naga dan bergerak mengejar aku ..., hooowaaaa ..., apa jadinya diriku ini selanjutnya, ya ?. Ha ha ha lebay maksimal bayanginnya, deh !.

Ikuti saja jalan yang terlihat pipa berukuran besar itu, sampai bertemu di persimpangan jalan, berbeloklah ke arah kanan. 
Tak jauh setelahnya melewati jalanan yang sedikit menanjak, sampailah akhirnya di area parkir Telaga Menjer dan di persimpangan jalan menuju ke lokasi wisata Bukit Cinta dan lokasi wisata Bukit Seroja.


Naik rakit, pesona alam Telaga Menjer semakin terlihat memesona

Dari kejauhan di halaman parkir yang dilengkapi deretan beberapa warung makan, pemandangan keseluruhan telaga memang tak terlihat, hanya tampak rerimbunan pohon diselimuti awan putih tebal.
Selain itu ukuran papan nama lokasi Telaga Menjer dibuat dalam ukuran kecil terpasang di atas gapura kayu, berukuran kalah besar dengan spanduk penunjuk arah lokasi wisata Bukit Seroja berwarna merah mentereng yang dipasang di sisi gerbang masuk ke telaga.


Trip Of Mine
Gerbang masuk area Telaga Menjer.
Pemandangan telaganya tak kelihatan, kan ?

Kecilnya ukuran papan nama lokasi dan silaunya terik matahari saat itu ikut menyamarkan pandanganku dan membuatku sedikit bingung sebenarnya dimana lokasi telaga terluas yang berada di Gunung Dieng kabupaten Wonosobo ini berada.


Aku : " Bu, dimana sih sebenarnya lokasi Telaga Menjer itu ..., disitu bukan ? "
 Ibu : " Betul,mas. Ya disitulah lokasinya. Kenapa, bingung ya ?. Memang datang dari kota mana ?. Kok sendirian datangnya ?, pacarnya ngga diajak ? "

Glooodaaak  ... , !.
Ditanya dimana tepatnya lokasi telaga, malah balik tanya pacar segala macam nih ibu penjaga warung ... , bikin illfeel deh jadinya.
Ngga tau aja, kalau aku ... , #ng ... , jomblo maksimal ha ha ha.

Setelah memasuki gerbang kayu, mulai dari situlah pemandangan keseluruhan keindahan Telaga Menjer terlihat terbentang di depan mata ... , memukau !.


Trip Of Mine
Keindahan alamnya seperti lukisan hidup

Aku sempat berdiri terdiam tertegun beberapa detik melihat telaga yang terletak di bawah.
Area telaga nyaris berbentuk bulat sempurna, dikepung melingkar oleh perbukitan hijau dan Gunung Dieng tinggi menjulang berada di belakangnya saat itu bagian puncaknya sedang tertutup awan putih tebal, tampak seperti mahakarya lukisan hidup.
Pemandangan rakit melaju di atas telaga semakin membuat pemandangan jadi terlihat lebih dramatis.


Trip Of Mine
Menakjubkan pemandangan Telaga Menjer, ya ...

Kuturuni jalan setapak ke arah telaga, sambil vlogging he he he ... , dan dari pinggir telaga bapak pengemudi rakit memanggil - manggil aku dari jarak cukup jauh untuk menawarkan ikut gabung tidaknya naik rakit mengelilingi telaga dengan pengunjung yang lain yang tampak terlihat sudah berada di dalam rakit siap berangkat.
Bapak pengemudi rakit juga meneriakkan ' Ayo ikut, mas. Cuma lima belas ribu, kok. Murah '.


Trip Of Mine
Deretan rakit warna - warni

Tentunya tawaran menarik itu segera kusetujui, daripada sengaja memilih menyewa sendiri naik rakit kan mahal he he he ..., dan aku bergegas mendekati rakitnya, gabung dengan 2 remaja pria, 3 ibu muda dengan 2 bocah balita.


Trip Of Mine
Gabung naik rakit dengan pengunjung 

Tak pakai lama, rakit berangkat mengelilingi telaga dengan suara mesinnya cukup memekakkan telinga, dibarengi celoteh dan ketawa - ketiwi seru ibu - ibu muda.
Celoteh mereka bikin aku ikut ngakak dengarnya dan suasana langsung jadi akrab.
Berulangkali kami semua bergantian selfie dan vlogging di atas rakit yang melaju pelan sekitar 45 menitan.

Naik rakit, pemandangan di sekitar Telaga Menjer semakin terlihat memesona ... .
Tebing - tebing batu kokoh, beberapa keramba penangkaran ikan dilengkapi rumah terapung, aktivitas pemancing di sekitar telaga, aktivitas petani berkebun, area spot selfie terapung berupa susunan bambu dirakit jadi satu dicat berwarna - warni jadi pemandangan indah dan berkesan mengitari telaga.


Trip Of Mine
Spot selfie terapung


Trip Of Mine
Spot selfie di area atas.
Disana terdapat beberapa pilihan spot selfie digunakan untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan Telaga Menjer dari ketinggian


Lokasi :
Telaga Menjer
Maron, Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa - Tengah

Tiket : 
Rp. 5. 000 ,_ [ tiket masuk ]
Rp. 15. 000 ,_ [ perorang naik rakit, gabung dengan pengunjung lain ]
Rp. 150. 000 ,_ [ sewa rakit dengan muatan 10 - 12 orang ]